Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pair: NaruSaku 4ever \^o^/

Warning: AU, OOC, TYPO, gaje, sok lucu.

Note: I'm back! saya kembali membawa fic super pendek. Ide ini muncul gitu aja abis saya baca cerita2 humor. So, jangan kaget kalau diantara reader da yang ngerasa familiar ma humor dalam fic ini. Oya, sebelumnya, saya mau makasih ma kalian yang dah RnR puisi saya kemarin, saya terharu T.T (peyuk-peyuk yang ripiu) Yosh, selamat membaca!


Naruto Dan Sakura

Suatu pagi, di sebuah rumah.

"Hoam…, " Naruto baru saja bangun dari tidur lelapnya semalam. Dia mengedarkan pandangannya keseluruh sudut kamar. Lalu matanya menangkap sosok sang istri, Sakura. Naruto mengamati apa yang sedang dilakukan oleh istrinya itu di depan cermin.

"Apa yang sedang kau lakukan, Sakura?" tanya Naruto heran.

" Mengoleskan cream pembersih, tidak lihat?" jawab Sakura ketus.

"Untuk apa kau mengoleskan cream itu di wajahmu?"

"Tentu saja agar wajahku tambah cantik," jawab Sakura dengan PeDenya –Plaked-

Tak lama kemudian, Sakura mengambil kapas dan menghapus cream yang tadi dioleskan di wajahnya.

"Lho kok dihapus? Sudah putus asa ya?" Tanya Naruto tanpa dosa.

-bletakk-

Sebuah benjol sukses bertengger (?) di kepala Naruto, hadiah dari Sakura.

-x-

Sakura terlihat sibuk menata piring di meja makan. Tak lama Naruto muncul dari kamar. Dia lalu duduk di kursi meja makan. Menyadari kehadiran Naruto, Sakura menyediakan kopi untuk suaminya itu.

Melihat asap yang masih menyembul dari gelas kopinya, bisa dipastikan kalau kopi itu masih sangat panas. Naruto bangkit dari kursinya, dia berjalan menuju kotak P3K yang terletak tak jauh dari dapur. Setelah mengambil sesuatu, diapun duduk kembali di kursinya tadi. Sakura melihat Naruto memasukkan sesuatu kedalam kopinya sendiri. Dia heran.

"Apa yang kau masukkan kekopimu, Naruto?"

"Obat penurun panas, biar kopinya cepat dingin," jawab Naruto dengan polosnya. Sakura hanya menggelengkan kepala. Betapa bodoh suaminya itu.

"Sakura, bagaimana kalau hari ini kita pergi ke mall Konoha?" ajak Naruto tiba-tiba. Tentu saja Sakura heran. Tumben sekali Naruto mengajaknya ke mall.

"Memangnya ada apa? Tumben sekali kau mengajakku."

"Hari ini ada diskon 50% untuk semua produk. Lumayan kan, kita bisa berhemat."

Sakura terlihat malas.

"Tidak ah, malas! Aku heran, kenapa banyak sekali orang yang suka barang diskon seperti itu."

Naruto mengernyitkan kening. Heran. Bukankah biasanya justru wanita yang paling semangat belanja kalau ada diskon?

"Memangnya kau tidak suka barang yang didiskon?"

"Untuk apa belanja barang yang didiskon. Aku lebih suka yang gratisan," jawab Sakura kalem. Naruto hanya sweatdrop. Sungguh istri yang irit (atau pelit? –dishannaro-)

-Kriiing-

Sakura beranjak meninggalkan Naruto di meja makan. Dia menghampiri telpon yang baru saja berdering di ruang keluarga.

"Halo!" sapa Sakura pada penelpon diujung sana.

"Anak anda saya culik! Cepat siapkan uang tebusan 20 juta sekarang juga kalau anda ingin anak anda selamat," ucap si penelpon diujung sana. Mata Sakura sedikit melotot. Dengan agak ragu, diapun menjawab, "Maaf ya pak, saya tidak ounya anak."

"Kalau begitu cepat cari tahu anak siapa yang telah saya culik ini. Nanti uangnya kita bagi dua."

-Gubrakk-

Sakura membanting telponnya. Tidak peduli pada si penelpon gelap yang mencak-mencak gaje.

"Siapa yang menelpon, Sakura?" Tanya Naruto melihat Sakura yang terlihat kesal.

"Penghuni rumah sakit jiwa yang alih profesi jadi culik," jawab Sakura asal.

"Ooh…," dan Naruto percaya saja. Dasar suami istri yang aneh.-gampared-

.

#

.

FIN


Wuah! apa ini... *teriak2 gaje* Maaf ya, kalau aneh *pundung di pojokan. Udahlah, daripada saya makin stres, RnR? ga maksa kok -plaked-