"Kalian―Apa aku juga pernah bertemu dengan kalian sebelumnya?" tanyaku, masih agak syok.

Grek

Si kelinci biru berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan mendekatiku dan membelai rambutku dengan pelan. "Ya. Anda sudah pernah datang ke sini sebelumnya, Teto," jawabnya, tersenyum lembut. "Saya merindukan Anda."

"Sepertinya kau benar-benar sudah melupakan kami ya~" ujar si tikus, masih tetap di tempat duduknya, menghela nafas sebentar. "Jujur saja, aku jadi agak sedih."

"Eh?"

"Teto," Kali ini, si rambut merah yang bicara. Ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekatiku. "Aku sudah menduga hal ini akan terjadi," gumamnya pelan, menatapku dari atas sampai bawah. Ia lalu tersenyum kecil sambil memelukku dan berkata, "Aku Riku, pemimpin hutan ini dan penyelenggara pesta teh ini," katanya lagi. "Senang bertemu denganmu kembali, Teto."

Ingin sekali rasanya aku menamparnya karena memelukku. Tapi… Tubuhku rasanya nggak bisa bergerak. Lagipula… Suara dan sifatnya itu gentleman sekali, berbeda dengan Momoto dan Defosuke, juga Eiichi dan Rukoto.

"Ah," Riku melepaskan pelukannya. "Maaf karena memelukmu sembarangan, Teto," katanya. "Maaf ya."

"Ng-nggak apa-apa…" jawabku pelan, menundukkan kepalaku untuk menutupi wajahku yang memerah. 'Riku―Dia Gentleman sekali' batinku.

"Curang! Kenapa Teto nggak menamparnya?" seru Momoto. "Ya 'kan, Defosuke?"

"Ya."

"Ka-kalau kalian protes yang macam-macam seperti itu, nanti kalian yang kutampar loh!" ancamku, blushing.

=x=x=x=x=x=

~ Reunion ~

=x=x=x=x=x=

"Yang Mulia Yufu, Yang Mulia Ron!" panggil seorang pengawal berambut biru muda.

"Ada apa, Sai?" Yufu, sang White Queen, merespon dengan lembut, tersenyum manis.

"Ada apa?" Ron―sang raja―merespon dengan cuek.

"Baru saja saya mendapat laporan dari Yuzu kalau Nona Teto sudah kembali!" Sai melaporkan, membungkukkan tubuhnya.

"Teto?" Ron menaikkan sebelah alisnya. "Si 'Alice' ya…" gumamnya.

"…" Yufu terdiam, matanya mulai terasa panas.

Ron menoleh pada Yufu. "Yufu, kau―Eh? Yufu, kenapa kau menangis?" tanyanya khawatir, memeluk dan membelai lembut rambut Yufu, berusaha menenangkannya. "Tenanglah… Jangan menangis lagi…"

"… Teto… Syu-syukurlah… Dia… Dia sudah kembali…" Yufu tersenyum bahagia di sela-sela tangisnya. "Syukurlah…"

"… Yufu…"

=x=x=x=x=x=

"Hei, minta tambah tehnya!" seru Rukoto, mengangkat cangkir tehnya.

"Enak saja! Ini untuk Teto!" ujar Sora sambil menjulurkan lidahnya.

"Dasar tikus pelit! Kumakan kau nanti!" ancam Rukoto, menunjukkan gigi taringnya.

"Heee! Jangan makan aku! Rasaku nggak enak!" Sora langsung berdiri dari tempat duduknya, wajahnya terlihat pucat. Ia lalu berjalan ke belakang Taya.

"?"

"Kalau mau, makan saja dia!" seru Sora, mendorong Taya ke arah Rukoto dengan tidak berperasaan.

"So-Sora!"

"Ahaha!" Momoto dan Defosuke tertawa riang.

"Haha… Dasar Sora…" Riku tertawa kecil, begitupula Eiichi.

Suasana yang ribut seperti ini… Entah kenapa, aku merasa rindu dengan suasana seperti ini. Hangat sekali rasanya… Dan tanpa aku sadari, aku tersenyum kecil.

"Kalian… Ru-rupanya benar, kalian semua ada di sini…"

"?"

Kami semua menoleh ke arah asal suara tadi. Ada seorang cewek berambut biru muda yang memanggil kami.

"Sayu?" Riku tampak heran, ia pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri cewek yang tampak kelelahan itu. "Ada apa? Di mana Sai?"

"Sai―Dia… Dia ditugaskan Yang Mulia Yufu untuk memberitahu… Hah… Semua penduduk Utauland. Se-sedangkan saya… Hah… Hah…" Sayu―cewek itu―menjawab dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Ia lalu menarik nafas, "… Sa-saya sendiri ditugaskan Yang Mulia Yufu untuk mencari kalian…"

"'Ditugaskan Yang Mulia Yufu'? Apa itu berarti dia pelayan White Queen?" bisikku pada Taya yang duduk di sebelah kiriku.

"Ya," Taya mengangguk pelan. "Namanya Sayu. Biasanya, Sayu selalu berpasangan dengan Sai. Makanya, tadi Riku tampak heran ketika Sayu menghampiri kita sendirian."

"Oh…" Aku lalu menatap Sayu. Dan saat itu juga, Sayu menatapku. Mata kami berdua bertemu, ia tersenyum lembut padaku. 'A-apa benar dia hanya pelayan White Queen?' batinku yang sekarang salting sendiri karena senyumnya. 'Cantik sekali Kalau pelayannya saja secantik dan seanggun ini, White Queen pasti lebih cantik dan anggun'

"Nona Teto," Sayu berjalan mendekatiku. "Saya Sayu, pelayan White Queen." ujarnya.

'U-uwaah Dia berjalan mendekatiku!'

"Silahkan ikut dengan saya. Saya akan mengantarkan Nona Teto ke White Castle," ujarnya. Menoleh pada yang lainnya, Sayu berkata lagi, "Kalian bertujuh juga. Silahkan."

"Eh?"

Tap tap tap

Semakin jauh kami berjalan, rumput-rumput yang tadinya setinggi dada manusia semakin sedikit dan berganti dengan rumput-rumput hijau yang lembut. Nggak hanya itu, di sekitar tempat ini juga banyak sekali bunga-bunga yang indah.

"Ah, itu dia kastilnya!" seru Momoto dan Defosuke, menunjuk sesuatu.

Aku pun menoleh ke arah yang ditunjukkan mereka. Dan benar saja, ada sebuah kastil besar yang indah berwarna putih. Kelihatannya juga, kastil itu sudah dekat.

"Huwaaa…" Aku terkagum. Baru pertama kali ini aku melihat kastil seindah itu. "Ke-keren…"

Tap tap tap

Kami berjalan memasuki kastil itu. Tampak ada dua orang pengawal di gerbang kastil, masing-masing memegang sebuah tombak berwarna perak.

Grek!

Ketika kami hendak memasuki gerbang, kedua pengawal itu menyilangkan tombak mereka―menghalangi kami untuk masuk.

"Sayu, siapa mereka?" tanya yang berambut hitam dikuncir satu.

"Makoto, Hibiki, tolong turunkan tombak kalian," jawab Sayu dengan tenang. "Ini Nona Teto dan teman-temannya. Aku membawa mereka ke sini atas perintah Yang Mulia Yufu." ujarnya lagi.

"'Teto'?" rekan si rambut hitam―yang berambut perak―mengernyitkan dahinya. "Rupanya berita itu benar," gumamnya. Ia lalu menaikkan tombaknya kembali, diikuti si rambut hitam. "Silahkan masuk."

"Baik. Terima kasih, Hibiki, Makoto," ujar Sayu, membungkukkan tubuhnya dengan sopan. Sayu lalu berjalan memasuki gerbang, Kami mengikutinya di belakang.

Tap tap tap

Halaman depan kastil ini indah sekali. Banyak mawar putih yang dipajang. Air mancur di tengah itu juga cantik sekali.

"Ah."

Ketika kami baru saja memasuki kastil, ada seorang cowok yang mirip Sayu menoleh pada kami. "Selamat datang di White Castle, Nona Teto." sambutnya sambil tersenyum ramah. "Saya Sai, pelayan White King dan partner Sayu. Senang bertemu kembai dengan Anda." katanya.

"Eeh… I-iya…" Aku merespon dengan canggung, menggaruk-garuk pipiku yang tidak gatal. "Ng… Se-senang bertemu dengan Sai juga…"

"Ahaha… Anda tidak usah canggung begitu dengan saya, Nona Teto," Sai tertawa kecil. Ia lalu menoleh pada Sayu dan berkata, "Sayu, tolong antarkan Nona Teto dan yang lainnya menemui Yang Mulia Yufu dan Yang Mulia Ron. Masih ada beberapa penduduk Utauland yang harus kuberitahu."

"Baik," respon Sayu. "Nona Teto dan yang lainnya, mohon ikuti saya lagi. Saya akan mengantar kalian menemui White Queen dan White King."

Tap tap tap

'Kastil ini Besar sekali ya' batinku, melihat-lihat ke sekeliling. 'Mungkin lebih besar daripada istana kerajaan di duniaku'

"Hei, Teto," panggil Sora, menepuk pelan pundakku. "Jangan melihat-lihat ke arah lain. Nanti kalau kau terpeleset, aku nggak mau membantumu loh~" godanya, menjulurkan lidahnya dengan iseng padaku.

"A-apa…! ?" Aku―yang baru sadar kalau dari tadi sedang melihat-lihat ke arah lain―langsung blushing. "A-aku nggak bakal terpeleset kok!" bantahku.

"Ahaha~" Sora tertawa. "Kau lucu sekali sih, Teto~ Aku jadi ingin memelukmu deh~"

"Jangan sembarangan memeluk Teto kami, Sora!" seru Momoto dan Defosuke tiba-tiba.

"Ka-kalian lagi…" Aku menghela nafas, sweatdropped.

"Tapi kalian tadi 'kan juga memeluk Teto!" timpal Rukoto, menunjuk Momoto dan Defosuke. "Aku melihatnya loh!"

"Kau hobi mengintip ya, Rukoto?" tanya Eiichi iseng.

"Ja-jangan sembarangan menuduh! Dasar Ecchi!"

"Namaku 'Eiichi', bukan 'Ecchi'!"

"Ka-kalian… Tenanglah…"

"Riku, bagaimana ini?"

"Biarkan saja sampai mereka diam sendiri."

"E-eh?"

"Kalian… Diam dong…" ujarku, meletakkan tangan kananku di dahiku, pusing mendengar ocehan mereka.

"Ka-kalian… Tolong jangan ribut…" Sayu berusaha menenangkan mereka. Tapi usahanya sia-sia. Orang-orang―yang menurutku―bodoh itu masih saja ribut. Apalagi yang mereka ributkan tentangku… Uukh… Benar-benar membuatku malu kuadrat.

Mereka masih saja adu mulut. Sambil berjalan, lebih tepatnya. Dan karena keributan itulah, kami tidak menyadari kalau akhirnya kami sudah berada di ruang utama―tempat White Queen dan White King berada.

"Ah, kalian sudah tiba rupanya."

=x=x=x=x=x=

Prang!

"Yang Mulia Red Queen!" seru Ted―yang dari tadi berdiri di samping Tei―kaget.

Mendengar suara itu, Rook―salah seorang pelayan Red Queen―langsung berlari menghampiri asal suara yang disebabkan oleh Red Queen itu sendiri. "Yang Mulia Red Queen! Ada apa?" tanyanya khawatir.

"…" Tei cuma diam, menatapi pecahan cangkir tehnya.

"Yang Mulia Red Queen?" Rook menatap Tei dengan bingung. "Ada apa, Yang Mulia?" tanyanya lagi sembari membersihkan pecahan cangkir tersebut.

"… Perasaanku tidak enak," jawab Tei pelan. "Sepertinya, 'dia' sudah kembali."

"'Dia'?" tanya Rook lagi, heran.

"'Dia', sang 'Alice'," jawab Ted. "Hal yang paling Yang Mulia Red Queen khawatirkan." tambahnya. 'BenarDia benar-benar sudah kembali'

"Bukankah itu hanya perasaan Anda, Yang Mulia?" tanya Rook.

"Tidak. Tidak mungkin itu hanya perasaan Yang Mulia Red Queen," ucap Ted, menjawab pertanyaan Rook, memejamkan kedua matanya. "Tidak mungkin Yang Mulia Red Queen menjatuhkan cangkir tehnya secara tiba-tiba."

"Di dalam buku ramalan, tertulis bahwa akan ada seorang gadis yang akan mengalahkanku dan membuat White Queen juga White King memimpin Utauland. Dia adalah sang 'Alice'," Tei bercerita, mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Tak akan kubiarkan hal itu terjadi…" gumamnya. Ia lalu berdiri dari kursinya. "Rook! Panggilkan Shiki dan Shin! Suruh mereka berdua datang ke sini, sekarang juga!" perintah Tei geram.

'Shiki dan Shin?' batin Ted. 'Jangan-jangan'

"Ba-baik!" Rook langsung berdiri begitu selesai membereskan pecahan cangkir tadi. Lelaki berambut hitam-merah itu lalu berlari keluar ruangan, mencari Shin dan Shiki.

Tep

Tidak lama kemudian, tampak dua orang laki-laki berambut oranye kecoklatan berlutut dengan hormat di hadapan Tei.

"Ada apa Yang Mulia memanggil kami?" tanya yang memakai google, Shin.

"Aku ingin kalian mencari sang 'Alice'." jawab Tei.

"Anak itu? Bukankah dia sudah kembali ke dunianya?" tanya yang memakai kacamata―Shiki―bingung.

"Ya, benar. Tapi dia baru saja datang kembali ke Utauland," jawab Tei lagi, melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Aku ingin kalian membawanya padaku, dalam keadaan hidup," lanjutnya. "Aku akan memenggalnya nanti."

'Rupanya dugaanku benar'

"Baik, kami mengerti." ujar Shin dan Shiki. Setelah itu, mereka berdua pergi keluar Red Castle, mencari Teto, sang 'Alice'.

"Hmph, begini lebih baik," ujar Tei dengan angkuhnya. Ia lalu kembali duduk di singgasananya.

"Yang Mulia Red Queen," panggil Ted tiba-tiba. "Tolong izinkan saya mengikuti mereka berdua."

"Hm? Apa maksudmu?" tanya Tei, menatap tajam Ted.

"Biarkan saya memastikan mereka berdua membawa 'Alice' ke sini dalam keadaan hidup. Anda tahu sendiri sifat mereka 'kan?" jawab Ted tenang, mengingat bahwa Shin dan Shiki suka bersikap agak kasar.

Tei tampak berpikir sebentar. Lagipula, Ted tidak pernah membantah perintahnya ataupun mengkhianatinya. "… Baiklah." jawabnya kemudian.

"Terima kasih, Yang Mulia Red Queen."

=x=x=x=x=x=

"Sudah lama aku menunggu kedatanganmu, Teto." ujar Yang Mulia White Queen, tersenyum lembut. "Sudah enam tahun, kau juga sudah bertambah dewasa ya…"

"Te-terima kasih, Yang Mulia White Queen." responku, berusaha untuk bersikap sesopan mungkin.

"Panggil saja aku 'Yufu', sama seperti dulu." responnya lembut.

"Eh? Dulu saya memanggil Yang Mulia White Queen 'Yufu'?" tanyaku nggak percaya. Sepertinya, dulu aku benar-benar nggak sopan.

"Ahaha… Iya…" Yang Mulia White Queen tertawa kecil. "Dulu, kau blak-blakan sekali. Berbeda dengan sekarang." katanya, sukses membuatku malu kuadrat.

'Huwaaa Ma-maafkan saya yang dulu ya, Yang Muliaaa' batinku, menundukkan kepalaku untuk menutupi wajahku yang makin memerah.

"Tapi," Yang Mulia White Queen berkata lagi, "Teto yang kusukai adalah Teto yang dulu."

"Hah?"

"Dulu, kau manis dan blak-blakan sekali. Jujur dan apa adanya, juga polos," Yang Muli―Eh, Yufu tertawa kecil mengingatku yang dulu. "Sekarang, kau sudah menjadi gadis yang cantik dan sopan."

Sebenarnya, sampai sekarang sih, aku tetap saja masih suka ceroboh dan serampangan. Hah… Kenyataan pahit yang harus kuterima. Lagipula, aku memakai dress seperti ini bukan karena kemauanku. Tapi…

"…Teto? Ada apa?" tanya Eiichi tiba-tiba, menyadari aku sedang melamun.

"E-eh?" Aku tersadar dari lamunanku. Dan dengan wajah merah, aku menjawab sambil menggelengkan kepalaku, "Ng-nggak! Nggak ada apa-apa kok, Eiichi!"

"Kau yakin?" tanya Defosuke. "Kau tampak sedih saat sedang melamun tadi.

"Iya," timpal Momoto. "Kalau Teto ada masalah, ceritakan saja pada kami! Kami 'kan sahabat Teto!" katanya lagi, tersenyum untuk meyakinkanku.

'MerekaSangat memperhatikanku. Padahal, aku saja hampir nggak pernah memperhatikan diriku sendiri.' Aku tersenyum kecil, berusaha meyakinkan mereka. "Aku baik-baik saja kok. Terima kasih ya, Eiichi, Defosuke, Momoto."

"Kau berbohong," ujar seseorang. Aku pun menoleh ke arahnya. Pria berambut hitam panjang yang duduk di sebelah kiri Yufu. Sepertinya dia White King.

"Apa maksudmu, Ron?" tanya Yufu. "Teto juga bilang kalau dia baik-baik saja 'kan?"

"Nada bicaranya," jawab White King singkat. "Tatapan matanya juga… Sudah jelas ia berbohong."

'Huweee Dia mengintimidasi sekali' batinku agak ngeri.

"Teto, kenapa kau berbohong pada kami?" tanya Rukoto khawatir. "Bukannya Momoto juga baru saja mengatakannya tadi? Kalau ada apa-apa, ceritakan saja pada kami. Kami pasti akan membantumu!" Ia―yang duduk di sebelah kiriku―menggengam tangan kiriku dengan erat, berusaha meyakinkanku.

Aku menundukkan kepalaku. "Bu-bukannya aku nggak bisa mempercayai kalian…" ujarku pelan. "Ini masalahku di duniaku, bukan di dunia ini," sambungku. "Kalian semua sudah bersikap sangat―Ah, nggak, mungkin terlalu baik padaku. Tapi aku malah melupakan kalian begitu saja…" Mataku mulai terasa panas. Mungkin aku akan mulai menangis sebentar lagi. "Aku… Aku nggak ingin merepotkan kalian semua lagi…" Aku merasakan ada sesuatu yang mengalir membasahi pipiku. Rupanya benar, aku mulai menangis. "… Ma-maaf…" Aku lalu mengusap air mataku dengan kedua mataku. Saat ini, aku pasti terlihat sangat kacau di hadapan mereka semua.

Grek

"Teto…" Yufu lalu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekatiku, menghapus air mataku dengan lembut. "Kau melupakan kami… Itu bukan salahmu. Kau tidak usah menangis," Yufu tersenyum lembut padaku, seperti seorang ibu yang sedang menghibur anaknya. "Ceritakan saja masalahmu. Kami pasti akan membantumu."

"…" Aku terdiam, mengepalkan kedua tanganku dengan erat. Perasaan bersalah dan bimbang menyelimuti hatiku. Apa aku memang harus menceritakan masalahku pada mereka? Tapi aku takut itu akan merepotkan mereka sendiri nantinya.

"Masalah apa pun itu, tidak akan merepotkan kami," ujar White King tiba-tiba, mengejutkanku. "Kau benar-benar masih seperti dulu. Ekspresi wajahmu mudah sekali ditebak." katanya lagi.

Aku tersenyum kecil. 'Ya, kurasa Kurasa, aku memang harus menceritakannya pada mereka.' batinku. "Aku―Sebenarnya, aku akan―"

PRANG!

Brugh!

"! ?"

Bunyi itu mengagetkan kami semua. Asalnya dari arah jendela ruangan ini, kami pun menoleh ke arah jendela yang pecah tadi.

"A-ada apa itu tadi! ?" tanya Momoto kaget.

-Tsudzuku-

Yosh! Chap 2! XD

Fufu~ Ada yang tau, sebenarnya Teto akan diapakan? XD -taboked-

Untuk sejauh ini -halah-, chara dan peran mereka adalah:
Kasane Teto: Alice
Kasane Ted: The White Rabbit
Momone Momoto/Moko & Defosuke: Tweedle-Dee & Tweedle-Dum
Todoroki Eiichi: The Caterpillar
Yokune Rukoto: Chesire Cat
Namine Riku: Mad Hatter

Soune Taya: March Hare
Suiga Sora: The Dormouse
Sukone Tei: Red Queen
Sekka Yufu: White Queen
Keine Ron: White King
Rook: Servant of Red -?-
Yurika Sayu & Yurika Sai: Servants of White -makinngaco-
Raika Hibiki & Nagone Makoto: Knights of White
Kaiga Shin & Komane Shiki: Knights of Red

Baidewei, Makoto itu genderbent-nya (juga 'kakak'nya) Nagone Mako. Shiki itu genderbent-nya (dan 'kakak') Komane Kuu ==d

Tentang Ta-kun sebagai March Hare, itu karena Sei nggak kepikiran chara cowok lain buat jadi peran itu. Pas udah selesai ngetik 3 chap, Sei baru inget ada Amane Mono yang bertelinga kelinci dan cocok jadi March Hare ==' -bego-

Di chap depan, akan ada chara baru lagi yang muncul~ Harap ditunggu XD -apadeh-