Kurangkai Puisi dan Simfoni

A Hunter x Hunter Fan Fiction.

Disclaimer: Hunter x Hunter © Togashi Yoshihiro.


Chapter 1

Akulah sang Lucifer

Penguasa neraka

Bertahta di singgasana Jahanam

Pemberontak Tuhan

Tapi tidak ingin diberontak

Rukuso

Desa yang dihuni kupu-kupu

Di mana sosok mungilmu yang 'cantik'

Menyeruak

Menyusup ke dalam relung kalbuku

Akankah kita dapat bertemu lagi…

Setelah hari pembantaian itu?


Mimpi. Mimpi itu lagi. Mimpi yang mampu membuat seorang lelaki beringas sekelas pemimpin Gen'ei Ryodan pun terbangun dengan keringat bercucuran, dan napas yang putus-putus tak menentu. Sebuah mimpi tentang kejadian di masa lalu, tepatnya lima tahun silam…

"Kenapa dulu aku bisa sebodoh itu?" erang Kuroro, sambil mencoba untuk menutup kedua matanya agar tak melihat bayangan akan mimpi itu lagi. Namun sial, mimpi adalah sesuatu yang bisa dilihat ketika mata dalam keadaan tertutup sempurna, maupun pada saat terjaga. Kuroro menyadari bahwa perbuatannya hanya sia-sia belaka, jadi dia cepat-cepat bangkit dari ranjang dengan terburu-buru. Selimut yang dipakainya ketika tidur tergeletak bisu di lantai kamar.

Penampilan sang Danchou itu memang dapat menipu siapa saja yang bertemu dengannya. Senyuman ramah kerap tesungging di bibirnya, menghiasi wajahnya yang tercipta rupawan. Dengan segala keindahan eksterior yang membungkus fisiknya, siapa orang awam yang percaya kalau dia adalah pimpinan dari kelompok Ryodan yang terkenal paling sadis di jagad raya itu?

Rapi jali. Begitulah penampilan Kuroro bila sudah menyapa riuhnya jalanan. Dengan setelan jas hitam yang memukau, kening yang hampir selalu dibalut kain putih bersih, dan rambut hitam yang kilaunya melebihi rambut bintang iklan shampoo di televisi, berapa gadis sih yang bisa tahan untuk tidak kesengsem dengannya?

Oke. Mungkin sudah cukup saya memuji-muji Kuroro. Mari sekarang kita kembali pada cerita yang sesungguhnya.

Kuroro melangkahkan kakinya dengan setengah gontai. Tampaknya dia ingin mencari 'sesuatu', atau mungkin malah 'seseorang', namun tampaknya dia tidak tahu di mana kiranya keberadaan 'seseorang' atau 'sesuatu' itu. Cukup membingungkan, bukan?

Tingkahnya pun mencurigakan. Matanya meneliti setiap insan yang berjalan melewatinya, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tetapi pandangan penuh kecewa yang terpancar dari sepasang mata biru tua itu menyiratkan bahwa dia belum menemukan apa yang sedang dia cari.

Kepalanya menoleh sekali lagi, dan serta merta langkahnya terhenti. Kedua matanya menatap fokus kepada seraut wajah seseorang yang berdiri di ujung jalan, tengah terlibat dalam sebuah percakapan melalui ponsel yang berada dalam genggaman jemarinya.

Ya, orang berambut kuning keemasan, dengan bola mata biru yang teduh laksana air itulah yang dicarinya.

Kurapika. Satu-satunya yang selamat dari suku Kuruta.

Kuroro menatap sosok itu lekat-lekat. Pandangannya seolah tak dapat berpaling dari figur anggun di ujung jalan itu. Wajah 'cantik' yang dapat mengelabui orang dan membuat gendernya dipertanyakan khalayak ramai itulah yang selalu muncul di mimpi-mimpi Kuroro belakangan ini.

Mimpi tentang pembantaian suku Kuruta, dan mereka berdua adalah pemeran utama di dalamnya…


"Iya. Aku mengerti. Aku akan segera ke sana."

Kurapika menutup ponselnya, lalu menoleh ke arah kanan. Antingnya yang indah bergoyang sejenak. Kurapika merasa ada yang tengah mengamati dirinya sedari tadi. Namun suasana di jalan itu begitu sepi. Nyaris tak ada orang yang melintas.

"Mungkin hanya perasaanku saja," Kurapika tersenyum kecil. Dia lalu berjalan melewati jalan itu, tanpa sadar ada seseorang yang sungguh-sungguh mengamatinya dengan serius.


Takdir…

Percayakah engkau dengannya?

Aku tidak tahu

Harus mempercayainya atau tidak

Tapi, Kurapika…

Apa kita telah terikat 'takdir'?


"Udara hari ini dingin sekali, ya. Langit pun seolah-olah menangis, dari tadi pagi hujan terus," Senritsu berucap sambil memandang tetesan air hujan yang baginya menimbulkan irama tersendiri dari balik kaca jendela yang beruap.

"Iya," Kurapika menjawab singkat sambil melirik sekilas, lalu kembali pada buku yang tengah dibacanya.

Senritsu lantas duduk di hadapan Kurapika. Dia memejamkan matanya, seolah-olah tengah mendengarkan sesuatu dengan seksama. Kurapika memandangnya penuh selidik.

"Ada apa?" tanyanya kemudian.

"Tidak ada. Hanya saja, kudengar suara detak jantungmu sedikit kacau. Apa kamu sedang gelisah?" Senritsu bertanya balik.

"Kamu 'kan sudah tahu. Tak perlu kujawab lagi, 'kan?" sahut Kurapika sambil tetap membaca.

Senritsu tersenyum penuh arti.

"Kata-katamu hampir seluruhnya tajam ya, Kurapika. Tapi aku tahu, sesungguhnya hatimu sangat baik."

Kurapika tetap diam, tak menanggapi, dan terus menelurusi baris-baris buku di tangannya.


Malam hampir usai. Pagi siap menjelang. Hampir seluruh manusia di kediaman keluarga Nostrad telah tertidur lelap. Kecuali satu orang… Kurapika.

Entah kenapa, malam ini mimpi seolah tak bersahabat dengannya. Mimpi yang dilihatnya, memaksanya untuk bangun dan tetap terjaga. Singkat kata, berulang kali mimpi buruk menyergap tidurnya yang lelap.

Kurapika lantas duduk di balkon, memandangi bintang-bintang yang menghiasi langit. Sesuatu yang sudah jarang sekali dilakukannya karena kegiatan ini membuatnya teringat pada masa lalu.

Dulu, sebelum pembantaian suku Kuruta, ia dan orang tuanya sering menghabiskan waktu bersama-sama untuk menikmati taburan bintang yang begitu gemerlapan. Oleh sebab itu, dari kecil Kurapika telah mampu menghapal berbagai macam rasi bintang.

Tiba-tiba terlintas seraut wajah di pikirannya. Dia langsung mengepalkan tangan.

"Gara-gara kamu… Semua ini gara-gara kamu! Coba kalau kamu tidak ada, pasti kedua orang tuaku masih hidup!" serunya geram dengan suara gemetar.

"Oh, jadi ini yang menyebabkan dirimu gelisah."

Kurapika langsung berbalik begitu mengetahui kehadiran seseorang di belakangnya. Ternyata Senritsu. Ekspresinya yang tadi penuh kemarahan kembali diubahnya menjadi raut wajah yang tenang.

"Maaf, apa suaraku membuatmu terbangun?" tanya Kurapika sopan.

"Tentu saja tidak… Aku juga sering bangun di tengah malam hanya untuk menikmati indahnya kemilau gemintang di balkon ini," ucap Senritsu sambil tersenyum. Mereka berdua pun memandangi bintang-bintang itu, tanpa ada terdengar suara sedikit pun.


"Ting."

Kuroro menekan tuts piano yang terletak di sebuah toko antik. Sungguh piano yang indah dengan arsitektur klasik nan memukau. Suara dentingnya pun terdengar sangat memanjakan. Tanpa sadar, Kuroro tersenyum ketika melihat piano itu.

"Maaf Tuan, apa Anda ingin membeli piano ini?" sang pemilik toko dengan ramah menyapa Kuroro.

"Ah, tidak. Tapi… apa Anda keberatan jika saya memainkan sebuah lagu?"

"Tidak masalah," pemilik toko tersebut tersenyum maklum. "Jarang ada orang yang tidak tergiur untuk mencoba memainkan piano ini setelah memandangnya lekat-lekat."

Kuroro duduk di sebuah kursi. Lalu jari-jarinya langsung menekan tuts demi tuts piano tersebut, mendentingkan sebuah lagu instrumental yang indah namun menyayat hati. Seisi toko tersebut langsung dibuat terpana dan terkagum-kagum olehnya. Mereka menghadiahi tepuk tangan yang meriah ketika lagu yang dimainkan Kuroro itu selesai. Kuroro tersenyum sambil menatap 'para penonton' tersebut. Sebuah senyuman yang dingin.

Sedetik kemudian, tubuh semua orang yang berada di dalam toko itu langsung tumbang dalam keadaan termutilasi. Seluruhnya meninggal dalam keadaan yang mengenaskan, termasuk si pemilik toko tersebut.

Kuroro melangkah keluar dari toko antik itu sambil tersenyum puas.

"Kalian tidak sadar bahwa yang kumainkan tadi itu adalah simfoni kematian, yang lebih tajam dari pedang, lebih pedih dari tikaman yang berulang-ulang, dan lebih mematikan dari senjata tajam manapun," ucap Kuroro sambil menutup pintu toko tersebut. "Aku bahagia telah mengirim kalian ke dalam mimpi indah. Selamat bersenang-senang di alam sana."

Esoknya, berita tentang pembunuhan massal di toko tersebut membuat masyarakat gempar. Tak ada yang dapat melacak siapa sesungguhnya pelaku dari tindak kriminal tersebut.


Koran laris. Penjualannya mengalahkan rekor novel best seller yang terjual ratusan eksemplar. Apa penyebab koran tersebut menjadi laris? Tentu saja karena ada headline news yang bertajuk 'Siapa Pelaku dari Pembunuhan Masal ini?".

Ya, sudah dapat kita duga, yang tengah menjadi topik pembicaraan khalayak ramai saat ini peristiwa meninggalnya belasan orang di sebuah toko antik. Bermacam-macam pikiran mengenai toko antik tersebut langsung dilontarkan orang-orang, mulai dari yang waras sampai yang paling gila sekalipun. Malah ada yang berpendapat kalau salah satu piano antik dengan desain klasik di sanalah yang membawa sial, sebab walaupun piano tersebut sudah lama teronggok di toko tersebut, belum pernah ada orang yang tertarik untuk membelinya. Sungguh anggapan yang aneh. Halo…? Memangnya ada piano yang bisa membunuh orang?

Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berjalan melintasi toko antik tempat pembunuhan massal itu terjadi. Suasana tampak ramai dan tegang. Selain ada sekitar lima orang polisi yang tengah berjaga dan di sana, kerumuman masyarakat juga tampak berbondong-bondong mengelilingi toko tersebut.

"Ramai sekali… Ada apa, ya?" tanya Kurapika, yang kebetulan tengah berada di dalam mobil sedan tersebut, bersama dengan Senritsu dan seorang supir pribadi keluarga Nostrad.

"Kudengar terjadi pembunuhan sadis di toko itu. Belasan orang terbunuh secara misterius dan pelakunya belum ketahuan sampai sekarang," jawab Senritsu. "Semuanya ditulis secara terperinci di koran hari ini," lanjutnya seraya menyerah sebuah koran ke tangan Kurapika.

"Semuanya meninggal dalam keadaan termutilasi…" desis Kurapika ketika melihat foto yang terpampang di halaman depan koran tersebut.

"Di dalam toko tersebut, ada sebuah piano antik yang disebut-sebut orang sebagai 'sumber' dari peristiwa ini," ucap Senritsu. "Kurapika, kamu ingat tentang sonata kegelapan yang pernah kuceritakan?"

"Ya," jawab Kurapika, tanpa menoleh sedikit pun. "Sonata terkutuk yang menyebabkan dirimu jadi seperti 'ini', 'kan?"

Senritsu mengangguk.

"Mungkin… peristiwa pembunuhan massal ini ada hubungannya dengan sonata kegelapan yang dimainkan dengan sebuah piano antik, yang tidak kita ketahui dari mana asal usulnya."

Kurapika tampak tertarik. Dia mendengarkan kata-kata Senritsu dengan seksama.

"Aku ingin memberitahumu sesuatu," Senritsu berujar, sedikit berbisik. "Orang-orang yang bermukim di Ryuuseigai, kemungkinan besar menguasai sonata kegelapan."

Raut wajah penuh kekagetan terpancar dari wajah Kurapika.

"Kalau begitu, jangan-jangan…"

_ to be continued _


~ Note:

Hai, minna-san!

Azumaya Miyuki di sini.

Huah… akhirnya… setelah sudah lama tak membuat fanfic dengan multi-chapter, saya berhasil membuatnya lagi…

Hehehe… mudah2an minna-san suka ya!

Dan, bolehkah saya meminta review dari Anda? *dijitak*

Thanks ^^

-Azumaya Miyuki-