Disclaimer : Kitchen Princess punya Natsumi Ando. Jalan cerita punya saya.

Rated : T

Summary : Seandainya Sora tidak pernah meninggal, apa yang akan terjadi kemudian? Apakah Sora tidak akan pernah mengaku bahwa dia bukan pangeran puding? Bagaimana dengan Daichi dan Seiya Mizuno? Siapa yang akan menjadi pasangan Najika?

A/N : Saya udah ganti penname nih. Dari isabela granger jadi Felicia Rena. Tapi authornya masih sama kok..:) . Thanx ya buat yang udah review di chapter kemarin. Maaf juga kalau ini updatenya lama.

So, Happy read and Review please.


.

Another Destiny

"Past"

.

.

"Aku Yuka Kawamura," Yuka tersenyum sebelum menambahkan. "Aku mantan pacar Sora."

Mantan pacar?

.

"Dan aku akan kembali lagi pada Sora," kata Yuka dengan penuh keyakinan.

Kata-kata Yuka itu bagaikan mata pisau yang menyayat hati Najika. Pandangan mata Najika seketika tampak kosong. Najika tidak mau mempercayainya. Tidak mungkin!

"Jangan sembarangan, Yuka!"

Najika tersentak kaget mendengar ucapan Sora. Baru kali ini dia mendengar Sora berbicara keras seperti itu. Najika juga tidak menyangka bahwa Sora ternyata bisa berbicara seperti itu. Yuka sendiri juga tampak sedikit kaget, tapi dengan cepat dia sudah bisa mengatasi kekagetannya dan tersenyum lagi.

"Aku tidak akan pernah kembali padamu," kata Sora dengan suara yang lebih pelan tapi tetap saja seperi bukan Sora.

"Kenapa kau begitu yakin, Sora?" Tanya Yuka.

"Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa aku tidak akan pernah kembali padamu. Aku seyakin dirimu yang begitu percaya diri bahwa aku akan menerimamu kembali," kata Sora lagi—masih dengan suara yang tidak mirip Sora.

"Oh ya? Kita lihat saja nanti," ujar Yuka.

"Kau—mengkhianatiku. Dan tidak semudah itu untukku melupakannya," desah Sora. Suaranya kali ini terdengar sedikit terluka. Rupanya ada kenangan masa lalu yang masih terasa pahit dalam ingatannya.

"Kau harus mendengarkan penjelasanku dulu, Sora! Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu!" Yuka berusaha untuk menjelaskan, tapi Sora menampiknya.

"Aku sama sekali tidak membutuhkan penjelasan apapun lagi darimu, Yuka. Kau meninggalkanku dan itu sudah cukup untuk menjadi penjelasan bagiku. Jangan menggangguku lagi. Kita sudah selesai," kata Sora.

Kemudian Sora berjalan menuju Najika dan mengulurkan tangannya. "Ayo kita pergi saja dari sini, Najika," ajaknya.

"Tapi—"

"Ayo pergi," nada suara Sora yang berbeda dari biasanya mau tidak mau membuat Najika merasa sedikit takut. Akhirnya Najika mengikuti Sora.

Yuka Kawamura memandang mereka berdua dengan tatapan menusuk sampai mereka berdua menghilang di tikungan.

.

.

"Hari ini kalian kedatangan teman baru," kata Yukisawa sensei di depan kelas. "Yah—sebenarnya bukan teman baru juga sih, tapi—sudahlah."

"Ayo masuk dan perkenalkan dirimu—lagi," panggil Yukisawa sensei.

Seorang gadis berambut pirang masuk ke dalam kelas dan berdiri di depan kelas, menghadap ke teman-temannya. Hampir seluruh kelas menahan napas melihat gadis ini.

"Nama saya Yuka Kawamura. Saya baru saja pindah dari London. Saya pernah bersekolah dan satu kelas dengan kalian juga disini, walaupun hanya satu bulan. Dan saya berharap bisa diterima lagi disini. Salam kenal kembali," ucap Yuka sambil sedikit membungkukkan badannya. Murid-murid cowok langsung bertepuk tangan.

"Nah, Yuka—kamu bisa duduk di bangku kosong di sebelah Akane itu. Kalian sudah saling kenal kan?" Tanya Yukisawa sensei.

"Ya, sensei. Terima kasih," kata Yuka. Kemudian dia segera berjalan menuju tempat kosong di sebelah Akane. Yuka menarik kursinya dan duduk dengan anggun.

"Ehem!" Dehaman Yukisawa sesei akhirnya ampuh untuk mengalihkan pandangan sebagian besar murid cowok yang sejak tadi terus menerus menatap Yuka.

"Baiklah, kita lanjutkan pelajaran kita sampai pada—" Yukisawa sensei mulai menerangkan pelajarannya seperti biasa.

"Kita bertemu lagi, Akane," bisik Yuka sambil tersenyum pada Akane.

Akane menolehkan wajahnya dengan raut tidak suka ke arah Yuka. "Nasibku benar-benar buruk," balas Akane dengan dingin.

"Ah—Jangan begitu dong, Akane. Kita kan teman," kata Yuka lambat-lambat dan menyebalkan.

"Aku tidak mau jadi temanmu!" Jawab Akane, walupun pelan tapi ketus.

"Kau iri padaku, Akane," senyum Yuka.

"Kenapa aku harus iri padamu?"

"Kau iri karena aku lebih cantik, lebih populer. Dan yang terutama—Daichi lebih menyukaiku daripada kau, Akane."

"Daichi—dia tidak menyukaimu!" Desis Akane.

"Oh ya—dia menyukaiku, Akane. Aku saja itu," Yuka tersenyum semakin menyebalkan.

Kesabaran Akane habis sudah. Lupa bahwa saat itu masih jam pelajaran, Akane menggebrak meja dan menyerang Yuka sampai mereka berdua jatuh ke lantai. Seluruh kelas terkejut dengan aksi Akane. Banyak yang keluar dari kursi mereka untuk melihat lebih dekat pergulatan antara Akane dan Yuka.

"Dia tidak menyukaimu! Kau BRENGSEK!" Geram Akane. Dia berusaha menjambak rambut Yuka yang berada di bawahnya dan tangannya memukul ke bagian tubuh Yuka mana saja yang bisa dicapainya.

"Akane!"

Tangan Daichi menangkap tangan Akane yang terayun untuk menampar Yuka.

"Da—ichi?"

"Cukup, Akane," tegas Daichi. Kemudian dia membantu Akane berdiri—tapi dia juga sama sekali menolak melihat ke arah Yuka.

"Kishida! Kawamura! Apa-apaan kalian?" Yukimura sensei menatap marah pada Akane yang sedang dibantu berdiri oleh Daichi dan Yuka yang masih berada di lantai.

"Kishida! Jelaskan ini! Kau juga, Kawamura! Ini hari pertamamu masuk dan kau sudah membuat keributan di kelasku! Padahal belum ada sepuluh menit kau berada di kelas ini!" Yukimura sensei tampak menyeramkan saat marah.

"Akane menyerangku sensei!" Lapor Yuka.

"Dia yang memulainya!" Teriak Akane. Jarang-jarang ada yang bisa memancing emosinya sampai dia lupa diri seperti ini. Biasanya Akane selalu tampak tenang dan anggun.

"Anda bisa melihat sendiri bahwa dia yang menyerangku, sensei," kata Yuka dengan mata berkaca-kaca dan suara tercekat.

Akane mendengus kesal. Bagus, pikirnya. Yuka sudah mulai bersandiwara.

"Aku hanya mencoba menyapanya tapi dia menganggapku mengganggunya. Dia membenciku dan menyerangku," isak Yuka.

"ITU TIDAK BENAR!" Teriak Akane.

"Cukup, Kishida! Sekarang juga ikut bapak ke kantor!" Perintah Yukimura sensei.

Dengan tatapan marah terakhir pada Yuka, Akane pergi mengikuti Yukimura sensei.

"Aku tidak menyangka ternyata Akane seperti itu," gumaman-gumaman segera terdengar segera setelah Akane dan Yukimura sensei menghilang di balik pintu kelas.

"Iya—kupikir Akane itu baik."

"Tapi dia kan memang sombong."

"Hanya begitu saja sampai menyerang Yuka," ucap salah satu murid cowok.

"Aku cukup mengenal Akane, tapi tidak kusangka dia bisa berbuat begitu."

"Aku tidak mau dekat-dekat lagi dengannya."

"Kasihan ya, Yuka. Dia sampai menangis," ucap cowok lainnya dengan bersimpati.

"Iya, betul," timpal yang lain. "Untung saja Yuka tidak terluka parah."

"Akane pasti punya alasan yang jelas."

"Huh, pasti Akane iri karena Yuka lebih cantik. Dia merasa tersaingi."

"Ya, pasti begitu. Dia tetap ingin jadi yang paling cantik di kelas ini."

"Benar-benar keterlaluan."

Begitulah kata-kata yang terdengar di seluruh penjuru kelas. Semua sibuk membicarakan perkelahian yang baru saja mereka saksikan. Dan hampir semuanya menyalahkan Akane. Mereka semua percaya bahwa Akane menyerang Yuka tanpa alasan yang jelas. Hanya beberapa saja yang percaya pada Akane, termasuk Najika dan Daichi.

Mendengar semua bisik-bisik itu, Yuka tersenyum puas.

.

.

"Akane!"

Najika dan Daichi berjalan dengan setengah berlari menghampiri Akane yang baru saja keluar dari kantor guru. Akane tampak lesu dan berjalan dengan gontai.

"Akane, kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?" Tanya Najika khawatir.

"Akane, kau harus menjelaskannya pada kami. Tapi, jangan disini," gumam Daichi.

Akane hanya mengangguk saja dan mengikuti Daichi yang membawa mereka ke atas atap sekolah.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Akane?" Tanya Najika.

Akane masih saja diam, tapi dia mengangkat kepalanya dan menatap Daichi penuh arti. Daichi tahu, pastilah Yuka melakukan sesuatu yang membuat Akane emosi. Daichi mengenal Akane, gadis itu tidak akan meledak jika tidak dipancing emosinya.

"Mamaku akan dipanggil ke sekolah," kata Akane dengan suara bergetar.

"Apa?"

"Kepala yayasan bilang dia kecewa padaku," Akane mulai terisak.

"Ayah—" geram Daichi. Tentu saja ayahnya membela Yuka—mantan calon menantunya tersayang. Dan ayah Yuka juga menjadi penyumbang terbesar di Seika Gakuen ini. Tentu saja ayahnay tidak mau kehilangan Yuka dan akan membelanya.

"Tapi ini bukan sepenuhnya salahku! Harusnya dia juga dihukum!" Jerit Akane. Tangisnya mulai pecah.

Najika memeluk sahabatnya itu dan berusaha menghiburnya, walaupun dia tahu itu tidak akan banyak membantu.

"Akane, aku tidak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Najika bingung.

Akane tiba-tiba menghentikan tangisnya dan melepaskan diri dari pelukan Najika. Kemudian dia mencengkram pundak Najika dengan kencang sampai Najika meringis.

"Najika, kuperingatkan kau! Jangan dekat-dekat dengan Yuka! Ingat itu, Najika. Kumohon. Dia bisa melakukan apapun yang dia mau! Jangan sampai kau terlibat masalah dengannya dan kau dikeluarkan dari sekolah. Berjanjilah padaku, Najika!" Cerocos Akane.

"I—iya, Akane. Baiklah. Aku tidak akan dekat-dekat dengan Yuka," gumam Najika.

Akane terlihat sedikit lega mendengar kata-kata Najika.

"Tapi—Akane, sebenarnya siapa itu Yuka?" Tanya Najika lagi.

Akane menatap Daichi. Daichi hanya mengangguk sekilas dan kemudian membuang mukanya. Akane menghela napas panjang sebelum bercerita.

"Yuka itu—"

.

.

To be continue...

-Felicia Rena-

.


A/N: Oke, buat yang penasaran siapa itu Yuka, tunggu saja di chapter depan. Aku juga mau mengulang pertanyaan yang biasa. Pairing mana yang kalian pilih? NajikaxSora atau NajikaxDaichi atau yang lain? Dan apakah Seiya Mizuno sebaiknya dimunculkan?

Saya memutuskan untuk mengupdate sesuai reviewnya. Saat ini review hanya 8, jika bisa sampai 13, maka chapter selanjutnya di update paling lama dua minggu. Jika mencapai 15, maka akan di update setidaknya satu minggu. Lebih dari itu (ngarep), diusahakan dalam tiga hari chapter selanjutnya sudah bisa dibaca :D. Hehehe..

Oke, jadi tunggu apa lagi?

Review wajib yaaa...:D