I am not the fairest …

Hari selanjutnya.

Milo menghela napas.

"Dari kemarin Shion terus memanggil saya," katanya pada teman-temannya. "Saya harus kembali ke cermin Narcissus."

"Tidak boleh," teman-temannya memandangnya galak.

Teriakan Milo kemarin berhasil membuat Aphrodite urung membanting cermin itu. Milo akhirnya menyerah dan terpaksa menjelaskan semuanya tanpa kecuali. Ia berharap Aphrodite dan yang lain akan bersimpati padanya—paling tidak mengucapkan kata-kata penghiburan yang bisa membuatnya merasa lebih baik. Ternyata tidak. Semuanya malah memandangnya kesal dan penuh dendam.

"Ya ampun," desah Milo marah. "Kenapa, sih, tatapan kalian seperti itu? Kalian ingin saya terperangkap dalam cermin selamanya, ya?"

"Kalau kamu ingin kami bersimpati, seharusnya kemarin kamu tidak menakut-nakuti kami," geram Kanon. "Jantung hampir copot …"

"Saya kan sudah minta maaf; memangnya kalian ingin saya melakukan apa lagi? Menyembah-nyembah?"

"Kalau perlu!" bentak Deathmask.

"Hei, sudahlah," Saga mendekati cermin dan memegang tepiannya. "Milo, kembalilah ke cermin Narcissus. Jangan cemaskan teman-teman kamu."

"Tidak cemas bagaimana? Mereka mengancam akan memecahkan cermin kalau saya pergi," gerutu Milo. "Bila cermin ini pecah, saya bisa ikut-ikutan hancur kalau saya belum sempat mengungsi ke cermin lain."

"Jangan khawatir, Milo, saya dan Saga akan menjaga cermin ini," Aiolos ikut mendekati cermin itu. "Kamu pergilah ke Shion. Mungkin dia dan Camus sudah menemukan cara untuk membebaskan kamu."

Milo memandang Saga dan Aiolos dengan penuh terima kasih. Ia baru akan pergi, ketika pintu ruang tengah dibuka dan Camus muncul di sana.

"Camus," kata Milo lega. "Saya baru akan pergi ke cermin Narcissus."

Camus segera menghampiri cerminnya tanpa sempat menyapa teman-temannya. "Mantranya I am not the fairest," ujarnya tanpa basa-basi. "Ucapkan keras-keras."

"Ih," Aphrodite bergidik setelah kesunyian yang cukup panjang. "Mantra yang buruk sekali …"

"Untung saja bukan Aphrodite yang terperangkap dalam cermin," gumam Aiolia pada Mu. "Dia tidak akan mau mengucapkan kata-kata seperti itu."

"I am not the fairest," kata Milo cepat-cepat.

Semuanya menunggu, seakan-akan berharap cermin itu akan berpendar warna-warni, lalu Milo akan melompat keluar dari sana sambil merentangkan kedua tangannya dengan gaya.

Tetapi tidak ada yang terjadi.

"Tidak bisa," gumam Milo putus asa.

"Saya yakin ini mantranya," Camus mengernyit. "Coba lagi."

"I am not the fairest."

Tetap tidak ada yang terjadi. Tidak ada pendar-pendar berwarna-warni. Tidak ada tanda-tanda Milo bisa keluar dari cermin itu.

"Mungkin pengucapannya kurang benar," Saga berpikir sambil memegang dagunya. "Mantra seperti itu seharusnya diucapkan dengan sungguh-sungguh."

"Artinya," kata Aphrodite angkuh. "Milo harus sungguh-sungguh merasa bahwa dia bukanlah yang paling tampan. Dengan kata lain, untuk membebaskan diri dari Narcissus, Milo tidak boleh bersikap narcisst. Dia harus mengakui dalam hati bahwa dia tidak tampan dan bahwa banyak yang jauh lebih tampan dari dia. Makanya tadi saya bilang mantra itu buruk sekali."

"Wah, susah sekali …," kata Milo sambil menyeringai frustasi. "Karena saya kan memang tampan …"

"Jangan main-main," sergah Camus. "Saya sudah jauh-jauh ke Sanctuary demi membebaskan kamu."

Milo memandang sahabatnya sambil menghela napas panjang.

"Baiklah, baiklah …," gumamnya.

"Coba lepaskan semua kesombongan duniawi," Shaka menyarankan dengan tenang. "Kosong adalah berisi …"

"… berisi adalah kosong," Milo melanjutkan sambil mengangguk-angguk lelah.

Namun ia menyadari bahwa Shaka benar.

Dalam kepercayaan Buddha, terdapat filosofi 'kosong adalah berisi', yang berarti sesuatu yang kosong pun bisa berwujud. Orang yang sudah meninggal adalah 'kosong' karena dia sudah tiada, tetapi 'berisi/berwujud' karena dia masih hidup dalam hati dan pikiran kita.

Sebaliknya, filosofi 'berisi adalah kosong' berarti sesuatu yang berwujud pun bisa menjadi kosong. Orang hidup adalah 'berisi/berwujud' karena dia masih eksis di dunia, tetapi dia 'kosong', karena kecantikannya, ketampanannya, kekuasaannya … semuanya adalah ilusi yang suatu saat akan berakhir dan tidak berwujud lagi.

Hanya Deathmask sama sekali tidak setuju dengan teori itu (maklumlah …).

"Kosong ya kosong," gerutunya kesal. "Berisi ya berisi. Kaleng kerupuk saja kalau kosong ya kosong."

Milo pun memejamkan matanya, bersiap untuk mengatakan 'I am not the fairest' dengan sepenuh hatinya. Ia membayangkan dunia, membayangkan jagad raya, membayangkan kecantikan-kecantikan yang tidak akan pernah bisa diraihnya.

"I am not the fairest …," bisiknya.

Camus menatap cerminnya, mengawasi bayangan Milo dengan seksama.

Seiring detik yang berlalu, bayangan Milo perlahan memudar.

Semakin lama bayangan itu semakin samar …

… dan akhirnya sirna sama sekali.

Milo berhasil mengucapkan mantra itu.

Camus kembali memandang bayangannya sendiri. Tampan seperti biasa. Dingin. Dan lelah.

"Dia hilang," kata Aiolos pelan, setelah hening yang rasanya berjalan berjam-jam.

"Tidak, dia tidak hilang," terdengar suara dari pintu.

Milo berdiri di sana sambil tersenyum lebar.

Teman-temannya menghela napas, merasa lega sekali akhirnya Milo bisa bebas dari cermin itu.

Walaupun ternyata mereka masih kesal padanya, karena serta merta Aiolia melemparinya dengan bantal, Deathmask melemparinya dengan Jack O' Lantern, Kanon menjitak kepalanya berulang kali, dan Aphrodite mendorongnya hingga membentur tembok.

"Dasar!" bentak mereka. "Bikin jantungan saja!"

Milo hanya bisa tertawa sekeras-kerasnya. Dia tidak protes karena dia senang sekali bisa menghirup udara segar setelah terperangkap dalam labirin cermin yang pengap.

Setelah berhasil melepaskan diri dari mereka, Milo mendekati Camus dan memeluknya singkat.

"Jangan diam saja," katanya ceria. "Katakan sesuatu. Bilang 'selamat datang', atau 'saya lega kamu sudah bebas', atau semacam itu."

Camus hanya memandangnya kesal, lalu menggeleng pelan. Walaupun ia tidak bisa menyembunyikan senyum tipisnya, atau perasaan lega karena sahabatnya sudah berada di dunia nyata lagi.

Tetapi dia akhirnya menurut dan mengatakan satu kata pada Milo.

"Brengsek."

Milo kembali merangkulnya sambil tertawa keras-keras.

-000-

-000-

Akhirnya.

Siang itu masih mendung seperti sebelumnya.

Milo dan Camus duduk di anak tangga di teras belakang, merasakan semilir angin yang berhembus pelan, namun masih membuat bulu roma merinding.

"Udara masih saja dingin," gumam Camus.

"Pasti ulah Notus," kata Milo sambil tersenyum lebar.

"Notus?"

"Dewa angin," kata Milo. "Kata Shion, dia marah karena tidak diundang Athena dan Poseidon ke pesta Halloween kemarin. Makanya dia menghembuskan angin dingin di musim gugur ini."

Camus tidak bisa menahan senyumnya. "Ada-ada saja," gumamnya.

Setelah itu sunyi. Hanya terdengar desir angin dan cicitan Biki, burung kenari milik Shaka.

"Apa menurut kamu saya seperti Narcissus yang mencintai diri sendiri secara berlebihan?" tanya Milo kemudian.

"Kadang-kadang," jawab Camus, membuat Milo tertawa. "Tapi tidak sering, kan?" Milo tidak bisa menyembunyikan nada berharap dalam suaranya.

"Hmmm …"

Milo bersandar pada anak tangga dan memandang langit yang bersemu abu-abu. "Saya heran kenapa saya yang harus dapat musibah seperti ini," gumamnya. "Kenapa bukan yang lebih narcisst, seperti Aphrodite misalnya."

Camus memandang Milo sejenak, lalu memandang rerumputan sambil tersenyum tipis. "Kehidupan tidaklah sesederhana itu," katanya pelan.

Milo ikut tersenyum.

Ia memandang sahabatnya penuh terima kasih, sebelum kembali memandang langit. "Benar."

Mereka duduk di teras belakang hingga sore menjelang. Angin dingin perlahan-lahan menghilang, dan kembali menjadi hembusan musim gugur yang menyejukkan.

Sepertinya Notus sudah tidak marah lagi.

Dan Halloween yang sepi dan suram itu pun berakhir dengan damai.

Tamat

A/N: Makasih banyak sudah baca ya :D Yang 'kosong ya kosong, berisi ya berisi' itu saya ngambil dari banyolannya Eron, wkwkwkw… pinjem ya Eron :D Temen-temen fandom SS, chaiyooo nee…!