BAB II

(selamat tinggal Batam!)

Pesawat lepas landas, dengan secepat kilat ku tinggalkan kampung halamanku, Batam. Namun aku ingat pesan papa. Tak boleh menangis!. Akhirnya kami sampai di bandara Adi Sucipto setelah berpuluh-puluh menit kami berada di udara. Tante dan keluarganya telah menunggu di depan bandara. Senyum keluarga tanteku getir tiada rasa persaudaraan. Kami pun menuju rumahnya. Aku kikuk dengan keadaan disana. Di batam aku tak melihat sawah dan aku tak menghirup udara sesegar di desa ini.

Setelah beberapa minggu tinggal di rumah tante, mama pulang ke Batam dan meninggalkanku saat ku tertidur lelap. Hampa rasanya tanpa suara mama saat ku terbangun dari mimpiku semalam. Tiada lagi adu mulut antara papa dan mama. Yang ku dengar hanyalah kicauan burung dan kokokan ayam. Inikah awal hidupku yang baru?. Another time, another place, another story, itulah kalimat yang mendiami benakku

Pagi ini amat mengerikan bagiku, suasana di desa membuatku kikuk dan kaget. Hidupku yang dulu serba mewah tiba-tiba jatuh bak terjun dari lantai 24. dulu, aku biasa bangun jam 09.00 karena sering masuk kelas siang. Kalau disini aku harus bangun jam 05.00 pagi. Dulu aku biasa dibangunkan dengan alarm, kalau disini dibangunkan dengan teriakan tante yang naujubille dahsyatnya. Setelah mendengar teriakan yang berkekuatan 5,4 SR –idih ngeri amat yak?- aku langsung bangun dan bergegas ke kamar mandi. Setelah itu sarapan telah menantiku. What? Betapa kagetnya aku, aku yang terbiasa sarapan dengan sandwich atau cereal harus menyantap nasi dan tempe goreng pagi ini. Tapi tak apalah dibiasakan saja hidup apa adanya.

Hari ini adalah hari pertamaku bersekolah di SDN 1 Harapan. Teman-temannya memang baik dan tutur katanya sopan.

"namaku Dita, kamu Gina ya? Kamu dari Batam ya?" tanya Dita teman satu kelasku dengan logat jawa nya yang kental.

"Salam kenal Dita, iya aku Gina dari Batam."

Hari ini banyak orang-orang baru dalam hidupku. Namun mungkin karena aku tercipta tanpa cinta, jadi aku tak terlalu berminat kepada mereka.

11 Mei 2002,

Hari ini hari ulang tahunku, baru saja ku bangun dari tidurku hape-ku sudah berdering. Dan, "Yapp" mama meneleponku!.

"Selamat Ulang tahun sayang! Maaf mama enggak bisa ngasih apa-apa. Sebenarnya papa juga mau nyampein langsung ke kamu. Tapi papa sekarang di…" ucap mama

"dimana ma?"

"di penjara , nak!"

"oh, bagus deh." Jawabku tenang.

"ya udah sayang kamu siap-siap ke sekolah dulu. Nanti mama telpon lagi."

Begitu mama menutup pembicaraan kami , langsung saja beribu pertanyaan muncul dalam benakku. Pertama, Tak biasanya mama dan papa ingat hari ulang tahunku. Kedua, papa di penjara. Itu berarti aku tak dapat menemuinya selama 15 tahun. Sudahlah aku tak perlu memikirkannya. Toh dia tak pernah memikirkanku.

Sepulang sekolah hapeku berdering lagi. Tapi kali ini seorang pria yang meneleponku. Aku kenal suaranya, suara yang ku dengar dulu. Tapi kali ini lembut tak seperti dulu. Iya suara papa.

"Gina sayang maafin papa ya,nak. Selamat ulang tahun ya sayang!" ucap papa dengan nada penuh cinta.

"makasih." Jawabku acuh tak acuh.

Setelah lama kami berbincang-bincang hingga akhirnya kami mengakhiri percakapan kami, aku menjatuhkan badanku di atas kasur. Tak sadar air mata membasahi pipiku. Kemiskinan menyadarkan mereka. Namun tetap saja selalu aku yang jadi korbannya.

Hari berganti hari, dan disini aku kian menderita. Aku hidup layaknya pembantu yang disuruh-suruh tanpa berpikir lelahnya aku. Aku yang telah duduk di kelas 6 SD sudah menjadi bahan pembicaraan tetangga. Tiap malam aku menangis , meratapi nasibku ini. Aku bagaikan insan yang tak punya masa depan. Mungkin Tuhan akan mengakhiri hidupku sebentar lagi. Atau mungkin Tuhan akan memberikanku masa depan yang suram.

Ujian akhir sekolah telah selesai tinggal menunggu pengumuman , itu pertanda aku akan menjadi siswa SMP. Bayanganku sudah merajalela, apakah aku akan tambah dewasa?. Memang semenjak tinggal disini aku lebih tegar jarang menangis dan bukan anak manja lagi.

Hari yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Pengumuman kelulusan diumumkan dan hap-hap-hap lalu ditangkap aku mendapat peringkat satu dan lulus!. Kemenangan ini kurayakan dengan teman-temanku di pantai.

Libur telah tiba. Mama datang untuk menjengukku. Liburan ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya aku , mama dan papa piknik ke pantai. Tapi sekarang kami hanya berdua. Biarlah yang penting everything's gonna be okay. Dan selama liburan ini aku mempersiapkan diri untuk ke jenjang yang lebih tinggi. Aku dan teman-teman mendaftarkan diri di SMP 1 Harapan, SMP terfavorit di desa kami. Dan fortunatelly aku diterima.