Ada yang tanya soal ide...

ide ini juga gak sengaja terlintas di pikiran aku. Aku yang lagi dalam dilema perasaan (jyaah...) tiba-tiba mikir, gimana ya kalau ada kisah nikah dini di mana suaminya gak suka ma dia?

piye?

piye?

pi- killed


Naruto by Masashi Kishimoto

Our Marriage by Kyra De Riddick

Warning!

OOC, FemNaru, Typo(s), Author Newbe, No Shou-ai, dll….

Pairing:

Gaara x Naruto


Chapter 8

A Diary And An Unsent Letter


Gaara mengerjapkan matanya yang terasa sulit untuk membuka. Dan yang menyambutnya adalah handuk dingin yang berisi es batu, membuatnya mengerang karena kaget dan sakit sekaligus. Dengan susah payah ia bangun dari posisi berbaringnya, dan mencoba menatap sekitar.

Yang pertama kali dilihatnya adalah sosok Temari yang berdiri sembari berkacak pinggang dan menatapnya garang, lalu Kankuro yang duduk di sebelahnya, menatapnya cemas.

"Hei, bukan aku yang melemparkan handuk itu padamu. Tapi Nee-san," ucap Kankuro saat Gaara tak berhenti menatapnya lekat.

"Apa belum cukup kau membuat masalah?" pertanyaan Temari yang dimaksudkan untuk menyindirnya itu mengingatkan Gaara akan kejadian malam sebelumnya, juga…. mimpinya. Kejadian sembilan tahun yang lalu yang hadir bagaikan mimpi. Dan dengan itu, ia mengerti apa maksud kata-kata terakhir Kankurou sehari sebelumnya.

"Bagaimana aku bisa di sini?" tanyanya lirih dengan suara serak. Mengabaikan rasa sakit yang menggerogoti seluruh tubuhnya.

"Sasuke melihatmu menghajar seorang pria kemarin. Karena tampaknya kau tidak bisa diam, jadi dia memukul tengkukmu dari belakang lalu mengantarmu kemari, begitu dia bilang. Apa lehermu masih sakit? Apa perlu kita ke dokter?" Tanya Kankuro setelah menjawab pertanyaan Gaara.

Gaara hanya menggeleng sebagai jawaban.

"Gaara, sore ini kami harus kembali ke Suna. Sebab Nee-san harus segera ke Otto menyusul Shika-nii. Keluarga besar mereka ingin merayakan tahun baru bersama. Sedangkan aku harus menghadiri acara keluarga besar kita, untuk mewakilimu dan Nee-san," sahut Kankuro lagi, dan Gaara hanya mengangguk tanda mengerti. Sebab ia tak bisa banyak bicara setelah pemuda yang ia hajar memukul telak pada rahangnya.

Sejujurnya Temari masih ingin menceramahi adiknya itu, namun saat ia melihat tatapan Kankuro yang mengarah penuh arti padanya, ia pun memilih untuk bungkam dan meninggalkan kamar adiknya itu.

"Haah, kau membuat nee-san tidak tidur semalaman kau tahu." Ucapan Kankuro itu jelas membuat Gaara menatapnya bingung. Dan sekali lagi, seolah sudah tahu pertanyaan apa yang diucapkan oleh otoutonya melalui tatapannya itu, Kankuro berujar, "nee-san bersuara keras padamu bukan berarti dia membencimu atau marah. Ya, ku akui kalau dia marah. Tapi itu semua karena dia terlalu menyayangimu."

"…."

"Haha sudah tidak ada. Karena itulah dia merasa bahwa dia harus bisa menjadi sosok ibu untukmu. Dan aku rasa wajar kalau dia marah karena kesalahanmu."

"Aku mengerti," Gaara berujar singkat. Tak ingin membuat kakaknya merasa diabaikan bila ia diam saja.

Sekali lagi Kankuro mengacak rambut merah adiknya yang ia warisi dari ibunda tercinta mereka yang telah pergi menyusul sang ayah. "Tapi, aku lebih setuju bila menganggap Nee-san sedang menyalahkan dirinya sendiri."

Gaara menatap bingung pada Kankuro saat mendengar kalimat tersebut. Sedangkan Kankuro memilih untuk beranjak dan berdiri di dekat jendela. Memandangi bumi yang kini hanya memiliki satu warna yang melambangkan kesucian.

Gaara paham bila Kankuro akan membicarakan suatu masalah yang cukup sulit untuk dibahas bila ia sudah bersikap demikian. Dan ia sudah siap mendengarkan.

"Nee-san adalah orang pertama yang menentang keinginan haha. Wajar saja kalau dia menolak. Kalian masih sangat muda. Kau baru 18 tahun dan Naruto bahkan belum genap 15 tahun saat itu. Selain faktor usia, nee-san juga tahu kalau kau masih memikirkan gadis masa lalumu. Belum lagi sikapmu yang acuh tak acuh pada orang lain. Dia khawatir kau akan menyakiti Naruto."

"Dan aku memang melakukannya," sahut Gaara mengejek dirinya sendiri.

"Namun haha tetap saja bersikeras. Dan dengan kondisinya yang semakin lemah, nee-san terpaksa mengalah. Aku masih ingat bagaimana ekspresi nee-san ketika dia diminta untuk memanggil Naruto agar menemui haha malam itu. Dia bahkan tidak sanggup menatap Naruto, dan berbalik bersuara ketus."

Kankuro menarik napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, "aku tidak tahu apa yang dikatakan haha pada Naruto. Yang jelas saat Naruto keluar dari kamar haha, dia hanya tersenyum. Tersenyum untuk menutupi air mata yang sudah sangat jelas akan segera terjatuh. Haah, dasar anak itu."

Cukup lama mereka berdua mengobrol di kamar itu, sampai suara Temari terdengar untuk mengingatkan mereka akan makan siang yang hampir terlupa. Selepas itu, Temari segera mengepak barang-barangnya yang memang cuma sedikit ia bawa.

Jam empat sore Temari dan Kankuro meninggalkan apartemen tersebut untuk segera kembali ke Suna. Dan tak lupa Temari membawa biola putih milik Naruto tanpa bisa dicegah Gaara.

-oOOOo-

Kyra De Riddick is YumeYume-Chan

-oOOOo-

Pemuda bermarga Sabaku berambut merah itu memandangi jalan kota Konoha yang berselimut salju. Merasakan dinginnya hembusan angin musim dingin yang membelai kulitnya. Juga butiran salju yang mencair tatkala bersentuhan dengan tangannya.

Ia tengah bernostalgia.

Bernostalgia akan seorang gadis berambut pirang keemasan yang sangat indah. Dengan iris mata biru yang akan selalu berbinar indah andai tak ada dirinya yang merusak keindahan itu. Sosok gadis yang selalu menyukai semua musim. Tak peduli itu musim panas di mana sinar matahari akan menyengat kulit dengan panasnya, atau musim dingin yang serasa membekukan tulang dengan butiran es miliknya. Atau musim semi yang dihiasi beragam bunga-bunga cantik. Entah itu Sakura atau Dandelion yang sering membuatnya bersin. Atau pun musim gugur saat pepohonan menggugurkan daunnya dan akan menambah beban pekerjaan gadis itu. Gadis itu selalu menyukai semua musim. Semuanya.

Tangan pemuda itu mengepal erat saat sebuah kepingan kenangan hadir dalam memorinya. Saat gadis itu masihlah seorang gadis cilik. Dalam kepingan kenangan itu, ia melihat gadis itu tengah memandang riang pada pohon Sakura yang tengah mekar di taman mereka, dan ia dapat melihat sebuah tangan framboise yang ia yakini sebagai miliknya menyodorkan bunga dandelion ke arah hidung gadis cilik itu, yang menghasilkan suara bersin yang sulit berhenti. Dan dapat ia dengar bagaimana gadis cilik itu memanggilnya dengan panggilan sayangnya.

'Nii-chan.'

Sebuah kepingan memori lain bermain dalam pikirannya. Dalam memori itu, ia melihat gadis cilik yang sama, yang belum genap berusia lima tahun, tengah memunguti dedaunan yang terjatuh dari pohonnya. Ia terus memungutinya dengan sabar meski tangan mungilnya tak mampu membawa labih banyak daun. Hanya satu hal yang pasti yang ingin dilakukan gadis itu, membantu nii-channya yang diberi tugas untuk menyapu halaman rumah mereka yang ditutupi daun-daun kecoklatan yang terjatuh dari pohonnya.

Dan sekali lagi, Gaara mendengar panggilan itu untuknya.

'Nii-chan.'

Musim panas dengan gambar pelaku yang masih sama. Gadis cilik berambut pirang dan seorang bocah lelaki berambut merah di sebuah danau kecil yang dikenalnya sebagai oase. Ia tampak sibuk berenang di dalam danau kecil itu sembari memperhatikan adik kecilnya mengejar capung atau hewan-hewan lain yang menarik di depan matanya. Dan saat gadis kecil itu terjatuh, yang ia dengar bukanlah teriakan kesakitan khas anak kecil. Melainkan ia yang dipanggilnya dengan panggilan yang sama.

'Nii-chan.'

Butiran putih uap air yang beku terus turun tanpa henti untuk menyelimuti kota Suna kala itu. Di sebuah rumah yang berhiaskan hiasan khas natal terdengar sebuah suara gerutuan seorang gadis kecil yang masih sama dengan semua kepingan memori yang ia lihat sebelumnya. Gadis kecil itu tampak memegang sebuah hiasan bintang yang rupanya ingin ia letakkan di puncak pohon natal yang lebih besar darinya.

Tak ada yang menyadari kondisi gadis kecil yang tengah merengut kesal itu sebab semuanya sedang berada di dapur untuk menikmati kue buatan ibu mereka. Tak ada, kecuali satu orang. Bocah berambut merah itu tersenyum tatkala melihat kaki kecil adiknya tampak berjinjit dan sesekali melompat-lompat. Ia pun mendekati sang adik dan segera menggendong adik kecilnya itu di leher agar ia bisa meletakkan hiasan bintang itu.

Gadis kecil itu pun akhirnya dapat tersenyum lagi setelah melihat hiasan bintangnya terpasang dengan rapi di pohon natal tersebut. Ia menunduk, melihat pada sang kakak yang menggendongnya.

"Terima kasih, nii-chan."


Nii-chan….

Betapa Gaara kini sangat merindukan panggilan tersebut untuknya. Panggilan yang dulu begitu disukainya, namun ia sendiri pula lah yang membuat panggilan itu menghilang dengan segala kebencian dan kecaman yang tak seharusnya ia berikan pada gadis kecil yang masih polos itu.

Dan sekali lagi kalimat pengandaian muncul dalam asanya yang takkan terwujud.

Akankah ia dapat mendengar panggilan itu lagi andai ia tak melukai gadis itu? Tak melukai 'angel' miliknya?

Dan jawaban yang hadir pun kembali menyayat hatinya.

Tentu saja ia bisa. ANDAI ia tak menyakiti gadis itu. Gadis yang berstatus sebagai isterinya tersebut.

Isteri….

Kata 'isteri' mungkin tak lagi bisa ia gunakan dalam beberapa waktu ke depan. Sebab ucapan sang kakak sebelum pergi benar-benar mengejutkannya.

"Sebaiknya kau segera menemukan Naruto. Sebab aku sudah bilang pada Sasuke, bila Sasuke yang lebih dulu menemukannya, aku sendiri yang akan mengurus perceraian kalian. Aku rasa Naruto akan lebih bahagia dengan Sasuke."

"Dan satu lagi, jangan pernah pulang kalau kau belum menemukannya."

Ucapan kakak perempuannya itu telah menjadi pedang bermata dua baginya. Ucapan itu tidak hanya menjadi dorongan untuknya agar bisa menemukan isterinya, namun juga telah menjadi senjata yang menghancurkan asa yang begitu sulit ia pertahankan.

Dan ia hanya bisa diam tanpa bisa membantah ucapan yang dilontarkan dengan nada yang memang tak terbantahkan itu.

Gaara menghela napas berat sebelum ia meninggalkan beranda saat menyadari malam telah membelai kota tersebut. Dengan langkah berat ia menuju kamarnya untuk mengambil mantel dan kunci mobil miliknya. Tak peduli pada tubuhnya yang masih sakit, ia memutuskan untuk mencari gadis dengan aura selembut rembulan itu.


Mata Gaara terpaku pada dua buah benda di tangannya. Sebuah buku bersampul oranye dan sebuah surat dalam amplop putih yang bertuliskan namanya yang tak sengaja ia temukan kala dirinya tengah mengambil mantel dalam lemari. Ia tahu, ia tahu siapa yang telah menulis surat itu. Sebab tulisan tangan itu takkan ia lupakan.

Surat dari sang terkasih yang telah pergi.

Perlahan, Gaara membuka surat tersebut. Dan matanya pun mulai mengikuti deretan kata yang rupanya ditulis jauh sebelum ia memiliki gadis itu sebagai isterinya.

Gaara, apa kabar? Ah, aku tahu kau pasti baik-baik saja. Apa makanmu cukup? Ingat ya, kau tidak boleh minum air dingin sebelum jam 11 pagi, karena kau bisa sakit perut. Aku tidak tahu harus menulis apa padamu, jadi aku tulis saja semua hal yang boleh dan tidak boleh kau lakukan, oke?

Dan kau harus ingat….

Kau tidak boleh makan makanan yang terlalu pedas atau keras nanti maagmu bisa kambuh.

Kau tidak boleh minum air dingin sebelum jam 11 pagi (aku sudah menuliskannya di atas kan?)

Kau tidak boleh terlambat makan.

Jangan keluar tanpa mantel saat musim dingin atau topi saat musim panas. Nanti kau bisa sakit.

Jangan hanya makan-makanan instant. Kau juga harus masak, tapi sebelum masak, siapkan semua bahannya dulu. Dan jangan lupa mencucinya.

Kalau cuci piring jangan terlalu menundukkan badanmu dan gunakan sarung tangan plastik supaya piring-piringmu tidak jatuh.

Dan satu lagi, jangan memainkan busa sabun ya? Kau suka begitu kan? Hati-hati dengan matamu.

Jaga dirimu baik-baik….

Seharusnya hal ini tidak perlu aku katakan, sebab tanpa aku ingatkan pun kau pasti akan baik-baik saja di sana. Karena kau tak perlu melihatku. Melihat aku yang telah merenggut senyum itu dari wajahmu.

Maafkan aku. Maafkan aku yang telah meninggalkan tousan. Maafkan aku yang membuat tousan pergi dari kita, Gaara. Maafkan aku….

Gaara, boleh aku bertanya sesuatu?

Andai saja saat itu aku yang terjebak di dalam sana, akankah kau membenci tousan dan menyalahkannya?

Andai saja saat itu aku tidak meninggalkan tousan, akankah kau masih mengingatku dan memanggilku 'imouto-chan' seperti dulu?

Belum tersediakah kata 'maaf' untukku? Berapa lama lagi aku harus menunggu kata itu darimu, Gaara?

Gaara, aku sangat ingin memanggilmu 'nii-chan' seperti dulu, sama inginnya aku mendengar panggilan itu darimu. Namun aku tahu, itu salahku.

Akulah yang salah karena tak bisa menyelamatkan tousan.

Maafkan aku Gaara.

Hontou ni gomenasai nii-chan….

Jantung Gaara berdentum keras membaca surat tak terkirim itu. Surat yang ditujukan untuknya oleh gadis kecilnya. Adiknya. Imouto-channya. Tak kuasa menahan gejolak jiwa yang melandanya, Gaara meremas kertas di tangannya sebagai pelampiasan.

Sungguh, ia begitu kacau saat ini.

Begitu kacau, hingga ia merasa tak sanggup untuk hidup lagi. Betapa penyesalan telah menghancurkan dirinya sepenuhnya. Menghancurkan kearoganan dan juga hidup yang ia miliki. Namun dibalik semua kehancuran yang ia rasakan itu, Gaara menyadari satu hal, semuanya karena dirinya.

Dia sendirilah yang menghancurkan hidupnya.


Lembaran kertas dalam buku harian itu sudah hampir penuh terisi. Beragam kisah dituliskan oleh sang pemilik di dalamnya. Namun hanya satu hal yang dapat Gaara tangkap dari deretan kata dalam buku itu.

Rahasia hati sang pemilik yang tak pernah terungkapkan.

Iris hijau Gaara dengan telaten menjelejahi setiap baris dalam buku tersebut. Hingga iris itu mulai terasa aneh saat membaca beberapa tulisan terakhir dalam agenda tersebut.

22 juni…

Menikah dengan Gaara….

Betapa tiga kata yang merupakan permintaan kaasan ini telah berhasil menghancurkan impianku. Menggelapkan masa depan yang ingin ku raih. Menjauhkan cita-cita yang ingin ku capai. Dan seolah melenyapkan hidupku…

Usiaku baru 14 tahun dan aku memiliki impian….

Ingin kukatakan kalimat itu pada kaasan, namun lidahku terasa kelu saat menatap mata hijaunya yang telah payah menatap dunia…

Aku mohon, biarkan ku titi jalanku sendiri….

Satu kalimat lain yang juga tak dapat kulisankan di depan ibunda yang telah berbaik hati merawatku, dan terus menyayangiku. Meski aku telah merebut bintang hatinya.

Ayah…..

Ya, kaasan….

Betapa dua kata yang aku ucapkan dengan wajah tersenyum di hadapan kaasan itu terasa menyayat hatiku. Mencabik jiwaku. Menggelapkan akal dan pikiran yang aku punya.

Ya, kaasan. Aku akan menikah dengan Gaara.

Meski begitu, aku berharap Gaara akan menolak permintaan itu dengan segala kebenciannya padaku.

Akankah kau dengar permintaanku tuhan?

-/-

13 Juli….

Air mataku luruh bersama hujan badai yang seolah ikut menangis bersamaku kala mendengar jawabannya…

Mengapa tuhan?

Mengapa tak kau biarkan aku menggenggam sedikit saja harapan untuk bebas? Meski kebebasan itu ku peroleh dari kebencian dirinya yang begitu berarti bagiku.

Mengapa? Mengapa kau ucapkan jawaban itu Gaara?

Bukankah kau telah memiliki seseorang yang mampu menghadirkan senyum di wajahmu? Bukankah kau telah memiliki seseorang yang mampu menenangkan jiwamu yang terluka? Lalu mengapa kau ucapkan jawaban itu?

Apakah itu berarti kau telah lelah menunggunya? Tidakkah itu melukaimu Gaara? Ataukah aku kembali menjadi alasan atas luka baru yang aku buat di hatimu sekarang ini?

Maafkan aku kalau begitu…

Sungguh, maafkan aku, Gaara…..

/

20 Juli…..

Tiga hari lagi menjelang pernikahan….

Takkan kukatakan pernikahanku, pernikahannya, atau pernikahan kami. Karena tak ada aku, dia, atau kami dalam hal ini. Semuanya hanyalah bayangan semu. Semuanya hanyalah sandiwara. Baik itu, senyum, tawa, bahagia, maupun ketegaran ini. Semuanya hanyalah kepalsuan…

Namun luka di hatiku bukanlah kepalsuan,

Sesak di dadaku bukanlah sandiwara,

Dan air mata ini bukanlah topeng.

Semuanya benar. Realita yang sesungguhnya kurasakan di balik cerita yang aku perankan.

/

22 Juli

Aku menghabiskan waktu bersama Matsuri seharian ini. Dia terus-terusan menanyakan alasanku menerima permintaan kaasan. Dan selanjutnya, hanyalah gesekan biola yang menjadi jawabanku atas tanya yang dilisankannya.

Aku tahu, Matsuri akan paham dengan setiap gesekan biola yang aku ciptakan. Karena dia mampu memahamiku.

Mengapa debaran ini terasa saat mata kami beradu pandang? Mengapa kekelaman yang tersirat dalam iris miliknya seolah menjebakku dalam ruang tak berbatas? Seolah hanya ada aku dan dia di dunia yang aku pijak ini.

Perasaan ini terasa familiar, namun juga asing. Seolah pernah ku rasakan, namun telah lama ku lupakan.

Perasaan apakah ini?

Mengapa harus kurasakan ketika aku tahu aku akan menjadi seorang Sabaku yang sesungguhnya kala mentari membelai kami besok?

Dan mengapa harus padanya, pada dirinya yang merupakan sahabat dirinya?

/

24 Juli

Tuhan, biarkan malam ini ku mengadu padamu. Izinkan aku menumpahkan beban di hati dalam rengkuhanmu Tuhan.

Tuhan….

Tak terputus air mata yang terus terjatuh di hatiku. Tak tertahan dalamnya luka yang kurasa jauh di dalam dada. Tak kuasa diriku untuk tidak mencela diriku yang telah berbohong di hadapan pastur penyembah-Mu.

Betapa hati ini semakin terkoyak, saat langkah kaki hamba meniti jalan menuju altar-Mu...

Betapa jantung ini semakin berlubang, kala Kankuro-nii melepaskan tanganku untuk bersanding dengannya di hadapan-Mu…

Betapa tubuh ini terasa lebur dalam hancur kala mendengar puji-pujian yang ditujukan atas-Mu….

Betapa kaki ini terasa menghilang, kala mendengarnya mengucapkan kesediaan akan sebuah janji suci….

Betapa mata ini sungguh ingin menangis kala lidah ini tengah berbohong untuk mengucapkan kesediaan yang sama dengannya….

Dan betapa hamba membenci diri ini, kala hamba masih mampu menyunggingkan senyum indah di saat hati dan tubuh hamba terasa hancur tak terkira….

Wahai tuhan, tak ada lagi tempatku untuk berpulang selain kepadamu. Tak ada lagi tempatku mengeluh selain padamu. Dan tak ada lagi yang mampu melindungi jiwa pendusta ini selain dirimu.

Tuhan….

Aku mohon padamu, betapapun hancurnya diriku kelak, betapapun kotornya aku nanti, aku mohon padamu, tetaplah melihat jiwa yang lemah ini. Tetaplah merengkuh diri yang nista dalam kubangan kebohongan ini, Tuhan.

Aku mohon padamu….

/

25 agustus….

Sudah sebulan aku jalani hidup dalam panggung sandiwara baru dan memerankan nyonya Sabaku. Dan sudah sebulan ini pula ku tinggalkan rumah tempatku tumbuh. Mengikuti jejak suami yang menuntut ilmu di negeri orang. Menjalani kehidupan sebagai layaknya isteri dalam rumah baru, bersama penghuni baru yang lain.

Dia….

Belum, belumlah aku akan berbicara tentang dirinya. Namun kini yang akan ku ceritakan hanyalah jawaban yang aku dapat saat melihat iris hijau manusia yang berstatus sebagai suamiku saat memandangku.

Di antara semua luka yang pernah ku rasakan karenanya, tak ada luka yang melebihi cara pandangnya padaku. Karena aku, tak terlintas di matanya. Meski hanya sekejap saja.

Karena aku, dijadikannya pengganti dirinya yang telah pergi meninggalkan dia. Mengingatkanku akan kejadian dua tahun yang lalu, saat dia pulang dalam keadaan kacau. Saat dia mengamuk tanpa kesadaran bersamanya, dan saat aku datang memeluknya untuk menerima setiap luka yang ia rasakan.

Tentu ia takkan ingat hal itu…

Yang kudengar saat itu hanyalah 'Cherry'…

Dan seperti itu pulalah dia memandangku….

Bukan sebagai Naruto, tetapi sebagai 'Cherry' yang bahkan tak ku ketahui siapa…

/

28 september

Sungguh aku tak kuasa menahan laju air mata ini saat mendengar mereka yang kuketahui sebagai teman kelasku berbicara tentang masa depan, cita-cita, dan juga semua hal yang wajar untuk dibicarakan oleh mereka yang masih remaja. Oleh mereka yang masih memiliki tangan yang bebas untuk meraih cita-cita dan cintanya.

Namun semua itu bukan untukku. Hanya terkecuali padaku, segala pembicaraan itu menjadi tabu.

Sebab aku bukan lagi seorang gadis bebas layaknya mereka. Sebab aku hanyalah seorang isteri yang tak tertatap oleh iris suaminya. Sebab sayapku telah patah untuk terbang, sebab tanganku telah terikat untuk meraih cita-cita dan impian, dan kakiku telah terantai untuk melangkah maju.

Yang kubisa hanyalah merasa iri saat mendengar, dan menatap dengan segala kerendah dirian yang ku punya saat melihat mereka melangkah maju….

/

27 Oktober

Lagi, dia mengerjaiku yang hampir menangis karena luka tak tertahan. Entah mengapa, aku selalu merasa jika dia tahu luka yang ada di hatiku…

Dan mengapa rasa nyaman ini justru kurasakan saat bersamanya? Padahal dia sungguh manusia yang sangat menyebalkan bagiku.

Tuhan, diakah orang yang kau kirim untuk menjadi tempatku mengadu?

/

1 November

Malam kemarin bagai mimpi buruk untukku. Andai tak ada Sasuke, mungkin aku telah menjadi seonggok sampah kini. Aku tak mengerti dan tak mampu memahami bagaimana Gaara mampu bertahan dan berbaur dalam pergaulan yang bagiku menakutkan.

Merah di pipi telah menjadi kenangan tersendiri bagiku dari tempat itu. Juga mengingatkanku akan posisi diri yang tak mampu mensejajarkan diri dengannya. Mampukah aku menjadi pengganti dirinya yang telah pergi meninggalkan Gaara? Dan mampukah aku menjadi pengobat hatinya yang luka?

/

10 november

Beberapa hari belakangan ini terasa menyiksaku. Aku pikir, setelah Gaara mengucapkan kata maaf untukku, semuanya akn menjadi lebih baik. Namun aku salah, sebaliknya segalanya justru menjadi buruk.

Namun saat itu pula aku menyadari sesuatu. Menyadari dan mengingat sesuatu yang dulu hilang.

Perasaan yang familiar dan asing di saat yang sama yang pernah ku rasakan pada Sasuke. Perasaan itu memang telah ku alami jauh sebelum aku mengenal Sasuke. Perasaan suka yang kurasakan pada pemuda yang kini menjadi kepala keluarga yang baru aku bangun.

Perasaan suka yang kukubur secara paksa saat mengetahui dia telah mencintai gadis lain…

Semuanya bermula saat aku melihat mereka dalam keadaan yang tak sepatutnya untuk dilihat. Menyebabkan luka di hatiku semakin koyak. Dan saat air mataku luruh, kurasakan sebuah kehangatan lain memelukku.

Sasuke…

Dia membawaku pergi darinya, dengan maksud menghiburku dan menjauhkanku dari rasa sakit itu. Namun aku meninggalkannya. Meninggalkan kehangatan yang terasa begitu nyaman saat aku teringat janji semasa kecilku dulu. Janji yang kulisankan dihadapan Gaara tatkala aku melakukan kesalahan yang menghapus binar kebahagiaan dari wajahnya.

Kebimbangan menghantuiku kala Sasuke menahan pundak ini agar tak berbalik. Namun satu kalimat darinya yang untuk pertama kalinya menyakitiku membuatku menguatkan diri untuk kembali pada sumber lukaku.

Paling tidak, aku bersyukur telah melakukan hal itu. Gaara melihatku. Tak menganggapku sebagai pengganti dia lagi. Dia memandangku sebagai aku…

Sebagai Naruto…

/

20 desember….

Gaara, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?

Gaara….

Seperti apakah kau memandangku kini?

Seperti apakah aku di matamu?

Seperti apakah posisiku di hatimu?

Adakah kau juga memiliki rasa yang sama denganku, Gaara?

Adakah kau memiliki cinta untukku?

Benarkah telah kau lupakan dirinya?

Gaara, hati yang kau beri untukku kini, apakah berisi cinta di dalamnya? Atau hanyalah hati yang masih kosong?

Gaara, aku mohon, tatap aku dan katakan kalau kau mencintaiku?

Akankah kau memandangku sebagai aku saja? Sebagai Naruto, dan bukan sebagai Sakura…

Kiss the rain…

Mengertikah kau akan makna lagu ini Gaara?

Mengertikah kau akan setiap baris syair dalam lagu ini?

Mengertikah kau, Gaara?

Lagu ini menggambarkan jiwaku. Lagu ini menggambarkan hatiku. Setiap tanya, setiap kebimbangan, dan semua yang kurasakan tertuang dalam lagu ini.

Gaara, aku tak meminta berbagai kata manis darimu. Yang kuminta hanyalah satu. Jawaban akan segala tanya dan kebimbangan yang merasuk ke dalam hatiku.

Gaara, tak peduli bila aku terlihat sebagai seorang pengemis di matamu…

Aku mohon, lupakan dia dan tatap aku saja. Jangan peduli padanya dan dengarkan suaraku saja. Jangan lagi Gaara, jangan lagi kau mengenang dirinya atau membagi cintamu untuknya, tapi hanya beri padaku saja. Hanya padaku saja.

Aku mohon, Gaara….

Deretan kata dalam buku itu mungkin tak tercipta dari seorang penulis puisi atau seorang penyair. Bukan pula terlahir dari seorang pembuat lagu. Barisan kata itu tulus terlahir dari jeritan hati seorang gadis yang tak sanggup menahan segala dukanya sendiri, namun tak pula menemukan seseorang yang bisa menjadi tempatnya untuk mengadu.

Barisan kata dalam buku itu tidaklah puitis dan menggunakan majas-majas indah sebagai penghias makna. Namun hanyalah berupa kata-kata biasa. Tapi itu semua sanggup membuat seorang Gaara menitikkan kembali air mata yang telah lama menghilang darinya. Air mata yang bahkan tak terjatuh kala peti mati ibundanya tertutup oleh tanah. Kala bumi memeluk ibundanya dalam keabadian. Karena seingatnya, air mata terakhir yang ia tumpahkan adalah aat ia melepaskan kepergian sang ayah di bawah naungan keabadian dalam bumi Suna.

Namun kini, air mata itu telah kembali. Kembali untuk menangisi barisan kata yang merupakan kenyataan yang disembunyikan oleh isterinya.

Tak terbayang bagaimana campur aduknya perasaan di hati pemuda beriris zamrud itu. Sedih, kecewa, bahagia, marah bercampur jadi satu. Menjadi satu kesatuan perasaan yang tak mampu tergambarkan oleh air mata, maupun sesak di dada.

Yang bisa dilakukannya kini hanyalah memeluk buku dan surat itu sebagai pelampiasan atas kerinduan akan dirinya yang entah berada di mana.

Sebuah mobil CRV silver tampak melaju perlahan di jalanan kota Suna yang tertutupi salju. Setelah hampir setengah jam mobil itu berjuang di jalanan yang cukup licin, akhirnya sampailah ia di sebuah kediaman yang tak begitu mewah, namun juga tak begitu sederhana yang terletak di sebuah bukit yang tak begitu jauh dari pusat kota.

Sesampainya di depan rumah tersebut, pintu mobil segera membuka dan menampakkan seorang wanita berusia 24 tahun dan seorang pemuda berambut coklat yang tampak lebih muda dari wanita tersebut.

Dengan langkah cepat mereka meninggalkan mobil dan segera memasuki kediaman yang memang tidak terkunci itu.

Kehangatan segera membalut mereka saat menapakkan kaki semakin jauh ke dalam rumah itu. Aroma makanan pun tercium dari arah ruang makan. Langkah kaki mereka segera saja menuju ke arah ruang makan. Dan mereka mendapati berbagai makanan yang masih hangat di atas meja, juga seorang gadis yang memiliki rambut yang mirip dengan wanita tadi tengah menata piring di atas meja dalam diam.

Gadis itu menoleh dan tersenyum, menunjukkan iris safir yang begitu indah. "Selamat datang Temari-nee, Kankuro-nii."

TBC

Buat semua yang udah review, makasih banyak ya?

jujur, tanpa review dari kalian semua aku gak akan bisa semangat untuk ngelanjutin fic ini. Sekali lagi, terima kasih untuk semua dukungan, kritik, dan saran dari kalian...

(_._)