Amari : okeh, yang ke 3 hari ini xD

mungkin besok giliran Frantic Shipping ya

Green : akhirnya dapet juga

Blue : Amari tidak memiliki Pokemon, Pokemon Special, dan para tokohnya


Cermin

Chapter 4 : OldRival Shipping

xxxxxxx

[Bagian Green]

Aku adalah Green. Gym leader kota Viridian dan runner up dari kejuaraan Kanto. Aku juga adalah rival dari Red ; sang juara Kanto ke-9.

Aku tengah beristirahat di Pulau Cinnabar yang telah tersapu oleh letusan gunung Berapi yang sangat dasyat. Yang tersisa disini adalah sebuah Pokemon Center untuk beristirahat.

"hoi, Blaine" kataku memecah keheningan di pulau ini. Seorang Pria berambut putih yang botak ditengahnya menengok kearah ku. Blaine sama sepertiku, seorang gym leader Kota Cinnabar. Kini dia tetap bertugas sebagai seorang Gym Leader di Pulau Seafoam, sebuah pulau yang penuh es, kini sudah di modifikasi sebagaI gym olehnya.

"ada apa?" Tanya Blaine. "bumi itu… tidak bisa ditebak ya" gumamku pelan. "tentu saja. Entah berapa kali kau mengatakan itu." Katanya sambil tertawa pelan. Aku menengok ke arahnya dengan tatapan bingung. "benarkah?" tanyaku. Dia mengangguk. "tentu. Kau sama seperti bumi, sama-sama tidak bisa di tebak."

xxxxxxx

"Green~"

Aku menengok kearah suara itu dan mendesah kecil. Sebuah Blastoise menggunakan surf kearah kami dengan kecepatan tinggi.

Dan tidak lain itu adalah Blue.

"bukankah itu Blue?" Tanya Blaine bingung sambil menunjuk kearah Blastoise itu. Aku mendesah pelan dan mengangguk. "kelihatannya kau tidak begitu bahagia melihatnya" lanjutnya sambil menatapku. "begitulah" gumamku.

Blue menepi di depan kami. Dia melompat dari punggung Blastoise-nya. "oh? Ada Blaine juga?" kata Blue sambil tertawa kecil. "hohoho… apa aku akan mengganggu kalian?" Tanya Blaine sambil tertawa lepas. "ahahaha~ tentu saja tidak~" jawab Blue langsung sambil tertawa lepas. "perempuan menyebalkan" gumamku pelan.

meninggalkan kami. "aku tidak akan bisa menikmati liburanku jika Blue ada di sini" gumamku sambil menatap Blaine yang pergi menjauh.

xxxxxxx

"ada apa kau kemari? Mengganggu saja" tanyaku pada Blue setengah hati. Yah… setengah hati. "aku? Hmmmm…. Mengganggumu?" kata Blue sambil meletakkan jari telunjuknya di dagu. "sial. Kalau Cuma mengganggu pergi saja!" bentakku. "tidak usah berteriak dong!" teriaknya balik. "terserah aku! Lagi pula kau Cuma bisa mengganggu saja!" bentakku lagi.

Blue terdiam sebentar. "apa itu… benar?" tanyanya pelan, lebih pelan daripada bisikan. "tentu saja!" jawabku langsung.

Air mata mulai menetes dari ujung matanya. "kalau begitu… maaf…" bisiknya sambil naik kembali ke punggung Blastoise-nya. "h-hei! T-tunggu dulu!"

"Blasty, kota Pallet kecepatan penuh!" katanya pada Blastoise-nya. Lalu mereka pergi meninggalkanku sendirian di Pulau Cinnabar.

Aku menyaksikan cipratan-cipratan air dari blastoise yang sesekali menyiprat ke wajahku. Gadis itu sudah pergi jauh, Dan aku yakin seberapa kerasnya aku memanggilnya, dia tidak akan kembali.

Rasa penyesalan tiba-tiba muncul di kepalaku. Tentu, membuat orang menangis; apalagi wanita, bukanlah hobiku. Aku benci saat para wanita menangis, begitu berisik. Tapi Blue, aku sangat tidak ingin membuatnya menangis.

'paling hanya air mata buaya' batinku.

Aku menatap bayanganku di laut. Kaget, aku mundur selangkah.

Yang kulihat bukanlah bayanganku, tapi bayangan orang lain.

xxxxx

Dengan panik, aku mengambil pokegear milikku. Aku mencari nomor Blue. 'cepat… cepat…' pikirku panik. Akhirnya kutemukan kontaknya dan segera meneleponnya.

"halo? Blue berbicara"kata Blue di ujung sana.

"hai, Bue, kita perlu bicara sebentar" kataku berpura-pura tenang.

"mmm…. Baiklah. Bicaralah"

"bisakah kita bertemu?" tanyaku.

"oke. Dimana?" tanyanya balik.

"mmm…. Di pinggir Hutan Viridian. Bisa?"

"baiklah, kebetulan aku ada urusan dengan Yellow disana. Sampai jumpa" katanya sebelum menutup telepon. "baiklah…" gumamku sambil memasukkan pokegear-ku ke kantungku.

xxxxxx

Aku berjalan menuju hutan Viridian. Mataku tetap berkeliling mencari gadis itu.

Oh… itu dia. Sedang berbicara dengan Yellow.

"hai, Blue" melihat ke arahku sebentar, lalu melihat kembali kea rah Yellow dan berkata, "aku harus pergi. Green menungguku"."baiklah, daaah…" kata Yellow sambil meninggalkan Blue.

Blue berlari kecil kearahku. "hai~" sapanya riang. "apa aku lama?" tanyaku. DIa menggeleng. "untung saja tadi ada Yellow, jadinya tidak terasa lama" katanya sambil tertawa kecil. "ooh…" gumamku.

"ngomong-ngomong, apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Blue mengalihkan pembicaraan. "aku hanya ingin minta maaf sudah membuatmu…"

"menangis?" tebaknya memotong kata-kataku. "aku benci mengakuinya, tapi… iya" gumamku kesal.

"aha~ kau menghawatirkanku!" serunya bersemangat. "apa? Ti-tidak!" bantahku. "kau mengatakannya barusan~ akuilah~" godanya. "terserah!" gumamku kesal.

Dia tiba-tiba memelukku. Wajahku terasa merah padam. "aku senang kau memperhatikan ku" bisiknya. Aku tersenyum kecil dan balik memeluknya. "tentu saja aku peduli padamu, perempuan berisik" balasku sambil menahan tawa. "terima kasih…" bisiknya.

Aku tersenyum pelan dan mengelus kepalanya. "tidak…. Terima kasih, Blue…" bisikku.


Amari : Bagi yang berminat, silahkan ripiu