Disclaimer : Masashi Kishimoto (bener ga tulisannya, ya?)

Warning :AU, gaje, OOC, aneh…

Halo! Luna author baru di fandom ini! Sebenernya pengen dari dulu ke sini, tapi sayang, gak ada ide!

Ya udah deh, selamat baca ya! Luna harap para readers suka!

Chapter 1 : Sakura

Laki-laki itu berjalan terseok-seok karena tebalnya salju yang menghampar di sekelilingnya. Ada suatu alasan yang membuatnya berjalan keluar dan memeluk dinginnya udara, bukannya berada di dalam rumah dan duduk didekat perapian.

Kira-kira satu jam yang lalu, dia mendengar suara keras yang mirip ledakan. Saat dia memandang ke luar jendela, ada asap mengepul seperti baru saja ada meteor yang terjatuh. Entah rasa penasaran apa yang membawanya untuk keluar dan sejenak melihat 'benda' yang terjatuh itu.

Laki-laki berambut raven itu terkesima. Mata onyx-nya membulat saking terkejutnya dia. Di depannya kini, terlihat seorang gadis cantik berambut merah muda yang tertidur pulas. Entah apakah dia masih hidup atau tidak.

Laki-laki itu menjulurkan tangannya, hendak memeriksa denyut nadi gadis itu.

Masih ada, batinnya. Syukurlah dia masih hidup.

Laki-laki itu tersenyum lega sambil mengagumi kecantikan yang terpancar dari gadis yang tengah tertidur itu.

mmmoooonnn

Gadis berambut merah muda itu menggeliat dalam tidurnya. Lapar dan mengantuk, dua hal yang bertentangan bergejolak. Tiba-tiba saja denyut aneh menghentak kepalanya. Terasa nyeri atau mungkin panas.

Dia memegang dahinya seraya membuka matanya pelan-pelan. Cahaya menyilaukan matanya, tapi entah kenapa dia tidak berniat untuk menutup matanya, dia ingin melihat semuanya. Layaknya gadis buta yang dapat melihat, dia mengedarkan pandangan ke segala arah dengan takjub.

Tiba-tiba dia tersadar. Semua rasa kantuk, lapar dan nyeri di kepalanya seketika memudar. Ada beribu pertanyaan berkecamuk di benaknya. Tapi ada satu pertanyaan yang menggema paling keras dan paling sering terdengar.

Siapakah sebenarnya dia?

"Siapa… aku?" gumamnya dengan wajah terkejut.

Tidak ada satu ingatan pun yang tertinggal dalam otaknya. Seperti kertas putih yang belum ternoda. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya putih…

Gadis itu memegang kepalanya erat, berharap ada satu ingatan yang keluar. Satu saja…

'Cklek!'

Gadis itu tertegun. Ada seseorang yang masuk.

Matanya melebar mendapati seorang laki-laki mendekat ke arahnya, "Kau sudah sadar?"

Gadis itu tidak menjawab, dia hanya memandanginya lekat-lekat.

Laki-laki itu mendengus seraya duduk di dekat ranjang, "Kau bisu?"

Gadis itu menggeleng.

"Siapa namamu?"

Gadis itu terdiam.

"Namaku Sasuke. Sasuke Uchiha. Aku menemukanmu pingsan di tengah hamparan salju."

"Aku… tidak ingat…"

"Hah? Apa maksudmu?" tanya Sasuke.

Gadis itu menggigit bibirnya lalu mendesah, "Aku tidak ingat apa-apa…"

"Begitu?" Sasuke terdiam. "Mungkin kau mengalami amnesia. Jangan khawatir," Sasuke membelai kepala gadis itu sekilas. "Makanlah. Kau pasti sudah kelaparan."

Gadis itu tersenyum, "Terima kasih…"

"Hn…"

mmmoooonnn

Gadis itu diberi nama Sakura, karena warna rambutnya yang senada dengan bunga Sakura.

Hubungan Sasuke dan Sakura semakin dekat. Bagi Sasuke, Sakura membuat hidupnya yang sepi mulai sedikit terisi, hal itu disebabkan karena Sasuke adalah seorang pengelana. Dia selalu berpindah tempat, dari satu desa ke desa lain. Dan bagi Sakura, Sasuke adalah satu-satunya pegangannya saat ini. Hanya Sasuke yang dimiliki Sakura.

"Aku jadi ingin melihat bunga Sakura," kata Sakura.

Sasuke yang sedang berdiri di sampingnya hanya menoleh sekilas lalu melanjutkan kegiatannya, menuang teh.

"Sasuke, di mana aku bisa melihat bunga Sakura?"

Sasuke mendekat dan menyodorkan tehnya ke Sakura, "Entahlah. Kita harus menunggu musim semi dulu."

Sasuke lalu duduk dan mengambil sebuah buku bacaan. Hampir setiap hari dia menjenguk Sakura di rumah sakit, jadi dia membawa banyak perlengkapan untuk mengusir kebosanannya. Sebenarnya, sampai saat ini dia tidak mengerti mengapa dia mau bersusah payah menolong gadis itu. Bahkan sampai memberinya nama.

Mereka berdua terdiam beberapa saat.

"Sasuke," panggil Sakura, Sasuke tidak bergeming dari kegiatannya membaca buku. "Mengapa kau percaya?"

"Hn?"
"Mengapa kau percaya saat aku bilang kalau aku tidak ingat siapa diriku sebenarnya?"

"Apa ada alasan untuk aku tidak percaya?"

"Tapi kan, tidak ada alasan juga untukmu percaya?" jawab Sakura.

Sasuke terdiam sementara Sakura menunggu jawabannya.

"Aku akan pergi dari desa ini tiga hari lagi."

Sakura tersentak. Tiga hari lagi, Sasuke akan pergi? Pergi meninggalkan dia?

Kerongkongan Sakura terasa tercekat, "Kenapa? Kenapa harus pergi?"

"Urusanku di sini sudah selesai," jawab Sasuke datar.

Sakura menunduk, matanya mulai berair. Dia menggigit bibirnya. Bodoh. Kata-kata itu terngiang di kepalanya. Mengapa dia malah sedih? Lagipula, Sasuke tidak mempunyai kewajiban untuk terus berada di sampingnya kan? Suatu saat dia pasti akan pergi, karena dia hanya orang baik hati yang menolong gadis yang hilang ingatan. Dia tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Sama sekali tidak ada. Tapi, entah kenapa dada Sakura terasa sesak. Memikirkan bagaimana nantinya dia akan menjalani hidup tanpa Sasuke dan ingatannya, dia akan sendirian dan kesepian, tanpa adanya ingatan yang bisa menyokongnya untuk menjalani hari-harinya.

Sakura memegangi dadanya. Sasuke akan pergi… dia akan pergi…

"Kau harus bisa sembuh dalam waktu tiga hari jika kau ingin ikut bersamaku," kata Sasuke.

Sakura mendongakkan kepalanya ke arah Sasuke. Matanya melebar dan senyumnya melebar, "Bolehkah? Bolehkah aku ikut bersamamu?"

"Asal kau tidak merepotkanku…" jawab Sasuke.

Sakura lalu turun dari ranjangnya dan menghampiri Sasuke dan langsung memeluknya.

"Hei! Apa-apaan kau?" Sasuke benar-benar terkejut atas ulah Sakura. Dia tidak menyangka gadis itu akan memeluknya!

"Terima kasih Sasuke! Aku janji aku tidak akan merepotkanmu!"

"Kalau begitu, mulailah dengan melepas pelukannmu!"

Sakura melepas pelukannya sambil tetap tersenyum, "Apa kita bisa melihat bunga Sakura nanti?"

"Hn."

"Ini pasti akan menyenangkan Sasuke!" seru Sakura. Entah pergi ke mana perasaan sedihnya tadi.

"Hn."

Sasuke lalu keluar dari kamar Sakura. Meninggalkan gadis itu yang masih sibuk membayangkan apa yang akan mereka lakukan nantinya.

mmmoooonnn

Sasuke menatap turunnya salju melalui jendela kamarnya. Dia benar-benar tidak habis pikir, mengapa dia malah mengajak Sakura ikut dalam perjalanannya. Dia adalah seorang penyendiri, itu artinya dia sudah terbiasa melakukan perjalanan seorang diri. Tapi entah kenapa dia merasa kalau dia tidak bisa membiarkan gadis itu sendirian. Apa yang akan terjadi padanya jika Sasuke meninggalkannya? Dia akan sendirian. Tanpa ingatan dan tanpa tujuan serta perlindungan.

Sasuke menggelengkan kepalanya. Mengapa dia begitu perhatiannya pada gadis yang baru ditemuinya ini? Dan kenapa dia…

Sasuke mendekat ke sebuah lemari dan membuka salah satu lacinya.

Kini di genggamannya terdapat sebuah cincin. Ya… sebuah cincin yang dia temukan berada di jari manis tangan kiri Sakura. Sebuah cincin yang bertuliskan sebuah nama. Naruto…

T*B*C

a/n:

Luna gak tahu apa ini bagus atau gak… kalau responnya bagus… Luna bakal lanjutin, kalo enggak, yasud…

Untuk para senpai, Luna author baru nhe… mohon bimbingannya!

Luna mohon review-nya, ya….