Assalamualaikum! Konniciwa minna-san! ^o^/

Sebelum masuk kecerita, Sun minta waktu sebentar buat ngebales riview dulu yach. Buat yang gak mau baca silahkan langsung kecerita, :D

Akira Tsukiyomi

Iya Narumi kemaren Nangisnya cuma karena kelilipan, hehe...

Narumi: "Perih tau!" *lemparin abu ke ke akira*

Wkakakak.. gak lah, emangnya Sasuke itu pein yang mau perkosa Narumi. Lagian Sun gak bakal nyerahin tubuh Narumi yang bohay itu sama si teme pantat ayam, *dichidori*

Vipris

Maaf ya, untuk fic-fic sun gak bisa upadate kilat. Maklum, (sok) sibuk, xp

Fujoshi-chan

Hiee? Ini bukan SasuNaru, tapi SasuFemnaru. =,='

zazaive

Adegan sasufemnarunya insyaallah ada di chapter 7 nanti. Pokoknya hot dah, fufufu.. *dirasengan*

Dallet no Hebi

Sun bukan cewe! Jangan rape sun! *kabur dari dall*

Nanti di chapter 7 insyaallah ada sedikit adegan (kayak) yaoi dengan pair yang gak disangka, fufufu..

Naru dan sasu: "Semoga bukan gue," *berdoa*

Ren-Mi3 Novanta\

Entah kenapa di chapter kemaren Sun milih Inari jadi temen bokepnya Konohamaru, =,='. Soalnya kalo temen setim Konohamaru yang namanya udon itu kayaknya gak mesum, orang ingusan begitu, xp

Makasih ya ren dah riview. ^^

Naru3

Ada yang janggal? Apa nya? O.o'a *gak ngarti*

Zorouttechi

We? Gak nyangka ada yang suka sama karakter IC Akatsuki, haha..

Pein: "Jelas aja, ketuanya kan gue."

Sun : *sweatdrop*

L-The-Mysterious

Udah bosen sama typo, gak bisa diberantas, =.=, xp

Ritsu-ken

Hahaha.. sampe lupa cerita ini karena kelamaan updet ya ritsu, gomen dah.

Oke! Udah lanjut nih, makasih ya dah riview. ^^

Sakura Kyouko Puella Magi

Maaf-maaf, salah ketik, *bungkuk-bungkuk*

Sun gak mau bikin rate M, atau adegan-adegan kissu-kissuan, takut anak orang jadi mesum gara-gara Sun, gak mau ah. Cukup mesum untuk diri sendiri aja, *plak*

Rurippe no kimi

Tenang aja rippe, Sun juga gak mau ngasih Narumi untuk Sasuke, whahaha... *ketawa laknat*

Anata kiyoshi

Alesan geblek? *pundung* Abis sun gak tau alesan lain yang bisa bikin orang nangis tanpa disakiti orang lain selain kelilipan. =3=

Yusei Uzumaki Fudo

Iya. Dichapter ini sun akan buat Sasuke malu, whahaha... *dibantai Sasuke FG*

Ini udah update, riview lagi ya.

Mugiwara 'Yuki' UzumakiSakura

Izin fave diterima. Makasih ya, ^^

Putri luna

Wai! Sun disini! -?-

Kayaknya Sai mulai bergerak untuk ngedeketin Narumi di chapter 7 nanti. Slow aja, playboy mah gak butuh waktu lama buat nggaet cewe. Bukan begitu sai?

Sai: Ya seperti itulah. *senyum maut ke luna*

Luna : *kelepek-kelepek*

Haru no yuuchan999

Sun paling seneng saat melihat Sasuke menderita, hahaha.. *dibantai Sasuke FG (lagi)*

Ok, disini sun kasih adegan ItaSasu buat kamu, tapi dalam flashback aja ya.

Riview lagi yuu-chan! ^^

Sekian balesan rivew dari sun mohon maaf kalo gaje, ada kata-kata yang kurang berkenan, dan kesalahan dalam penulisan nama.

Chapter sebelumnya:

"NARUMI! AKU SUKA PADAMU!" teriak Sasuke dengan keras. Untung saja keadaan rumahnya sedang sepi, jika tidak mungkin Sasuke akan dianggap sudah gila. Gila akan cinta, XD

"Hah.. Hah.. Hah.." Sasuke tampak terengah-engah setelah mengatakannya. Baginya ini lebih melelahkan daripada lari keliling lapangan sekolah. "Akhirnya... aku berhasil mengatakannya," ucapnya dengan perasaan senang. "Narumi, bagaimana denganmu? Apa kau juga suka denganku?" tanyanya penuh harap, tapi tidak ada satu patah pun terdengar dari mulut Narumi. Kemudian dia melihat hapenya.

"Halo Sasuke! Apa yang barusan kau bilang! Su apa?" teriak Narumi yang tidak mendengar perkataan Sasuke tadi. Dia pun melihat hapenya dan, "Sial, low bate!"

"Ternyata sudah putus," gumam Sasuke. "Hah, sepertinya dia tidak mendengar ucapan terakhirku." Ucapnya pundung. "Tapi biarlah, yang penting sekarang perasaan ku sudah jauh lebih tenang. Lain kali pasti berhasil." Kini tampak wajahnya kembali tersenyum.

Diapun kemnali meneruskan istirahatnya yang tadi sempat tertunda karena telpon dari Naruto. "Terima kasih Narumi. terima kasih Na-Na-" Ucapnya tertahan, kemudian menutupi wajahnya dengan selimut. "Naruto."

Title : Diriku yang satunya

Author : Sun Setsuna

Disclimer : Masashi Kishimoto sensei

Rate : T

Namikaze Narumi by Sun Setsuna.

Warning :Typo(s), AU, sedikit OOC

Genre: Romance, Humor, Friendship, Family

Summary: Namikaze Naruto, Seorang siswa SMA biasa yang dikutuk akan berubah menjadi perempuan jika dahinya terbentur. Bagaimanakah dia menjalani kehidupan barunya? Bisakah dia menyimpan rahasia tersebut?

Chapter 5: Keluarga

Pagi hari di SMA Konoha.

Tampak seorang pemuda berambut raven sedang berjalan dikoridor SMA konoha. Dengan wajah yang masih sedikit agak pucat, dia memutuskan untuk tetap pergi kesekolah karena dia tidak mau ketinggalan pelajaran terlalu lama.

Cklek

Baru ia membuka pintu ruang tersebut, suasana kelas yang tadinya tenang kini langsung berubah menjadi berisik.

"Kyaa! Sasuke-kun!"

"Sasuke-kun sudah sembuh!"

"Sasuke! Aku rindu padamu!"

"I love you Sasuke!"

Jerit para fans girlnya dan langsung berlarian menyerbu Sasuke. Sasuke yang tidak mau menjadi korban 'keganasan' jari-jemari lentik mereka langsung menutup pintu tersebut dan keluar lagi dari kelas. =.='

'Me-mengerikan,' batinnya bergedik ngeri.

Setelah mendapatkan 'bantuan' dari teman-temannya, akhirnya Sasukepun dapat duduk di kursinya dengan selamat.

"Apa kau benar sudah sembuh, Sasuke?" tanya neji meperhatikan Sasuke yang sedang menggerak-gerakkan bahunya.

"Hn," Jawab Sasuke singkat sambil meletakkan tasnya diatas meja.

"Kalau tau kau akan sembuh secepat ini, aku kan tidak perlu repot-repot menjengukmu kemarin, hoam.." ucap Shikamaru dengan raut muka yang selalu mengantuk dan hanya mendapatkan helaan napas dari Sasuke.

"Selamat pagi anak-anak!" sapa seorang guru yang baru saja memasuki kelas mereka.

"Pagi bu!" balas mereka serentak.

Jam pelajaran pertama mereka hari ini adalah kesenian. Pelajaran yang paling tidak disukai para murid, khususnya Naruto. Tapi itu dulu, sekarang pelajaran kesenian berubah menjadi salah satu pelajaran yang paling digemari mereka, khusnya oleh para pria.

Mau tau kenapa? Hal ini bukan karena pelajarannya yang menjadi semakin mudah, tapi karena guru kesenian mereka yang lama, yang super duper membosankan, guru Ebisu, telah digantikan oleh seorang guru baru. Seorang wanita muda energik dan cukup cantik, Mitarashi Anko.

Guru muda yang selalu terlihat ceria dan cukup centil ini bisa membuat pelajaran yang tadinya membosankan menjadi menarik. Belum lagi pakaian seksi yang sering dikenakannya. Disaat mengajar dia biasanya hanya mengenakan celana jeans mini, dan jaket yang yang tidak ditutup, sehingga membuat kaos dalam transparannya terlihat sangat menggoda dan membuart para murid pria betah berlama-lama duduk dikelas, khususnya Naruto. Ow ow ow..

Menurut gosip yang beredar, ada yang mengatakan klo bu guru Anko ini sedang menjadi hubungan khusus dengan seseorang d SMA konoha ini. Mau tau siapa? Setelah yang satu ini, *dilempar panci*

"Nah anak-anak, untuk nilai ujian praktek tahun ini, ibu akan meminta kalian membuat atau menampilkan sesuatu yang berhubungan dengan seni!" Ucap Anko dengan semangat.

"Tema seninya seperti apa bu?" tanya Naruto sambil mengangkat tangannya.

"Temanya bebas. Kalian boleh memilih tema apa saja yang kalian sukai," jawab Anko sambil menunjukan cegiran khasnya.

"Tema bebas itu seperti apa bu?" Tanya Lee dengan semangat membara.

"Seni itu bermacam-macam. Ada seni musik, gambar, puisi, drama, pertunjukan, dan lain-lain. Kalian bisa memilih salah satunya. Ada lagi yang mau bertanya?"

"Mengerjakannya sendiri-sendiri atau berkelompok bu?" kali ini giliran Sakura yang bertanya.

"Kalian mengerjakannya sendiri-sendiri. Ibu tunggu seni kalian hari senin besok, itu berarti kalian punya waktu dua hari untuk mempersiapkannya. Baiklah, sekarang kita mulai pelajaran untuk hari ini."

-Time Skip-

Keesokan harinya.

Naruto yang gak tau harus menampilkan seni apa, mencoba mencari tahu dengan mendatangi rumah ketiga orang temannya untuk melihat hal apa saja yang sudah dipersiapkan oleh teman-temannya tersebut.

Dengan menggunakan motor Satria FU miliknya, dia langsung menuju rumah Gaara yang tidak jauh dari rumahnya.

.

.

.

.

"Permisi! Gaara!" teriak Naruto didepan rumah Gaara.

"Iya sebentar," jawab seseorang dari dalam.

Tidak lama kemudian, seorang wanita cantik dengan empat buah kuncir yang mengikat rambut pirangnya datang untuk membukakan pintu untuk Naruto.

"Pagi kak Temari. Gaara nya ada?" tanya Naruto Sabaku no Temari, kakaknya Gaara dan juga wali kelasnya Konohamaru di SMP Konoha.

"Wah, Gaara nya sedang tidak dirumah tuh, dari pagi-pagi sekali dia sudah pergi."

"Pergi kemana ya kak?"

"Kakak juga tidak tahu. Saat kakak tanya mau kemana dia hanya bilang ada urusan dengan seseorang. Begitu katanya."

'Hem.. Kira-kira Gaara pergi kemana ya?' batin Naruto bertanya kemana sahabatnya tersebut pergi. Karena tidak menemukan orang yang dicarinya, Naruto memutuskan untuk ke tempat Lee. "Terima kasih kak, klo begitu aku pamit dulu."

"Tidak masuk dulu?"

"Tidak usah kak, terima kasih!"

"Hati-hati di jalan ya!"

"Ya!" lambainya dan melanjutkan perjalanan kerumah temannya yang lain, Lee.

.

.

"Permisi! Lee! Kau ada dirumah tidak?" Teriak Naruto di depan rumah Lee.

"Iya! Tunggu sebentar!" terdengar suara seorang pria dari dalam.

Dengan suara langkah yang terburu-buru dia datang menghampiri pintu.

Gubrak! Prang! Jduak! Bruak!

Sepertinya orang tersebut menyenggol sesuatu sampai terjatuh berkali-kali. Tidak lama kemudian muncullah seekor, maksudnya seorang pria berbadan besar dengan alis tebal dan potongan rambut jadul yang persis sama dengan Lee.

"Haha... Ternyata kau Naruto. Ada perlu apa ya?" tanya pria tersebut sambil memegangi kepalanya yang tampak memar.

"Lee nya ada paman Guy?" tanya Naruto pada Maito Guy, ayahnya Lee.

"Lee ya? Dari pagi dia sudah latihan di gym milik kami." Jawab Guy bangga.

Maito Guy ini adalah seorang pemilik gym terbesar di Konoha. Hampir semua alat-alat kebugaran ada disana. Lee sering menghabiskan waktu disana, tapi entah kenapa badannya tetap aja terlihat 'ramping'. Apa jangan-jangan Lee itu... Cacingan?

"Ayo Naruto! Kita segera menyusul Lee, Paman juga mau kesana. Kita kobarkan semangat masa muda kita yang masih membara! Kita kobarkan semangat berolahraga! Hidup jiwa muda!" teriak Guy dengan semangat memabara sampai-sampai udara di sekitar Naruto terasa panas, dan membuatnya terbakar, hangus, dan menjadi debu. Tapi boong, *plak*

'Kalau aku ikut berolahraga bersama mereka bisa-bisa aku tidak akan pulang sampai malam nanti.' Pikir Naruto waspada. "Maaf ya paman Guy, aku masih ad urusan. Sampai jumpa," ucap pemuda pirang ersebut dan langsung meninggalkan Guy begitu saja.

"Hey Naruto! Tunggu Naruto! Kau mau kemana? Kau tidak perlu bayar kok!" teriak Guy mencoba untuk memanggil Naruto, tapi itu percuma saja karena bukan uang yang menjadi alasan Naruto meninggalkannya.

Naruto pun melanjutkan perjalanannya kerumah temannya yang terakhir, Kiba.

.

.

.

"Oi Kiba! Kau ada didalam tidak!" teriak Naruto didepan rumahnya Kiba. Dari tadi ni orang teriak-teriak didepan rumah orang terus. Dimarahi sama yang punya rumah baru tahu rasa.

"Berisik!" balas teriakan dari dalam. Tuh kan bener. "Oh. Naruto rupanya," ucap seorang wanita dengan rambut yang berantakan seperti Kiba namun lebih panjang, ibunya Kiba.

"Ma-Maaf tante, hehee... Apa Kiba ada di dalam?" tanya Naruto cenger-cengir gaje.

"Iya, ada," jawab ibunya Kiba.

Begitu tahu kalo Kiba ada di dalam, Naruto langsung melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam, tapi langsung dicegah oleh ibunya Kiba.

"Eh? Ada apa tante?" tanya Naruto heran, biasanya kan ibunya Kiba langsung menyuruhnya naik kekamar Kiba.

"Tadi Kiba pesan ke tante kalau hari ini dia sedang tidak mau diganggu, dan tidak ada yang boleh masuk kekamarnya,"

"He? Tumben sekali? Emang dia sedang apa tante?" tanya Naruto penasaran.

"Tante juga tidak tahu dia sedang apa, tapi dari tadi terdengar suar berisik dari kamarnya dan Kiba terus berteriak "Ayo kita lakukan lagi!" begitu yang tante dengar."

Naruto yang pikirannya mesum mulai berpikir macam-macam tentang apa yang sedang dilakukan oleh temannya tersebut, "Jangan-jangan Kiba sedang melakukan 'itu'," pikirnya.

"Katanya sih dia sedang mempersiapkan diri untuk ujian kesenian dengan akamaru," tambah ibunya Kiba.

"Oh, hehehe. Aku kira dia sedang apa, he he he.." ucap Naruto sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang kutuan.

"He? Emangnya apa yang kau tadi pikirkan, Naruto?"

"Kalau begitu aku pamit dulu tante, sampai jumpa!" ucapnya tanpa menjawab pertanyaan dari ibunya Kiba tadi.

"Apa yang dipikirkan anak itu ya?"

-Sun Setsuna-

Tok tok tok

Terdengar suara ketukan di depan pintu kamar seseorang.

"Siapa ya~, hm?" tanya seseorang dari dalam kamar tersebut, suaranya terdengar err- kemayu.

"Ini aku, Ino. Apa aku boleh masuk?" tanyanya ragu.

"Tentu saja, Ino-chan~." Jawab si pemilik kamar sambil membukakan pintu, dan tampaklah seorang pemuda berambut kuncir kuda dengan warna kuning yang sama dengan Ino. "Ada apa cantik?" tanya nya sambil menggoda adik kesayangannya tersebut.

"Jangan panggil aku seperti itu, malu tauk," tanggap Ino tidak suka. Walaupun Ino cantik, dan suka jika dipuji seperti itu, tapi dia kurang suka kalo yang mengatakannya itu kakaknya. Seolah-olah dia merasa diperlakukan kayak anak kecil. "Um.. Kak Deidara, aku butuh bantuan mu untuk tugas kesenian. Apa kau bisa membantuku?" tanyanya penuh harap.

"Ah~ seni~. Aku suka sekali mendengar kata itu, hm~," ucap Deidara dengan penuh perasaan dan langsung bikin Ino langsung mual.

'Hoek, Mulai lagi deh,' batin Ino sweatdrop.

Deidara ini adalah kakak Ino satu-satunya. Dibalik nada bicaranya yang terkesan kemayu, dia adalah seorang maniak bom yang bahkan dijuluki oleh teman-temannya sebagai 'Terorist bomber' karena kegilaannya yang menganggap ledakan itu adalah sebuah seni. Dia menyimpan sebuah hasrat terpendam dengan menganggap ledakan sebagai sebuah seni yang indah. Bahkan dia sengaja mengambil jurusan kimia agar bisa melakukan percobaan-percobaan yang berhubungan dengan ledakan. Gila kan?

Pernah suatu ketika dia melakukan percobaan dikamarnya dan berakhir dengan sebuah ledakan yang menghancurkan kamarnya sendiri. Untungnya tidak ada korban. Gara-gara kejadian tersebut, Inoichi, selaku ayah yang baik, tidak sombong, gemar menabung, dan bukan koruptor apalagi berpikiran kotor, kini membuatkan kamar baru untuk Deidara, terpisah dari rumah utama. Katanya sih supaya Deidara dapat lebih mengembangkan bakatnya. Padahal alasan sebenarnya adalah supaya tidak ada berita yang nantinya akan memberitakan bahwa seorang pejabat tewas di tangan anaknya sendiri, mau diletakkan dimana arwahnya -?- nanti.

Walaupun terkesan 'gila', Deidara ini sangat sayang pada Ino. Pernah Ino di goda oleh empat orang teman satu sekolahnya sewaktu dia pulang sekolah. Dan keesokan harinya, keempatnya tidak masuk sekolah karena mendapatkan kan paket 'khusus' dari orang yang gak dikenal. Udah tau kan isi dan siapa pelakuknya. fufufufu..

"Seni adalah sesuatu yang indah, dan lenyap dalam sekejap, hm," ucap Deidara pada Ino, kali ini dengan tatapan tajam seperti seorang lelaki, *Dor*

"I-iya," jawab Ino dengan wajah agak ngeri dengan perubahan sikap kakaknya ini.

"Akan kutunjukannya seni terbaiku, hm," tambah Deidara dengan mantap.

-Sun Setsuna-

Di depan pintu sebuah rumah yang tampak sederhana, terlihat seorang pemuda berambut merah sedang berdiri. Dia sudah berdiam di depan pintu tersebut selama lebih kurang 15 menit. Di wajahnya menampakkan sebuah raut keraguan.

"Permisi!" ucap pemuda tersebut, Gaara, yang sepertinya sudah mengambil keputusan.

"Masuk," jawab si pemilik rumah tersebut datar.

Setelah mendapatkan izin dari si pemilik rumah, Gaara pun memasuki rumah tersebut. Dilihatnya kearah sebuah lemari kaca berukuran besar yang didalamnya terdapat bermacam-macam ukiran kayu dengan bentuk beraneka ragam yang sangat bagus dan tertata dengan rapi. Ada juga yang berupa topeng yang dipajang didinding. "Dia masih seperti dulu," gumam Gaara.

Setelah melewati ruangan tersebut, Gaara pun menemukan orang yang dicarinya.

"Kak," sapa nya ragu-ragu.

Seorang pemuda dengan warna rambut yang sama dengannya yang saat ini sedang duduk serius sambil membuat ukiran kayu tampak menoleh ke arahnya, Sasori.

"Kau rupanya." Balas Sasori sambil melirik sekilas kearah Gaara, memberikan tatapan bosannya pada Gaara, kemudian melanjutkan pekerjaannya tadi. "Mau apa kau?" tanyanya dingin.

"Aku ingin menyelesaikan perselisihan kita." Ucap Gaara datar.

Sasori mulai bangun dari duduknya dan,

Slash!

Dia langsung melemparkan pisau kecil yang sedang dipegangnya dan sedikit menyentuh wajah Gaara dan meninggalkan goresan di wajahnya yang nyaris tanpa ekspresi itu.

"Kau pikir kau itu siapa, Hah! Berani benar kau berkata seperti itu padaku! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" bentak Sasori dengan ekspresi berbeda dari sebelumnya, menjadi tampak seperti seorang maniak pembunuh. Dengan cepat dia langsung melayangkan pukulannya ke arah Gaara, tapi Gaara sudah menduga akan hal itu dan berhasil menahan pukulan kakaknya itu.

"Kenapa kau masih saja seperti ini kak?" tanya Gaara sambil tetap menahan sambutan 'hangat' Sasori.

"Itu karena... KAU TELAH MENGAMBIL IBU DARIKU!" teriaknya menyerang Gaara dengan tangan kirinya dan berhasil mengenai wajah Gaara hingga dia terjatuh.

"Cuih." Gaara langsung mengelap darah segar yang mengalir dari bibirnya yang terkena pukulan Sasori.

Flasback

Gaara dan Sasori sebenarnya adalah saudara kandung. 13 tahun yang lalu, waktu Gaara masih berusia 5 tahun dan Sasori berumur 10 tahun, orang tua mereka bercerai. Pengadilan saat itu memutuskan bahwa hak asuh Sasori jatuh ketangan ayahnya, sedangkan Gaara yang masih kecil ikut dengan ibunya.

Satu tahun setelahnya, Sasori mendapatkan ibu baru setelah Ayahnya menikah lagi dengan seorang gadis muda. Sementara itu, Karura tetap bertahan merawat Gaara seorang diri, sampai akhirnya tiga tahun kemudian kesulitan ekonomi memaksanya untuk menikah lagi, dengan seorang duda yang sudah memiliki dua orang anak, Kankuro dan Temari.

Berbeda dengan Ayah baru Gaara yang cukup memberikan kasih sayang kepadanya, ibu baru Sasori hanya menyayangi ayahnya saja. Ibarat lagu, "Ibu tiri hanya cinta kepada ayahku saja." Sejak saat itu, hari-hari kelam Sasoripun dimulai.

Tidak hanya kekurangan kasih sayang dari ayahnya, ibu tirinya juga sering memperlakukannya dengan kasar. Dia juga sering mendapatkan pukulan atau disuruh melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah secara berlebihan untuk anak seumurannya, tentunya tanpa sepengetahuan ayahnya.

Dua tahun kemudian, ayah Sasori meninggal dunia karena kecelakaan. Setelah kejadian tersebut, perlakuan ibu tirinya menjadi semakin kejam dan membuat Sasori memutuskan untuk kabur dari rumah, dan bergabung dengan Akatsuki. Dalam hati, Sasori terus menyalahkan Gaara karena ibunya lebih memilih dia daripada dirinya dan membuatnya kehilangan kasih sayang, khususnya kasih sayang seorang ibu.

Flasback end

Sasori yang masih emosi kembali menyerang Gaara, tapi kali ini Gaara berhasil menghindar dan balas menendang perut Sasori hingga dia terpental.

"Ugh!" rintih Sasori sambil memgangi perutnya.

"Itu bukan kesalahanku! Seharusnya aku yang membencimu!" teriak Gaara.

"Membenciku? Apa alasanmu, hah!"

Flashback

Sore hari disebuah taman di konoha, tampak anak-anak kecil sedang asik bermain kejar-kejaran, ayun-ayunan, dan permainan-permainan lainnya. kebanyakan diantara mereka datang dengan didampingi oleh orangtuanya.

"Boleh aku ikut main?" tanya Gaara kecil (5th) yang baru datang, seorang diri ke taman tersebut pada anak seumurannya yang sedang asik bermain pasir.

"Bo-" belum sempat anak tersebut meneruskan kalimatnya, ibunya sudah menarik tangannya dan pergi menjauhi Gaara.

"Kau jangan main dengannya," ucap ibu anak tersebut pada anaknya dan membawanya menjauhi Gaara.

"Kenapa?" tanya anak itu.

"Sudah, kau nurut saja sama ibu,"

"Iya bu," jawab anak tersebut sambil menoleh ke belakang.

Gaara berpikir mungkin dia harus membawa sebuah mainan agar lebih menarik dan dapat dimainkan oleh anak-anak yang lainnya. Dia pun pulang kerumah dan kembali lagi sambil membawa sebuah bola plastik berwarna biru muda. Diapun mencoba mendekati anak-anak lainnya, "Kau mau main denganku?" tanya Gaara dan menunjukan bolanya sambil tersenyum.

"Main bola ya? Aku ma-"

"Jangan main dengannya, dia itu anak nakal." Sama seperti anak sebelumnya, anak tersebut juga langsung dibawa pergi oleh ibunya sebelum sempat menjawab. Tapi Gaara tidak putus asa dan menghampiri anak lainnya.

"Mau main de-"

"Pergi kau dari anak ku!" bentak seorang ibu sambil mendorong tubuh mungil Gaara hingga dia terjatuh sebelum Gaara sempat menyelesaikan kata-katanya. "Dasar anak broken home," hardik ibu tersebut dan pergi membawa anaknya pergi dari taman. Ibu-ibu yang lainpun juga ikut mengajak anak mereka pulang.

"Hiks.. hiks.. Apa salahku? Kenapa tidak ada yang mau bermain denganku? Broken home itu apa? Hiks.. hiks.. " tanya Gaara seorang diri sambil terus menangis. Tanpa ia ketahui, kalimat tersebut telah melukai hatinya dan membuatnya tidak mempunyai teman.

Flasback end

Bulir-bulir air mata mulai menetes dari Gaara. Perasaannya merasa begitu sakit saat mengenang hari-hari dimana hanya kesepian yang menemaninya. Saat yang sangat begitu berat bagi anak seusianya.

"Aku benar-benar kesepian kak, hiks.." ucap Gaara sambil menahan tangis.

"Benarkah itu, Gaara?" tanya Sasori tampak iba.

"Saat itu... Aku berharap kau ada bersamaku. Aku ingin ada seseorang yang bisa menghiburku, dan aku ingin kita dapat bermain bersamamu lagi, seperti biasanya, hiks.."

'Aku pikir Cuma aku saja yang menderita,' batin Sasori yang ikut merasakan kesedihan adiknya itu."

"Aku hanya ingin kita bisa bersama lagi kak, seperti dulu, hiks.." pinta Gaara pada kakak kandungnya tersebut.

"Aku mengerti," ucap Sasori lalu mengampiri Gaara dan memberikan pelukan pada Gaara. "Sudah Gaara, jangan menangis lagi. Aku minta maaf karena selama ini aku sudah menyalahkanmu dan membencimu tanpa mengetahui apa yang kau rasakan. Mulai sekarang, aku tidak akan meninggalkanmu lagi, adikku."

"Terima kasih kak," ucap Gaara seraya membalas pelukan dari Sasori, perlahan-lahan tangisnya pun mulai berhenti dalam pelukan kakaknya tersebut.

"Ngomong-ngomong, tadi kau ingin minta bantuan apa padaku?" tanya Sasori yang kali ini menawarkan diri untuk membantu adiknya tersebut. Wajah bosan dan sinisnya kini telah berubah menjadi sebuah senyuman manis yang bahkan bisa membuat nenek-nenek yang udah sekarat berharap dapat kembali muda lagi saat melihatnya, wuih! Itu semua karena kebenciannya pada Gaara telah hilang bersamaan dengan airmata Gaara.

"Aku ingin kau membantuku untuk mengajarkan senimu itu untuk ujian kesenianku. Aku tahu kau itu sangat terampil dan hebat tentang hal itu."

"Seni ya. Seni adalah sesuatu yang indah dan tertinggal dimasa depan." Ucap Sasori dengan sangat yakin. "Akan kuajarkan seni terbaikku padamu."

"Iya. Mohon bimbingannya."

-Sun Setsuna-

"Seorang pemuda dengan rambut model pantat ayam *dichidori* tampak sedang tidur-tiduran di kamarnya yang nyaman. Dilihat dari wajahnya, tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu.

"Hah~" Hanya kata itu yang dari tadi keluar dari mulut Sasuke. "Untuk praktik kesenian besok aku harus apa ya?" tanyanya bingung pada dirinya sendiri.

Seni seni seni, kata-kata tersebut terus terlintas dipikiran Sasuke.

"Aku ini tidak pandai dalam hal seni," keluhnya sambil menatap langit-langit kamarnya.

Sebagai manusia biasa, Sasuke pun juga punya kekurangan. Walaupun dia pandai pada hampir semua pelajaran, tapi tidak untuk pelajaran kesenian. Belum lagi karena guru sebelumnya, Ebisu, bener-benar guru yang tidak bisa diharapkan. Bayangkan saja bagaimana rasanya membuat not-not balok sebanyak berlembar-lembar. Berbeda dengan bu guru anko yang lebih memberikan kebebasan bagi murid-muridnya dalam berekspresi.

"Hem, Sepertinya dulu aku pernah mendengar Itachi mengucapkan sesuau tentang seni. Tapi apa ya?" tanyanya seraya bangun dari tidurnya dan mulai mengingat-ingat kembali perkataan Itachi yang dulu pernah dikatakan kepadanya.

Siing! (dalam pikiran Sasuke)

"Sasuke, kamu tuh unyu banget sih~" ucap Itachi sambil menciumi pipi merah Sasuke yang masih berumur dua tahun.

"Hoek!" Sasuke langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan jijik. "Bukan perkataan yang itu. Itu sudah lama sekali. Terlalu lama."

Diapun mulai kembali mencari rekaman dalam pikirannya bersama Itachi.

"Kak, ajari aku naik sepeda yah," pinta Sasuke sambil menunjukan sepeda baru yang diberikan ayahnya sebgai hadiah ulang tahunnya yang ke-6."

"Kemarilah," panggil Itachi sambil tersenyum dan melambikan tangannya pada Sasuke. Dengan cepat Sasuke langsung menghampiri kakak kesayangannya itu. "Lain kali saja, Sasuke," ucap Itachi dan menjentikan jarinya kedahi Sasuke sambil tersenyum seakan tanpa dosa.

"Huh," balas sasuke manyun.

"Dia tidak pernah menepati janjinya itu." Rungut Sasuke sambil mengusap-usap dahi yang biasanya menjadi sasaran empuk Itachi.

Sasuke kembali mengingat memorinya tentang Itachi.

Tampak Sasuke sedang berjalan bersama Itachi menuju sekolah mereka.

"Hei Sasuke," panggil Itachi.

"Hn?"

"Retselingmu terbuka," ucap Itachi sambil matanya tetap mengarah kedepan. Sasuke yang panik langsung memeriksa retsletingnya dengan wajah memerah.

"Kau tertipu, whahahaha... dasar Sasuke polos, kau ini sudah masuk SMP tapi masih saja polos, whahaha..." Itachi dengan teganya tertawa senang karena berhasil mengerjai adiknya tersebut.

"Itu tidak lucu!" teriak Sasuke kesal. 'Sekarang dia sudah tidak seperti kakakku yang dulu,' batinnya agak merindukan kelakuan Itachi yang suka menjahilinya. Rasa kecewa dan kesal kembali terasa ketika mengingat yang dilakukan Itachi yang sekarang, menjadi berandalan.

Sasuke kembali memusatkan pikirannya, "Itachi-seni-Itachi-seni." Ucapnya penuh konsentrasi.

"Adikku yang bodoh, jika kau ingin mengalahkanku, bencilah padaku. Lari, dan larilah, hiduplah dengan berpegang pada kebencian terrsebut dan jadilah kuat. Diruang bawah tanah, di bawah tatami ke tujuh, kau akan menemukan tempat rahasia. Disitu tertulis tentang rahasia seni terlarang keluarga uchiha. Kuasailah, dan kau akan memiliki kemampuan sepertiku." Ucap Itachi yang kemudian menatap tajam ke mata Sasuke. Setelah itu, Sasuke baru tersadar setelah dia beraada di rumah sakit.

Setelah mengingat hal itu, tampak wajah Sasuke menjadi sangat marah karena mengingat kembali peristiwa yang sangat dibencinya, penghkianatan orang yang sangat disayanginya, kakaknya. "Sial!" rutuknya sambil memukul dinding kamarnya.

Sambil menahan emosi, dia mulai mencari tempat yang tadi dikatakan oleh Itachi, ruang bawah tanah dibawah tatami ketujuh.

"I-ini kan?" ucapnya agak gemetar ketika menemukan sesuatu yang dimaksud oleh Itachi tadi.

-Sun Setsuna-

Naruto yang masih bingung harus melakukan apa untuk ujian besok tidak langsung kembali kerumah, tapi dia memutuskan untuk bekeliling sejenak,tak terasa dia sudah ada di kota sebelah, Kumogakure

"Hah. Menyebalkan sekali!" keluhnya sambil terus menjalankan motornya pelan-pelan. "Kenapa sih mereka semua tidak bisa kutemuai disaat yang bersamaan. Apa mereka mau mengerjaiku ya?" tanyanya seorang diri.

Ckiit!

Tiba-tiba Naruto menghentikan motornya di depan sebuah studio musik. "Hem, mungkin aku bisa melatih kembali permainan gitarku di studio musik ini untuk ujian kesenian nanti." Pikirnya.

Setelah memarkir motornya, Naruto pun masuk kedalam studio musik tersebut.

"Permisi," ucap Naruto pada seseorang pria yang sedang menjaga studio tersebut. Bukannya disambut dengan ramah, pemuda bermata biru tersebut malah di cuekin oleh lawan bicaranya.

Tampaknya si penjaga toko sedang asik membaca majalah yang bertuliskan Playboy tersebut. (note: wajahnya tertutup oleh majalah)

"Hei!" panggil Naruto agak kesal.

"Isi saja daftar hadirnya, mau paket apa? Mau main berapa jam?" instruksinya sambil menunjuk sebuah buku besar di hadapannya tanpa melihat ke Naruto. "Ini daftar harganya," tambanya sambil menunjuk daftar harga yang terletak disamping buku hadir, lagi-lagi tanpa melihat ke Naruto. Ngeselin banget nih orang.

Dengan perasaan jengkel, Naruto mulai mengisi buku tersebut. 'Pelayanan macam apa ini?' gerutunya dalam hati. "Sudah selesai. Mana kuncinya?" tanya Naruto begitu selesai menuliskan nama dan paket yang diinginkan.

"Sebentar ya, lagi tanggung nih, hehehe..." tawanya seolah gak punya dosa.

Brak!

Naruto yang udah kesel langsung menggebrak meja di depannya. "Kau dengar aku tidak!" teriaknya marah dan merebut majalah si penjaga studio tadi.

"Hei! Apa yang kau lakukan?" sewot si penjaga studio musik tersebut karena ulah Naruto tadi.

"Hei, kau ini kan?" ucap Naruto yang tampak mengenali si penjaga studio tersebut.

"Kau?" pemuda itu balik bertanya sambil menunjuk Naruto.

"Kau Omoi kan?" tebak Naruto.

"Lama tidak bertemu, Naruto." balas pemuda dengan sweaeter abu-abu tersebut sambil mengambil sesuatu dari sakunya, sebatang lolipop, lalu memasukkannya kedalam mulutnya.

"Kau sama sekali tidak berubah ya," ucap Naruto sambil menunjuk majalah mesum yang tadi Omoi baca.

"Kalau aku tidak membaca majalah seperti itu berarti itu bukan aku namanya, hahaha.." ucapnya bangga. "Kau juga masih suka mengintipkan?" tanyanya sambil menepuk-nepuk bahu naruri dan tanpa memelankan suaranya sehingga membuat para tamu yang lain langsung menatap tajam ke Naruto.

"I-iya," jawab Naruto malu-malu. 'Dasar bodoh, kenapa dia bertanya seperti itu disini?' Batinnya kesal.

Naruto dan Omoi adalah saudara sepupu. Ayah Omoi adalah kakaknya ayah Naruto. Terakhir kali mereka bertemu adalah 7 tahun yang lalu, sebelum Omoi dan keluarganya pindah ke Kumogakure.

"Hei Omoi, apa paman ada?" tanya Naruto.

"Ada sih, tapi dia sedang tidak mau di ganggu," jawabnya sambil menunjuk kesebuah pintu berwarna hitam yang bertuliskan 'Tuan Bee'. "Aku mohon jangan ganggu dia ya, Naruto,"

"Lho, memangnya kenapa?"

"Kalau kau mengganggunya maka dia pasti akan memarahaiku, bagaimana klo nanti dia tidak menganggapku sebagai anaknya lagi, dan dia mengusirku, lalu aku tinggal dijalanan, dan aku jadi kelaparan, hidupku jadi merana, dan akhirnya aku mati, dan bangkaiku dimakan anjing-anjing liar." Ucap Omoi dengan lebay plus gerakan-gerakan yang mendramatisir.

'Lebay~' batin Naruto sweatadrop. "Serahkan itu padaku!" teriak Naruto dan langsung berlari ke ruangan pamannya tersebut.

"Hei! Tunggu Naruto!" cegah Omoi, tapi sepertinya sudah terlambat.

Brak!

Pintu tak berdosa itu langsung menjadi korban aksi tidak sabaran Naruto.

"APA KABAR PAMAN?" Tanpa permisi lagi Naruto langsung membuka pintu tersebut dan membuat orang yang ada didalamnya kaget karena teriakannya barusan.

Byur!

Sontak orang didalam ruangan tersebut menyemburkan kopi yang sedang diminumnya. "Buah! Dasar kau.. anak bodoh.. anak bodoh.. apa ayahmu.. tidak mengajarimu sopan santun... Hah!" marah orang tersebut, dengan nada ngerap dan membuat Naruto langsung cengo.

'Dia masih seperti dulu juga,' batin Naruto swetdrop melihat nada bicara pamannya tersebut. 'Anak dan ayah sama-sama aneh,'

"Hei.. kau Naruto.. kan? Iyeah!" tanya Bee masih dengan nada ngerap.

"Iya, ini aku, Namikaze Naruto. Apa kabar paman?" jawab dan tanya Naruto yang kemudian berjalan menghampiri pamannya tersebut.

Bletak,

Tiba-tiba saja Bee langsung menjitak kepala kuningnya tersebut.

"Adaw! Sakit paman!" teriak Naruto sambil memegangi kepalanya yang muncul gundukan alias benjol yang bikin kepalanya cenut-cenut.

"Itu karena kau mengagetkanku tadi, dasar kau anak bodoh."

'Jadi seperti ini rasanya dijitak,' batin Naruto dan teringat pada Konohamaru yang sering dijitaknya.

"Kau sudah besar rupanya, tapi tetap tidak sebesar aku, Bebeh!" bangga Bee sambil memamerkan otot-otonya. "Tapi kau terlihat tampan, sama seperti ayahmu," puji Bee ke Naruto.

"Terima kasih paman, hihi.." cengir Naruto seperti biasa. "Ngomong-ngomong paman, apa sumur disini lagi kering ya?" tanya Naruto sambil memegang lehernya. Bahasa isyarat nih.

"Hahaha... maaf aku lupa. Kau ambil saja sendiri," ucap Bee sambil menunjuk sebuah kulkas besar yang ada diruangannya.

Setelah mengambil orange jus, Naruto lalu duduk disamping Bee sambil menonton acara musik yang tadi sedang ditonton Bee.

"Bagaimana kabar ayah dan ibumu?" tanya Bee sambil meminum kopi yang tadi sempat terganggu karena kedatangan Naruto.

"Mereka baik-baik saja, saat ini mereka sedang berada diluar kota."

"Masih suka pergi keluar kota seperti dulu. Bagaimana kau tahu paman ada disini Naruto?"

"Hanya kebetulan lewat, hehe.." jawab Naruto. "Um.. paman, boleh aku minta bantuanmu?"

"Oh yeah. Kau mau minta bantuan apa dari pamanmu ini, bebeh?"

"Begini paman, sebentar lagi aku mau ada ujian kesenian, aku ingin kau membantuku."

"Kau datang pada orang yang tepat Naruto, aku akan mengajarkanmu menyanyi rapp, yo yo yo.." ucap Bee dan mulai kembali bergaya ngerapp.

"Maaf paman, tapi aku tidak mau diajarkan menyanyi rapp, hah~ itu sangat memalukan," ucap naruto sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

"Apa ia ngerapp itu memalukan, Naruto?" tanya Bee dengan nada suram alias pundung.

"Gawat, aku salah bicara," batin Naruto sambil menutup mulutnya. "Bukan begitu maksudku paman, aku cuma malu kalau aku tidak bisa ngerapp sehebat paman. Paman inikan rapper terkenal. Bisa-bisa aku malah mempermalukan paman, begitu maksudku, he he he.." tawa Naruto garing.

"Haha... sudah kuduga kau akan berkata seperti itu. Aku ini memang rapper yang paling hebat, WIII!" teriak Bee kembali bersemangat dan mengacungkan tangannya tinggi-tinggi.

'Huh.. hampir saja. Memalukan sekali kalau aku harus ngerapp dan bergaya seperti itu didepan Sakura.' Batin Naruto yang dari tadi merasa tidak nyaman dengan gerakan-gerakan yang ditunjukkan pamannya dari tadi.

"Kalau begitu, kau mau minta bantuan apa Naruto?"

"Paman kan dulu pernah mengajarkanku bermain gitar waktu aku kecil, dan aku ingin menyanyikan sebuah lagu sambil bermain gitar nanti. Aku ingin paman membantuku."

"Kau mau menyanyikan lagu apa?"

"Entahlah, hehe..."

"Dasar bodoh, apa kau belum memikirkannya?"

"Aku tidak tau harus menyanyikan apa. Aku bingung paman. Yang pasti aku ingin menyanyikan lagu ini untuk seseorang, yang sangat aku sayangi." Jawab Naruto blushing.

"Pacarmu ya, hah hah?" goda Bee sambil menyenggol-nyenggol Naruto.

"Ah, paman bisa saja, hihihi..." jawabnya malu-malu. 'Mudah-mudahan sih begitu,' batin naruto penuh harap.

"Kau datang pada orang yang tepat Naruto. Paman punya banyak lagu untuk itu." Bee mulai mencari-cari kumpulan buku-buku musik dari lemari besar disamping pintu. "Ini dia." Dia pun melempar buku yang diambilnya ke meja dihadapan Naruto. "Kau pilih saja sendiri."

Naruto pun mulai membalik-balik halaman demi halaman dari buku yang diberikan Bee.

"Paman, gak salah nih?" tanya Naruto sambil menatap heran judul-judul lagi dari buku tersebut.

"Kenapa? Ada yang salah?"

"keong racun, mabuk janda, salah alamat, anggur merah, ini kan lagu dangdut." ucap Naruto yang nyebutin lagu-lagu tersebut dengan wajah bingung. Ternyata itu buku lagu-lagu dangdut, ckckck..

"Maaf, bukan yang itu," ucap Bee dan langsung mengambil buku dangdut tersebut dari tangan Naruto. Hohoho... ternyata Bee sang rapper sejati suka dangdut juga, fufufu...

"Ternyata paman juga suka dangdut ya, haha.." goda Naruto.

"Dangdut is the music of my country, Iyeah!"

"Hahaha.. bener juga tuh,"

"Ini." Bee tampaknya sudah menemukan buku yang sebenarnya dan melempar buku itu kehadapan Naruto.

"Nah, ini baru bener." Tampak Naruto mulai mencari-cari lagu yang akan dinyanyikannya. "Yang ini bagus tidak paman?" tanya Naruto sambil menunjuk salah satu judul lagu dari daalam buku.

"Pilihan yang bagus Naruto, dia pasti akan menyukainya." Senyum Bee dan mengacak-acak rambut pirang Naruto.

"Hihihi..."

TBC

YEA! Akhirnya bisa update lagi! Alhamdulillah yah, *syahrini mode*. Maaf ya dah ngebuat kalian nunggu lama.

Mohon maaf kalau dichapter ini kurang keliatan atau mungkin malah gak ada unsur romance nya. Sun sengaja memfokuskan chapter ini kearah keluarga untuk mengingatkan kepada temen-temen bahwa bukan cuma cewek atau cowok aja yang ada dipikiran kita. Kita juga masih punya keluarga. Keluarga merupakan suatu ikatan yang sangat penting dalam kehidupan kita semua. Disaat kita kesulitan atau punya masalah, lebih baik kita bicarakan dulu dengan keluarga kita. Senyebel-nyebelinnya keluarga kita, insyaallah gak akan ngebongkar aib kita dan mau membantu kita, ^.^

Kira-kira mereka bakal nampilin apa ya? hm..

Selain itu di fic ini ditunjukan untuk menambah kemunculan tokoh-tokoh baru dan memperkenalkan anggota keluarga tokoh-tokoh kita, (Anko, Deidara, Guy, Omoi, Temari, Bee, ibunya kiba). Chapter depan juga akan ada kemunculan tokoh baru lagi, yaitu –biip- -biip- *sensor*plak*

Untuk adegan-adegan maupun kata-kata di fic ini, banyak yang sun ambil dari cerita aslinya (manga dan anime) dengan sedikit perubahan.

Dibalik layar

Sasuke: "Ngapain sih lu kasih tau masa lalu yang malu-maluin kayak gitu? Cih."

Sun : "Nyahaha... sekali-sekali gakpapa kan."

Sasuke : "Yah, zeenggaknya gue gak nangis kayak si mata panda." *ngelirik Gaara*

Gaara : "Gue kesepian tau. Manusia takkan bisa menang dari rasa kesepian."

Sun : *Angguk angguk*

Sasuke: "Dasar cengeng."

Gaara : "Apa lu bilang?"

Sasori : "Yang penting sekarang kau udah gak kesepian lagi." *ngerangkul Gaara*

Fujoshi : "Yaoi! Incest!" *mata berbinar-binar*

Sun : "Bukan!" ngusir para fujoshi.

Deidara : "Kok gue masih jadi kayak banci sih, hm~? Gak IC kayak anggota Akatsuki yang lain~"

Sun : "Abis Dei kayak banci sih, ngomongnya aja begitu, hahaha.."

Deidara : "Mau mati lu?" *nyiapain bom, tampang serius."

Guy dan Lee : "Semangat masa muda!" *lari dan nyenggol Dei yang lagi nyiapin bom*

DUARR!

All: "wkakakakakak..."

Itachi : *mucul tiba-tiba* "Bodoh." *ngilang lagi*

Sun : "Siapa yang dimaksud bodoh sama Itachi?"

Sasuke : "Pasti orang yang tadi nangis." *lirik Gaara*

Gaara: "Gue rasa yang bodoh itu orang yang kena bom nya sendiri." *lirik Deidara*

Deidara : "Yang bodoh tuh yang lari gak pake mata!" *deathglare ke Guy dan Lee.*

Guy dan Lee : "Yang bodoh tuh yang mau aja dikibulin sama Itachi pas waktu kecil." *liat Sasuke.*

Itachi : *muncul lagi. "Bodoh."

All : "Siapa yang bodoh, hah!"

Itachi : "Bodoh, tadi gue lupa naruh dompet dimana."

GUBRAK!

All : *sweatdrop*

Reader : "Kami mau Narumi!"

Sun : "Naruminya dichapter selanjutnya ya. pokoknya hot dah, fufufu..."

Naruto: *merinding*

Readers : "Iyey!"

Sun : "Dan sedikit bocoran, besok juga ada rahasia tentang guru kakashi, fufufu..."

Kakashi : "A-aku?"

Sun : "Yup yup yup.."

All : "Rahasia apa?"

Sun : "Tunggu aja di chapter selanjutnya. Akhir kata.."

All : "RIVIEW PLEASE...! ^.^"