Bidam menyadari bahwa Yeomjeong dan yang lainnya telah mencoba untuk menjebak dia. Dan sebelum itu akan terlambat, dia mencoba melawan pasukannya sendiri untuk menghentikan pemberontakan. Dia membunuh Yeomjong pertama, Misaeng, dan yang lain yang ingin Hajong dan pasukan Bojong hampir mencapai markas tentara Ratu. Bidam mencoba menghentikan dan membunuh mereka. Tapi Hajong berhasil lolos sebelum Bidam mencapainya. Di medan pertempuran , Deok Man sudah mengetahui siapa dalang dibalik semua ini dan Ia ingin bertemu dengan Bidam untuk menyelsaikan semua permasalahan ini. Ia menanti kedatangan Bi Dam di medan perang dikawal Yushin dan Alcheon sementara pasukannya sedang bertempur dengan pasukan pemberontak yang berhasil mencapai kamp. Bi Dam yang tubunhya penuh luka akibat bertempur sendiri dengan puluhan dan ratusan pasukan berhasil tiba di hadapan Deok Man dan tak berada jauh darinya. Salah satu pemanah Hajong yang masih hidup mencoba untuk menembak Ratu dari jarak jauh, Bidam tahu itu dan mencoba untuk melindungi Ratu dengan menggunakan tubuhnya. Panah pun menghujam dadanya, Bidam jatuh ke tanah."Bidaamm" teriak Ratu namanya dan tinggal di sisinya. "Bidam..bertahanlah .. jangan tinggalkan aku .." Sang Ratu menangis. Air matanya jatuh ke luka Bidam. "Deokman .. Deokman-a .." bisik Bi Dam. Air matanya mengalir bercampur dengan tetesan darah dari wajahnya. Lalu mata Bi Dam pun menutup.

setelah semua pemberontakan ini berakhir, semua bangsawan yang berkhianat dibawa oleh pasukan Panglima Yushin untuk dihukum mati. Bi Dam yang terluka parah karena melindungi Deok Man dari panah bangsawan Ha Jong terlelap dalam pangkuan Deok Man dan dibawa ke istana untuk dirawat. Deok Man menahan air mata, menahan pendarahan Bi Dam selama di perjalanan. "hanya denganmu aku ingin hidup Bi Dam, aku sungguh mencintaimu, bertahanlah untukku" bisik Deok Man. Bi Dam tersenyum dalam tidurnya.

Di istana. 2 hari kemudian.

di kamar Deok Man.

selama 2 hari, Deok Man duduk menunggui Bi Dam. Mengganti perbannya. Membersihkan lukanya. Segala tugas kerajaan, ia wakilkan kepada Chun Cu untuk sementara waktu. Di siang itu, tabib dipanggil untuk memeriksa Bi Dam. "luka Tuan Perdana Menteri sudah sangat membaik dan kemungkinan beliau akan pulih besok" Deok Man sangat senang mendengar hal itu. air mata gembira mengalir di pipinya tak kuasa ditahannya. lalu tabib juga meminta sang ratu untuk tak lupa beristirahat karena kelelahan tampak di wajahnya. meskipun Deok Man sudah tidak pernah jatuh lagi tapi bukan tidak mungkin akan terjadi lagi. Deok Man pun menuruti saran tersebut. Setelah pemeriksaan selesai. Deok Man duduk di sisi pembaringan Bi Dam membelai wajahnya. dan ia pun tak sadarkan diri selama 2 hari, Bi Dam pun mulai membuka matanya. dilihatnya langit-langit kamar Deok Man. dan ia melihat di sisinya wajah Deok Man yang terlelap dekat lengannya. " Yang Mulia.." bisik Bi Dam sambil mengusap rambut wanita yang sangat dicintainya itu. Deok Man yang sangat lelah tidak menyadarinya. Rupanya Chun Cu sudah meminta tabib agar memberi obat tidur diam-diam pada Deok Man agar ia bisa beristirahat. Dengan sekuat tenaga, Bi Dam bangkit dari tidurnya. Lukanya memang belum sembuh total namun karena tubuhnya sudah terlatih, bangun bukanlah hal perlahan, ia mengendap-endap keluar untuk memanggil dayang istana. Para dayang istana terkejut melihat Perdana Menteri keluar dari kamar dan segera berusaha memapahnya. "tolong bantu aku untuk membawa Yang Mulia ke tempat tidurnya." Para dayang pun segera memindahkan Yang Mulia Ratu ke pembaringannya dan Bi Dam meminta mereka pergi. "Aku juga sangat mencintaimu Deok Man, maafkan aku yang sempat tidak percaya denganmu" Dengan lembut, Bi Dam mencium kening Deok Man dan pergi menuju kamarnya sendiri.

keesokan paginya..

Deok Man terbangun dari tidurnya oleh suara burung yang bernyanyi di ambang jendela kamarnya. Dan ia pun kaget karena ia tidur di ranjangnya dan Bi Dam tak ada di tempatnya. Ia segera memanggil dayang istana menanyakan hal itu. "Tuan Perdana Menteri yang meminta kami untuk memindahkan Yang Mulia dan sekarang beliau sedang diperiksa tabib di kamar tidurnya". Deok Man segera berlari menuju kamar Bi Dam. Di dekat pintu kamar Bi Dam, Deok Man berpapasan dengan tabib istana, lalu ia menanyakan keadaan Bi Dam." hormat hamba Yang Mulia, Tuan Perdana Menteri hampir pulih sempurna, yang ia butuhkan sekarang adalah makanan sehat dan obat yang sudah hamba racik untuk memulihkan tenaganya." setelah mendengar itu, Deok Man langsung masuk ke kamar Bi Dam."Bi Dam" panggil Deok Man sambil menahan air mata bahagianya melihat Bi Dam. Dengan segera Bi Dam beranjak dari ranjangnya, berdiri dan memberi hormat "Hormat hamba Yang Mulia. Terima kasih sudah merawat hamba 2 hari ini" Deok Man segera memeluknya erat " Aku senang kau sudah sadar Bi Dam..aku sangat takut kau akan meninggalkanku sendiri..melupakan janjimu.."gumamnya. Bi Dam terdiam kaget. Lalu Deok Man menatap Bi Dam dalam-dalam "tetaplah di sisiku..Bi Dam.." katanya sambil Dam sangat bahagia akan hal itu namun ia merasa tak pantas untuk dicintai oleh Deok Man karena perbuatannya sudah sangat menyakiti hati Deok Man lalu ia berlutut di hadapan Deok Man "hukum aku Yang Mulia..hamba tidak pantas untuk mendapat belas kasih bahkan cinta dari Yang Mulia.. Hamba menyesal telah menyakiti hati Yang Mulia dan hamba siap menerima hukumannya" Deok Man pun memintanya berdiri, meletakkan telapak tangannya di wajah Bi Dam "aku dan semua orang sudah tahu semuanya kebenarannya Bi Dam..kau sudah diperdaya oleh mereka..tidak ada yang menyalahkanmu dan kau menyelamatkan nyawaku..Kau tidak bersalah..Bi Dam""Bagi hamba hidup hamba adalah milik Yang Mulia, hamba..." Deok Man menatap mata Bi Dam dalam-dalam "tetaplah bersamaku..tetaplah mencintaiku dan memanggil namaku.." Dan Bi Dam segera memeluknya erat-erat "Aku sangat mencintaimu Deok Man lebih dari nyawaku sendiri.. aku sangat bodoh hingga sempat tidak mempercayaimu..hampir saja aku kehilangan harta yang paling berharga dalam hidupku""tetaplah di sisiku Bi Dam..aku ingin kita hidup bersama..dalam damai..bersamamu" kata Deok Man. "Yang Mulia..ham.." belum Bi Dam sempat membalas. "maukah kau memanggil namaku saja Bi Dam?atau kau takut dunia akan memandangmu sebagai pengkhianat?"sela Deok Man. "aku tak peduli dengan pandangan dunia, aku akan tetap selalu memanggil namamu karena aku sangat mencintaimu..tak peduli orang akan memandangku apa..yang terpenting adalah bagaimana pandanganmu terhadapku..aku ingin hidup bersamamu..Deok Man" jawab Bi Dam. katanya. Bi Dam berlutut sambil menggenggam erat kedua tangan Deok Man "bersediakah kau menikah denganku Deok Man?aku bersumpah akan berusaha membahagiakanmu seumur hidupku.." Deok Man tersenyum bahagia mendengarnya. Lalu Deok Man merogoh sakunya, mengambil cincin, dan memakaikan cincin di jari tengah tangan kanan Bi Dam. Cincin yang selalu disimpannya sejak dikembalikan Bi Dam. "aku bersedia, Bi Dam"jawabnya tersenyum. Bi Dam menatapnya dengan penuh kasih sayang, melangkah maju, mendekatkan wajahnya. Mereka berciuman untuk pertama kalinya. Setelah itu, Deok Man meminta para dayang membawakan makanan untuk Bi Dam."Tolong bawakan juga untuk Yang Mulia Ratu" tambah Bi Dam "aku tahu kau belum makan Deok Man.." Deok Man hanya tersenyum mendengar perhatian Bi Dam. Mereka pun makan bersama. Kabar Bi Dam telah sadar telah sampai ke seluruh istana. Semua pejabat dan penduduk istana tahu bahwa Bi Dam hanya difitnah dan menjadi korban adu domba dan mereka senang karena Bi Dam berhasil menyelamatkan Ratu. Pangeran Chun Cu ikut senang akan hal ini dan meminta kepada pejabat dan pelayan istana agar malam nanti diadakan jamuan istana untuk merayakan hal ini.

Sesudah makan bersama, Bi Dam dan Deok Man memutuskan untuk berjalan ke taman, mencari udara segar. Dan di sana mereka bertemu Pangeran Chun Cu. "hormat saya Pangeran Chun Cu" hormat Bi Dam. "Chun Cu.." sapa Deok Man "Tuan Perdana Menteri, Yang Mulia Ratu senang bertemu anda di sini, apakah luka Tuan Perdana Menteri sudah membaik?" balas Chun Cu "Terima kasih perhatiannya Pangeran, luka saya sudah sangat membaik" balas Bi Dam. "Berita yang bagus sekali, aku akan mengadakan perjamuan nanti malam untuk merayakan ini, apakah itu boleh Yang Mulia Ratu?" kata Chuncu. "Terima kasih Pangeran tapi saya itu agak berle.."balas Bi Dam "tentu saja aku izinkan..dan Chun Cu tolong umumkan kepada seluruh pejabat untuk berkumpul di ruanganku..Ada yang ingin aku umumkan berkaitan dengan pernikahanku" Bi Dam dan Chun Cu agak terkejut tak menduga akan secepat ini "Baik Yang Mulia, saya permisi dahulu" hormat Chun Cu. Lalu ia pergi meninggalkan mereka berdua.

Lalu mereka berjalan ke tempat favorit Deok Man. Tempat Deok Man bisa melihat seluruh "ada banyak hal yang perlu kita persiapkan Deok Man.." kata Bi Dam yang berdiri di samping Deok Man yang duduk di sebelahnya. "Ya aku tahu itu, dan aku akan mulai mempersiapkan proses penyerahan takhta kepada Chun Cu hari ini" kata Deok Man menatap Bi Dam. "Kau yakin untuk itu? apa kau sudah mempertimbangkannya? aku bersedia menunggumu sampai kapan pun.." tanya Bi Dam "Yang aku inginkan sekarang dan untuk masa depanku adalah hidup bersamamu Bi Dam, rakyat sekarang sudah bisa hidup damai sejahtera, dan cita-citaku akan penyatuan 3 kerajaan hanya tinggal menunggu waktu saja.. aku juga yakin Chun Cu bisa menjadi raja yang baik..jadi aku rasa ini saat yang tepat.." jawab Deokman tersenyum "Aku juga harus mengadakan rapat Dewan Istana untuk hal ini, oh ya kau ingin kita menikah tanggal berapa?" tanya Bi Dam "hmm..tanggal 14 bulan depan..3 minggu lagi..bagaimana menurutmu?"jawab Deok Man "Tanggal yang bagus, dan 3 minggu cukup untuk persiapan pernikahan, kalau begitu setelah pertemuan di ruanganmu, aku akan mengadakan rapat Dewan Istana"jawab Bi Dam "kau belum pulih benar Bi Dam.. Kau harus istirahat.."balas Deok Man "aku sudah sembuh ketika mendengar kau bersedia menikah denganku, aku sudah cukup istirahat Yang Mulia" canda Bi Dam. Deok Man pun tertawa mendengarnya. Mereka pun kembali ke istana untuk mempersiapkan diri menghadiri pertemuan.

Di ruangan Ratu..

Deok Man: "pada kesempatan ini, aku mengumumkan kepada seluruh pejabat istana bahwa tanggal pernikahanku dengan Bi Dam sudah ditetapkan yakni tanggal 14 bulan depan..dan mengenai penyerahan takhta kepada Pangeran Chun Cu, aku ingin segala sesuatunya di persiapkan sebaik mungkin.."

Seluruh pejabat: "kami mengucapkan selamat kepada Yang Mulia dan Tuan Perdana Menteri..Kami akan persiapkan semuanya sesempurna mungkin" setelah pertemuan selesai, Bi Dam segera mengumpulkan para anggota Dewan Istana yang baru dibentuk untuk rapat.

Bi Dam: seperti yang kalian tahu mengenai rencana pernikahan Yang Mulia Ratu, Ratu ingin penyerahan takhtanya dilakukan sebaik mungkin..berapa lama waktu yang dibutuhkan?"

Anggota Dewan: "penyerahan takhta akan siap pada tanggal 2 bulan depan..dan mengenai rencana pernikahan Yang Mulia dan penyerahan takhta akan kami umumkan kepada seluruh penduduk Negeri Shilla.".

Bi Dam: "baiklah..adakan pemungutan suara.".

hasilnya ada 11 anggota setuju. tidak ada yang menolak

Bi Dam: "jadi sudah diputuskan penyerahan takhta akan diadakan tanggal 2 bulan depan dan pernikahan Putri Deok Man dengan Perdana Menteri tanggal 14 bulan "

.tok..tok

Mendengar dan melihat pengumuman kerajaan seluruh mendoakan kebahagiaan Ratu dan Perdana Menteri.

Waktu berjalan cukup cepat.

Deok Man harus mempersiapkan dirinya sebagai calon istri dan untuk upacara penyerahan takhtanya. Segala sesuatunya dilakukan sesuai adat istiadat Kerajaan Shilla. Begitu juga Bi Dam, ia harus menyiapkan kediaman tempat ia akan tinggal setelah menikah nanti, dan persiapan lainnya sebagai calon pengantin pria..

tanggal 2. Upacara Penyerahan Takhta

Perdana Menteri Bi Dam: "dengan ini, Yang Mulia Ratu Seon Deok menyerahkan takhta dan kuasanya sebagai pemimpin tertinggi negara Shilla kepada Pangeran Chun Cu.

Dan Pangeran Chun Cu menjadi Raja Shilla XXVIII dengan gelar Raja Muyeol"

Mahkota pun diserahkan dan dipakaikan di atas kepala Chun Cu. Dan semuanya memberi hormat.

Malam hari seminggu sebelum pernikahan.

Bi Dam dan Deok Man sedang duduk di tempat favorit Deok Man, yakni dimana ia bisa melihat Shilla secara keseluruhan. Deokman menyandarkan kepalanya di bahu Bi Dam "aku sangat senang Bi Dam segala sesuatunya berjalan lancar" kata Deokman "Ya, aku juga sangat senang. persiapan rumah tempat kediaaman kita nanti juga sudah beres..tinggal memindahkan barang-barangmu kau ingin melihatnya?"jawab Bi Dam "aku akan mulai memindahkannya lusa..Tidak, aku ingin itu jadi kejutan untukku Bi Dam.."balas Deok Man "baiklah" kata Bi Dam. Mereka menatap langit malam yang gemerlap penuh dengan Bi Dam. "Deok Man.."gumam Bi Dam. "senang rasanya mendengarmu memanggil namaku, Bi Dam"gumam Deok Man. Lalu ia mengecup pipi Bi Dam. Bi Dam menoleh terkejut. "aku mencintaimu Bi Dam..selama ini kau yang selalu mengatakannya..aku..aku pun juga ingin menyampaikan perasaanku padamu.. "kata Deok Man dengan wajah yang memerah lalu mengalihkan pandangannya. Bi Dam mengarahkan wajah Deok Man menatapnya. Ia tersenyum menatap Deok Man dalam-dalam. Kebahagiaan terpancar di matanya Lalu ia mengecup keningnya "itu adalah hal terindah dalam hidupku Deok Man" gumamnya. Deok Man tersenyum.

2 hari sebelum pernikahan

Ada tradisi untuk mengunjungi makam orangtua dan saudara sebelum pernikahan untuk meminta restu. Karena kedua orangtua Deok Man dan kakak kembarnya sudah wafat serta orangtua Bi Dam sudah wafat. Maka Bi Dam dan Deok Man mengunjungi makam keluarga mereka bersama-sama..

Di depan Makam Keluarga Deok Man

(dalam hati)

Deok Man: Ayah, Ibu, kakak, tanggal 14 nanti aku akan menikah dengan Bi Dam, kami berdua di sini memohon restu kalian.

Bi Dam: aku sadar keluargaku telah membuat hidup Raja, Ratu, dan tuan putri menderita. Aku mohon maaf atas semuanya. aku juga memohon restunya agar pernikahan kami bahagia..

Tanggal 14. Upacara Pernikahan.

Rakyat sudah menanti di luar gerbang yang dijaga ketat para hwarang. Sementara itu seluruh penghuni Istana sudah bersiap-siap di lapangan luar untuk upacara pernikahan Kerajaan.

di kamar Deok Man

"aku merasa ada yang salah dengan wajahku" kata Deok Man sambil menatap wajahnya di cermin.. "tidak ada yang salah Tuan Putri. Tuan Putri terlihat sangat cantik" ujar salah satu dayang. "entah kenapa aku merasa gugup sekali, lebih dari ketika aku naik takhta"kata Deokman dalam hatinya.

di kamar Bi Dam

Bi Dam sedang bersiap-siap dibantu sahabatnya, Panglima Yu Shin. "Bi Dam, aku sangat senang akhirnya Tuan Putri bisa menikah denganmu, bahagiakanlah dia" kata Panglima Yu Shin "aku berjanji kawan akan membahagiakannya.. seumur hidupku"janji Bidam upacara pun dimulai. di hadapan raja dan seluruh anggota kerajaan, Bi Dam dan Deok Man menikah.

Bi Dam: aku mencintaimu Deok Man

Deok Man: aku juga mencintaimu Bi Dam..

setelah upacara selesai, mereka berdua keluar istana dan disambut meriah oleh rakyat. lalu acara dilanjutkan sesuai tradisi Kerajaan Shilla. Kemudian mereka berdua pulang dengan tandu menuju kediaman baru mereka.

di kediaman Perdana Menteri Bi Dam

para pelayan:. "selamat datang Tuan dan Nyonya"

Bi Dam dan Deok Man melangkah masuk melewati gerbang rumah mereka. dan mereka segera menuju kamar mereka untuk beristirahat

hari-hari bahagia mereka pun dimulai..

malam hari

Deok Man: aku sangat bahagia Bi Dam..

Bi Dam: dan aku akan selalu menjaga kebahagiaanmu Deok Man...