Desclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Last chapter

Rate : T

Genre : Romance/Comedy

Summary : Awal dari kedua bunga yang menjadi satu. Sasuke dan Hinata, Konklusi dari Never Ending Love…

.

.

"Kau bilang jawabannya 'iya'?"

"Memang jawabannya itu kan?" pandangan Sasuke terlihat sedikit aneh. Sementara Hinata menggeleng pasti,

"Itachi mengucapkan kebalikan dari jawabanmu tadi," wajah Hinata tenggelam dalam kekecewaan, "Aku di tolak Sasuke,"

"A-Apa?"

"Aku ditolak,"

'Mustahil!'

Sasuke semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Itachi saat ini.

.

.

Page Ten

Revealed

:Flashback On:

Sebuah ponsel berbentuk clamshell berwarna keunguan berdering di saku jaket Hinata. Gadis itu tengah berjalan menuju ke suatu tempat di malam yang kelihatannya sangat dingin karena butiran salju kini mulai turun menghiasi bumi.

"Hinata, maaf menunggu lama," seorang cowok paruh baya dengan rambut setengah panjang diikatnya berlari mendekati gadis berkulit putih bagaikan salju yang turun malam itu.

"Ada apa, memintaku datang ke taman kota malam-malam?"

Cowok di hadapannya sontak tersenyum, kemudian mendekati posisi Hinata,

"Mau membalas pernyataanmu," degup jantung Hinata mulai terasa lebih cepat dari yang biasanya. Ia menjadi gugup,

"J-Jadi?"

Senyuman Itachi berubah menjadi sebuah gelengan. Hinata kaget setengah mati,

"Maaf… aku tidak bisa," cowok itu kemudian mengelus-elus kepala Hinata, "Sepertinya kita lebih cocok jadi adik-kakak," tak lepas, cowok itu masih tersenyum manis untuk gadis berjaket biru hadiah dari Sasuke yang sebenarnya berasal dari uang sang Hyuuga juga.

Hinata sempat terdiam, hening sejenak. Sepertinya ia kelihatan bingung harus membalas apa. Namun, sepatah kata akhirnya dilontarkan,

"Baiklah.." cewek itu menunduk dengan semburat merahnya, "Kupikir juga begitu," kemudian wajahnya mengadah dengan sebuah senyuman cerah yang kini memberikan warna kelabu bagi isi hati Itachi.

Tanpa banyak basa basi lagi, Itachi mengajak cewek itu kembali pulang dan ia terus menyimpan perasaan galaunya sendirian. Sepertinya ada yang sedang menyesal…

:Flashback Off:

"Kira-kira.. begitu," cewek itu mengakhiri cerita singkatnya semalam. Sang gagak hanya diam terpaku, mencerna setiap kalimat yang di lontarkan oleh Hinata dengan sebaik mungkin. Siapa tahu saja telinganya sedang mengalami gangguan teknis, namun nyatanya setelah di klarifikasi sebanyak 20 kali bertanya dengan pertanyaan yang sama, akhirnya Sasuke sadar kalau Itachi menolak Hinata.

"Hm, begitu," sang pangeran salju hanya bersikap se-Cool mungkin. Meskipun saat ini batinnya telah mati kegirangan tanpa mempedulikan wajah cengok di depannya yang sedang memperhatikan wajah aneh Sasuke saat ini.

"Sas, kenapa diam?" jentikan jemari lembut milik Hinata membuatnya kembali sadar dan gagal melancarkan serangan bengong-face ala Patrick starfish.

"Y-ya? Maaf, aku sedang banyak pikiran," ucapnya asbun *Asal Bunyi*

"Hah? Memangnya kau kenapa?" tanya gadis itu masih dalam kepolosannya. Sasuke muter otak bentar. Mencari-cari kalimat yang cocok untuk di ucapkannya,

"Kemarin.. ada seorang cewek idiot yang menolakku," sekejap cowok itu mengerucutkan bibirnya dan mengutarakan kalimat memalukan ini dengan wajah yang memerah. Hinata hanya terbelalak,

"Hah? Siapa? Siapa? Aku kenal nggak?"

DUAAKKH!

Penyakit memori jangka pendeknya Hinata kambuh lagi. Sasuke cuman kembali duduk di rerumputan dengan wajah di tekuk.

"Kau tidak perlu mencarinya jauh-jauh.. dia ada di sini," sambil bertopang pipi, Sasuke menjawabnya dengan suara yang jelas. Hinata sempat celingak-celinguk sebentar, dan akhirnya menyadari bahwa yang berada di dekat sungai hanya mereka berdua.

"E-eh? Aku ya?" tanyanya polos sambil menggosok belakang kepalanya. Sebuah tamparan dengan buntut ikan mendarat mulus di pipi Hinata,

"Dasar Idiot! Masa tidak sadar sih!" urat-urat Sasuke kembali muncul di permukaan. Tau gak? Sifat polos Hinata bener-bener bikin cowok berambut pantat hewan berjengger itu kepengen nyium gadis di depannya saat ini. Mati-matian Sasuke menahannya.

"M-Maaf.. aku benar-benar lupa total karena waktu itu lagi sakit.. hehe," tampang tidak berdosa lagi-lagi muncul di wajah Hinata. Sasuke bener-bener stuck, kalau harus berurusan dengan cewek yang satu ini.

"Terus, soal Itachi bagaimana?" sang raven mengalihkan pembicaraan.

"Entahlah.."

"Entahlah?" cowok itu mengulang perkataan Hinata dengan maksud bertanya,

"Aku bingung.. kenapa tidak sakit hati ya…? Padahal, Itachi baru saja menolakku,"

"Kok bisa?"

"Aku tidak tahu… pikiranku terasa ngambang.. Sas,"

Hening sejenak.

Semilir angin menerbangkan helaian rambut indigo Hinata bahkan membuat baju terusannya berlambai dengan lihai. Sementara Sasuke masih memikirkan kata-kata Hinata. Mungkinkah gadis itu tertlalu patah hati, atau.. ada hal lain yang mengganggunya? Rasanya, alasan seperti 'tidak patah hati' itu terdengar janggal.

"Maksudmu apa tidak Pa-"

"Anginnya kencang sekali.. sebaiknya kita pulang,"

Ucapan Sasuke di potong cepat oleh Hinata. Sepertinya, gadis itu tidak ingin banyak berbicara saat ini. Otomatis, mereka berdua pulang di tengah kebisuan. Menyusuri aspal dingin yang sepertinya mulai di pijaki oleh berbutir-butir Salju. Musim dingin mulai datang di kota Konoha.

oOo

"Aku pulang!" seruan yang kompak terdengar di depan ambang pintu rumah keluarga Hyuuga. Sasuke dan Hinata melewati ruang tamu dan menemukan seorang Itachi tengah terduduk santai di depan TV channel Movie sambil mengunyah kacang.

"Ah, kalian berdua sudah pulang," sapanya normal seperti biasa. Ada yang aneh di rumah ini. Tiga-tiganya seperti saling berpura-pura satu sama lain, meskipun salah satu di antara mereka ada yang panas dan muak dengan kepura-puraan itu.

"A-Aku mau masak dulu," Hinata angkat suara.

"Memangnya kau bisa masak?" tanya cowok berambut mencuat kebelakang itu sontak. Rasanya aneh mendengar Hinata berbicara seperti itu. Rasanya, Hinata seperti ingin keluar dari situasi canggung seperti ini.

"Eeh.. oh iya," cewek itu hanya tertunduk dengan senyum terpaksanya, "Mm… kalau begitu kubuatkan teh dulu ya,"

Hinata berlalu dengan wajahnya yang janggal. Di ruang tamu kini hanya tinggal Uchiha bersaudara saja.

Itachi tidak menghiraukan keadaan adiknya sama sekali. Matanya terlalu terpusat pada layar televisi yang nyatanya sedang menayangkan film horor terbaik se-Konoha. Dan Itachi menontonnya tanpa ekspresi was-was sedikitpun. Pandangannya terlihat kosong, meskipun arahnya menuju ke layar TV namun Itachi bagaikan melihat hal lain yang lebih mengecewakan.

Tidak melakukan kontak mata hanya berupa pelarian bagi cowok tertua itu. Hingga membuat sebuah tamparan melesat tajam menyakiti pipinya,

"Apa maksudmu menolak Hinata?" tanya Sasuke sinis. Ia tidak suka dengan kondisi 'berpura-pura' nya Itachi. Sasuke paham betul kalau watak kakaknya, tidak mungkin terlihat pendiam dan cenderung mengalihkan pandangan seperti ini, "Kalau kau membenciku bilang saja!" Sasuke nyaris saja menampar untuk yang kedua kalinya namun, tangan cowok itu ditangkap cepat oleh Itachi.

"Kau dungu ya.. tentu saja aku tidak membencimu," Itachi mulai mengatur nafasnya, "Hah.. memangnya kau kenapa, tiba-tiba menamparku?"

"Jujur saja Itachi. Sebenarnya kau menyukai Hinata kan?" sang kakak mengangguk dalam kebisuan. Sementara Hinata yang baru saja mau kembali dari dapur tiba-tiba mengurungkan niatnya dan memilih untuk mencuri dengar diam-diam di balik tembok yang membatasi ruang tamu dan dapur.

'Itachi dan Sasuke.. sedang membicarakan apa?'

"Kau mengalah padaku? Kau meremehkanku? Kau pikir aku akan membencimu kalau kau jadian dengan Hinata?" seujung garis senyuman mengembang di bibir sang kakak dalam wajah yang tertutupi oleh poni-poninya yang agak berantakan sehabis insiden tamparan Sasuke.

"Aku tidak seperti apa yang kau pikirkan lho… Sasuke," Itachi memutus ucapannya sejenak, "Tau nggak? Aku hanya pura-pura menolaknya. Sebenarnya sih, cuman ingin tahu apakah Hinata akan sangat kecewa atau tidak, ternyata… dugaanku tepat. Dia malah tersenyum,"

"Ha? Pura-pura? Terus, kau mau memberitahu Hinata yang sebenarnya?" Itachi menarik poni-poninya ke belakang. Masih dalam wajah tersenyumnya, hanya saja yang kali ini terlalu berat untuk di artikan,

"Sepertinya tidak perlu.. toh, Hinata kelihatannya juga salahpaham dengan perasaannya sendiri,"

"Maksudmu?" Sasuke semakin bingung dengan pola pikiran Itachi saat ini. Terlalu… berbelit-belit!

"Kau tahu kan, dulu Hinata pernah menyukai Sakura. Kupikir, dugaan tersebut salah. Malah, Hinata lebih kelihatan mengagumi gadis pink itu ketimbang menyukainya. Yah, Hinata kan memang lamban untuk mengerti, dan dia, menafsirkan segala perasaan yang berhubungan tertarik menjadi rasa suka. Kupikir, ia tidak sadar kalau sebenarnya dia hanya mengagumiku sebagai seorang kakak tertua. Itu saja,"

"Itu kan cuman pernyataan sepihakmu. Lagipula, bukankah kau bilang tadi bahwa kau menyukai Hinata? Kenapa harus menolaknya?"

"Aku tidak mau kalau suatu saat nanti Hinata sadar dengan perasaannya sendiri dan kemudian mencampakkanku. Dan aku tidak mau pengalaman seperti itu terjadi untuk yang kedua kalinya," Itachi menghembuskan nafas panjangnya, "Kukira aku bisa membuatnya jatuh cinta padaku sedikit demi sedikit tapi, sepertinya tidak mungkin kalau ada orang sepertimu di sampingnya,"

"HAH?" Sasuke sedikit deg-degan mendengar pernyataan Itachi, "Maksudmu.. dia.."

"Ya, kupikir, Hinata menyukaimu… aku berani mengatakan ini karena pandangan matanya terlihat berbeda saat sedang melihatmu. Selain itu, dia juga tidak menyembunyikan sifat aslinya kan? Kau benar-benar membuatku iri Sas,"bola mata Itachi mendadak mengecil dengan guratan wajah yang mengatakan 'Aku gagal'. Sementara Sasuke mati-matian menyembunyikan semburat merah yang nyaris saja nampak di wajah dinginnya. Tentu saja, ia tidak mungkin bergembira ria di atas perasaan kakaknya saat ini.

"Hm.. teorimu lah yang salah. Hinata menolakku kemarin–"

"Ya jelas saja. Kau menembaknya di saat yang nggak tepat," balas Itachi memotong pembicaraan.

"Aa.. kalau begitu–" Sasuke mati kutu,

Ada jeda sejenak.

"Ekspresimu jangan begitu dong.. kenapa tidak kita tanya saja dengan Hinata sekarang? Dia sedang menguping pembicaraan kita sejak tadi," yang namanya kesebut langsung berdegup kencang sekali sementara Sasuke kaget karena tidak menyadarinya.

"Hah! Hinata?" cowok raven itu mengalihkan pandangannya menuju ruang dapur tepat di mana Hinata bersembunyi di balik temboknya. Gadis itu keluar dari tempat persembunyiannya dengan langkah yang hati-hati.

"M-Maaf! Aku tidak ingin m-mengganggu pembicaraan kalian j-jadi aku menunggu–" gadis bermata lavender itu mendadak terbata-bata. Wajar saja, karena hal yang dibicarakan oleh kedua Uchiha bersaudara itu menyangkut dirinya sendiri.

"K-kalau seandainya m-memang benar aku cu-cuman mengagumi Itachi-nii, Ee.. Ta-tapi… aku juga, T-tidak tahu bagaimana perasaanku k-kepada S-S-Sasuke," ia mulai memainkan jemarinya. Hinata berubah menjadi gadis yang paling pemalu sedunia. "I-Itu.." sang lavender menelan ludahnya sendiri. Bingung, harus mengucapkan kalimat apa lagi di depan para Uchiha. Itachi memberikan sebuah isyarat lewat pandangannya kepada Sasuke. dengan maksud agar sang adik bodohnya itu membalas sedikit perkataan Hinata,

"Bisa-bisanya kau.. hanya dalam waktu yang singkat, menghancurkan hidupku," wajah Sasuke kelihatan serius. Sang kakak malah menepuk dahinya dan Hinata memperhatikan dengan wajah yang kaget,

"M-Maaf," balasnya polos, tidak mengerti apa maksud tersirat dalam kalimat Sasuke.

"Kalau kau selalu bersamaku.. tuhan pasti mentakdirkan hidupku untuk mati di setiap pagi," apakah ini bisa di sebut sebagai syair atau keluhan yang hiperbola?

Kening Hinata mengkerut. Sedangkan Itachi pergi meninggalkan mereka berdua dengan maksud memberi waktu.

"Ternyata adikku tidak bisa di tandingi," desis Itachi pelan hingga tak terdengar oleh orang yang namanya di sebut tadi. Senyumannya yang terakhir kali terlihat ringan seperti menghilangnya beban yang selama ini dirasakannya, "Maksudnya dalam hal kebodohan.. hihihi!"

oOo

"Kau tidak tahu bagaimana perasaanmu terhadapku?" cewek bermata kelabu itu kembali memerah. Bibirnya terasa berat untuk di gerakkan. Alhasil, kepalanya lah yang bergerak mengangguk perlahan.

"Kalau aku menciummu, apakah kau akan membiarkanku.. atau mengelak?" seringai bak setan muncul kembali di ujung bibir Uchiha Sasuke, seperti sewajarnya. Perlahan tubuh tegapnya bergerak mendekat, membiarkan hawa panas mengitari sekeliling mereka.

"S-Sasuke.. Aa-a.. t-tunggu–"

"Tidak ada waktu untuk menunggu,"

HAP

Si raja mesum kembali beraksi.

Dalam sekejap, kedua bibir mereka saling menyatu dan tercampur. Menjalarkan rasa hangat diantara nafas-nafasnya.

"S-Sasu–ke–" Hinata tersengal-sengal setelah bibirnya terlepas dari lahapnya tangkapan si bibir beku yang hangat. Blushing kembali mendominasi wajah Hinata,

"Kau tidak mengelak, eh.. nona Hyuuga?" jemari Sasuke menyentuh ujung bibir basah milik sang Lavender dengan lembut. Hinata semakin deg-degan. Dan, benar-benar terasa jelas sekali bagaimana rasanya.

"Itu kare-na…," akhirnya sang gadis berambut biru itu mengutarakannya, "T-ternyata, aku menyukai-mu," Sasuke memeluknya dengan spontan,

"Akhirnya kau sadar juga…" di bekapnya Hinata dengan erat, hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.

"Sasuke.. S-sakit,"

"Biarin," jawabnya singkat, "Aku harap, memarnya membekas di tubuhmu. Aku tidak akan melepaskanmu lagi kepada siapapun,"

"K-kalimat itu… m-maksudnya… l-la-lamaran?"

.

.

HAH?

Sasuke buru-buru melepaskan pelukannya, dan melihat seperti apa ekspresi Hinata saat itu. Dan, wajah yang diharapkan oleh Sasuke lah yang muncul, wajah bahagia Hinata, wajah meronanya.

"Terserah kau mau mengartikannya bagaimana. Aku tidak keberatan,"

Sebuah ciuman terbentuk lagi sebagai simbol atas peresmian mereka. Seorang gadis baik-baik bisa jatuh cinta dengan seorang raja mesum? Sekarang jangan heran lagi.

"Kenapa bisa-bisanya aku menyukai cewek lemot ya?"

Ada yang mengaduh..

"Harusnya aku yang heran, kenapa bisa-bisanya jatuh cinta dengan setan mesum?"

ada yang dahinya berurat-urat,

"Aku tidak mesum!"

"Kau iya,"

Ada yang mengelak dan menuduh,

"Setidaknya aku tidak pernah mengintip cewek mandi ataupun membaca majalah porno!"

"Tapi kalau nonton Anime hentai pasti pernah. Mengaku saja!" cewek di sampingnya melirik dengan nista,

"Ugh! Cuman satu kali kok,"

Ada yang jujur,

"Tuh kan!"

"Kenapa? Aku kan cowok, wajar saja pernah melihatnya sekali? Jangan-jangan.. kau seorang otaku?"

"Eee…E-ee,"

Ada yang tertangkap basah,

"Ayo buat perjanjian!"

"A-apa?"

"Kalau kau ketahuan menyimpan barang-barang yang aneh, hukumannya kucium,"

"Hah!"

Ada seringai nakal,

"Kenapa? Jangan-jangan dugaanku benar kalau kau seorang otaku?"

"K-kalau begitu, kau juga tidak boleh nonton video hentai atau k-kukunci di luar rumah!"

"Setuju. Lagipula, aku lebih suka 'melakukannya' dari pada sekedar melihat,"

Ada semburat merah di atas seringai,

"Dasar! Erooo!"

DUAKH

Ada yang dipukul,

"Ugh.. aku kan cuman becanda… kau ini samasekali tidak manis ya, Hinata,"

"Sudah sana! Kembali ke kamarmu, Sasuke!"

Premis 1 : Ada Hinata

Premis 2 : Ada Sasuke,

Konklusinya adalah,

Never ending Love

.

.

TAMAT

A/N : Maaf untuk keterlambatannya. Karena tugas sekolah yang numpuk, terpaksa HOH di tamatkan. Huhuhu! Kalau ada liburan lagi, mungkin saia bakal bikin SasuHina lagi dalam cerita yang baru. *ngacungin jempol ala Lee* si Itachi, maksa banget perannya. Tapi… biarlah. Sampai akhir, yayangku tetap muncul~ *ditojos Itachi FC*

Yosh~!

Terimakasih untuk semua yang telah membaca, meriview, mengalert, dan mem-fave

Love you All~!

Sayonara.

.

.

.

Chapter Special

The Blossom Story

(Sakura POV)

Liburan musim panas yang menjengkelkan, tentu saja aku tidak ingin menghabiskan waktu liburku di rumah, mengipas-ngipas layaknya seorang pemalas yang kurang kerjaan. Jadi kuputuskan untuk menambah pengalamanku dengan bekerja di restoran 'Hawaii Sense' yang hanya buka di musim panas dekat pantai Konoha. Itu karena, PR musim panasku sudah selesai dan aku jadi nganggur. Daripada disuruh-suruh oleh ibu yang tidak ada upahnya, lebih baik aku bekerja. Hehe..!

Restoran pinggir pantai itu kelihatan sederhana namun, dekorasi yang seolah-olah bagaikan di hawaii itu benar-benar membuatku serasa liburan juga. Ditambah lagi, banyak pelayan-pelayan keren yang sepertinya bisa menjadi target baru untukku setelah Sasuke menolakku dan jadian dengan Hinata.

"Selamat siang!" aku memasuki restoran itu, dan langsung menanyai salah seorang pelayan berambut merah yang cukup keren di sana tentang pemilik restoran ini. Ternyata sang pemilik sedang bermain di pantai. Apakah kata bermain tidak terlalu kekanak-kanakkan untuk seukuran pria yang sudah bekerja? Mungkin, ada pertemuan. Yah, itu sih menurutku.

"Memangnya ada apa kau ingin menemui pemilik restoran ini?"

"Eh? I-itu.. aku mau melamar pekerjaan di sini," balasku hati-hati. Siapa tahu, cara berbicara juga di jadikan tolok ukur dalam penerimaan pekerja baru.

"Hm.. begitu," orang itu memperhatikan sekeliling tubuhku. Sepertinya, dia kelihatan sedang menilai, tapi dengan cara yang aneh!

"Kau lulus, silahkan ganti pakaianmu di ruangan pekerja,"

"Hah?" aku kaget, orang berambut merah dengan wajah anak-anak itu tiba-tiba saja berkata demikian.

"Tenang saja, aku di percaya oleh pemilik restoran ini untuk menerima pekerja-pekerja baru. Namaku Sasori, salam kenal," aku membalas jabatan tangannya,

"Haruno Sakura, salam kenal," orang ini, sebenarnya masih SMA atau sudah kuliah ya? Rasanya wajahnya memang seperti anak SMA tapi.. kelihatannya dia orang dewasa.

"Sasori, jangan menggoda wanita saja," seseorang berambut cokelat panjang memasuki restoran ini dalam keadaan menggosok-gosok rambut basahnya dengan handuk dan tubuh yang bertelanjang dada. Sumpah! Satu ruangan menjerit histeris gara-gara dia! "Kerja dong– lho? Sakura?"

Dan yang lebih membuatku kaget, ternyata orang yang kumaksud adalah Neji! Kenapa bisa be-begini?

"Maaf Hyuuga-san, orang ini baru saja melamar pekerjaan di sini,"

Hyuuga-san?

"Oh.. begitu. Suruh Sakura mengganti bajunya langsung," Sasori nyengir dan mendorongku memasuki ruangan pegawai.

"T-Tunggu dulu, memangnya Neji siapa? Kok, memerintahmu?" Sasori berhenti mendorongku,

"Kau bilang kau ingin bertemu dengan pemilik restoran ini? Ya dia itu pemiliknya,"

JDERRR!

"APA?"

"Memangnya kau tidak tahu?" aku menggeleng pasti. Wajar saja kan, Neji itu masih kelas dua SMA, mana mungkin aku kepikiran kalau dia itu pemiliknya.

"Keluarga Hyuuga mewarisi restoran di pinggir pantai ini untuk di urusi olehnya. Makanya, sekarang dialah yang menjadi pemilik baru restoran,"

"O-Oh.."

"Ya sudah, ganti bajumu sana–"

"A-Ano Sasori, umurmu berapa?" tiba-tiba saja aku melontarkan kalimat pengalih. Kenapa tiba-tiba aku mengucapkan kalimat seperti itu ya?

"30 Tahun, kenapa?"

JDARR!

"M-mustahil! Kukira masih SMP!"

"Kau menghinaku ya?"

"E-eh.. maksudnya masih sekolah, hehe," Sasori menghela nafasnya,

"Aku cuman bercanda.. umurku masih 22 Tahun,"

Shock-ku masih belum sembuh. Tetap saja 22 Tahun bagiku terlalu tua untuk wajahnya.

"Mohon kerjasamanya ya," ugh! Sparkling eyes nya juga luarbiasa.

"I-iya," wajah memerahku tidak bisa di sembunyikan lagi!

oOo

tepat waktu tengah hari, para pengunjung pantai semakin ramai berbondong-bondong masuk ke restoran 'Hawaii sense' milik keluarg Hyuuga. Kebanyakan orang memesan es limun atau tropical fruit yang dapat menghilangkan dahaga mereka.

"Antarakan ke meja 5 ya Sakura,"

Aku mengambil nampan yang di berikan oleh salah seorang pegawai lainnya.

Ternyata…

Meja 5…

T-Ternyata,

"Wah, Sakura beneran kerja sambilan di sini ya?" seorang gadis berkulit putih susu duduk di meja lima dengan seorang pria, dan berlambaian ke arahku,

"H-Hinata! S-Sasuke? K-kalian kenapa ada di sini?" gadis itu tersenyum,

"Hari ini kudengar dari kakak, katanya kau kerja di sini, jadi aku ingin melihatnya karena kebetulan aku dan Sasuke sedang jalan-jalan tidak jauh dari 'Hawaii sense," akhir-akhir ini Hinata jadi terlihat lebih kewanitaan. Gaya bicaranya berubah, dan yang paling utama, aura gadisnya benar-benar keluar. Jadi, terlihat lebih manis,

"Pelayan, es limunnya mana?" cowok bersuara bass di sebelahnya memanggilku. Kok akhir-akhir ini Sasuke juga berubah jadi semakin menyebalkan ya?

"Ini TUAN. Huh. Dan, Ini untukmu Hinata-chan. Selamat menikmati~!"

"Kok perlakuanmu kepada Hinata berbeda dengan perlakuanmu terhadapku!"

"Kenapa? Kau iri ya, Sasuke~ hihi! Sudah ya, kutinggal kalian,"

Seperti biasa, pasangan yang tak terprediksi. Mereka berdua sukses membuat seluruh mata di restoran memandang karena keributan yang terjadi setelah kutinggal keduanya. Enaknya punya cowok.. aku jadi iri dengan Hinata.

Hah..

Tapi kerja sambilan ini juga tidak semudah yang kukira,

"Pelayan! Kopinya mana?"

"Pesananku kok belum di antar?"

"Kami tidak memesan Seafood,"

"WAAAA!"

Mataku berputar-putar. Duuh! Kenapa jadi begini? Kemana pelayan yang lainnya? Tolonglah aku! Siapa saja!

"Sakura? Kau tidak apa-apa?" seseorang menahan tubuhku yang hampir saja ambruk menyentuh lantai.

"N-Neji-nii?" aku merapikan rokku dan melepaskan tubuhku dari tangannya. Seperti biasa, cowok itu melempar senyumannya kembali, saat ketika ia memberiku lollipop, "Ee.. aku tak apa-apa.. hanya sedikit kelelahan,"

"Kalau begitu ayo istirahat,"

Aku kaget.

Tiba-tiba saja tangannya membawaku ke meja yang terletak di luar bangunan restoran. Meja tersebut berada di balkon dengan pemandangan menghadap ke laut. Dan lagi… di meja yang kami tempati telah tersedia makanan dan minuman yang sudah di tata sedemikian mungkin?

"Silahkan,"

"I-Ini..? untukku?" Neji mengangguk dengan wajah tersenyumnya,

"Tentu saja. Sekarang, kau lah yang menjadi tamuku, nona Haruno,"

Atmosfir di tempat ini, jadi terasa berbeda.

"K-kenapa, kau harus repot-repot menyediakan semua ini?" aku memandangi piring-piring di atas meja yang begitu banyak dan kelihatan lezat,

"Soalnya, aku ingin mempersiapkan semua hal yang terbaik untuk orang yang kusukai,"

DEG.

A-apa yang dia bilang tadi?

"Sakura," cowok itu memandangku lurus dengan tatapannya yang terlihat menyiratkan kalimat 'lihat aku, "Kau sadar t-tidak sih.. kalau, aku menyatakan perasaanku kemarin di sekolah?"

Rona wajah kemerahanku meluber kesetiap permukaan,

"K-kupikir... kau, h-hanya bersimpati k-kepadaku, waktu itu. T-tapi, Aku.. s-senang sekali,"

"Kalau begitu, kau mau menerimaku?" wajahnya terlihat antusias,

"T-tapi, orang sepertimu.. dengan o-orang sepertiku.. rasanya, kurang pantas.." entah kenapa aku menjadi minder. Yah, Hyuuga Neji, anak dari keluarga Hyuuga yang super elit dan keren, nyaris mendekati karakter Mary-sue. Sedangkan aku, kelebihanku hanya otakku saja yang lumayan bisa di andalkan.

"Masa bodo… pokoknya, kau harus menjadi milikku, Sweet Blossom," kecupan singkat di bibirku, sukses membuatku tak bisa bergutik dan terhanyut dalam kemauannya.

"N-Neji," aku mengusap bibirku dengan wajah yang memerah. Rasanya, sifat Neji yang main serang seperti ini, mengingatkanku pada seseorang. Hinata.. pernah bercerita tentang sosok ini tapi, Siapa ya?

End of Sakura POV

End

.

.

How about we continuing this?

"Yang mengajari Neji seperti itu aku," seorang bocah berambut spiky ngomong dengan bangganya di antara teman-teman yang mengintip adegan Sakura dan Neji dari balik semak-semak.

"S-Sasuke… jangan tularkan kemesumanmu dengan kakakku dong,"

"Wah, Hyuuga-san menciumnya. Tapi, mengintip dari sini mengingatkanku dengan masa muda," seorang pria berambut kemerahan ikutan ngintip bareng pasangan tak-terprediksi, Sasuke dan Hinata.

"Wakh!"

"Hah! Siapa kau?"

Sekaget apapun, tetap saja Author yang paling kaget dengan gaya bicara Sasori yang mendadak Guy-Lee-isme begitu.

"Kau.. Sasuke ya?" tanya pria itu balik,

"Kok? Bisa tahu?" kali ini Hinata yang kaget. Memangnya Sasuke itu se-Famous apa sih?

"Hehe…" cowok itu hanya nyengir dengan cengiran yang sukses membuat gadis-gadis mati mendadak kecuali Hinata.

"Yo, komplotan orang bodoh, ngapain ngintipin orang? Nggak baik tau," dibelakang mereka muncul sesosok pria berambut hitam pendek dengan tubuh tegap menepak salah satu diantara ketiga orang yang bersembunyi di balik semak-semak.

"Aw! Akh! Itachi-aho? Kenapa ada di sini?"

"Itachi-nii? Potong rambut?"

"Ah, kau.."

Yang di panggil langsung menyentil hidung Hinata,

"Jangan meniru sifat goblok mendadak cowokmu dong, Hinata.. nanti sifat manismu menghilang,"

"Koraa! Jangan sentuh Hinata!"

"Apa sih Sasuke… setelah sekian lama abang tercintamu ini pergi, sekarang elo malah bersikap kayak gini?"

"Arrggh! Hinata! Kita pergi saja dari sini!" dan, kedua pasangan yang sedang kasmaran (?) itupun berlalu meninggalkan Sasori dan Itachi berduaan.

oOo

"Sasori… lama tak jumpa," yang di sapa kembali menatap Itachi dengan babyface nya,

"Hm… gimana kabarmu?"

"Baik," jawab Itachi sekenanya,

"Kau memotong rambutmu?"

"Hm.. begitulah,"

Hening.

Suara jangkrik mendominasi latar suasana mereka,

"Kudengar, kau putus dengan si 'xx' karena dia bilang kau seorang gay ya?"

"HAH! APA?" mata Itachi langsung melotot nggak jelas, "Kubunuh cewek ituuu!"

"Bercanda Itachi, haha!" yang di ketawain langsung menarik urat wajahnya kembali ketempat semula,

"Hah.. kukira," cowok itu mengelap peluh-peluh keringatnya, "Bagaimana kabar Akatsuki?"

"Bubar," kali ini Sasori yang balas sekenanya,

"Bubar?"

"Maksudnya, kami tidak berkelompok Akatsuki lagi. Tapi, tahu tidak? Sekarang Pain jadi guru TK di Konoha-Kindergarten. Dia bilang, panggilan jiwa,"

"HA?" Itachi mendadak cengo. Sahabatnya yang pernah membully-nya, sangar, beringas, beranting, mental preman, bisa-bisanya jadi GURU TK?

"Kaget kan? Aku saja yang mendengar ucapannya yang antusias itu lebih kaget lagi. Sekarang, hobi Pain malah bermain dengan anak kecil. Entah, tuyul apa yang bikin dia jadi begitu?"

"Oh.." Itachi terlihat senang dengan pernyataan bahwa Pain yang sekarang telah berubah. Sampai-sampai ia tidak sadar kalau wajahnya yang err.. aneh itu di perhatikan dengan seksama oleh Sasori,

"Itachi? Aku masih suka dengan cewek tau," terserah anda mau mengartikannya sebagai apa. Yang merasa tersindir langsung membalasnya,

"Kenapa Sasori? Kau kan agak-agak mirip cewek kalau sedikit berdandan.. kencan denganku yuk," yang diajak kencan langsung muntah-muntah bagaikan sakitnya menelan tang. Sementara Itachi ngakak di dalam batinnya. Muka Sasori yang seperti itu patut di abadikan.

"Psst.. Itachi juga berubah jadi lebih parah…" cowok yang baru saja memotong pendek rambutnya ini mengalihkan pandangannya ke sumber suara yang kelihatannya menyebut-nyebut namanya,

"K-kaliaan?"

"Halo..!"

Berdirilah sekelompok orang yang miskin gadis (karena dikumpulan itu hanya ada seorang cewek saja) dengan wajah kanak-kanaknya dan berlambaian dengan gaje kearah Itachi. Yang diberi dadah-dadahan ikutan jejak Sasori, muntah-muntah.

"Pain.. dan yang lainnya sedang apa?" tanya pria berambut merah yang baru saja mengoleskan 'Caplang' ke lehernya.

"Kudengar kau kerja di sini. Aku bermaksud mengajakmu kembali menjadi anggota kami yang baru saja membentuk grup baru. Dan, Aku tidak menyangka kalau akan ada Itachi di tempat kerjamu, sungguh seperti Mukjizat!" Pain ceramah kayak presiden yang lagi ngomongin visi-misi. Sementara anggota yang lainnya duduk dengan manis memperhatikan ceramahannya bang Ketua kayak anak TK yang lagi nonton film Godzilla versus Jiraiya (?).

"Hah? Grup baru?" tanya Itachi bingung. Sementara Pain menyembunyikan sesuatu di balik senyuman mencurigakannya.

"Iya.. sekarang grup kita adalah Topeng-Monyet Lopers!"

"AKU MENOLAK MASUK," Sasori dan Itachi mengucapkan kalimat yang bersamaan. Ajegile! Mendingan gue masuk ke klub pecinta Toge sekalian! Batin Itachi manyun-manyun.

"Haha! Cuman bercanda!" jitak Pain yang mengapit Itachi dan Sasori bersamaan.

"Lama tak jumpa ya… maaf, selama ini aku selalu bertindak kasar kepadamu,"

Dan, adegan tangis haru antara Pain dan Itachi pun berlangsung kemudian.

"Akatsuki kembali ngumpul ya.. ayo cerita-cerita.. sudah lama kita nggak ngobrol bareng kayak gini," ucap Hidan dengan gaya lebayismenya.

"Gue kangen banget ama lo Sas.. ngilang nggak kontak-kontak gua!" yang rambutnya kuning panjang langsung meluk Sasori spontan.

"Hwaaa! Dei! Lepasin!"

"Tobi mau peluk Itachi aja De–" sang Uchiha Itachi langsung menojos orang gila yang sama-sama bermarga Uchiha dengannya, "Ngarep lo Tob!"

"Udah-udah! Gue laper nih.. ayo makan," Konan, si perempuan satu-satunya itu pun mengajak para komplotan gaje-nya untuk masuk ke restoran 'Hawaii sense'

"Okeee!"

Dan Grup yang mengaku-ngaku Topeng-monyet Lovers ini pun kembali bersatu.

Itachi kembali dengan sahabat-sahabat lamanya.

Sasuke dan Hinata sedang melakukan kegiatan yang tidak ingin di ekspos oleh khalayak ramai.

Neji dan Sakura baru saja jadian meskipun nggak bisa berduaan untuk sementara waktu karena pelanggan di restorannya menjadi ramai atau yang lebih tepatnya di sebut dengan kata 'Ricuh' akibat Akatsuki.

Happy Ending selalu menjadi yang terbaik, ya kan?

.

.

Really, End