Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic© Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, death charas, contain OCs

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

Chapter 20: Terms of Service

"Gil! Bangunlah! Kumohon!"

Kenapa dia terus memanggilnya dengan nama itu? Namanya bukan Gil. Bukan, namanya bukan itu.

Orang yang sedari tadi terus mengguncangnya berhenti. Dengan sebuah bisikan terkejut, dia berkata, "Kau bukan Gil!"

Memang bukan.

"Hei! Kau baik-baik saja, kan?"

Kenapa dia terdengar begitu khawatir? Dia tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya, kan?

Tangan orang itu menyapu pelipisnya, menyentuh cairan lengket yang berada di sana. Dia bisa mendengar orang itu mendesah terkejut, "Kau berdarah!"

Tentu saja dia berdarah! Setiap orang pasti mengeluarkan darah apabila mereka mengalami hal yang sama dengannya, bukan?

"Hei! Angkat kepalamu! Jangan seperti orang mati saja!"

Orang mati? Bahkan kematian terlalu mewah untuknya! Tak peduli sekejam apa mereka menyiksanya, tak peduli berapa banyak darahnya yang keluar, tak peduli seberapa lama dia dikurung di ruangan tanpa cahaya itu, maut tidak juga mengunjunginya.

"Geez, kau tuli, ya?"

Dia sama sekali tidak tuli, dia mendengar setiap kata yang orang itu ucapkan.

Siapa dia?

Kenapa dia begitu peduli padanya yang merupakan 'anak iblis'?

"Oke, sepertinya kita harus memulai dari awal! Baiklah, namaku Elliot! Kau?"

Nama, siapa namanya?

Sekarang sudah tidak ada lagi orang yang memanggil dia dengan namanya. Dia bahkan hampir melupakan namanya sendiri. Tetapi, dia samar-samar mengingat seseorang memanggilnya dengan namanya. Ibunya? Atau ayahnya? Entahlah.

Namanya… Namanya adalah…

"Reo…"

.

Hari sudah siang ketika Reo bangun.

"Ouch!" gumamnya ketika dia merasakan rasa sakit yang menyengat di sisi wajahnya. Dengan perlahan, dia meraba pipi kanannya dan jari-jarinya meraba permukaan perban yang berada di sana. Pendarahannya sudah berhenti, tetapi rasa sakitnya masih ada.

"Aku …dimana?" pikirnya.

Dia jelas tidak berada di markas Pandora, ataupun di tempat dia dikurung oleh Dark Sabrie. Dia sama sekali tidak mengenali ruangan cat putih tempat dia berada. Permukaan empuk tempat dia berbaring bukanlah permukaan kantung tidur yang selalu dia tiduri setiap malam. Dan cahaya matahari yang berasal dari celah-celah tirai jendela, bukan cahaya yang sama seperti di Pandora.

Secara otomatis, tangan kanannya bergerak untuk mengambil kacamatanya yang selalu dia letakkan di sampingnya ketika dia tidur. Tetapi, dia tidak menemukannya. Kemudian dia ingat kalau kacamatnya jatuh ketika Dark Sabrie menangkapnya.

Reo berusaha untuk duduk, tetapi usahanya itu malah memberinya sakit kepala yang hebat. Rupanya kombinasi antara kehilangan darah dalam jumlah besar dan trauma karena dikurung di ruang bawah tanah dalam waktu yang cukup lama bisa menghasilkan sakit kepala sehebat ini! Dia mengerang pelan dan memegangi kepalanya yang berdenyut menyakitkan. Dia bertanya-tanya sudah berapa lama dia tidak sadarkan diri. Dua hari? Tiga?

"Ouch! Reo! Tidak usah tendang-tendang!" terdengar gerutuan mengantuk seseorang. Rupanya gerakan Reo yang tiba-tiba tadi telah menyebabkan orang yang menemaninya terbangun.

Reo menyipitkan matanya, mencoba melihat orang yang masih bersungut-sungut itu dengan lebih jelas. Setelah berada di dalam kegelapan dalam waktu yang cukup lama, cahaya yang cukup terang di ruangan itu membuat kedua matanya sakit.

"Elliot?" tanyanya dengan ragu.

"Kau kira siapa lagi?" kata Elliot, masih menggerutu. Dia rupanya sedang duduk di sebuah bangku kayu di samping tempat tidur Reo dan tertidur dengan kepalanya beristirahat di atas kasur Reo "Lain kali, jangan duduk tiba-tiba seperti itu! Kau kira enak tidur dengan posisi seperti itu dan tiba-tiba terkena tendangan seseorang?"

Reo tersenyum ketika mendengar pertanyaan Elliot yang sebenarnya tidak perlu dijawab itu. Yep, dia memang Elliot! pikir Reo

Reo membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tetapi yang keluar hanyalah suara serak yang terpatah-patah. Elliot segera mengerti apa yang dibutuhkan Reo dan bergegas mengambil segelas air yang berada di samping meja Reo. Reo meminum air itu dengan rakus. Dia tidak menyadari betapa hausnya dirinya.

"Trims…" gumamnya setelah dia menandaskan isi gelas itu.

"Jadi," Elliot menyimpan gelas yang sudah kosong itu kembali di atas meja, "apa yang kau mau katakan tadi?"

"Kita ada dimana?"

"Rumah kos milik Reinhart." jawab Elliot setelah dia duduk kembali di bangkunya dan menggesernya hingga sekarang dia berada persis di samping kepala Reo. Reo memiringkan posisi tubuhnya agar dia bisa melihat wajah sahabatnya.

"Eh? Kenapa kita bisa berada di sini?" tanya Reo bingung. Tiba-tiba, sebuah kesadaran menghantamnya, "Apakah ini yang kau maksud dengan kita tidak kembali ke markas?"

Elliot mengangguk, ekspresinya suram. "Tikus-tikus itu membakar markas Pandora! Nyaris tidak ada yang tersisa! Kita beruntung kita bisa selamat tanpa luka sedikit pun, kecuali Break. Dia terpaksa masuk kembali ke markas untuk menyelamatkan kotak Pandora."

Sumpah serapah segera keluar dari mulut Reo. Elliot tidak menghentikan Reo dan hanya sesekali mengangguk kecil untuk menanggapi perkataan Reo.

Butuh beberapa saat bagi Reo untuk menenangkan dirinya. Akhirnya, dia berhenti dan kembali bertanya, "Jadi, mereka semua sudah tahu tentang Vincent?"

Elliot kembali mengangguk, ekspresinya yang sudah suram menjadi semakin suram. "Mereka semua tampak seperti tersambar petir begitu kami memberitahu mereka tentang Vincent. Tentu saja yang paling shock adalah Gil. Dia mengurung diri di kamarnya dan Oz dan menolak untuk keluar. Oz sampai terpaksa tidur di kamar Break karena Gil menolak untuk membiarkan dia masuk. Zwei juga tampak sering mendengar Echo berbicara sendiri, mungkin sedang berusaha untuk menenangkannya."

"Semuanya kacau, ya?" gumam Reo.

"Ya, kacau!" Elliot menyetujui.

"Mereka belum tahu kalau aku…"

"Tenang saja, rahasiamu aman bersamaku dan Ada! Tetapi, kurasa kau tidak bisa merahasiakannya lebih lama lagi?"

"Kenapa?"

Elliot mengangkat koran yang sedari tadi dipegangnya tetapi tidak diperhatikan oleh Reo. Di halaman depan tampak foto sebuah lubang yang cukup besar di tengah kota. Reo menyadari kalau itu pasti tempatnya ditahan oleh Dark Sabrie.

"Kau membuat ledakan yang cukup besar, Reo!" decak Elliot. "Semuanya bertanya-tanya bagaimana kau bisa membuat ledakan sebesar itu tanpa meledakkan dirimu sendiri! Bahkan Ann dan Aire berkata mereka tidak bisa membuat ledakan sebesar itu!"

"Rupanya aku sudah tidak bisa merahasiakannya lagi, ya?" gumam Reo.

"Yup."

"Well, kurasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberitahu mereka. Aku sudah merahasiakannya terlalu lama."

"Benar sekali!" kata Elliot menyutujui.

"Omong-omong, sudah berapa lama aku pingsan?"

"Sekitar dua hari. Aku kagum kau bisa sadar dalam waktu yang cukup cepat setelah kehilangan begitu banyak darah! "

"Selama itu?" tanya Reo heran yang diikuti oleh anggukan Elliot.

"Kemana yang lain? Apa mereka semua sedang tidur?" tanya Reo lagi.

"Gil masih mengurung dirinya di kamar. Aku terakhir kali melihat Echo berada di kamarnya dan Alice, masih berusaha menenangkan Zwei. Sharon dan Ada sedang memasak untuk makan malam di dapur bersama Aire, sementara Oz, Alice dan Break sedang berlatih menembak di ruang latihan bersama Will."

"Rumah kos macam apa yang memiliki ruang latihan untuk menembak?"

"Well, pemilik rumah kos ini adalah Reinhart. Jadi itu tidak terlalu mengherankan."

Elliot bangkit berdiri. "Sebaiknya kau tidur sekarang! Kau memerlukan waktu untuk istirahat! Aku akan memberitahu yang lain kalau kau sudah sadar. Mungkin mereka semua akan datang ke sini setelah makan malam."

Reo mengangguk pelan. Kedua kelopak matanya terasa berat. Sepertinya air yang tadi diminumnya sudah dicampur obat tidur. "Omong-omong tentang makan malam, nanti bawakan aku sedikit! Aku lapar!"

Elliot tersenyum geli, "Tentu saja!

.

Elliot memperhatikan wajah sahabatnya yang sedang tertidur. Wajah Reo tampak begitu damai ketika dia sedang tertidur.

Elliot lega karena Reo tidak menunjukkan gejala-gejala trauma karena terkurung di ruang bawah tanah dalam waktu yang cukup lama. Kali terakhir Reo terjebak di ruang tanah adalah ketika dia sedang berlatih sendirian di ruang bawah tanah dan kunci pintu tingkap Pandora rusak. Butuh waktu hampir sehari penuh bagi mereka untuk membuka pintu itu dan selama seminggu setelahnya, mereka harus terus-menerus membujuk Reo agar anak laki-laki itu mau makan.

"Kurasa, dia sudah semakin dewasa." pikir Elliot.

Dia masih mengingat kali pertama dia bertemu Reo. Butuh beberapa kali kunjungan diam-diam pada malam hari untuk meyakinkan Reo kalau dia tidak sedang bermimpi, dan butuh beberapa kali kunjungan lagi untuk membuat Reo memercayainya. Elliot bertanya-tanya bagaimana Reo bisa melewati semua itu tanpa menjadi gila sepenuhnya. Kalau Elliot berada di posisi Reo pada saat itu, mungkin dia sudah menjadi penghuni rumah sakit jiwa sekarang.

Elliot mendengar pintu kamar dibuka dan ketika dia menoleh, dia melihat Ada menyembulkan kepalanya melalui celah pintu itu.

"Boleh aku masuk?" gadis itu bertanya. Elliot mengangguk dan Ada melangkah masuk. Di tangannya terdapat sebuah nampan dengan dua buah mangkuk dan gelas.

"Kudengar Reo sudah bangun. Apa informasi yang kuterima salah?" tanya Ada bingung.

"Dia sempat bangun tadi, tetapi kembali tidur. Omong-omong, apa itu?" tanya Elliot sambil menunjuk nampan yang dibawa oleh Ada.

"Kau lupa untuk makan siang, Elliot! Kukira Reo juga lapar, makanya aku membawakan kalian makanan. Tetapi Reo sudah tidur lagi."

"Memangnya aku lupa makan siang, ya?" Elliot menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Baka!" kata Ada gemas. Dia menyerahkan salah satu mangkuk berisi sup ayam kepada Elliot dan meletakkan nampannya di meja samping tempat tidur Reo.

Elliot memeriksa mangkuk di pangkuannya, "Kau yang memasak ini?" tanyanya.

"Iya, memang kenapa?"

"Kau tidak mencampurkan barang-barang aneh atau racun ke dalamnya, kan?" tanya Elliot yang sudah sangat mengenal kebiasaan Ada yang suka bereksperimen dengan bahan-bahan dapur, baik yang berbahaya ataupun tidak.

"Tidak! Tapi idemu tentang racun boleh juga. Kurasa aku akan mencobanya lain kali!" kata Ada sambil tertawa kecil, membuat Elliot bergidik ngeri. Dia mengingatkan dirinya untuk tidak sembarangan memakan masakan Ada tanpa mengetahui bahan-bahan apa yang digunakannya terlebih dahulu.

"Bagaimana dengan Gil?" tanya Elliot.

"Will tadi membuka paksa pintu kamar Gil dan sekarang Oz sedang berusaha membujuknya untuk makan. "

"Ck, apa sebegitu sayangnya Gil kepada Vincent sampai dia bersikap seperti itu?" desis Elliot, kesal dengan kakaknya.

"Hey! Vincent kan juga kakakmu! Memangnya kau tidak sedih ketika kau mengetahui kalau dialah pengkhianatnya?" tanya Ada kesal.

Elliot tidak menjawab pertanyaan Ada dan memilih untuk meneruskan makan. Sebenarnya, Elliot juga sempat shock dan sedih ketika dia mengetahui kalau kakak yang dipercayainya mengkhianatinya. Tetapi, bukan Elliot namanya kalau dia mengakui itu.

"Aku mungkin tidak tahu apa yang kau rasakan sekarang, Elliot." kata Ada lembut. "Tetapi, walaupun kau sekarang membenci Vincent setengah mati, dia tetap saudaramu."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Ada meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Elliot yang kini sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Kau benar, Ada… Aku memang sedih…" bisiknya pelan.

"Tapi, mengurung diri dan menolak makan tidak akan mengubah apa-apa, Vincent telah mengkhianati kita. Aku bisa berduka nanti, setelah Pandora menang!"

.

"Jadi, ceritakan semuanya!" perintah Oz.

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Semua anggota Pandora, mereka berhasil menyeret Gil dari kamarnya, berkumpul di kamar tempat Reo berada. Ann, Aire dan Will juga ada di sana. Selain itu, ada dua orang dokter yang tadi sedang memeriksa Reo sebelum mereka semua datang. Entah kenapa kedua dokter itu tampak memperhatikan Alice dengan tertarik, sementara Alice berusaha untuk menghindari kedua dokter itu dengan bersembunyi di belakang Ada.

"Dari awal?" tanya Reo yang sekarang sedang duduk di atas tempat tidurnya.

"Ya, dari awal!" jawab Oz.

"Tunggu dulu!" sela Alice.

"Kenapa Alice?" tanya Oz, yang tampak sedikit terganggu karena selaan Alice.

"Ann, Aire, bisa jelaskan kenapa dua orang itu bisa ada di sini?" geram Alice sambil menunjuk kedua dokter itu.

"Oh, mereka berdua dokter pribadi Reinhart!" jawab Aire sambil menatap kedua dokter itu.

"Memangnya kenapa Alice?" tanya Ann bingung.

"Seharusnya kalian sudah mati!" geram Alice dengan suara rendah, seperti suara seekor kucing yang tersudut. Perkataan Alice itu langsung mengundang komentar "Eh?" dari semuanya, kecuali kedua dokter itu yang malah tersenyum simpul.

"Alice, tidak baik membawa kembali dendam lama di sini!" kata salah seorang dari mereka dengan santai. Dia adalah seorang laki-laki berambut putih yang cukup panjang.

"Dia benar, Alice!" temannya menyetujui. Dia adalah seorang perempuan berambut merah yang disanggul di belakangnya. Dia dan temannya memakai jubah dokter panjang berwarna putih.

"Dendam, katamu? Heh, aku hanya ingin membalas apa yang telah kalian lakukan kepadaku dan Alyss!" desis Alice.

"Bukannya itu bisa dikategorikan sebagai dendam, ya?" tanya si dokter laki-laki dengan nada polos.

"Erm, Alice? Kurasa ini semua bisa menunggu sampai kita selesai mendengar cerita Reo?" kata Ada dengan gugup.

"Kalian semua tidak mengerti! Mereka berdua adalah dokter dari tempat aku dan Alyss berasal!" pekik Alice marah, yang kembali mengundang reaksi "Apa?" dari semuanya.

Ann dan Aire berbalik menghadap kedua dokter itu, "Kalian bilang kalian adalah dokter medan perang!" tuduh mereka berdua.

"Itu semua adalah masa lalu." kata si dokter perempuan. "Aku dan Revis sekarang menjadi dokter baik, kok!"

"Dokter baik, tetapi bekerja untuk kelompok mafia terbesar di Sabrie? Oookeeee!"

"Alice!" kata Oz tajam. "Apapun masalahmu dengan kedua orang itu, itu bisa menunggu, oke?"

"Huh, mereka berdua tidak pantas disebut orang! Mereka lebih pantas disebut binatang!"

"Alice!"

"Oke, aku akan diam sekarang! Tapi jangan kira urusan kita sudah selesai, Revis! Miranda!" ancam Alice kepada kedua orang itu.

"Kami akan mengingat itu, Alice!" kata Miranda sambil tersenyum.

"Sekarang, bisa kita dengar cerita Reo?" tanya Break yang sedari tadi diam.

"Apa tidak apa-apa mereka mendengarkan?" tanya Elliot sambil menatap Ann, Aire, Will, Miranda dan Revis.

"Mereka tuan rumah kita! Mereka berhak tahu apa yang terjadi!" kata Oz yang diiringi anggukan teman-temannya.

"Oke! Apa aku bisa mulai sekarang?" tanya Reo dengan sedikit kesal.

"Oke, kau bisa mulai sekarang!"

"Baiklah, tapi jangan menyela atau bertanya dulu!"

Maka Reo pun menceritakan semua yang telah dialaminya. Dia menceritakan bagaimana dia bisa ditangkap oleh Dark Sabrie. Dia menjelaskan dengan rinci percakapannya dengan Vincent, dia berusaha untuk tidak menatap Gil, Elliot maupun Zwei pada bagian ini. Kemudian dia menceritakan saat-saat ketika dia melarikan diri sebelum ditemukan oleh Elliot dan Ada.

"Tunggu, Reo!" sela Sharon. "Ada bagian dari ceritamu yang hilang! Bagaimana kau bisa melarikan diri dari sana? Dan, demi Tuhan! Bagaimana kau bisa membuat ledakan sebesar itu? Kau tidak sedang kebetulan membawa bom dengan kekuatan eksplosif sebesar itu, kan? Tunggu, Pandora bahkan tidak punya bom!"

Reo mendesah, "Sudah kuduga kalian akan menanyakan itu! Well, kurasa aku telah merahasiakannya terlalu lama!"

"Kau merahasiakan apa dari kami, Reo?" tanya Gil dengan ingin tahu.

Tanpa banyak berkata-kata, Reo menyingkap lengan baju tangan kirinya. Entakan nafas terkejut terdengar dari teman-temannya, kecuali Elliot, Ada, dan yang paling mengejutkan, Oz.

"Reo… kau!" kata Break tertahan.

Di lengan kiri Reo, di tempat yang tertutup oleh lengan bajunya, terdapat sebuah tato bermotif rantai yang melingkari lengan atasnya.

"Kau… kontraktor? Tapi… bagaimana bisa?" desis Alice ketika dia melihat tato itu.

"Aku tidak terkejut." kata Oz tenang.

"Eh? Kakak sudah tahu?" tanya Ada bingung.

"Aku pemilik sah kotak Pandora, Ada! Tentu saja aku tahu siapa saja yang telah mengikat kontrak dengan kotak itu, tetapi aku tidak tahu Reo mengikat kontrak dengan siapa!" Oz menjelaskan.

"Tetapi, kenapa kau juga ikut merahasiakannya, Oz?" tanya Elliot dengan nada heran.

Oz mengangkat bahunya, "Karena aku memercayai Reo! Ketika dia bilang dia tidak berhasil mengikat kontrak, aku memilih untuk tutup mulut. Aku yakin Reo merahasiakannya untuk alasan yang bagus."

"Aku tidak yakin ini alasan yang bagus atau tidak…" bisik Reo. "Aku hanya takut, itu saja!"

Kedua iris Oz melebar, "Takut? Nah, ini baru membuatku terkejut!"

"Chainku bukan chain biasa. Setiap kali aku menggunakan kekuatannya, penglihatanku semakin menajam. Dan itu adalah hal yang ingin kuhindari sebisa mungkin! Setelah ledakan yang kulakukan kemarin dulu, penglihatanku meningkat dengan drastis!" Reo menjelaskan.

"Maaf, aku tidak mengerti!" sela Will, yang diikuti oleh anggukan Aire dan Ann.

"Contohnya," Reo menunjuk ke sebuah titik di samping Ann, "disebelah kananmu, Ann, ada seorang anak laki-laki berusia kira-kira tujuh belas tahun dengan rambut cokelat dan mata biru. Dia memakai sebuah celana jeans berwarna biru dan kaus berwarna hijau daun dan dia memiliki sebuah luka tembak yang masih berdarah tepat di atas jantungnya." Reo berusaha mendeskripsikan sosok arwah yang dilihatnya. Merasa dipanggil, arwah itu melambaikan tangannya, walaupun hanya Reo yang bisa melihatnya.

Ann menoleh dan sedikit merinding, "Yoven?"

"Ini dulu memang kamar Yoven, sih…" kata Will.

"Siapa Yoven? Dan apa yang kau maksud dengan dulu?" tanya Elliot.

"Yoven adalah salah satu anggota Reinhart. Dan yang dimaksud dengan dulu, yah, dulu! Dia terbunuh beberapa bulan yang lalu ketika kami sedang bertempur dengan Clockwork. Penampilannya ketika meninggal sama persis dengan deskripsi Reo tadi, dan dia meninggal karena sebuah peluru menembus jantungnya!" jawab Will.

"Hei, Reo! Bukannya dulu kau hanya bisa melihat arwah dalam kondisi gelap atau remang-remang?" tanya Elliot sambil melihat ke langit-langit, dimana sebuah lampu berdaya besar terpasang.

Reo menggelengkan kepalanya, "Karena ledakan kemarin, sekarang aku bisa melihat arwah dalam kondisi apapun! Kalau aku menggunakan kekuatan chainku dalam kekuatan besar seperti kemarin lagi, mungkin aku tidak akan bisa membedakan yang mana yang masih hidup dan mana yang sudah mati!"

"Kurasa aku bisa mengerti kenapa Reo tidak mau memakai kekuatan chainnya." kata Gil sambil bergidik ngeri.

"Sebenarnya kau mengikat kontrak dengan siapa, Reo?" tanya Oz penasaran.

Reo menarik nafas panjang sebelum menjawab,

"Jabberwock…"

"APA?"

"Reo!" seru Zwei takjub, "Kau mengikat kontrak dengan salah satu chain pencipta Kotak Pandora, dan kau tidak memberitahu kami?"

"Aku takut akan dicap aneh oleh kalian…" gumam Reo lirih. "Maksudku, tiga dari lima chain pencipta kotak Pandora ada di Dark Sabrie, kan?"

"Lalu apa masalahnya, Reo!" tanya Oz gemas. "Kita semua adalah orang aneh! Tidak ada bedanya kalau ada satu orang aneh yang bergabung!"

"Aku tidak setuju kalau kita semua orang aneh…" gerutu Elliot.

"Tetap saja! Seharusnya kau memberitahuku tentang Jabberwock! Kalau aku tahu kau mengikat kontrak dengan Jabberwock, pasti kita sudah kotak Pandora sudah tersegel dengan aman sejak dulu!"

"Eh? Tersegel?" tanya Reo bingung. Semua orang, bahkan Break dan Sharon yang sudah cukup lama menjadi anggota Pandora, tampak bingung. Hanya Ada yang sama sekali tidak tampak bingung.

"Ini bukan salah Reo, kak!" kata Ada. "Dia sama sekali tidak tahu tentang Penyegelan!"

"Aku tahu! Tapi, tetap saja! Aargh!"

"Kalian berdua ngomong apa, sih?" tanya Break, kesal karena diabaikan oleh kedua kakak beradik itu.

"Penyegelan. Kedua kotak Pandora harus disegel sebelum mereka bisa dihancurkan!" Ada menjelaskan.

"Dan chain yang bisa menyegel maupun menghancurkan kedua kotak itu hanya ada lima! Dan mereka adalah kelima chain yang juga membantu membuat kotak Pandora! Itu berarti hanya Jabberwock milik Reo, Raven milik Gil, Griphon milik Zai, Dodo milik Rufus, dan Owl milik Glen yang bisa menyegel dan menghancurkan kedua kotak itu!" tambah Oz.

"Dua lawan tiga, ya?" pikir Elliot "Tidak cukup buruk, kan?" tanyanya.

"Sebenarnya, jumlah disini tidak terlalu berpengaruh. Asalkan kita memiliki satu saja kontraktor salah satu dari kelima chain itu, kita bisa menyegel dan menghancurkan kotak itu!"

"Kenapa informasi sepenting itu kau rahasiakan, Oz?" tanya Sharon.

"Karena iitu memang informasi rahasia yang hanya diketahui oleh keluarga Vesallius! Bahkan keluarga Baskerville yang memiliki kotak Pandora yang lain tidak mengetahui tentang penyegelan! Aku dan Ada memutuskan untuk merahasiakannya hingga seseorang yang bisa mengikat kontrak dengan salah satu dari kelima chain itu bergabung dengan kita." Ada menerangkan.

"Sebenarnya," Oz tanpa sadar menyisir rambut emasnya dengan tangannya, "kami ingin memberitahu kalian tentang ini ketika Gil dan Vincent bergabung, tetapi waktunya tidak pernah tepat! Pertama, karena Gil masih baru dengan semua urusan ini, kami memutuskan untuk menunda memberitahunya. Kemudian, perang dengan Dark Sabrie terjadi disusul dengan kematian Jack dan Alyss!"

"Sekarang," Oz kembali melanjutkan, "ada masalah baru lagi! Sekarang kita punya dua kontraktor yang memiliki kemampuan untuk menyegel dan menghancurkan kedua kotak itu!"

"Erm, Oz?" Ann mengangkat tangannya. "Sepertinya kami tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan di sana! Chain? Kontraktor? Penyegelan? Kotak Pandora? Apa arti dari kata-kata itu?"

Oz menghela nafas, "Aku akan menjelaskan semuanya kepada kalian nanti!"

"Jadi, kita mempunyai dua kontraktor yang memiliki kemampuan untuk menghancurkan kedua kotak itu. Bukannya itu malah bagus?" tanya Alice.

"Masalahnya, Alice, kita tidak tahu siapa di antara Reo dan Gil yang harus melakukannya!" kata Oz. Dia menatap Reo dan Gil yang tampak terkejut, "Maaf, tapi ini masalah yang harus kalian selesaikan oleh kalian sendiri. Kalian sendiri yang harus memutuskan siapa yang akan melakukannya!"

Gil dan Reo saling berpandangan. Sebuah perjanjian tak terucap terbentuk dari tatapan mereka. Mereka berdua akan membicarakannya nanti, setelah Reo pulih dari lukanya, dan Gil selesai mengatasi shocknya.

"Kami akan membicarakannya nanti!" kata mereka berbarengan.

"Baguslah!" Ada tersenyum, "Setidaknya satu masalah telah diselesaikan, untuk sementara!"

"Ehem!" Aire berdeham dengan cukup keras hingga semua orang menoleh ke arahnya.

"Setelah masalah kalian selesai," dia berkata, "bisakah kita membahas tentang perjanjian kita?"

"Eh? Perjanjian?" tanya Alice bingung.

"Bukankah aku sudah bilang kalau kita akan membahas soal perjanjian ketika kalian sudah menemukan Reo? Masa kalian sudah lupa?" tanya Aire sambil memutar kedua bola matanya.

"Aku ingat, kok!" sahut Elliot.

"Aku juga ingat!" sambung Oz, "Jadi, apa perjanjiannya?"

"Tunggu, perjanjian apa sih yang kalian bicarakan?" sela Reo.

"Kami akan menyediakan tempat tinggal untuk kalian semua, yaitu rumah kos ini! Kalian juga bebas untuk menggunakan semua fasilitas disini untuk kepentingan kelompok kalian dan kami tidak akan ikut campur dengan urusan kalian. Kami juga akan melatih kalian menggunakan senjata untuk pertempuran." kata Ann.

"Dengan satu syarat!" Aire menambahkan.

"Jadi, apa syaratnya?" tanya Break.

Ann dan Aire menunduk. Mereka berdua tampak tak mau berbicara lagi hingga Will terpaksa mengambil alih pembicaraan.

"Begini, apa kalian membaca koran sekitar dua minggu yang lalu?" tanyanya. Semua anak Pandora menggeleng. Mereka semua nyaris tidak pernah membaca koran.

"Baiklah kalau begitu…" Will menghela nafas, "Intinya, Reinhart dan Clockwork terlibat perkelahian besar-besaran dua minggu yang lalu. Perkelahian, atau harus kubilang perang, itu menelan cukup banyak korban dari kedua belah pihak. Nah, ayah Ann dan Aire juga menjadi korban!"

"Jadi…" gumam Zwei.

"Kalian berdua sekarang pemimpin Reinhart?" tanya Alice. Ann dan Aire mengangguk serempak.

"Jadi, apa hubungan antara perkelahian kalian dengan kami?" tanya Ada heran.

"Orang yang membunuh ayah kami bukan berasal dari Clockwork…" bisik Ann, "tetapi …"

"mereka dari Dark Sabrie!" Aire melengkapi perkataan saudaranya.

"APA?" pekik semua orang di ruangan itu kecuali Ann, Aire dan Will. Bahkan Miranda dan Revis tampak terkejut.

"Dan, setelah diusut lebih jauh, Dark Sabrie jugalah yang dulu membunuh saudara kembar Aire dan Ann!" lanjut Will.

"Sniper, ya? Pasti Zai…" gumam Gil.

"Kami telah menyelidiki semua ini…" kata Aire pelan. "Dan sepertinya Dark Sabrie telah bersekutu dengan Clockwork!"

"Kami hanya punya satu permintaan…" kata Ann, juga dengan suara pelan.

Tiba-tiba, sebuah belati melesat dari tangan Ann dan menancap di dinding tepat di sebelah kepala Reo. Gerakannya begitu cepat hingga tidak ada orang yang melihat Ann memegang pisau itu sebelum dia melemparnya. Reo beringsut menjauh dari pisau itu, takut dirinya akan menjadi target selanjutnya.

"Hancurkan Dark Sabrie!" Ann dan Aire berkata dengan penuh dendam.

TBC