Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic© Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, violence, death charas, contain OCs

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

"Permainan dimulai!"

Chapter 31: The Game Has Begun

Sharon bangkit dari bangku taman tempat dia duduk begitu dia mendengar Ada mengatakan 'nol' melalui alat transmisinya. Titik start Sharon adalah alun-alun. Sekarang dia harus mencari anggota Dark Sabrie di kota yang luas ini, berusaha agar tidak diserang oleh targetnya maupun Clockwork ketika dia melakukannya, dan berusaha agar tidak ada korban tidak bersalah yang jatuh. Tugas yang cukup 'mudah', pikirnya.

Masalahnya adalah, kota Sabrie adalah kota yang cukup besar dan mencari tujuh orang yang tidak diketahui keberadaanya diantara sekian banyak penduduk kota adalah hal yang sulit. Sharon harus mempercayai instingnya dan chainnya untuk menemukan musuhnya.

Masalah yang kedua adalah, sejak Gil menyegel Kotak Pandora, Sharon dan teman-temannya mengalami kesulitan dalam mengontak dan memanggil chain mereka. Butuh energi dan usaha lebih untuk sekedar berbicara kepada mereka, apalagi memanggil mereka. Oz berteori kalau ini adalah efek samping dari penyegelan, karena Gerbang Abyss sekarang sudah setengah tertutup. Gil dan Reo bersumpah kalau mereka berdua tidak mengetahui apa-apa tentang efek samping ini. Bagaimanapun juga, hal ini cukup merugikan pihak mereka.

"Ada? Yang lain sudah bergerak?" bisik Sharon.

Tidak ada respon dari Ada selama beberapa saat. Sharon sudah mengira kalau alat transmisinya tidak berfungsi ketika suara Ada yang bernada putus asa terdengar dari alat itu.

"Bicara satu-satu, bisa?" pintanya dengan setengah berteriak. Karena Sharon tidak bisa mendengar suara teman-temannya dari alat transmisinya, dia tidak mengetahui kalau dia dan teman-temannya bertanya pada waktu yang bersamaan dengan topik yang berbeda. Jelas saja Ada kewalahan menjawabnya.

Selama beberapa saat kemudian, Sharon bisa mendengar perkataan Ada kepada teman-temannya, "Aku bisa mendengar suaramu dan yang lain dengan jelas, kak! Dan Elliot, jangan bertanya tentang apa yang harus kau lakukan sekarang! Aku tidak tahu! Sharon, yang lain sudah mulai mencari, dan kusarankan agar kau melakukan hal yang sama sekarang!"

"Roger!" gumam Sharon.

Sharon menyelipkan sejumput rambutnya yang keluar dari ikatannya ke belakang telinganya agar tidak menganggu penglihatannya. Kemarin Aire berhasil memotong rambutnya, tetapi potongannya tidak terlalu rapih sehingga Sharon tidak bisa mengikat rambutnya tanpa ada yang tertinggal.

"Tidak mungkin mereka berada di tempat ramai," pikir Sharon ketika dia melihat orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya. "Well, mungkin saja sih. Tapi sepertinya mereka juga tidak akan membuat orang tak bersalah menjadi korban, mereka tidak sekejam itu, mungkin?"

Berdasarkan pemikirannya ini, Sharon mulai berjalan menuju tempat-tempat sepi yang diketahuinya di kota. Ada cukup banyak tempat yang harus dia cari sebelum dia menarik kesimpulan kalau musuhnya berada di tengah-tengah keramaian, atau sudah dikalahkan oleh teman-temannya yang lain.

"Apa kau bisa merasakan keberadaan salah satu dari chain mereka, Eques?" tanya Sharon dalam hati. Suara ringkikan kuda yang menjawabnya memberitahu Sharon kalau Eques belum menemukan siapapun.

"Ini lebih sulit daripada yang aku kira…" gumam Sharon.

.

Ada kembali mengatur posisi headsetnya untuk yang entah keberapa kalinya. Satu jam telah berlalu sejak pertempuran, atau, menurut istilah Oz, permainan, dimulai. Baik Oz, Alice, Sharon, Break, Echo, Gil, Reo maupun Elliot, tidak ada seorangpun diantara mereka yang sudah menemukan anggota Dark Sabrie yang menjadi lawan mereka. Sementara itu, menurut kabar yang telah diberikan oleh Esther lima menit yang lalu, pertempuran antara Reinhart dan Clockwork sudah memanas sejak setengah jam yang lalu, tetapi belum ada korban yang jatuh dari pihak Reinhart. Itu berarti, belum ada pekerjaan untuk Ada, Revis dan Miranda.

Ada mengetuk-ngetukkan jari-jemarinya di permukaan meja kerja Revis. Dia berada di ruang kerja Revis yang tersambung dengan klinik sementara Revis dan Miranda berada di klinik, mendiskusikan sesuatu sambil berbisik-bisik. Ranjang Ann beserta penghuninya telah dimasukkan ke kantor Revis agar mereka bisa menampung lebih banyak orang di klinik.

Suara berkeresak yang berasal headsetnya kembali mengembalikan fokus Ada. Gadis itu segera menegakkan punggungnya dan berkata, "Masuk!"

Suara Break langsung terdengar melalui alat itu, "Bilang ke kakakmu kalau Zai berada di dekat alun-alun."

"Kenapa kau tidak menghadapinya langsung?" tanya Ada bingung. "Dia anggota Dark Sabrie pertama yang kita temukan hari ini!"

"Sebenarnya, aku juga ingin langsung menyerangnya," Break mengakui, "Tetapi, ada tiga alasan kenapa aku tidak menyerangnya."

"Tiga? Tumben? Biasanya dua?" sindir Ada. Gelak tawa Break terdengar aneh melalui headset itu.

"Pertama, kami berada di tempat yang ramai. Kedua, aku sudah punya mangsa yang lain. Ketiga, kurasa Oz akan lebih senang kalau dia sendiri yang menghabisi Zai daripada aku!" Break menerangkan.

"Memang benar sih," gumam Ada. Sejenak, pikirannya kembali mengenang saat ketika rumahnya terbakar. Ada menggelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha mengusir bayangan itu jauh-jauh. Sekarang bukan saatnya untuk mengenang masa-masa yang telah lewat.

"Baiklah, aku akan memberitahu kakak. Omong-omong, siapa mangsa yang kau sebutkan tadi?"

"Rufus," jawab Break pendek. "Aku putuskan sekarang, ya?"

"Silahkan."

Setelah sambungannya dengan Break terputus, Ada menekan sebuah tombol yang berada di headsetnya yang akan menghubungkannya dengan Oz.

"Kak, Break bilang…"

.

Elliot menyandarkan tubuhnya ke dinding bata di belakangnya, mengistirahatkan tubuhnya setelah berjalan sekitar kurang lebih satu jam, sekaligus untuk mempersiapkan diri untuk duel yang akan datang.

Sejak lima belas menit yang lalu, Elliot merasa dibuntuti oleh seseorang. Dan sejak lima belas menit itu, Elliot berusaha untuk menggiring siapapun yang membuntutinya itu ke tempat yang sepi. Dia tidak tahu apakah orang itu kawan atau lawan, tetapi dia lebih memilih untuk mengambil jalur aman. Lagipula, apabila orang itu kawan, seharusnya dia tidak bersembunyi seperti itu, kan?

Setelah memastikan kalau nafasnya sudah tidak terengah-engah lagi, Elliot membalikkan badannya dan berseru, "Aku tahu kau ada disana! Tunjukkan dirimu!"

Selama beberapa saat, tidak ada respon. Elliot sudah bertanya-tanya apakah dia hanya berkhayal ketika dia melihat gerakan di sudut matanya. Seseorang melangkah keluar dari lindungan bayangan. Jaket merah yang dipakainya menyembunyikan wajahnya.

Elliot memicingkan matanya agar dia bisa melihat orang di depannya dengan jelas, "Siapa kau?" tanyanya. "Kawan atau lawan?"

Sosok di depannya tertawa pelan, "Aku juga tidak tahu. Apakah aku harus menganggapmu sebagai kawan? Atau lawan? Atau mungkin, saudara?"

Elliot menahan nafasnya ketika dia mengenali suara tersebut. "Kau!"

"Lama tidak jumpa, dik!"

.

Tidak seperti teman-temannya, Gil tidak perlu bersusah payah untuk mencari lawannya. Sejak dia menyegel Kotak Pandora, dia bisa merasakan keberadaan Kotak Pandora yang satu lagi. Mungkin karena kedua kotak itu sebenarnya selalu terhubung, dan Gil sekarang terhubung dengan kotak milik Pandora, sekarang dia bisa merasakan aura kotak yang satu lagi.

Satu jam telah berlalu sejak Gil berusaha mengikuti aura keberadaan kotak itu. Masalahnya adalah, aura itu selalu berpindah tempat. Pada satu saat, Gil yakin dia bisa merasakan aura kotak itu yang berasal dari alun-alun. Pada saat berikutnya, Gil menyadari kalau kotak itu sudah berada di pasar, yang berjarak sekitar 200 meter dari alun-alun. Itu berarti, siapapun yang membawa kotak itu bergerak dengan cepat.

Sekarang kotak itu berada di daerah selatan kota, di dekat tempat Dark Sabrie menyekap Jack dan Alyss dulu. Kotak itu tidak bergerak lagi selama lima menit terakhir. Gil menduga kalau siapapun yang membawanya sengaja menunggunya di Gil datang untuk berduel dengannya.

Menunggu Gil datang bersama Kotak Pandora yang dibawanya.

Dan duel penentuan itu akan terjadi di tempat Alyss dan Jack kehilangan nyawa mereka, di gedung yang sama.

Gil sudah sampai di daerah selatan kota. Dia berhenti sejenak untuk mengambil sebuah handgun yang dia simpan bawah lengan bajunya. Lebih baik berjaga-jaga daripada menyesal, pikirnya. Lagipula lawan yang akan dihadapinya bukanlah orang sembarangan.

"Glen, aku akan membuatmu menyesal karena telah membuat Vincent menjadi seperti itu!"

.

Sharon menyentuh daun telinga kanannya dan kembali menyalakan alat transmisi yang sempat dimatikannya. Setelah sedikit suara berkeresak, dia bisa mendengar Ada berkata, "Masuk!"

"Aku menemukan Lotti," gumam Sharon. Tatapannya tetap tidak meninggalkan targetnya yang sedang bercakap-cakap dengan seorang pedagang di kiosnya.

"Dimana?" tanya Ada.

"Pasar," jawab Sharon. "Sekarang aku akan membiarkan diriku terlihat dan… Oh, sial!"

Lotti menolehkan kepalanya dan tatapannya langsung mengarah ke arah Sharon. Sebuah senyum tipis terbentuk di bibir gadis itu sebelum dia kembali memusatkan perhatiannya ke arah si pedagang.

"Sharon? Ada apa?"

"Dia melihatku!" gumam Sharon datar. Dia melihat Lotti menggelengkan kepalanya ke si pedagang, seakan-akan dia tidak jadi membeli darinya. Kemudian, gadis itu mulai melangkah pergi.

"Situasi berbalik. Sekarang, aku terpaksa membuntutinya. Aku akan mengontakmu lagi nanti."

"Baiklah Sharon, hati-hati!" pesan Ada sebelum Sharon kembali mematikan alatnya.

"Tentu saja aku akan berhati-hati," gumam Sharon kepada dirinya sendiri. "Aku belum berniat untuk mati hari ini!"

Sharon mulai membuntuti Lotti, berusaha agar keberadaanya tidak diketahui oleh Lotti. Tapi sia-sia saja, sebab setiap beberapa saat, Lotti akan menolehkan kepalanya ke belakang dan menangkap basah Sharon yang sedang membuntutinya. Dia akan tersenyum misterius ke arah Sharon sebelum kembali berjalan.

"Kemana dia akan membawaku?" pikir Sharon bingung.

Akhirnya Lotti berhenti di sebuah tempat yang sangat dikenali oleh Sharon. Sharon memandang lingkungan di sekelilingnya dan menyadari kalau ini adalah tempat Zwei berduel dengan Vincent satu setengah bulan yang lalu. Kalau pada saat itu daerah ini bisa dibilang sepi, sekarang daerah ini lebih cocok disebut kota hantu.

Lotti melangkah menuju pusat kehancuran, ke tempat Vincent melepaskan ledakan yang bersifat penghancur itu. Di sana, gadis itu berdiri diam sebentar sebelum membalikkan tubuhnya untuk menghadap Sharon, yang berdiri di pinggir kehancuran itu.

"Kenapa kau membawaku kesini, Lotti?" tanya Sharon. "Karena tempat ini sepi? Atau karena ada alasan lain?"

Lotti kembali tersenyum sebelum menjawab, "Temanmu nyaris mati disini, dan kurasa kau akan mengalami hal yang sama, hanya saja lebih parah."

"Maaf saja, ya!" kata Sharon. Beberapa saat kemudian, sebuah pisau sudah tergenggam di tangannya. "Aku tidak berniat mati hari ini!"

"Aku juga tidak berniat mati, kok!" jawab Lotti kalem. "Sekarang, ayo kita lihat niat siapa yang akan terwujud!"

.

Echo mengambil resiko untuk beristirahat sebentar di dekat air mancur taman. Tidak seperti teman-temannya yang lain, dia tidak bisa menggunakan Doldam untuk menemukan lawannya. Dia sudah berusaha untuk meminta bantuan Zwei, tapi alter egonya itu sedang tidak ingin diajak bicara.

"Geez, kenapa harus hari ini dia seperti itu?" pikir Echo kesal.

"Yo, Echo!"

Echo menoleh ketika dia mendengar suara seseorang memanggil namanya. Alice berdiri beberapa langkah dibelakangnya dan sedang melambai ke arahnya.

Echo balas melambai dan mengisyaratkan agar Alice mendekat. Alice berjalan mendekati Echo dan berkata, "Belum bertemu siapa-siapa?"

Echo menggeleng dan menjawab, "Belum, dan aku tidak bisa meminta bantuan Zwei."

"Dia sedang tidak ingin diajak bicara?" tanya Alice.

"Sepertinya iya," jawab Echo lagi. "Kau juga belum bertemu siapa-siapa?"

"Rasanya aku melihat seseorang yang mirip Lacie tadi, dan aku mengikutinya sampai kesini. Nah, sekarang aku kehilangan dia!" gerutu Alice. "Kau melihatnya?"

"Lacie? Tidak."

Alice menggumamkan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh Echo. Kemudian dia menaiki bangku yang sedang diduduki Echo dan berdiri di sana. Kedua iris violetnya memindai keramaian yang berada di sekeliling mereka.

"Alice, jangan menarik perhatian!" tegur Echo.

Alice tidak mengindahkan teguran Echo dan tetap berdiri di sana. Beberapa saat kemudian, dia menunjuk ke arah seseorang yang berada sekitar sepuluh meter dari mereka.

"Ketemu!"

"Mana?" akhirnya Echo juga ikut berdiri di atas bangku dan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Alice.

Echo menyipitkan matanya ketika dia memperhatikan orang yang ditunjuk oleh Alice, "Cukup mirip dengan Lacie," katanya.

"Percayalah, itu memang Lacie!" kata Alice. "Apa kau tahu siapa yang sedang berbicara dengannya?"

Echo kembali menyipitkan matanya untuk memperhatikan orang yang sedang diajak bicara oleh Lacie. "Jaket, tato, sepertinya itu Doug," gumamnya.

"Aku kejar Lacie, kau kejar Doug?" usul Alice.

"Setuju! Lihat, mereka akan berpisah!"

"Kita ikuti mereka. Siapa yang akan mengontak Ada?"

"Aku saja," Echo menawarkan diri sebelum melompat turun dari bangku. "Semoga beruntung, Alice!"

"Semoga beruntung juga untukmu!" balas Alice sebelum dia melompat turun dari bangku dan berlari-lari kecil untuk mengikuti Lacie yang sudah bergerak.

Karena Doug belum bergerak dari tempatnya, Echo memanfaatkan waktu yang dimilikinya untuk menghubungi Ada. Tangannya bergerak ke daun telinga kanannya untuk mengaktifkan alat transmisinya.

"Ada? Aku dan Alice melihat Lacie dan Doug di dekat taman. Alice sedang mengejar Lacie sekarang, aku akan mengejar Doug," gumamnya.

Suara Ada segera terdengar setelahnya, "Oke. Berarti yang belum menemukan lawannya adalah kakak dan Reo. Gil baru saja bertemu dengan Glen. Sharon sedang berduel dengan Lotti. Elliot bilang Vincent adalah bagiannya. Break sedang membuntuti Rufus. Well, good luck, Echo!"

"Selama Doug tidak bertarung menggunakan gadanya, aku rasa aku punya kemungkinan untuk menang," gumam Echo sebelum dia mematikan alat transmisinya.

"Zwei, kenapa kau malah tidak ada hari ini?" keluhnya sebelum dia mengikuti Doug.

.

"Kemana dia pergi?"

Reo berhenti di tengah alun-alun kota. Orang yang sedari tadi dikejarnya baru saja menghilang ditelan kerumunan. Reo berdiri di ujung jari kakinya agar dia bisa melihat dengan lebih jelas, tetapi dia tidak juga menemukan orang yang dikejarnya.

"Apa dia memang sengaja ke sini untuk bersembunyi?" pikir Reo. "Ah, tidak mungkin! Lagipula, sepertinya dia belum tahu kalau aku mengikutinya. Sepertinya aku hanya sedang sial."

"Ada, aku kehilangan Fang," gumam Reo. Dia memang sengaja meninggalkan alat transmisinya dalam keadaan menyala.

Reo bisa mendengar Ada menghela nafas, "Bagaimana kau bisa kehilangan orang sebesar dia?" tanyanya dengan nada menuntut.

"Entahlah. Kami baru saja sampai di alun-alun ketika aku kehilangan dia. Entah dia sengaja datang ke sini untuk menghilangkan jejaknya, atau aku memang sedang sial," jawab Reo.

"Sepertinya kau yang sedang sial," komentar Ada. "Kau kan pakarnya sial."

"Tidak usah diingatkan," gumam Reo. "Aku sudah tahu itu."

Rei melirik jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas siang kurang setengah menit. Itu berarti permainan sudah berjalan selama satu setengah jam. Hanya dia dan Oz yang belum menemukan lawan mereka sementara yang lain sudah mulai berduel.

Reo menghela nafas dengan berat. "Kenapa hari ini harus menjadi hari sialku?"

Dentang jam kota yang cukup nyaring mengagetkan Reo. Otomatis, Reo menolehkan kepalanya ke arah jam kota yang berdiri di tengah alun-alun, cukup dekat dengan tempatnya berdiri sekarang. Jam itu selalu berbunyi setiap setengah jam sekali, memberitahu orang-orang yang berada di alun-alun dan sekitarnya bahwa tiga puluh menit yang lain telah berlalu.

Pada saat itu juga pandangan Reo jatuh pada seseorang yang berdiri di dekat jam kota.

"Ada, aku melihat Zai di dekat jam kota," lapor Reo. "Sebaiknya kau memberitahu kakakmu."

Selama beberapa saat tidak ada jawaban dari Ada. Reo beransumsi kalau Ada sedang berbicara dengan orang lain dan tidak mendengarkan laporannya sehingga dia mengulang laporannya.

"Tidak usah mengatakannya dua kali, Reo!" akhirnya Ada menjawab dengan nada jengkel.

"Habisnya kau tidak menjawab, sih!" kata Reo untuk membela dirinya sendiri.

Terjadi keheningan lain ketika Ada memberitahu Oz tentang keberadaan Zai. Beberapa saat kemudian, Reo kembali mendengar suara Ada.

"Kakak juga sedang berada di alun-alun dan bilang kalau dia akan segera mengejar Zai. Dia juga bilang kalau dia melihat Fang sekitar dua puluh meter di selatan jam kota."

"Trims, Ada!" gumam Reo.

"Tidak usah berterimakasih kepadaku! Itu memang sudah tugasku! Aku harus duduk diam di sini dan kebosanan setengah mati sementara kalian bisa merasakan petualangan yang sebenarnya!" keluh Ada.

"Percayalah! Ini tidak semenyenangkan yang kau pikirkan," balas Reo. "Aku lebih memilih kebosanan setengah mati daripada melakukan ini!"

"Terserah kau saja!"

Reo merasa tidak ada gunanya untuk membalas perkataan Ada dan apabila dia melakukannya, dia hanya akan memicu argumen selanjutnya, yang sangat tidak dibutuhkannya sekarang, sehingga dia tidak berkata apa-apa. Malah, dia segera berlari menuju tempat yang diberitahu oleh Ada.

.

"Kenapa tidak ada yang memberitahuku kalau cambuk boleh digunakan?" gerutu Sharon ketika, sekali lagi, pisau yang dilemparkannya bisa ditangkis dengan mudah oleh Lotti menggunakan cambuknya.

"Menyerah saja, Sharon!" seru Lotti disela-sela suara desingan yang dibuat oleh cambuknya.

"Menyerah? Di mimpimu!" balas Sharon. "Menyerah berarti mati, dan bukankah tadi aku sudah bilang kalau aku tidak berniat mati hari ini?"

Sekali lagi, Sharon melemparkan belatinya. Kedua cambuk yang dipegang oleh Lotti segera berubah arah, berubah menjadi pusaran protektif di sekitar pemiliknya. Belati yang dilemparkan oleh Sharon tidak bisa melewati cambuk-cambuk itu.

"Sial," kutuk Sharon. Persedian belatinya mulai menipis, sementara cambuk-cambuk Lotti tidak memungkinkan Sharon melakukan serangan jarak dekat. Dia akan segera kehabisan belati untuk dilemparkan kalau keadaan terus berjalan seperti ini.

"Aku harus membuat dia kehilangan cambuknya," pikir Sharon. "Tapi, bagaimana?"

Sharon melihat kalau bagian bawah tubuh Lotti tidak seterlindungi bagian tubuhnya yang lain. Mungkin kalau dia bisa melukai bagian itu, Lotti akan kehilangan tempo serangannya selama beberapa saat sehingga Sharon bisa menyerangnya.

"Akan sulit untuk melemparkan belati ke sana," pikir Sharon. "Jaraknya terlalu jauh dan belati mudah terlihat. Mungkin…"

Sharon menyelipkan belatinya di antara giginya, berhati-hati agar senjata itu tidak melukai bibirnya. Sebagai gantinya, dia mengeluarkan sebuah pistol yang diambilnya dari bagian samping ranselnya.

Lotti mendecakkan lidahnya ketika dia melihat tindakan Sharon, "Pistol sama tidak bergunanya dengan belati kalau berhadapan dengan cambukku, Sharon!"

Sharon memilih untuk tidak menjawab karena belatinya akan jatuh dan melukainya apabila dia membuka mulutnya. Dia mengarahkan pistol itu ke arah kaki Lotti, yang berdiri sekitar sepuluh meter darinya dikelilingi oleh pusaran cambuknya. Suara tembakan segera memenuhi area itu.

"Sekaranglah saatnya!" pikir Sharon. Sharon segera menjatuhkan pistolnya dan mengambil belati yang digigitnya.

"Lihat dulu hasilnya sebelum bertindak lebih jauh. Apa kau tidak pernah diajari tentang hal itu?

Rasa sakit menyerang pipi kanan Sharon sebelum gadis itu sempat mendongak. Rupanya Lottie berhasil menghindari peluru yang ditembakkan Sharon dan menggunakan detik-detik yang Sharon gunakan untuk mengambil belatinya untuk menyerang gadis itu.

Sharon melompat kebelakang tepat pada waktunya, karena ujung cambuk kedua Lotti segera menyambar tempat dia berdiri sebelumnya. Tapi gerakannya itu membuat belati Sharon jatuh ke tanah, meninggalkan gadis itu tidak bersenjata.

Sharon menyentuh pipi kanannya dan tangannya segera menyentuh darah hangat yang mengalir dari luka yang disebabkan oleh cambuk Lotti. Rasa sakit yang disebabkan oleh luka itu membuat Sharon sedikit pening, tetapi dia berusaha keras agar Lotti, yang sekarang hanya berjarak dua meter di hadapannya, tidak mengetahuinya.

"Rencana makan tuan," pikir Sharon merana. "Seharusnya dia yang kehilangan senjatanya! Bukan aku!"

Seakan-akan bisa mendengar isi pikiran Sharon, Lotti menyeringai dan berkata, "Kalau kau sedang membuat sebuah strategi, jangan biarkan strategimu itu bocor melalui wajahmu!"

"Memangnya strategiku bisa dibaca dengan mudah, ya?" tanya Sharon untuk mengulur waktu. Tangannya meraba-raba saku pakaiannya dan kantung ranselnya untuk mencari senjata, tetapi dia tidak menemukan apapun.

"Semudah membaca buku yang terbuka," jawab Lotti santai. "Strategimu sekarang juga bisa kubaca. Kau ingin mengulur waktu agar kau bisa mendapatkan senjatamu, kan?"

Lotti sedikit menggerakkan pergelangan tangannya sehingga kedua cambuknya kini melecut ke arah Sharon, memaksa gadis itu untuk kembali melompat ke belakang.

"Sayangnya aku tidak akan membiarkanmu melakukannya!"

Sharon kembali menghindar dari lecutan cambuk-cambuk Lotti dengan gesit sementara otaknya sibuk memikirkan strategi baru. Beberapa saat kemudian, Sharon membalikkan badannya dan segera berlari menjauh dari Lotti.

"Dasar pengecut!" ejek Lotti. "Kau berniat kabur, ya?"

Sharon menggertakkan giginya ketika dia mendengar ejekan Lotti. Dia bukan pengecut, dan dia tidak berniat untuk kabur. Dia hanya perlu waktu untuk mengambil senjatanya dari dalam ranselnya dan menyusun strategi baru. Dia butuh sesuatu untuk mengalihkan perhatian Lotti darinya selama beberapa saat, karena tidak mungkin dia meminta time out dalam duel seperti ini.

Sharon memejamkan matanya sejenak dan berkonsentrasi. Tindakannya ini membuatnya sempat kehilangan keseimbangan dan memberi kesempatan bagi Lotti untuk menyerangnya. Untungnya, Sharon bisa kembali mengendalikan tubuhnya dan menghindar dari serangan Lotti.

"Eques!" seru Sharon.

Seekor unicorn berwarna hitam legam mewujud di belakang Sharon. Sosoknya menjadi penghalang antara tuannya dengan Lotti. Chain itu mengangkat kepala kudanya dan ringkikan kuda segera terdengar di area itu.

"Tahan dia!" seru Sharon sebelum gadis itu kembali berlari.

Eques kembali meringkik untuk menjawab perintah tuannya. Chain itu menolehkan kepalanya ke arah Lotti yang terpana dan mengarahkan tanduknya ke arahnya, siap untuk menyerudukgadis itu kapan saja.

Lotti segera pulih dari keterpanaannya. Sebagai gantinya, sebuah seringai terbentuk di bibirnya. "Kau mau memulai duel chain, Sharon? Baiklah! Kita akan lihat siapa yang akan menang! Chainmu atau Leon!"

Ketika Sharon menolehkan kepalanya ke belakang, dia melihat Lotti telah memanggil Leon. Chain berbentuk singa itu sedang mengambil ancang-ancang untuk menyerang Eques. Tanduk melawan cakar. Sharon berharap tanduklah yang akan menang.

Sharon kembali menfokuskan perhatiannya ke jalan yang terbentang di hadapannya. Dia harus menemukan tempat untuk berhenti dan menyusun strategi. Tempat itu harus cukup tersembunyi dan berjarak cukup jauh sehingga Lotti tidak akan menemukannya dalam waktu dekat.

Gadis itu mendobrak pintu bangunan kosong pertama yang dia anggap cocok. Setelah menutup pintu dibelakangnya, Sharon segera berlari ke sudut terjauh dan tergelap ruangan yang dulunya adalah lobby rumah sakit.

Dia menjatuhkan ransel yang sedari tadi digendongnya dan segera membongkarnya. Dia mensejajarkan senjatanya yang tersisa di lantai di depannya. Dia masih memiliki tiga buah pistol, dua bilah belati, sebuah granat suara, dua buah granat api dan satu granat dummy, satu set dart yang sudah dilumuri dengan obat bius, dan replika kotak Pandora.

Sharon mengelus replika itu dengan ujung jemarinya. Esther benar. Replika-replika yang dibuatnya sama sekali tidak bisa dibedakan dengan yang asli. Guratannya, sudutnya, beberapa bagian dimana warna peraknya sudah memudar, Esther benar-benar membuat replika yang sempurna. Dia dan teman-temannya, kecuali Oz dan Gil yang memiliki hubungan langsung dengan Kotak Pandora yang asli, tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang replika ketika Esther menunjukkan replika-replika itu.

Jari telunjuk Sharon yang sedang mengelus bagian sudut replika itu berhenti bergerak ketika sebuah gagasan terbentuk di benaknya. Apabila Sharon yang merupakan anggota Pandora tidak bisa membedakan mana kotak yang asli dan yang bukan, bagaimana dengan Lotti? Dia pasti tidak tahu perbedaannya! Mungkin dia bisa menipu Lotti menggunakan replika ini. Bukankah itu tujuan replika-replika itu diciptakan? Untuk mengelabui musuh sehingga mereka mengejar kotak yang salah?

Sharon mengamati persedian senjatanya dan pandangannya terjatuh pada granat suara. Gadis itu meringis sedikit ketika melihat senjata itu. Dia tidak terlalu menyukai granat jenis itu karena senjata itu terlalu mudah meledak dan juga bisa melumpuhkan pemakainya apabila tidak ditangani secara tepat. Tapi, ini mungkin satu-satunya kesempatannya.

Sharon kembali memasukkan tangannya ke dalam ranselnya yang nyaris kosong. Beberapa saat kemudian, dia mengeluarkan sepasang penyumpal telinga. Esther bersumpah kalau serangan granat suara tidak akan berefek kepadanya apabila dia memakai sumpal itu, tetapi dia tidak begitu yakin.

Dengan ragu, Sharon menyumpal telinganya menggunakan alat itu. Sekali lagi, Esther berkata benar. Alat itu membuat Sharon tidak bisa mendengar apa-apa. Berarti, granat itu tidak akan bisa memberikan efek apa-apa kepadanya.

Sharon kembali memasukkan senjata-senjatanya ke dalam ransel. Dia menyelipkan granat suara di kantung samping ranselnya sehingga Sharon bisa menarik picunya dengan mudah ketika waktunya tepat. Terakhir, dia kembali memakai ransel itu dan membawa replika kotak itu di tangannya.

Dia siap menjalankan strateginya.

TBC

A/N:

School is killing me, slowly and painfully.

Yup, sekali lagi gomen karena update yang super duper telat ini. Aoife gak bisa janji Aoife akan bisa update sesering dulu. Tugas sekolah + tugas eskul + persiapan uts + senior +regen + writerblock. Serius, Aoife gak tau gimana anak-anak MPK sama OSIS bisa bertahan. Dan bahkan regen pramuka belum dimulai. WTF

Highschool is complicated. I don't need people who come to me only when they need something to complicate it more.

Oh, well, RnR?