Disclaimer : Eiichiro Oda-sama! Berikan hak milik One Piece padaku dong! #ngarep #maksa #plak

Warning : Aku lagi-lagi mengingatkan kepada kalian kalau ide cerita ini nygambil dari Summer in Seoul(Ilana Tan). Kesempurnaan hanyalah milik Yang Maha Kuasa. Dan kekurangan ada didalam fiction ini.

Don't like don't read.

Hope you enjoy! :)


~TIGA

.

.

.

"Nami, sebaiknya pinggiran topimu diturunkan sedikit lagi. Wajahmu harus tertutup." Perintah Shanks.

Nami bergumam tidak jelas, lalu menyerahkan handphone yang dipegangnya kepada Luffy, lalu menarik topi merahnya.

"Kalau begini, aku juga tidak bisa melihat apa-apa." Desahnya. "Shanks-san sebenarnya ada dimana? Dia sedang meneropong kita atau bagaimana?" gerutunya.

Nami dan Luffy sedang berada di dalam mobil Luffy yang diparkir di lapangan parkir depan gedung tempat Shanks bekerja. Saat itu pukul sepuluh malam dan tempat itu sudah sepi. Luffy yang memakai topi hitam dan juga kacamata yang hitam pula duduk dibalik kemudi, dan Nami duduk di sampingnya, sementara Shanks mengawasi mereka entah dari mana. Semua komunikasi dilakukan lewat handphone. Mereka sudah siap menjalankan tahap pertama rencana.

Luffy menempelkan handphone ke telinga dan berkata, "Sudah bisa dimulai."

Ia lalu memerhatikan Nami yang sedang merapikan ikatan rambutnya. "Sekitar semenit lagi kita keluar." Kata Luffy lagi.

"Kita hanya perlu keluar dari mobil, bergaya sebentar, lalu masuk kembali ke mobil 'kan?" tanya Nami memastikan.

Luffy mengangguk. Hening sejenak. Lalu, "Nah, sepertinya Nii-san sudah siap. Kita keluar sekarang." Mereka lalu keluar dari mobil dan mulai berjalan berdampingan.

Alis Luffy terangkat satu, meskipun tidak terlihat oleh Nami, "Kenapa jauh begitu?" tanya heran.

Nami menoleh dan menyadari Luffy sedang mengomentari jarak mereka yang terlalu jauh. "Kenapa? Kurasa ini sudah cukup dekat." Kata Nami sambil menekankan kata 'sudah cukup'.

"Orang-orang tidak akan percaya kalau aku mempunyai hubungan khusus denganmu kalau kau berdiri sejauh itu." kata Luffy yang balas menekankan kata 'sejauh'.

Nami berhenti berjalan dan memutar tubuhnya menghadap Luffy. "Menurutku, seperti ini juga sudah lumayan. Kita tidak perlu berpelukan supaya orang-orang percaya kita punya hubungan khusus 'kan?" balas Nami.

Luffy tertawa sedikit mengejek, "Apanya yang lumayan? Tubuhmu kaku dan jalanmu seperti robot, Nami."

Nami tetap diam dan menatap Luffy.

Luffy balas menatapnya lalu berkata, "Kita harus melakukan sesuatu."

Nami terkejut ketika Luffy melangkah mendekatinya. "Mau apa kau?" tanyanya, tapi saking gugupnya ia tidak bisa bergerak dari tempatnya sendiri.

Luffy berdiri didepannya. Nami baru menyadari kalau Luffy lebih tinggi darinya. "Hei, Luffy, kau ini sebenarnya mau apa?" tanya Nami.

Luffy hanya berdiri diam tanpa melakukan apa-apa. Ia tidak bisa melihat ekspresi Luffy dengan jelas karena lelaki itu memakai kacamata. Tapi Nami bisa melihat jelas kalau bibir lelaki itu membentuk seulas senyum.

"Aku? Hanya memberika pose yang bagus untuk foto kita," katanya santai dengan senyuman lebar, lalu mundur kembali.

Nami mendengus pelan, "Lucu sekali."


.

.

"Misi selesai," kata Nami ketika mereka sudah berada didalam mobil. "Hhhh… Lelahnya. Benar-benar pekerjaan yang berat."

Luffy tersenyum mendengar gurauan Nami. Ternyata gadis ini bisa bercanda juga, pikirnya. Luffy yakin Nami adalah orang yang ramah, meski saat ini gadis itu lebih sering bersikap kaku dan menjaga jarak, bahkan cendrung dingin. Dan agak galak, mungkin. Bagaimanapun, hal itu wajar saja mengingat mereka tidak terlalu mengenal.

"Aku merasa sedang main film," Nami menambahkan. "Mungkin sebaiknya aku jadi aktris saja. Bagaimana?"

Luffy tersenyum lebar, "Teruslah bermimpi." Sahutnya, lalu menyalakan mesin mobil.

Saat itu terdengar dering handphone. Mereka berdua mencari handphone mereka. yang bordering tenyata handphone Luffy.

"Sebaikanya kau mengganti nada deringmu," gerutu Nami sambil memasukkan handphonenya kembali.

"Kenapa harus aku? Kau saja yang ganti." Sahut Luffy sebelum menjawab telfon. "Ya, Nii-san…? Sudah?"

Tiba-tiba handphone Nami berdering juga. Tanpa melihat siapa yang menelepon, Nami langsung menjawab telfonnya, "Moshimoshi?"

Luffy melihat gadis itu mendesah dan melepaskan topi merahnya. Siapa yang menelponnya? Pikirnya. Lamunannya buyar ketika ia sadar Shanks memanggil namanya berulang kali ditelefon.

"Eh, apa Nii-san? … Oh, oke. Sampai jumpa besok." Kata Luffy lalu menutup flap handphone-nya.

"Aku? Sekarang? Sedang diluar," kata Nami dengan nada santai.

Luffy lagi-lagi melihat alis Nami terangkat ketika gadis itu mendengarkan jawaban orang di seberang sana.

"Sebentar lagi aku akan pulang. Kalau ada yang perlu dibicarakan, nanti saja. Aku sedang sibuk. Sampai jumpa," kata Nami lalu menutup handphone-nya.

"Telepon dari siapa?" tanya Luffy sambil lalu.

Nami menengok kearahnya. "Teman," katanya singkat, lalu mengalihkan pembicaraan, "Kita sudah selesai sekarang? Shanks-san bilang apa?"

Luffy yang awalnya agak bingung karena Nami tiba-tiba mengalihkan pembicaraan, kemudian menjawab, "Katanya mungkin lusa foto-foto itu akan muncul ditabloid. Harus lagi-lagi siap menghadapi para wartawan… Tapi setidaknya, reputasiku akan kembali seperti dulu." Ujarnya. Lebih kepada dirinya sendiri.

Luffy menoleh dan mendapati Nami sedang melihatnya, "Apa? Ada yang salah?"

"Uum… Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Nami agak ragu.

Luffy menaikkan sebelah alisnya. "Tentu, Nami. Tanya saja,"

"Sebenarnya… Kau gay atau bukan?" tanya Nami. Sesaat kemudian Luffy melepas kacamatanya dan menatap Nami, kesal.

Tanpa menunggu jawaban, Nami mengibaskan tangannya. "Oh, baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Kau gay atau bukan, itu bukan urusanku."


.

.

"Hei, Nami!" seru Nojiko yang berlari kearah Nami, dengan suara menggelegar tentunya, saat Nami baru saja membuka lembaran bukunya.

Nami mengerjapkan matanya, bingung. Setelah selesai dari kekagetannya, dia menggerutu, "Kau ini kenapa sih? Pagi-pagi sudah teriak seperti orang tidak waras begitu?"

"Lihat ini! Lihat ini!" kata Nojiko sambil melambai-lambaikan tabloid tepat didepan wajah Nami.

"Apa itu?" tanyanya. Nami harus mundur selangkah supaya bisa melihat isi dari tabloid itu lebih jelas.

"Monkey D. Luffy ternyata punya pacar!" kali ini seruan Nojiko lebih keras sehingga Nami terlonjak kaget mendengarnya.

Nami melihat judul utama tabloid itu sambil menahan nafas. Judulnya mengatakan, 'MONKEY D. LUFFY DAN KEKASIH WANITA?' yang dicetak dengan ukuran lumayan besar. Dibawah tulisan tersebut, terdapat empat foto Luffy dengan seorang wanita yang terlihat tidak begitu jelas. Tapi kenapa Nami merasa dirinya terlihat sangat jelas?

Foto-foto itu sebenarnya tidak menampakkan wajah Nami sedikitpun. Wajahnya tertutup topi walaupun dilihat dari sisi manapun. Ternyata Shanks memang pintar memotret, batin Nami.

"Bagaimana? Kau lihat 'kan?" tanya Nojiko histeris. "Siapa wanita itu? Artis? Apa bukan? Kau tahu, sekarang para penggemar Monkey D. Luffy sedang histeris dan sangat shock dengan berita ini. Begitupun aku." Katanya dengan nada kesal.

Nami sedikit lega Nojiko tidak menyadari kalau itu dirinya. Lalu dia melipat tabloid itu dan mengembalikannya kepada Nojiko. "Kenapa harus kesal? Bukankah ini membuktikan kalau dia bukan gay?"

Nojiko terdiam. "Yah… Tapi… Kalau melihatnya dengan wanita lain… Rasa hatiku… Aduh…" kata Nojiko dengan tampang memelas. Nami yang melihat ekspresi Nojiko tertawa geli.

"Tapi… Bisa jadi gadis ini bukan kekasihnya." Kata Nojiko tiba-tiba.

Nami memiringkan kepalanya, "Kenapa kau bisa berfikir begitu?"

"Bisa saja kasusnya sama sepertimu. Monkey D. Luffy hanya mengantarmu dan tidak ada hubungan apa-apa diantara kalian. Lagipula wartawan 'kan suka membesar-besarkan masalah." Kata Nojiko dengan senyuman diwajahnya.

Nami menatap sahabatnya. "Tapi menurutku yang ini memang benar. Disana tertulis ada sumber terpecaya yang menyatakan kalau gadis itu memang kekasih Monkey D. Luffy 'kan? Lagipula, kenapa harus kesal? Menurutku, ini adalah berita bagus, bukan? Karena idolamu itu tidak gay, alias suka wanita…"

Nojiko belum menghilangkan ekspresi kecewa dari wajahnya. Nami menambahkan, "Kau juga tidak perlu histeris begitu. Kalau memang gadis ini pacarnya, masih ada kemungkinan mereka berpisah. Kau berdoa saja supaya mereka cepat-cepat berpisah."

"Kau bisa bicara seperti itu karena kau bukan penggemarnya! Aku penasaran dengan wanita ini. Disini tidak diceritakan siapa dia…" kata Nojiko lalu menghembuskan nafas panjang.

Lalu mendadak, wanita berkulit sawo matang itu bertepuk tangan dan berkata dengan penuh semangat, "Tapi kau benar! Tidak apa-apa, sebentar lagi pasti ketahuan. Dia harus putus dengan Luffy-kun ku!

Nami yang menyaksikannya, tertawa kecil. Tapi sebelum senyumnya mereda, Nojiko menambahkan lagi. "Tapi Nami, apakah ini tidak aneh? Kenapa mereka tidak bersentuhan? Bukan hal penting sih, tapi maksudku, orang pacaran bukannya suka berpegangan tangan ya, kalau sedang jalan bersama?"


.

.

Monkey D. Luffy sedang berada dikantor manajernya bersama Roronoa Zoro. Lelaki itu memegang tabloid yang berisikan foto-fotonya bersama Nami.

"Ternyata Nii-san pintar memotret ya," pujinya sambil tersenyum. Shanks yang menerima pujian itu hanya bisa mengangkat bahu.

"Menurutku, rencana ini cukup sukses. Terbukti dengan kantor ini yang dari tadi sudah dibanjiri oleh telefon yang memintamu wawancara untuk kepastian berita ini." timpal Zoro yang sekarang sedang menguap. Shanks membenarkan perkataan Zoro.

"Hmm… Kira-kira, dia sudah tau belum ya?" tanya Luffy kemudian.

Zoro mengangkat alisnya. "Siapa? Nami?" tanyanya. Luffy mengangguk, membenarkan.

"Seharusnya dia sudah tahu karena banyak orang membicarakannya." Sahut Shanks. Dia mengambil tabloid itu dan melihat foto-foto hasil jepretannya. "Dia melakukannya dengan sangat baik 'kan? Gadis yang tenang, mudah diajak bekerja sama, dan beruntungnya dia bukan penggemarmu. Jadi dia tidak histeris atau semacamnya." Tambah Shanks.

Luffy hanya bisa mengangkat bahu mendengar pernyataan dari Shanks.

Zoro bergumam pelan, sambil merenung. "Ya, gadis yang tenang. Bahkan terlalu tenang menurutku. Tidakkah menurutmu dia terlalu gampang menyetujui permintaan gilamu?"

Luffy lagi-lagi mengangkat bahu, "Tidak juga," jawabnya.

"Apa dia tidak minta imbalan apapun?" timpal Shanks.

Luffy mengingat-ingat, "Sepertinya tidak." Jawabnya.

"Aneh," kata Zoro dan Shanks berbarengan. Setelah mengatakan itu, telefon dimeja kerja Shanks berdering.

Sementara manajernya mengangkat telefon, dan sahabat sekaligus rekan kerja dan manajer keduanya sedang merebahkan diri disofa, Luffy menimbang-nimbang harus melefon Nami atau tidak. Akhirnya, Luffy mengeluarkan handphone dari saku celananya dan menekan angka Sembilan.


.

.

Nami dan Nojiko sedang berjalan di halaman kampus sambil membicarakan Monkey D. Luffy , ketika Nami mendengar namanya dipanggil.

Mereka berdua menoleh kebelakang dan melihat lelaki berambut blonde dengan alis melingkar sedang berlari dan melambaikan tangan kearah mereka.

Nojiko menyikut lengan kanan Nami sambil berbisik. "Mau apa lagi dia?" Nami hanya mengerutkan kening dan menggeleng.

Laki-laki itu berhenti didepan mereka berdua sambil tersenyum lebar. "Mellorine~ kebetulan sekali kita bertemu disini. Mau makan siang? Ayo, aku traktir."

Nojiko meringis. "Kebetulan apanya?"

"Sanji-kun, sedang apa kau disini?" tanya Nami dengan nada ketus.

"Tidak ada alasan khusus." Jawabnya riang. Seakan tidak menyadari nada ketus yang baru saja dilontarkan Nami. "Kupikir karena sudah lama tidak bertemu, tidak ada salahnya kalau kita makan siang bersama dan mengobrol, 'kan?"

"Pacarmu mana?" tanya Nojiko tiba-tiba. "Dia tidak marah kalau kau makan dengan kami? Ngomong-ngomong, kau masih dengan yang lama atau sudah punya yang baru?"

Wajah Sanji tidak melakukan perubahan yang berarti. Tapi dilihat dari tingkahnya, dia sedikit salah tingkah. "Dia sekarang sedang ada urusan. Ayolah, mumpung aku sedang tidak kerja sambilan. Lagi pula aku ingin mengobrol dengan kalian. Mau ya?"

Nami dan Nojiko berpandangan. Mereka tahu, mereka tidak bisa menghindar dari ajakan pria yang sudah mencampakkan hati gadis berambut oranye itu.


.

.

Mereka masuk kesebuah restoran yang sudah sering mereka datangi. Mereka baru saja duduk ketika Nami mendengar handphone-nya berbunyi. Wanita berambut oranya itu tidak mengenali nomor yang tertera disana.

"Moshimoshi?"

"Hai, Nami! Kau sudah lihat?"

"Apa?" dalam kebingungan, Nami menatap handphone-nya lalu menempelkannya kembali ketelinga. "Siapa ini?"

Lelaki diujung sana mendengus kesal. "Kau tidak tahu?"

"Tidak."

Hening selama beberapa saat. "Ini Luffy." Katanya dengan nada datar.

Nami tersentak dan langsung menatap Nojiko dan Sanji yang sedang bersamanya. Kedua orang itu jadi ikut menatap Nami dengan pandangan bertanya. Tepat pada saat itu, pelayang datang untuk menanyakan pesanan.

Nami memalingkan wajah dan berkata pelan ditelefon. "Oh kau ternyata. Ada apa?"

Nami bisa mendengar Luffy menarik nafas diseberang sana. "Kau sudah melihat foto kita, Nami?" nada suaranya sudah kembali ceria.

"Sudah." Sahut Nami. "Lalu kau bagaimana? Sudah ditanya-tanya?"

"Sore ini aku ada jadwal wawancara," jawab Luffy dengan senyum yang tentu saja tidak bisa dilihat oleh Nami.

"Nami-san, kau mau makan apa?" tanya Sanji tiba-tiba.

Nami menoleh dan menjawab. "Terserah. Pesankan saja untukku."

"Kau tidak sedang sendirian ya?" tanya Luffy.

"Aku sedang makan bersama teman."

"Hei! Kenapa tidak bilang dari tadi? Baka! Kau bisa membongkar rencana kita!" sewot Luffy.

"Lho? Kenapa marah-marah? Kau sendiri juga bodoh karena tidak bertanya dulu! Lagipula aku tidak bilang kesiapapun." Sergah Nami denga tidak kalah sewotnya.

Luffy terdiam sebentar, lalu berkata, "Gomen ne, Nami" katanya, lebih mirip dengan bisikan. "Nanti malam jam tujuh kau kerumah Shanks-niisan. Ada yang ingin kami bicarakan. Mengerti?"

Wajah Nami berubah kesal. "Ya, ya ya. Aku mengerti. Alamatnya?" tanyanya ketus.

Nami mengeluarkan secarik kertas dan bolpoin dari dalam tasnya dan mencatat alamat Shanks seperti yang sudah diberi tahukan Luffy. Setelah itu dia menutup telfonnya begitu saja, tanpa mengucapkan apa-apa lagi, dan mendapati Sanji dan Nojiko sedang menatapnya.

"Dari siapa, Nami-san?" tanya Sanji.

"Dari teman." Kata Nami sambil tersenyum kecil. "Aku sudah dipesankan?"


.

.

Luffy menutup Handphone-nya sambil melamun.

"Kau sudah menyuruh Nami untuk datang ke tempatku nanti malam?" suara Shanks membuyarkan lamunan Luffy.

"Sudah," Katanya masih sambil setengah melamun.

"Bagus. Kau juga nanti, dengan Zoro. Jangan datang terlambat." Shanks menggenakan jasnya yang bertengger dikursi. "Kau mau makan dimana?"

"Nii-san,"

"Hmm?"

"Waktu Zoro menyelidiki tentang Nami, apa kalian tahu dia punya pacar atau tidak?" tanya Luffy tiba-tiba.

Shanks memiringkan kepalanya. "Memangnya kenapa?"

"Saat tadi aku menelfonnya, ada suara laki-laki. Kalau benar Nami sudah punya pacar, pacarnya bisa tahu tentang kita,"

Shanks terdiam sebentar. "Nanti malam kita bisa langsung menanyakannya kepada Nami. Ayo cepat siap-siap. Kita pergi makan dan setelah itu kau harus wawancara."

Luffy mengangguk dan tertawa. "Shishishi benar juga. Aku mau makan daging yang banyak!~"

.

.

.

To Be Continued.


-Author Note-

Hullaw, minna-saaaann!~~~~ Kyaaaaaahhhh maafkan aku sudah lama sekali aku tidak mempublishnyaaaaa DX

Sora : Benar, benar. Mana endingnya gak jelas banget lagi -_-" salahkan boss kami ituuu!~

Letta : Akan kami usahakan mengapdet secepat mungkiiiinnn~~

Sora : Yosh! Kami akan usahakan ituu!~

Oh iya, ngomong-ngomong, di FOPI sudah jarang sekali fic dengan pair LuffyNami... Aku jadi kangeeeennn~~

Sora&Letta : Bener sih... tapi... Gak usah curhat!

Yaaa!~ maafkan segala kekurangan dific ini. Yang merasa Luffy, Nami, Sanji, Shanks, ataupun siapapun OOC disini, harap review!~

Sora : Juga tentang typo dan bahasa-bahasa yang ancur, silahkan review!~

Letta : Yang mau nge-flame (semoga gak ada) yaaa... silahkan!~~ tapi pake bahasa yang halus yaa^^

.

Mind to Review? :)

.