Title: Chaos

Genre: Friendship/ Adventure

Rated: T

Pair: Multi Pairing

A/N: Saya sudah lama gak main RO, jadi maaf kalau ada yang salah m(_ _)m. Dan semua nama karakter yang ada di fic ini bukan punya saya, tapi dibuatin temen saya, special thanks to Lucky.

Warning: Spoiler quest tertentu and Featuring 3rd job classes in later chapter. Judul ga nyambung sama isi -_-


-Prontera, the Capital city Of Rune Midgard-

Awan kelabu menutupi sebeskas cahaya yang diberikan sang pencipta untuk dunia ini, titik-titik air hujan turun membasahi seluruh penjuru Prontera. Kastil-kastil Prontera menjadi saksi bisu kejadian mengenaskan beberapa waktu lalu, menatap dingin pada orang-orang yang semenjak tadi berlalu lalang dengan panik. Derap langkah kaki terdengar bersahut-sahutan tatkala teriakan cemas dan marah saling bergantian terlontar dari bibir prajurit-prajurit Prontera. Oh, sungguh hari itu benar-benar hari yang kacau. Bayangan seseorang yang tengah berdiri di menara jaga salah satu kastil, kini menatap kebawah dengan tatapan datar, tak ada secuil ekspresipun di wajahnya, yang ada hanyalah kekosongan. Mungkin karena ekspresi wajahnya tersamarkan oleh Odin's Mask yang melekat di daerah mata hingga hidung? Tak ada yang tahu.

Bayangan itu mengalihkan perhatiannya kearah salah satu pengawal yang sedang berlari menuju luar kastil, hendak memasuki kota Prontera. Bayangan itu memfokuskan pendengarannya, berusaha mendengar kata-kata yang terlontar—lebih tepatnya teriakan histeris—dari mulut pengawal tersebut diantara semua keributan itu.

"Berita terbaru! King Tristan III ditemukan mati terbunuh! Pelakunya diperkira—Uaaarrrgh!"

Belum selesai prajurit tersebut menyelesaikan kata-katanya, sebuah venom knife telah tertancap dalam menembus kerongkongannya. Tubuh yang tak bernyawa itu jatuh terkulai keatas tanah, menarik perhatian para prajurit lainnya yang ada di tempat itu. Salah seorang prajurit melacak arah tembakan pisau yang dalam sekejap membunuh temannya itu, dan melihat sekelebat bayangan di atas menara jaga, bayangan sang pembunuh.

"Pembunuhnya ada diatas sana! Kejar!"

Sang prajurit menunjuk kearah menara jaga, mengisyaratkan teman-temannya untuk mengejar sesosok bayangan tersebut. Orang yang kini menjadi buronan para prajurit Prontera itu, membalikan tubuhnya dan mulai berjalan meninggalkan menara jaga, meninggalkan para tentara yang kalut.

Sinar matahari mulai menerpa bangunan-bangunan yang melindungi bayangan tersebut, menampilkan sosok seseorang berambut putih keperakan sepunggung, tubuh wanita dewasa yang sudah terbentuk sempurna, Odin's Mask terpasang di bagian matanya. Ia menyarungkan Infilator miliknya di pinggul, tangannya meraih secarik kertas dari kantong kecil yang dibawanya.

'King Tristan III'

Ia mengambil sebuah botol merah bergambar tengkorak dan meneteskan beberapa cairan isinya ke kertas tersebut, seketika itu juga kertas itu mengeluarkan asap dan mulai meleleh, hilang menjadi tak bersisa. Kakinya terus berjalan meninggalkan kediaman sang raja Rune Midgard tersebut, semakin lama semakin cepat, hingga sosoknya tak terlihat lagi.


-Inside Royal Chamber-

Tuk ...tuk... tuk.

Sejak sepuluh menit yang lalu, hanya suara ketukan jari yang terdengar di hall yang luas itu. Suara gesekan antara Gauntlet dan meja yang seolah dapat menjadi iringan musik penghibur kebosanan seorang Paladin terus terdengar. Raut muka bosan dan malas bercampur menjadi satu di wajah Paladin berambut coklat tua tua tersebut.

Kelopak matanya terasa berat, dan ia hanya bisa mendengus kesal. Berusaha menghilangkan kantuknya, ia melihat lagi ruangan yang sekarang sedang ditempatinya, yang sedari tadi juga sudah ia perhatikan. Dinding-dinding putih dengan beberapa lukisan para raja terdahulu yang tergantung disana, hiasan-hiasan pedang yang tajam namun indah juga digantung disana, selayaknya kastil-kastil pada umumnya. Gorden merah dan interior mahal menghiasi sisi-sisi ruangan itu. Para Lord Knight dan Paladin lain yang ada di ruangan itu semuanya berwajah serius. Oh, sungguh, ia ingin segera beranjak dari tempat itu dan pergi ke kasurnya yang hangat dan empuk.

'Demi nama Odin! Kenapa Joezette tega mengirimku kesini?' Raung Paladin tersebut dalam hati.

Tap ...tap... tap..

Suara langkah kaki yang tegap dan berat membuyarkan lamunan Paladin itu, menghilangkan segala rasa bosan yang menghinggapi dirinya sejak tadi. Dilihatnya seorang Royal Guard dengan bekas luka di wajahnya berjalan menuju meja tempat ia dan para Paladin maupun Lord Knight duduk. Semua Paladin dan Lord Knight tersebut berdiri dari kursi mereka dan membungkukan badan, menghormati Royal Guard tersebut. Ya, Semua, kecuali Paladin berambut coklat tersebut, yang masih duduk santai di kursinya, tak menunjukan sikap sopan sedikitpun.

Tatapan tajam dirasakan Paladin tersebut, ia tahu kalau tatapan itu berasal dari orang-orang yang berada di ruangan itu, tapi ia tidak peduli. Suara dehaman sang Royal Guard sedikit mengurangi susana tegang yang mengisi ruangan mewah tersebut.

"Maaf atas keterlambatan saya, sekarang mari kita mulai pertemuan ini."

Ucapan sang Royal Guard adalah ucapan pertama yang mengisi ruangan itu sejak sepuluh menit yang lalu.

"Seperti yang kalian sudah tahu, kita disini berkumpul untuk berdiskusi mengenai pembunuhan King Tristan III." Para hadirin disana mengangguk. "Dari laporan tim forensik, bekas luka King Tristan adalah luka bekas tusukan di kerongkongan dan di jantung, pada mulanya ada dugaan bahwa pembunuhnya adalah seorang Assasin Cross, tapi setelah diselidiki, kematian beliau tidak terlibat dengan racun, sehingga kita sulit mengetahui siapa pelaku pembunuhannya."

Seorang Lord Knight mengangkat tangannya, dan Royal Guard tersebut mengangguk, tanda ia mempersilahkan Lord Knight itu bertanya.

"Mungkin seorang Stalker, menilik dari tusukan di jantung, Assasin lebih banyak bekerja dengan racun, dan mereka memakai Katar untuk membunuh, sedangkan bekas tusukan itu sama sekali tidak mirip dengan tusukan katar."

Seorang Paladin juga angkat bicara.

"Menurut dugaanku, ini ada hubungannya dengan Republik Schwartzwald, mereka berusaha menginvasi kita secara sembunyi-sembunyi. Kurasa Renkeber adalah dalang di balik semua ini."

Anggukan setuju terlihat dari seluruh orang di ruangan, bisik-bisik dan berbagai asumsi meluncur dari mulut orang-orang tersebut. Dalam sejarah kelam masa perang Ragnarok dulu kala, Midgard sudah berperang melawan Republik Schwartzwald, namun perang tersebut berhenti ketika dua negara tersebut sudah berteriak kelelahan melihat derita rakyat mereka. Raja Midgard terdahulu telah menandatangani perjanjian damai dengan Republik Schwartzwald, namun luka masa lalu tetap tidak akan tertutup begitu saja. Saat ini mereka masih dalam kondisi berdamai, namun sejak munculnya Renkeber Corporation, persaingan dalam teknologi tidak dapat dihindarkan lagi. Mereka saling mendahului satu sama lain, dan puncaknya, Renkeber Corporation diduga melakukan eksperimen manusia yang tidak sesuai dengan hak kemanusiaan yang ada dengan tujuan menciptakan 'Manusia yang sempurna'.

Hal itu mendapat kecaman keras dari Rune Midgard, karena mereka menduga tujuan dari eksperimen itu adalah untuk menjatuhkan Rune Midgard. Ini menyebabkan kedua negara kembali berseteru, namun King Tristan III menolak peperangan kembali. Dan sekarang Raja bijak itu sudah tiada, bisa jadi perang tak terelakan lagi. Dan Darah akan membasahi tanah ini ...

"Heh..."

Ruangan kembali menjadi hening. Semua kepala menoleh kearah sumber suara. Paladin berambut coklat, yang senantiasa membuat onar. Ia melipat kedua tangannya ke dadanya, menunjukan sikap arogan yang tiada bandingnya.

"Kalian semua naivé sekali..."

Sontak kerutan-kerutan bingung dan marah muncul di dahi para penghuni ruangan itu. Kecuali sang Royal Guard yang sedari tadi diam saja. Sepertinya ia setuju atas perkataan Paladin muda itu.

"Maksudmu apa O'Skielle? Kalau kau bisa memberi saran yang lebih bagus, katakan saja!"

"Kalian hanya berpikir tentang motif Republik Schwartzwald menyerang kita, padahal belum tentu mereka yang membunuh King Tristan III. Bisa saja ada orang yang menginginkan kita berperang satu sama lain dengan Schwartzwald, dan asumsiku pelakunya adalah orang Midgard."

"Bukankah Schwartzwald lebih berpotensi untuk melakukan hal itu? Mereka musuh kita sejak dulu!"

Paladin itu menghela nafas sejenak.

"Asumsi seperti itulah yang memicu peperangan. Yah, bayangkan saja, kita sudah lama perang dingin dengan Schwartzwald, dan dengan kematian King Tristan III, kita akan mencurigai Schwartzwald, dan memicu perang dengan mereka. Dugaanku, ada orang yang mengincar celah itu, saat kita sibuk berperang, dia atau mereka akan melakukan kudeta di kerajaan. Bila diserang tiba-tiba dalam Rune Midgard, kita akan kalang kabut bukan? Benar-benar musuh yang cerdik."

Orang-orang yang semula marah dengan perkataan Paladin itu, kini hanya bisa diam membisu, tak bisa membalas perkataan sang Paladin.

"Dan yah, menurutku yang membunuh King Tristan III adalah seseorang dari sebuah organisasi yang ingin melakukan kudeta. Seorang Assasin Cross."

Sang Royal Guard hanya tersenyum mendengar asumsi sang Paladin. Sedangkan orang-orang disana hanya bisa menahan nafas, mendengarkan kelanjutan omongan Paladin yang bernama O'Skielle tersebut.

"Orang dan organisasi ini pekerjaannya sangat rapi, membunuh seseorang dengan sekali tusukan dan tepat di jantung, tanpa meninggalkan jejak apapun. Assasin dapat memakai Dagger maupun Katar dalam membunuh, dan spesialisasi mereka adalah racun. Bila dilihat dari besar ukuran belatinya-" Paladin tersebut mengambil sebuah foto dan berkas yang ada di depan mejanya. "-senjata yang paling ampuh berdasarkan bentuk tusukan ini adalah Ice Pick. Dan seingatku, yang mempunyai senjata legenda tersebut hanya satu orang, Nyx dari guild Archeon. Dengan kata lain, kita harus mengawasi pergerakan organisasi tersebut."

Kagum dengan kemampuan analisis Paladin itu, sang Royal guard mengangguk-angguk mengerti.

"Intinya, organisasi itu berbahaya, para pembunuh di dalamnya profesional, contohnya saja sang pembunuh King Tristan III, ia tidak memakai racun agar kita tidak berspekulasi bahwa pembunuhnya adalah Assasin Cross."

Seorang Lord Knight—yang Paladin itu tahu—adalah seorang veteran, tertawa mendengar pendapat sang Paladin. Ia melemparkan pandangan meremehkan kearah Paladin tersebut.

"Anak muda, kau terlalu berspekulasi yang bukan-bukan. Daya khayalmu tinggi juga ya... Toh organisasi yang ingin menjatuhkan kerajaan hanya sedikit, dan kau bilang kerja mereka Profesional. Bukankah organisasi kalian juga begitu? Bekerja bebas untuk negara manapun, bisa saja kalian yang akan mengkudeta kami. Toh kemungkinan pelaku orang dalam juga cukup besar."

Paladin tersebut ingin membalas perkataan Lord Knight tersebut, namun dihentikan oleh suara menggelegar dari sang Royal Guard.

"Cukup! Tak usah ada perseteruan disini." Royal Guard itu menatap tajam pada sang Paladin. " Setelah kupertimbangkan, ada baiknya kau saja yang menangani kasus ini, Vladimir Lee Vein O'Skielle. Selain karena kerja kalian yang sudah terbukti rapi, kau juga mengetahui banyak tentang Guild Archeon tersebut. Sekarang beritahu ketuamu bahwa kami menyewa guildmu untuk membereskan misi ini."

Paladin yang dipanggil O'Skielle tersebut hanya mengangguk dan tersenyum menang pada Lord Knight tersebut. Ia melangkahkan kakinya, ingin segera beranjak dari tempat memuakkan ini. Tiba-tiba langkahnya terhenti, ia tersenyum sinis. Ia menolehkan kepalanya kearah para penghuni ruangan itu untuk terakhir kalinya.

"Satu hal lagi, jangan biarkan berita kematian King Tristan III ini menyebar luas, atau hal itu akan memberi kesempatan mereka mengkudeta dengan memanfaatkan kepanikan rakyat Midgard."


-Somewhere in Prontera, Archeon's Guild Base-

Gelap dan dingin. Dua kata yang bisa menjelaskan suasana dan keadaan ruangan itu. Penerangan yang hanya bersumber dari sebatang lilin, menyinari sedikit dari sisi ruangan tersebut. Buku-buku tebal dan agak usang tersusun rapi di salah satu rak buku di ruangan itu, sebagian tergeletak diatas meja. Seorang wanita duduk di sofa ruangan tersebut, tangannya memegang sebuah Dagger yang berlumuran darah. Ia mengambil sebuah lap di mejanya dan mulai membersihkan Ice Pick kesayangannya yang tertempel oleh bercak darah yang sudah mengering tersebut.

Ketukan pelan dan halus terdengar dari pintu kayu yang sudah agak kusam di ruangan itu. Wanita itu mengalihkan pandangannya dari Ice Pick nya sejenak dan beranjak berdiri untuk mengambil Odin's Mask dari mejanya dan membukakan pintu bagi orang yang mengetuk itu, yang sudah ia tahu siapa. Ia senantiasa memakai Odin's Mask tersebut, menyembunyikan jati dirinya.

"Ada apa, Zoltar?"

Nada dingin dan tanpa ekspresi keluar dari mulut wanita itu, jelas dari nada suaranya ia kurang menyukai kehadiran orang itu disini, merusak ketenangannya. Sedangkan orang yang mengetuk pintu tadi hanya tersenyum sinis.

"Tidak, hanya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilanmu dalam misi kali ini."

Wanita itu sama sekali tidak merubah ekspresinya.

"Tentu tujuanmu bukan itu saja. Apa ada hal lain yang ingin kau sampaikan?"

Pria itu tertawa pelan.

"Kau memang cerdas, Nyx. Ada misi baru untukmu."

Pria itu menyerahkan beberapa lembar kertas dan foto yang ia keluarkan dari arsip tebal yang ia bawa. Wanita itu mengamati sang pria dengan tatapan tanpa ekspresi, mengamati mukanya. Codet panjang menghiasi pipi kanan sang pria sampai pipi kirinya, rambut hitam disisir kebelakang ala mafia-mafia Midgard. Wanita yang dipanggil Nyx itu mengambil kertas yang disodorkan padanya dan mengamati foto-foto yang tercantum di dalamnya.

Paladin berambut coklat...

"Itu sasaranmu kali ini, Paladin itu berhasil mengungkap organisasi kita hanya dengan sedikit informasi. Sebaiknya jangan remehkan dia, dan jangan sampai gagal."

Vladimir Lee Vein O'Skielle ...

"Baik, Boss."


A/N: Maaf kalo njelimet ya ceritanya, sekarang saya masih menggunakan karakter Transdecent Job, berhubung pengetahuan saya tentang Job 3 malah mendekati nol besar.