Suhu di Kuraigana tidak bisa dibilang sama dengan pulau-pulau lainnya. Siangnya bisa saja menjadi sedingin malam hari; apalagi bila gelap nanti, udara kutub utara bisa saja menjadi teman setia dan membekukan penghuni pulau tersebut.

"Kau kedinginan."

"...Tidak."

"Kedinginan. Ayo ngaku!"

"...Kubilang: Tidak."

"Terus kenapa menyalakan api siang bolong begini?"

Pria itu terdiam sebentar, menghentikan aktifitas rutinnya yang berupa membaca koran—nampak sibuk. Dia diam semakin lama, semakin lama, lama, dan lalu kembali melanjutkan bacaannya tanpa menjawab.

"'Kan? Kau kedinginan, orang sok kuat!"

"Aku tidak kedinginan."

"He? Masih saja mengelak?"

"Aku... melatih jiwa."

"Uh... kau semakin kedengaran seperti si bodoh berambut hijau di luar sana."

"...Itulah yang namanya mengasah jiwa; hingga setajam pedang."

"Pedang, pedang. Yang benar menumpulkan otak dan mencari penyakit!"

"Semua orang bebas berpendapat."

Si gadis terdiam, mata bundarnya bergerak-gerak sebelah sebelum meledak penuh emosi. "Uuuh! Membosankan!"

Gadis itu berjalan marah-marah, memanyunkan bibirnya ke depan, mondar-mandir di depan pria setengah baya di mukanya. Sampai akhirnya ia duduk di sofa, kedua alis matanya yang menyatu masih saja tidak kunjung berpisah satu sama lainnya.

"Kau kedinginan." ujar si pria bermata tajam.

"Tidak!"

"...Kau kedinginan."

"T-tidak 'tuh!"

"...Lalu kenapa memagut tubuhmu seerat itu?" tanya si pria, tidak mengalihkan pandangan sedetikpun.

Gadis itu terdiam sebentar, menghentikan usapan pada kedua lengan yang terbalut baju khas ber-sweater minimnya. Dia diam semakin lama, semakin lama, lama, dan lalu kembali menggerutukan sesuatu, seperti: 'kuberi hantu negatif baru tau rasa kau!'

"...Kau kedinginan rupanya."

"Aku – tidak – kedinginan!"

"Masih saja mengelak..."

"Aku... ini hanya... err, k-kebiasaanku."

"...Kebiasaan yang... cukup aneh menurutku."

"Grrr, diam, diam!"

"...Semua orang bebas berpendapat." ujar si pria memancing amarah si gadis, menyunggingkan senyuman simpul nan tipis nyaris tak kentara.

"Grr... uwaaaah, aku marah!" sorak si gadis, mengangkat kedua lengan rampingnya ke udara. Ia lalu berjalan sambil menyumpah ke sebelah si pria. "Cukup!"

"...Apa?"

Si gadis duduk tepat di sebelah si pria, dan menatap lurus segala pemandangan di depannya: tungku api, meja makan, sofa-sofa mewah, dan segala macam perabot lainnya. Matanya masih terus menggerutu, seirama dengan komat-kamit bibirnya nan kecil.

"...Sudah lebih hangat?" tanya si pria.

Gerutu gadis itu terhenti tiba-tiba, seolah terkejut. Ia semakin mendekatkan tubuhnya, dan semakin dekat pada pria bermata tajam tersebut.

Hanya pada saat inilah, suasana di kediaman menjadi begitu tenang. Seperti menjinakkan hewan liar, si pria kembali menikmati bacaannya.

"Huh, tidak buruk." ujar si gadis dengan congkak, tak senada dengan gerakan tubuhnya yang tidak bisa menjauh lebih dari jarak satu mili.

XXX

Sementara itu,

"Huacchhhii!" pria berambut hijau menggosok-gosok hidungnya dengan kencang; geli sekali, pikirnya. "...Ah... dinginnya...!" teriak si pria nampak kesal dengan lantang, setelah terbersin untuk beberapa kali lagi; dan setelah kembali melap hidungnya yang terasa begitu menggelitik.

-FIN?-

A/N: What the...?