Hay…

Maaf! Bukannya melanjutkan fic saya sebelumnya, saya malah buat fic ini. Harap maklum. Kepala saya lagi error. Tapi saya janji akan segera update fic yang sebelumnya.

Pairing belum ditentukan.

I Don't Own Naruto! Never! Hiks hiks…

Chapter 1 : Lagi Cosplay dimana?

Seorang gadis berambut hitam indigo tengah duduk di kursi sebuah taman yang sepi. Rambutnya yang panjang tergerai bergerak lembut saat angin bertiup. Bola matanya yang berwarna violet pucat bergerak ke kanan dan kekiri saat membaca buku yang di pegangnya. Setetes air mata jatuh membasahi lembaran buku yang ia pegang. Wajah gadis itu mengerut sedih. Setetes air mata jatuh lagi.

"Ugh… aku benar-benar benci cerita ini" kata Gadis itu sambil menutup buku yang telah selesai dibacanya, lalu memeluknya erat-erat di dada.

"Tapi aku sudah terlanjur baca, dan penasaran kelanjutannya… hiks hiks," gumam gadis itu lagi.

"Hinata!" panggil seseorang.

Gadis bermata violet pucat itu menoleh. Dan dilihatnya orang yang telah lama ia tunggu akhirnya datang juga. Ia bangkit dari kursinya lalu menatap gadis berambut hitam yang tengah berjalan ke arahnya dengan santai.

"Aya! Kau tak tahu berapa lama aku menunggumu?" kata Hinata sambil merengut dan bersedekap memandang sahabatnya yang datang dengan wajah tanpa dosa.

"Iya-iya, maaf! Tadi Sugita-Sensei menyuruhku membantunya membawa buku ke ruang guru. Matamu kenapa? Kau habis menangis?" Tanya Aya sambil mengamati mata Hinata yang merah.

"Eh… ini, tidak kok!" ucap Hinata salah tingkah.

Aya memandang Hinata dengan seksama, sebelum kemudian matanya tertuju pada buku komik yang tengah dipegang Hinata. Komik itu berjudul 'NARUTO'.

"Kau menangis hanya karena baca buku komik itu?" Tanya Aya tak percaya sambil menunjuk komik yang di pegang Hinata.

Muka Hinata langsung merah padam. Sahabatnya itu selalu punya cara untuk mengolok-oloknya.

"Ceritanya keren banget, coba deh kamu baca pasti nanti kamu juga nangis," kata Hinata sambil mengulurkan komiknya pada Aya.

"Gak mau! Kamu kan tahu aku gak suka baca buku komik. Lagian kamu kan sudah SMA. Masa' masih suka baca gituan. Komik kan bacaan buat anak SD!" kata Aya sambil menggelengkan kepalanya.

"Heh… siapa bilang? Temanku banyak yang sudah lulus tapi masih suka baca komik!" protes Hinata.

"Iya-iya aku mengerti! Ayo pulang!" kata Aya tak peduli sambil berjalan pergi. Ia tahu tak akan bisa mengubah pendirian penggila komik sahabatnya itu. Ia sudah berulang kali adu argumen dengan Hinata soal masalah itu. Ia merasa Hinata itu manusia paling unik yang pernah ditemuinya.

"Eh… tunggu aku!" kata Hinata seraya memasukkan komiknya ke dalam tas.

"Buruan!" kata Aya sambil terus berjalan.

"Aya! Kamu benar-benar gak mau ikut ke pameran buku besok?" Tanya Hinata sambil berjalan di samping Aya.

"Enggak! Aku bisa mati bosan nanti, kamu pergi saja sendiri," jawab Aya spontan.

"Eh… jahat banget sih!" rengek Hinata.

# # #

Hinata tengah berdiri di depan sebuah cermin sambil menyisir rambutnya yang masih agak basah. Ia mengenakan kaos simple berwarna putih, celana biru tua selutut, dan sepatu kets berwarna biru. Setelah menata rambutnya yang tergerai rapi, ia memakai jaket favoritnya. Jaket berwarna lavender pucat seperti warna matanya. Hinata berjalan keluar kamar sambil menyambar tas pinggang yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Tas itu berwarna biru tua dengan model yang simple. Dengan gantungan kunci berbentuk Naruto pada resletingnya. Sebuah ikat kepala konoha berwarna biru terpasang rapi pada tali tas biru itu. Dengan pin kecil berwarna putih polos yang menjepit rapi ujung ikat kepala yang telah dilipat rapi sehingga hanya terlihat bagian logam yang berukirkan lambang Konoha.

Yups, Tsubasa Hinata, 15 tahun, kelas 1 SMA, benar benar penggemar Naruto. Ia punya satu lemari penuh koleksi Naruto, semua buku komik Naruto komplit, semua DVD kaset anime, movie dan ost, semua pernak-pernik Naruto (mulai dari kartu murahan sampai boneka figur yang bisa ia beli setelah menabung beberapa bulan), bahkan ia memasang foto team 7 (Kakashi, Sakura, dan Sasuke dan Naruto yang saling melirik sebal) di meja di samping tempat tidurnya.

Hinata keluar rumah dengan senyum tersungging di bibirnya. Hari ini adalah hari yang sudah lama di tunggu-tunggu olehnya. Di kotanya akan diadakan pameran buku. Dan ia sudah membuat daftar buku-buku yang ingin di belinya. Ia berjalan pelan menuju tempat pameran yang memang tak terlalu jauh dari rumahnya. Ia sendirian tentu saja. Semua temannya tak ada yang mau diajak menemaninya walau sudah di rayu akan ditraktir makan siang, semua temannya sudah tahu kebiasaan Hinata. Dia bias betah seharian hunting buku. Selain itu, Hinata tak akan sadar pada sekelilingnya. Semua temannya sudah kapok dikacangin Hinata saat sedang dikelilingi buku.

Hinata segera memasuki tempat pameran yang memang masih sepi karena hari masih pagi. Ia segera berkeliling mencari buku-buku yang telah diincarnya, beberapa saat kemudian pandangannya tertuju pada buku berukuran sedang bersampul coklat diantara tumpukan buku-buku bekas yang sedang di diskon. Buku itu sudah agak usang. Pada covernya terdapat lambang Konoha yang dikelilingi simbol-simbol aneh.

Hm... apa ini buku edisi spesial Naruto yang tak ia ketahui?

Hinata segera mengambil buku itu dan membukanya. Pada halaman pertama terdapat gambar yang sama dengan covernya.

Deg…

Tiba-tiba saja Hinata langsung menyukai buku itu. Tanpa pikir panjang ia segera berjalan menuju kasir. Setelah membayarnya Hinata segera keluar dan berjalan pulang. Sama sekali lupa bahwa ia belum membeli buku-buku yang di incarnya. Entah mengapa Hinata merasa sangat senang dan ingin segera membaca buku itu. Saat ia melihat bangku kosong di sudut taman tak jauh dari rumahnya, ia segera berjalan kesana dan langsung duduk. Tempat itu adalah tempat favoritnya karena sepi dan terlindung di antara pepohonan, ia sering membaca buku di tempat itu.

Hinata segera mengambil buku itu dan membukanya. Sebuah logam mengilat jatuh di pangkuan Hinata. Sebuah gelang berwarna perak dengan hiasan berbentuk simbol aneh yang sama seperti yang berada di cover buku yang tengah di pegangnya.

"Gelang?" kata Hinata penasaran sambil mengamati gelang tersebut.

"Wah…! Manis! Mungkin ini bonus ya?" Kata Hinata sambil memakai gelang itu di tangan kirinya lalu membuka buku yang ada di hadapannya.

Hinata memandang halaman pertama buku itu.

'Gambar cover yang keren' batin Hinata sambil meraba permukaan gambar itu dengan tangan kanannya.

Deg…

Tubuh Hinata tiba-tiba membeku. Pandangannya berubah kosong.

"Shin, ryuuken, sou, ketsu…" bisik Hinata lirih. Tanpa sadar tangan kirinya membentuk beberapa segel sementara tangan kanannya menyusuri simbol-simbol yang berada di buku itu.

Sring…

Sebuah lingkaran dengan gambar simbol yang sama bersinar di bawah Hinata. Berputar dan bersinar terang sebelum kemudian menghilang.

# # #

Saat Hinata membuka mata, ia merasa tubuhnya berat seakan ada di dalam air. Dan ia baru sadar bahwa ia benar-benar berada di dalam air. Dan ia tenggelam. Dengan panik Hinata berusaha menggapai-gapai permukaan. Tapi percuma saja, Hinata tak bisa berenang. Ia bisa melihat cahaya dari permukaan air semakin menjauh. Hinata sudah kehabisan nafas dan pandangannya mulai menggelap.

'Aku pasti akan mati' batin Hinata sambil memejamkan matanya. Ia mulai kehilangan kesadaran, namun ia merasa sesuatu menarik tangannya.

# # #

Dengan perlahan Hinata membuka matanya. Namun segera menutupnya dengan tangan. Silau karena sinar matahari yang bersinar tepat di atasnya.

"Kakashi-sensei, dia sudah sadar!" teriak seseorang.

"Ukh…" erang Hinata sambil berusaha bangun. Ia sadar tengah tidur di rerumputan dengan baju basah. Dalam hati bertanya apa tadi ia kehujanan.

"Kau baik-baik saja?"Tanya seorang laki-laki membuat Hinata menoleh.

Dan mata Hinata melebar.

Di hadapannya kini ada seorang laki-laki dengan rambut putih berdiri seakan melawan grafitasi. Masker hitam menutupi separuh wajahnya, dan sebuah ikat kepala Konoha yang menutupi sebelah matanya. Ia sedang duduk di hadapan Hinata sambil membaca sebuah buku berwarna oren yang familiar . Belum sempat Hinata pulih dari kekagetannya, suara lain bicara.

"Untung saja kami melewati jalan ini, kalau tidak kau pasti akan mati tenggelam." Kata seorang anak perempuan.

Tenggelam? Memangnya ia tenggelam dimana? Seingatnya ia tak berada di dekat kolam sebelumnya.

Hinatapun segera menoleh ke arah suara itu. Dan yang ada di pikirannya pertama kali adalah

Pink?

Anak perempuan yang baru saja bicara mempunyai rambut panjang berwarna pink. Benar-benar pink loh. Ia mengenakan baju berwarna merah panjang selutut. Hinata sempat ingin bertanya dimana gadis itu mengecat rambutnya, walau berwarna pink. Tapi warna itu terlihat natural. Tak seperti rambut wig yang pernah ia lihat. Ia juga bisa melihat jelas warna hijau di mata gadis itu.

"Hm…" Hinata coba berkata kata namun tak ada suara yang keluar.

"Ya?" Tanya sang pria berambut putih tanpa memandangnya dan terus membaca buku di depan wajahnya seolah tak peduli.

"Kalian sedang cosplay dimana?" Tanya Hinata spontan. Jelas sekali kedua orang dihadapannya itu tengah cosplay sebagai Hatake Kakashi dan Haruno Sakura, dua tokoh dari kartun favoritnya, Naruto. Hinata agak heran karena sepengetahuannya tak ada event cosplay di kotanya. Kalau ada ia pasti tahu.

"Cosplay? Maksudnya?" Tanya pria Kakashi.

"Iya, cosplay! Setahuku tak ada event cosplay hari ini. Atau akunya yang tidak tahu?" kata Hinata sambil memegang dahinya.

"Uh.. ano… cosplay itu apa?" Tanya si gadis Sakura heran

"Loh… masa' kalian ikut cosplay tapi gak tahu artinya? Cosplay itu Costum Playing. Dan lihat! Kalian benar-benar keren, mirip sekali dengan Kakashi-sensei dan Sakura." kata Hinata sambil berusaha berdiri meski kepalanya masih terasa pusing. Kalau tidak dalam kondisi seperti itu ia pasti sudah meloncat senang bertemu dengan cosplayer yang cosu-nya sangat mirip dengan karakternya.

"Darimana kau tahu nama kami?" Tanya gadis Sakura heran.

Hinata masih berusaha berdiri. Namun kepalanya kembali berdenyut, ia terhuyung dan terjatuh kebelakang.

Hup…

Seseorang menangkap pinggang Hinata sebelum ia membentur tanah. Atau dua orang.

Di hadapan hinata kini ada Naruto dan Sasuke. Atau cosplayer Naruto dan Sasuke ralat Hinata dalam hati.

Di sebelah kirinya ada seorang anak laki-laki berkulit putih pucat, berambut hitam jabrik dan bermata hitam legam. Anak itu benar-benar tampan. Hinata sempat mengira anak itu seperti vampire yang ada di salah satu film favoritnya. Tapi anak itu benar benar mirip Uchiha Sasuke. Bahkan rambutnya benar-benar 'berdiri' dengan alami. Seakan tidak menggunakan wax.

Dan di sebelah kanannya, Ya Tuhan! Jantung Hinata seakan berhenti berdetak. Rambut yang berwarna kuning pirang yang unik, kulit sawo matang yang benar-benar matang, tiga garis tipis di masing-masing pipi, dan bola mata berwarna biru yang membuat Hinata yakin ia melihat langit biru cerah yang ada di atasnya. Uzumaki Naruto.

"Kau baik-baik saja?" Tanya si cowok Naruto sambil mengedikkan sedikit kepalanya ke samping.

Hinata benar-benar terpana.

"Foto…" hanya itu yang di ucapkan Hinata. Matanya masih tak berkedip.

"Eh?" Tanya cowok Naruto tak mengerti.

"Kumohon! Bolehkah aku foto denganmu? Sekali saja!" mohon Hinata, masih dalam posisi setengah ambruk.

Cowok Naruto dan Sasuke saling pandang. Mereka segera membantu Hinata berdiri dan melepas pegangan mereka dari pinggang Hinata.

"Oi… Sasuke-teme! Kau mengerti apa yang di katakannya?" Tanya cowok Naruto.

"Hn," hanya itu jawaban si cowok Sasuke.

Hinata dengan segera mengambil handphone dari saku celananya. Ia masih tidak sadar kalau ia baru saja tenggelam.

"AAAKH… tidak! HP-ku…" teriak Hinata membuat kaget empat orang yang lain.

"Kumohon ! jangan rusak!" teriak Hinata lagi sambil berusaha menekan keypad hpnya. Sama sekali tak peduli dengan pandangan aneh yang dilempar empat orang disekitarnya.

"Kakashi-sensei, apa mungkin kepalanya terbentur saat tenggelam tadi?" Tanya cewek Sakura.

"Hm.. mungkin," jawab Cowok Kakashi sambil bangkit berdiri. Ia meneliti pakaian yang di pakai Hinata. Sebelum kemudian matanya berhenti pada ikat kepala konoha yang ada di tali tas Hinata.

"Kau seorang kunoichi konoha?" Tanya cowok Kakashi ragu-ragu.

"Maksudnya?" Tanya Hinata mengalihkan pandangannya dari hp-nya ke arah cowok Kakashi.

"Eh iya! Kenapa kau memasang ikat kepala konoha disitu?" Tanya cowok Naruto.

Hinata memandang cowok Naruto tak mengerti. Ia baru sadar cowok Naruto itu lebih pendek darinya. Sepertinya dia masih SMP. Begitu juga dengan cowok Sasuke. Mereka masih memakai baju orange Naruto dan baju Biru Sasuke. Mereka cosplay versi Pre-Shippuden rupanya.

"Sebaiknya kita segera kembali ke desa," kata cowok Kakashi masih sambil membaca buku orange di depan wajahnya.

"Tapi… eh… dimana ini?" pekik Hinata saat ia menyadari ia tak berada di taman dekat rumahnya. Ia kini berada di sebuah hutan. Tak jauh di depannya ia bisa melihat sebuah danau. Ia pasti tadi tenggelam disitu.

"Ada apa? Kau lupa jalan pulang?" Tanya cowok Kakashi curiga.

"Tenang saja! Kau bisa pulang bersama kami-Dattebayo!" teriak cowok Naruto sambil tersenyum lebar.

'Aaa… imutnya…' batin Hinata dalam hati. Menahan diri untuk tidak mencubit pipi cosplayer di depannya. Ia tak ingin bersikap tidak sopan.

"Kalian tinggal dimana?" Tanya Hinata. Sambil menghela nafas saat menyadari Hp-nya tak bisa menyala dan ia tak bisa berfoto dengan cosplayer di hadapannya. Semoga saja di event selanjutnya mereka bisa bertemu.

"Konoha." jawab cewek Sakura.

"Maksudku daerah mana?" Tanya Hinata lagi.

"Memangnya di Konoha ada berapa daerah?" Tanya cowok Naruto tak megerti.

"Maksudku daerah asli kalian!" jelas Hinata.

"Daerah asli kami Konoha kan?" kata Cowok Naruto sambil menatap Hinata heran.

"Ah… baiklah! Aku ikut kalian saja! Nanti aku bisa pulang naik bus." kata Hinata sambil tersenyum.

Empat orang yang lain hanya saling pandang tak mengerti.

# # #

"Kyaaa… bagaimana kalian bisa lari di atas pohon?" teriak Hinata sambil berpegangan erat di leher Cowok Kakashi.

"Eh… se-sesak!" kata cowok Kakashi.

Hinata memejamkan matanya erat-erat. Awalnya ia pikir mereka akan pulang dengan berjalan kaki mengingat ia tak melihat kendaraan apapun. Sebelum dengan tiba-tiba mereka melompat naik ke atas pohon. Hinata sempat melongo melihatnya, sempat ling-lung dan mengira ia tengah bermimpi. Tidak mungkin manusia normal bisa melompat ke tempat setinggi itu dengan mudah.

Ia hanya memandang mereka seperti orang bodoh saat mereka meminta Hinata mengikuti mereka. Tentu saja Hinata tak bisa naik, jadi akhirnya Cowok Kakashi bersedia menggendong Hinata.

Ok... ini sedikit aneh.

"Kau ini ninja bukan sih? Kami saja yang genin bisa berlari di atas pohon," komentar cewek Sakura sambil berlari.

"Hei… kau pikir aku monyet apa? Lari-lari di atas pohon," protes Hinata refleks sebelum kemudian matanya terpaku pada sebuah gerbang besar berwarna hijau. Mereka semua melompat turun. Cowok Kakashi segera menurunkan Hinata dari punggungnya.

"Hey… Hatake-san! Baru selesai menjalankan misi?" Tanya seorang lelaki dengan perban melintang di atas hidungnya dan rambut coklat jabrik. Ia memakai ikat kepala konoha di dahi.

"Hm… kami ingin langsung ke kantor Hokage," kata cowok Kakashi sambil tersenyum.

"Siapa dia?" Tanya pria itu sambil menunjuk Hinata.

"Kami tidak tahu, tapi kami juga akan membawanya ke kantor hokage," jawab Cowok Kakashi lagi.

"Baik, masuklah." kata pria itu akhirnya.

Mereka semua segera berjalan masuk. Hinata sudah akan bertanya saat matanya terpaku pada tebing batu besar yang terpahat empat wajah yang sangat familiar. Tebing batu itu benar-benar mirip dengan yang ada di dalam komik. Mulut Hinata menganga lebar saat memandang sekeliling. Rumah-rumah yang ada di sekelilingnya amat sangat berbeda dengan model rumah yang pernah dilihatnya.

"Uhm... ano... ini dimana ya?" Tanya Hinata sambil berjalan tanpa berhenti melirik sekeliling.

"KonohaGakure, kau tidak tahu?" Tanya cewek Sakura heran.

Hinata hanya diam. Ia berusaha memahami apa yang tengah terjadi.

"Bukankah kau seorang kunoichi Konoha?" Tanya cowok Kakashi terdengar curiga. Hinata mendongak dan menatap sosok ninja yang balas menatapnya dari balik buku oren.

Hinata tak menjawab. Ia sedang sibuk berpikir. Ia mencubitnya lengannya.

Sakit!

'Kalau aku sedang tidak bermimpi, aku pasti sudah gila.' batin Hinata dalam hati.

"Um… Naruto?" panggil Hinata ragu-ragu.

"Ya?" jawab cowok Naruto.

Hinata berjalan ke samping cowok itu. Menatapnya lekat-lekat lalu mencubit pipi si coser Naruto.

"Hei… sakit!" teriak cosplayer Naruto itu sambil memegangi pipinya yang memerah.

" Gawat!" gumam Hinata

"Ada apa?" Tanya Cowok Kakashi.

"Aku sudah gila." jawab Hinata sambil memegang kepalanya.

.

To be Continue…

.

.

Ha ha ha saya tahu fic ini sangat gaje. Saya hanya mau melampiaskan ide yang menghantui saya. Benar-benar mengganggu kepala saya. Jadi saya harap pendapatnya. Karena saya masih ragu untukmelanjutkannya. Dan saya mohon jangan flame saya. Hanya saja kalau ada yang suka atau tidak suka fic ini harap beri tahu saya. Tapi saya mohon jangan Flame. Saya bisa langsung drop!

Review please…