hy^^

sudah lama sekali. saya mohon maaf atas update yang sangat lama. tapi saya harap para reader tidak menyerah pada fic ini maupun fic saya yang lain. saya akan berusaha sesegera mungkin untuk update^^

terima kasih atas semua reviewnya. benar-benar membuat saya semangat untuk update. tapi mohon maaf. kali ini saya tak bisa membalasnya. walau nanti yang log in akan saya usahakan balas lewat PM.

hope you like it ^^!

oh ya, maaf, saya belum sempat untuk mengeditnya. jadi mohon maaf atas typo yang bertebaran^^V

.

.

.

Umur Hinata disini adalah 15 tahun atau bayangin saja Hinata di Naruto Shippuden. Sementara umur Naruto dan yang lain 12 tahun. Settingnya setelah misi di Negara Nami.

Warning : Gaje, OC, OOC, Typo bertaburan. Don't like Don't read!

Disclaimer : Masashi Kishimoto Sensei.

Tsubasa Hinata di sini adalah Hyuuga Hinata. Dan posisi Hinata di dunia Naruto akan di gantikan oleh Hyuuga Hanabi.

Hinata OOC!

Tap… tap… tap...

Tiga sosok bayangan terlihat bergerak cepat diantara rimbunnya pepohonan. Dalam hutan kematian itu, suara kaki mereka yang menapak di dahan pohon terdengar samar tertutup keriuhan hutan. Setiap saat mereka bias mendengar suara binatang buas dan serangga beracun yang menghuni tempat itu. Belum lagi lebatnya hutan menutupi sinar mentari yang bertengger terik di atas langit. Membuat hutan itu tetap gelap meski Sang Raja Siang masih bertahta di langit.

Setelah terus bergerak tanpa bicara, salah satu dari bayangan itu berhenti di salah satu dahan sembari mengangkat sebelah tangan. Member sinyal pada dua rekannya untuk berhenti. Sosok bayangan itu diam tak bergerak saat mengawasi sekeliling. Hingga sebuah senyuman sinis terlihat meski dalam kegelapan.

"Lihat, siapa putri yang tengah tidur siang disana." sosok itu berkata sambil memandang ke depan. Menatap sosok yang tengah terbaring di tanah tak bergerak. Sosok gadis berambut hitam panjang itu mengenakan pakaian putih penuh ikatan khas seragam tahanan khusus. Noda lumpur terlihat menodai wajah berkulit putih yang tengah tak sadarkan diri.

"huh… lihat apa yang bisa kita lakukan padanya."

.

.

.

## I Must Be Crazy ##

Chapter 10

.

.

.

"Hokage-sama." Sosok jonin berambut putih itu menyapa penuh hormat pada sosok Hokage yang tengah duduk di kursi kerjanya seperti biasa.

Sang Hokage ke 3 mengangkat wajah sembari menghisap pipa rokoknya.

"Kau terlambat, Kakashi." Kata Sang Hokage.

"Maa… ada tiga kucing tersesat yang harus kuantar pergi." Jawab Kakashi tersenyum sambil mengusap belakang kepalanya.

"Kau tak pernah berubah, Kakashi." Komentar sosok lain yang ada di ruangan itu sambil menggelengkan kepala.

"Kau tau aku, Yamanaka-san." Jawab Kakashi memalingkan senyumnya pada sosok berambut pirang tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Hum… sekarang setelah kau datAng, kakashi. Aku akan memberitahu apa yang akan kita lakukan selanjutnya pada gadis yang kita ketahui bernama Tsubasa Hinata." Kata Hokage ke tiga yang langsung membuat Kakashi memasang ekspresi serius.

"Saya mendengarkan, Hokage-sama." Jawab Kakashi.

"Sesuai dengan laporan Yamanaka Inoichi tentang apa yang ada dalam ingatan gadis itu, dia tidak menunjukkan adanya memori yang membuktikan ia mata-mata atau kecurigaan lain yang membahayakan Konoha." Kata Sang Hokage sambil menatap lurus Kakashi.

"Meski begitu, ada banyak hal yang masih harus diselidiki lebih jauh. Karena itu, Hatake Kakashi. Aku menugaskanmu untuk mengawasinya 24 jam setelah ia keluar dari tahanan. Kau bisa menjemputnya di ruang tahanan no 31. Gadis itu belum sadar sejak Inoichi memeriksa memorinya beberapa hari yang lalu. Tapi anggota medis kita sudah memeriksa keadaannya dan melaporkan hal itu terjadi karena tubuh tanpa cakranya bereaksi keras dengan teknik yang di pakai Inoichi. Karena sebab itu kita tak akan melakukan interogasi dengan cara itu lagi. Kau bisa mengantarnya ke apartemen Naruto yang akan kosong selama ia mengikuti ujian chuunin. Misi akan dilabeli sebagai misi level B. mengerti?"

"Baik, hokage-sama." Jawab Kakashi serius.

"Kau boleh pergi." Kata Hokage ke 3 sambil mengambil salah satu laporan di atas mejanya.

Kakashi mengangguk dan bersiap pergi sebelum tiba-tiba pintu kerja Sang Hokage diketuk dengan cepat.

"Hokage-sama!" panggil suara di depan pintu dengan nada tergesa.

"Masuk." Jawab Sang Hokage sambil memandang pintu yang segera terbuka diikuti seorang ninja berompi hijau yang masuk sementara Kakashi menyingkir ke samping memberi jalan.

"Maaf mengganggu, Hokage-sama. Tetapi saya harus melaporkan bahwa tahanan di ruang 31 telah menghilang." Lapor ninja itu dengan cepat.

"Tak ada tanda pintu di buka paksa ataupun penjaga yang melihatnya kabur. Seperti dia menghilang begitu saja." Lapor ninja itu lagi membuat ketiga ninja yang sebelumnya ada di ruangan itu membeku.

"Kalian sudah tau dimana dia sekarang?" Tanya Hokage ke 3 mencoba tenang. Setiap tahanan khusus dipasangi alat pelacak yang akan bisa di deteksi selama masih berada di wilayah desa Konoha.

"Ya, Hokage-sama. Tapi kami membutuhkan izin anda untuk memasukinya." Kata Ninja itu dengan wajah penuh keringat.

"Kenapa?" Tanya Sang Hokage sembil mengerutkan alis. Normalnya, para penjaga akan langsung menangkap kembali tahanan meski tanpa izin darinya.

"Gadis itu berada di hutan kematian, Hokage-sama." Jawab ninja itu kemudian.

"Apa?" Tanya Kakashi pelan.

###

"Hei, Bangun!"

Sebuah suara yang sangat jauh menggapai pendengarannya. Meski begitu ia tak bergerak alih-alih membuka kelopak matanya.

"Hei, kau dengar aku?"

Suara itu kembali terdengar. Kali ini diikuti tepukan pelan di pipi. Hinata memejamkan matanya semakin rapat. Ia merasa sangat lelah dan hanya ingin kembali tidur. Namun sesuatu yang dingin dan cair tiba-tiba mengguyur wajahnya. Membuat kesadarannya reflex tertarik secara otomatis.

"AH!" gadis bermata violet itu langsung bangun dan membuka matanya.

Sambil terduduk , Hinata kembali memejamkan matanya saat rasa pusing mendera kepalanya. Ia ingin merabanya namun menyadari ia sama sekali tak bisa menggerakkan tangannya. Sambil mengerjapkan mata ia menunduk dan memandang tubuhnya yang penuh ikatan separti ikat pinggang. Diikuti baju putih yang tak ia ingat pernah memakainya. Baju itu seperti baju pasien rumah sakit jiwa yang pernah ia lihat di tv.

"Apa kau menikmati tidur siangmu, nona Hinata?" Tanya suara sinis yang langsung membuat Hinata mendongak. Menatap sosok berambut hitam panjang yang berdiri di hadapannya. Sebelah tangannya memegang botol yang masih meneteskan air. Hinata kembali mengerjap. Mencoba membersihkan pandangannya yang masih buram.

"Kau tak perlu sekasar itu, Neji." Terdengar suara lain yang lebih halus dan ringan. Saat itu Hinata sudah bisa melihat dengan jelas sosok dengan sepasang mata violet yang sama sepertinya tengah memandangnya dengan angkuh. Dalam sekejap Hinata langsung mengenali sosok itu.

"Hyuuga Neji! Kenapa kau menyiramku?" teriak Hinata kesal. Menyadari siapa yang menjadi tersangka utama penyiraman atas dirinya. Memperburuk moodnya yang memang selalu buruk setelah bangun tidur.

"Huh, kau tidur seperti orang mati." Jawab Neji dengan dingin sambil menunduk memandang Hinata yang masih terduduk dengan tubuh penuh lumpur.

"Berisik. Itu bukan urusanmu!" jawab hinata tak kalah dingin.

"Kau kenal dia Neji?' Tanya suara wanita di samping Hinata.

"Hn." Jawab Neji singkat.

Hinata menoleh dan mendapati seorang gadis berambut coklat gelap dengan dua ikatan rambut bulat seperti gadis cina tengah duduk disampingnya sambil tersenyum. Ia juga mengenakan pakaian yang mirip baju khas cina tanpa lengan. Membuat Hinata sempat berpikir mungkin gadis ini juga berasal dari dunia nyata dan terlempar ke dunia Naruto ini seperti dirinya. Pikiran Hinata itu langsung lenyap saat melihat sosok ninja ke tiga yang berdiri di samping Neji.

"tindakanmu sangat memalukan dan tidak sesuai dengan semangat masa muda, Neji. Kau seharusnya tidak memperlakukan wanita seperti itu." Kata sesosok ninja itu penuh kekecewaan. Sementara Hinata hanya bisa menganga melihat penampilannya. Hinata yakin ia tak pernah melihat makhluk seaneh itu dalam hidupnya.

Bagaimana tidak. Sosok ninja di depannya itu memakai baju sangat ketat berwarna hijau. Dengan ikat kepala konoha yang dijadikan ikat pinggang. Sebuah benda mirip kaos kaki sepanjang lutut berwarna orange coklat. Apalagi ditambah rambut hitam berkilau model mangkuk terbalik itu.

"Kau baik-baik saja, Nona?" Tanya ninja hijau itu sambil tersenyum lebar. Untuk sesaat Hinata yakin melihat kilauan cahaya dari giginya. Hinata yakin ia akan pingsan lagi.

"Apa yang kau lakukan disini? Mana ikat kepalamu? " Tanya Ninja wanita disampingnya membuyarkan niata pingsan Hinata. Gadis yang baru saja bangun itu segera memandang sekeliling dan kaget saat menyadari ia tengah berada di tengah hutan yang terlihat menyeramkan. Pohonnya bahkan sangat besar dengan akar-akar besar yang mencuat ke permukaan. Lebarnya mungkin lebih dari 5x apartemen Naruto.

"Eeh… dimana ini?" Tanya Hinata. Terakhir ia ingat ia tengah berada di ruangan putih tanpa pintu.

Tenten memandang Hinata dengan alis berkerut sebelum berpaling menatap Neji yang juga tengah memandang gadis itu dengan wajah tanpa ekspresi.

"Huh… kau lari dari penjara dan tersesat di tempat yang salah, Nona. Aku yakin mereka pasti akan menghukummu mati karena telah mencuri mata kami. Tapi setidaknya penjara jauh lebih baik dari tempat ini." Kata Neji. Hal itu segera membuat Tenten melompat mundur.

"Sudah kubilang aku bukan pencuri!" teriak Hinata dengan garis siku-siku di dahinya. Apa-apaan sih mereka itu, seakan mata bisa dicuri seperti mencuri berlian saja.

"Kau seorang tahanan?" Tanya Lee yang ikut memasang pose bertahan. Senyumnya sudah hilang diganti ekspresi serius.

"Huff… aku tak tahu. Aku tak ingat apapun dan baru bangun tadi. Kenapa kau bilang aku tahanan?" Tanya Hinata heran

"baju yang kau pakai itu seragam tahanan khusus. Jangan bohong pada kami." Jawab Neji dingin.

Hinata menunduk dan memandang sekujur tubuhnya yang terbalut pakaian putih dan penuh ikatan. Sepertinya ia ingat pernah melihat Naruto memakai pakaian seperti ini saat ia di tahan di Naruto Shippuden the Movie 3. Hinata bahkan ingat ia sempat tertawa saat Naruto dikekang dalam penjara seperti orang gila.

Hinata menghela nafas.

Sepertinya ia memang dipenjara. Lalu kenapa sekarang ia ada di tengah hutan. Apa mereka membuangnya untuk dijadikan santapan binatang buas? batin Hinata ngeri.

"I-ini dimana?" Tanya Hinata.

Tiga ninja di hadapannya itu saling pandang.

" Kita berada di hutan kematian." Jawab Tenten.

...

Hening…

Hening lagi…

"APA?" teriak Hinata kaget.

"b-bagaimana aku bisa sampai disini? L-lau kenapa kalian juga ada disini?" Tanya Hinata lagi.

"Kami sedang mengikuti ujian Chuunin. Kalau memang masih ingin hidup, cepat pergi dari sini." Jawab Neji.

Henig lagi…

Lagi-lagi hening…

"EEEH… sekarang sudah ujian Chunin?" Tanya Hinata sambil memandang sekeliling."Dimana Sasuke? Dimana Naruto?"

"Itu bukan urusan kami. Ayo pergi. Lee. Tenten." Kata Neji sambil berjalan pergi.

"Eh… TUNGGU!" teriak Hinata berusaha bangkit namun gagal. Membuatnya justru ambruk di tanah karena tubuhnya yang penuh ikatan.

"Bantu aku menemukan tim 7!" teriak Hinata dengan posisi tertelungkup di tanah.

Neji berhenti melangkah dan sedikit menoleh ke belakang untuk melirik Hinata.

"Apa untungnya buat kami?" Tanya neji datar.

"A-apa? A-aku tak punya apapun." Kata Hinata sambil berusaha mendongak. Ia tak bisa melihat mereka dengan jelas dari posisinya yang terbaring di tanah.

"Kalau begitu kami pergi." Kata Neji kembali melangkah.

"eeh, tunggu!"

"Apa kita akan meninggalkannya begitu saja?" Tanya tenten tak yakin.

"Bukankah dia dari klanmu, Neji?" Tanya Lee.

Neji hanya diam tak menjawab.

Sementara itu Hinata mulai panic dan putus asa saat ia melihat tiga ninja itu dengan cepat hilang dari pandangannya.

Ayo Hinata… pikirkan sesuatu… apapun itu.

"AKU AKAN MEMBERI TAHU RAHASIA KEMATIAN AYAHMU!" teriak Hinata tanpa pikir panjang. Membuat Neji membeku dari tempatnya.

Hinata menjedukkan kepalanya di tanah putus asa saat tak ada tanda Neji akan kembali. Disinilah ia. Akan mati tanpa bisa berguna apapun.

Tiba-tiba saja seseorang menarik belakang kerahnya dan sekejap saja ia sudah bertatap muka dengan Neji. Sepasang mata putih violet itu menajam dengan otot-otot yang terlihat menegang di sekelilingnya. Membuat Hinata memekik kaget.

"Apa maksudmu?" taya Neji pelan. Ia mendekatkan wajah Hinata hingga jaraknya hanya beberapa senti.

Hinata menelan ludah. Mata byakugan itu benar-benar menakutkan.

"B-bantu aku menemukan tim 7. D-dan a-aku akan member tahu rahasia kematian Hyuuga Hizashi padamu." Jawab hinata dengan suara bergetar.

"Bagaimana aku tau kau tidak berbohong?" Tanya Neji lagi. Kali ini sedikit getar dalam suaranya saat mendengar nama sang ayah disebut. Sudah lama sekali tak ada yang enyebut nama itu di hadapannya.

"K-kau boleh membunuhku. Dan kau tak akan pernah tau kebenarannya." Tantang Hinata nekat. Ia tahu Neji tak akan membunuhnya.

Kalau membuatnya koma sih. Mungkin.

Neji terlihat berpikir selama beberapa saat.

"Apa yang kau inginkan dari tim 7?" Tanya Neji.

"m-mereka dalam bahaya. A-aku harus memperingatkan mereka." Jawab Hinata.

"huh… kami semua dalam bahaya karena mengikuti ujian ini." Kata Neji sambil mendengus.

"K-kumohon, percayalah padaku. Mereka dalam bahaya." Pinta Hinata sambil menatap lurus mata Neji.

"baik. Kalau kau bohong. Aku akan membunuhmu saat itu juga." Kata neji pelan nyaris berbisik. Hinata mengangguk.

"Tenten… lee… kita ubah renana."

# # #

Hinata memejamkan mata saat angin dingin menerpa wajahnya. Ia hanya diam saat Lee menggendong dan membawanya lari dengan kecepatan tinggi di atas pohon. Tak seperti penampilannya, Lee ternyata anak yang baik dan sangat sopan. Ia bahkan mengajukan diri untuk menggendong Hinata saat Neji setuju dengan transaksi mereka namun menolak untuk menggendong Hinata yang tak bisa berlari di atas pohion.

'Buku memang tak bisa dinilai dari sampulnya.' Batin Hinata sambil menghela nafas. Ia mengeratkan pegangan dan menyandarkan kepala di bahu Lee. Ia sangat berterima kasih pada tenten yang membantu melepaskan ikatan-ikatan di tubuhnya. Kini ia hanya memakai baju putih dengan tali-tali yang masih menjuntai di sekujur tubuhnya. Lengannya yang kelewat panjang dan tak berlubang itu di sobek hingga pergelangan pergelangan tangannya bisa keluar sementara sisanya menjuntai seperti selendang panjang.

Kepalanya masih terasa pusing dan ia sama sekali tak merasa nyaman untuk tidur seperti saat Naruto menggendongnya dulu. Ia juga sama sekali tak ingin berpikir apa yang terjadi saat ia di interogasi. Yang penting sekarang ia menemukan tim 7 dan membujuk mereka untuk secepat mungkin menuju menara. Tak peduli lagi dengan ujian chunin yang tengah berlangsung. Toh akhirnya yang jadi chunin hanya Shikamaru.

"kita sampai." Kata Neji yang langsung membuat Hinata tersentak da mendongak.

"Apa mau kalian?' Tanya sebuah suara yang familiar. Hinata refleks menoleh dan mendapati tim 7 sudah ada di hadapan mereka dengan posisi bertahan dan kunai di tangan.

"Huh, sombong seperti biasanya, Uchiha. Kudengar Lee kemarin menghajarmu sampai babak belur." Kata Neji dengan nada menyindir.

Perlahan Hinata turun dari gendongan Lee.

"Tenanglah, kami hanya mengantar Hinata-san." Jawab lee sambil memegangi Hinata yang masih agak limbung.

"HINATA-CHAN! APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA, DASAR ALIS TEBAL!" teriak Naruto sambil berlari sebelum dihalangi oleh Sasuke.

"jangan mendekat. Kita belum tahu ia asli atau bukan. Lagipula Hinata tak mungkin ada disisni. Dia tak mengikuti ujian chunin." Kata Sasuke sambil menatap tajam Neji.

"Huh… kami tak akan menggunakan cara mealukan seperti itu untuk merebut gulungan darimu. Dia asli. Kau bias melihatnya dengan Sharinganmu." Kata Neji.

Melihat tim 7 selamat dan masih segar bugar, Hinata tersadar dan segera berlari. Sebelum tiba-tiba Neji mencengkeram lengannya.

"Kau berhutang penjelasan padaku." Kata Neji pelan.

"L-lepas. Kau akan tahu kebenarannya saat ujian chunin berakhir." Kata hinata sambil berusaha melepaskan lengannya. Mereka harus segera lari sebelum Orochimaru datang.

"Kau bohong." Kata Neji mengeratkan cengkramannya.

"A-aduh… lepas… kita harus segera lari." Kata Hinata sebelum tiba-tiba Neji melompat mundur saat dua kunai terarah cepat kearahnya dan menancap di tanah tepat di tempat ia sebelumnya berdiri. Dalam sekejap Sasuke dan Naruto sudah ada di samping kanan kiri Hinata.

"Hinata-chan, kau baik-baik saja? Apa yang mereka lakukan padamu?" Tanya Naruto sambil memeriksa kalau-kalau ia terluka.

"Aku baik-baik saja. Kita harus cepat pergi ke menara." Kata hinata sambil menarik lengan Naruto dan Sasuke.

"Neji, kau bisa memegang kata-kataku. Aku tak akan ingkar janji." Kata Hinata sambil memandang Neji.

"tapi Hinata-chan. Kami belum mengumpulkan gulungan." Kata Naruto.

"Kau pikir aku akan melepaskanmu?" kata Neji sambil melangkah maju. Sebelum tiba-tiba saja angin yang sangat kencang bertiup ke arah mereka. Menerbangkan debu-debu dan meniup mereka keras. Refleks Hinata mencengkeram erat lengan Sasuke. Tak ingin mereka terpisah.

Setelah waktu yang terasa sangat lama, akhirnya angin topan itu berhenti. Saat sadar Hinata sudah terbaring di tanah dengan tim 7 dan tim Neji tak ada di manapun. Dengan panic Hinata buru-buru bangun.

"Jangan bergerak." Suara pelan itu membuat Hinata mendongak dan mendapati Sasuke tengah terbaring di sampingnya dan menekan kepalanya agar tetap menempel di tanah. Matanya yang hitam kelam menatap sekeliling penuh waspada.

"S-sasuke?" Tanya Hinata. Wajah Sasuke yang hanya berjarak bebrapa jengkal dari wajahnya membuat Hinata sadar wajah tampan itu penuh luka gores.

"K-kau terluka?" tanya Hinata pelan. Membuat mata kelam itu menatap Hinata seakan tengah berpikir.

"Ini bukan apa-apa. Kita harus segera mencari Naruto dan Sakura. Angin tadi pasti perbuatan musuh." Kata Sasuke.

"Tidak. Kau harus segera ke menara. Naruto dan Sakura pasti bisa menyusul." Kata Hinata tanpa sadar mencengkeram lengan Sasuke lebih erat.

"Aku tak bisa meninggalkan anggota timku. Lagipula kami harus mengumpulkan gulungan sebelum menuju ke menara." Kata sasuke.

"Itu tidak penting. Kita harus segera pergi. Ular itu mengincarmu." Kata hinata mulai panic.

"Aku tak akan lari. Sekarang lepaskan tanganku." Kata Sasuke sambil menatap tangan Hinata yang terus memegang lengannya sedari tadi. Dengan ragu Hinata melepas pegangannya dan mengikuti Sasuke keluar dari semak-semak tempat mereka bersembunyi.

"Sakura." Panggil Sasuke saat mereka berdua keluar dan mendapati Sakura di hadapannya.

"Sasuke-kun!" sakura memekik kaget sebalum menghela nafas lega.

"jangan mendekat! Pertama kata sandi… 'Ninki'!" perintah Sasuke sambil memegang kunai dengan pose defensif. Hinata segera berdiri merapat di belakang Sasuke.

"Ah iya… keributan musuh berjumlah besar adalah teman shinobi. Yang bersembunyi dan tak bersuara itu bukan. Bagi shinobi harus mengerti pentingnya ketepatan waktu. Saat musuh kelelahan dan lengah." Jawab Sakura.

'Oh oh' batin Hinata mulai ingat apa yang akan terjadi. 'Terlambat.' Batinnya lagi sambil memandang sekeliling. Ia ingat yang membuat angin tadi adalah Orochimaru. Mereka harus segera pergi.

"Aduuh… oi, apa kalian baik-baik saja?" Tanya Naruto yang tiba-tiba muncul dari balik pohon. Wajah Hinata memucat. Ia segera memgang tangan Sasuke dan sakura erat. Membuat Sasuke meliriknya dalam diam.

"Naruto! Tunggu dulu. Kata sandi!" teriak Sakura.

"Aku mengerti…" dan sosok mirip Naruto itu mengulangi kata-kata Sakura dengan tepat. Hinata mulai memandang sekeliling. Menerka dimana arah menuju menara. Namun sekelilingnya sama. Gelap dan penuh pohon.

Tiba-tiba Sasuke melemparkan sebuah kunai kea rah Naruto. Membuat ninja berambut pirang itu menghindar dan berteriak kaget.

Tanpa pikir panjang, Hinata menarik tangan sasuke dan Sakura. Berlari menjauhi sosok Naruto yang ia tahu palsu.

"Apa yang kau lakukan, Hinata?" Tanya Sasuke sambil melepas tangan Hinata. Mereka bertiga berhenti tak jauh dari tempat sebelumnya.

"Ya, kenapa kita meninggalkan naruto? Dan kenapa kau menyerangnya, Sasuke-kun? Ia sudah mengatakan dengan benar kan?" Tanya Sakura tak mengerti.

"dia bukan Naruto. Sekarang, ayo cepat pergi." Kata Hinata sambil kembali menarik tangan Sasuke. Namun ninja berambut kelam itu tak mau bergerak. 'dasar ninja dan kekuatan supernya.' Batin Hinata kesal.

"Kumohon, kita harus segera pergi. Ia bukan musuh yang bisa kau lawan, Sasuke." Pinta Hinata sambil kembali berusaha menarik mereka berdua. Ia tahu Orochimaru bisa dengan mudah mengejar mereka. Tapi setidaknya ia harus tetap berusaha kan?

"Aku tak akan meninggalkan Naruto." Kata Sasuke menatap Hinata tajam.

"Dia bukan Naruto. Lagipula Naruto asli sekarang mungkin sudah ditelan ular. Tapi dia akan menyusul kita. Percaya padaku." Pinta Hinata.

"Apa?" Tanya Sasuke dan Sakura bersamaan.

"Khu khu khu…" terdengar tawa pelan yang membuat tiga orang itu menoleh. Mendapati Naruto tengah berjalan kea rah mereka dengan santai.

"darimana kau tahu kalau aku palsu?" Tanya sosok itu sambil menyeringai. Membuat wajah mirip Naruto itu terlihat menyeramkan. Sasuke langsung memasang pose defensif.

"Aku tahu kau bersembunyi di dalam tanah dan mendengarkan percakapan kami. Karena itu aku sengaja membuat kata sandi seperti itu. Si Dobe itu tak mungkin bisa mengingat lagu sepanjang itu. Dengan kata lain kau itu palsu." Jawab Sasuke sambil sedikit menyeringai. Sama sekali tak tahu siapa yang sedang mereka hadapi.

"Begitu ya… tak lelah dan tak lengah." Kata sosok Naruto itu sebelum menghilang dalam kepulan asap. Dan sesaat kemudian terlihat sosok wanita berambut hitam panjang berbaju hijau aneh dengan ikatan tali besar dipinggangnya. Ia juga mengenakan sebuah topi bambu yang menyembunyikan separuh wajahnya.

"Rasanya akan lebih menyenangkan dari yang kuduga." Gumam sosok itu sambil melepas topi bambunya.

Tanpa sadar Hinata menggenggam tangan Sasuke erat.

'Sial… terlambat… apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang harus aku lakukan?' batin Hinata panic.

"S-sasuke… saat ada kesempatan… cepat lari menuju menara… dia adalah criminal tingkat S dan mengincarmu… apapun yang terjadi.. jangan kembali… kau mengerti." Bisik Hinata nyaris tanpa suara.

Sasuke melirik Hinata sekilas sebelum kembali fokus pada musuh.

"Kau menginginkan 'Chi no sho' milikku bukan karena kalian memiliki 'Ten no sho'." Kata sosok itu sambil menunjukkan sebuah gulungan kecil berwarna hitam. Lidahnya yang kelewat panjang menjulur-julur menjijikkan.

"K-kami tak butuh gulungan itu." Kata Hinata sambil berjalan maju. Dan berdiri di hadapan Sasuke. Membuat perhatian Orochimaru terarah padanya.

"Apa kau tak malu mengincar seseorang yang jauh lebih lemah darimu? Walau aku tahu kau tipe pedofilia tapi ini memalukan. Apa aku salah, Orochimaru? Salah satu dari tiga legendaris sannin yang hebat?" Tanya Hinata tanpa berpikir. Ia sudah kehabisan akal. Ia tahu tak mungkin bisamengalahkan Orochimaru. Tapi setidaknya ia bisa mengalihkan perhatiannya semantara Sasuke lari.

Sosok Orochimaru itu memandang Hinata selama beberapa saat.

"khu khu… siapa kau? Kupikir anggota tim yang lain adalah bocah kyuubi itu… dan apa kau seorang ninja? Aku sama sekali tak merasakan aura cakramu… kau pasti hebat bisa menyembunyikannya seperti itu." Kata Orochimaru sambil tersenyum menatap Hinata. Membuat jantung hinata berdetak 2 lebih cepat menyadari tingginya bahaya.

"kau tak tahu aku… tapi aku tahu semua tentangmu." Kata Hinata sambil melangkah kedepan. Kakinya sedikit bergetar namun ia menguatkan diri untuk terus bergerak.

"Kau mengincar Uchiha Sasuke bukan? Harus kubilang, itu rencana yang buruk. Dan bisa kupastikan tak akan berhasil." Kata Hinata mulai mengontrol emosinya. Masa bodoh kalau dia mati nanti.

"Kau tahu pepatah 'jangan memelihara anak harimau karena kelak kau akan dimakan juga'?" Tanya hinata sambil menaruh sebelah tangan di belakang pinggang. Memberi isyarat agar Sasuke dan Sakura lari. Ia tahu setidaknya Orochimaru akan menaruh perhatian padanya dan membiarkan mereka lari sebentar. Tapi itu sudah cukup.

"Kau salah jika kau pikir bisa mengontrol Uchiha… harusnya kau mengerti setelah berhadapan dengan itachi. Kalau aku jadi kau, aku akan mencari mangsa lain… walau aku tahu kau cinta mati pada Sharingan…" kata Hinata lagi sambil mengangkat bahu sebelum melanjutkan "toh kau hanya punya waktu 3 tahun dan harus mencari lagi yang baru."

Hinata terdiam sejenak menatap Orochimaru yang balik menatapnya tanpa emosi.

"setelah aku pikir-pikir, apa kau tak lelah ganti kulit tiap 3 tahun begitu?" Tanya Hinata lagi

hening...

"Huh… ternyata kau tahu banyak, Bocah." Kata Orochimaru sambil tersenyum. Dalam sekejap saja dia sudah ada di hadapan Hinata. Membuat gadis bermata putih violet itu berjengit kaget dan melangkah mundur sebelum sebuah tangan pucat menahan bahunya.

"Hm… seorang Hyuuga. Bisa menyembunyikan cakra di umur ini… kau lumayan juga." Kata Orocimaru sambil menjilat pipi Hinata. Membuat gadis itu menjauhkan kepalanya dengan jijik.

"Dan… oh… apa kau juga musuh Konoha? Mereka pasti memperlakukanmu dengan buruk dipenjara." Kata orochimaru sambil memandang baju Hinata yang penuh lumpur.

"Lepas. Itu bukan urusanmu." Kata Hinata sambil berusaha menampik tangan Orochimaru yang terulur padanya namun dengan cepat manusia ular itu menangkap tangannya.

"hm… apa ini segel? Aku belum pernah melihat yang seperti ini…" gumam orochimaru sambil menatap segel di pergelangan tangan Hinata.

"Walau aku akui kau sangat menarik. Tapi aku punya urusan yang harus kuselesaikan." Kata orochimaru sambil tersenyum. Dalam sekejap saja Hinata sudah terlempar sebelum menyadari apa yang terjadi. Sebuah rasa sakit yang amat sangat menjalar dari bagian rusuknya.

Sepasang mata violet itu melebar merasakan sakit. Hinata yakin sebentar lagi tubuhnya akan membentur tanah dan pasti akan lebih sakit. Namun seseorang menarik tangannya dan tubuh Hinata membentur sesuatu yang jauh lebih lembut dari tanah.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Sasuke sementara Hinata terbatuk dan memegang dadanya yang terasa amat sakit.

"S-sasuke?" Tanya hinata sambil menoleh ke belakang. Menyadari Sasukelah yang telah menangkapnya sebelum membentur tanah.

"B-bukankah sudah kubilang lari?" Tanya Hinata tak percaya. Ia kira mereka berdua sudah pergi tadi.

"Dan meninggalkanmu? Jangan bodoh." Jawab Sasuke sambil membantu Hinata berdiri dan beralih menatap Orochimaru yang masih belum beranjak dari tempatnya.

"Kau baik-baik saja, Hinata-san?" Tanya Sakura yang segera lari di samping Hinata. Hinata mengangguk pelan meski ia yakin mendengar suara tulang patah tadi. Ia kembali terbatuk sambil memegang dadanya. Tanpa sadar setitik darah mengalir dari sudut bibirnya. Nafasnya kini tak beraturan.

"Baiklah…" kata Orochimaru sebelum memasukkan gulungan yang ia pegang dalam mulut dan menelannya. Hinata bahkan bisa melihat bagaimana gulungan itu melewati tenggorokannya dan menghilang di balik baju.

"Ayo kita mulai… memperebutkan gulungan…" kata Orochimaru sambil menunduk dan menyentuh ikat kepala bersimbol rumput di dahinya dengan ujung jari. Lidahnya yang panjang masih menjilat-jilat di sekitar bibir.

Dan dia mendongak sambil mencengkeram sebelah wajahnya.

"Dengan taruhan nyawa."

.

.

To be Continue

.

.

maaf... gaje banget ya *garuk belakang kepala* awalnya mau saya buat sampai si Oro gigit. tapi ternyata jadinya panjang banget. jadi saya potong disini^^

terima kasih sudah mau baca. maaf mengecewakan. tapi saya tetap mohon reviewnya ya^^

Word count : 4480

REVIEW PLEASE...