Disclaimer : Tite Kubo ~ The Author of Real Bleach

A/N: Hadiah tahun baru! BANZAII!

Mini Series of Songz akan menjadi multi-chap yang tidak memiliki hubungan baik pair, setting, maupun tema.

Jadi ini cuma kumpulan cerita berlatar belakang lagu. Semua inspirasinya dari lagu.

Dan, chapter 1 ini inspirasi dari lagu Taylor Swift 'Speak Now'.

Selamat membaca ya~!

SPEAK NOW

I am not the kind of girl

Who should be rudely barging in

On a white veil occasion

But you are not the kind of boy

Who should be marrying the wrong girl

Rukia Kuchiki, wanita muda bertubuh mungil ini merupakan mantan pacar dari seorang selebritis muda, Kurosaki Ichigo. Hubungannya berlangsung dua tahun, tapi sejak delapan bulan yang lalu, mereka putus. Kini Ichigo telah mendapat pengganti Rukia di hatinya, seorang wanita dari kalangan selebritis juga, Orihime Inoue. Mereka akan melangsungkan pernikahan dua minggu lagi, tepat pada tanggal 31 Desember. Undangan telah disebarluaskan. Rukia pun mendapatkannya langsung dari Ichigo.

Flashback

'Ting-tong.'

"Iya sebentar," Rukia berlari kecil menuju pintu yang sedari tadi telah memanggil-manggil penghuni rumah.

"Maaf, aku di dapur tadi," Rukia membuka pintu, tanpa memandang tamu-nya itu, ia langsung memberikan salam hangatnya itu, "Selamat siang,"

"Rukia, kau sibuk ya? Boleh aku masuk?" sesosok pria yang sudah familiar sekali di ingatan Rukia. Satu-satunya pria berambut orange yang ia kenal yang juga merupakan mantan pacarnya berkunjung ke rumahnya, ada angina apa ini?

"Eh, iya. Masuklah," Rukia mempersilakan tamu spesialnya itu masuk ke rumahnya. Sebenarnya, saat Ichigo dan Rukia pacaran, Ichigo sangat jarang mai ke rumah kekasihnya itu. Jadi rasa canggung pun di antara mereka berdua sungguh wajar dirasakan.

"Kau mau minum Ichigo?"

"Ah, tidak usah. Bisa duduk sebentar?" Ichigo menyuruh Rukia duduk tepat dihadapannya. Meja kecil kayu jati menjadi pembatas di antara mereka.

"Aku ingin bicara sebentar. Aku membawakan ini untukmu," Ichigo menunjukkan undangan ber-desain mewah dengan pita dan warna merah yang mencolok.

"Ha, apa ini?" Rukia membuat sedikit basa-basi. Padahal ia sudah tahu itu undangan pernikahan. Berita rencana pernikahan Ichigo dan kekasihnya telah ter-expose oleh media entertainment.

Ichigo menatap wajah imut Rukia. Ia menggenggam kedua tangan Rukia dan berkata, "Aku akan menikah. Aku ingin kau datang,"

Dua minggu pun berlalu. Besok merupakan hari pemberkatan Ichigo dengan Inoue. Rukia pun belum memutuskan akan datang atau tidak. Sejujurnya, ia masih berharap Ichigo bersamanya. Itulah alasan Rukia masih sendiri saat ini.

Di kamar minimalis-nya, ia memandang cermin. Dalam pikirannya ia membandingkan dirinya dengan Inoue. Inoue yang berbadan tinggi dengan wajah feminim sungguh lebih unggul jika dibandingkan dirinya yang masuk dalam kategori wanita bertubuh pendek. "Ahhh," ia berteriak. Teriakannya itu bernada keluhan. "Aku akan datang," tiba-tiba saja ia mengambil keputusan. Rukia mengambil telepon genggam-nya dan menelepon seseorang.

"Halo, Rangiku? Besok kau ada acara? Temani aku ke pernikahan Ichigo ya? Bisa tidak? Bisa kan?" Rukia sedikit memaksa temannya itu.

"Kalau aku memang akan datang besok. Tapi, apa kau yakin akan datang juga? Bukannya kau…" Rangiku sedikit meragukan keputusan teman kecilnya itu.

"Pokoknya aku akan datang. Kau jemput aku, ya!" pinta Rukia tetap dengan nada memaksa. "Oke baiklah. Sudah ya~" Rangiku menutup telepon. Ya, memang itu kebiasaan buruknya saat menerima telepon orang. "Shit!"

Tepat 15 jam dari percakapan mereka yang barusan di telepon, Rangiku dengan gaun panjang berwarna ungu yang menutupi seluruh kakinya, rambut orange-nya dikepang dengan cantik. Rangiku berkaca, menunggu Rukia mencoba baju-baju yang disarankan oleh dirinya sendiri. "Gara-gara kau, aku dan Gin tidak bisa pergi bareng. huh,"

"Hmm, biar-lah. Dia kan bukan anak kecil yang harus kau antar kemana-mana," Rukia ber-argumen. "Rukia, Rukia… Kau kan juga bukan anak kecil." Rangiku membalas argumen Rukia, dan terlihat Rukia kalah dalam debat pendek tersebut.

"Oke. Bagaimana? Aku sudah terlihat baik?" Rukia memperlihatkan hasil meditasinya (?), gaun putih dengan kacamata hitam. Gaun selutut kakinya dengan model balon dan stocking putih. Tangannya ditutupi dengan kain sewarna. Dan yang paling mencolok darinya adalah pita putih raksasa yang menjadi hiasan kepalanya.

"Oh, Tuhan! Kau membuatku kaget. Kukira kau malaikat nyentrik pencabut nyawa," Rangiku berkomentar. "Hmm, seperti biasa, gayamu tidak ada duanya. Eh, tapi, bagaimana kalau kacamata-nya dilepas," lanjutnya.

"Tidak bisa. Kacamata ini satu-satunya yang menemani warna rambutku. Lagi pula, ini menunjukkan perasaanku saat ini bahwa aku tidak sebahagia yang dia kira," Rukia merenung sebentar.

"Sudahlah. Ayo, berangkat!" Rukia segera bergegas mengenakan hak tinggi putih dan menutup pintu rumah kecilnya setelah Rangiku yang sedikit berlari kecil keluar dari sana.

Di gereja besar tempat upacara pernikahan Ichigo dan Inoue berlangsung. Terlihat Gin tengah menunggu kekasihnya. Dari jauh, dengan matanya yang sipit itu, ia melihat Rangiku dan Rukia yang baru saja turun dari kendaraan umum. Rangiku melambai-lambaikan tangannya pada Gin.

"Duh, maaf ya, aku telat," Rangiku meminta maaf pada sang kekasih yang sudah sangat rapi dengan kemeja bergaris dan dasi merah ditambah lagi gasper merah dan jam tangan berkelas yang membuatnya tampak sangat modis.

"Sudahlah, tak apa. Kita harus segera masuk." dengan tanpa rasa bersalah sedikit pun, Rukia berceletuk dan masuk ke gereja megah itu sendirian. "Hey, tunggu! Dasar bocah!" Rangiku membalas celetuk-kannya.

Di dalam gereja.

Undangan sudah datang semuanya, Rukia, Rangiku dan Gin adalah yang terakhir. Dengan sangat terpaksa mereka harus duduk di kursi paling belakang. Meski demikian, Rukia sedikit lega dengan tempatnya sekarang, bukan apa-apa, ini akan membuat ia menjadi semakin tidak terlihat. Hal ini akan membuat ia sedikit bisa melepas kepergian mantan pacarnya itu yang akan bersanding dengan wanita yang bukan dirinya.

I sneak in and see your friends

And her snotty little family

All dressed in pastel

And she is yelling at a bridesmaid

Somewhere back inside a room

Wearing a gown shaped like a pastry

Beberapa menit para undangan menunggu, akhirnya sang mempelai tiba di tempat. Mobil limosin putih yang sangat elegan terpampang di halaman gereja. Dari mobil itu, seorang wanita berpostur tubuh tinggi semampai berbalut pakaian pengantin putih dengan model rambut disanggul berjalan dengan sangat perlahan menuju altar gereja. Di dampingi dengan pendamping, yang bukan lain adalah ayahnya sendiri. Dari belakang, dua anak kecil berumur 9 tahun mulai 'mengotori' karpet gereja dengan hiasan bunga-bunga-an yang dilempar mereka. Dua menit kemudian, giliran Kurosaki Ichigo yang menunjukkan dirinya. Dengan pakaian serba putih melangkah menuju altar. Ia berjalan dan melewati kursi Rukia. Tampak Rukia gugup berkeringat padahal pendingin ruangan gereja itu sudah lebih dari cukup untuk menghilangkan segela bentuk rasa gerah dan semacamnya. Ichigo dan Inoue sudah bersama di depan altar. Para pendamping menyingkir ke tempat duduk mereka. Keluarga Ichigo dan Inoue duduk di satu deretan paling depan. Mereka sedikit berbincang 'mereka cocok' satu sama lain sambil menunjuk Ichigo dan Inoue dan tertawa kecil. Pakaian dua keluarga itu sungguh glamour dan bermerk. Tidak heran bagi para undangan melihat mereka dengan tatapan iri.

Fun gestures are exchanged

And the organ starts to play

A song that sounds like a death march

Iringan piano gereja kemudian berbunyi menyambut sang pastur dengan gayanya yang khas menaiki 'tahta'-nya. Yamamoto, nama pastur itu, menatap kedua mempelai dihadapannya. Iringan piano masih terdengar, sedikit tidak meyakinkan, melihat sang pianis berambut merah dengan tattoo sangar di seluruh tubuhnya. Kontras sekali.

"Untuk kesempatan kali ini, kita akan menyaksikan kedua insan ini menyatukan cinta mereka dihadapan Tuhan. Mempelai pria, Kurosaki Ichigo, dan mempelai wanita Orihime Inoue." kata sambutan sang pastur menggetarkan tubuh Rukia di belakang sana. Dan seakan memiliki ikatan batin, Ichigo yang berada 6 meter jauhnya dari Rukia pun, merasakan hal yang sama dengan Rukia.

"Kurosaki Ichigo, apakah kau menerima Orihime Inoue baik kelebihan dan kekurangannya sebagai istrimu yang telah dipilihkan-Nya bagimu untuk selama-lamanya?" pastur berkata demikian dengan nada menantang Ichigo. Semua undangan menunggu jawaban Ichigo. Ichigo merasa bimbang sekarang. Keringat mulai membasahi pipi pemuda berambut orange tersebut. Ia memandang Inoue dengan serius. Terpancar dari wajah Inoue 'apa kamu yakin?' yang semakin membuat Ichigo semakin bimbang. Dan tiba-tiba…

I hear the preacher say

"Speak now or forever hold your peace"

There's the silence, there's my last chance

I stand up with shaking hands, all eyes on me

Horrified looks from

Everyone in the room

But I'm only looking at you

Rukia bangkit dari tempat duduknya. Ia berdiri dan membuat Ichigo dapat melihatnya. Rukia tak kuat melihat pertunjukkan terburuk yang akan menghancurkan hatinya itu. Ichigo memalingkan wajahnya dari sosok Inoue yang begitu sempurna dan memandang wanita berpostur mungil di luar sana. Ya, Rukia memang sedang membalikkan badannya dan berdiri di tangga kecil halaman gereja. Sekali lagi dalam hatinya ia berkata,

Don't say yes, run away now

I'll meet you when you're out

Of the church at the back door

Don't wait or say a single vow

You need to hear me out

And they said "speak now"

Ichigo dari kejauhan menatap Rukia, tangannya yang memegang tangan Inoue tadinya, sekarang dilepaskannya. Lalu Inoue pun meletakan tangannya itu di dadanya, pose yang khas untuk seorang Inoue. Inoue memandang Ichigo, dari pandangannya terbesit kata-kata 'lakukan yang terbaik' yang kemudian dibalas Ichigo dengan tatapan 'kau memang baik, aku akan pergi'. Dan pada saat itu pula, Ichigo melangkah berlari kecil menuju pada belahan hatinya. Semua yang berada di sana, menatap tindakan gila Ichigo tersebut.

Dan, Ichigo datang memeluk Rukia dari belakang. Sontak Rukia kaget dengan semua yang sedang terjadi sekarang. Pelukan hangat yang dirindukannya dapat ia rasakan kembali, tak kalah hangatnya.

She floats down the aisle

Like a pageant queen

But I know you wish it was me

You wish it was me, don't you?

I am not the kind of girl

Who should be rudely barging in

On a white veil occasion

But you are not the kind of boy

Who should be marrying the wrong girl

haha

Ichigo tersenyum manis sekali. Yang ia rasakan adalah feel yang sama jika ia dapatkan ibunya bangkit dari kematian. Memang mustahil, tapi yang satu ini berhasil. Ichigo kembali mendapatkan wanita terbaik di hatinya, dan ia berhasil membuat semua tidak kacau. Meski tampak dari tatapan undangan yang berkata 'dia gila', tapi Inoue sendiri dapat mengerti semuanya. Keluarga pastinya akan kecewa, tapi itu bukan masalah baginya. Sekarang ia menatap Rukia dan membersitkan kata-kata :

Baby, I didn't say my vows

So glad you were around when they said

"Speak now"

A/N: Merinding~ *bukan karena serem*

Bikin fiksi ini kayaknya spesial banget.

Lega banget setelah selesai. Rasanya nggak bisa diungkapin dengan kata-kata *lebai!*

Dan, bagaimana? Apakah kalian merasakan hal yang sama? Atau malah feel-nya lost?

Oke, review aja deh~ Thanks ya~