Disclaimer : Hoshino Katsura-sensei

Rating : T

Pairing : Yullen a.k.a Yuu Kanda & Allen Walker

Warning : YAOI

Akhirnya... chapter 18... bisa sampai pada chapter terakhir fanfic ini adalah rasa syukur yang luarrr biasa. Terimakasih tiada terkira untuk semua yang sudah bersedia membaca, mereview, fave dan follow. Serial panjang yang dimuali tahun 2010 dinyatakan selesai tahun 2017, suatu perjalanan panjang penuh suka duka. Terimakasih buat Kirin-chan, tanpa dirimu serial ini nda bakal panjang begini. Terimakasih buat Daisy-Uchiha-chan, tanpa dirimu serial ini juga nda bakal bisa dirampungkan. Juga untuk semua pembaca yang masih setia mengikuti dengan sangat sabar. Saya persembahkan chapter terakhir ini untuk kalian semua.

Well langsung saja silahkan menikmati sajian terakhir dari serial Just For Us ini, selamat membaca

.

.

.

Howard Link,

Pria berkebangsaan Jerman berusia 20 tahun, sangat mudah dikenali dari penampilannya yang khas. Rambut pirang panjang sebahu, terkepang sangat rapih dengan poni belah tengah. Apalagi dua tahi-lalat yang berjajar di tengah dahi sungguh memancing perhatian, terutama saat sang staf inspector ini mengerenyitkan kedua alis cabangnya.

Nafas terdengar memburu, menahan gejolak emosi dan rasa kesal, merasa dirinya sudah dikerjai habis-habisan. Tunggu saja sampai atasannya, Inspector Central Malcolm C. Lvellie mendengar semua hal yang akan dia laporkan. Pasti para penghianat tidak berguna itu akan mendapat hukuman setimpal atas kesengsaraanya saat ini.

Howard Link jelas sangat paham jika Black Order adalah organisasi yang bekerja selama 24 jam, tujuh hari dalam seminggu, 360 hari dalam setahun, tidak pernah mengenal kata libur. Tidak butuh libur jika keselamatan umat manusia ada dalam tanggung jawab organisasi mereka, apalagi ancaman penyerangan selalu mengintai. Meski hari sudah sangat larut, suasana masih ramai oleh para finder dan tim peneliti yang tanpa mengenal lelah selalu bekerja, sibuk lalu-lalang kesana-kemari membawa tumpukan dokumen pekerjaan.

Namun diantara begitu banyak orang, Howard Link merasa mereka semua tidak berguna. Bagaimana bisa berguna? Jika permintaanya untuk menghubungi kantor Central saja tidak bisa dipenuhi! Sungguh Link yakin ini adalah tindakan sabotase gila yang dilakukan oleh sang supervisor bernama Komui Lee.

Entah apa yang ada dalam pikiran pria Cina nyentrik itu, hingga mau menikahkan dua orang exorcistnya. Memang Allen Walker sedang mengandung anak dari Yuu Kanda, tapi itu semua terjadi karena kecelakaan dan kesalahan eksperiment. Meskipun Link mencurigai adanya hubungan 'spesial' di antara ke-duanya, itu bukanlah alasan tepat untuk menyatukan mereka dalam suatu ikatan resmi yang diakui. Karena bila menuruti prosedur dan peraturan, seharusnya yang dilakukan adalah memberikan hukuman, bukanya menggelar acara pernikahan. Apalagi hal itu akan dilakukan tanpa persetujuan dari Central, sungguh masalah ini tidak bisa dibiarkan.

Semenjak Howard Link masih kecil, sudah dilatih untuk mengabdikan seluruh jiwa dan raganya demi Black Order, yang menyelamatkan dia dan para saudaranya dari kehidupan kejam di jalanan. Terutama untuk atasannya Inspector Central Malcolm C. Lvellie. Link tidak akan membiarkan rencana gila Komui terlaksana begitu saja, dengan langkah panjang tergesa dia berjalan menuju kantor sang supervisor untuk melakukan sebuah tindakan.

Bila semua jalur komunikasi keluar di setiap ruangan staf sudah ditutup, maka satu-satunya telepon darurat yang masih menyala ada di kantor pimpinan tertinggi markas ini. Lagipula menghilangnya sosok Allen Walker dari dalam kamar yang kondisinya berantakan, pasti ada kaitannya dengan perintah Komui. Tangan mengepal erat, meski harus menggunakan kekerasan, Link harus menemukan cara menggagalkan rencana dan memberitahukanya pada Central. Pikiran sangat fokus pada jalur panjang koridor yang dilewati, hingga tidak menyadari sepasang mata berkilat tengah mengawasinya dari balik bayangan.

PSHYUH! CLEP!

"Ukh! ... Ke... Kenapa ini!?" Ujar Link tersentak kaget, karena tiba-tiba merasakan sakit di bagian belakang leher, sesuatu terasa perih menusuk, sebelum seluruh pandangan matanya menjadi gelap.

.

.

"Huaaahm..." Allen Walker menguap untuk kesekian kalinya, bahkan kali ini dia tidak lagi menutupi mulutnya yang terbuka lebar dengan tangan, karena rasanya sudah lelah mengulangi gerakan sama berulang-ulang.

Posisi si Rambut Putih di atas sofa panjang kini sudah merosot, lebih bersandar pada bagian pegangan tangan. Perut buncitnya sungguh susah diajak kompromi untuk menemukan posisi nyaman saat harus duduk dalam waktu lama, apalagi tendangan dan gerakan akrobatik yang terasa jelas dari dalam, seringkali membuatnya harus meringis menahan nyeri. Dua tangan digunakan untuk mengelus bagian perut yang terlihat lebih menonjol, berusaha menenangkan pergerakan sang Janin dan membuat rileks bagian yang terasa semakin mengencang.

Timcanpy tampak asyik bermain dengan pena yang baru saja digunakan Allen untuk mengisi dokumen data, membawa pena itu terbang berputar-putar tidak tentu arah. Semenjak dia pergi meninggalkan kantor Komui beberapa waktu yang lalu, Jhony membuatnya sibuk mengisi data-data pribadi yang kemungkinan besar digunakan untuk keperluan pernikahannya. Allen tidak habis pikir jika Komui benar-benar serius dengan rencana pernikahan ini, termasuk hendak mendaftarkanya secara resmi pada negara.

Sekarang semua dokumen itu telah terisi penuh, tandatangan-pun sudah dibubuhkan. Teh dan camilan yang Jhony berikan juga habis tidak bersisa. Allen tinggal menunggu sang peneliti berkacamata kembali ke ruangannya, untuk menanyakan hal apa yang harus dia lakukan selanjutnya, sebab jika diijinkan sungguh saat ini dia ingin berbaring di atas ranjang untuk meluruskan punggung dan pinggang yang lelah.

Beruntung tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka, Jhony masuk sambil membawa bantal dan selimut tebal, seulas senyum terpampang saat dia berbicara. "Allen, apa kau sudah selesai mengisi semua dokumen yang kuberikan tadi?"

"Uhm... iya aku sudah menyelesaikan semuanya," Jawab si Rambut Putih seraya menyerahkan setumpuk dokumen, dan kembali menguap lebar. Sebagai sosok yang selalu menjunjung sopan-santun, langsung saja Allen merasa jengah dengan wajah memerah malu. "Ukh... maaf Jhony... aku merasa sangat mengantuk sekarang, apa aku sudah boleh kembali ke kamar?"

Jhony menggeleng, "Tidak apa-apa Allen jangan dipikirkan... tapi maaf, malam ini kau tidak bisa kembali ke kamar. Sebab tuan pengawas bisa menghalangi rencana yang sudah disusun, dan dia tidak akan mencarimu sampai kemari... Malam ini sepertinya kau harus menginap di sini..." ucapnya ragu.

"Hmm... tidak apa-apa kok, aku mengerti... kurasa sofa panjang ini juga nyaman untuk berbaring." Allen menjawab mantap, membuat keraguan Jhony hilang. Selimut dan bantal diserahkan, sang Exorcist langsung membaringkan tubuhnya, mencari posisi nyaman untuk tidur.

Baru saja si Rambut Putih berniat untuk memejamkan matanya, Jhony kembali bicara. "Astaga! Hampir saja aku lupa... Lenalee memintaku menyerahkan ini padamu." Sebuah botol kaca kecil dikeluarkan dari dalam saku Jas Lab berwarna putih. "Katanya ini multivitamin agar kau bisa menghadapi hari esok dengan lebih rileks..."

Sepasang alis pucat mengerenyit, sebersit rasa curiga muncul saat melihat botol tanpa label itu diserahkan. Namun mengingat Lenalee adalah salah satu rekan yang sangat dia percaya, maka Allen memberanikan diri untuk membuka botol tersebut. Aroma harum yang manis menguar, membuat mulutnya gatal ingin mencicipi. Meski pada awalnya hanya berniat sedikit mengecap, namun cairan itu terasa enak seperti madu. Tanpa sadar Allen sudah menenggak habis seluruh isi botol, rasa curiga menghilang tanpa bekas. "Hmm... rasanya enak! Sampaikan terimakasihku pada Lenalee ya."

Jhony menganggukan kepala, senyum sendu terlukis jelas di wajah, "Maaf kalau kau harus tidur dengan tidak nyaman, tapi semoga besok semuanya lancar dan kondisi akan menjadi lebih baik." gumam sang peneliti bertubuh kecil itu, sebelum menutup pintu ruangan untuk melanjutkan persiapan berikutnya. Meninggalkan Allen Walker yang sudah terlelap dengan sangat nyenyak dengan Timcanpy turut bergelun di atas perut besarnya.

.

.

Ruang latihan yang ada di markas baru, jauh lebih luas dan terang dibanding ruangan di markas lama. Puluhan pilar besar dan kokoh menyangga atap yang sangat tinggi, memberikan kebebasan bagi para penghuni Black Order untuk melakukan berbagai kombinasi gerakan serangan. Selain ruangan berupa aula terbuka yang luas, tempat latihan itu juga langsung tersambung dengan ruangan bawah tanah yang tidak kalah luasnya.

Biasanya orang lebih suka berlatih di ruangan terbuka, namun lain halnya dengan seorang Yuu Kanda. Ruang bawah tanah kosong itu menjadi salah satu tempat favorit baginya, untuk latihan dan menghilangkan penat pikiran. Entah sudah berapa lama waktu yang dia habiskan di ruangan itu, terus-menerus mengayunkan Mugen mempraktekan berbagai jurus. Sejak pedangnya diperbaiki, sang Samurai merasa Mugen menjadi sedikit lebih berat, hal itu cukup mengganggunya dalam pertarungan. Maka Kanda berkonsentrasi untuk lebih membiasakan diri menggunakan senjata barunya, hingga sebuah suara memecahkan keheningan suasana.

"Kanda! Apa kau ada di sini?" Suara teriakan seorang wanita yang sangat dikenal, membuat Kanda mendecih kesal karena konsentrasinya terganggu.

Jika yang datang itu bukanlah seorang Lenalee Lee, adik kesayangan Supervisor gila over-protektif. Pasti Yuu Kanda sudah mengusirnya sambil mengamuk, atau mencincangnya halus dengan pedang di tangan. Tidak ingin direpotkan dengan omelan Komui, Kanda urung melakukan semua kebiasaanya. Meski begitu dia enggan menjawab panggilan, dan membiarkan sang gadis berkeliling ruangan untuk memastikan keberadaanya, pedang kembali diangkat meneruskan latihan.

"Hah! Ternyata memang kau ada disini. Kenapa tidak menjawab panggilanku sih!?" Ujar Lenalee kesal sambil berkacak pinggang. Melihat sang rekan tidak mengabaikanya, pemilik Dark Boots itu langsung saja lanjut bicara, tahu jika sebenarnya Kanda mendengarkan meski tampak cuek.

"Ini, aku membawakanmu baju khusus untuk dipakai besok. Oh ya... malam ini jangan kembali ke kamarmu ya... tidurlah di tempat lain dimana Link tidak bisa menemukanmu, kita tidak bisa ambil resiko jika dia ingin menggagalkan rencana."

Kanda menghentikan gerakan, menaikan sebelah alisnya heran. "Pakaian? Che... Untuk apa besok aku harus berpakaian khusus?"

"Ataga Kanda! Besok kau akan menikah, itu adalah moment khusus yang sangat penting! Kau harus berpakaian yang layak!"

"Cih..." Sang Samurai tampak tidak perduli dan lanjut berlatih mengayunkan Mugen, sukses membuat Lenalee menggembungkan pipinya kesal.

"Acaranya akan dimulai tepat jam 11, kau sudah harus ada di aula besar jam 10! dan awas saja kalau kau tidak memakai baju ini besok!" Perintah sang gadis galak, sebelum pergi meninggalkan ruang latihan dengan langkah menghentak.

Yuu Kanda membiarkan gadis itu pergi tanpa menjawab apa-apa, dan memilih untuk terus melanjutkan latihan. Barulah dia berhenti saat merasakan peluh mulai membasahi dahi dan wajah. Menghela nafas panjang, handuk kecil digunakan untuk menyeka keringat, sambil mengambil botol air minum yang sudah dia letakan di samping pilar, sebuah bungkusan cukup besar juga tergeletak di sana menarik perhatian. Kanda yakin Lenalee yang sengaja menaruh agar sang Samurai bisa langsung menemukannya.

Merasa penasaran dengan isi dari bungkusan besar tersebut, Kanda bergegas membukanya. Kedua alis berkerut tajam saat mendapati sebuah tuxsedo putih lengkap dengan sepatu hitam dan bros besar dari rangkaian bunga mawar putih segar tersemat di bagian dada.

"Che... siapa yang mau memakai pakaian konyol seperti ini?" Dengan kesal Yuu Kanda memasukan kembali pakaian tersebut ke dalam kantong sembarangan, bahkan tanpa melipatnya lagi, tidak perduli akan membuat tuxedo itu kusut atau rusak. Dengan segenap tenaga melemparnya ke sudut ruangan.

Merasa puas bisa menyingkirkan benda yang sangat mengganggu pandangan, Kanda melanjutkan latihan, diteruskan dengan bermeditasi hingga pagi menjelang. Melupakan semua ancaman Lenalee ataupun kegelisahan yang akan dia hadapi ke esokan hari.

Di lain tempat, tepatnya di kantor pribadi Supervisor Komui. Rapat darurat tengah dilaksanakan, Froi Tiedol, Noise Marie, Lenalee Lee, Reever Wenham, Jhony Gil, Bookman dan muridnya, bahkan Jerry sang kepala koki juga ada di sana. Merencanakan persiapan untuk acara esok hari, yang pastinya akan menjadi moment paling tidak terlupakan sepanjang sejarah berdirinya Black Order.

.

.

.

Suasana Black Order pagi itu terlihat damai, mayoritas penghuni markas sudah berkumpul memenuhi ruangan Cafetaria, berniat mengisi perut mereka yang semalaman kosong dengan sarapan ter-lezat buatan Jerry. Namun dapur terlihat kosong, hanya tumpukan roti hangat yang tersaji di beberapa nampan besar, beserta sebuah kertas pengumuman ter-tempel di depan counter pemesanan.

Kepada semua anggota Black Order

Maaf karena kami tidak bisa menyajikan menu sarapan seperti biasa, karena sedang menyiapkan jamuan besar untuk pesta pernikahan yang akan diselenggarakan pukul 11 hari ini di Aula besar. Silahkan menikmati roti yang tersaji sebagai menu sarapan dan bersabarlah untuk menikmati jamuan makanan terlezat yang akan kami sajikan nanti pada pesta setelah resepsi pemberkatan..

Tertanda.

Kepala Koki : Jerry

Mereka mengambil roti sarapan dengan tertib, tanpa berebut mengambil jatah paling banyak, karena mereka semua lebih fokus untuk berdiskusi, bertanya-tanya pernikahan siapa yang akan dilangsungkan hingga membuat Jerry menutup layanan Cafetaria. Berbagai spekulasi dan dugaan dilayangkan, semuanya jelas menantikan peristiwa besar yang akan terjadi nanti, sebab pernikahan di markas besar organisasi pemberantas Akuma tentulah bukan kejadian biasa dan baru pernah terjadi sepanjang sejarah berdirinya Black Order.

Tidak butuh waktu lama berita itu menyebar ke seluruh pelosok markas. Semuanya merasa sangat penasaran, setelah selesai dengan menu sarapan sederhana, beberapa langsung berjalan menuju ruang aula besar yang ada di dalam markas. Meski mendapati pintu ruangan masih tertutup rapat, tidaklah menyurutkan rasa ingin tahu mereka.

Semuanya rela menunggu, bahkan tidak sedikit dari para finder, tim peneliti dan para pekerja divisi lain yang sengaja meninggalkan pekerjaanya demi untuk berkumpul di depan gerbang Aula besar. Saling bertukar pendapat dan menduga-duga, sambil menanti dengan penuh kesabaran hingga tiba saatnya pintu besar yang terkunci itu terbuka lebar.

.

.

.

"A... llen..., Allen-kun... ayo bangun..."

Suara lembut merasuk ke dalam telinga, membuat Allen Walker terpaksa membuka kedua matanya yang sebenarnya terasa sangat berat. Mengerjapkan sepasang manik kelabu pelan, berusaha menangkap bias cahaya yang mengisi ruangan terang. Saat pandangan mulai semakin jelas, dia bisa melihat beberapa sosok tengah berdiri berkerumun di sekitarnya. Timcanpy bertengger di bahu dan mengalungkan ekor panjangnya ke pundak si Rambut Putih tanda proteksi.

"Le...nalee..., Jhony..., Miranda..., Emily... kenapa kalian semua di sini?" Gumamnya pelan, masih belum sepenuhnya sadar, berusaha mengenali sosok-sosok di sekitarnya.

Emily gadis berambut pirang, tutor pribadi exorcist Thimoty tersenyum lembut padanya. "Allen-kun ayo bangun, ini hari besarmu lho."

"Hari besar? Ukh..." Allen mengangkat tangan berniat untuk mengucek mata, namun Lenalee dengan cepat mencegah.

"Awas! Jangan kucek matamu, atau nanti riasan yang sudah kami pakaikan bisa rusak." Ujar Lenalee penuh semangat, kemudian langsung membantu menyeka mata si Rambut Putih dengan sapu-tangan basah.

"Riasan?" Barulah saat itu Allen Walker tersadar, bahwa sesuatu sudah terjadi tanpa sepengetahuannya. Dia ingat semalam tertidur di sofa ruang kerja Jhony, tapi sekarang dia menduduki kursi kayu di dalam ruangan asing. Allen yakin tidak pernah tidur sambil berjalan, lalu siapakah yang memindahkan posisinya?

Menundukan kepala, bisa dilihat bahwa yang dipakai kini bukanlah baju tidurnya semalam, melainkan sebuah kimono putih panjang berbahan kain sutra halus menjuntai hingga menyentuh lantai. Entah kenapa wajah dan kepalanya juga terasa lebih tebal dan berat, apakah mungkin sebenarnya sekarang dia sedang bermimpi? Mencoba untuk mencubit paha, masih terasa sakit. Berarti semua kejadian ini adalah nyata.

"Bi... bisa tolong ambilkan cermin?" Pintanya terbata-bata.

Miranda panik dan langsung berusaha menyeret sebuah cermin besar dari luar ruangan hingga nyaris terjatuh, beruntung Jhony ada di sana untuk membantunya. Sepasang mata kelabu terbelalak lebar melihat refleksi yang terpantul pada cermin.

"HYAAAAAAA!"

Berteriak sekuat tenaga, membuat orang-orang disekitarnya terlonjak kaget, Timcanpy langsung melompat terbang. Allen panik saat akhirnya bisa melihat rupa wajah dan penampilannya sekarang, sungguh membuatnya sangat syok dan tidak bisa mengenali refleksi dirinya sendiri.

.

.

.

Lonceng di menara jam berdentang sebelas kali, menunjukan waktu pukul 11 siang tepat, pintu aula besar mulai dibuka lebar. Para penghuni markas Black Order langsung menghambur masuk, bergegas menempati kursi-kursi panjang yang sudah disediakan, takut ketinggalan moment yang sangat langka.

Apalagi dekorasi ruangan tersebut membuat semuanya berdecak kagum, mulut mereka ternganga, merasa sangat keheranan saat melihat ruangan yang biasanya polos dan kosong, sudah disulap menjadi ruang pernikahan lengkap dengan ratusan deretan kursi panjang berjajar rapi, dipisahkan dalam dua sisi kanan-kiri oleh hamparan panjang karpet berwarna merah. Lebih mengagumkan lagi adalah rangkaian bunga mawar putih hampir menutupi seluruh ruangan, hingga ke langit-lagit gedung yang menjulang tinggi, terutama di altar pernikahan, terlihat seperti hamparan ladang bunga mawar putih yang sangat indah.

"Astaga Panda-Jiji... apa yang kulihat ini nyata? Komui benar-benar gila merencanakan sebuah pernikahan semeriah ini! Bagaimana jika nanti Lenalee yang menikah, apa dia akan memindahkan istana ke sini?" Gumam Lavi terkagum-kagum, meskipun dia bersama sang guru menjadi saksi rapat semalam, namun dia tidak percaya jika persiapan dadakan yang dilakukan bisa menyulap ruang aula menjadi sangat indah dalam waktu sangat singkat.

Bookman senior melipat kedua tangan di depan dada, wajahnya yang sudah berkerut karena usia terlihat sangat serius, "Art of Eden, Innocent milik Jederal Tiedol bahkan mampu menciptakan puluhan pohon raksasa dalam sekejap, lautan mawar ini adalah hal ringan baginya..."menghela nafas panjang sambil berusaha menyamankan posisi duduk di jajaran bangku paling depan. "Upacara yang meriah untuk sebuah pernikahan yang sebenarnya terlarang, pasti ada sesuatu dibalik semuanya. Kau harus memperhatikan peristiwa ini dengan seksama murid bodoh!"

Lavi menganggukan kepalanya penuh antusiasme, selain rasa penasarannya sebagai penerus clan Bookman dia juga merasa sangat ingin tahu bagaimana pernikahan antara dua rekannya yang hobi bertengkar itu dilaksanakan. Mata tunggalnya mengamati dengan seksama ke seluruh penjuru ruangan.

Semua kursi yang disediakan sudah penuh terisi, baik oleh para finder, tim peneliti dan staf. Sama sepertinya yang duduk di jajaran terdepan, Thimothy Hearts, dan jenderal Claud Nine juga telah bersiap dengan seragam lengkap. Sementara Chaoji Han juga Arystar Krory tidak nampak karena sedang pergi menjalankan misi. Jenderal Cross sebagai guru Allen Walker masih dijadikan tahan oleh Central, jadi tidak mungkin bisa datang. Sementara Lavi menduga Jenderal Sokalo tidak tertarik untuk menghadiri acara seperti ini, atau mungkin dia terlalu sibuk melatih diri entah dimana rimbanya. Anehnya para gadis muda tidak nampak dimana-mana membuat Lavi bertanya-tanya.

Tidak lama kemudian pintu kecil di sisi samping altar terbuka, memunculkan sosok Komui Lee dengan penampilan yang sangat mengejutkan. Karena dia mengenakan jubah panjang seperti seorang pendeta agung, diikuti oleh Noise Marie dan juga Yuu Kanda, sang calon pengantin yang tampak berwajah masam tanpa keberadaan mugen di pinggang. Alisnya menukik tajam dengan dua tangan terlipat erat di depan dada, aura membunuh jelas menguar hebat dari tubuh, membuat orang-orang langsung menghentikan kegiatan mengobrol mereka dan memilih diam sambil memandangi altar dengan perasaan was-was.

Yuu Kanda tampak mengenakan seragam Exorcistnya, hanya saja tambahan selipan bunga mawar putih di bagian saku membedakan penampilannya dengan yang biasanya. Lavi yakin butuh argumen panjang untuk membuat Kanda mau menyematkan bunga di bajunya, itu pasti hasil paksaan dari sang Guru, atau seseorang berhasil mengancamnya dengan menyandera Mugen, buktinya sang Samurai tidak membawa pedang kesayangannya itu.

Komui menempatkan diri tengah-tengah Altar, ekspresi konyol yang biasa tidak nampak sama sekali, dia terlihat berwibawa dan serius saat memberikan berpidato pembuka upacara yang menurut Lavi lebih mirip seperti presentasi hasil penelitian. Pidato itu cukup panjang, tapi yang jelas pada hari ini, selain akan diucapkan janji pernikahan antara dua exorcist, juga akan dilakukan 'bonding'.

'Bonding', sebuah ritual pernikahan kuno yang dilakukan oleh sebuah suku tua yang sekarang telah punah. Menggunakan senjata innocent untuk menyatukan darah ke-dua mempelai, agar kelak hubungan mereka tidak bisa dipisahkan. Ritual tersebut juga menjadi bukti akan berkat yang diberikan para Dewa, jika semua mawar putih yang digunakan pada saat upacara berubah warna menjadi merah, artinya Dewa merestui hubungan ke-dua mempelai.

Lavi tersenyum lebar, saat mulai bisa membaca tujuan dari rencana besar Komui ini. "Dia ingin meyakinkan semua penghuni Black Order bahwa hubungan antara Yuu dan Allen-chan direstui oleh para Dewa dan mereka tidak bisa dipisahkan. Rencana briliant yang sungguh menarik. Aku jadi penasaran tentang reaksi pihak Central mengenai hal ini." Bisiknya sangat pelan, agar cuma sang guru yang bisa mendengarnya.

Bookman Senior menghela nafas panjang sebelum balas berkomentar tidak kalah pelan. "Kurasa cara itu memang efektif tetapi tidak untuk waktu yang lama, Central pasti akan mencari celah kelemahannya... Kita sebagai pencatat sejarah hanya bisa mengamati dan menanti apa yang akan terjadi selanjutnya."

.

.

Allen Walker terlihat menampilkan ekspresi wajah horor, masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dia sudah dirias menjadi seorang pengantin yang sangat cantik. 'Aku ingin lompat ke dalam lubang yang dalam saja sekarang.' Kata-kata itulah yang terus terlintas di dalam kepalanya.

Kimono putih panjang terdiri dari beberapa lapisan kain sutera tebal yang bertumpuk-tumpuk, terpasang indah membalut tubuh. Allen pernah melihat upacara pernikahan di Jepang saat dia berkelana bersama sang Guru, dan yakin yang dipakainya sekarang adalah kimono khusus pengantin wanita, sungguh harga diri terasa diinjak-injak. Lagipula entah darimana kimono itu didapatkan, karena Allen yakin baju semacam ini tidak disediakan oleh pihak Black Order.

Wajahnya tersapu riasan tipis, hanya fokus pada bagian mata yang membuat manik kelabunya terlihat lebih tajam. Bibirnya dilapisi lipstik tipis berwarna muda dan terlihat berkilat. Lenalee sengaja memberikan riasan sederhana yang bisa menonjolkan pesona wajah sang Exorcist Eropa, dan berusaha tidak mendandani berlebihan, atau akan membuatnya terlihat seperti badut.

Rambut kelabu yang sudah mulai panjang diikat di belakang kelapa, hiasan bunga kecil tersemat. Kerudung putih yang juga terbuat dari kain sutera melilit, menutupi bagian atas kepalanya. Sungguh Allen Walker tidak percaya akan perbuatan keji yang telah rekan-rekannya perbuat. Apalagi dirinya sama sekali tidak menyadari saat mereka mendandaninya sedemikian rupa, padahal biasanya dia tidak pernah tidur senyenyak itu, sebagai exorcist yang bertarung dalam perang dia dituntut untuk selalu waspada dalam segala situasi. Tapi kenapa kali ini instingnya tidak bereaksi? Timcanpy tampak prihatin dan kembali bergelung di sekitar pundaknya berusaha memberi semangat.

"Minuman itu!" Teriak Allen tiba-tiba, "Lenalee! Kenapa kau tega sekali berbuat seperti ini!? Kau memberiku obat tidur kan!?" air mata mulai menggenang, sungguh dia tidak suka diperlakukan layaknya boneka tanpa diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat. "Kau tega sekali... hiks... padahal aku sangat percaya pandamu... hiks... kalian semua juga..."

Rasa bersalah langsung menyerang, bahkan Miranda bersujud minta maaf, Emily dan Jhony kompak menngucapkan permohonan maaf. Lenalee merangkul pundaknya erat. "Allen maafkan kami, tapi ini harus dilakukan atau rencana yang sudah disusun bisa jadi berantakan... maaf kalau ternyata sudah melukai hatimu,"

TENG TENG TENG TENG...

Lonceng jam besar berdentang sebelas kali, membuat semuanya kembali terlonjak kaget. "Allen-kun! Kami minta maaf jika ini sungguh membuatmu merasa tidak nyaman, tapi ayo kau harus segera bersiap!"

Emily dengan cepat kembali menyapukan bedak ke wajah Allen, memperbaiki riasan wajah yang luntur terkena air mata. Kemudian buru-buru Lenalee menariknya menuju pintu utama Aula Besar. Sang exorcist berambut putih tidak bisa melawan, hanya bisa mengikuti tarikan sang gadis dengan langkah terseok, Timcanpy dengan setia terbang mengikuti dari belakang.

Jenderal Tiedol ternyata sudah berdiri menunggu di depan pintu yang kini sudah kembali tertutup rapat, pakaiannya sangat rapih dan satu buket bunga mawar putih berada digenggaman tangan, "Nah... nak-Allen, pegang buket ini, ayo kau harus berjalan di altar." ucapnya dengan sebuah senyuman lebar.

"APA!?" Allen cuma bisa berteriak, saat pintu ruangan dibuka oleh Jhony dan Miranda, menimbulkan suara derit keras karena engsel yang sudah tua, semua penghuni ruangan otomatis menengok ke arah sumber suara. Sungguh jantung terasa hampir copot, saat melihat ratusan pasang mata memandanginya dari bangku-bangku yang berjajar di dalam aula. Menyadari bahwa mereka akan menjadi saksi pernikahannya dengan Yuu Kanda, Allen merasa sangat gugup hinga rasanya hampir muntah.

Apalagi saat punggungnya didorong pelan, untuk maju menuju altar. Kedua kaki tiba-tiba terasa sangat lemas, hampir saja dia merosot ke lantai jika Jenderal Tiedol tidak langsung memegangi lengannya. "Berpeganganlah padaku nak, ayo aku akan mengantarmu kesana."

Allen sungguh berterimakasih atas tindakan Jenderal Tiedol itu. Karena tanpa bantuannya, dia merasa tidak sanggup berjalan selangkahpun juga. Wajahnya sudah merah padam, menahan rasa malu dan keinginan untuk menangis, bibir bawah dia gigit erat, sungguh Allen Walker merasa hari ini adalah akhir dari hidupnya, bahkan rasanya tidak mampu untuk sekedar mengangkat kepala.

Berbeda dengan rasa sengsara yang Allen rasakan, orang-orang memandangnya dengan mulut ternganga, karena jujur tidak ada yang akan menyangkan bahwa sang Exorcist Eropa bisa begitu mempesona dalam balutan kimono tebal yang menutupi tubuhnya, obi dan jubah kimono menyamarkan bentuk perut yang sudah membuncit cukup besar. Kedua pipi yang merona merah karena malu, ekspresi menahan tangis dan mata berkaca-kaca entah kenapa terlihat menggemaskan disaat bersamaan.

Begitu mempelai berkerudung putih menapaki hamparan karpet merah, musik pengiring langsung berbunyi merdu dari pengeras suara yang sudah disiapkan oleh Reever Wenham, menambah kesan hikmat upacara. Para gadis ternyata berjalan mengikuti dari belakang, menaburkan kelopak bunga mawar putih sepanjang jalan, sang Golem kesayangan malah tampak asyik menangkap kelopak bunga yang berjatuhan, terlihat asyik dalam permainannya tanpa menyadari kegalauan pemiliknya.

Meski tidak terlihat dari ekspresi wajah, Kanda juga ikut terpana melihat penampilan sang Moyashi yang menurutnya tampak tenggelam dalam balutan kimono putih khas penganjin dari negara Jepang. Tangannya tidak lagi terlipat di depan dada, tapi terjulur lurus di kedua sisi tubuh, jemarinya terkepal erat saat merasakan suatu sensasi aneh yang menggelitik di dalam hati. Matanya fokus memperhatikan bagaimana sang Guru tersenyum sangat lebar sambil menuntun Allen Walker berjalan mendekat, entah kenapa nafas di dalam kerongkonganya terasa tercekat, Yuu Kanda kehilangan kata-kata.

Allen merasa perjalanan menuju altar sangatlah cepat, tiap langkah terasa semakin berat. Jantungnya sungguh mau melompat dari dalam mulut ketika ujung sepatu boots milik calon suaminya mulai terlihat. Hampir saja tubuhnya kembali limbung saat Tiedol melepaskan gandengan, tetapi Yuu Kanda langsung tanggap, dan maju untuk bantu memapah. Allen Walker masih belum berani menegakkan kepala, mati-matian mem-fokuskan pandangan mata pada lantai altar yang penuh oleh taburan bunga.

Melihat ke-dua mempelai telah berada pada tempatnya, Komui Lee langsung memulai upacara pemberkatan, dia membacakan doa menurut isi kitab yang dipegangnya, sebelum kemudian memberikan sebuah pertanyaan. "Yuu Kanda, Apakah kau bersedia menerima Allen Walker sebagai pendamping hidupmu? Dalam kondisi susah ataupun senang, akan selalu bersama menghadapi segalanya?"

Wajah sang Samurai terlihat masam, alisnya menukik tajam saat memberikan sebuah jawaban singkat. "Cih, Aku bersedia,"

Pertanyaan serupa juga ditujukan pada Allen Walker yang masih terus berusaha menundukan kepala, dan cuma bisa mengangguk, tergugu saat mengucapkan jawabannya. "I... iya, ber... berse...dia,"

Tidak cukup sampai disitu, Allen belum bisa bernafas lega, sebab rangkaian upacara belumlah selesai. Masih ada 'Bonding' yang harus mereka lalui, sejujurnya Allen tidak mengerti sama sekali ritual seperti apa yang harus dilakukan, hanya bisa membiarkan Komui melaksanakan rencana dan pasrah mengikutinya. Noise Marie sedari tadi ikut berdiri di atas altar, maju dengan membawa sebuah kotak panjang berisi sebuah belati tua, kemudian menyerahkannya pada sang supervisor.

Komui Lee tersenyum lebar, "Nah Allen, kemarikan tangan kananmu." ucapnya penuh keyakinan. Meskipun dihantui berbagai macam pertanyaan di dalam kepala, si Rambut Putih tetap mengulurkan tangan kananya yang bergetar hebat, tangan kiri mencengkeram buket bunga semakin erat.

"Aish!" Allen berjengit, meringis nyeri saat telapak tangan disayat menggunakan pisau. Komui juga melakukan hal serupa pada tangan Yuu Kanda yang tidak menampilkan reaksi apapun, bahkan saat darah segar mengalir deras dari luka di tangan kirinya.

"Kanda, tolong genggam tangan Allen. Lalu gunakan darah kalian untuk membasahi buket bunga itu." Perintah sang Superisor, terdengar cukup aneh tetapi Yuu Kanda tetap melakukannya, karena ingin bisa cepat menyelesaikan upacara ini.

Allen mendesis, mengeratkan gigi menahan rasa nyeri saat merasakan panas seperti terbakar api, saat luka di tangannya bersentuhan langsung dengan darah Yuu Kanda. Matanya terbelalak lebar saat menyadari bahwa tetesan darah mereka membuat buket bunga putih yang dipegangnya berubah warna menjadi merah seutuhnya, apalagi saat seluruh kelopak bunga di ruangan itu juga mulai mengikuti perubahan warna tersebut.

Semua orang yang berada di dalam ruangan terkesima, sangat terkejut melihat keajaiban yang terjadi, termasuk Allen dan Kanda yang spontan mendongakan kepala demi melihat perubahan warna bunga di seluruh sudut hingga mencapai langit-langit ruangan.

Belum lepas dari rasa keterkejutan mereka, tiba-tiba Komui berujar lantang. "Ya! Kalian boleh berciuman!"

"APA!?" Teriak keduanya bersamaan dan spontan bergerak menjauh, melepaskan tautan tangan. Bahkan Allen tidak menyadari bahwa luka di telapak tangannya sudah sembuh sempurna, tanpa meninggalkan bekas luka sedikitpun.

Sementara dari bangku penonton, terdengar teriakan histeris yang tertahan. Lenalee dan para gadis lain tampak sangat antusias menantikan adegan ciuman itu. Allen mati-matian menggelengkan kepala dan Kanda langsung mengumpat kasar pada sang Supervisor. "SIALAN KAU KOMUI!"

Lavi tersenyum sangat lebar, kilat jahil terpancar di mata tunggalnya. Oh betapa pemuda berambut merah itu sangat menyukai perkembangan situasi saat ini. Langsung saja dia bangkit, untuk berdiri di atas tempat duduk sambil bersorak keras. "CIUM ! CIUM ! CIUM !"

Tanpa diduga disambut meriah oleh hampir seluruh penonton, yang ikut-ikutan bersorak. Bahkan dengan sangat berani Lavi menambahkan. "Oh ayolah Yuu-chan! Jangan jadi pengecut begitu, ciumlah pengantinmu!"

Allen merosot ke lantai menyembunyikan wajahnya pada buket mawar yang dipegang, sungguh merasa malu dan kehilangan tenaga. Sementara Kanda sudah mulai mengeluarkan tanduk dari kepalanya, bersiap melompat untuk menerjang si kelinci merah. Meski tanpa senjata yakin bisa mencekik Lavi sampai mati, barulah nanti dia memukuli para penonton yang bersorak itu satu-persatu.

Namun rencananya digagalkan oleh Noise Marie yang menahan tubuhnya dengan sekuat tenaga, seraya berbisik memperingatkan. "Tenangkan dirimu Kanda, atau nanti Guru menyerahkan Mugen pada Komui."

Kedua mata kelam terbelalak lebar, amarah bertambah di dalam dada namun dia merasa khawatir pada senjatanya. Entah apa yang akan Komui lakukan pada Mugen jika dia memberontak sekarang. "Cih Brengsek! Dasar Tiedol, kau orang tua tidak berguna! Komui gila! Kalian semua juga sialan!" Umpatnya sambil meronta melepaskan diri dari cengkraman Noise Marie.

Sekonyong-konyong Yuu Kanda langsung menarik lengan Allen Walker hingga membuat si Rambut Putih berdiri meski harus terhuyung, lalu langsung menubrukan bibirnya tepat ke mulut Allen yang sedang terbuka. Sorak-sorai, tepuk tangan dan siulan menggoda langsung membahana di seluruh ruangan.

Mata kelabu terbuka lebar saat menerima ciuman tiba-tiba dari sang Samurai. Spontan dia berusaha memundurkan kepala namun Kanda terus mengejar, bahkan mencengkeram tengkuknya untuk menekan bibir mereka lebih lekat. Buket bunga terlempar saat Allen berusaha memberontak, mendorong pundak dengan kedua tangan.

Namun lagi-lagi perlawananya dipatahkan, dengan cengkeraman erat di dua pergelangan tangan, menahannya di antara dua tubuh yang berhimpitan. Yang terjadi selanjutnya malah ciuman semakin dalam, Allen Walker merasa nyawanya seperti sedang dihisap habis melalui mulut, berbagai emosi berkecamuk di dalam hati, kepalanya mulai berkunang-kunang dan saat itu juga sang Exorcit Eropa jatuh pingsan.

.

Merasakan bahwa lawan ciumannya tidak lagi bersuara, bergerak, ataupun bereaksi. Kanda menjauhkan bibir dan melepaskan invasi, seketika matanya kembali terbelalak, merasa sangat terkejut mendapati Allen Walker sudah lemas tidak sadarkan diri.

"Oi Moyashi! Bangun bodoh!" Kanda berusaha menyadarkan dengan menepuk-nepuk pipi 'istri' barunya yang kini tampak pucat pasi.

Keributan terjadi, saat para tamu di jajaran kursi terdepan berhambur mengerubuti altar. Khawatir pada kondisi sang mempelai, sementara para tamu lain turut berceloteh ribut. Komui Lee langsung berjongkok di samping tubuh Allen yang tergolek lemas dalam rengkuhan Yuu Kanda. Bookman Senior turut serta, maju untuk memeriksa denyut nadi dan kondisi si Rambut Putih. Timcanpy berputar-putar heboh di atas kepala, sementara Lavi, Lenalee dan lainnya turut berkerumun di sekitar mereka.

"Dia tidak apa-apa, mungkin pingsan karena syok dengan tekanan situasi yang terjadi." Ujar sang kakek bertubuh kecil, membuat para exorcist lain merasa lega.

Komui menghela nafas panjang, bangkit berdiri sambil berujar lantang hingga semua orang bisa mendengarnya. "Ahahahaha... Kalian semua jangan khawatir, Allen baik-baik saja kok, dia hanya kaget diserang seperti itu oleh Kanda hahaha."

"Apa katamu sialan!? Kau `kan yang menyuruhku menciumnya!" Protes sang Samurai tidak kalah keras, bisa dia dengar beberapa orang tertawa geli melihat semua yang terjadi, sungguh Kanda ingin mengamuk sekarang juga.

Komui tidak memperdulikan Yuu Kanda yang mulai terbakar emosi, dan lanjut berbicara. "Baiklah, kalian semua silahkan menuju Cafetaria, disana sudah tersedia hidangan jamuan luar biasa yang dibuat oleh Jerry. Untuk merayakan hari bahagia ini, silahkan dinikmatii!"

Dengan tangannya Komui memberi isyarat pada Lenalee dan yang lain untuk menggiring para penonton keluar dari aula besar. Semua termasuk dalam bagian dari rencana, meski tidak menyangka bahwa Allen bisa sampai jatuh pingsan. Sepertinya sedikit perubahan musti dilakukan, "Kanda bisa tolong kau bawa Allen untuk istirahat? Kami sudah menyediakan kamar perawatan khusus untuk kalian." ucapnya dengan kaca mata berkilat.

Yuu Kanda merasakan sebuah firasat buruk. "Kenapa bukan kau yang membawa Moyashi ini kesana hah? Aku tidak mau ikut campur lagi!"

"Yuu Kanda! Sekarang nak-Allen adalah tanggung jawabmu, kalian sudah resmi sebagai pasangan. Jangan melempar kewajibanmu seperti itu." Jenderal Tiedol berujar tegas, seraya mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku bajunya dan mulai menangis keras. "Huwaaa! Sebagai wali-mu aku merasa gagal! Astaga! putera yang sangat kusayangi.. kenapa bisa jadi berhati dingin seperti iniii! Bahkan pada orang yang sedang mengandung cucuku!"

"BERISIK! Dasar orang tua tidak berguna!" Teriak Kanda emosi, meski begitu dia mulai mengambil posisi untuk mengangkat tubuh Allen dalam gendongan bridal-style, benar-benar sesuai dengan situasi mereka saat ini, sepasang pengantin baru.

"Berhenti menangis bodoh, Kau menjijikan! Dan Komui cepat antar kami, awas saja kalau kau sampai berencana macam-macam ya!" Meski diucapkan dengan kasar, tetapi Kanda mau menuruti sang Guru, sebab walau bagaimanapun dia tidak suka melihat Jenderal itu mulai menangis dengan banjir ingus dan air mata, lagipula dia juga sedikit merasa bersalah sudah membuat Allen jatuh pingsan.

Froi Tiedol menyeka ingus dan air mata yang membasahi wajah dengan sapu tangan, pundaknya masih bergetar. "Yuu-kun kau memang anak baik, nah Komui tolong antar mereka ya..."

Sang Supervisor langsung mengangguk penuh antusias, berjalan dengan langkah lebar membimbing pasangan pengantin baru keluar dari aula besar, Timcanpy mengepakkan sayap, berniat mengikuti sang tuan namun tertahan oleh sebuah tarikan di bagian ekor.

Wajah Tiedol terlihat berseri-seri, tatapan matanya hangat menatap sang Golem lembut. "Timcanpy kau tidak boleh ikut, sini bersamaku saja, jangan ganggu malam pertama mereka." Ujarnya dengan senyum terkembang. "Tidak usah mengkhawatirkan Allen-kun, karena Yuu-kun pasti akan menjaganya, percayalah padaku ya." Melihat ketulusan yang terpancar, Timcanpy menganggukan tubuhnya, melipat sayap dan memilih untuk bergelun di pundak sang Jenderal berkacamata.

.

.

.

Howard Link terbangun dengan kepala berdenyut keras, rasanya sangat pusing dan tubuhnya terkunci tidak bisa bergerak. Mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba fokus di dalam ruangan bercahaya redup. Perlahan kesadaran terkumpul, mulai menyadari kondisinya yang terikat kencang di atas sebuah kursi, berada di dalam sebuah gudang entah dimana, terbukti dari beberapa tumpukan kardus berdebu yang memenuhi separuh ruangan.

Emosinya naik ke ubun-ubun, ingin sekali dia berteriak namun mulutnya juga disumpal dengan sapu tangan. Sungguh tidak bisa berkutik karena dua tangan diikat sedemikian rupa, agar tidak bisa mengeluarkan belati dari dalam lengan kemeja. Beruntung Howard Link selalu siap dengan jimat api yang tersimpan di saku. Membacakan mantera dengan konsentrasi penuh, kertas jimat mulai menyala, membakar tali pengikat tubuhnya.

Bebas dari ikatan, langsung saja Link berteriak penuh amarah. "Sial! Orang-orang itu, mereka akan terima hukumannya nanti! Lihat saja apa yang akan aku lakukan!"

Howard Link mendobrak pintu ruangan dengan sebuah tendangan keras, sinar matahari langsung menyambut dan menusuk matanya tajam. Mengerenyitkan mata, berusaha menyesuaikan pandangan dengan cahaya yang berlimpah, Link tersadar rupanya sudah dikurung semalaman. Bahkan sekarang posisi matahari sudah tinggi, firasatnya mengatakan bahwa Komui pasti telah memulai menjalankan rencana gilanya, atau bahkan sudah menyelesaikannya, maka dia langsung berlari kencang untuk mencari keberadaan Allen walker.

.

Nafas tersengal saat harus berkeliling ke seluruh markas utama, mencari keberadaan si rambut putih. Link merasa sangat heran dengan situasi yang sangat sepi. Semua lorong dan laboratorium peneliti kosong. Jajaran kamar para Exorcist, ruang latihan juga aula, gelap dan senyap, semua orang seperti hilang ditelan bumi, perasaanya tambah tidak enak.

Tinggal satu ruangan yang belum dia periksa, Cafetaria sekarang ada di depan mata, tujuan terakhir dan Link yakin semua orang berada di dalam sana. Mereka pasti bersembunyi karena merasa bersalah sudah mengurung seorang pengawas seperti dirinya semalaman di gudang tanpa makanan. Howard Link menyeringai, bisa saja dia mengampuni mereka semua, dengan syarat mau bersaksi atas kejahatan rencana Komui dan menyerahkan Allen Walker padanya.

Namun yang terjadi di dalam Cafetaria membuat matanya melotot ngeri, semua orang sedang berpesta pora. Menari, menyanyi dan makan besar. Bahkan kue pengantin vanila-coklat yang sangat tinggi berdiri kokoh di tengah ruangan.

"KOMUI LEE! APA_APAAN INI! BERANINYA KAUU!" Jerit Link penuh amarah dan rasa dendam.

Sang Supervisor duduk di tengah-tengah para finder yang terlihat mabuk, sebuah botol minuman ber-alkohol berada di genggaman, "Ah Link kau sudah datang! Hahahha Ayo kemari ikut berpesta!" teriaknya heboh sambil melambai-lambaikan tangan.

Wajah sang pengawas menggelap, bagaimana bisa seisi Order yang suci berpesta bahkan mabuk di siang bolong seperti ini. "Akan aku laporkan kalian semua! Sekarang serahkan Walker padaku! Dimana kalian menyembunyikannya!?"

Thimothy Hearts naik ke atas meja, sambil mengacungkan sepotong paha kalkun di tangan, menunjuk pada Link, "Tidak akan kami katakan bodoh! weeeks!" ujar si bocah mengejeknya dengan memeletkan lidah.

Tetapi tiba-tiba sekelebat bayangan kuning menyambar paha besar itu, membuat sang Exorcist cilik menjerit kesal. "AYAAMKUUU!"

Timcanpy terbang dengan cepat, menggondol potongan ayam kalkun dan mulai memakannya lahap. Mata tajam Howard Link langsung bereaksi, dia melompat memburu sang Golem yang bisa menuntunnya pada lokasi Allen Walker. "Kemari kau Timcanpy! Tunjukan dimana Walketr!"

Namun gerakannya tetap kalah cepat dengan lompatan pemilik Dark Boots, "Jangan ganggu Allen! Tidak akan kubiarkan kau menangkap Timcanpy." Ujar sang Gadis berambut gelap kehijauan.

Pesta menjadi kacau balau, saat Lenalee Lee dan Howard Link bersaing untuk mendapatkan sang Golem emas, berkejar-kejaran melompati tiap kursi dan meja, menumpahkan makanan dan minuman yang tersaji. Ditambah Komui Lee yang mulai histeris dan memanggil 'Komurin', robot gila ciptaanya demi melindungi dan menembak siapapun yang berani mengganggu sang adik tercinta.

.

.

.

BRAK! BRAK! BRAK! BRAK! BRAK! BRAK!

Suara dentuman keras sangat mengganggu telinga, membuat Allen Walker tersentak kaget dan terpaksa membuka kelopak matanya lebar, tubuh terasa lemas, kepala berat. Berusaha mengumpulkan kesadaran sambil melihat ke sekeliling. Terbaring di atas ranjang besar yang empuk dan harum aroma mawar tercium semerbak, di ruangan asing yang bahkan tidak memiliki jendela.

Ruangan yang cukup luas berisi meja rias di salah satu sudut, sebuah sofa panjang, lampu kristal indah di langit-langit, hiasan berupa rangkaian bunga mawar indah. Sebuah pintu besar terbuat dari besi tempa sangat tebal sebagai satu-satunya akses, dan Yuu Kanda tampak sedang memukulnya keras dengan tangan terkepal.

"BaKanda... kau berisik..." Ungkap si Rambut Putih protes, membuat Yuu Kanda menghentikan aksi menonjok daun pintu.

"Che, akhirnya siuman juga si Moyashi ini."

"Namaku Allen! Dasar BaKanda idiot!" Berusaha untuk duduk di atas ranjang yang terlalu empuk ternyata sulit, apalagi dengan perut besar dan pakaian yang tebal berlapis. Beberapa kali dia mencoba, hanya untuk terguling dan kembali jatuh terlentang.

Yuu Kanda berkacak pinggang dan menyeringai lebar. "Pfft... apa yang sebenarnya kau lakukan Moyasi? Ingin coba menjadi kue gulung? Che... Kurasa sudah cukup mirip."

"BaKanda! Bantu aku dong! Dasar kau menyebalkan!"

"Cih, begitukah caramu minta bantuan? Moyashi tidak berguna," meski berkomentar kasar, sang Samurai berjalan mendekat lalu menarik tangan si Rambut Putih, membantunya duduk dengan tegak.

"Hufff." Helaan nafas lega meluncur dari sepasang bibir merah muda, "Kita ada dimana? Kenapa kau menggedor pintu seperti itu?"

"Komui mengurung kita, dia menggiringku masuk kemari dan langsung mengunci pintunya dari luar. Sialan, dia dengan mudah menjebakku saat sedang sibuk mengurusi dirimu yang jatuh pingsan dengan begitu dramatisnya, hanya karena sebuah ciuman kecil, dasar bocah!"

Allen memukul pundak Kanda cukup keras dengan tangan terkepal erat. "Ciuman kecil katamu!? Kau membuatku hampir mati kehabisan nafas tau! A... apalagi itu dilakukan di depan semua orang!"

Dua tangan kini ganti menutupi wajah yang merah membara, sangat malu jika mengingat kejadian tadi. "Aissh! Aku tidak punya muka lagi jika harus bertemu dengan yang lainnya!"

"Che, tidak usah berlebihan seperti itu Moyashi... seperti tidak pernah berciuman saja. Dengan perut sebesar itu mereka semua juga pasti sudah tau, kau pernah melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman bibir." Jawab sang Samurai enteng, seraya kembali berjalan menuju pintu, Allen menatapnya sengit meski begitu tidak bisa membantah, sebab yang dikatakan Kanda ada benarnya juga.

Sang Exorcist Asia tidak memperdulikan tatapan membunuh yang ditujukan untuknya, malah dengan cuek mulai melepaskan jubah seragam, melemparkannya ke sembarang arah. Rasa gerah dan keringat mengucur, membuat kain seragam yang dikenakan menempel di kulit, sungguh membuatnya tidak nyaman bergerak. Memperlihatkan tubuh atletis dengan otot perut sixpack, dan tato tribal melebar di bagian dada dan pundak yang tercetak jelas, sebab dia tidak mengenakan kaus ataupun kemeja di balik jubah hitam seragamnya. Kanda bersiap mengambil kuda-kuda, kali ini berniat untuk menendang pintu itu, Allen membuang muka dengan rona merah menyala.

BRAK! BRAK! BRAK!

Suara hantaman kembali terdengar, bahkan lebih keras. Namun pintu besi yang kokoh tidak terpengaruh sedikitpun. Sepasang alis putih berkerut, "Berhenti menendangnya BaKanda, suara itu membuatku pusing," ucapnya sambil perlahan merangkak turun dari ranjang, "Biar aku yang coba membuka dengan mencongkel bagian lubang kunci."

Berhasil menapakan kedua kaki di atas lantai, namun bagian bawah kimono putih panjang terinjak, membuat tubuh Allen terhuyung-huyung. Masih berusaha untuk berdiri tegak sambil berpegangan pada tepian ranjang, "Ukh! Baju ini menyusahkan!" Merasa kesal, si Rambut Putih berusaha melepaskan jubah bagian luar pakaianya, hanya untuk kebingungan dengan simpul Obi yang rumit.

Yuu Kanda mengerenyitkan kedua alis melihat sang Exorcit Eropa tengah berkutat sengit dengan kimononya, mendecakkan lidah, pemuda Asia itu kembali mendekat untuk membantu mengurai simpul Obi yang tampak kusut semrawut.

"Kau ini, benar-benar menyusahkan! Melepas baju saja tidak bisa, dasar bayi Moyashi, otakmu benar-benar sekecil biji kacang ya." Yuu Kanda menggerutu saat berhasil mengurai Obi dan mulai lanjut melepas simpul kecil yang berfungsi untuk mengencangkan pakaian.

Allen Walker memajukan bibir bagian bawahnya, mencibir kesal dengan dua pipi menggembung. "Salah siapa mereka memakaikan aku baju yang sangat rumit! Aku `kan tidak pernah memakai kimono sebelumn... Upfff!"

Tiba-tiba rahang dicengkeram erat, dua pipi empuk ditekan, mencegahnya bicara lebih panjang. Yuu Kanda mendekatkan wajah, terlalu dekat hingga Allen bisa merasakan hembusan nafas beraroma teh menggelitik indera penciumannya, jantung terasa mau melompat keluar dari dalam dada, dan spontan mata kelabu tertutup erat.

Namun kecupan tidak kunjung menghinggapi sepasang bibir, deru nafas hangat mulai menyapu daun telinga, "Berhentilah menggoda dengan berwajah seperti itu Moyashi, aku tidak mau memberikan mereka tontonan gratis." ujar Yuu Kanda berbisik seraya melepaskan cengkeraman tangannya.

Allen Walker menghembuskan nafas keras, entah kenapa dalam hati merasa kecewa, sepasang manik kelabu kembali terbuka hanya untuk memberikan tatapan kesal. "Siapa juga yang mau menggodamu, dasar BaKanda! Tapi apa maksudnya tontonan gratis?"

Sang Samurai menunjuk salah satu sudut, terlihat sisa-sisa benda berwarna hitam yang sudah hancur berantakan. "Lihat di sana, ada kamera pengawas yang kuhancurkan tadi. Tapi Komui pasti sudah meletakan kamera lain di tempat yang tidak bisa kutemukan. Sungguh licik, mereka pikir bisa mengawasi, saat kita sedang melakukan malam pertama."

Seketika wajah Allen Walker merah padam, buru-buru mundur berusaha mengambil jarak, sambil mendorong tubuh topless sang Samurai. "APA!? Si... siapa yang mau malam pertama!? Aku tidak mau!"

"Hei! Jangan bergerak dulu dasar Moyashi-Baka!" Kanda mengumpat, karena dia masih memegang salah satu ujung Obi, satu-satunya pengikat yang masih menempel pada kimono Allen.

Kanda terhuyung beberapa langkah ke belakang karena pergerakan yang tiba-tiba, tanpa sengaja menarik keras ujung Obi dan otomatis melonggarkan ikatan. Membuat pakaian berbahan sutra licin melorot seluruhnya. Menampilkan tubuh polos sang Exorcist Eropa dalam balutan Lingerine tipis berwarna merah hitam, dua pasang mata terbelalak lebar.

"GYAAAAAAA!" Si Rambut Putih berteriak keras, spontan merosot, bersimpuh di lantai, berusaha menutupi bagian tubuhnya. Sungguh ingin meneriaki siapapun yang tega membuatnya menggunakan pakaian dalam perempuan seperti ini. Tidak terbayangkan bagaimana saat mereka menelanjangi tubuhnya untuk memakaikan baju itu saat dia tidak sadar. Dua mata kelabu mulai berair, entah kenapa Allen merasa sangat nelangsa dan tidak berdaya.

Yuu Kanda cuma bisa berdiri mematung dengan mata terbelalak dan mulut sedikit terbuka, ekspresi kaget yang jarang sekali nampak di wajah stoicnya. Tetapi melihat sang Moyashi dalam balutan Lingerine tipis menerawang sebenarnya tidaklah jelek, bahkan dengan bagian perut yang membuncit tetap terlihat sexy juga menggoda. Jika saja di dalam kamar itu tidak ada kamera pengawas, mungkin Kanda bisa berbuat sesuatu yang lebih menyenangkan dengan memanfaatkan situasi dan kostum yang ada.

Tapi saat si Rambut Putih mulai terisak keras akhirnya Yuu Kanda tersadar, mau tidak mau dia merasa kasihan mendengar suara yang sangat memprihatinkan itu. "Cih, kenapa kau menangis Moyashi idiot? Buat apa kau malu, toh aku sudah sering melihat tubuhmu yang lebih polos dari sekarang."

"Bukanya aku malu padamu BaKanda! Hiks... Aku malu sekali pada orang yang su... sudah memakaikan baju laknat ini! Hiks... Sungguh waktu itu a... aku tidak sadarkan diri! Hiks... Kenapa mereka kejam sekali! Hiks... "

"Che... sudahlah, pikirkan hal itu nanti saja. Sekarang yang penting kita harus keluar dari kamar ini! Ayo bangun!" Ujar Kanda sambil menarik tubuh Allen, menyuruhnya berdiri sambil berusaha memakaikan salah satu lapisan kimono pengantin. Hanya satu lapis bagian yang sederhana, agar si Rambut Putih lebih leluasa bergerak, dan tidak menangis karena bokong pucatnya terlihat. Selesai mengikatkan Obi lebih ke bagian atas agar perut tidak sesak, Kanda menyuruh Allen segera mencongkel pintu dan membebaskan mereka dari kurungan.

Meskipun wajah sang Exorist Eropa masih terlihat sembab, dia terlihat sangat fokus mengutak-atik lubang kunci, dengan menggunakan jepitan rambut. Yuu Kanda berjalan mondar-mandir di belakangnya, ingin cepat keluar agar bisa menghajar orang-orang yang terlibat dengan rencana gila ini, hingga sebuah suara terdengar.

CTAK!

"Apa kau berhasil Moyashi?" Tanya sang Samurai langsung tidak sabaran.

"Namaku Allen, dasar BaKanda! Dan... uhmmm... jepitannya patah... tersangkut di dalam sana. Kurasa pintu ini tidak bisa dibuka... hehehe" Jawab Allen Walker sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bibirnya menyunggingkan senyum kecut penuh rasa bersalah.

Tubuh Yuu Kanda bergetar, aura gelap menguar hebat, dua tangan mengepal dan urat kemarahan jelas tercetak di dahi. "Sial... Kauuu... Moyashiii..." Suara gerutu yang lebih mirip seperti geraman macan siap menerkam, sungguh terdengar sangat mengerikan.

Allen jelas merasa takut melihat amarah sang Samurai sudah memuncak. Tubuhnya spontan mengkerut menempel pada daun pintu, mata terpejam erat dan dua tangan bergerak melindungi bagian perut, sikap waspada jika Yuu Kanda mulai mengamuk.

Meski rasanya sangat marah namun Kanda masih bisa berpikir jernih, dia tidak bisa melampiaskan rasa kesalnya itu pada sang Moyashi, yang juga korban jebakan Komui. Menarik nafas panjang beberapa kali, berusaha menenangkan diri dari emosi, sang Samurai memilih membalikan badan, berjalan menjauh. "Cih! Sialan! Kalau begini cuma bisa tunggu sampai si sinting Komui itu bosan dan melepaskan kita. Setelah bebas, baru aku kuliti orang-orang tidak waras itu, gggrrr..."

Allen Walker terperangah, melihat Yuu Kanda yang memilih duduk bersila di atas sofa, mulai memasang posisi meditasi, "Kau tidak marah padaku?" tanyanya ragu.

"Marah padamu juga tidak ada gunanya, kita tetap tidak bisa keluar dari sini! Sekarang berhentilah bicara! Jangan mengganggu meditasiku!"

Senyuman menghias wajah sang Exorcist Eropa, merasa sangat beruntung tidak terkena amukan. Memilih untuk menurut dan tidak lanjut berbicara, dia memutuskan untuk kembali berbaring di ranjang. Sebab tidak ada kegiatan lain yang bisa dilakukan di dalam ruangan asing itu, sungguh keberadaan Timcanpy pasti akan sangat membantu, namun sang Golem tersayang tidak ikut terjebak bersama mereka, sungguh rasanya kesepian.

Allen Walker membaringkan tubuhnya perlahan, setelah berkutat dengan lubang kunci sambil membungkuk, membuat pinggangnya pegal dan sangat butuh meluruskan tubuh. Mencoba mencari posisi berbaring yang nyaman, tapi rasanya sulit. Sebab tiba-tiba bagian perut kembali terasa kencang, otot pinggang dan punggungnya seperti ditarik-tarik menyebabkan rasa nyeri.

Memilih untuk memposisikan diri menghadap samping dan berusaha mengambil udara sebanyak mungkin, mengalihkan pikiran dari rasa sakit dengan memperhatikan sosok Yuu Kanda yang sedang bermeditasi, mengikuti pola nafas sang pemuda Asia, Allen merasakan sedikit kenyamanan hingga kelopak matanya kembali terasa berat.

.

Dua jam berlalu tanpa terasa, Allen Walker tiba-tiba tersentak bangun dari tidurnya karena rasa sakit yang tidak tertahankan lagi, sangat pedih seolah-olah perutnya dirobek dari dalam. Spontan tubuh meringkuk, dua tangan berusaha mengelus bagian perut namun tidak lagi bisa menenangkan pergerakan sang janin seperti biasanya. Menggigit bibirnya keras hingga sesuatu yang asin dan berasa seperti besi terkecap di lidah, mungkin berdarah. Namun Allen masih mati-matian berusaha mengatupkan mulut menahan suaranya. Karena tidak ingin mengganggu meditasi seorang Yuu Kanda, dan berharap rasa sakit itu segera menghilang seperti biasanya.

Hanya beberapa menit berlalu, namun rasanya waktu sudah berjalan sangat lama. Tubuh berbalut kimono putih kini basah oleh keringat dingin yang mengucur deras. Kali ini rasa sakit yang dirasakan tidak juga menghilang, malahan semakin menjadi dengan intensitas yang semakin dekat. Bisa Allen rasakan bayinya bergerak keras semakin ke bawah, nafas terasa berat hingga membuatnya tersengal. Rasa nyeri semakin menjadi seperti ditusuk seribu pedang, walau sering terluka dalam pertarungan kali ini dia tidak bisa menahan sepasang mata kelabu untuk mengeluarkan air mata.

Yuu Kanda merasakan firasat yang tidak enak, meski kondisi meditasi bisa memblokir segala pikiran negatif dan memberikan ketenangan, namun ada sesuatu yang terasa salah. Karena itulah perlahan dia mengakhiri sesi meditasi dan segera membuka mata untuk mengamati kondisi sekeliling.

Sangat jelas dia lihat sosok berambut putih tengah meringkuk di atas ranjang dengan tubuh bergetar. Sang Samurai melompat turun dari sofa menghampiri Allen yang berbaring menyamping memunggunginya, dengan kepala di benamkan ke atas bantal, dua tangan mencengkeram erat seprei hingga kusut.

Sepasang alis gelap menukik tajam, "Oi Moyashi! Kau kenapa?" tidak ada jawaban yang diberikan. Allen Walker menggeleng, belum mau mengangkat kepala atau-pun menunjukan wajah, hanya suara isak tangis dan deru nafas tersengal yang terdengar membuat Yuu Kanda kehilangan kesabaran.

Langsung saja Kanda beranjak naik ke atas kasur, berniat menjitak si Rambut Putih supaya berhenti bertingkah aneh dan mengganggu ketenangan yang ada. Namun sesuatu terasa basah dan dingin menempel di kulit, saat telapak tanganya bertumpu di atas kasur. "Cih, Apa ini?" gumamnya seraya memperhatikan dengan lebih seksama,

Lagi-lagi Yuu Kanda dibuat sangat kaget, mendapati sebagian dari kasur sudah basah kuyup. "ASTAGA MOYASHI! KENAPA KAU NGOMPOL HAH!?"

"APA KATAMU!?" Teriak Allen keras, spontan membalikan badan dan mengangkat kepala, sungguh dia merasa tersinggung.

"Lihat ini Moyashi-Baka! Kasurnya sampai basah semua! Apa kau sudah sebegitu bebalnya hingga tidak bisa merasakan saat ingin buang air!? Disana ada kamar mandi bodoh! Kau bukanya pergi kesana, malah menangis disini!"

Sepasang manik kelabu terbelalak, memancarkan amarah, "Aku tidak ngompol BaKanda! Jangan tuduh sembarangan ya! Ukh!" namun lagi-lagi serangan rasa nyeri yang hebat membuat Allen kembali menelungkupkan tubuhnya, saat itulah dia menyadari suatu kenyataan yang mengerikan.

Suster kepala pernah memaksanya membaca buku tentang kehamilan dan persalinan. Meski Allen Walker tidak serius, membacanya sebagai pengisi waktu luang saja, beberapa informasi dapat dia ingat dengan baik. Termasuk tentang beberapa tanda yang menunjukan bahwa bayi akan segera lahir, biasanya didahului dengan pecahnya air ketuban.

Kadang gejala ini salah dikenali sebagai keluarnya air seni dengan jumlah yang sangat banyak, namun perbedaanya adalah; saat air ketuban keluar seringkali tidak disadari karena tidak terasa. Mengingat itu membuat wajah Allen bertambah pucat.

"Ba... Kan... da..., sepertinya... ukh... bayinya, mau la... lahir..."

"APA!?" Sang Samurai memberikan tatapan tidak percaya. "Kau yakin!? Bukankah seharusnya masih dua bulan lagi?"

Allen Walker mendekap perutnya lebih erat, menarik nafas dalam sebelum lanjut bicara. "A.. apa kau tidak pernah dengar bayi prematur? Ukh... Air ketubannya sudah pecah, da... dan perutku sa... kit sekali, Aiisshh..."

Yuu Kanda sama sekali tidak paham tentang apa itu ketuban, prematur, atau sebagainya. Tapi dari ekspresi yang dia lihat Allen bicara serius.

"Cih, sialan! Di saat seperti ini!" Umpatnya keras, menyadari bahwa mereka harus segera keluar dari kamar itu, atau tidak ada yang menolong Allen melahirkan, perasaanya berkecamuk. Mata memandang sekeliling ruangan, mencari sesuatu untuk digunakan menjebol ruangan. Pilihanya jatuh pada sebuah kursi sofa panjang, yang langsung diangkat dan dilemparkan tepat mengenai pintu.

DRUAKH!

"KOMUI! CEPAT KELUARKAN KAMI DARI SINI BRENGSEK!" Teriak Kanda lantang, saat pintu tidak goyah sedikitpun. Mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang untuk memberikan tendangan keras.

DRUAKH!

Sedikit membuahkan hasil, karena akhirnya pintu itu penyok namun masih terpasang kokoh di tempatnya. Tubuh sang Samurai bersimbah keringat, namun dia tidak menyerah dan berjalan mundur lebih jauh, kembali mengambil ancang-ancang.

Allen Walker sudah tidak tahan, instingnya mengatakan bahwa mereka harus segera keluar atau akan terjadi sesuatu yang buruk pada bayinya. Mengumpulkan segenap tenaga untuk mengaktifkan Innocent, "CROWN CLOWN!" sebuah pedang putih besar muncul, bentuk perubahan dari tangan kirinya.

"Ugh... Kanda gunakan ini!" Ucap si Rambut Putih seraya melemparkan senjata.

Lemparan pedang dengan mudah Yuu Kanda tangkap, dan sebuah sabetan memanjang langsung bisa menghancurkan pintu kokoh hingga berkeping-keping. Seketika alarm yang memekakan telinga langsung berbunyi keras, dan lampu penerangan berubah warna menjadi merah.

TEET! TEET! TEET! TEET! TEET! TEET! TEET! TEET! TEET!

Mengembalikan pedang yang kembali menyatu dengan tubuh sang Exorcist Eropa, Kanda bergegas mengangkat Allen dalam gendongan bridal-style. Membawanya berlari keluar ruangan demi segera mencari pertolongan medis. Si Rambut Putih langsung mengalungkan kedua lengan ke leher telanjang, seraya membenamkan kepala di pundak kokoh Yuu Kanda, berusaha menghirup aroma maskulin yang menguar agar bisa sedikit menenangkan diri.

.

.

.

Layaknya sebuah medan perang... Suasana Cafetaria kacau balau, berantakan seperti kapal pecah.

Lenalee Lee berhasil menangkap Timcanpy, membawanya dalam dekapan erat demi menghindari kejaran Howard Link. Sementara dia masih unggul dan bisa menangkis lemparan kertas jimat api dengan jurus anginnya. Komui Lee tentu saja tidak terima melihat adiknya diburu sedemikian rupa, segera saja memerintahkan 'Komurin XXXV' untuk menyerang sang pengawas berambut kuning dengan peluru kendali. Pertarungan sengit dan ledakan dimana-mana mengacaukan segalanya, tapi sebagian dari penghuni Black Order tidak bisa menjadi saksi, sebab sudah tumbang akibat konsumsi alkohol yang berlebih.

Beruntung Miranda Lotto bisa mengaktifkan Time Record tepat waktu, menciptakan perisai pelindung cukup besar, menyelamatkan orang-orang dari terjangan peluru nyasar. Bahkan para Jenderal masik asyik menikmati jamuan makanan dan minuman tanpa memperdulikan kekacauan di sekitarnya, menggunakan Art of Eden yang juga menciptakan kubah pelindung. Sementara Lavi dan Thimothy sibuk bersorak menyemangati Lenalee. Sungguh suatu pesta meriah, sampai suara alarm aneh, berbunyi keras mengagetkan semuanya.

TEET! TEET! TEET! TEET! TEET! TEET! TEET! TEET! TEET!

"Astaga! Allen!" Lenalee tersentak dan langsung menghentikan serangan. Jelas tahu bahwa bunyi itu berasal dari alarm yang dipasang di kamar pengantin. Cemas akan kondisi sang rekan, gadis itu langsung melompat keluar ruangan, melesat cepat tidak terlihat.

"Berhenti Lenalee Lee! Jangan harap kau bisa kabur! Serahkan Timcanpy padaku!" Howard Link berteriak keras, kemudian ikut berlari keluar Cafetaria.

Tetapi Komui tidak membiarkan pengawas berambut kuning itu lewat, dia maju menghadang bersama robot canggih ciptaanya. "Jangan harap kau bisa menyentuh Lenalee-ku! Komurin, serang dia!"

Arena perang pindah ke lorong, dengan dua petarung utama Howard Link dan Komui Lee. Suasana Cafetaria menjadi lebih tenang, orang-orang menghela nafas lega. Tidak ada yang menghawatirkan bunyi alarm, karena mereka tahu yang berbunyi bukanlah tanda bahaya ataupun pemberitahuan bencana.

Namun para Exorcist bertanya-tanya, apa yang sudah terjadi di dalam kamar pengantin hingga penyebabkan alarm khusus itu berbunyi. "Ayo Thimothy! Apa kau mau ikut? Sepertinya akan ada kejadian yang lebih seru!" Ujar Lavi Bookman penuh semangat, turut berlari mengikuti para pembuat onar, disusul oleh Exorcist termuda dengan tidak kalah antusiasnya.

.

.

.

Yuu Kanda berlari kencang menyusuri lorong koridor panjang menuju ruang perawatan. Bisa dia rasakan betapa nafas Allen semakin memburu, giginya gemeretuk menahan nyeri, dua tangan bertambah erat merangkul leher.

"Kanda.. Ukh... rasa... nya sakit sekali,.."

"Kuatkan dirimu Moyashi, kita hampir sampai." Gumam sang Samurai berusaha menenangkan, meski dia menyadari perjalanan masih lama, sebab mereka dikurung dalam basement yang letaknya jauh di belakang bangunan utama.

Wajah si Rambut Putih pucat dengan keringat dingin mengalir deras, bagian bibir bawah mulai berdarah karena digigit kuat, meski sudah menempel erat namun langkah kaki sang Samurai tetap membuat tubuhnya tergoncang dan menambah rasa nyeri. Tidak bisa memikirkan cara lain untuk menahan rasa sakit, Allen menggigit pundak polos yang terpampang di depan mata.

KRAUK!

"UGH! SIAL!" Yuu Kanda mengumpat keras, namun membiarkan aksi brutal si Rambut Putih. Karena dia sadar Allen melakukannya untuk menahan rasa sakit yang diderita, bahkan tidak memperdulikan darah segar yang mulai mengalir membasahi dadanya.

Rasanya lorong itu sangat panjang, perjalanan paling lama yang pernah Yuu Kanda alami, hingga pintu putih ruang perawatan mulai terlihat. Tinggal beberapa langkah lagi dia bisa menyerahkan Allen pada suster kepala. Namun langkahnya seketika terhenti, saat tiba-tiba Lenalee Lee melompat muncul di hadapannya. Golem berwarna kuning tidak ketinggalan, langsung menubruk kepala sang pemilik yang langsung melepaskan gigitan, rupanya Timcanpy menunjukan keberadaan mereka.

"ASTAGA! Kanda! Apa yang terjadi!? Allen kenapa!?" Tanya sang Gadis cemas, melihat pundak Kanda bersimbah darah dan Allen yang tengah sibuk membenamkan wajah ke dada sang Samurai sambil terisak.

"Awas minggir! Aku harus segera mengantarnya ke ruang perawatan." Jawab Yuu Kanda keras, kembali berjalan melewati Lenalee yang berusaha meminta penjelasan.

"Tapi kenapa? Apa yang sudah kau lakukan padanya?"

"Cih, aku tidak melakukan apa-apa idiot! Cepat minggir! dia mau melahirkan!"

"APA!?" Lenalee spontan berteriak keras, sang Samurai tidak perduli dan terus berjalan maju, buru-buru sang gadis mengikuti. "Tapi bukankah ini terlalu cepat? Masih dua bulan lagi kan?"

"Aku juga tidak tahu kenapa, tapi yang jelas bayinya akan segera lahir, dari tadi dia sudah kesakitan! Bahkan sampai mengompol dan menggigitku!" Terlihat kecemasan mendalam di wajah Yuu Kanda. Sementara Allen sudah kehabisan tenaga, meski ingin sekali protes atas peryataan barusan. Hanya bisa menggunakan tenaga terakhir untuk memeluk erat leher sang suami, satu-satunya pegangan yang menguatkan sebab rasa sakit yang luar biasa bahkan membuatnya tidak menyadari keberadaan Timcanpy yang terus bergelun di kepala.

Seketika wajah Lenalee berubah pucat, "Ka... kalau begitu aku akan segera memanggil para tenaga medis kembali ke ruang perawatan." dia melompat pergi secepat kilat dengan dark-boots.

Kanda mengerenyikan alisnya heran, memang kemana perginya para dokter dan suster? Bukankah mereka seharusnya berjaga di tuang perawatan? Tidak terlalu memikirkan hal tersebut, sang Samurai mendobrak pintu, hanya untuk mendapati ruang perawatan yang kosong.

"Sialan! Kemana mereka!?" Kanda mengumpat keras, sambil bergegas membaringkan tubuh Allen di salah satu ranjang perawatan. Tetapi tangan si Rambut Putih tidak mau lepas, mati-matian Allen menggelengkan kepala dan terus menempel erat. Akhirnya Kanda memutuskan untuk duduk memangku tubuh Allen di atas ranjang, menunggu Lenalee kembali.

BRUAK!

Tidak lama kemudian pintu didobrak keras, Lenalee masuk ke dalam ruang perawatan bersama dengan suster kepala dalam gendongannya.

"Allen! Kau tidak apa-apa nak?" sang suster bergegas mendekati kedua exorcist. Berniat memeriksa kondisi Allen, "Lepaskan tanganmu nak, baringkan tubuhmu, atau aku tidak bisa memeriksamu." ujar sang suster lembut.

Awalnya Allen menolak melepaskan diri dari Yuu Kanda, namun suster terus membujuknya dan Lenalee tidak ketinggalan berusaha membantu melepaskan kuncian tangan yang sangat erat di leher sang Samurai, "BaKanda... ukh jangan pergi... jangan tinggalkan aku..." isak si rambut putih mengiba.

"Aku tidak akan kemana-mana Baka-Moyashi! Ayo berbaringlah kau harus diperiksa!" Kanda berisikeras memposisikan tubuh Allen di atas ranjang.

Tenaga Allen sudah terkuras dan hanya bisa memejamkan mata erat, saat Kanda dan Lenalee berhasil membuatnya terbaring siap diperiksa. Namun tangan kiri sang Exorcist Eropa masih terus menggenggam erat jemari Yuu Kanda, tangan Innocent dengan kekuatan cengkraman yang menimbulkan rasa nyeri. Tetapi sang Samurai tidak memperdulikannya bahkan balas menggenggam dengan sama eratnya, ketika suster mulai melebarkan kedua kaki pucat yang basah oleh keringat.

"Ini gawat, air ketubannya sudah pecah! Harus segera dilakukan operasi."

"Operasi!?" Allen menemukan kembali suaranya, sementara Kanda hanya bisa mengerenyitkan mata saat genggaman di tangan bertambah kencang.

"Iya operasi untuk mengeluarkan janin dari dalam tubuhmu," suster kepala menjelaskan sambil berjalan menuju lemari perlengkapan, "Lenalee cepat kau siapkan air mendidih, para dokter dan suster lain sudah kau panggil kemari kan?"

Gadis Asia itu tampak panik dan kebingungan, namun dia masih bisa menganggukan kepalanya, "I... Iya, sebentar lagi mereka sampai." kemudian dia bergegas menjalankan perintah.

Tepat saat Lenalee membuka pintu dengan baskom besar ditangan, Howard Link muncul dan berteriak berusaha menerobos masuk, "Yuu Kanda! Serahkan Walker sekarang juga! Kalian benar-benar sudah keterlaluan melanggar perintah Central!" Tidak jauh di belakangnya tampak sosok Komui, Lavi dan Thimothy mengikuti.

"Link-san! Tolong hentikan! Allen mau melahirkan! Kalian semua menyingkirlah!" Lenalee berteriak tidak kalah keras, berusaha mendorong sang Pengawas menjauh dari ruangan.

"ALLEN MAU MELAHIRKAN!?" kali ini Komui yang berteriak histeris, Lavi dan Thimothy tampak sangat terkejut dengan mata terbelalak lebar.

"Iya! Karena itu tolong jangan ganggu mereka! Tunggu saja diluar!" perintah sang Gadis keras, dua exorcist lain langsung menurutinya, namun sang Pengawas tampak tidak begitu percaya dan langsung ditahan oleh Komui.

"Howard Link! Ini adalah kondisi genting, adikku yang manis tidak mungkin berbohong! Tunggulah disini sampai bayinya lahir, kita tidak boleh mengganggu kerja para dokter!" ucap pria berkacamata itu berusaha meyakinkan.

Saat itulah rombongan dokter dan suster muncul, mereka tampak tergesa-gesa berlari dari ruang cafetaria. Lenalee membukakan pintu, membiarkan mereka semua masuk untuk melaksanakan pekerjaanya, kemudian kembali melompat demi menuntaskan tugas. Menyerahkan penjagaan pada sang kakak dan kedua rekanya.

.

Suasana di dalam ruang perawatan sangat sibuk, suster kepala menjelaskan hasil pemeriksaanya pada tim dokter, yang langsung menyiapkan prosedur operasi.

"Yuu Kanda, kau bisa keluar sekarang nak. Biar kami yang menjaga Allen." Suster kepala berujar lembut.

Sang Samurai mengangguk, beringsut mudur namun Allen menolak untuk melepaskan tangan suaminya, "Jangan pergi.. Hiks, kumohon Kanda... Aku takut... Jangan tinggalkan aku..." pintanya sambil meringis menahan nyeri, dua manik kelabu sudah basah oleh air mata.

Melihat itu Kanda merasa iba, tetapi dia tahu keberadaanya di dalam ruangan bisa mengganggu pekerjaan para dokter nanti. Melihat ke arah samping, sang Suster memberinya tatapan prihatin, di tanganya ada jarum suntik dengan tabung terisi penuh, berjalan mendekat sambil berbisik "Alihkan perhatiannya."

Kanda mengangguk, dia kemudian mengeratkan genggaman tangan, menautkan jari-jari mereka. Sementara sebelah tangan yg masih bebas dia gunakan untuk menangkup pipi pucat yang sembab, "Dengarkan aku Moyashi, semuanya akan baik-baik saja. Ada suster kepala disini, percayalah padanya."

"Ukh, tidak mau... Aku takut, hiks... Kau jangan pergi..." mati-matian si Rambut Putih menggelengkan kepala.

Untuk menghentikannya, Kanda spontan mengadu jidat mereka, berusaha memaksa agar mata kelabu itu hanya fokus pada dirinya."Apa yang harus ditakutkan Moyashi? Sekarang lihat aku! Tatap mataku! Kau itu kuat, tidak akan terjadi apapun. Anak ini pasti bisa lahir dengan sehat!"

Moment yang tepat, saat gerakan sang Exorcist eropa terkunci. Suster kepala langsung menyuntikan obat bius di lengan kanan Allen yang berjengit dan berusaha untuk memberontak, namun tak berdaya karena Kanda menahannya ditempat.

Perlahan tubuh pucat itu berhenti bergerak, nafas yang tersengal berangsur tenang, genggaman tangannya melemah dan Kanda akhirnya bisa melepaskan diri. Menatap wajah sembab yang kini tidak sadarkan diri, Kanda menggerakan jarinya untuk menghapus jejak air mata di pipi dan memberikan elusan lembut terakhir di bagian perut yang terasa sangat kencang, barulah kemudian dia berjalan menuju pintu keluar.

"Kanda-san, tunggu dulu!" Seorang suster muda memanggil, "Luka di pundakmu itu, harus segera diobati," ujarnya sambil menunjukan perban dan obat antiseptik.

"Che, Hanya luka kecil gigitan kucing liar. Tidak perlu diobati." jawabnya galak, sukses membuat suster itu memili mundur.

.

"Exorcist Kanda! Apa-apaan ini? Berani sekali kau melawan perintah cental!" Howard Link langsung berteriak saat melihat pemuda Asia keluar dari ruangan.

Tetapi Komui Lee langsung mendorongnya keras, "Sekarang bukan saatnya membicarakan hal itu! Nah Kanda! Bagaimana kondisi Allen? Kenapa dia bisa melahirkan sekarang? Padahal usia kandungannya belum cukup?"

Lavi Bookman tidak ketinggalan, dia ikut maju dan bertanya dengan nada tinggi penuh emosi, "Apa yang sudah kau lakukan pada Allen-chan hah!? Astagaa! Lihat pundakmu itu! Kalian pasti sudah melakukan permainan kasar yang membuatnya sampai bisa melahirkan prematur seperti ini kan? Ayo mengaku sa-UGH!"

Sebuah pukulan keras dilayangkan, telak mengenai rahang si Rambut Merah, Yuu Kanda mengumpat dengan wajah kesal penuh amarah."Che... Dasar berisik! Perlu kalian ketahui ya, aku sama sekali tidak melakukan apapun pada Moyashi idiot itu! Dan aku bukanlah dokter yang tahu kenapa dia bisa melahirkan sekarang! Tanyakan saja pada si Idiot brengsek Komui ini, yang sudah mengurung kami dan memaksa Moyashi menggunakan Innocentnya!" Kemudian dia bergegas pergi dengan langkah lebar.

Link masih merasa tidak bisa menerima sikap sang Exorcist tersebut, berteriak protes atas pelanggaran yang sudah dilakukan. Namun Yuu Kanda tidak perduli dan terus berjalan menjauh, meningalkan Komui yang menganga dengan wajah penuh rasa bersala, juga Lavi yang merintih kesakitan.

.

Entah sudah berapa lama waktu yang Kanda lewati dibawah siraman shower, mandi untuk membersihkan tubuh dan pikirannya. Namun sekeras apapun dia mencoba membuang berbagai pikiran negatif di dalam kepala, rasa khawatir terus menghantuinya. Apalagi mengingat betapa pucat warna kulit Allen, dan akibat dari penggunaan Inocent saat mereka melarikan diri dari dalam kamar.

BRUAKH!

Kepalan tangan menghantam dinding keramik kamar mandi, pukulan yang cukup keras hingga bisa menimbulkan retakan halus di atas permukaan licin. Kanda merasa tidak berdaya, marah karena tidak bisa membebaskan mereka lebih cepat tanpa harus membebani si Rambut Putih lebih banyak lagi.

Bosan dengan kecamuk pikirannya, pemuda itu metuskan untuk kembali ke ruang perawatan, meski harus kembali berhadapan dengan orang-orang yang menyebalkan seperti ; Link, Komui dan tentu saja Lavi.

.

Seperti yang sudah Yuu Kanda duga, orang-orang menyebalkan itu masih betah menunggu di depan ruang perawatan, dan yang membuatnya tidak habis pikir adalah bertambahnya jumlah penggangu yg berkerumun disana. Bahkan para tim peneliti dan beberapa finder yang Kanda tidak ingat namanya, turut hadir. Apalagi saat dia melihat sosok sang Guru bersama Noise Marie, sungguh membuatnya ingin berbalik pergi namun urumg dilakukan karena rasa khawatir yang sunguh mengganggu.

"Yuu-kun!" Jenderal Froi Tiedol langsung menyongsong kedatangan sang murid yang sudah dianggap seperti anak sendiri, memeluk pemuda berwajah masam itu dengan antusias dan lelehan air mata."Astagaa...Tidak kusangka akan bisa menimang cucuku secepat ini. Kuatkan dirimu Yuu-kun, operasinya pasti sukses."

"Arrrgghh! Minggir kau orang tua!" Kanda berusaha menyingkirkan pelukan Jenderal berkacamata, berusaha menjauhkan wajah tua penuh air mata dan ingus itu dari kemeja putih yang baru saja diganti dan Noise Marie tersenyum lebar mendengar interaksi mereka.

"Ma..maaf Kanda-san, apa Allen-kun baik-baik saja?" Miranda Lotto, dengan wajah pucat penuh rasa cemas mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertanya, hanya untuk kembali gemetar ketakutan begitu sang Samurai memberinya tatapan tajam. "Hyaaaa! Maaafkaan akuuu!" isak wanita itu tiba-tiba.

"Nee Yuu-chan! Apa yang kau lakukan! Jangan menakut-nakuti Miranda-chan seperti itu, hatinya rapuh. Tidak seperti Moyashi-mu yg tahan banting. Bahkan sampai bisa melahirkan prematur seperti sekarang ini, ckckck." Lavi berujar, sambil mencoba menangkan Miranda yang sedang menangis histeris, spontan orang-orang yang lain memandanginya dengan tatapan curiga penuh tanya.

"Sialan kau baka-usagi! Aku tidak tidak melakukan apa-apa! Kau ingin kupukul lagi ya?!" Kanda spontan maju berniat mencengkeram kerah baju Lavi, tidak perduli bahwa bagian rahang si Rambut merah masih terlihat biru, tetapi teriakan Lenalee menahannya.

"Kanda! Berhenti! Tahan emosimu! sekarang bukan saatnya bertengkar. Yang perlu kita lakukan adalah mendoakan Allen agar dia bisa kuat. Lavi juga! Berhentilah memprofokasi Kanda, tolong jangan buat keributan lagi." Entah bagaimana teguran gadis berambut pendek itu bisa mengendalikan situasi dan mereka semua kembali menunggu dengan tenang.

Beberapa jam berlalu dalam penantian yang terasa sangat panjang. Sebagian orang memilih untuk kembali ke posko masing-masing, setelah menitipkan salam dan doa untuk sang ibu dan calon bayinya, beberapa bahkan sudah jatih tertidur sambil duduk di lantai bersandarkan tembok seperti Jhonny, Reever bahkan Miranda yang mungkin sudah kelelahan karena menangis.

Timothy yang semula duduk berdampingan dengan tutor pribadinya Emily, memanfaatkan moment saat gadis berambut pirang itu tampak mulai mengantuk, untuk melarikan diri dan berlari menuju sebuah jendela besar, dimana sosok kakak samurai yang menyeramkan bersandar di tepiannya, menjauh dari kerumunan para penunggu. Kaki kecilnya berjinjit, melongok keluar jendela untuk memuaskan rasa penasarannya pada kondisi di halaman markas luas dan tampak indah dengan lampu-lampu yang mulai dinyalakan karena hari sudah gelap. Dua mata beralih sasaran memandang ke atas, dimana lagit terlihat berwarna lembayung gelap, dan seketika bocah itu berteriak antusias kala melihat pijar cahaya indah muncul dari balik kumpulan awan."Aah lihat! Bintang pertama keluar!"

Yuu Kanda spontan menoleh turut melongok ke arah jendela, demi melihat binar terang cahaya pertama yang indah petang hari itu, dan saat itulah derit suara pintu kayu terdengar keras, ruang perawatan dibuka memunculkan sosok suster kepala dengan raut wajah lelah, namun senyum lebar terpampang di wajah.

"OWAAAA! OWAAAAAA! OWAAAA! OWAAAAAA!"

Tangisan keras yang berasal dari buntelan biru muda dalam gendongan Suster Kepala sungguh menjadi pusat perhatian semuanya. Mereka langsung berkerumun di hadapan sang suster, berlomba untuk melihat rupa penghuni baru markas yang sangat dinanti. Bahkan Howard Link yang dari tadi sibuk mengawasi bagaikan bayangan dengan tatapan tajam, mengabaikan tugasnya dan turut maju.

Thimothy melompat girang berlari ke arah kerumunan. Sementara Yuu Kanda masih berdiri di tempat, mematung dengan alis berkerut mendengar suara tangisan kencang yang memantul di penjuru lorong. Karena rasanya nyaris tidak percaya bahwa dia sekarang memiliki seorang anak, sungguh pemuda Asia itu tidak mengerti hal apa yang sudah terjadi.

Para penunggu terlihat puas dan gembira, bahkan beberapa diantara mereka menitikan air mata haru. Kanda masih bergeming, bahkan saat sang guru memanggilnya untuk segera mendekat. Hingga suster kepala menyadari bahwa sang Samurai masih berdiri mematung dengan ekspresi wajah bingung, yang nyaris tidak pernah terlihat sebelumnya wanita tua itu sungguh merasa geli.

"Selamat Yuu Kanda, anakmu laki-laki. Sekarang kemarilah." ujar suster kepala lantang. Tanpa sadar Yuu Kanda bejalan mendekat, orang-orang yang sedang berkerumun langsung menyingkir memberi jalan, hingga dia berhadapan langsung dengan suster dan bayi kecil dalam gendongan.

"Kemarikan tanganmu nak, coba kau gendong dia."

Baru kali ini Yuu Kanda kehilangan kata-kata, dia bingung harus berbuat apa, berbagai perasaan berkecamuk di dalam dada. Rasanya seperti mimpi saat suster kepala mengarahkan tangannya untuk memposisikan bayi agar nyaman dalam dekapan. Mahluk kecil mungil yang mungkin tidak lebih besar dari dua bentangan telapak tangan terasa sangat ringan dan rapuh, Kanda menahan nafas sampai sang suster memposisikan bayi itu dengan pas.

Seolah mengenali sang ayah, suara tangisan perlahan berhenti, digantikan erangan lirih yang menggemaskan. "Sungguh suatu keajaiban, meski lahir prematur, dia sangat sehat dan organ tubuhnya sudah sempurna." Ujar sang suster lagi.

Jika biasanya keberadaan sosok Yuu Kanda langung bisa membuat orang kabur, namun kali ini berbeda. Bayi dalam gendongan membuatnya terlihat aman untuk didekati, terutama para exorcist lain yang kembali menghampiri, ingin melihat melihat lebih jelas seperti apakah janin yang dikandung oleh Allen Walker selama 7 bulan ini. Mencoba membandingkannya dengan rupa sang ayah, mencari manakah gen yang lebih dominan rupa unik khas Eropa atau eksotisme Asia.

Sejumput rambut hitam tumbuh cukup lebat di pucuk kepala, kulit lembut kemerahan yang terlihat berkerut-kerut. Bola mata berwarna kelabu pucat yang hanya sesekali terlihat, disela tangisan. Baru pernah seumur hidupnya Yuu Kanda melihat penampakan bayi yang baru saja dilahirkan dan hanya satu pemikiran yang terlintas, "Apa dia akan baik-baik saja? Kenapa kulitnya merah sekali? Terlihat keriput seperti Tiedol?" mengajukan sebuah pertanyaan dan tidak memperdulikan keberadaan orang lain hanya ada rasa ingin tahu dan sedikit kekhawatiran.

"WAHAHAHAHAHAA" spontan suara tawa meledak, mengagetkan si bayi dan membuatnya kembali menangis keras, Kanda jujur merasa kaget dengan suara jeritan melengking dari bayinya, tidak menyangka mahluk sekecil itu bisa mengeluarkan suara yang sangat memekakan telinga.

Kanda berusaha mengembalikan sang bayi pada suster kepala yang rupanya juga ikut tertawa, namun wanita itu menolak. Malahan dia membatu Kanda untuk merubah posisi gendongannya, meletakan bayi itu di dada dengan memegangi bagian belakang kepala dan bokongnya. Bisa sang Samurai rasakan bagaimana kuat irama detak jantung puteranya dan tangan mungil yang menggenggam erat bagian depan kemeja, dia mempererat dekapannya. Tangis bayi itu kembali berangsur reda dan Yuu Kanda sukses mengirimkan tatapan maut pada siapapun yang berani tertawa dan membuat anaknya menjerit kaget. Ternyata insting melindungi sudah mulai tumbuh di dalam hati.

Tiedol sangat terharu saat mendengar bahwa cucunya memiliki kemiripan meski hanya dalam masalah keriput, hingga kehilangan kekuatan dan berakhir bersimpuh di lantai, bersimbah air mata bahagia. Noise Marie setia menenangkan sang guru, dan seperti biasa, Lavi memberikan komentar paling pertama.

"Keriput!? Astaga! Yuu-chan tak kusangka kau bisa berkata seperti itu pada putramu sendiri, hahahaha."

Lenalee juga ikut menimpali dengan suara lebih pelan, tidak ingin mengagetkan si kecil lagi. "Kurasa itu bukanlah keriput, kulitnya 'kan baru pernah terkena udara luar. Lihatlah, dia malah mirip sekali dengan Kanda dari ekspresinya itu. Alisnya berkerut tajam! Astaga, kita akan mendapatkan mini Kanda."

Komentar itu juga sukses mengundang tawa, namun kali ini mereka memilih untuk menahannya sambil menutupi mulut. Merasa bersalah bila bayi itu terusik dan kembali menangis, apalagi sang ayah masih setia memberikan tatapan membunuh.

Bisa Kanda rasakan cengkeraman tangan sang putera mulai melemah, bibir kecil terbuka cukup lebar, erangan kecil terdengar saat pertama kalinya mencoba untuk menguap. Para wanita berteriak tertahan melihat ekspresi yang sangat menggemaskan, Kanda tidak perduli pada mereka asalkan tidak mengganggunya.

"Lalu Moyashi? Bagaimana dia?" pertanyaan yang sukses mengalihkan atensi semua orang dari sosok bayi mungil dalam gendongan. Sebab mereka juga menghawatirkan kondisi exorcist eropa tersebut.

Suster kepala, menghela nafas panjang. Namun sebuah senyum terpampang di wajah lelahnya. "Para dokter masih melakukan operasi di bagian perutnya. Tapi kondisinya stabil, kalian jangan cemas."

.

.

.

Sepasang kelopak mata terbuka, menampakan iris kelabu yang terlihat cerah di dalam ruangan temaram. Allen Walker merasa pandangannya kabur, kepala berenyut keras dan tubuhnya terasa sangat berat. Beberapa saat dia hanya berdiam diri berusaha mengumpulkan kesadaran, namun rasanya sangat sulit, saat semuanya terasa sakit dan menyesakkan.

Berusaha mengatur nafas, dan mencoba menjernihkan pikiran. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga bisa sepenuhnya tersadar. Mengamati kondisi sekeliling dan akhirnya menyadari dirinya terbaring di atas ranjang ruang perawatan, ruangan yang sangat familiar. Sebab beberapa waktu belakangan dia sangat sering melakukan perawatan dan terapi di dalam ruangan yang rasanya sangat membosankan itu.

Sepasang manik kelabu melebar, spontan dua tangan bergerak memeriksa area perut yang kini terasa aneh, nafasnya tercekat saat mendapati perutnya sudah rata dalam balutan perban tebal.

"Pe... Perutku! UKH!" Allen berteriak panik, mencoba untuk bangkit hanya untuk kembali merasakan nyeri luar biasa di bagian perut bawah, tubuhnya kembali ambruk.

"Che, akhirnya kau bangun juga Moyashi." sebuah suara yang sangat familiar, menyapa gendang telinga.

Si Rambut Putih menengok ke arah sumber suara, mata melebar dan jantungnya terasa mau melompat keluar. Tidak jauh dari ranjangnya, Yuu Kanda duduk di atas sebuah kursi dengan sebuah buntalan selimut biru berada dalam dekapan dadanya. Timcanpy yang semula tampak anteng bertengger pada sandaran kursi, langsung terbang mendekat begitu pemiliknya siuman.

"Ba... Bayiku?"

Perlahan pemuda Asia itu beranjak mendekat, seringai kecil terpampang di wajah tampannya. Tanpa kata-kata meletakan buntelan selimut tersebut tepat di samping kepala Allen yang entah kenapa merasa jantungnya berdetak sangat kencang.

"Yaa Tuhan... Ini bayiku?" gumamnya lirih masih tidak percaya dengan sosok mungil dalam balutan selimut biru. Tidak memperdulikan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang bagian perut, Allen berusaha memiringkan tubuh demi melihat sang bayi lebih jelas, meski harus meringis menahan nyeri.

Sosok manusia mungil menggeliat pelan dengan bibir sedikit terbuka, kelopak terpejam erat menyisakan bulu mata hitam yang panjang dan lentik. Kulit kemerahan dan sejumput rambut hitam lebat sungguh membuat Allen Walker terpana. Dada terasa sesak dan matanya memanas rasanya ada perasaan hangat yang membuncah dan membuatnya ingin menangis.

"Che, memangnya di markas ini ada orang lain yang sedang hamil? Tentu saja dia puteramu bodoh." Gerutu sang Samurai, meski begitu tetap membantu Allen memposisikan tubuhnya.

Berhasil memiringkan tubuh, mengabaikan rasa nyeri. Allen mengulurkan tangannya yang bergetar, mencoba menyentuh permukaan kulit sang bayi sehati-hati mungkin, rasanya takut jika sentuhannya bisa melukai. Lenguhan lirih terdengar dari sepasang bibir mungil, saat jemari sang ibu untuk pertama kalinya menyentuh pipi bulat kemerahan.

"Putera!? Di... dia laki-laki?" senyum lebar muncul menghiasi wajah yang semula pucat dan manik kelabu mulai menitikan air mata, "Astaga... tampan sekali... dia sempurna..."

Kanda menaikan sebelah alisnya, urung bekomentar meski dalam hati ingin sekali berkata, 'Apanya yang tampan? Jika wajahnya aneh dan kulitnya saja merah berkerut seperti itu?' Tetapi memilih untuk diam, sebab tadi dia sempat mendapat ceramah panjang lebar karena mengatai bayi itu tidak mirip dengannya tapi persis seperti Tiedol yang keriput.

Menghela nafas panjang, sang Samurai mencubit keras pipi Allen, "Hey kenapa kau menangis bodoh? Nanti kau membuatnya bangun. Kau tidak tau betapa repotnya aku harus selalu menenangkannya supaya berhenti menangis dari tadi, karena kau enak-enakan tidur disini, setidaknya Timcanpy lebih berguna darimu." tambahnya lagi sambil mencoba menghapus lelehan air mata yang membasahi wajah ibu muda itu dengan punggung jarinya.

Allen menepis tangan yang menyentuh pipinya, bibir mengerucut kesal dengan mata mendelik tajam, "Huff! Dasar tidak peka, aku baru saja dioperasi dan rasanya terharu tau! Bayi yang kukandung selama tujuh bulan dengan susah payah, ternyata bisa terlahir dengan sehat dan selamat." kembali asyik memandangi sang buah hati, dan terkikik kegirangan saat tangan mungil menggenggam ujung jari telunjuknya.

Kanda mendengus melihat ekspresi konyol si Rambut Putih yang sepertinya sudah lupa dengan rasa sakit pasca operasi yang membuatnya meringis tadi. Memandang ke arah jendela kecil di atas ranjang, bisa terlihat langit masih gelap, padahal hari sudah beranjak untuk berganti. Ruang perawatan sepi karena hanya ada mereka bertiga, tidak termasuk suster dan dokter yang berjaga di dalam kantornya, mereka sepertinya memberikan privasi bagi keluarga kecil itu. Howard Link juga meninggalkan mereka untuk memaksa Komui memperbaiki jalur komunikasi.

Dua tangan Kanda lipat di depan dada, "Jadi, Siapa namanya?" kalimat itu meluncur tiba-tiba membuat Allen seketika menoleh sambil menatapnya dengan ekspresi kaget sekaligus bingung.

"Kau belum memberinya nama?" ucap si Rambut Putih dengan alis berkerut.

Sebuah nama, pertanyaan sederhana yang pasti orang-orang ajukan saat mereka bertemu dengan penghuni paling kecil markas itu. Namun seperti proses kelahirannya yang sangat tiba-tiba, Allen Walker dan Yuu Kanda sama sekali belum pernah memikirkan nama untuk anak mereka.

"Chibi Moyashi, itu nama yang kuberikan," jawab sang Samurai singkat. Sukses membuat wajah Allen memerah karena kesal.

"Astaga BaKanda! Kau keterlaluan!" bentak si Rambut Putih sambil bersungut-sungut dan seketika panik saat puteranya menggeliat sambil mengeluarkan suara rengekan kecil karena kaget. Timcanpy terbang mendekat, ekor bulu digerakan lembut untuk mengelus kepala sang bayi mungil yang sejenak kemudian kembali tenang. Allen mendesah lega dan memberikan pelototan mata tajam pada suaminya.

"Cih, kau kan ibu`nya. Kau saja yang memberinya nama." Kilah Yuu Kanda, sebab tidak mau disalahkan jika nanti orang-orang menceramahinya karena selera penamaan yang buruk, jadi dia serahkan tanggung jawab itu pada Allen saja.

Memalingkan wajah untuk kembali memandangi puteranya yang terlelap. Meski rasanya masih kesal, tapi Yuu Kanda benar-benar tidak bisa diharapkan dalam masalah penamaan, Allen menghela nafas panjang dalam kebingungan. Menjadi orang tua masih terasa sangat asing, Allen merasa benar-benar tidak berguna.

Bahkan Timcanpy lebih berjasa untuk menenangkan anaknya, golem emas itu tidak berhenti mengelus kepala sang bayi, membuat Allen tersenyum sendu. Mengingat sang Guru yang memberikan Timcanpy padanya sebagai kawan perjalanan di masa yang sulit, memberinya sedikit harapan.

"Harapan..." gumam si Rambut putih tiba-tiba, wajahnya terlihat cerah berseri saat sebuah ide muncul di kepala, "Harapan... Anak ini, adalah harapan baru untukku."

Kanda menaikan sebelah alisnya dan menatap keheranan saat Allen bertanya dengan senyum lebar terpampang di wajah, "Apa bahasa Jepang dari Harapan?"

"..., Nozomi," jawab sang Samurai ragu.

Masih dengan senyum di bibir Allen menunduk untuk mencium pipi puteranya sambil berujar, "Nozomi, Iya... namanya Nozomi."

Dua alis hitam terangkat, mau tidak mau Kanda juga ikut tersenyum, "Harapan ya? Huh bagus juga selera Moyashi sepertimu itu,"

"Namaku Allen, Bakanda!" Spontan Allen protes dan bayi mereka kembali merasa terganggu dengan suara ribut itu, elusan Timcanpy tidak lagi efektif untuk menghentikan pecahnya tangisan keras.

"OWAAAA! OWAAAAAA! OWAAAA! OWAAAAAA!"

"Aaaaaah! Bagaimana ini!?" rasanya Allen ingin ikut menangis.

Kanda bergegas menggendong sang putera, "Bodoh! Itu karena kau berteriak tadi! Moyashi idiot!" umpatnya sambil menimang, malah membuat tangis bayi itu bertambah keras. Berjalan menuju meja di sebelah kursi, dia mendapati botol susu yang diberikan suster kepala sudah kosong, sang samurai mendecih. "Cepat susui dia supaya diam!"

Meski masih merasa nyeri namun Allen berusaha untuk bangun, mendudukan diri di atas ranjang. Timcanpy membantu dengan menarik bantal agar bisa digunakan untuk bersandar. "Disusui? Bagaimana caranya?!"

"Dasar idiot! Kau menumbuhkan dada untuk menyusuinya kan? Sekarang cepatlah!" sang Samurai langsung maju, dengan satu tangan menarik baju Allen hingga kancingnya terbuka.

"Hei! Apa yang kau lakukan!?" protes si Rambut Putih, namun dia tidak menolak saat Kanda memposisikan bayi mereka di tangannya. Bahkan Allen hanya bisa pasrah saat Kanda menuntun mulut sang bayi pada puting kemerahan yang terlihat mengkilat dan mulai basah.

"Ukh!" Allen mendesis, merasakan sensasi perih menggelitik takala buah hatinya mulai menghisap dengan kuat.

Menghela nafas lega, Kanda mendudukan diri di tepian ranjang. Setelah sebelumnya mengambil sebuah bantal dari ranjang sebelah untuk membantu menopang lengan Allen, yang mungkin akan kebas jika bayi mereka memilih untuk mengisi perut kecilnya dalam waktu yang lama.

Allen memandangi wajah putera kecilnya dengan penuh cinta, menggeser sedikit tubuhnya dia menyenderkan kepala ke pundak sang samurai yang tampak sedang memejamkan mata, mungkin beristirahat sejenak karena merasa lelah dengan peristiwa luar biasa yang sudah mereka lewati, Timcanpy bergelung di antara kaki mereka. Sinar matahari pagi mulai menelusup di sela-sela jendela, membiaskan cahaya jingga dan ungu yang indah.

Saat itu segalanya terasa sangat indah dan tentram tanpa ada siapapun yang mengganggu. Allen merasa sangat bersyukur, dalam situasi perang seperti ini, dia masih bisa berada bersama keluarga kecil yang selalu menjadi impianya. Tidak menyangka perasaan hangat membuncah yang dulu dia rasakan saat bersama dengan Mana, bisa kembali lagi.

Senyum dan tangis bahagia mengiringi ucapan penuh harapan tiada terkira, "Bersama, di tempat yang hanya ditujukan untuk kami."

Hanya untuk kami

'Just for Us'

~THE END~

Minggu, 22 Januari 2017 01.01 AM.