Cinta 4 Hati

by

d-She ryuusei Hakuryuu


Pairing(s):

Main: Ichi x Fem!Hitsu

Slight: Masih himitsu~!

.

Genre(s):

Romance/ Drama/ Hurt/Comfort

.

Warning(s): AU (Alternate Universe), OOC (Out of Character), Gender bended, Miss typo bertebaran di mana-mana, GaJe, Alur kecepetan dan terlalu maksa, deskripsi kurang, dan masih banyak lagi. Juga, tidak menerima flames untuk pairing dan pengubahan gender, tapi kalau mengenai EYD dan sejenisnya saiia terima dengan senang hati.

.

Disclaimer(s):

BLEACH © Tite Kubo

Cinta 2 Hati © Benni Setiawan/Wanna Be Pictures

Cinta 4 Hati © d-She ryuusei Hakuryuu

.

Enjoy, please~!


CHAPTER #1

SHE'S TOMBOY, ISN'T SHE?


"Shiro-chan!" Sebuah teriakan dengan frekuensi yang tak bisa dibilang pelan menggema di dalam kediaman keluarga Hitsugaya. "Cepat turun! Waktunya sarapan!" Teriakan yang ternyata bersumber dari dapur itu kembali memekakkan telinga siapa pun yang mendengarnya.

"Iya... iya...! Aku segera turun!" Sebuah teriakan yang tak kalah kencangnya membalas seruan yang sebelumnya.

Tak lama setelah itu, terdengar derap langkah seseorang menuruni tangga, menuju ke arah meja makan yang letaknya tak jauh dari dapur.

"Tak bisakah kau pelankan sedikit suara TOA-mu itu, Nee-san?" sungut seorang gadis yang baru saja sampai di meja makan, dan segera menduduki kursinya. "Kau selalu saja berisik!"

"Aku hanya berniat menyuruhmu turun, Shiro-chan," balas sang 'Nee-san' enteng, sambil mengangkat bahunya acuh.

"Tch! Tanpa kau teriaki seperti itu pun aku pasti akan turun!" sahutnya sengit. Dengan pandangan mata memicing, dihadiahkannya deathglare terbaik miliknya pada kakak sepupunya itu. "Dan, berhenti memanggilku dengan nama menjijikkan seperti itu, Hinamori-nee!"

"Wah... wah... wah... Kasar sekali~!" Sang kakak hanya mengabaikan deathglare yang baru saja dilayangkan kepadanya. Diangkatnya kedua tangan serta bahunya sambil menggeleng-gelengkan kepala, melihat sikap adik sepupunya yang terkadang memang terlalu 'preman'. "Ingatlah, Shiro. Kau itu seorang perempuan. Kau dengar? P-e-r-e-m-p-u-a-n!"

Gadis yang dipanggil 'Shiro' tadi hanya mendengus mendengar penuturan kakak sepupunya yang dianggapnya terlalu berlebihan.

"Jaga sikapmu sebagai seorang perempuan sejati! Bersikap anggunlah sedikit!" Hinamori menceramahi 'Shiro'-nya dengan pandangan seolah mengejek kau-terlalu-laki-laki-untuk-disebut-perempuan. "Bahkan kau sudah memiliki pacar—yang sampai sekarang pun aku masih bingung, bagaimana bisa seorang Kurosaki-kun yang keren begitu memilihmu yang urakan seperti ini sebagai pacarnya?"

Mata emerald 'Shiro'—yang sudah mulai sibuk menggigit dan mengunyah sandwich buatan Hinamori setelah sebelumnya mengatakan, "Itadakimasu."—melotot mendengar kelakar sang kakak.

"Dia pasti membutuhkan tenaga ekstra untuk menghadapi gadis sepertimu. Kasihan sekali kau, Kurosaki-kun." Hinamori menggeleng-gelengkan kepalanya simpati. "Aku tahu, kau bersikap seperti ini mungkin karena dulu Retsu-basan dan Juushiro-jisan mengiramu—yang masih dalam kandungan—itu seorang laki-laki, dan sebab itulah mereka menamaimu Hitsugaya Toushiro—yang terdengar seperti nama laki-laki. Tapi, sebagai seorang perempuan tulen, tidak seharusnya kau bersikap urakan seperti ini Shiro-chan, lagipula wajahmu, kan, manis."

Kuping Toushiro terasa panas mendengar 'kuliah singkat' dari Hinamori, giginya bergemeretak kesal. "Memangnya apa yang salah dengan namaku, hah?" Lama-kelamaan dia kesal juga mendengar ledekan-ledekan 'halus' yang telus meluncur dari mulut kakak sepupunya itu. "Aku sudah selesai! Terimakasih makanannya," sahutnya sambil beranjak meninggalkan meja makan.

Sambil menenteng tas sekolahnya, Toushiro—yang sudah siap dengan seragam sekolahnya—segera melesat menuju satu-satunya pintu keluar rumahnya. Bergegas mengenakan sepatunya, dan... "Aku berangkat!" serunya sebelum membanting pintu rumahnya keras-keras.

"Astaga..." Hinamori hanya bisa mendesah pelan melihat kelakuan adik sepupu yang amat disayanginya itu.


Hitsugaya Toushiro, seorang gadis remaja usia lima belas tahun ini baru saja mengawali masa-masa sekolahnya di bangku SMA. Selama ini, ia tinggal berdua bersama saudara sepupunya yang bernama Hinamori Momo. Usia mereka tak terpaut cukup jauh, hanya sekitar tiga tahun. Bisa dikatakan, mereka adalah sepupu jauh. Paman Hinamori menikah dengan bibi Toushiro. Namun demikian, mereka sudah saling menganggap seperti kakak-adik kandung satu sama lain.

Ayah dan Ibu Toushiro—Hitsugaya Juushiro dan Hitsugaya Retsu—telah meninggal akibat kecelakaan pesawat di umur Toushiro yang masih belia, empat tahun. Sedangkan kedua orangtua Hinamori telah lama meninggal saat umur gadis itu masih satu tahun, dan keadaan itulah yang mengharuskan Hinamori tinggal bersama sang nenek.

Hitsugaya pun—setelah kematian kedua orangtuanya—sebelumnya juga sempat tinggal bertiga dengan Hinamori dan juga neneknya. Entah kenapa, ia merasa jauh lebih nyaman tinggal bersama Hinamori beserta neneknya dibanding harus diurus oleh kerabatnya yang berasal dari keluarga ayah maupun ibunya. Akan tetapi, tak lama berselang, nenek Hinamori menghembuskan napas terakhirnya di rumahnya yang kecil di pinggiran kota Karakura.

Karena tak ingin hidup sendirian, mereka berdua memutuskan untuk tinggal seatap di kediaman peninggalan orangtua Toushiro yang terletak tepat di jantung kota Karakura. Dan selama itu pula, biaya kehidupan mereka berdua ditanggung oleh keluarga dari pihak ibu Toushiro—keluarga Yamamoto—yang notabene termasuk dalam jajaran keluarga paling kaya di Karakura yang dijamin harta peninggalannya tak akan habis dimakan tujuh turunan. Oke, mungkin itu semua terkesan berlebihan. Tapi, memang begitulah adanya.

Kehidupan Toushiro dan Hinamori setiap paginya dihiasi dengan perselisihan-perselisihan kecil, seperti tadi contohnya. Hinamori yang—hampir setiap saat—mempermasalahkan sikap dan kepribadian Toushiro yang tak seperti gadis-gadis seusianya, dihadapkan pada Toushiro yang temperamental dan nyaris tak pernah sehari pun tidak berteriak marah. Ckckck! Terkadang beberapa orang yang mengenal mereka merasa bingung, bagaimana bisa dua orang yang—sangat—sering terlibat cek-cok itu bisa hidup satu atap selama hampir sepuluh tahun?

Sudahlah, sebaiknya kita lupakan saja 'keributan' yang selalu mereka ciptakan setiap pagi— saat mereka sarapan tepatnya—itu.

Toushiro memang bisa dibilang sangat tomboy dan hampir menyerupai laki-laki jika kita tak mempertimbangkan wajah manis serta rambut panjang putih lembut miliknya. Well, dia memang tomboy, tetapi dia tak pernah sekali pun memotong pendek rambut putih halusnya, dia sudah merasa cukup dengan mengikat rambut panjangnya ke belakang, model ekor kuda. Oh ya, jangan lupakan tubuh mungilnya yang membuatnya semakin terkesan 'manis'.

Apabila kau baru sekali bertemu dengannya, dijamin kau pasti menganggapnya gadis manis yang lembut dan pemalu. Tapi, jika kau sudah mengenalnya sedikit lebih dekat, bukan gadis manis yang lembut yang akan kau jumpai, melainkan monster ganas yang siap menelanmu kapan saja jika kau berani membuatnya murka.

Hhhhh... sepertinya ungkapan "Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya" itu benar juga.

Baiklah, lanjut ke permasalahan berikutnya. Tadi, Hinamori sudah berkata bahwa seganas-ganasnya Toushiro masih ada seorang pemuda tampan yang mencintainya dengan tulus. Entah apa yang dicintainya dari sosok segalak Toushiro.

Pemuda itu bernama Kurosaki Ichigo, idola bagi para kaum hawa di sekolahnya yang kebetulan sama dengan sekolah Toushiro. Tapi, perlu kau ketahui bahwa Ichigo satu tahun lebih tua dibandingkan Toushiro.

Awal pertemuan mereka berawal dari Ichigo yang tanpa sengaja melihat keberingasan Toushiro saat menghajar kakak kelasnya—teman satu angkatan Ichigo—yang dengan beraninya bersiul menggodanya ketika dia kebetulan lewat di koridor kelas XI. Karena tak mau melihat teman seangkatannya mati konyol, Ichigo dengan sigap menahan Toushiro ketika gadis itu berniat menghancurkan 'barang berharga'—yang berarti juga akan menghancurkan masa depan—milik senpai-nya itu.

Dan, berawal dari pertemuan ekstrim itu, Ichigo mulai mendekati Toushiro secara perlahan-lahan. Berbekal rasa penasaran dan keteguhan hati, didekatinya Toushiro.

Awalnya memang Toushiro selalu bersikap dingin dan acuh akan kehadiran Ichigo dalam kehidupannya, namun seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya Toushiro—layaknya gadis biasa—mulai tersentuh akan semangat serta perjuangan Ichigo mendekatinya. Hingga puncaknya, tepat seminggu yang lalu, dia dan senpai-nya itu resmi berpacaran, dan membuatnya menjadi musuh seluruh gadis yang ada di sekolahnya. Tapi, memangnya siapa yang berani melawan Toushiro yang galaknya melebihi anjing bulldog itu? Sampai akhirnya gadis-gadis malang itu hanya bisa bungkam dan gigit jari melihat fakta bahwa laki-laki incarannya sudah terbang bersama gadis pilihannya. Kasihan...

Sampai saat ini, kehidupan cinta Ichigo dan Toushiro berjalan mulus dan lancar, selancar jalan tol. Akan tetapi, akankah keadaannya akan tetap berlangsung seperti itu? Tak'kan adakah pihak ketiga atau keempat yang nantinya akan menghancurkan kisah kasih mereka?


Bersambung


(a/n):

Hello~

Jumpa lagi dengan saiia di fic saiia yang baru...

Sebelum saiia banyak ngomong di sini, saiia ingin mengucapkan permohonan maaf saiia kepada Aletha-rizu09 karena sampai saat ini saiia belum bisa menyelesaikan request centric-fic Sougyo no Kotowari pesananannya... maafkan saiia, Nee~ waktu lagi mikir bahan fic pesananmu itu, tiba-tiba malah kepikiran ide gila ini... Gommen ne~ m(_ _)m

Chapter ini... pendek? Memang... sengaja, kok XP *digampar*

Toh, ini masih prolog XDD

Nah, sebenarnya fic ini hanya coba-coba saja... ceritanya terinspirasi dari film Cinta Dua Hati-nya Afghan XP tapi, jalan ceritanya saiia usahakan beda, kok... tenang saja XD

Dan sekarang, nasib fic ini ada tangan author-tachi dan reader-tachi sekalian...

Lanjut?

...atau...

Hapus?

.

Review, please~ XD