Disclaimer : Saya tidak punya dan tidak akan punya yang namanya Hunter X Hunter, Harry Potter, Twilight dan The Rule of Four. BUKAN MILIK SAYA.

Warning : Kurapika yang trasgender, rada OOC, AU, aneh dan sebagainya. You've been warned!

A/N : Saya buat fic ini special tahun baru. Diceritakan dari PoV-nya Kurapika. Kurapika dan Gon di sini umurnya 15 tahun. Killua umurnya 16 tahun dan Leorio 19 tahun. Mereka bersekolah dan sebagainya seperti anak remaja umumnya. Oh, iya! Di sini ada flashback-nya juga. Flashback-nya saya italic, yah. Saya rasa itu saja. Yak, mari mulai dengan ceritanya!

I'm Not Alone This Night

31 Desember 2010

Aku melihat orang-orang dan juga kendaraan-kendaraan berlalu lalang dari atas balkon kamarku. Lampu-lampu jalan bersinar bagaikan permata yang menerangi jalanan bersalju di musim dingin yang gelap. Suara-suara riuh-pun dapat terdengar dengan jelas dari sini. Benar-benar malam yang sibuk. Ya, malam ini adalah malam tahun baru. Semua orang mungkin sedang berada bersama orang-orang yang mereka kasihi, melakukan sesuatu yang menyenangkan dan sebagainya. Tidak, bukan mungkin lagi, tapi, sudah pasti. Ya, semua orang, kecuali aku.

Aku berbalik kemudian menyenderkan bagian belakang tubuhku ke pegangan balkonku (A/N : Saya gak tau apa namanya. Jadi, tulis pegangan aja, deh. Ahahah). Angin malam berhembus dengan kencang, menerpa rambut pirangku yang panjang dan sedikit bergelombang ke arah depan. Aku menutup kedua mataku, mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Aku kemudian menengadahkan kepalaku ke atas untuk melihat langit malam yang 'tak berbintang.

Tiba-tiba saja, mata biru kristalku menangkap sebuah pandangan benda putih di langit. Apa itu bintang? Tunggu, benda itu semakin lama semakin mendekat. Benda itu tampak jatuh ke arahku. Aku-pun merapatkan kedua tanganku untuk menangkap benda putih itu yang ternyata adalah butiran salju.

Dan angin, sekali lagi berhembus dengan kencang, membuat helai-helai rambutku menari-nari mengikuti arahnya. Butiran salju yang ada ditelapak tanganku-pun ikut terbang terbawa oleh angin malam. Aku kemudian mengangkat kepalaku untuk melihat keadaan sekelilingku yang ternyata sudah dihiasi oleh butiran-butiran putih salju yang jatuh.

Rasa dingin kemudian merasuk ke dalam tubuhku, membuatku memutuskan untuk masuk ke dalam kamarku dan menghangatkan diri. Aku lalu berada di dalam kamarku, duduk di atas tempat tidurku yang berukuran sedang. Kamarku adalah sebuah kamar yang cukup luas, putih adalah warna yang menghiasi dinding kamarku. Aku sangat menyukai warna putih. Pintu kamarku dan pintu balkonku bahkan berwarna putih. Seprai kasurku-pun juga berwarna putih.

Di sebelahnya adalah meja kecil berwarna krem dengan lampu yang menerangi ruangan kamarku dengan sinarnya. Di sebelah meja kecil itu terdapat lemari pakaian yang cukup tinggi dan besar. Ada meja rias dan beberapa rak buku tempatku menaruh buku-buku yang biasa kubaca atau buku-buku favoritku.

Selain menyukai warna putih, aku juga merupakan seorang gadis remaja yang suka sekali dengan yang namanya membaca. Terutama membaca buku-buku pengatahuan dan sejarah. Tapi, aku juga menyukai novel. Ya, novel…

Tunggu, ada yang aneh dengan novel…

"Sial!" Umpatku. Aku lupa kalau aku ingin membeli novel yang sudah kutunggu-tunggu. Mungkin sekarang sudah habis diborong oleh orang-orang.

Aku langsung cepat-cepat menuju lemari pakaianku dan mengganti pakaian tidurku dengan pakaian dingin berwarna merah dan rok agak pendek berwarna merah. Aku juga memutuskan untuk memakai kaus kaki putih panjang yang tebal dan syal garis-garis kesayanganku.

Merasa semuanya sudah lengkap, akupun bergegas mengambil uangku dan berlari menuju pintu kamar untuk keluar. Tapi, langkahku terhenti sejenak ketika aku secara tidak sengaja melihat foto berbingkai aku dan kedua sahabatku, Gon dan Leorio yang ada di atas rak buku.

Aku menutup kedua mataku sambil menghela napas panjang, mengingat kejadian 2 hari yang lalu.

"Kau juga mau pergi, ya, Gon?"

"Iya, Kurapika. Maafkan aku, ya. Tapi, aku harus pulang ke tempatku karena bibi Mito sedang sakit sekarang dan dia membutuhkanku."

"'Tak apa, kok. Aku mengerti."

"Tapi, mungkin Leorio sudah selesai dengan pekerjaannya sekarang…?"

"Dia bilang, dia masih ada tugas praktek untuk mengurusi pasien baru."

"…"

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku untuk mengusir pikiran itu dari kepalaku. Aku kemudian memantabkan langkahku dan berjalan keluar kamar. Aku berlari ke depan pintu rumahku dan dengan cepat-cepat, aku pakai sepatu putihku.

Tapi, belum selesai aku mengikat tali sepatuku, aku menolehkan kepalaku ke arah ruang tamu. Tidak ada siapa-siapa. Malam tahun baru ini aku benar-benar merasa kesepian. Aku biasa merayakan malam tahun baru bersama dengan sahabatku, bibiku dan juga kedua orangtuaku.

Tapi, sahabatku… Mereka semua ada urusan masing-masing. Sedangkan bibiku, dia sedang sibuk bekerja. Dia tidak akan pulang cepat malam ini karena dia lembur di kantornya. Ya, aku tinggal bersama dengan bibiku, Pakunoda selama 6 tahun kepergian kedua orangtuaku ke luar negeri. Pada saat aku berusia 9 tahun, kedua orangtuaku mendapatkan promosi pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk bepergian ke tempat-tempat jauh dan memakan waktu yang sangat lama. Merasa tidak bisa membawaku bersama dengan mereka, orangtuaku-pun memutuskan untuk menitipkanku kepada orang yang sangat mereka percaya, bibiku, Pakunoda.

Bibiku adalah seorang wanita karier yang sangat baik dan penuh kasih. Dia memutuskan untuk tidak menikah dan merawatku seperti putri kandungnya sendiri. Yah, pilihan kedua orangtuaku memang tidak salah. Bibiku adalah sosok pelindung yang sempurna bagiku. Aku tidak merasa kesepian maupun terlantar karena ada bibiku dan kedua sahabatku yang luar biasa.

Dan soal orangtuaku, orangtuaku biasanya mengunjungiku beberapa bulan sekali, seperti pada malam tahun baru atau pada saat hari ulang tahunku. Tapi, mereka juga sedang sibuk dengan pekerjaan mereka.

Aku menutup kedua mataku kemudian menghela nafas. Menyelesaikan ikatan tali sepatuku kemudian melangkah keluar ke toko buku. Kurasa aku harus bertahan untuk malam ini. Sendirian pada malam tahun baru untuk sekali waktu tidak apa-apa, 'kan?

-cmR-

Aku akhirnya sampai di depan pintu toko buku yang kutuju tadi. Sebelum membuka pintu dan memasukinya, aku mengambil nafas dalam-dalam (aku kelelahan karena habis berlari-lari), melihat keadaan sekelilingku sepintas (ternyata, jalanan masih saja ramai dan riuh), membenarkan syalku dan kemudian memasuki toko buku itu.

Sesaat setelah aku memasuki toko buku itu, bau buku-buku yang tersusun dengan rapi di rak-raknya segera menyambutku. Orang-orang tidak begitu banyak mengunjungi toko buku ini pada malam ini. Mataku langsung mencari-cari sang penjaga toko buku. Dan langsung menemukannya di dekat kasir. Aku-pun langsung bergegas menghampiri penjaga itu.

"Permisi, saya mencari novel The Rule of Four."

"Ah, novel itu, yah. Ada di rak sebelah sana, di bagian paling pojok kanan." Penjaga toko itu menjelaskan sambil menunjukkan lokasinya dengan bantuan gerak tangannya.

"Terima kasih!" Aku-pun segera bergegas menuju lokasi yang ditunjukkan olehnya tadi.

"Nona!"

Aku berbalik, merasa penjaga toko itu memanggilku. "Iya?"

"Novel itu hanya tinggal satu dan seorang pemuda yang baru saja masuk menanyakan novel yang sama."

Sial! Umpatku dalam hati. "Tapi, masih ada, 'kan?"

"Saya belum melihatnya membayar maupun keluar toko ini. Mungkin dia belum mengambil novelnya." Jelasnya.

Oh, aku masih mempunyai kesempatan kalau begitu. Aku berlari menuju lokasi yang diberitahukan oleh sang penjaga toko. Aku berhenti saat sudah berada di rak yang tepat. Hm, aku tidak melihat ada seorang pemuda. Ah, itu malah lebih bagus. Mungkin orang itu sudah mengurungkan niatnya untuk membeli novel ini.

Aku kemudian membungkuk sedikit dan mengacungkan jari telunjukku diantara buku-buku yang berjajar di rak, mencari-cari novel yang kucari itu. Harry Potter, Twilight, bukan… The Rule of Four…

"Ketemu!" Kataku sedikit girang.

Baru saja aku ingin mengeluarkan novel yang kucari itu dari raknya, terlihat jari telunjuk dan ibu jari milik seseorang, memegangi novel yang juga sedang kupegang. Jari-jari itu kelihatan seperti milik seorang… Aku menengadahkan kepalaku ke atas untuk melihat bahwa ternyata jari-jari yang memegangi novel itu adalah milik seorang pemuda berambut putih, agak berantakan. Pemuda ini tinggi, badannya tegap, kulitnya putih dan menurutku lumayan tampan. Dan kurasa dia adalah pemuda yang tadi dibicarakan oleh sang penjaga toko.

Dia memandangiku dengan mata hitam lekamnya sambil menaikkan kedua alis putihnya. Tangan kirinya memegangi beberapa buku yang aku tidak tahu apa judulnya. Aku kemudian merasakan dia menarik novel itu dengan tangan kanannya, merasa ingin memilikinya. Tapi, aku tidak mau kalah. Aku tidak mau melepaskan novel ini! Karena aku sudah menunggu diterbitkannya novel ini sejak lama. Lagipula, 'kan aku duluan yang menemukannya.

Aku merasakan dia berusaha menarik novel ini lagi dari tanganku. Aku menariknya kembali, tidak mau kalah. Dia kemudian mengerutkan dahinya.

"Hm, maaf. Tapi, bisakah kau lepaskan novel ini dari tanganmu?"

"Tidak." Jawabku pasti sambil terus menatapnya. Semakin lama ditatap, aku merasa ada yang familiar dari pemuda satu ini. Tapi, aku tidak terlalu menghiraukan hal itu sekarang.

"Aku menemukannya duluan."

"Aku yang menemukannya duluan." Balasku. Apa-apaan dia? Jelas-jelas tadi dia tidak ada di sini, kok.

"Dengar, kau mungkin memang tidak melihatku tadi. Tapi, aku yang menemukannya duluan. Aku tadi tidak ada di sini karena aku sedang melihat-lihat buku lain."

"Aku tidak peduli. Siapa suruh kau pergi-pergi segala?"

"…"

Ada keheningan sejenak yang menyelimuti atmosfir di sekitar aku dan cowok ini. Tapi, keheningan itu pecah seketika saat aku melihat dia menyeringai lalu maju mendekatiku. Aku mengerutkan dahiku sedikit. Dia-pun semakin maju dan maju sampai jarak antara wajah kami hanya beberapa centimeter. A… Apa-apaan dia ini? Aku bisa merasakan wajahku panas dan jantungku mulai berdetak lebih kencang.

Dia kemudian mendekatkan wajahnya lagi ke wajahku. Aku sudah tidak tahan lagi! Aku kemudian menutup kedua mataku rapat-rapat, tidak mau melihat apa yang akan dia lakukan kepadaku berikutnya.

"Aku bisa menebak sesuatu darimu." Bisiknya ke telingaku.

Huh…?

"Aku bisa menebak kalau warna celana dalam yang kau pakai saat ini adalah putih."

A… Apa-apaan dia ini? Benar-benar cowok sialan yang kurang ajar! Aku bisa merasakan wajahku yang semakin memanas. Dan aku hanya diam mematung di tempat sekitar 2 menit lebih.

Dan saat aku sudah sadar sepenuhnya, aku melihat cowok sialan itu sudah pergi dan… Tidak! Novelnya-pun ikut pergi!

Aku melihat keadaan sekelilingku untuk mengecek apakah ada saksi atas kejadian memalukan tadi. Dan ternyata, ada dua orang yang sedang memandangingku dengan wajah terheran-heran. Sial! Umpatku dalam hati. Ini benar-benar memalukan!

Akupun segera mengambil langkah untuk keluar dari toko buku ini. Aku berjalan cepat-cepat sambil menundukkan kepalaku, menghindari tatapan dua orang tadi. Oh, Tuhan… Aku benar-benar sial malam tahun baru ini!

Chapter One-End

A/N : Yak, inilah chapter satu. Maafkan saya bagi para fans Kurapika karena telah men-transgender dia jadi cewek. OOOHHH DX BTW, Saya masih baru di sini. Jadi, maaf kalau tidak begitu berkenan fic ini ;P Oh, yah, saya juga ga tau soal novelnya. Tapi, tadi saya search di google, katanya itu novel keluaran terbaru yang bagus. Ahahah. Begitulah, tolong kritk dan sarannya, yah ^^v