Chapter 4!

Dan seperti biasa, bahasa baku masih ada...

Maaf, maaf, maaaaaaf sekali...

I do not own Caim and friends, Drakengard belongs to Square Enix and Cavia.

Happy Reading!

Sincerely,

Farore Rayzes


Alunan melodi lembut berhenti. Aku menatap tanganku. Gemetar. Ada perasaan takut yang keluar. Kenapa? Aku tak mengerti. Apa yang kutakutkan? Caim ada disampingku sekarang, tak perlu aku ketakutan. Tak ada yang mesti kutakutkan. Tapi kenapa, tangan ini tetap gemetar?

Ada satu firasat. Tidak tahu apa namanya. Tapi perasaan ini menjalar dalam dada dan makin meluas seakan menyangkut di tenggorokan. Ada suatu firasat tentang sesuatu yang akan muncul. Kemunculan sesuatu yang bahkan akan membuat mulut ini, tidak mampu lagi berkata-kata.

" Kau kenapa?" tanya Caim.

Hah! Kaget. Caim menyadarkanku dari ketakutan. Aku tak mau dia tahu perasaan ini. Aku tidak ingin membuatnya khawatir.

" tidak ada apa – apa, Aku baik-baik saja." Kataku berbohong. Aku menyembunyikan rasa takut ini di balik senyuman. Tapi, Caim seakan menyadarinya, dia menatap lurus ke mataku. Indah, matanya yang indah, membuatku lupa akan perasaan takut tadi. Tapi akibatnya, wajahku merona, jantungku rasanya mau keluar, nafasku tidak teratur.

Aduh, pokoknya harus ganti topik pembicaraan!

" Uuuuuhhhh... istana ini sepi ya!" BODOH! Cara elakan yang buruk sekali! Caim pasti sadar! Dia pasti sadar!

" Ya. Istana ini selalu sepi." Kata Caim. Tanpa terduga, dia berwajah sedih.

" Ca-Caim?" Wajah yang tak biasa ia perlihatkan. Aku mengkhawatirkannya.

" Orang tuaku. Mereka meninggal." Caim menunduk, menatap tuts piano yang diam menunggu untuk disentuh.

AH! Aku bodoh. Aku sudah mengatakan hal yang tabu untuk Caim.

" Caim, maaf aku..."

" Mereka dibunuh! Dibunuh oleh naga. Naga hitam." Caim memotong kata-kataku.

" Aku tidak pernah melupakan pemandangan itu. Bahkan sedetik pun." Suara Caim bergetar.

" Masih terlihat jelas dalam ingatanku. Naga yang membunuh mereka." Suaranya sekarang terdengar marah.

" Aku tak akan pernah memaafkan 'Empire' yang telah memerintahkan naga untuk membunuh mereka, dan aku sangat membenci kaum naga yang telah membunuh mereka!" teriak Caim sambil menekan beberapa tuts piano secara bersamaan.

Caim...

" Maaf.." aku memalingkan wajahku. Wajahnya yang sedih sangat menyakitkan bagiku.

Caim mengangkat wajahnya. Ia memandangku. Walaupun aku tidak sanggup menatap langsung matanya tapi, perasaan yang sama seperti tadi, terulang lagi.


" Hei!" teriak inuart sambil mengejar Furiae.

" Furiae!" teriaknya lagi dengan langkah dipercepat.

" Kau kenapa sih?" kali ini ia berhasil menarik tangan Furiae.

" Tidak ada hubungannya dengan Inuart." Kata Furiae sambil memalingkan wajahnya. Amarah melingkupi wajah Inuart.

" Bagaimana tidak ada hubungannya?" Inuart berteriak marah tepat di wajah Furiae. Gadis itu kaget dan takut.

"Aku adalah tunanganmu! " kali ini wajah Inuart terlihat lebih lembut, seakan ingin membuat pernyataan. Furiae hanya bisa diam dan terpaku. Dari jauh terlihat sosok yang berlari kearah mereka berdua.

" TUAN INUART !" teriak seorang prajurit berpakaian putih. Ia memakai pelindung kepala yang menutupi seluruh wajahnya, yang terlihat hanya matanya yang coklat.

" APA SIH?" balas Inuart yang kesal, karena tidak menyelesaikan kalimatnya. Pria tadi ternyata adalah prajurit kerajaan Caerleon. Ia menundukkan kepalanya pada Inuart dan furiae.

" Maafkan kelancangan hamba. Tapi pasukan Empire menuju ke arah istana." Kata prajurit tersebut.

" APA?" Teriak Inuart dan ia melihat keluar jendela. Tempat mereka sekarang berada di lantai 3, jadi pemandangan didepan sana terlihat dengan jelas.

" YANG BENAR SAJA?" teriak Inuart lagi, sambil menatap pasukan yang berjumlah ratusan ribu itu berjalan kearah istana. Pasukan berbaju besi hitam, membawa bendera warna hitam. Berjalan dengan cepat. Furiae hanya bisa menutup mulutnya melihat begitu banyak pasukan Empire yang kemari.

" APA SAJA SIH YANG KALIAN LAKUKAN? BUKANNYA TUGASMU UNTUK MENGAWASI DAERAH INI?" Inuart tak lagi dapat menahan emosinya.

" Maafkan kami." Kata prajurit itu menyesal.

" Uurgh!" Inuart menggeram marah.

" Furiae! Bersembunyilah di Silent Chamber! Aku akan menghubungi Caim!" perintah Inuart. Furiae mengangguk, dan berlari ke arah timur.

" Dan kau! Persiapkan pasukan. Tempat ini akan menjadi medan perang."

" Baik!" jawab prajurit itu kemudian berbalik pergi.

" SIAL!" kata Inuart sambil kembali ke tempat Caim.


Caim masih memandangku. Tubuhku membeku, tapi terasa panas.

" CAIM !" teriakan Inuart mengalihkan perhatian kami.

Uuuh... mengganggu saja...

" Ada apa?" kata Caim sambil berdiri. Aku masih duduk ditempatku, memandang Inuart yang panik, dan wajah Caim yang penuh tanya.

" Kerajaan Empire! Mereka disini!" kata-kata Inuart membuat wajah Caim berubah drastis.

" APA?" Caim berlari ke arah jendela. Aku berdiri dari tempatku dan mengikutinya. Benar kata Inuart, Empire telah berada di depan sana. Di puncak bukit itu, mereka berbaris rapi. Siap untuk menyerang.

DEG! DEG! Jantungku kembali berdetak kencang. Rasa takut yang kurasakan sesaat tadi, muncul. Inikah firasat yang kudapat?

" BAGAIMANA BISA SECEPAT INI?" teriak Caim dengan wajah yang menakutkan.

" Aku juga tidak tahu bagaimana ceritanya, tapi yang jelas mereka akan sampai disini segera." Balas Inuart sambil memegang keningnya.

" Ck! Ayo Inuart!" Caim pergi, disusul oleh Inuart. Tapi aku masih diam ditempat. Banyaknya prajurit Empire membuatku ketakutan.

Tidak! Tidak ada yang perlu kutakutkan! Kenapa aku harus takut! Caim akan baik-baik saja, Furiae akan selamat, Inuart akan kembali, istana ini tak akan terenggut, lalu...

Lalu...?

Lalu apa?

Apa yang akan terjadi? Selanjutnya apa yang akan terjadi?

Kenapa? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Kenapa aku tidak ingat peristiwa selanjutnya?

Ah...

Inikah? Inikah yang selama ini kutakutkan? Sesuatu yang sangat penting telah kulupakan. Sesuatu, sesuatu yang akan membuat kisah ini berakhir. Berakhir dengan hal yang sama.

Aku kembali memandang kebawah. Kali ini para pasukan Empire telah berada didepan istana. Pasukan mereka saat ini berantakan. Caim saat ini sedang bertarung dengan mereka. Inuart juga ada. Dia berada di sebelah barat Caim. Mereka bertarung dengan sekuat tenaga.

...!

" Mana Furiae?" tanyaku pada diriku sendiri.

Gawat. Pasukan Empire kemari bukan hanya untuk mengambil alih istana ini, tapi karena mereka juga mengincar Furiae. Tak dapat lagi aku berfikir. Pandanganku gelap, aku mengkhawatirkan Furiae. Kakiku langsung berlari, sekuat tenaga mencarinya.


" Hiiyah!" Caim berteriak sambil menebas ratusan musuh didepannya.

Menusuk, menghujam jantung, membelah, menikam, tak pandang bulu. Inilah dunia perang. Kau tak kan mampu atau bisa untuk berfikir lagi. Para prajurit itu terus menerus mendatangi Caim.

Ada seorang prajurit lagi yang maju untuk menyerang Caim, ia berlari, seakan tak takut mati. Tapi sayang sekali, Caim berhasil menghindari serangannya, dan Caim membalas dengan tusukan di perutnya. Saat Caim bermaksud menarik kembali pedang besarnya dari tubuh prajurit malang itu, ia tak menyadari serangan prajurit berbadan besar yang berada di belakangnya.

" Aargh!" Caim berteriak kesakitan. Punggungnya tertebas pedang prajurit bernyali besar. Amarah Caim memuncak. Ia berbalik dan dengan sekuat tenaga menebas kembali prajurit tersebut yang kehilangan pertahanannya. Ia mati seketika.

Caim yang pucat, melihat ke istananya. Di puncak istana terlihat bendera lambang Caerleon dibakar oleh prajurit Empire.

" Furiae.." Caim yang mengkhawatirkan adiknya, berlari menuju istana.

BRAK!

" Furiae!" teriakku sambil membuka pintu dengan terburu-buru. Ternyata benar, Furiae ada di Silent Chamber. Ia duduk di kursi didepan jendela. Terlihat ia berdoa, berdoa untuk keselamatan kakak dan warganya. Angin dari jendela membalikkan lembaran buku yang terbuka di depan gadis berpakaian putih bersih itu. Sesaat aku melihatnya sebagai sosok yang suci dan indah.

" Furiae.." aku kembali memanggilnya. Kali ini dia tersadar dan memandang ke arahku. Tatapannya terlihat sedih. Aku menutup pintu dan menguncinya. Hanya ada kami berdua disini.

" Kenapa Gwen kesini? Seharusnya kau membantu kakakku kan?" tanya Furiae sambil beranjak dari tempat duduknya.

" Aku mengkhawatirkanmu, jadi.."

" Aku bisa melindungi diriku sendiri.." timpal Furiae sebelum aku menyelesaikan kalimatku.

" Tapi, Furiae kau kan tidak bisa bertarung.."

" Bi-bisa! Aku adalah seorang dewi! Aku bisa melindungi diriku! Aku tidak perlu perlindunganmu!" teriak Furiae.

Aaahh...

Benar juga. Kenapa aku bisa lupa hal penting ini? Furiae bukanlah manusia biasa. Sosoknya bukanlah 'terlihat' suci tapi 'memang' suci. Sosok yang diagungkan. Sosok yang bisa melindungi kestabilan dunia ini. Ya. Dialah Furiae, seorang dewi. Segel yang terakhir.

Segel?

Furiae menyegel apa?

Kestabilan?

Apa yang akan terjadi bila ia tak ada?

Kenapa? Kenapa tak bisa kuingat?


Caim yang terluka, sampai di gerbang istana. Disana ia menemukan naga merah yang tertangkap dan sekarat. Naga itu terkekang oleh rantai yang mengikatnya. Tubuhnya penuh darah. Entah darahnya sendiri atau darah dari manusia yang telah ia bunuh. Sayapnya tertahan karena dipaku ke tanah. Punggungnya diselimuti oleh panah-panah yang tertancap. Pemandangan yang menyayat hati.

"Naga..."

Tapi bagi Caim, pemandangan ini menimbulkan Amarah yang tak tertahankan. Dendam di hatinya mulai bergejolak. Bagaimanapun juga naga dari Empire telah membunuh orang tuanya di depan mata Caim. Dan saat ini adalah saat yang tepat untuk membalaskan dendamnya pada bangsa naga. Ia mendekati naga merah tersebut dengan sempoyongan, mengangkat pedangnya dan bersiap menikam kepala sang naga.

" AAAKKHH!" teriak Caim, mencoba menusukkan pedangnya, tapi naga merah itu bergerak, dan memandang Caim.

" Bunuhlah aku, jika kau mau. Tapi kau tak akan pernah bisa mengotori jiwaku, manusia tak berguna." Terdengar suara yang serak dari naga itu. Caim berhenti, dan menatap balik naga merah didepannya.

" Beritahu aku, apa kau masih ingin hidup?" tanya Caim pada naga itu.

" Apa?" tanya sang naga. Bingung.

" 'A pact'! tidak ada cara lain!" teriak Caim dengan tetap menghunuskan pedang besarnya tepat diatas kepala sang naga.

" Humph! Apa yang membuatmu pantas untuk membuat 'pact' denganku?" balas sang naga angkuh.

" Pantas atau tidak. Aku ingin hidup." Jawab Caim. Nafasnya berantakan. Darah mengucur dari punggungnya. Darah segar itu menetes ke lantai. Luka tebasan yang diterimanya dari prajurit Empire tadi mampu membuat Caim mati kehabisan darah.

" Kau boleh memandang rendah padaku. Tapi aku tidak boleh mati!" jawab Caim. Dia terlihat pucat.

" Jawabanmu! 'a pact' atau mati!"

" Humph! Buktikan dulu dirimu, aku ingin melihat kekuatanmu." Jawab sang naga.

Caim dengan nafas terengah-engah, memandang kebelakang. Disana beberapa prajurit Empire berdatangan. Caim dengan sekuat tenaga menghancurkan mereka. Akhirnya setelah mereka semua mati, Caim mendatangi naga itu lagi. Ia sudah diambang batas. Pandangannya gelap, bahkan ia menggunakan seluruh tenaganya hanya untuk berjalan.

" Sekarang... Jawaban..mu.." tanya Caim.

" 'a pact atau mati' kita disatukan oleh keinginan untuk hidup." Kata sang naga.

" Jadi...?" tanya Caim lagi. Masih terengah-engah.

" Ya.. a pact." Jawab sang naga.

Mendengar jawaban itu, Caim mengangkat dan menyentuhkan tangannya yang penuh darah ke dadanya. Tangan itu masuk ke dalam dada Caim.

" Aaargghh!" Caim kesakitan, tapi hal itu tak menghentikan niatnya membuat sebuah 'pact'. Setelah beberapa detik tangan Caim keluar dari dalam dadanya. Sekarang tangan itu memegang sebuah bulatan transparan yang didalamnya terlihat lagi sebuah bulatan yang lebih kecil berwarna oranye.

Sang naga merah itu juga melakukan hal yang sama dengan Caim.

" Aaaakkhh!" teriak sang naga, lalu bulatan itu keluar dari dalam mulutnya.

Mereka lalu saling menyatukan bulatan mereka masing-masing. Saat bulatan transparan itu bertemu, terpancar cahaya putih. Luka Caim dan sang naga sembuh total. Ini juga merupakan efek dari 'pact'. Siapapun yang membuat 'pact', bahkan orang yang sekarat sekalipun akan sehat kembali seperti orang yang baru terlahir.

Sang naga yang telah pulih kekuatannya itu melepaskan diri dari rantai yang membelenggunya. Tubuh mereka bersih dari luka dan darah seakan baru akan mulai bertarung.

Sang naga mengebaskan sayapnya. Caim saat ini sudah ada di atas punggung naga merah itu. Lalu mereka terbang untuk menyelesaikan pertarungan yang tertunda.

Detik itu juga, suara Caim hilang selamanya. Ia tidak sadar bahwa saat ini merupakan awal dari segala penderitaannya.


Angelus keluar!

Wow, ...

Kritik dan saran diterima dengan senang hati! Please Review...