Welcome to the Black Order Academy

Disclaimer: Hoshino Katsura.

"Jadi inikah tempatnya?" Gumam Allen pelan.

Ditatapnya bangunan megah yang berdiri kokoh dihadapannya.

Tempat itu Nampak sepi. Ia celingak celinguk guna melihat apakah ada orang disana. Tiba-tiba, seseorang berlari ke arahnya. Orang itu tinggi dan memakai baju serba putih.

"Kau Allen Walker?"

Allen mengangguk.

"Benar. Nama saya Allen Walker. Saya direkomendasikan oleh Cross-sama." Katanya sembari membungkuk.

Orang itu lantas menarik tangan Allen.

"Ya, ya. Namaku Komui Lee. Penanggung jawab kesiswaan disini. Kita harus cepat, kelasmu telah dimulai 5 menit lalu."

Allen berjalan cepat-cepat. Berusaha mengimbangi langkah lebar Komui. Setelah melewati beberapa tempat yang membuatnya bingung, akhirnya mereka sampai disebuah ruangan dengan plang nama "CLASS A" tanpa imbuhan angka romawi apapun. Komui mengetuk pintu yang terbuat dari kayu jati berpelitur indah itu. Pintu terbuka, seorang pria berkulit hitam dengan setelan parlente keluar dari dalam kelas. Mereka berbicara sejenak, kemudian pria yang ternyata bernama Tyki Mikk itu memberinya kode agar Allen mengikutinya. Allen masuk ke dalam kelas. Suasana kelas yang semula ribut berubah menjadi tenang. Mereka memperhatikan murid baru yang dibawa wali kelas mereka itu. Tyki Mikk berdehem satu kali kemudian berbicara.

"Hari ini kelas kita kedatangan murid baru. Nah perkenalkan dirimu."

Allen membungkuk pada calon teman-teman sekelasnya itu.

"Nama saya Allen Walker. Mulai hari ini mohon bantuannya."

Terdengar tepuk tangan dibeberapa tempat. Bahkan seorang pemuda bersuit-suit.

"Walker, duduklah ditempat yang kosong."

Allen mengedarkan pandangnya keseluruh kelas. Dikelas itu ada dua bangku yang kosong. Yang pertama berada disebelah seorang pemuda berambut hitam panjang, dan yang satunya lagi disebelah pemuda berambut merah terang dan memakai eyepatch. Pemuda ber-eyepatch itu melambai-lambaikan tangannya.

"Nampaknya dia orang yang ramah." Pikir Allen.

Ia pun menghampiri pemuda itu dan duduk disebelahnya.

"Namaku Lavi, salam kenal Allen." Kata pemuda itu sembari mengulurkan tangannya.

Allen menerima uluran tangan pemuda itu sembari tersenyum.

"Salam kenal, Lavi."

.

.

.

.

Pelajaran pertama hari itu adalah matematika. Allen menyimak dengan serius penjelasan Tyki-sensei. Namun, akhirnya ia menyadari, hampir seluruh murid tak ada yang memperhatikan pelajaran. Ada yang membaca komik, bercakap-cakap, menulis sesuatu, bahkan ada yang tidur. Yang mendengarkan penjelasan hanya dia dan seorang gadis berambut panjang yang diikat dua.

Allen menoleh kearah Lavi. Nampak pemuda itu tengah sibuk menggerak-gerakkan tangannya diatas selembar kertas.

Tyki-sensei nampak tidak peduli dengan suasana kelas yang sedemikian kacau.

Akhirnya bel berdentang. Pertanda pergantian jam pelajaran telah tiba. Tanpa babibu, Tyki-sensei keluar dari kelas itu. Allen membenahi barang-barangnya. Lavi mencolek pundaknya dan berkata.

"Lebih baik kau bawa sekalian tas mu, pelajaran berikutnya bukan dikelas kok."

Allen baru sadar kalau teman-teman sekelasnya keluar dengan tas tersandang dibahu mereka. Ia pun segera menenteng tasnya dan mengikuti Lavi keluar.

"Anu Lavi, boleh aku bertanya?" Tanyanya sambil terus berjalan.

"Boleh, kau mau tanya apa?"

"Ng, bisakah kamu menjelaskan tentang sekolah ini?"

"Hmmm… gimana ya, terlalu banyak kalau kujelasin satu-satu. Ah, gini aja. Kamu yang nanya, entar aku jawab." Katanya sembari tersenyum. Kesan 'orang ini ramah' makin lekat dibenak Allen.

"Sebenarnya sekolah ini sekolah macam apa sih? Kok nggak ada tingkatan kelasnya?"

"Begini. Sekolah ini, Black Order Academy. Dibangun dengan tujuan mendidik murid-murid yang berbakat dalam bidang musik. Jadi, hanya anak-anak yang hebat saja yang bisa diterima disini. Oh ya, sekolah ini tidak 'menerima' murid, tapi 'mencari' murid. Pihak sekolah langsung menyelidiki anak yang sekiranya masuk dalam kategori 'sangat berbakat'. Karena itulah jumlah murid disekolah ini sangat sedikit. Yah bisa dihitung dalam puluhan. Soal kenapa sekolah ini tidak memakai tingkatan kelas, itu karena pemberian mata pelajarannya sangat sedikit. Hanya tiga pelajaran utama yaitu Matematika, Sains dan Bahasa Inggris. Sisanya olahraga dan ekstrakurikuler. Sebagian besar pelajaran disini dipusatkan pada musik. Jadi, sekolah menyamakan tingkat pelajaran siswanya. Dikelas kita sendiri umur muridnya beda-beda lho. Ada yang 13, 14, 15, 16, 17, 18, bahkan 20. Yah, yang paling besar memang 20. Umurku sendiri 18. Kalau kau?" tanya Lavi pada Allen. Mengakhiri penjelasan panjang lebarnnya.

"15. Emmm… lalu ada berapa jumlah kelas disekolah ini?

"Ada tiga kelas. Kelas A, B dan C. masing-masing kelas isinya sekitr 20-25 orang. Sekolah lebih mengutamakan kenyamanan muridnya, karena itu sekolah ini juga memakai sistem asrama. Fasilitas sekolah yang lain juga sangat lengkap. Intinya, sekolah mengambil dan mengurus seluruh keperluan siswanya. Asyikkan?"

Allen terperangah. Betapa hebatnya sekolah ini!

Mereka berbelok dan menaiki tangga menuju lantai 2.

"Kau sendiri, kenapa bisa sampai kesini?" Tanya Lavi padanya. Allen tersenyum tipis.

"Seminggu lalu, aku mengikuti lomba piano dikotaku. Inginnya sih cuma untuk dapat hadiahnya, ternyata Cross-sama mendatangiku dan bertanya apakah aku mau bersekolah disini. Karena saat itu aku tidak bersekolah, jadi… yah begitulah…"

Lavi tersenyum simpul.

"Tidak perlu malu. Hampir sebagian besar murid disini sama sepertimu kok."

"Seperti aku?" Tanya Allen bingung.

Lavi berhenti dan menatapnya.

"Kau, yatim piatu kan?"

Allen tersentak.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Kan sudah kubilang, sebagian besar murid disini sama sepertimu. Jadi bisa dibilang tempat ini adalah tempat berkumpulnya anak-anak yang tidak cukup beruntung. Surga kecil untuk anak yang tak mempunyai pegangan untuk terus berjalan." Gumam Lavi.

"Jadi tempat ini ibarat panti asuhan?"

"Bisa dibilang begitu, tapi tempat ini adalah panti asuhan khusus yang hanya sedikit orang bisa memasukinya. Tapi pada akhirnya, kita juga harus membayar biaya selama kita berada disini. Walaupun bayarannya juga sangat menyenangkan sih."

"Bayaran?"

"Konser."

Allen bertambah bingung. Tapi sebelum ia sempat beratnya lebih jauh, mereka ternyata telah sampai diruang pelajaran berikutnya. Ruang musik.

"Waww…." Allen bergumam kagum.

Ruangan itu sangat luas. Berbagai jenis alat musik tertata dengan sangat rapi. Seorang guru nampak duduk disebuah kursi. Ia memakai kacamata plus dan berkumis. Allen dan Lavi segera mencari tempat duduk.

Guru itu melihat Allen.

"Nampaknya ada murid baru disini. Kau yang berambut putih, maju." Perintahnya pada Allen.

Allen melangkah dan berhenti didepan guru itu.

"Namaku Froi Tiedoll. Siapa namamu?"

"Allen Walker, Tiedoll-sensei."

"Alat musik apa yang kau kuasai?"

"Emm… Piano…"

"Bagus. Kalau begitu, mainkan sebuah lagu untukku." Katanya sembari menunjuk Grand Piano disampingnya.

Allen duduk dikursi didepan piano itu.

Bermain piano didepan orang banyak sudah menjadi makanan sehari-hari itulah salah satu caranya untuk mencari uang. Ia berpikir sejenak.

Kemudian, jemarinya mulai bergerak. Menari diatas tuts-tuts piano yang berwarna gading.

Nada-nada mulai terdengar . Ia membuka mulutnya dan mulai bernyanyi.

Soshite bouya wa nemuri ni tsuita
ikizuku hai no naka no honoo, hitotsu, futatsu to ukabu fukurami itoshii yokogao
daichi ni taruru ikusen no yume, yume

Gin no hitomi no yuragu yoru ni
umare ochita kagayaku omae, ikuoku no toshitsuki ga
ikutsu inori wo tsuchi e kaesshitemo

Watashi wa inori tsuzukeru
douka konoko ni ai wo
tsunaida te ni kisu wo

Semua orang dalam ruangan itu terkesima. Mereka bagaikan tersihir oleh alunan melodi yang dimainkan Allen.

.

Akhirnya lagu itu selesai.

Lavi bertepuk tangan, diikuti oleh seluruh murid diruangan itu. Ruangan itu riuh rendah oleh aplaus meriah dari semua orang. Namun, ada seorang murid yang tidak ikut bertepuk tangan. Malah, sekarang ia menatap Allen tajam. Pemuda dengan rambut hitam panjang.

Tiedoll sensei menepuk pundaknya.

"Bagus, kau hebat Allen Walker."

Allen tersenyum.

Terimakasih, sensei."

Pelajaran berlangsung selama dua jam. Pelajarannya cukup menyenangkan bagi Allen. Ia juga sangat senang saat menyaksikan secara live pertunjukkan spektakuler dari teman-teman sekelasnya itu.

Sungguh hebat.

Nampaknya tak ada seorang amatiran pun dikelas itu.

Tiba-tiba bel berbunyi. Allen menghentikan gerakan jemarinya. Lavi dan gadis berambut panjang yang dilihatnya dikelas tadi menghampiri.

Gadis itu mengulurkan tangannya.

"Maaf baru menyapamu sekarang, Allen-kun. Namaku Lenalee Lee. Salam kenal."

"Ah, iya." Allen menerima uluran tangan Lenalee.

"Rasanya, aku pernah mendengar nama itu…. Ah, orang yang mengantarku kesini tadi juga bernama Lee… " Gumam Allen.

Lenalee tersenyum manis.

"Hahahaha, iya. Dia memang kakakku. Dia bekerja disini."

"Hei, ke kafetaria yuk. Laper nih." Kata Lavi yang akhirnya membuka suara.

Allen mengangguk. Dia memang sudah sangat lapar.

Mereka bertiga berjalan beriringan.

Ternyata benar kata Lavi, kedua orangtua Lenalee sudah meniggal dunia. Keluarganya kini hanya tinggal kakaknya itu saja.

Kafetarianya lumayan luas. Dibeberapa tempat, terdapat bangku dan meja panjang . Cukup nyaman.

Mereka segera memesan makanan.

"Emmmm… Kita nggak usah bayar kan?" Tanya Allen ragu. Ia memang hanya membawa uang seadanya.

Lavi tertawa.

"Tenang, sebanyak apapun kau makan, tidak akan ditarik bayaran."

"Baiklah, kalau begitu aku mau, Burger, spaghetti, ayam pedas manis, chapcay, fuyung hay, ayam bakar, kepiting goreng, tempura, tahu sayur, ayam rica-rica, bakso, dan untuk penutupnya 30 tusuk kue dango saja,"

Jerry, si penjaga kafetaria sekaligus koki terbengong-bengong.

"Benar kau bisa menghabiskan semua itu?"

Allen mengangguk.

"Aku biasa makan segitu sih."

Lavi tertawa terbahak-bahak. Belum pernah ia bertemu dengan manusia karet yang asli selain di anime favoritnya.

Beberapa menit kemudian, pesanan mereka telah jadi.

Mereka segera mencari tempat untuk duduk, namun hampir semua bangku disana penuh. Tentu tidak cukup untuk menampung makanan Allen yang terlalu banyak itu. Tiba-tiba Lavi melihat sebuah bangku yang cukup lengang. Hanya seorang pemuda yang duduk dibangku itu. Ia berlari menghampiri pemuda itu.

"YUU!" Lavi memeluk pemuda itu dari belakang, membuat pemuda itu tersedak udonnya.

"Lepaskan aku! Baka Usagi!" Bentak pemuda itu. Lavi hanya cengengesan.

"Aku boleh duduk disini ya, Yuu?"

"Jangan panggil aku dengan nama itu." Kata pemuda itu sembari melempar deathglare pada Lavi.

"Oke, kita duduk disini."

Allen mulai melahap makanannya.

"Oh iya, Allen. Kau belum berkenalan dengan Yuu kan? Nah kenalkan, namanya Yuu Kanda. Umurnya sama denganku. Spesialisasinya biola."

Allen mengulurkan tangannya. Namun tidak ada tanda bahwa pemuda itu akan membalas uluran tangannya, jadi ia menariknya kembali.

Suasana jadi agak canggung.

"Eh, Allen. Selain piano kamu punya bakat apa lagi?" Tanya Lenalee berusaha menghilang kan suasana aneh itu. Allen memandangnya bingung.

"Keahlian?"

"Lho, jadi kamu tidak tahu? Kelas A adalah kelas khusus. Hanya anak-anak yang sangat berbakat yang ditempatkan disitu." Sela Lavi diantara suapan spagettinya .

"Khusus?"

"Yah, misalnya Lenalee dan Marie..." Lavi menunjuk seorang pemuda berbadan besar dimeja tak jauh dari tempat mereka.

"... Memiliki nada sempurna."

"Nada sempurna?" Tanya Allen bingung.

"Artinya ia bisa membedakan nada hanya dengan mendengarnya saja. Lenalee coba contohkan."

Lenalee nampak ragu sejenak kemudian mengangguk.

"Coba kau berkata sesuatu, Allen." Perintahnya.

"Ng... Hai."

"Itu nadanya do re."

"Eh, benarkah?"

Lavi tersenyum.

"Itulah bakatnya. Lalu kalau Yuu, dia bisa memainkan semua jenis alat musik tanpa cela sedikitpun."

"Eh, hebat." Seru Allen kagum. Pemuda itu hanya memasang wajah cuek dan melanjutkan makannya tanpa bicara apa-apa.

"Yang lebih hebat itu Lavi. Dia bisa menghapal semua yang dilihat, didengar atau dirasakannya dalam sekali mencoba." Kata Lenalee sembari meminum sedikit strawberry shake nya.

"Hie? Kok bisa?"

Lavi hanya tersenyum sambil mengetuk- ngetuk kepalnya dengan telunjuknya.

"Bukannya sombong. Tapi aku punya photographic memory."

"Ah, kukira itu hanya bohongan saja. Ternyata benar-benar ada orang yang mempunyai kemampuan seperti itu."

"Sebenarnya selain aku ada seorang lagi yang mempunyai kemampuan yang sama, dia juga murid kelas kita. Tapi... ahhh... hari ini dia tidak masuk..."

Kanda berdiri tiba-tiba. Membuat Allen kaget.

Tanpa berkata apa-apa ia berjalan meninggalkan mereka.

Allen mengerutkan alisnya.

"Anu Lavi. Apakah aku... berbuat sesuatu yang salah?" Tanyanya ragu.

"Ng? Kenapa?"

"Daritadi si Kanda itu menatapku aneh. Kayanya dia nggak suka sama aku deh?"

Lavi tertawa. Ia mengelus rambut Allen.

"Tenang aja. Yuu nggak marah kok. Mungkin dia agak sensi karena kamu mirip seseorang..."

"Seseorang?"

Seorang gadis melambai pada Lenalee. Ia lantas bangkit dan menatap Allen.

"Ah, Miranda memanggilku. Bye Allen, Lavi."

Lenalee pergi meninggalkan mereka berdua.

Lavi menggamit pundak Allen.

"Sudah selesai ,kan? Kita pergi yuk?"

"Eh kemana?"

"Pelajaran berikutnya olahraga. Lebih baik kita ke ruang ganti duluan. Soalnya nanti keburu penuh."

Allen mengangguk paham. Ia membereskan piring-piringnya dan mengikuti Lavi.

.

.

.

.

"Oh, ini ruang gantinya?" Allen menatap keseluruhan bangunan itu.

Berbeda dengan ruangan lain yang tadi mereka datangi yang bisa dibilang 'Waooooww..." Ruangan ini Nampak sederhana. Ada beberapa loker dan cermin. Lavi memanggilnya. Allen mendekati.

"Kamu belum dapat pakaian olahraga kan? Nih, pinjam punyaku dulu. Aku punya dua." Lavi melemparkan satu setel baju olahraga padanya.

"Ah, terimakasih."

Lavi mulai melepaskan bajunya saat ia menyadari Allen hanya diam memandang baju yang ia berikan.

"Kenapa? Nanti keburu penuh lho."
Allen hanya menggeleng ragu. Lavi menghampirinya.

"Nih, aku bantuin!" Ia menarik paksa coat Allen. Allen nampak panik. Ia berusaha mempertahankan bajunya.

Lavi bertambah penasaran. Ia terus berusaha menarik baju itu. Karena tenaga yang tentu saja kalah kuatnya, Allen kalah. Bajunya terlepas.

Lavi agak terkejut.

Keseluruhan tangan kiri Allen nampak seperti habis terbakar. Tadi Lavi tak menyadarinya karena coat yang Allen pakai memang berlengan panjang. Selain itu Allen juga memakai sarung tangan hitam yang menutupi tangannya. Allen meringis.

"Kenapa?" Tanya Lavi pelan namun cukup dapat dimengerti Allen.

"Kecelakaan. Waktu umurku 10 tahun."

"Jadi, mata itu juga?"

Allen mengangguk.

Lavi mengambil seragam olahraganya yang tadi terlepas dari tangan Allen dan memasangkannya ditubuh pemuda mungil itu.

"Maafkan aku. Aku tidak tahu."

Allen menggeleng dan tersenyum.

"Tidak apa-apa."

Mereka memakai baju masing-masing dalam diam. Tanpa tahu, bahwa seorang pemuda lain, yang juga ingin berganti pakaian lebih dahulu, juga mendengar percakapan itu.

.

.

.

.

"Hoooowwww..." Allen kembali berdecak kagum ketika sampai digedung olahraga. Gedungnya sangat luas.

Lavi tertawa pelan.

"Hebatkan?"

Allen mengangguk. Lavi mendekatinya dan membenahi baju Allen . Ukuran tubuh mereka memang berbeda, baju Lavi membuat badan Allen seakan tenggelam.

"Kau tidak memakai sarung tanganmu?" Tanya Lavi heran.

"Tidak. Kurasa aku harus terbuka disini. Lagipula lama-kelamaan orang lain juga akan tahu."

Lavi mengelus kepalanya sembari tersenyum.

Beberapa menit kemudian, murid-murid yang lain datang. Kebanyakan dari mereka mendatangi Allen dan berkenalan dengannya. Allen merasa senang karena mereka ternyata juga tidak merasa terganggu dengan keadaan tangan kirinya. Malahan mereka nampak tertarik.

"Wah, keren. Kok bisa gitu sih?" Tanya seorang pemuda bertubuh gempal bernama Chao Zi.

"Hmmm... Bentuknya jadi agak mengkerut ya?" Krory juga ikut memperhatikan tangan kiri Allen. Pemuda kurus itu nampak menjulang tinggi dimata Allen.

Seorang guru kembali memasuki ruangan. Seorang wanita berambut hitam dengan mata agak sipit.

Murid-murid mendekatinya.

"Hari ini kita akan melakukan tes senam. Lakukan gerakan yang sensei perintahkan."

Murid-murid berbaris. Allen menempati barisan agak didepan karena tubuhnya yang pendek.

Satu persatu murid-murid menunjukkan kemampuannya. Ada yang bisa, ada yang tidak. Allen merasa melakukannya dengan cukup baik. Sampailah pada giliran Lavi.

Ia mulai meloncat tinggi, melakukan putaran 360 derajat dua kali, dan bersalto satu kali.

Murid-murid berdecak kagum.

"Moon Sault nya sempurna!" Seru Krory. Allen juga terpana melihatnya.

Lavi tersenyum dan melambaikan tangannya bak artis tenar. Sensei itu memukul kepalanya dengan papan nilai.

"Adoww! Sakit Anita-sensei!" Kata Lavi sembari mengusap-usap kepalanya.

"Kalau kau diam disitu terus yang lain nggak dapat giliran."

Lavi menyingkir dan mendekati Allen.

"Selanjutnya."

Kanda melangkah dengan malas.

Allen menatapnya.

Pemuda itu menarik nafas sekali dan mulai meloncat,

Semua orang tercengang.

Kanda melakukan gerakan yang sama dengan Lavi tadi, tapi jelas lebih hebat.

Ia melakukan putaran 3 kali dan bersalto dua kali.

Semua murid bertepuk tangan.

"New Moon Sault!" Kata Chao Zi.

Kanda berjalan ke sudut lain. Lavi mengejarnya.

"Ah, Yuu curang! Itu kan gerakanku!"

"Che, lagipula bukan kau yang menciptakannya."

"Argghhh! Yuu curang!"

Allen tertawa pelan melihat tingkah konyol Lavi itu.

Ia menatap pemuda yang kini tengah beradu mulut dengan Lavi.

Siapakah dia sebenarnya?

.

.

.

.

Allen membuka bajunya, digantinya baju itu dengan coat yang biasa ia gunakan. Beberapa orang disekitarnya juga melakukan hal yang sama. Ia melihat Lavi tengah menggoda pemuda bernama Kanda itu. Pemuda itu terlihat kesal, tapi Lavi nampak menikmatinya. Pemuda itu melepas baju olahraganya. Allen tertegun melihat sebuah tato menghiasi dada bidang pemuda itu. Merasa diperhatikan, pemuda itu menoleh padanya.

"Apa kau lihat-lihat, Moyashi."

Darah Allen naik ke kepala.

"Namaku Allen Walker."

"Hou? Moyashi tetap saja Moyashi." Kata Kanda sembari menyeringai.

Allen menerjang pemuda itu.

Perkelahian pun terjadi. Ternyata Kanda sangat kuat. Kemampuan Kendo yang sangat ia banggakan ternyata sangat berguna saat ini. Tapi, tetap saja ia tak dapat meremehkan Allen. Pemuda mungil itu mampu dengan lincah mengimbangi gerakannya. Dapat menghindar dengan baik, dari setiap serangannya. Akhirnya, tangan Kanda berhasil merobek kerah coat Allen, dan tangan Allen berhasil menarik ikat rambut Kanda. Rambut panjang pemuda itu jatuh dengan pelan dibahunya.

Draw.

Tiba-tiba Lavi sudah berada ditengah mereka. Ia memasang tampang seram.

"Maunya sih aku membiarkan kalian, tapi kalau dibiarkan aku takut kalian tidak dapat mengikuti pelajaran besok. Apalagi Yuu, besok kau ada acara penting." Katanya sembari menatap Kanda.

"Che." Kanda beranjak pergi dari tempat itu sembari membawa baju gantinya.

Allen memegang pipi kanannya yang agak bengkak terkena pukulan Kanda tadi. Ia meringis. Lavi menghampirinya.

"Seharusnya kau tidak mempedulikan kata-kata Yuu tadi." Lavi memegang pundaknya dan menariknya keluar ruangan. Orang-orang menatap mereka bingung.

Betul-betul hebat anak baru itu.

Hari pertama ia sudah membangunkan macan tidur.

.

.

.

.

.
"Aduhhh.."

"Diamlah sebentar..."

Lavi tengah menempelkan plester di pipi Allen.

Lavi nyengir.

"Hebat, Allen-chan. Kau berani menantang Yuu."

"Memangnya dia siapa sih!" Tanya Allen kesal. Ia membayangkan raut wajah Kanda yang memuakkan tadi.

Lavi kembali tersenyum.

"Yuu itu, terkenal sebagai 'banchou' disekolah ini. Sebelumnya tidak pernah ada yang berani menantangnya seperti yang kau lakukan tadi."

Allen membuang wajah. Apa pedulinya? Yang jelas ia tidak menyukai Kanda.

"Hei, kita lihat-lihat sekolah yuk." Kata-kata Lavi mengagetkannya.

"Eh?"

"Jam pelajaran sudah selesai. Ayo."

Allen mengikuti Lavi. Allen tersenyum. Lavi jauh berbeda dengan Kanda. Ia sangat baik.

.

.

.

.

"Tempat ini lapangan bola, karena bermain bola tidak bisa dilakukan dalam ruangan. Lalu yang itu ruangan klub Ikebana. Lalu..." Lavi menjelaskan berbagai tempat yang mereka lalui kepada Allen. Allen hanya mengangguk-ngangguk. Tiba-tiba, mereka mendengar sebuah suara yang sangat indah. Begitu indah, tenang. Suara biola.

"Indah sekali..." Gumam Allen.

"Benarkah?" Lavi menoleh padanya. Ave Maria terus bergaung.

"Iya, siapa yang memainkannya?"

"Yuu."

"Eh?"

Allen menelan ludah. Ia sudah terlanjur memuji pemuda itu.

"Kanda?"

"Hehe, kau tidak percaya bukan? Tapi memang Yuu yang memainkannya. Setiap sore, ia akan bermain biola di loteng atas itu..." Kata Lavi sembari menunjuk sebuah atap, dengan lonceng besar tergantung diatasnya. Benar juga, suara itu berasal dari sana.

"... hal itu menjadi sebuah hiburan singkat untuk kami setiap harinya..."

Allen memandang Lavi. Kenapa wajah Lavi terlihat begitu lembut ketika membicarakan Kanda?

Langit nampak mendung. Mungkin sebentar lagi hujan.

Tiba-tiba sesuatu keluar dari balik coat Lavi. Sebuah benda bulat bersayap.

"Apa itu?"

Lavi menangkap benda itu.

"Golem. Alat komunikasi intra sekolah kita."

"Alat komunikasi?"

"Benar."

Alat itu bergemerisik sejenak kemudian sebuah suara terdengar.

"Lavi, kau bersama Walker?"

"Ya. Cross-sama." Lavi menjawab sambil menoleh pada Allen.

"Oh, kalau begitu tolong suruh dia datang ke kantorku segera untuk mengurus beberapa hal."

"Baik."

Alat itu masuk kembali kedalam coat Lavi.

"Nah, kau sudah dengar kan Allen?"

"Ya. Dimana letak kantor Cross-sama?"

"Kau tinggal ikuti lorong itu, lalu belok kekanan dan naik ke lantai 3. Kau akan segera tahu ruangannya karena kantor Cross-sama memang paling mencolok."

"Bisakah kau mengantarku kesana Lavi?"

"Ah, maaf. Sebentar lagi aku harus pergi ke suatu tempat." Lavi mengecek jam tangannya.

"Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa besok."

"Ya."

.

.

.

.

Allen menyusuri lorong gelap itu. Ia memperhatikan sekelilingnya.

Gelap.

Benar-benar Black Order.

Ia berbelok ke kanan dan naik kelantai 2.

Disana ada beberapa siswa yang sedang duduk-duduk dikursi yang tersebar disana.

Allen tidak mengenal satu pun dari mereka.

Mungkin mereka anak kelas B.

Allen melewati mereka dengan santai.

Tanpa mengetahui, beberapa pasang mata tengah mengawasinya.

Ia menaiki satu tangga lagi kelantai 3.

Ada beberapa ruangan disana.

Ruangan-ruangan itu terkunci rapat.

Allen melangkah menuju ruang diujung lorong.

Ruang itu memang paling mencolok.

Dipintunya, banyak ukiran-ukiran yang menampakkan betapa kunonya arsitektur bangunan itu.

Ia mengetuk pintu itu dua kali.

"Permisi."

"Ya, masuk." Terdengar sahutan dari dalam.

Allen membuka pintu dan masuk kedalam.

Seorang pria berambut merah panjang duduk dikursi , dibelakang sebuah meja.

Diatas meja itu terdapat sebuah plang nama yang berwarna keemasan.

'Cross Marian. Headteacher'

"Anda memanggil saya, Cross-sama?"

"Ya. Aku ingin memberikan beberapa perlengkapan sekolahmu." Ia menunjukkan tumpukan baju dan beberapa buku di atas meja.

Allen mengambil perlengkapan itu.

"Terimakasih."

"Bagaimana, kau sudah dapat teman?" Tanya Cross sembari menyalakan sebatang rokok.

Allen mengangguk.

"Ya. Semua nya baik-baik."

"Lalu kenapa kau babak belur?" Cross menunjuk pipi kanan Allen dengan tangan kirinya.

"Ah, ini ada kejadian kecil tadi."

"Begitu?"

Cross bangkit dan berdiri dihadapannya.

"Aku harap kau nyaman berada disini." Laki-laki itu mengelus rambut putih Allen.

Allen merasa bahwa pria itu adalah orang yang sangat baik. Ia rasa ia bisa menganggap orang itu sebagai 'ayah' barunya.

Tiba-tiba handphone pria itu berbunyi.

"Ah, tunggu sebentar." Cross mengangkat handphonenya.

"Halo, ohh Ran-chan? Iya-iya tenang aku pasti datang kok. Malam ini kan? Ah, jangan marah dong. Aku sayang kamu kok Ran-chan. Hahaha..."

Allen menarik kembali kata-katanya.

"Iya, bye. Love you.."

Pria itu menutup handphonenya dan menatap Allen.

"Ah, hampir saja aku lupa. Ini." Cross menyerahkan sebuah benda berwarna kuning keemasan bersayap pada Allen.

"Golem?"

"Yah begitulah, tapi dia punya nama. Namanya Timcanpy."

Allen menerima benda itu dan mengelusnya.

"Aku telah menentukan asrama dan teman sekamarmu. Semoga kalian bisa akrab."

"Siapa?" Allen berharap teman sekamarnya adalah orang yang baik.

Lavi mungkin?

Pintu diketuk dari luar.

"Dia sudah datang."

Pintu terbuka.

Rasanya Allen ingin menjerit.

"Terimakasih sudah datang, Kanda." Kata Cross sambil berjalan kembali ketempat duduknya.

"Ada apa Cross-sama?"

"Dia akan sekamar denganmu. Tolong bantu dia ya."

Kanda menatap Allen dingin. Allen balas memandangnya dengan tatapan yang tak kalah dinginnya.

"Moyashi..."

"Bakanda..."

"Wah, rupanya kalian sudah saling mengenal ya? Baguslah kalau begitu"

"Aku menolak." Kata Kanda.

"Aku juga." Allen membuang mukanya.

"Ah, tapi sayang sekali. Aturan disini satu kamar dua orang dari satu kelas. Dan dikelas kalian hanya kau yang tinggal sendiri Kanda. Aku tak mungkin membiarkan dia sekamar dengan Lavi."

"Lebih baik aku sekamar dengan Lavi daripada dengannya!"

"Betul. Lebih baik dia bersama si Baka Usagi."

"Kanda. Kau tahu sendiri kalau aku tak bisa memasukkan seorang lagi kekamar Lavi." Cross menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya keras-keras.

"... kau sendiri yang paling tahu tentang itu kan, Kanda?"

"Che." Kanda membuang mukanya dan melangkah pergi.

"Cross-sama..." Allen menatap pria itu dengan pandangan memohon.

Cross menggeleng.

"Kalau kau masih mau tinggal disini. Kau harus mengikuti aturan yang aku buat."

.

.

.

.

Allen mengikuti Kanda. Pemuda itu sama sekali tidak menoleh kebelakang.

Allen menggerutu dalam hati.

Akhirnya mereka sampai disebuah tempat yang nampaknya adalah kompleks asrama disekolah itu.

Beberapa orang nampak ingin menyapa Allen, tapi begitu melihat Kanda, mereka menunduk dan bergegas pergi.

Kanda berbelok kekiri. Allen terus mengikuti.

Mereka naik kelantai dua. Tiba-tiba Kanda berhenti. Membuat Allen menabrak punggung pemuda itu.

"Aduh..." Allen mengusap hidungnya .

"Che. Moyashi payah."

"Kamu yang tiba-tiba berhenti Bakanda!" Kata Allen tidak terima. Sudah nggak minta maaf, malah ngatain lagi. Sumpah ini orang nyebelin banget!

Tanpa berkata apa-apa, Kanda mengambil kunci dan membuka pintu kamar didepannya.

"Ini kamarku."

"Kamar kita tepatnya, Bakanda."

Kanda masuk kedalam kamar itu. Allen mengikutinya.

Dalam hati , Allen memuji pemuda itu.

Kamarnya benar-benar rapi.

Kanda duduk disebuah kursi.

"Mulai dari sini..."

Kanda menunjuk tempat tidur sebelah kanan.

"...sampai sini..." Kanda melingkari setengah lebih bagian ruangan itu.

"...Adalah wilayahku. Kau tidak boleh melewatinya."

Allen menatapnya sebal.

"Aku tahu."

"Lalu aku tidak suka berantakan. Awas kalau kau membuang sampah atau apapun dikamar ini."

"Aku tahu Bakanda. Kau kira umurku berapa?"

Kanda menyeringai.

"Berapa? Kurasa lima tahun?"

Ingin sekali Allen menerjang Kanda dan memukul wajah pemuda itu. Tapi ia tahu. Tidak ada gunanya mencari masalah dengan Kanda.

.

.

.

.

Malam menjelang.

Hujan turun dengan deras.

Petir menyambar-nyambar.

Rasa dingin menyelusup dalam selimut Allen.

Ia bergerak-gerak gelisah dalam selimutnya

Takut.

Ia takut petir.

Mungkin ini adalah kenyataan yang paling memalukan baginya.

Tapi ia tak dapat memungkirinya.

Ia memang takut petir.

Ayahnya, Mana meninggal pada saat hujan turun dengan deras.

Dan petir menyambar-nyambar.

Persis sepereti hari ini.

Allen ingat betul hari itu.

Peristiwa itu.

Kecelakaan yang tidak hanya membuat tubuh bagian kirinya cacat, tapi juga merebut nyawa ayahnya. Satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya.

"DHUARRRRR!"

"Aaaaaa!" Allen berteriak keras. Ditutupnya kedua telinganya dengan bantal.

Tiba-tiba, ia merasa sesuatu yang berat naik keatas kasurnya.

Allen menoleh kesamping dan mendapati Kanda tengah berbaring menyamping disebelahnya.

"Kan..."

Kanda mendekapnya.

Allen terkejut.

"Kalau kau berteriak seperti itu terus, aku jadi tidak bisa tidur Moyashi."

Allen ingin marah tapi tidak bisa.

Ia merasakan kehangatan dalam pelukan pemuda itu.

Allen membenamkan dirinya lebih dalam, didekapan Kanda.

Harum khas Lotus, tercium.

Membuat perasaannya nyaman.

Ia tak mendengar lagi dentuman-dentuman petir diluar sana.

Ia merasa nyaman.

Matanya mulai memberat.

"Oyasu...minasai...Bakanda..."

Ia tertidur.

Kanda menatap bocah yang kini tertidur lelap itu.

Ia ingin bangkit dan kembali ketempat tidurnya sendiri. Tapi bocah itu mencengkram piyamanya dengan kuat.

Kanda berbaring dan menutup matanya.

"Oyasuminasai, Moyashi."

TBC

.

.

.

.

.

Oh sumpah author kebelet pipis pas ngetik fic inhii!

Oh ya Save My Heart mubngkin bakal mi lanjutin besok atau kapan.

Bye!