Yang terakhir kulihat adalah...

... seulas senyum,

dan sepasang tangan hangat...

yang mendekapku—erat.

Lalu...

Al-Shira Aohoshi deviantArt

Proudly Presents

.

NARUTO : The Series

あたし!

.

a 2010 NARUTO Fanfiction

© Andromeda no Rei

.

Original Title :

Me, Myself, and I

.

Standard Disclaimer Applied

.

T-Rated

Genre :

Drama/Family/Angst/Slight Romance

.

Slight NejiTen, NaruHina

.

Warning :

AU, OOC, OC, typo, abal, aneh

.

Beta-ed by Ryuku S.A. J

.

Don't like? Then get back to your world!

I've already warned you~

.

.

.


Konoha. Salah satu dari sekian banyaknya nama kota yang berada di Negara Hi. Kegiatan pagi yang diawali dengan aktivitas para pelajar dan orang-orang berdasi serta wanita-wanita karir yang berlalu lalang dengan sepatu high heels mereka. Tampak pula beberapa loper koran dengan pakaian lusuh menjajakan koran yang terbit pagi ini pada beberapa mobil yang berhenti pada persimpangan lampu merah dan pada orang-orang yang berlalu lalang di trotoar.

"Ohayou gozaimasu, Tenten-chan!" Seorang nenek dengan yukata abu-abu menyapa Kagayakina Tenten yang baru saja menutup pagar rumahnya. "Hari ini pagi sekali berangkatnya."

"Ohayou, Chiyo-baasan!" Tenten, gadis dengan model rambut panda-likeitu melambaikan tangan kanannya. Seragam sailor-nya terlihat lebih rapih dari biasanya—kecuali celana training yang mungkin—terlihat agak aneh jika dipadukan dengan rok pendeknya. "He'eh. Aku dapat giliran piket pagi ini."

"Kau rajin sekali. Nggak mau mampir dulu? Ada pancake karamel di dalam."

"Sepertinya enak. Tapi aku sudah benar-benar harus berangkat."

"Sayang sekali."

"Lain kali ya, Chiyo-baasan. Dengan sedikit tambahan whipped cream!"

"Ahaha, kau ini. Baiklah..."

"Nah, jya ne, Chiyo-baasan! Sampaikan salamku pada Shunsuke-jiisan, ya!" Tenten kembali melambaikan tangan kanannya lalu bergegas pergi.

"Hati-hati..."

.

.

"Ohayou!"

"Hei—ohayou!"

"Ohayou, Sasuke-kun!"

"Hn, ohayou."

"Ohayou, Kakashi-sensei. Tumben nggak terlambat?"

Seperti halnya sekolah pada umumnya—halaman depan SMA Konoha ramai oleh sapaan selamat pagi dan celotehan tidak penting lainnya. Di sepanjang koridor kelas 1 dan 2 terlihat sekumpulan siswi yang asyik bergosip tentang ketua OSIS sekolah elit itu, Hyuuga Neji. Tentang suksesnya Neji dalam berbagai kegiatan sekolah selama 2 tahun terakhir atau tentang kharisma sang pewaris klan Hyuuga yang menyeruak ke mana-mana setiap kali ia muncul.

Tenten melirik sekilas junior-juniornya yang heboh itu. Oke, Neji memang keren. But—hei! Tidak salah 'kan jika kau sedikit kesal saat hampir seluruh anak perempuan di sekolah—khususnya para junior—membicarakan pacarmu dengan ekspresi fan-girling menjijikkan begitu?

Tenten mendecih kesal. Jika bukan karena Neji sendiri—yang memintanya untuk melihat keadaan Hinata, ia tidak mau repot-repot melintasi koridor kelas 2 dimana siswa-siswinya tidak tahu sopan santun terhadap senior mereka.

"A-a-ano... Tenten-senpai...?" Hinata melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Tenten yang bengong. Sebelah tangannya tergenggam di depan bibir mungilnya.

"A-ah, ya?" Tenten menggaruk tengkuknya sambil nyengir kuda, "Ada apa, Hinata?"

"I-ini 'kan koridor kelas 2, ma-maksudku... Tenten-senpai sedang apa di sini?" Hinata memainkan jari-jari telunjuknya malu-malu, "Ne-neji-niisan 'kan di kelas 3-1. Kok—"

"Ah—iya aku ingat! Hehe, gomen ne, Hinata." Tenten mengelus-elus kepala Hinata yang lebih rendah darinya, "Neji bilang pagi ini kau demam. Dia khawatir sekali, lho. Kok nggak istirahat saja, sih?"

Hinata menggeleng dan tersenyum lemah, "A-aku baik-baik saja, senpai. Nggak usah khawatir."

"Hontou ne?" Tenten memegangi bahu Hinata, "Aku nggak mau tahu lho kalau nanti demammu naik lagi cuma gara-gara ketemu Naruto."

Wajah Hinata memanas. "A-a-ak-aku..."

"Ahahaha... Iya, iya, maaf. Aku cuma bercanda kok, Hinata." Tenten tertawa renyah lalu menempelkan telapak tangannya pada dahi Hinata, "Eh? Tapi suhumu benar-benar naik, lho. Padahal 'kan cuma kusebutkan namanya—belum ketemu orangnya langsung—"

"—Tenten-senpai!" Hinata menjerit. Sekali lagi, menjerit.

"Ya?" Tenten menatap Hinata dengan wajah polosnya, "Maksudku—hei! Naruto itu benar-benar menyebalkan, iya 'kan? Kau ingat nggak tahun lalu—waktu MOS—dengan soknya dia minta masuk klub karate dan nantangin ketua klub yang keren seperti aku ini! Haaahh, nggak bisa dimaafkan! Belum ada yang pernah—"

"Tenten-senpai!" kali ini Hinata memegang pipi Tenten dengan kedua tangan kecilnya.

"Ada apa lagi, Hinata?"

"N-Ne-Neji-niisan menunggumu..."

"Ha?"

"D-d-di... di belakangmu..." Hinata menunjuk sesuatu—atau lebih tepatnya seseorang di belakang Tenten, "...dari tadi."

"Neji!" Tenten menoleh. Ia tersentak kaget namun berekspresi senang.

"Aku memintamu untuk melihat keadaan Hinata, bukan berceloteh nggak jelas tentang Naruto." Kata Neji datar. Ia melipat lengannya di depan dada.

"Itu menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Ne, Hinata?"

Hinata tidak menjawab. Ia hanya tertunduk malu—seperti biasanya.

"Apanya?" Neji menaikkan sebelah alisnya.

"Ayolah, Ketua. Hinata beraksi 'normal' waktu aku menyebut nama Naruto. Yang artinya, dia baik-baik saja dan memaksakan diri untuk tetap masuk sekolah agar bisa bertemu Naruto. Got it?"

Neji diam. Tenten sweatdrop. Hinata bingung.

"Neji—aku bicara panjang lebar dan kau nggak merespon sedikit pun!"

"Begitu..."

"Akh—lupakan saja!" Tenten menggaruk kepalanya—frustasi, "Ne, Hinata. Aku pergi dulu, ya. Baik-baik sama Naruto, oke? Jya~"

Neji masih diam—memperhatikan punggung Tenten yang semakin menjauh. Ia melirik Hinata sekilas sebelum akhirnya menepuk kepala adik sepupu kesayangannya itu sekali dan berlalu menyusul Tenten yang sudah menuruni tangga.

Hinata terpaku menatap sepupunya yang kadang bertingkah aneh itu. Gadis berambut indigo sepunggung itu tidak mengerti hubungan istimewa antara ketua OSIS dan ketua klub karate yang sedikit cerewet itu. Tenten yang tomboi dan berkepribadian ganda, hanyalah satu-satunya cewek yang ditaksir kakak sepupunya, Neji, bahkan sejak SMP. Keduanya merupakan idola sekolah memang, meski pamor Neji lebih unggul tentunya. Dan—

"Ooiiii~! Ohayou, Hinataa~!"

Suara itu.

Mata pearl Hinata membulat, pipinya terasa lebih panas dari sebelumnya.

BRUKK

Hinata pingsan—untuk ke sekian kalinya—ketika wajah Naruto hanya berjarak 5 senti dari wajahnya.

.

.

.

"Latihan hari ini selesai! Semuanya, jangan lupa jaga kondisi untuk pertandingan bulan depan!"

"Osh!"

"Baik, kalian boleh bubar."

Di ufuk barat matahari telah siap kembali ke peraduannya. Sayup-sayup terdengar suara gagak yang masih beterbangan di sekitar pepohonan. SMA Konoha terlihat legang. Hanya terdengar suara dentuman bola basket yang dimainkan beberapa anak klub basket putra, dan 2 orang manajer klub sepak bola yang tengah membereskan gudang.

Kagayakina Tenten baru saja keluar dari ruang karate dan meletakkan dogi*-nya di loker. Ia mengusap keringat yang mengalir di pelipisnya. Lelah. Ia ingin segera pulang dan merebahkan diri di atas springbed-nya dan minum jus mangga dingin buatan ibunya. Ah, membayangkannya saja sudah bikin fresh.

Tenten segera mengunci lokernya dan bergegas pulang. Ia melambaikan tangan pada Neji yang kelihatan kusut dengan beberapa paperwork saat melewati ruang OSIS. Tidak. Neji tahu Tenten bukan cewek cengeng yang akan menjerit girly ketika dirampok, atau bersembunyi di balik punggungnya ketika bertemu preman mabuk. Jadi bukan hal besar jika selama ini ia jarang mengantarnya pulang. Tenten juga mengerti bahwa sang ketua OSIS jauh lebih sibuk dari Hanare—seorang penyanyi cantik yang sedang naik daun. Neji tersenyum dan menggumamkan kata 'hati-hati' sebelum Tenten melesat pergi.

"Tenten?"

Baru beberapa langkah keluar dari gerbang sekolah, Tenten menoleh mendengar namanya dipanggil. And there she is. Seorang wanita paruh baya tersenyum—menyapanya.

"Tenten?" wanita itu mengulangi. Ia mengenakan blus ungu pucat dipadukan dengan rok merah marun selutut. Kantung matanya sedikit gelap—menunjukkan ia begitu kelelahan akan sesuatu. Rambutnya yang lurus kecoklatan terikat rapih di belakang lehernya, "Tenten-chan, 'kan?"

"Y-ya." Tenten masih bengong memandangi wanita di hadapannya, "Anda siapa, ya?"

"Syukurlah..." wanita itu menghampiri Tenten dan tiba-tiba memeluknya erat—terisak, "Syukurlah, syukurlah, Tenten-chan..."

"Ma-maaf? Anda siapa?" Tenten merasa aneh tiba-tiba dipeluk begitu oleh seorang wanita asing. Ingin menolak tapi sepertinya tidak sopan. Tapi bagaimana ia tahu nama Tenten? Dan memanggilnya dengan sufiks ~chan? Jangan-jangan dia mau menculikku!, hati kecil Tenten menjerit tidak jelas. Pikiran-pikiran aneh berkelebat di kepalanya.

Oke, kali ini Tenten benar-benar bingung. Naluri karatekanya ingin sekali mendorong dan membanting wanita asing yang seenaknya memeluk tubuh tingginya. Tidak perlu menjerit minta tolong bagi Tenten. Banting saja ke tanah, lalu mutilasi dan selesai. Tapi Tenten bukan psikopat yang dengan sadisnya akan mencincang tubuh wanita asing yang kelihatannya baik ini. Baiklah, Dark-Tenten kalah. Ia hanya diam di tempat—menunggu jawaban dari si-wanita-asing-aneh-tukang-peluk.

"Sudah lama sekali." Wanita itu melanjutkan—masih memeluk Tenten, "Tenten-chan sudah besar, ya..."

"Maafkan aku, tapi—" Akhirnya Tenten melepas pelukan wanita itu namun masih memegangi bahunya yang bergetar, "—Anda siapa?"

Wanita itu tersenyum simpul dan air matanya kembali menetes.

.

.

.

.

"Tadaimaa~!"

"Okaeri-nasai, Tenten-chan." Kagayakina Miyu muncul dari balik pintu dapur dengan sekeranjang jeruk kupas di tangannya dan celemek biru kotor yang menempel di badannya, baru selesai memasak makan malam.

"Ah, kau dekil banget. Mandi sana."

"Bentar lagi, ah." Tenten mengambil sebuah jeruk segar dan menjejalkan buah itu ke dalam mulutnya.

"Lho, bukannya kaa-chan masih ada shift sampai nanti malam di rumah sakit?"

"Sudah kaa-chan batalkan. Kebijakan Rumah Sakit Konoha—yang dapat shift malam hanya yang belum berkeluarga saja." Miyu mencubit gemas pipi putri kesayangannya itu, "Sudah sana mandi dulu. Kau bau, tahu. Kalau Neji-kun tahu gimana?"

"Tch. Coba saja dia protes tentang bau badanku, bakal kupastikan dia botak!"

"Hei, hei, masa cewek ngancam kayak preman gitu."

"Biarin. Kaa-chan sih, pake bawa-bawa Neji segala." Tenten memanyunkan bibirnya.

"Tadaima!" seorang pria berusia sekitar 40-an dengan dasi berantakan memasuki ruang tamu keluarga Kagayakina, "Wah, Tenten-chan baru pulang juga, ya."

"Too-chan!" Tenten melambaikan tangannya.

"Okaeri-nasai." Miyu tersenyum dan segera meletakkan keranjang jeruknya di meja makan, "Sana kalian mandi dulu, setelah itu makan malam. Ne?"

"Hai."

"Aaa..."

Tenten menaiki tangga menuju kamarnya. Tangan kanannya hendak meraih gagang pintu, namun diurungkannya. Ia tertegun mengingat pertemuannya dengan wanita asing sepulang sekolah tadi. Sesak. Entah kenapa dadanya terasa begitu sesak. Ia kembali menuruni tangga dan mendapati Miyu sedang menata meja makan.

"Kaa-chan!"

"Ya?"

Tenten tersenyum kecut. "Aku sayang kaa-chan dan too-chan!"

And with that, Tenten berlari menaiki tangga dan membanting pintu kamarnya sedikit keras. Miyu terbengong melihat tingkah aneh putri tomboinya itu. Detik berikutnya ia tersenyum—antara senang dan khawatir.

.

.

.

.

"Hei—apa yang kau lakukan?"

"Sensei, Tenten memukulku! Huaaa~!"

"Tenten!"

"Tenten—hentikan itu!"

"Akan kulaporkan pada sensei!"

"Dasar monster!"

"Apa katamu?"

.

.

"Tenten 'kan dibuang ibunya karena dia monster!"

"Itu nggak benar kok!"

"Ssst! Jangan keras-keras. Kalo sampai dia dengar nanti kau bakal dipukuli sampai berdarah!"

"Kasihan sekali, ya."

Nggak butuh.

"Awas, jangan dekat-dekat. Nanti Tenten ngamuk."

Nggak perlu...

"Tenten-chan? Apa kau—kesepian?"

...dikasihani.

.

.

"Da dah, Sensei~!"

Senyum. Yang lain selalu tersenyum, ketika para orangtua menjemput. Semuanya dijemput—untuk pulang—ke tempat yang di sebut 'rumah'. Bersama hangatnya keluarga.

"Sensei?"

"Ya, Tenten-chan?"

Dunia yang kukenal sejak membuka mata hanyalah Panti Asuhan. Berkumpul dengan anak-anak tanpa orangtua, namun dengan impian besar.

"Ibuku—seperti apa?"

Seharusnya kami semua sama.

"Kenapa aku di sini?"

Seharusnya—kami merasakan kesepian yang sama.

"Apa dia membenciku?"

"Itu nggak benar, Tenten-chan."

"Lalu?"

Nggak butuh.

Aku nggak kesepian, kok.

"Kapan yaa..."

Aku baik-baik saja.

"...Aku bakal dijemput..."

Aku kuat, kok!

"...seperti yang lain?"

Air mata. Menetes. Lagi.

Bodoh. Aku benci diriku. Lemah—dan selalu kesepian. Mati saja.

.

"Hei—"

Aku sedang menunggu.

Sama seperti hari-hari sebelumnya.

"—kenapa kau menangis?"

Siapa...?

"Sini biar kuusap airmatamu. Jangan menangis lagi, yaa."

Kau siapa...?

"Nah, begini 'kan lebih cantik."

Jangan menatapku seperti itu...

"Siapa namamu?"

Jangan tersenyum seperti itu...

"Na-namaku..."

Kumohon...

"Namaku... Tenten..."

Sekali ini saja...

"Ne, Tenten-chan. Maukah kau..."

Kali ini saja—biarkan aku yang lemah ini...

"...memanggilku—'kaa-chan'?"

...meluapkan segala perasaan yang berkecamuk dalam dada—

"K-Kaa—Kaa-chan..."

dan menjadi lebih kuat.

.

.

Hangat.

Kaa-chan memelukku.

Hangat sekali.

"Siapa...?"

"Nah, ini too-chan."

"Tenten-chan cantik, ya."

Untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku bisa—

.

.

.

tersenyum.

.

.

.

.

Tenten mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan kondisi kamar yang gelap. Napasnya berderu cepat. Keringat dingin mengalir di seluruh tubuhnya. Debaran jantungnya memburu—tak terkontrol.

Mimpi itu lagi. Sudah beberapa hari ini Tenten memimpikan hal yang sama. Tentang masa kecilnya—saat pertama kali ia diadopsi oleh suami-istri Kagayakina. Tenten memejamkan matanya—lama. Pikirannya melayang kemana-mana. Ayah, ibu, sensei, dan—wanita asing itu. Semuanya terasa berputar-putar di otaknya.

Kenapa harus sekarang? Padahal ia sudah bahagia. Ia punya ayah dan ibu yang dengan tulus menyayangi dan merawatnya hingga sebesar ini. Ia punya teman-teman yang baik dan menyenangkan. Juga seorang kekasih atas perasaan cinta masa remajanya. Dan prestasi membanggakan dalam karate. Serta impian yang harus diwujudkannya.

Matte kudasai.

Impian? Tentu saja Tenten juga punya impian. Menjadi atlet profesional—dan menunjukkan pada orang-orang yang dulu selalu mengasingkannya, bahwa ia bisa melampaui mereka.

Bukan. Tapi bukan itu—karena jauh di lubuk hatinya yang terdalam, hal yang selalu diinginkannya adalah—menemukan orangtua kandungnya, ibu yang mengandung dan melahirkannya. Bertemu. Sekali saja. Bahwa ia telah menyesal pernah membenci dirinya sendiri—benci karena pernah dilahirkan sebagai seorang Tenten.

"Kaa-chan... Too-chan..."

Tenten mencengkram piyama hijaunya. Satu—dua tetes air mata membasahi coverbed yang berantakan. Ia ingat, terakhir kali ia menangis adalah saat matahari terbenam, duduk di depan gerbang panti—menunggu. Sampai akhirnya Kagayakina Miyu datang dan memeluknya erat. Bukan. Padahal bukan Miyu yang ia tunggu. Ia hanya menunggu matahari membawanya turut terbenam di horizon. Kagayakina—bersinar. Dua orang yang bernama indah itu datang ketika sekali lagi—matahari tidak membawanya terbenam di balik awan di kaki langit. Ketika sekali lagi—kegelapan menyelubungi segala penglihatannya. Kagayakina datang—menjemput Tenten kecil—bersama bintang-bintang yang bersinar di langit malam yang gelap itu.

"...gomen ne."

.

.

"Tenten-chan itu 'bersinar'. Karena itulah sekarang namamu 'Kagayakina' Tenten. Ne?"

"Arigatou, Sensei..."

.

.

.

.

Ruang OSIS SMA Konoha terlihat lebih rapih hari ini. Terima kasih kepada sang sekretaris, Haruno Sakura, yang sejak pagi berceloteh tentang pentingnya kebersihan bahkan untuk ruang rapat OSIS sekalipun. Gadis perfeksionis itu akhirnya berhasil mempengaruhi semua rekan-rekannya agar membersihkan ruangan yang hampir menyerupai ruang kepala sekolah mereka, Tsunade-sama.

"Kiba! Dilarang membawa anjing ke dalam ruang OSIS!" Sakura mengomel di antara kegiatannya membereskan beberapa proposal untuk festival kebudayaan sekolah, "Kalau dia pipis gimana? Kalau pup apalagi? Kau mau bersihin?"

"Dia bukan anjing, Sakura!" Kiba tidak mau kalah. "Dia Akamaru."

"Akamaru? Whatever!" Sakura mendelik tajam, "Terlalu hiperaktif! Maksudku—oh ya Tuhan, kau bisa merusak berkas-berkas yang sudah kurapikan, Akamaruu!"

"Dia sedang dalam masa pertumbuhan, Sakura." Shino bergumam sambil mengamati seekor kumbang tanduk yang ia temukan di halaman belakang sekolah pagi ini. Kacamata hitam yang bertengger di hidungnya berkilat misterius, "Biarkan saja."

"Ahahahahaha, Shino benar!"

"Akamaru! Jangan menjilati sepatuku—hei!"

"Dia menyukaimu, Sakura. Ahahahahaa..."

"Ow, benarkah?" Sakura tersenyum misterius lalu mengelus-elus belakang telinga Akamaru, "Boleh kubawa pulang dan kupelihara dia, Kiba-kuuunn~?"

"Jangaaaann~!"

"Hn... berisik."

"Diam semua!" Neji yang sedari tadi duduk di pojok ruangan akhirnya angkat bicara. Seketika semuanya terdiam—termasuk Akamaru. Sasuke melirik sang ketua sekilas lalu kembali berkutat dengan buku Sherlock Holmes-nya. Neji menatap datar anak buahnya satu per satu. Yakumo—sang bendahara yang dari tadi cuma diam menundukkan kepalanya dalam-dalam, takut Neji akan marah besar meski sang ketua jarang sekali marah. "Kiba, kau tahu bahkan peraturan sekolah melarang membawa hewan piaraan ke lingkungan sekolah, kecuali jika dibutuhkan dalam kegiatan belajar-mengajar."

"Ma-maaf, Taichou." Kiba mengambil Akamaru dari tangan Sakura dan memeluknya, "Besok nggak akan kubawa lagi, deh. Jangan dilaporin, ya?"

Neji hanya menghela napas panjang. Bagaimana pun Inuzuka Kiba adalah salah satu dari jajaran 12 murid teladan di sekolah itu. Sisanya, kalian bisa menebak sendiri 'kan siapa saja 11 orang lainnya? So, melaporkannya pun tidak akan mengubah apa-apa.

TAP TAP TAP

Terdengar langkah kaki terburu-buru di antara ramainya koridor saat itu.

"NEEJIIIIIIIIIIIIIII~!"

GHRAAAA

Pintu ruang OSIS bergeser terbuka—menampilkan sosok gadis tinggi dengan seragam sailor SMA Konoha plus celana training abu abu dan rambut coklat bercepol dua. Dan semua mata tertuju padanya, Tenten—si gadis berisik yang tiba-tiba muncul di ruangan suram itu.

"Aku bisa mendengarmu, Tenten." Sahut Neji datar, "Nggak usah teriak-teriak begitu."

"Aku nggak teriak, kok." Tenten menghampiri Neji tanpa memedulikan tatapan sweatdrop dari anak-anak OSIS di ruangan itu. Oke, sebenarnya mereka semua sudah terbiasa dengan hal ini, "Ne, pulang sekolah nanti temani aku yaa."

"Kemana?"

"Panti Asuhan Konoha."

"Baiklah."

Tenten tersenyum senang, "Arigatou! Aku cinta Neji!"

CUP. Dan sebuah kecupan singkat mendarat di pipi kanan Hyuuga Neji oleh sang ketua klub karate yang segera berlalu meninggalkan ruangan hening itu. Oh, Neji. Look at him. Sekarang mukanya sangat merah. Bukannya ia belum pernah mencium atau dicium Tenten sebelumnya, hanya saja saat ini kondisinya berbeda. Sang ketua tentu saja harus menjaga kharismanya di depan anggota OSIS yang lain, deshou?

Ugh, Neji salting.

"A-ano..." Sakura memecah keheningan di ruangan itu. "Taichou, k-kau punya janji dengan Harukaze Karin dari klub jurnalistik—"

"—batalkan saja, Sakura." Neji menjawab santai tanpa melihat Sakura yang sedang sweatdrop.

"B-baiklah."

.

.

.

.

"Konnichiwa, Neji-senpai, Tenten-senpai!"

"Konnichiwa, Ino-chan!"

"Hn, konnichiwa."

Sepasang muda-mudi terlihat berjalan beriringan menuju daerah timur kota Konoha, tepatnya Panti Asuhan Konoha. Hari masih belum terlalu sore, namun Tenten sengaja bolos latihan klub demi hal yang ingin ia pastikan sesegera mungkin. Neji hanya diam dan menurut—seolah mengerti seperti apa dan bagaimana kondisinya saat ini.

Dalam perjalanan mereka hanya diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Neji melirik kekasihnya yang terlihat sedikit gelisah itu. Masih dengan ekspresi datarnya ia menggenggam tangan kiri Tenten, menghangatkan tangan mungil yang entah kenapa berkeringat itu. Tenten tidak merespon. Kepalanya semakin ia tundukkan, berusaha menyembunyikan rasa khawatir yang terlukis di paras cantiknya.

"Daijoubu yo," Neji angkat bicara. Pandangannya masih terfokus pada jalanan di trotoar dan orang-orang yang berlalu lalang, "Semuanya akan baik-baik saja."

"Aku tahu." Tenten menyahut tanpa mengalihkan pandangannya yang kosong ke depan.

"Kalau kau tahu, nggak perlu bertampang seperti itu 'kan." Neji mempererat genggamannya pada tangan Tenten.

"Neji—"

"—ore ga iru yo."

Tenten menengadah menatap Neji yang sedikit lebih tinggi darinya. Gadis bercepol dua itu tersenyum dan menyenderkan kepalanya pada bahu bidang sang kekasih, "Wakatta. Terima kasih—untuk semuanya."

"Aa."

.

.

"Eh? Mendadak sekali, Tenten-chan."

"Ehehe, aku cuma pengen tahu kok, Sensei."

Hatake Rin tersenyum seraya duduk di sofa, meletakkan sebuah kotak merah marun yang sudah berdebu. "Ini pacarmu?" ia memperhatikan Neji yang duduk di sebelah Tenten, "Hyuuga—ketua OSIS itu 'kan?"

"Iya, Sensei." Tenten tersenyum lebar.

"Sepertinya Kakashi-sensei bercerita banyak hal tentang sekolah." Neji bergumam.

"Ahahaha, tentu saja, Hyuuga-kun." Rin membolak balik berkas-berkas lusuh yang tertumpuk di sebelahnya. Mata violetnya bergerak-gerak lincah mengikuti setiap kata yang ia baca di kertas-kertas yang sudah menguning itu. Rambut pendek kecoklatannya bergoyang setiap kali ia menolehkan wajah manisnya. Ujung-ujung bibir pinknya melengkung membentuk senyuman, "Ah, ini dia, Tenten-chan."

"Eh? Ada?" Tenten tersentak kaget.

"Iya, ini." Rin menunjukkan sebuah berkas yang sudah lapuk dengan tulisan tinta yang sedikit memudar.

"Alamatnya memang agak jauh dari pusat kota, tapi masih di Konoha kok."

"Aa, souka." Tenten memperhatikan berkas kusam itu. Bibirnya bergumam tak jelas—membaca setiap tulisan pada kertas tua itu.

"Ah iya, ini juga." Rin menepuk-nepuk kotak merah marun yang ia letakkan di atas meja.

"Apa itu?"

"Sensei juga belum pernah membukanya." Rin menyodorkan sebuah kotak yang masih berdebu itu pada Tenten, "Ibumu menyerahkan ini waktu menitipkanmu dulu. Katanya, jika waktunya sudah tepat, Tenten akan datang dan saat itu sensei disuruh untuk menyerahkannya."

"Begitu..." Tenten tertegun, "Sensei."

"Ya, sayang?"

"Boleh aku bawa ini?"

"Tentu saja, itu 'kan punyamu." Rin tersenyum ramah.

"Arigatou. Kalau begitu kami pamit pulang, Sensei." Tenten dan Neji bangkit bersamaan.

"Kalian nggak mau tinggal untuk makan malam—mungkin?" Rin turut bangkit dan merapikan rok birunya, "Kakashi pasti akan senang."

"Nggak usah deh, Sensei." Tenten tersenyum seraya memasukkan kotak merahnya ke dalam ransel, "Lain kali saja."

"Ah, sayang sekali. Ne, sampaikan salamku pada Kagayakina-san, ya."

"He'em. Dah, Sensei."

"Dadah, hati-hati!"

.

.

.

.

Hampir tengah malam, Tenten masih terjaga. Ia terlentang menghadap langit-langit kamar yang sudah ia tempati selama 11 tahun itu. Cahaya rembulan menyelinap masuk di antara lubang ventilasi dan gorden yang sedikit tersibak oleh angin malam. Sesekali ia mengangkat tangan kananya—memperhatikan benda mengkilap yang ia temukan saat membuka kotak merah marun yang ditinggalkan Ibu kandungnya.

Sebuah kalung. Dengan liontin kerang keemasan yang menganga. Seharusnya benda itu berpasangan, namun Tenten tidak menemukan pasangan liontin itu dalam kotak. Mungkinkah—masih ada pada Ibu kandungnya itu? Tenten tersenyum masam. Jantungnya kembali berdebar tak karuan. Senang, tentu saja Tenten senang. Memangnya apalagi yang bisa membuatnya bahagia lebih dari bertemu dengan Ibu kandungnya sendiri? Detik berikutnya ia terisak. Dan sekali tangan kanannya terkulai ke sisi badannya, ia telah melayang ke alam mimpi.

CKLEK

Pintu kamar Tenten berdecit terbuka, menampilkan sesosok wanita berambut pirang sebahu dengan piama satin merah mudanya. Kagayakina Miyu mendekati putri tunggalnya yang tertidur pulas dengan setitik air mata di sudut matanya itu. Ia kemudian merapikan coverbed Tenten yang berantakan dan menyelimutinya hingga sebatas dagu.

Tangan putihnya bergerak mengelus pelan rambut coklat Tenten, menyingkirkan poninya pelan, dan mengecup dahinya lembut.

"Kaa-chan menyayangimu, Tenten-chan." Miyu tersenyum dan beranjak menutup jendela kamar Tenten yang terbuka. Menutup gorden bercorak bunga hibiscus itu kemudian keluar dari kamar minimalis Tenten.

Miyu mungkin memang bukan orang yang mengandung Tenten selama 9 bulan, dan melahirkannya ke dunia. Tapi walau bagaimana pun dialah yang selama 11 tahun ini merawat gadis berkepribadian ganda itu. Bukannya tidak tercipta ikatan batin antara dirinya dan Tenten, hanya saja ia tak mau membuat gadis itu mencemaskannya. Ia tahu segalanya—bahwa Tenten pasti ingin bertemu dengan ibu kandungnya—suatu saat nanti.

Sedih? Atau lebih tepatnya—cemburu?

Tidak. Tenten berhak bertemu dengan Ibu kandungnya. Dan mungkin, dialah yang harus siap ditinggalkan jika mungkin suatu saat nanti Tenten akan memilih untuk tinggal bersama Ibu biologisnya itu. Tentu saja tidak. Dia dan suaminyalah yang sangat berterima kasih karena telah diberi kesempatan untuk merawat dan membesarkan gadis panda-like itu.

.

.

.

.

Matahari sudah sedikit condong ke barat, bersiap memancarkan cahaya kemerahan menjelang senja. Distrik selatan pinggiran Konoha terlihat agak sepi dibanding pusat kotanya.

Kagayakina Tenten berdiri terpaku menatap sebuah rumah kosong—tak terawat di depannya. Sebuah rumah sederhana yang mungkin akan cukup nyaman ditinggali jika ilalang dan dan sulur-sulur tanaman menjalar itu dibersihkan. Cat putihnya sudah lapuk dan terkelupas. Jendelanya tertutup rapat dan terdapat beberapa sarang burung di sudut-sudut atas dinding terasnya. Mungkin sudah 9 tahun lebih ditinggal begitu saja oleh pemiliknya.

"Bener kok, ini alamatnya." Tenten bergumam sambil terus memperhtikan rumah kosong itu. Ia membuka pagar yang tidak terkunci itu dan mendekati terasnya. "Dè javu, atau memang tempat ini nggak asing."

Pintu depan berdecit ketika Tenten membukanya pelan. Cahaya matahari yang kekuningan menerobos masuk ruangan gelap itu melalui pintu yang terbuka. Gelap dan berdebu. Tidak mengerikan bagi Tenten, malah terkesan hangat—entah mengapa.

.

.

FLASHBACK

.

"Tenten?"

"Tenten. Tenten-chan, 'kan?"

"Y-ya. Anda siapa, ya?"

"Syukurlah..." wanita itu menghampiri Tenten dan tiba-tiba memeluknya erat—terisak. "Syukurlah, syukurlah, Tenten-chan..."

"Ma-maaf? Anda siapa?"

"Sudah lama sekali." Wanita itu melanjutkan—masih memeluk Tenten. "Tenten-chan sudah besar, ya..."

"Maafkan aku, tapi—" Akhirnya Tenten melepas pelukan wanita itu namun masih memegangi bahunya yang bergetar. "—Anda siapa?"

Wanita itu tersenyum simpul dan air matanya kembali menetes.

"Ibu."

Tenten terbelalak.

"Aku Ibumu. Yang mengandung dan melahirkan Tenten-chan." Wanita itu tersenyum sambil memegangi dadanya. "Gomen. Ne?"

"Bohong." Tenten mundur selangkah, menjauhi wanita itu. "Aku cuma sedang bermimpi."

"Gomen ne." Wanita itu kembali mendekati Tenten dan mendekapnya erat. "Gomen-nasai ne, Tenten-chan."

Air mata Tenten mengalir tak terkendali. Ia tidak ingin menangis, seperti saat ia kecil—menginginkan seorang Ibu dan keluarga yang akan memeluk dan menjaganya, layaknya teman-teman di panti.

"Sial." Tenten bergumam di antara isakannya.

.

FLASHBACK END

.

.

"Fuhh." Tenten meniup debu pada sebuah bingkai foto yang ia temukan tergeletak di atas sebuah bufet dekat jendela. Ia membersihkan kaca foto itu. And there it is. Sebuah foto yang membuat tangannya bergetar. Foto seorang wanita muda dengan rambut lurus diikat di bawah telinga kanannya, sedang menggendong seorang bayi perempuan dengan rambut dan mata kecoklatan. Bayi itu tersenyum lebar sambil menggenggam kerah kemeja biru ibunya.

"Kau lucu sekali waktu masih bayi, kau tahu?"

"Iya. Lucu sekali." Tenten menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari foto yang ia genggam. Ia tahu, wanita itu—Ibunya, sedang bersender pada frame pintu sebuah kamar, tak jauh dari tempat Tenten berdiri, "Kau juga cantik."

"Hmm, terima kasih." Wanita itu tersenyum ramah.

Tenten memperhatikan seluruh isi rumah itu lagi. Perabotannya masih lengkap meski sudah lusuh dan kotor. Matanya masih menelusuri setiap inchi penjuru rumah hingga akhirnya berhenti pada sebuah pintu kamar yang sedikit terbuka, di lantai 2.

Ia menaiki tangga menuju kamar itu, diikuti oleh sang Ibu biologis. Sebuah kamar yang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu sempit. Mirip dengan kamarnya di rumah keluarga Kagayakina saat ini. Jendelanya terbuka menampilkan halaman belakang yang tidak terlalu luas. Dari atas sana Tenten bisa melihat sebuah kolam ikan kecil yang sudah tak terawat. Air kolam itu masih jernih meski sebagian tertutupi oleh dedaunan kering yang berguguran. Bahkan beberapa ikan koi masih terlihat berenang di atas dasar kolam yang berlumut itu.

Tenten tersenyum dan duduk di atas sebuah doublebed dan sedikit mengernyit saat sadar bahwa ia telah menduduki sesuatu yang agak keras. Sebuah kalung berliontin kerang. Pasangan kalung yang dimiliki Tenten sekarang—yang kata Rin merupakan pemberian ibunya.

"Kau nggak menyimpannya?" Tenten mengangkat dan memperhatikan kalung itu.

"Nggak. Kusimpan di sini. Bersama barang-barang kenangan lainnya."

"Begitu." Tenten mengambil kalungnya sendiri dari kantung celana training-nya dan menggabungkan liontinnya. Ia tersenyum dan segera beranjak menuruni tangga, menuju pintu belakang rumah itu.

Ia berlari mendekati kolam kecil yang ia lihat dari jendela kamar atas. Tangannya bergerak menyingkirkan dedaunan kering di permukaan kolam. Ia menarik napas dalam-dalam dan menyemplungkan sepasang kalung yang sedaritadi digenggamnya ke dalam kolam itu.

Tenten menatap kedua liontin yang berkelip-kelip di dasar kolam berlumut itu. Si ibu biologis hanya tersenyum kecut melihat kejadian tadi.

"Tenten-chan," dia berjalan mendekati Tenten, "Kalau kau mau, aku bisa menyuruh orang untuk membersihkan rumah ini dan—"

"Arigatou," Tenten menatap Ibu kandungnya sendu. Ia memeluk erat wanita paruh baya itu, namun kali ini tanpa air mata yang membasahi pipi tirusnya. "Arigatou gozaimashita, Okaa-san..."

.

.

.

.

Mega senja menghiasi langit Konoha. Orang-orang berlalu lalang di trotoar dan jembatan penyeberangan, seperti hari-hari biasanya. Taman bermain sudah terlihat sepi, dan terlihat pula beberapa orangtua yang menjemput anak-anak mereka.

Panti Asuhan Konoha terlihat legang. Pagar setinggi 2 meter yang mengelilingi taman bermain tempat itu sudah terkunci. Tidak akan ada yang mengunjungi panti menjelang malam hari, saat burung gagak berbunyi dengan seraknya.

Senja. Matahari sudah akan benar-benar terbenam di horizon. Namun terdengar suara isakan halus di depan gerbang panti. Halus—nyaris tak terdengar. There she is. Tampak seorang gadis dengan seragam sailor SMA Konoha dan celana training, dengan rambut kecoklatan bercepol dua—sedang terduduk di depan gapura persegi putih itu—menangis. Kepalanya ia telungkupkan di antara kedua lututnya yang menekuk. Tubuhnya bergetar hebat, meski isakannya teredam oleh suara burung gagak yang berpulang ke sangkar mereka.

"Tenten-chan?"

Sebuah suara yang begitu ia kenal. Yang entah mengapa—sangat ia rindukan saat ini, mengingatkannya pada masa itu.

"Tenten-chan..."

Suara itu memanggilnya lagi. Begitu hangat terdengar di telinga Tenten. Pelan, ia mendongakkan kepalanya, melihat sosok yang sedang membungkuk di depannya. Seorang wanita berambut pirang sebahu, dengan blus ungu yang dipadukan dengan celana kain berwarna krem.

Miyu tersenyum ramah dan mengeluarkan sapu tangan dari kantung celananya. "Kau kusut sekali, lho." Ia mengusap airmata Tenten dengan lembut.

"K-kaa-chan..." Tenten masih terisak. Tangannya naik, menggenggam tangan Miyu yang mengusap air mata di pipinya, "...pulang, Kaa-chan."

"Iya," Air mata Miyu tak dapat dibendung lagi. Ia memeluk Tenten—erat, "Iya, sayang. Kita pulang."

Tenten hanya mengangguk di antara tangisannya yang tak juga reda. Miyu merangkulnya dan mereka berjalan membelakangi matahari yang sudah sepenuhnya terbenam, pulang ke tempat yang mereka sebut 'rumah'.

Bukan. Bukan sebuah kebetulan bahwa 18 tahun lalu seorang bayi perempuan bernama Tenten dititipkan pada Rin di Panti Asuhan Konoha. Bukan kebetulan ketika Tenten-7-tahun sedang menunggu dan menangis di depan gerbang panti, dan bertemu dengan Kagayakina Miyu yang menjemputnya untuk pulang bersamanya. Bukan kebetulan pula, jika beberapa menit lalu, kejadian yang sama seperti 11 tahun lalu kembali terulang.

Tenten hanya menunggu. Menunggu sang surya turut membawanya terbenam di balik horizon nun jauh di sana. Namun saat itu—bahkan sekarang pun, Kagayakina-lah yang menyinarinya, yang menghapus tetes air matanya, dan selalu menjadi tujuannya untuk pulang.

.

.

.

.

"Tadaimaaa, Kaa-chan,Too-chan!"

"Okaeri-nasai, Tenten-chan."

.

.

.

Ne, Neji.

Aku akan tetap menjadi Kagayakina Tenten—ya 'kan?

.

.

.

おしまいだよ

[It's The End!]

.

.


Author's Note :

*dogi : baju seragam untuk karate, yang warna putih itu lho! (bukan anjing! XD)

.

.

FIUUUUUUUHHH *ngelap keringat* akhirnya selesai juga neee (~_~)

Lumayan bikin juling mata seharian melototin monitor sambil ngetik nih fic.

Nah, nah, seperti fanfic NARUTO : The Series saya yang pertama, 'Dear Diary...', fic ini juga terinspirasi dari fanart saya dengan judul dan main chara yang sama ^^a

Err... sebenernya rada nggak nyambung sih, sama tu fanart. Soalnya kisah di fanart itu lebih fokus sama kepribadian gandanya Tenten, bukan kisah dia sama orangtua kandung dan angkatnya. Tapi berhubung saya lagi buntu ide buat itu jadi yaa begini saja hasilnya. Hahaha gomen naaa, minna-saaann~! Dx

Jelek dan typo di mana-mana kayaknya =="

*baca ulang* kok kayaknya lebih rapi kalo bikin setting AU yaa =="a

Ta-tapi meski begitu saya masih berharap ada yang bersedia baca dan review kok! Kritik dan saran sangat dibutuhkan! Flame juga boleh, asal BERMUTU! (bego', mana ada flame yang bermutu) (="=)

and ALSO a special special special BIG THANKS buat Van-chan (Ryuku S.A.J) yang udah nge-beta fic ini ^^

maaf sudah merepotkaaann *bungkuk-bungkuk*

Yosh, akhir kata どうもありがとうございましたfor reading this fic, aaaand...

Mind to Review, PLEASE~? xD

Salam,

Al-shira Aohoshi

a.k.a Andromeda no Rei