A Detective Conan fanfiction...

Case Closed belong's to Aoyama-sama *bow*

Memory~ A Detective Conan Fanfiction © RynAkane Darkberry

warn(s) : ooc, gaje, rush, de el el

rated: T

genre: romance/angst

CHAPTER 1

I don't know all the painful. but i act just like i know how it feels.

Teitan Senior High School~

Ran's pov-

"Sayonara Ran.."

"Matte! Shin..."

Plak! sebuah tepukan mendarat di pundakku. membuyarkan semua lamunanku.

"Sonoko! apa yang kau lakukan? mengejutkanku saja!" ternyata Sonoko Suzuki sahabat karibku dan juga putri pemilik Suzuki Corporation.

"Ah come on Ran! Kau memikirkan dia lagi, bukan? Shinichi." dia menebak pikiranku.

"Ran! Its been 2 years! Lupakan dia!"

"Sonoko, i can't. Tidak segampang itu!" aku berkata sembari mengalihkan pandanganku keluar jendela.

Terpaan angin lembut mengena ke wajahku. Helai-helai daun mapple yang mengering terjatuh ketanah, tak jarang angin membawa dedaunan itu menjauh.

"Ran, aku tahu ini sulit bagimu. Tetapi sampai kapan kau mau terus seperti ini?" dia menasihatiku.

"Shinichi sudah tidak ada Ran."

Aku menutup mataku dan menarik nafas dalam-dalam. Kuhembuskan nafasku. Kualihkan pandanganku ke salah satu bangku kosong di dalam ruangan kelas ini. Ya, tempat duduk Shin. Dalam bayanganku, ia ada disana. Tersenyum kecil sembari mengerjakan soal.

"Sonoko, i miss him."

Tanpa kusadari butiran kristal bening mengalir dari kedua kelopak mata ku. Sonoko memelukku erat. Bel tanda istirahat usai berdering. Seluruh siswa 12ipa1 kembali memasuki ruang kelas. Sensei juga sudah tiba dan pelajaran akan segera dimulai. Tetapi, aku tidak dapat berkonsentrasi sepenuhnya pada pelajaran. Pikiranku melayang, mengingat semua memoriku dengannya.

Normal pov~

"Arigatou, Mina-sensei." seluruh murid membungkukkan badan mereka dan mengucapkan terimakasih.

"Sampai jumpa anak-anak. Jangan lupa kerjakan pr kalian!" sang guru, Mina Kawachi tersenyum kecil dan berlalu meninggalkan kelas.

2 orang gadis remaja berjalan perlahan meninggalkan gedung sekolah. Yang seorang menghentikan langkahnya.

Ran Mouri menghentikan langkahnya. Berdiri dipinggir lapangan, tatapan nya lurus menuju sekelompok murid yang tengah bermain sepak bola.

"Kau mengingat Shinichi, Ran?" gadis berambut pirang disebelahnya bertanya.

"Hhh... Entahlah." ia menjawab sembari menghembuskan nafas.

Desir angin kembali menerpa. Dedaunan mapple terjatuh ketanah. Beberapa siswi tengah berbincang dengan teman-teman mereka sembari berjalan pulang.

"Hey girls!" seseorang menyapa mereka.

"Miss Jodie!" seru sang gadis berambut pirang.

"Yes, well, kalian belum pulang?" ia bertanya sembari menatap Ran dan Sonoko bergantian.

Sementara Sonoko dan Jodie berbincang, Ran hanya terdiam membisu. Ia menatap para pemain dilapangan tanpa henti, dirinya seolah melihat sosok pemuda bernomor punggung 20 yang tengah menggiring bola kearah gawang. Sepersekian detik kemudian tercetak sebuah gol. Pemuda itu kemudian berlari ketepi lapangan. Menghampirinya sembari tersenyum kecil.

"Huh, segitu saja pertahanan penjaga gawang? Ran, ayo pulang!"

"Shin..."

"RAN! " teriakan Jodie membuyarkan lamunan nya.

"Ah, ya, Miss Jodie? ada apa?" ia bertanya dengan gelagapan.

"Ran, come on dear, kau memikirkan Cool Guy ?"

"Ehm,, Ran tak pernah berhenti memikirkan almarhum suaminya Miss!" Sonoko menyela.

Ran hanya menundukkan kepalanya.

Kogoro Mouri office~

Mereka mungkin tidak mengerti apa yang Ran rasakan. Mereka tidak tahu dan bahkan tidak mau tahu. Perasaan sedih dan kehilangan yang gadis itu rasakan. Mereka hanya ingin dirinya tersenyum. Tapi apa mereka tahu batinnya selalu menangis?

"THEY'RE NEVER KNOW" Ran Mouri berteriak sekencangnya.

Peristiwa 2 tahun lalu telah mengubah segalanya. Mengubah hidupnya, perasaanya dan menghapus senyuman juga tawa dari wajah gadis itu.

Càfe de Noir~

Seorang gadis remaja berambut pirang dengan tubuh tinggi semampai berusia 17-18 tahun, tengah duduk disudut cafe dengan jaringan wi-fi itu. Tatapan nya tidak lepas dari layar laptop. Sesekali diseruputnya cappucino lattè yang dia pesan. Sejenak ia menutup layar laptopnya dan meregangkan tubuhnya. Pikiran nya buyar, seolah teringat akan sesuatu.

"Hhh.. Ran.. Sudah 2 tahun sejak kematian Shinichi, tetapi Ran tampaknya masih belum bisa melupakan nya." ucap gadis itu dalam hati.

Gadis itu memikirkan sahabatnya, Ran. Dia begitu mencintai Shinichi. Apalagi, mereka adalah teman sepermainan sejak masa kanak-kanak. Tentu tidak mudah bagi Ran melupakan Shinichi begitu saja. Dia juga bukan ingin menyuruh Ran melupakan Shinichi. Tetapi, rasanya dia sedikit tak tega terus menerus melihat sahabatnya itu terpuruk dalam ada yang bisa dia lakukan selain menyemangatinya.

"Shinichi, kenapa kau harus pergi? Apa kau tidak menyayangi Ran? Apa kau lupa janjimu pada Ran?" gadis tadi berseloroh.

Tiba-tiba datang seorang wanita berambut kuncir kuda.

"Sonoko,kan?" ragu-ragu ia bertanya.

"Kazuha! sedang apa disini?" balas sang gadis berambut pirang.

"Hanya berjalan-jalan. Menyegarkan pikiran."

"Heiji tidak bersamamu?"

Seorang pelayan datang dan membawakan daftar menu, kemudian mencatat pesanan gadis berambut kuncir kuda tadi.

"Heiji sedang ada urusan. Pekerjaan detektif katanya. Entahlah." ia menjawab sembari mengarahkan pandangan nya ke seisi cafe.

Seorang pemuda berkulit gelap memasuki cafe. Wajahnya lumayan tampan. Diarahkan pandangannya menyapu seisi cafe. Ia tampaj tengah mencari seseorang. Dilihatnya bangku disudut yang ditempati Sonoko dan Kazuha.

"Yo, Kazuha! Maaf, lama menunggu ya?" dikecupnya pipi gadis berambut kuncir itu.

"wah.. wah.. mesra nya! Jadi iri"

"Iri katamu? hahaha.. yang benar saja!" gadis berkuncir kuda itu tertawa.

Lelaki disebelahnya hanya tersenyum kecil.

"Ah ya Sonoko, Ran apa kabar?"

"Kau tau Kazuha, dia masih seperti dulu. Terkadang diam dan menangis."

"Shinichi juga, sebenarnya pasti tidak mau meninggalkan Ran." pemuda itu berkata. Sejenak, keheningan menyeruak ditengah mereka.

Heiji's pov~

Ya, aku tau seperti apa Shinichi. Betapa dia mencintai dan menyayangi Ran. Ran, baginya adalah orang penting. Tidak! Lebih dari itu! Ran adalah sosok yang paling berharga untuk Shinichi. Tapi takdir berkata lain. Tuhan memiliki rencana untuk keduanya. Yah, kuharap Ran dapat melalui semua ujian ini.

Normal pov~

"HEIJI !" gadis bernama Kazuha itu setengah berteriak memanggil pemuda disebelahnya, yang tampak sedang melamun.

"Kazuha! kau mau membuatku sakit jantung hah?" tidak terelakkan lagi, pemuda itu benar-benar kaget.

"Kau melamun bodoh!" ucap Kazuha dengan nada kesal.

"Sudah-sudah! kalian ini pasangan kekasih, tetapi bertengkar terus!" gadis berambut pirang menyela perdebatan mereka.

"KAMI HANYA TEMAN SEPERMAINAN SEJAK KECIL!" Heiji dan Kazuha berteriak bersamaan

"Well, Heiji, apa yang kau pikirkan?" tanya Kazuha.

"Shinichi." jawab heiji singkat. Sonoko terdiam. Begitupun dengan Kazuha.

"Shinichi." jawab heiji singkat.

Sonoko terdiam. Begitupun dengan Kazuha.

"Sebenarnya, apa yang terjadi 2 tahun lalu?" tanya Kazuha.

"Jadi...

TO BE CONTINUED~

MINNA... MIND TO REVIEW PLEASEEEEEE...

JUST KLIK SOMETHING DIBAWAH INI YAAAAH...

.

.

.

.