Naru-nii Suka Sasu nii-chan Lho...

Disc: Masashi Kishimoto

Pair: Naruto X Sasuke

Warn: OOC, AU, Shonen ai fic, gaje-ness, abal, typo, dll. Dont like dont read.

'...' mine

"..." talk

._._. X ._._.

"NARUTO-NIIIII..." seorang anak kecil berusia 5 tahun berlari dan menejerjang sosok yang ia panggil 'Naruto'.

"Kyoya-kun, ada apa?" pemuda bermata biru berbalik, mengusap anak kecil setinggi lututnya dengan lembut.

"Uum.. ano, di depan ada kakak ganteng yang sedang mencari Tsunade baa-san," jelas anak berambut hitam itu.

Naruto menautkan alisnya, 'Mencari Baa-san? Jangan-jangan dia...'.

"Ayo, Naru-nii, cepat!" anak kecil itu menggenggam pergelangan tangannya, lebih tepatnya jari telunjuk dan tengahnya saja yang tergenggam. Kemudian, ia mengikuti anak bocah yang menariknya.

"Pelan-pelan, Kyou-kun!" desah Naruto pada bocah yang kelewat tidak sabaran itu.

.

.

.

Sementara itu di sudut lain, tempat tersebut, nampak seorang lelaki muda sedang dikerubuti oleh banyak anak-anak kecil, laki-laki dan perempuan dengan usia rata-rata 5 sampai 6 tahun. Pemuda berwajah tampan tapi manis itu terlihat kelabakan saat anak-anak mengerumuninya.

"Nii-san, dari kota ya?"

"Nii-chan, manis sekali."

"Nama Nii-chan, siapa? Aku Hiroki."

"Uum.. aduh! Hey, jangan injak kakiku! Jangan dekat-dekat, sana-sana!" pemuda berkulit putih susu itu mencoba menghindari bocah-bocah itu.

"Nii-chan, namaku Ai, nama Nii-chan siapa?"

"Aku.." si raven kebingungan, sampai akhirnya, laki-laki lain muncul menenangkan keributan itu.

"Anak-anak, bukankah bel masuk sudah berbunyi?" para bocah itu berbalik, memandang ke arah lelaki blonde yang sedang berjalan menghampiri mereka. "Nah, cepat kalian kemabli ke kelas, nanti, kalau para guru masuk dan kalian masih ada disini, ibu guru bisa marah," ujar Naruto, lembut.

"Yaah.. Naru-nii nggak asik."

"Iya.." anak-anak itu satu persatu mulai membubarkan diri, masuk ke kelas mereka.

.

.

.

"Maafkan keributan tadi ya, anak kecil memang suka begitu, apalagi pada para pendatang," Naruto menyodorkan segelas air putih pada pemuda raven yang sedang duduk di hadapannya. "Namaku, Namikaze Naruto. Kau pasti Uchiha Sasuke? Benarkan?" tangan tannya terulur, berharap pemuda 'manis' itu menerima jabatan tangannya. Tapi..

"Mana Tsunade baa-san? Aku kesini untuk menemuinya, bukan kau," balasnya sinis, bahkan ia tak melirih sedikitpun pada tangan Naruto yang masih terjulur di depannya.

'Cih, si brengsek ini...' rutuk Naruto.

"Nenek, sedang ada urusan, mungkin sebentar lagi dia datang," jawabnya.

Sasuke mengurucutkan bibirnya, mendengus keras, lalu memutar bola mata hitamnya menyusuri ruangan itu.

"Ne, benar kau adalah guru baru untuk TK kami?" tanya Naruto pada pria yang sedang mengibas-kibaskan tangannya di depan mukanya, kegerahan.

"Kau sudah tau 'kan?" jawabannya yang terdengar ketus itu membuat Naruto mati-matian menahan amarahnya.

'Kuso!' umpat Naruto.

.

.

.

Naruto's POV...

Di ruangan kepala sekolah, ruangan nenekku, Tsunade, berkumpul 7 orang termasuk aku dan pemuda berusia 20 tahun yang menurut informasi, dia berasal dari kota. Uchiha Sasuke namanya. Lelaki tersombong yang pernah aku kenal itu sedang membicarakan mengenai fasilitas dan beberapa hal tentang taman kanak-kanak ini. Yah, sebuah sekolah sekaligus taman bermain untuk anak-anak usia 5 sampai 6 tahun di desa terpencil tempat tinggalku. Desa Oto. Desa yang diapit oleh dua kota besar, Suna dan Konoha. Dan yang membuatku heran, kenapa desaku ini tak terjamah oleh sentuhan kota, minim alat komunikasi, minim teknologi, dan tidak pernah terjamah tangan-tangan penduduk kota yang menurutku dapat membantu memajukan desaku ini. Namun sekarang, di depanku berdiri sosok yang beberapa jam yang lalu tinggal di kota. Uchiha Sasuke namanya, pemuda 3 tahun lebih muda dariku ini, akan mengabdi si sekolah ini selama 3 tahun. Dan tiga tahun juga, pria sombong itu akan menjadi rekan kerjaku dan para guruku yang lain. Aku tau pengetahuannya yang luas pasti akan sangat bergun untuk anak-anak disini, tapi demi Tuhan, sikap sombong dan menyebalkannya itu membuatku muak.

"Nah, Sasuke. Kau bisa tinggal bersama Naruto," suara perempuan yang kutahu milik nenekku menyadarkanku dari lamunanku. Dan yang paling penting, sekarang ini hanya tinggal aku, nenek dan Sasuke saja yang tetap disini.

Aku mengerjab-erjabkan mataku, dan berkata, "Tu-tunggu, nenek bilang apa?" tanyaku.

"Naruto, mulai malam ini, dia akan tinggal satu rumah denganmu," jawab nenek, tegas.

"A-apa? Tinggal, dengannya?" aku tergagap, shock.

"Naruto, kau tau juga tau kan kalau adat di desa ini melarang lelaki dan wanita yang bukan keluarga tinggal serumah, lagipula, kau tau bagaimana sifat kakekmu yang super pencemburu itu 'kan? Bisa-bisa, dia dibantai oleh kakekmu," Tsunade menjelaskan.

"Tapi, dia.." sudut mataku melirik ke arah Sasuke yang sedang memandangku tidak suka.

"Dia apa? Dia lelaki yang sopan? Lagipula, dia bisa jadi teman satu kosmu," tandas Tsunade.

"Aku tidak mau ting-".

"Nah, Sasuke, semoga kau betah tinggal dengannya," nenek menyela ucapanku, seakan-akan aku tidak ada saat ini.

"Nenek, aku belum bilang setuju 'kan..." ucapanku menggantung di udara ketika aku merasakan hawa dingin yang menusukku dari tatapan mata nenekku. Aku speecless. Bodohnya diriku ini, sudah jelas jika menolak keinginan nenek hanya akan mengantarku pada kematian. Oke, aku memang terlalu berlebihan. Aku menghela nafas dan melirik pada Sasuke yang tak banyak berkata apapun. Iris kami bertemu, biru dan hitam yang sangat bertolak belakang. Lagi-lagi aku menghembuskan nafas berat. Bertemu beberapa saat dengan bocah ini saja sudah membuat tekanan darahku naik. Apalagi jika selama tiga tahun? Oh.. seseorang bantu aku lepas dari penderitaan ini.

._._. X ._._.

Sawah hijau yang membentang di kanan dan sisi jalan, menjadi pemandangan yang menyejukkan hati tiap penikmatnya. Kecuali, jika tidak ada seorang pria emo di sampingku. Tunggu, pria emo saja bukan masalah bagiku, tapi yang ini, kenapa dan menyuruhku membawa koper-kopernya. Sial.

"Hey, Dobe!."

'A-apa? Dobe dia bilang?.'

"Dobe kau tuli ya?."

"TEMEEE! APA MAUMU HAH? DAN BISA KAH KAU MEMANGGIL NAMAKU?" raungku.

"Kau kenapa sih?" celetukannya membuat rahangku mengatup kuat. Kenapa Tuhan menciptakan mahkluk sebrengsek ini. Dan apa-apa wajah sok stoick itu. Menyebalkan.

"Dobe, apa rumahmu masih jauh? Aku sudah lelah," ujarnya sambil meregangkan otot lehernya.

"Disana!" aku menunjuk bangunan berlantai tiga, dimana salah satu kamar kosku berada. Dia menengok ke arah yang kutunjuk dan berjalan meninggalkanku. Oh, sungguh.. aku ingin melemparkan koper-koper ini ke arahnya, sekarang ini juga.

.

.

.

Normal POV...

Sasuke, pemuda itu langsung menghempaskan tubuhnya di sofa di kamar kos Naruto. Sedangkan si empunya rumah, juga melakukan hal yang sama. Onyx Sasuke bergerak melihat ke seluruh prnjuru ruangan, lalu ia berkata, "Tempat ini berantakan sekali Dobe," desah Sasuke.

"Aku tidak butuh komentarmu," balas Naruto. "Sudah bagus aku mau menerimamu," lanjutnya.

Sasuke tak membalas, hingga menciptakan keheningan diantara mereka berdua. Cukup lama. Sampai akhirnya...

"Aku mau bikin ramen, kau mau?" Naruto bangkit dari duduknya, mencoba bertanya baik-baik pada Sasuke yang sedang selonjoran di sofa panjang.

"..." tak ada balasan.

"Teme, mau tidak?" ulang Naruto. Tapi, Sasuke tak bergeming.

"Tem-..." Naruto bungkam saat mendengar dengkuran halus Sasuke. Karena wajahnya tertutup oleh sebelah lengannya, Naruto tidak menyadari jika si raven sudah tidur.

"Huu.. dasar sleeping prince baru tidur sebentar sudah mendengkur begitu," gerutu Naruto.

Meski begitu ia tanpa ragu menyelimuti Sasuke dengan selimut motif mini angin topan. Naruto cukup lama berdiri sambil memandangi sosok yang sedang lelap itu. Dan beberapa kali ia harus mengucek matanya hanya untuk memastikan jika mata birunya tidak salah lihat. Yup, salah lihat karena detik ini, ia sedang melihat 'malaikat' mempesona yang sedang tidur di atas sofanya. Wajahnya manis, terlihat 'cantik' seperti anak perempuan. Ditambah lagi, bibir merahnya yang terbuka itu, sangat serasi jika dipadukan dengan kulit putihnya. Tanpa sadar, Naruto menelan ludah. Dia ini bukan seorang yang orientasi sexnya menyimpang. Tapi, melihat sosok di itu, siapa saja pasti akan terpukau. Baik perempuan atau lagi. Lebih terpukau lagi jika dia diam dan tidak berkata...

"Kenapa kau memandangku dengan mesum Dobe?" Sasuke terbangun, risih dipelototi begitu, ia tentu saja berujar seperti itu.

"Hii.. siapa juga yang sedang melihatmu," sahut Naruto sedikit salah tingkah. Kemudian, dia melenggang pergi meninggalkan Sasuke.

._._. X ._._.

Pagi ini, matahari bersinar cerah di desa Oto. Semua warga sudah bersiap dengan kesibukan masing- masing. Tak terkecuali dua lelaki ini. Sasuke dan Naruto. Mereka berjalan beriringan menuju taman kanak-kanak. Spesialnya lagi, ini adalah hari pertama bagi Sasuke untuk mengajari anak-anak itu kecil itu pendidikan khas anak kota. Misalnya, belajar B. Inggris. Naruto masuk ke dalam ruangan berukuran 7 X 5 meter, dimana para murid-muridnya sudah menunggunya. Tidak sendiri, karena ada Sasuke yang mengekor di belakangnya. Lelaki yang akan menjadi patner mengajarnya selama tiga tahun ke depan.

"Pagi semuanya..." sapa Naruto pada siswa didiknya.

"PAGI NARUTO-NIIII..." sahut anak-anak itu semangat. Karena usianya yang baru 22 tahun, ia meminta pada murid-murid kecilnya itu untuk memanggil 'Nii' saja. Dia juga merasa risih jika harus dipanggil pak guru. Tidak cocok menurutnya.

"Pagi, ini. Nii-san membawa satu guru baru yang akan menemani kakak mengajar di kelas ini," ujarnya. "Ini, namanya Sasuke-nii... guru baru kalian," sambil tersenyum rubah ia mengenalkan sosok disampingnya.

"Hai, salam kenal semua, sesuai yang orang ini bilang, panggil aku Sasuke nii-" belum selesai bicara, kata-katanya di potong oleh murid-murinya yang lantang berujar.

"...-CHAAAANN..." Sasuke mendelik tidak percaya, dengan apa yang di dengarnya, 'Mereka panggil aku apa? 'chan?'.. itu 'kan..' gumamnya dalam hati.

Sedang Naruto terkekeh geli tapi masih bisa menahannya. Karena aura membunuh yang menguar di sebelahnya membuat bulu kuduknya berdiri.

"Anak-anak, panggil dia Sasuke 'nii-san', bukan 'nii-chan'!" Naruto menetralisir keadaan. '..walau panggilan itu cocok sekali untuknya,' imbuhnya dalam hati.

"Tidak bisa Naru-nii..." balas salah satu murid, panggil saja Ai.

Sasuke menautkan alisnya heran, begitupula Naruto, "Memangnya kenapa?" tanya Naruto.

"Soalnya, wajah Sasuke nii-chan kayak anak perempuan.. manis dan cantik.." imbuh teman sebelahnya, dan tawa dari anak-anak itu meledak seketika. Sasuke menggeram kesal, pelipisnya sudah dipenuhi oleh urat-urat kekesalan,

"Haha.. terserah kalian mau panggil kakak apa, tapi.." pemuda itu mengambil jeda sejenak sambil mendeath glare Naruto yang masih tertawa. "...tidak untukmu, Naruto nii-san..." ujarnya dengan suara yang dibuat separau mungkin, hingga menimbulkan efek-efek seram bagi Naruto yang mendadak berhenti tertawa. Lewat tatapan mata saja, Naruto seakan paham jika setelah ini Sasuke pasti akan membunuhnya.

"Ehem.. nah, hari ini kita belajar mewarnai..." Naruto memecah suasana mencekam barusan.

.

.

.

Pelajaran dimulai sejak setengah jam yang lalu. Sasuke sedang dikerubuti para murid perempuan, sedangkan Naruto murid laki-laki.

"Nii-chan, bagus tidak warnanya?" seorang gadis kecil menarik lengan kemeja biru Sasuke, sambil menunjukkan hasil karyanya.

"Bagus kok," katanya sambil tersenyum tipis tapi lembut.

"Sasu nii-chan, mawarnya yang bagus itu diberi warna merah muda atau kuning?" tanya anak yang lain.

"Uum.. mana yang lebih kamu suka? pink atau kuning?" Sasuke yang mendudukkan dirinya hingga tingginya sejajar dengan anak 6 tahun itu, balik bertanya.

"Kuning," jawab sang anak.

Sasuke kembali tersenyum, "Pilihan bagus, karena mawar kuning itu berarti suka cita, dan kebahagian," Sasuke mengelus rambut si anak sambil menyunggingkan senyum.

"Oh.. baik nii-chan," pipi tembem si anak memerah kala melihat senyum Sasuke. Sama seperti laki-laki dewasa yang sedang curi-curi pandang pada Sasuke, siapa lagi kalau buak Namikaze Naruto. Ia blushing seketika saat melihat senyum Sasuke yang menenangkan menurutnya.

'Dia benar-benar cowok ya?' tanya Naruto pada dirinya sendiri. Ia memandang tak jenuh ke arah Sasuke sampai sebuah pensil warna menimpuk kepala kuningnya.

"Ou.." ia langsung memandang nyalang pada anak laki-laki yang nyengir ke arahnya.

"Naru nii naksir Sasu nii-chan ya?" kata pelaku pelemparan tadi.

"Hey, kamu itu bicara apa sih? Kamu masih kecil tau, mandi saja masih dimandi'in," balasnya.

Anak bermata onyx itu mengembungkan pipinya, sebal.

._._. X ._._.

Hawa dingin memang selalu terjadi saat malam menjelang, berbeda dengan siang hari yang begitu panas. Dan sekarang ini, Sasuke dan Naruto sedang berada di kamar, tidur seranjang bertiga. Yup, bertiga. Karena diantara keduanya terdapat guling yang mengapit keduanya.

"Sasuke.. aku masih tidak menyangka jika kau bisa tersenyum tulus di depan anak-anak itu," Naruto membuka obrolan, mata birunya memandang ke langit-langit kamar.

"Hn.." balas Sasuke sambil menepuk-nepukkan Handphonenya mencari sinyal untuk mengirim email

"Padahal, aku pikir kau orang yang super nyebelin dan benci anak-anak," lanjutnya dan lagi-lagi hanya dibalas oleh 'hn' trademark Sasuke

. "Sasuke, aku masih penasaran kenapa kau mau berkerja di kampung seperti ini?" iris biru Naruto melirik Sasuke yang terlihat kesal karena sinyal HPnya belum juga ia dapatkan (?).

"Aku hanya bosan berada di kota, aku ingin mencari suasan baru," jawab Sasuke dengan selimut. Tidak peduli pada Naruto yang mengumpat-umpat tidak jelas.

.

.

.

Hari ini, Taman Kanak-Kanak sedang libur, jadi Naruto dan Sasuke memutuskan untuk beres-beres rumah. Merapikannya dan membersihkan bagian tidak perlu. Tidak butuh waktu lama, karena semua beres dalam waktu kurang dari sejam.

"Minumlah!" Naruto melemparkan sebotol air mineral dingin pada Sasuke yang baru saja menanggalkan slayer penutup kepala untuk mencegah debu-debu mengotori rambut hitam kebiruannya.

"Ne Suke, kita ke sungai yuk?" ajak Naruto.

"Untuk apa?" tanya Sasuke tetap dengan tampang datar.

"Mandi, disana airnya segar banget lho Teme," Sasuke terlihat sedang menimba-nimba.

"Oke."

.

.

.

Dan disinilah mereka sekarang, melewati jalan setapak menuju sungai yang memang masih bening. Tak jarang para gadis berteriak histeris saat melihat Sasuke lewat. Benar-benar seperti anak dewa yang turun ke tempat tak terjamah. Kulit putih yang terbiasa cahaya matahari benar-benar mempesona.

BYUUURR

Naruto segera melompat masuk ke dalam sungai, setelah melepas baju atasannya. Membiarkan celana pendeka tetap menempel pada tubuhnya.

"Ayo masuk Teme-chan, airnya segar lho," ujarnya sambil mengosok perut dan dadanya dengan air. Sasuke sempat menahan nafas melihat tubuh Naruto yang lumayan berisi itu. Eksotis dengan kulit kecoklatannya.

"Teme.. cepat, nanti kita bisa bergantian menggosok punggung," kata Naruto lagi. Menurut, Sasuke mulai membuka satu persatu pakaiannya. Dan tak butuh waktu lama, sampai boxer Sasuke yang tersisa di badannya.

.

.

.

Naruto's POV...

Ini pertama kalinya aku mandi disungai dengan Sasuke, iris biruku terus mengawasinya yang perlahan-lahan menanggalkan pakaiannya. Aku sempat dibuat menganga melihat kulit putih susunya, terlihat begitu halus seperti porselen. Sangat sempurna dengan lekukan-lekukan yang terpahat indah di tubuhnya. Mengangumkan. Ia mulai menceburkan dirinya ke dalam air, menyelam sebentar sebelum menyembulkan dirinya. Rambut yang biasanya menantang gravitasi terlihat lurus dan sedikit lebih panjang, dan poni yang menutup kening dan alisnya, membuatku lagi-lagi tak berkedip.

"Sudah kubilang jangan tatap aku dengan mesum begitu Dobe!" aku terkesiap saat Sasuke mencipratkan air ke arahku.

"Ha-habisnya, kau manis sekali," sahutku sedikit tergugup.

"Yang kemarin belum berasa ya?" Sasuke, dia menyeringai sambil meremas jari-jarinya bersiap menjotosku.

"Haha, aku bercanda kok," aku tertawa hambar ke arahnya.

Cukup lama aku dan dia bermain air, sampai kulit-kulitku menyusut. Tapi aku senang sekali. Seperti aku kembali menjadi anak-anak, menyenangkan. Dan sekarang, ini aku dan dia sedang berlomba mencari ikan, sekalian untuk makan siang, tapi...

"Kau tidak apa-apa Teme?" tanyaku pada Sasuke yang sedang tersengal-sengal.

"Aku lelah," jawabnya singkat.

"O-oke, ayo kita naik!" aku menjulurkan tanganku membantunya naik dan duduk ke atas bebatuan di tepi sungai.

Ia diam cukup lama, masih memulihkan tenaga rupanya. Sampai akhirnya, ia berujar, "Ayo kita pulang Dobe!" ajaknya setelah memakai kembali pakaiannya.

"Tapi ikan-ikannya?" aku memandangnya penuh tanya.

"Kita masak di rumah saja."

"Oh, oke.." aku bergegas memakai pakaiannku dan menyusulnya yang sudah berjalan mendahuluiku.

._._. X ._._.

TBC

._._. X ._._.

Haruskan fanfic abal ini dilanjutkan? Atau dihapus? Oke review ya..