Disclaimer: Naruto dan semua karakternya milik Masashi Kishimoto tersayang ~

Warning : complicated, ada sedikit adegan yang rada menjijikkan disini, siap-siap capek ya karena chapter ini panjang.

Didedikasikan untuk Jessica Jo, karena selama menulis ini saya teringat masa-masa SMA saya bersama dia.


Chapter 13

Karma

Telepon genggam Gaara berdering saat ia berjalan menuju lokernya pagi itu. Ia menjawab teleponnya, mendengarkan, memaki, lalu berhenti di depan lokernya. "Dimana?"

Sasori menjawab dari ujung telepon, "Di kawasan kumuh di pinggir kota, seberang bar Ikimoto."

"Kau sudah coba kesana?"

"Belum, aku dapat alamatnya dari pacarnya setelah memberinya seribu yen."

"Ya sudah, kau kemari saja. Pulang sekolah aku kesana," katanya sambil menggertakkan gigi. "Tidak ada orang yang bisa lolos begitu saja setelah menipuku." Gaara menghantamkan tinjunya pada pintu loker.

Sasori mengiyakan sebelum memutuskan pembicaraannya. Gaara kembali menyimpan ponselnya di saku, lalu menghembuskan napas kesal sambil mengacak-acak rambutnya.

Sudah sejak kemarin mood Gaara jelek akibat berita ini.

Ia biasanya mempercayai Sasori untuk bertemu dengan dealer obatnya dan melakukan transaksi. Sasori sudah menjadi seperti tangan kanannya dalam urusan ini. Sasori yang mencari orangnya, memastikan kualitas barangnya, dan Gaara-lah yang menyediakan uangnya. Beberapa bulan belakangan ini, Sasori selalu mendapatkan barang dari pria keturunan Irlandia bernama Suigetsu. Mendengar nama belakang Gaara, orang itu tak berani macam-macam dan selalu tepat waktu menyediakan barang bermutu terbaik.

Sampai minggu sore kemarin.

Sasori meneleponnya dari kantor polisi dan berkata bahwa dia dijebak. Di tempat ia seharusnya bertemu dengan Suigetsu, malah menunggu beberapa orang polisi yang menyamar sebagai pengedar. Lelaki itu pun tak bisa mengelak dan terpaksa ditahan sampai pengacaranya Gaara datang untuk membebaskan serta membayar uang jaminannya. Begitu tahu kalau Suigetsu-lah biang keladinya, Gaara bersumpah akan menemukan bajingan keparat itu dan menembak kepalanya. Dengan senang hati Sasori pun mencari alamatnya.

Namun, sebuah sisi pencuriga dalam diri Gaara menduga ada seseorang yang sengaja menjebaknya dengan menggunakan Suigetsu. Siapapun orang ini pasti membencinya, atau membenci namanya, lalu memanfaatkan adiksinya terhadap obat-obatan. Suigetsu hanyalah seekor tikus jalanan. Ia tak akan berani mencari masalah dengan seseorang bernama belakang sekuat Gaara. Kalau sampai dugaannya benar, mafia ataupun bukan mafia, Gaara akan membunuh orang itu dengan tangan kosong.

Gaara membuka loker dan membaca jadwal pelajarannya hari itu. Sejarah, Akuntansi, Matematika, dan sisanya pelajaran yang tak ia minati sama sekali. Ia hanya mengeluarkan buku matematika.

Setelah urusannya selesai, Gaara membanting pintu lokernya hingga tertutup. Bantingan tersebut rupanya cukup kencang hingga mengagetkan gadis pemilik loker di sebelahnya, yang kebetulan merupakan orang yang sama dengan gadis pucat yang ia bentak di halaman rumahnya hari Sabtu kemarin.

Gadis itu terkesiap saat pandangan mereka bertemu. Matanya yang sewarna bunga lavender spontan langsung turun ke bawah. Ia terlihat sangat culun dengan seragamnya yang kebesaran, roknya yang terlalu panjang, serta beberapa buku tebal yang ia peluk di dadanya sambil berusaha menyeimbangkan tali tasnya yang hendak melorot turun dari bahunya.

"P-Pagi, S-Sabaku-san..." Ia menyapa dengan suara gugupnya yang lembut. Senyumnya dipaksakan seakan-akan takut pemuda di hadapannya akan membentaknya lagi bila ia tidak menunjukkan keramahannya.

Mau perempuan itu senyum atau tidak senyum, Gaara tetap hanya akan mengangguk padanya. Sebenarnya ia agak berlebihan karena membentak cewek itu hari Sabtu kemarin. Tapi semuanya memang salah dia sendiri! Ia berusaha terlalu keras agar tak menyinggung orang lain. Namun usaha kerasnya tersebut malah membuatnya semakin menjengkelkan. Untungnya Kankurou dan Temari kemarin tidak tersinggung dan hanya tertawa melihat tingkah gadis itu. Mereka malah menyuruh Gaara agar sesekali mengundangnya makan malam. Tapi undangan itu ia rasa harus ditunda dulu untuk lain waktu. Bukan sekarang.

Mengabaikan Hinata yang masih menunggu ucapan 'selamat pagi' darinya, Gaara pun bergegas meninggalkan area loker dan berjalan menuju koridor.

"T-Tunggu."

Gaara tidak menganggap panggilan tersebut ditujukan padanya, jadi dia terus berjalan.

"T-Tunggu!" Persis di luar area loker, Gaara berhenti saat sebuah tangan mencengkeram ujung blazernya. Ia berbalik dan menemukan Hinata, masih dengan wajahnya yang takut-takut, balas memandangnya.

"Apa?" tanya Gaara dengan suara sedatar ekspresi wajahnya. Saat ini pikirannya sedang dipenuhi masalah. Ia tak punya waktu untuk meladeni problema orang lain, apalagi gadis ini.

Hinata mencoba menciptakan jarak di antara mereka dengan mundur selangkah. Ia takut kedekatannya akan memprovokasi lelaki yang kelihatannya sedang bad mood tersebut. "Umm... M-Maaf k-kalau kau sedang terburu-buru. T-Tapi..." Ia menyodorkan sebuah paper bag coklat ke arah Gaara, "A-Aku mau mengembalikan i-ini."

"Apa itu?" Gaara tak ingat pernah meminjamkan apapun pada gadis itu.

"B-Baju yang kau pinjamkan hari Sabtu kemarin. A-Aku sudah mencucinya. T-Terima kasih sudah meminjamkannya."

Gaara tak membuat gerakan apapun untuk meraih paper bag tersebut. Si gadis Hyuuga tersenyum canggung sambil tetap mengangsurkan paper bag yang nampaknya tak mau diterima lelaki itu. Setelah beberapa saat terdiam, Gaara akhirnya mendecakkan lidah.

"Kau serius berpikir aku mau berkeliaran di sekolah sambil membawa kantong itu?"

Hinata mengerjapkan mata beberapa kali, tanpa sengaja membayangkan bila Gaara benar-benar berkeliaran membawa kantong tersebut. Ia pun tak bisa mencegah senyum geli di bibirnya. Namun senyum tersebut langsung menghilang begitu matanya bertemu pandangan tajam si rambut merah.

Hinata berdeham, lalu mencoba menyarankan, "Ummm.. K-Kau bisa m-meninggalkannya di lokermu dulu sebelum..."

"Sebelum membawanya ke mobilku yang berarti aku harus berjalan ke parkiran dengan paper bag dari body shop itu. Tidak terima kasih."

"T-T-Tapi..."

Gaara sudah berbalik dan hendak meninggalkan Hinata sekali lagi saat ia teringat akan sesuatu. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Hinata masih di posisinya semula, kecuali mulutnya yang membuka menutup seperti ikan mas.

"Aku baru ingat kalau kau juga meninggalkan handphone dan bajumu di kamarku. Datanglah ke rumahku nanti."

Setelah mengatakan itu Gaara langsung pergi tanpa menoleh lagi.

Itulah yang dari tadi ia coba katakan. Handphone-nya! Ia ingin bertanya apa Gaara masih menyimpan handphone itu atau sudah menginjak-injaknya sampai hancur. Hari Sabtu kemarin ia sempat kalang kabut karena tak bisa menemukan handphone-nya. Tapi begitu ingat handphone malang tersebut tertinggal di sofa game room Gaara, Hinata langsung mempertimbangkan untuk membeli handphone baru karena ia tak yakin ia bakal berani kembali ke mansion keluarga Sabaku dan berhadapan dengan si pemuda berambut merah yang pemarah. Tapi dia tahu kalau dia beli handphone baru, ayahnya pasti akan bertanya apa yang terjadi dengan handphone lamanya. Salah satu hal yang paling dibenci Hiashi adalah pemborosan. Hinata bersyukur ternyata Gaara masih menyimpan handphone-nya. Ia tak rela bila harus kehilangan benda tersebut karena ia membelinya dengan uangnya sendiri.

Hinata menghela napas sebelum berjalan kembali ke loker untuk meninggalkan paper bag-nya disana. Sama seperti Gaara, ia juga tidak mau berkeliaran di sekolah sambil membawa-bawa paper bag dengan logo body shop itu. Bukunya saja sudah cukup berat.

Tanpa sepengetahuannya, interaksi singkatnya dengan Gaara tadi ternyata disaksikan oleh sepasang mata gelap yang berkilau keras.


Hinata tak bisa lebih bersyukur lagi setelah mengetahui bahwa ia memiliki jam makan siang yang sama dengan Ino dan Tenten pada hari Senin, Rabu, dan Jumat. Ia tak peduli bila hari Selasa dan Kamis ia tetap harus makan sendirian, yang penting dalam seminggu ada waktu dimana ia bisa makan bersama teman-temannya layaknya remaja SMA normal.

Hari itu cuaca sangat bagus. Matahari yang bersinar tak terlalu terik disertai angin yang bertiup lembut membuat sebagian besar murid Konoha Gakuen lebih memilih menikmati makan siang mereka di lapangan belakang daripada di kantin. Melihat tempat Hinata biasa duduk telah ditempati orang, Tenten pun mengusulkan agar mereka makan siang di gym. Hinata dan Ino tak menolak, malah Hinata mengaku kalau sesekali ia suka makan siang di gym kalau di luar terlalu ramai. Kalau udaranya bagus seperti hari ini, gym biasanya kosong. Kecuali untuk beberapa pasangan yang ingin bercumbu atau beberapa anak yang merokok sembunyi-sembunyi.

Topik pembicaraan mereka hari itu tentunya didominasi seputar kejadian yang hari Sabtu kemarin. Tidak seperti Hinata dan Ino, nampaknya Tenten sangat menikmati malam itu. Ia berhasil menggaet seorang cowok ganteng yang baik hati dan tak berpikiran kotor. Dengan mata berbinar-binar si gadis berambut cokelat itu menceritakan pengalamannya pada kedua temannya.

"Aku senang sekali waktu ia mengajakku ke pantai. Ia menyelinapkan satu krat bir dan kami minum-minum di pinggir pantai sampai subuh!" Tenten menangkupkan tangannya di pipinya yang memerah. "Setelah itu ia mengantarku pulang."

"Dia menciummu?" tanya Ino penasaran.

Tenten mengangguk-angguk dengan cengiran lebar. "Dia juga berjanji akan meneleponku."

"D-Dia sudah t-telepon?" Hinata yang sejak tadi tekun mendengarkan kini bertanya.

"Belum sih... Cuman dia udah SMS aku tadi pagi!"

Informasi itu membuat Hinata dan Ino ber-waw kemudian memberi selamat pada Tenten.

"Aku... Aku belum pernah pacaran," aku Tenten malu-malu. "Jadi... pengalaman ini benar-benar baru. Kuharap kalian bisa membantuku." Ia menatap Hinata dan Ino penuh harapan.

Hinata sontak mengibas-ngibaskan tangannya. "A-A-Aku juga belum pernah p-pacaran! I-Ino pasti lebih berpengalaman!"

Pandangan kedua gadis itu pun langsung jatuh pada teman mereka yang berambut pirang. "Aku cuman pernah pacaran sama satu orang. Dan aku tak yakin apakah aku benar-benar mengerti bagaimana cara menjalankan hubungan yang benar karena selama ini hubungan kami... seperti hubungan searah."

Hinata dan Tenten menggumamkan permintaan maaf mereka saat melihat wajah Ino yang sendu. Ino tadi sudah bercerita pada mereka mengenai malamnya di rumah Elise Northway. Keduanya terkesima mendengar cerita Ino tentang bagaimana Shikamaru menghajar Sasuke sampai babak belur. "Yah, mereka berdua yang babak belur sih," komentar Ino. Tapi entah mengapa mengetahui kalau Sasuke terluka karena dipukuli memberi sedikit perasaan senang pada Hinata. Mungkin ia terdengar jahat karena merasa seperti itu, tapi ia tak merasa bersalah karena sampai sejuta tahun pun Sasuke akan selalu lebih jahat darinya.

"Well, Setidaknya salah satu di antara kita masih bisa bersenang-senang semalam." Ino menghela napas sebelum melahap irisan wortelnya.

"Ngomong-ngomong, bagaimana denganmu Hinata? Dari tadi kamu belum cerita apa-apa," tanya Tenten dengan nada riang untuk mencairkan suasana.

Hinata nyaris tersedak spring roll-nya akibat pertanyaan tersebut.

Ino menoleh padanya dengan pandangan khawatir. "Kamu gak kenapa-napa kan waktu aku ninggalin kamu? Maaf ya aku kabur gitu aja sama Sasuke."

Hinata tersenyum kemudian menggeleng. "Tenang saja, aku gak kenapa-napa kok... cuman..." Ia mengalihkan pandangannya ke samping, "...ada sedikit masalah."

Dua gadis lain terkesiap. "Benarkah? Sama siapa?"

Hinata memainkan spring roll pada bentonya, lalu bergumam "S-Sakura Haruno..."

"APA?" Ino dan Tenten berseru bersamaan.

"Bagaimana bisa?"

"Apa yang terjadi?"

"Dia ngapain kamu?"

Pertanyaan yang bertubi-tubi tersebut membuat Hinata bingung. Ia pun mengangkat tangannya untuk menenangkan kedua temannya. "S-Sabar. A-Aku akan jawab s-satu-satu."

Hinata pun mulai bercerita bagaimana ia dijebak Elise Northway untuk minum sesuatu yang sampai sekarang masih belum diketahui Hinata apa saja campurannya, kemudian menceritakan semua yang Gaara ceritakan padanya hari Sabtu kemarin. Bagaimana ia jambak-jambakan dengan Sakura, mempermalukan Gaara, dan akhirnya terbangun di tempat tidur cowok itu.

Ino dan Tenten menyeringai nakal saat tahu bahwa Hinata tidur seranjang dengan Gaara di kamar cowok itu. "Aaa, kayaknya ada yang udah mulai gencar pedekate nih," goda Ino sambil menyenggol Hinata.

"K-Kami ga n-ngapa-ngapain kok!" Hinata mengelak sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

"Terus-terus gimana lagi? Dia anterin kamu pulang ga?" tanya Tenten menggebu-gebu.

"Engga." Hinata menghela napas, kemudian menceritakan insiden pagi itu. Ia memperhatikan saat teman-temannya ber-ooh, aah, dan bahkan ber-kyaa saat Hinata sampai pada episode dimana ia menarik lepas baju Gaara.

"Kamu telanjangin dia di ruang tamu?" Ino berdecak kagum. "Aku kalo jadi kakaknya sih udah ngacir keluar. Kok kakaknya malah tetep di situ ya?"

Wajah Hinata memerah, "K-Karena kakaknya yang satu lagi t-tiba-tiba masuk."

Ino dan Tenten pun heboh kembali. Mereka sibuk berkomentar bagaimana mendebarkannya kejadian tersebut. Ino berkata itu suatu pertanda bagus karena tak biasanya Temari Sabaku suka dengan cewek yang dibawa Gaara ke rumah. Menurut Sasuke biasanya kakaknya Gaara yang model itu bersikap dingin di sekitar pacar-pacarnya Gaara.

Mereka kembali tenang ketika Hinata melanjutkan ceritanya. Begitu ia sampai pada bagian dimana Gaara membentaknya, Ino dan Tenten memberinya pandangan simpatik. Ia juga menceritakan kejadian pagi tadi ketika Gaara dengan dingin menolak paper bag-nya dan malah menyuruhnya mengembalikan baju tersebut langsung ke rumahnya.

Mereka bertiga terdiam begitu Hinata selesai bercerita. Si gadis Hyuuga menghela napas kemudian kembali menekuni spring roll-nya lagi. Tapi mendadak ia terkesiap saat Ino dan Tenten tiba-tiba memeluknya.

"Jangan khawatir, Hina." Tenten tersenyum meyakinkan setelah melepaskan pelukannya.

Ino mengiyakan, "Dia itu udah mau repot-repot bawa kamu ke rumahnya. Sedikit banyak dia pasti peduli sama kamu. Mungkin dari kemarin sampai pagi ini dia lagi uring-uringan atau sedang ada masalah. Biasanya dia baik kok."

Ino dan Tenten merupakan orang ketiga dan keempat yang tahu tentang tantangan Sasuke pada Hinata. Mereka sangat bersemangat mengenai apa yang dipertaruhkan di tantangan tersebut, namun pada saat yang sama juga takut karena yang dipertaruhkan adalah perasaannya Hinata. Bagaimana kalau kamu sampai jatuh cinta padanya? adalah pertanyaan pertama Tenten begitu Hinata selesai bercerita tentang taruhannya pada Sasuke hari Jumat kemarin. Pertanyaan tersebut dibiarkan Hinata tak terjawab, sampai sekarang. Bukan karena ia menolak menjawab atau tak tahu menjawabnya. Hinata takut memikirkannya. Bagaimana kalau sampai dia yang jatuh cinta? Apakah ia rela mengorbankan perasaannya demi kenyamanan hidup SMA-nya?

"D-Dia gak akan b-baik lagi begitu tahu tujuanku." Hinata bergumam sedih.

"Kita akan berusaha supaya dia gak tahu, oke?" Ino tersenyum untuk meyakinkannya. "Aku bisa membantumu buat pedekate sama Gaara. Aku sudah kenal sama dia sejak dia pertama pindah kesini. Jadi, jangan khawatir ya? Sasuke pasti kalah!" Ia meninju udara dengan penuh percaya diri.

"Betul, Hinata-chan!" Tenten juga ikut menyemangati. "Lagian kamu 'kan udah dapat undangan spesial buat datang ke rumahnya malam ini! Jangan sia-siakan undangan itu. Pakai sesuatu yang bagus supaya dia kegoda."

Hinata langsung menggeleng. "Tidak. K-Kalau aku p-pakai macam-macam, n-nanti Gaara p-pikirannya juga macam-macam," kata Hinata, teringat pada insiden di kolam renang tempo hari.

Ino tampak berpikir sesaat. "Kalau gitu pakai sesuatu yang sopan tapi seksi. Bagaimana kalo sundress?"

Pembicaraan selama sisa makan siang itu pun didominasi dengan usulan-usulan dari Ino bagaimana cara menggaet Gaara. Hinata tak bisa menerima sebagian besar usulnya karena menurutnya terlalu berani untuk standar gadis seperti dirinya. Meskipun demikian, Hinata tetap senang mendengarkan teman-temannya yang berusaha untuk menolongnya. Ia tak bisa lebih gembira lagi karena tahu mulai dari sekarang ia tak akan sendirian lagi dalam usahanya untuk membuat Gaara menyukainya.


Matematika adalah pelajaran selanjutnya setelah makan siang. Biasanya sebelum bel berbunyi, Hinata sudah ada di dalam kelas. Namun tidak hari ini. Hari ini kelas sudah setengah terisi saat ia, Ino dan Tenten tiba.

Beberapa cowok terkikik saat melihat Hinata, beberapa bahkan menggodanya dengan berkata "Pertarungan yang bagus, Hyuuga! Dimana kau menyembunyikan sisi liarmu selama ini?" Tawa kurang ajar mereka terhenti saat Tenten memberi mereka pelototan maut. Tetapi, lain ceritanya begitu Hinata berpapasan dengan Sakura Haruno.

Gadis jenius berambut pink itu mendengus saat melihat Hinata. Ketika si gadis Hyuuga melewati bangkunya, ia berkata dengan penuh kebencian, "Cewek murahan. Tukang rebut pacar orang."

Hinata mengernyit mendengarnya. Tukang rebut pacar orang? Menurut gosip yang beredar, Gaara sama sekali tak terikat dengan cewek manapun. Hinata merasa takut karena Sakura ikut membencinya sekarang. Ia tak ingin menambah musuh lebih banyak daripada yang telah ia punyai. Selain itu, Sakura Haruno adalah orang yang berbahaya untuk dijadikan musuh. Karenanya, cepat atau lambat ia harus menemukan cara untuk meminta maaf pada gadis itu.

Dengan wajah murung Hinata pun mengambil bangku di belakang Tenten di baris ketiga.

Tak berapa lama kemudian, Miss Anko tiba. Setumpuk kertas berwarna putih di lengannya. Murid-murid terkesiap melihat kertas tersebut, karena itu hanya berarti satu hal.

Ia bertepuk tangan untuk mengembalikan perhatian kelas padanya. "Cepat ambil tempat duduk kalian, anak-anak. Hari ini kita kuis."

Seluruh kelas pun langsung mengerang.

"Saya beri waktu sepuluh menit untuk belajar. Hanya sepuluh menit!"

Atau lebih tepatnya hanya sebagian besar kelas, karena beberapa murid yang lebih pintar dengan cepat langsung membuka catatan mereka untuk mengingat rumus-rumus terakhir yang mereka gunakan, dalam kasus ini termasuk Hinata. Sementara untuk kategori yang jauh lebih pintar, seperti Sakura, tetap duduk tenang sambil mengawasi kelas yang ricuh dengan senyum tertahan.

Beberapa murid yang sadar kalau Anko tak akan membatalkan kuis ini meskipun di luar tiba-tiba hujan meteor, akhirnya mulai meminta sesi kuliah-trigonometri-sepuluh-menit pada murid-murid yang lebih pintar. Kelas pun semakin ricuh dengan banyaknya murid-murid yang mulai berdiskusi.

Hinata sibuk membolak-balik catatannya, memindai urutan-urutan penyelesaian trigonometri, kemudian memejamkan matanya untuk mengingat rumus-rumus yang penting. Di depannya, Tenten juga melakukan hal yang sama. Hinata menoleh ke samping dan melihat Ino dengan santai membolak-balik catatannya. Ino memang termasuk sepuluh orang dengan rangking tertinggi di angkatan mereka, jadi tidak heran bila gadis itu tak pernah panik bila ada ulangan mendadak. Si pirang itu tersenyum manis saat menyadari Hinata sedang menoleh padanya.

"Miss Anko suka ngagetin ya? Padahal Jumat kemarin gak ngomong apa-apa."

Hinata mengangguk-angguk setuju. "Iya."

Tiba-tiba Tenten berbalik, wajahnya panik menatap Ino. "Ino, ajarin aku soal di halaman 83!" Wajahnya seketika memerah saat melihat Hinata dan Ino yang menatapnya kaget. "Well, sorry ya kalau aku gak sepinter kalian berdua."

Hinata dan Ino terkekeh mendengarnya. "Ayo sini-sini," Ino memberi isyarat agar Tenten mendekat, lalu bergeser di bangkunya agar Tenten bisa duduk di sampingnya. Sementara si gadis pirang mulai menerangkan penyelesaian soalnya secara singkat agar mudah dimengerti, Hinata kembali menekuni catatannya.

Anko mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya pada lantai saat melihat murid-muridnya yang kalang kabut. "Saya tidak kasih tambahan waktu!" serunya pada kelas, kedua lengannya terlipat.

Di sela-sela keramaian terebut, pintu kelas mendadak terbuka. Ketukan kaki Anko berhenti saat menyadari ternyata tiga murid favoritnya-lah yang baru muncul. Gaara, Sasuke, dan Naruto melangkah masuk dengan wajah tanpa dosa. Sasuke, kancing blazernya telah terbuka semua, melangkah masuk tanpa membawa buku apapun. Dibelakangnya, Gaara tampaknya telah meninggalkan blazernya sembarangan di suatu tempat, ujung kemeja-nya berada di luar celana. Ia mengepit buku teks matematikanya di ketiak, sementara tangan kirinya memegang styrofoam dan tangan kanannya yang memegang sumpit menyuapkan sepotong spring roll ke mulutnya. Naruto dengan seragam sama berantakannya seperti Gaara dengan cuek menegak sebotol energy drink, dahi dan lehernya dihiasi butiran keringat.

Ketiganya sama sekali tak meminta maaf atas keterlambatan mereka. Jangankan minta maaf, menoleh ke Miss Anko saja tidak.

Seluruh kelas hanya bisa tercengang melihat aksi ketiga orang itu. Mengingat reputasi mereka bertiga, tak heran kalau mereka nekat melakukannya. Namun guru yang sedang mereka provokasi ini Mitarashi Anko! Guru wanita paling mengerikan nomor dua setelah Miss Tsunade!

Anko, tentu saja, tak membiarkan mereka lewat dengan mudah.

"Berhenti di situ." Anko memerintahkan dengan suara tenang, membuat trio tersebut berhenti. "Berbalik." Mereka berbalik. "Jelaskan."

Sikap Gaara yang cuek sambil tetap melahap spring roll-nya membuat Anko menggertakkan gigi. "Dengan segala hormat Mr. Sabaku, bisakah KAU BERHENTI MENGUNYAH?" Pada empat kata terakhir Anko telah kehabisan kesabarannya dan kelepasan membentak.

Gaara hanya terbelalak sebentar, kemudian dengan santai menutup kotak styrofoam-nya seakan-akan itu bukanlah masalah besar. Melihat Gaara, Naruto pun ikut menutup botol energy drink-nya. Di antara mereka bertiga, Sasuke-lah yang akhirnya memutuskan untuk bicara.

"Maafkan kami, sensei. Tadi kelas Akuntansi keluarnya lama sekali, makanya kami baru selesai makan siang sekarang," dusta Sasuke lancar.

Anko memberinya pandangan yang berkata kau pikir aku bodoh?. "Lalu kenapa kau membawa makanan ke kelas dan MANA BLAZER KALIAN?" Anko melotot pada dua muridnya yang tak ber-blazer.

Gaara tahu Naruto bukanlah orang yang pandai berbohong, karena itu dia-lah yang menjawab. "Blazer kami disembunyikan orang, sensei." Jawabnya kalem.

Sasuke harus berusaha keras untuk menahan tawanya yang hendak meledak akibat jawaban Gaara. Di belakang mereka beberapa orang terkekeh sembunyi-sembunyi di balik tangan mereka. Sementara itu Naruto hanya mengangguk-angguk dengan mimik muka serius supaya Anko percaya pada Gaara.

Anko menghela napas. "Jadi maksud anda disini, seseorang sedang mengerjai anda?"

Gaara mengangkat bahu dengan tampang polos. "Mungkin. Tadi kami melepas blazer sebentar karena kepanasan. Begitu mau memakainya lagi, sudah hilang."

"Kami tadi mau beli blazer lagi di koperasi tapi kami lagi ga bawa duit," sergah Naruto. Gaara dan Sasuke terbelalak ke arahnya, kaget mendengar kebohongan mengalir begitu lancar dari mulut teman pirang mereka.

"Dan saya," Sasuke menambahkan, "...menemani mereka ke koperasi untuk meminjamkan uang, tapi koperasi sedang istirahat. Makanya kami telat datang." Ia mengakhiri penjelasannya dengan menyunggingkan senyumannya yang bernilai jutaan dolar. Walaupun sedikit, tapi senyum tersebut ternyata juga berefek pada Anko.

Anko menghela napas lagi kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak perlu membaca pikiran ketiga pemuda itu untuk tahu kalau mereka berbohong. Seandainya saja yayasan tidak secara tegas mengingatkan para guru supaya jangan macam-macam dengan anak-anak Uchiha dan Sabaku, Anko pasti sudah menghukum mereka. Dia benci sekali dengan segala bentuk kolusi di sekolah ini. Hanya karena keluarga mereka donatur terbesar di sekolah itu, tindak-tanduk Gaara dan Sasuke pun selalu licin tanpa masalah.

"Baiklah, kalian kumaafkan. Cepat cari bangku, kita kuis hari ini." Trio itu terbelalak mendengarnya, lalu cepat-cepat mencari bangku yang aman (baca: dekat contekan bagus).

"Tidak ada makanan di kelas saya, Mr. Sabaku." Anko mengingatkan saat Gaara membuka styrofoam-nya lagi. Gaara hanya menyeringai padanya, kemudian dengan cepat menyelinapkan sepotong spring roll sebelum menutup styrofoam-nya lagi.

Naruto dengan senyuman sejuta watt-nya berhasil menggeser Shion, sahabat Sakura, dari tempat duduknya, memancing pelototan mematikan dari si gadis berambut pink. Tapi Naruto cuek dan malah cengar-cengir sambil berbisik-bisik pada Sakura supaya membantunya di kuis. Sakura merengut menatapnya, tapi karena ingat kalau bukan karena Naruto ia akan menjadi piala bergilir bagi sekelompok pemuda mabuk di pesta Elise Northway Sabtu kemarin, ia pun mengikhlaskan si pirang itu duduk di sebelahnya.

Sasuke, dengan keangkuhan dan kesangarannya, memberi Hinata pandangan mengancam yang seolah-olah berkata menyingkir dari bangku itu sebelum kucekik kau. Hinata yang secara naluri memang takut pada sosok Sasuke, tanpa banyak bicara langsung cepat-cepat membereskan buku dan membawa serta tasnya ke meja kosong di pojok belakang kelas, diagonal kiri belakang Sasuke. Ino nyaris menjerit melihat adegan itu, namun Hinata menghentikannya dengan menggeleng keras lalu tersenyum sambil berkata tanpa suara, "Tidak apa-apa."

Ino pun tak bisa berkata apa-apa lagi setelah melihat keyakinan di wajah Hinata. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Sasuke, kemudian berdesis. "Jangan harap aku mau memberimu contekan,"

Sasuke mengabaikan ancaman Ino. "Hai, honey. Kau cantik sekali hari ini." Sebelah matanya mengedip jail. "Kau mungkin tak mau memberikannya, tapi aku pasti mendapatkan apa yang kuinginkan."

Gaara terkekeh mendengar Sasuke. "Dasar bajingan," katanya sebelum mengambil kursi di sebelah kiri lelaki itu, di barisan paling pinggir dekat jendela. "Sialan, mau isi apaan nih nanti?" Ia mengerang sambil mengacak-acak rambutnya. "Oi, Ino!" Ino menoleh mendengar namanya dipanggil. "Jangan pelit-pelit sama Sasuke. Kau pelitin dia berarti kau pelitin aku juga."

Sasuke mengacungkan jari tengahnya ke Gaara. "Ino cuman kasih jawaban ke aku." Dia terkekeh.

"Bangsat," maki Gaara, tapi tak menanggapi omongan Sasuke dengan serius.

Sasuke sebenarnya adalah murid yang pintar. Namun karena kemalasan dan sifatnya yang selalu menganggap remeh, ia jadi bodoh. Ino adalah malaikat yang selalu membantu Sasuke agar rangkingnya tidak anjlok. Setiap ada PR, tugas, ataupun ujian, Ino selalu membantunya. Atau setidaknya begitulah sampai sebelum mereka putus. Sekarang, setelah mereka tak lagi berstatus apa-apa, Ino sama sekali tak berminat membantunya. Biar saja dia dapat rangking paling bawah, pikir si gadis pirang. Kalau Itachi sampai tahu nilai adiknya buruk di sekolah, kakaknya itu tak akan ragu memblokir semua kartu kreditnya.

Sementara itu di sisi lain Gaara memang sama sekali tak punya niat apapun untuk belajar. Nilainya jelek. Satu-satunya pelajaran dimana ia bisa dapat A hanyalah olahraga dan home economic. Olahraga karena memang pelajaran itu tidak pakai otak, sementara home economic karena ujian prakteknya selalu berkelompok. Sementara untuk pelajaran lain, Gaara biasanya mengharapkan bantuan dari Ino, atau dari Sakura ketika mereka dulu masih pacaran. Sebenarnya Gaara tak peduli bila dia dapat jelek di kuis hari ini. Toh, jelek atau tidak dia akan tetap naik kelas. Dewan guru tak akan berani menyuruhnya mengulang karena mulut mereka sudah disumpal dengan cek bernilai ratusan ribu yen dari ayahnya.

Hanya saja... bagi Gaara terkadang mengisi jawaban asal-asalan membuatnya malu. Malu pada guru yang nanti mengoreksi jawabannya. Saat melihat jawabannya yang jelek, Gaara sudah bisa membayangkan bangsat yang memeriksa kertasnya itu tertawa meremehkannya. Dia tidak suka ditertawakan. Tapi di sisi lain Gaara juga malas belajar, karena dia memiliki sangat banyak kegiatan ekstrakurikuler di luar sekolah. Gaara menyeringai. Oh yeah, dia tak bisa meninggalkan kegiatan ekstrakurikuler-nya sama sekali.

Ia menghela napas. Dia butuh rokok. Sejak pagi tadi belum sekalipun dia mendapat asupan nikotin dalam darahnya. Kuis ini hanya membuatnya dilema dan semakin membutuhkan rokok. Karena bermain bola dengan Sasuke dan lainnya tadi, Gaara tidak sempat merokok. Begitu bel berbunyi, ia bahkan belum sempat makan. Sebenarnya Gaara bisa saja bolos matematika lagi, tapi dia sudah menggunakan semua jatah bolosnya bulan ini. Jadi hari ini dia harus muncul. Tapi karena lapar membuatnya tak bisa berpikir (kayak dia pernah mikir aja kalau matematika), ia pun secepat kilat berlari ke kantin dan membeli sekotak spring roll mayones. Karena itulah saat masuk kelas tadi, ia masih berusaha menghabiskan spring roll-nya.

Gaara membuka styrofoam-nya di bawah meja kemudian mencomot sepotong spring roll lagi.

Sambil mengunyah, Gaara memperhatikan, di depannya duduk seorang anak pendiam yang ia tak ketahui namanya. Anak itu sedang sibuk grasak-grusuk dengan catatannya. Sekali lihat Gaara tahu anak itu tipe-tipe yang malas belajar seperti dia, tapi karena tidak punya uang sebanyak dia, anak itu tak punya pilihan lain kecuali melakukan apapun agar nilainya bagus.

Tidak bisa dicontek.

Pandangannya beralih pada gadis berambut cokelat yang duduk di diagonal kanan depannya, persis di depan Sasuke. Lagi-lagi orang yang tak dikenal Gaara. Tapi Gaara ingat dia sekelas dengan gadis itu di olahraga dan anaknya cukup mencolok. Dia pernah dengar orang-orang berbisik-bisik kalau cewek itu menguasai berbagai macam aliran bela diri. Tipe-tipe yang biasanya lulus dengan nilai pas-pasan. Bisa dicontek sih, tapi kevalidannya diragukan.

Gaara kali ini memang hanya bisa berharap pada Sasuke yang jawabannya berasal dari Ino.

Ia melirik pasangan yang saling memaki dengan suara rendah tersebut. Memakinya sebagian besar dilakukan Ino, sementara Sasuke terus-terusan menggodanya. Kemudian sekilas ia melihat Ino melemparkan pandangan meminta maaf ke belakang, ke belakang Gaara.

Secara otomatis Gaara pun berbalik melihat ke belakang. Pantas saja Ino dari tadi terus-terusan melihat ke belakang. Ternyata di belakang ada si gadis indigo yang sedang menunduk dengan mata memindai buku catatan bak mesin scan. Ia tidak terlihat panik ataupun grasak-grusuk. Gerakannya terkendali. Beberapa saat kemudian gadis itu mendongak, namun matanya terpejam. Gaara memperhatikan saat bibirnya yang penuh dan merah bergerak-gerak kecil menghapalkan rumus matematika seperti merapal mantera. Gadis yang gugupan itu bahkan tidak sadar kalau Gaara dari tadi memperhatikannya, tepat di hadapannya.

Sampai ketika dia membuka matanya, dan azure bertemu lavender.

Wajahnya pun berubah seperti tomat.

Gaara tak berkata apapun, ia tetap mengunyah spring roll-nya dengan tenang. Ia tahu cepat atau lambat gadis itu akan meminta maaf dengan terbata-bata lalu menundukkan kepalanya lagi.

"M-M-Maaf, S-Sabaku-san..." Hinata menundukkan kepalanya lagi.

Tuh 'kan.

Namun kali ini gerakannya tak seterkendali tadi. Tubuhnya gemetaran. Entah bagian mana dari wajah Gaara yang membuatnya gemetaran seperti itu. Tapi yang pasti Gaara tahu, dia sudah membuyarkan konsenterasi perempuan ini.

Hinata melirik ke arah Gaara dari balik poninya yang tebal. "B-Bukannya tidak boleh makan di k-kelas ya?" gumamnya.

Gaara hanya mengangkat bahu. "Mau?" Ia menyodorkan styrofoam-nya ke Hinata.

Hinata terkesiap menatapnya, wajahnya makin memerah, kemudian menggeleng. "T-Tidak, terima kasih. A-Aku sudah makan." Hinata juga makan spring roll tadi.

"Kau bisa ga?" tanya Gaara tiba-tiba.

Hinata baru mau bertanya bisa apa saat melihat pandangan Gaara terpaku pada catatannya. Ia pun mengerti apa maksudnya.

"Umm... l-lumayan." Ia merasa jawabannya terlalu pendek untuk orang yang dengan baik hati mau menawarinya makanan. "Kau?" tanyanya basa-basi.

Gaara tak menjawab. Ia terus-terusan menatap catatan Hinata. Catatan gadis itu rapi, tulisannya bagus. Gaara menatap kombinasi garis, lingkaran, serta diagram cartesius yang beberapa menit lagi mungkin menjadi jawaban di lembar kuis mereka. Gaara tak punya catatan, karena ia memang tak pernah mencatat. Tapi, seandainya saja ia bisa membuka catatan gadis itu di kolong mejanya, mungkin dia... Gaara mengerutkan hidung saat menyadari kalaupun punya catatan serapi itu di kolongnya, Gaara tetap tak mengerti apa isinya.

"Pinjam pulpen."

Hinata tak berkomentar pada Gaara yang tak menjawab pertanyaan basa-basinya. Toh itu pertanyaan basa-basi yang memang tak perlu dijawab. Dari gerak-geriknya Hinata sudah bisa menebak kalau Gaara sepertinya pasrah dengan kuis ini. Ia merogoh tempat pensilnya dan mengeluarkan sebuah bolpoin bertinta hitam.

"S-Silahkan."

Gaara menggumamkan terima kasih, kemudian berbalik. Spring roll-nya sudah habis. Ia menyelipkan sumpitnya di dalam styrofoam kemudian meletakkan bekas kontainer makanan tersebut di samping kaki mejanya.

"Yak, waktu belajar habis." Suara Miss Anko menggelegar di kelas, memancing kepanikan dari seluruh kelas. "Kertasnya akan saya bagi sekarang. Yang buku teks atau buku catatannya masih ada di atas meja tak akan saya bagikan." Ia mulai berkeliling dari baris pertama.

Gaara menyimpan buku teksnya di kolong meja.

Ia tak lagi cemas.

Saat semua kertas dibagikan dan Miss Anko telah memberi aba-aba untuk memulai, Gaara hanya mengetuk-ngetukkan bolpoinnya ke meja.

Biarkan sumber jawabannya mengerjakan jawabannya dulu, pikir Gaara.


Sudah bukan rahasia lagi kalau Mitarashi Anko memang merupakan salah satu guru yang paling tak-ingin-kau-bikin-kesal di Konoha Gakuen. Orangnya galak, susah dikelabui dan hukumannya paling sulit. Pokoknya Mitarashi Anko adalah stereotip guru yang paling dibenci murid-murid kebanyakan.

Hanya saja, ada satu hal yang membuat murid-murid menyukai kelasnya.

Ya, murid-murid ikhlas menerima bentakannya dan semua kegalakannya karena Mitarashi Anko punya kebiasaan yang unik saat sedang mengawas ujian. Lima menit sebelum ujian berakhir, ia biasanya mengecek handphone-nya. Padahal tidak ada SMS, telpon, bbm, email, atau apapun di handphone-nya, tapi ia tetap mengeceknya.

Kenapa? Tak ada seorang pun yang tahu. Dan orang-orang pun tak berniat mencari tahu.

Karena pada waktu lima menit yang berharga itu, Anko mengabaikan kelasnya sepenuhnya, membuat muridnya bebas melakukan apa saja. Termasuk mencontek.

Beberapa orang berteori kalau Anko tahu mata pelajarannya sulit, karena itulah ia memberi sedikit kemudahan pada murid-muridnya dalam ujian. Namun beberapa orang yang lain menentang teori tersebut dan berargumen kalau Anko memang tahu mata pelajarannya sulit, mengapa ia tak membuat soal yang lebih gampang saja supaya semua murid bisa mengerjakan?

Persetan dengan alasan yang manapun tapi Gaara Sabaku tak berniat menyia-nyiakan kebebasan lima menit tersebut.

Begitu Anko merogoh ponsel dari sakunya, Gaara dengan kegesitan bak macan kumbang langsung berbalik dan melihat jawaban Hinata. Gadis itu kaget akibat gerakan Gaara yang tiba-tiba, dan tercengang melihat betapa cepatnya cowok itu bolak-balik memutar tubuhnya.

Gaara akhirnya merasa pegal karena terus-terusan bolak-balik, maka ia pun memindahkan kertasnya ke meja Hinata kemudian dengan sewenang-wenang menyalin seluruh detail jawaban gadis tersebut. Ia sadar seluruh kelas juga sedang berbisik-bisik riuh rendah karena sedang saling membagi jawaban. Dengan konsenterasi penuh Gaara menulis secepat mungkin. Ia tak peduli bila tulisannya seperti ceker-ayam. Yang paling penting di otaknya saat itu adalah lima soal tersebut harus selesai dan Anko harus menyimpan tawa sinisnya untuk lain waktu.

Gaara sedang menyalin nomor terakhir ketika bel tiba-tiba berbunyi. Anko menyimpan kembali ponselnya lalu dengan suara menggelegar berseru, "Semua tangan berhenti mengerjakan, kertas dibalik, kalian boleh pergi. Yang masih mengerjakan, nilainya D!" Ia mulai berkeliling mengumpulkan kertas. "Mr. Takafumi! Berhenti menulis!" Saking kagetnya namanya disebut Anko, Takafumi terlonjak dan menjatuhkan bolpoinnya. Ia tak beruntung hari itu karena duduk di barisan pertama.

"G-Gaara-san... W-Waktunya sudah habis..." Hinata memprotes pelan sambil perlahan-lahan menarik kertasnya menjauh dari Gaara.

"Bentar." Gaara mencengkeram tangan Hinata, menghentikan gerakan gadis itu. "Tanggung."

Sasuke sudah berdiri dari kursinya, Naruto juga. "Oi, Gaara. Diluar ya?" kata Sasuke pada si rambut merah sebelum meninggalkan kelas. Gaara hanya menggumamkan jawabannya karena fokusnya saat itu masih tertuju pada soal nomor lima.

Begitu Anko tiba di barisan ketiga, matanya menangkap Gaara yang masih menyalin. "Mr. Sabaku!" serunya tepat saat Gaara menuliskan jawaban akhir pada kertasnya yang berupa angka nol.

"Iya, jalang. Udah kelar," sergah Gaara sebelum melepaskan tangan Hinata. Ia pun mengembalikan kertasnya ke mejanya dalam posisi terbalik. Kemudian menghembuskan napas yang tak sadar dari tadi ditahannya.

Di belakangnya Hinata juga menghembuskan napas lega, namun kelegaannya jauh berbeda dengan kelegaan Gaara. Ia lega karena Gaara melepaskan tangannya. Ia takut bila cowok itu tak segera melepas tangannya, ia mungkin akan meledak saking gugupnya.

Begitu tenang kembali, Hinata mulai membereskan tasnya, lalu berdiri. Di depannya, Gaara juga berdiri. Ia mengembalikan bolpoinnya pada Hinata sambil mengucapkan "Thanks," sebelum meninggalkan si gadis Hyuuga begitu saja untuk mencari Sasuke dan Naruto di luar kelas.

Hinata ternganga menatap sosok berambut merah yang tak sekalipun menoleh ke belakang itu.

Thanks? Cuman thanks setelah dia mengkopi SELURUH jawabanku? Hinata terkadang takjub bagaimana seseorang bisa begitu egois, menjengkelkan, dan tak tahu terima kasih sampai rasanya ia ingin memotong kemaluan pria itu lalu mengumpankannya pada sekelompok burung perkutut.

Hinata terkesiap pada pikiran brutal yang baru saja melintasi benaknya. Mungkin ini efek karena terlalu banyak berada di sekitar cowok itu?

Karena tak pernah mendapatkan perhatian berlebihan dari orang-orang di sekelilingnya, tidak heran bila Hinata Hyuuga tak pernah menjadi sasaran contekan siapapun. Ini adalah kali pertama seseorang mencontek jawabannya. Orang bilang menjadi sasaran contekan itu bukanlah hal yang buruk, karena suatu saat kau pasti akan membutuhkan contekan dari orang lain. Tapi seumur hidupnya Hinata tak pernah mencontek dari orang lain! Ia bahkan tak yakin ada orang yang mau memberinya contekan!

Dan orang-orang lupa bilang kalau ternyata dicontek itu rasanya sangat menyebalkan. Dicontek itu rasanya seperti vandalisasi terhadap kerja kerasnya selama ini.

Wajah Hinata merengut ketika bergabung bersama Tenten dan Ino di itu di belakang pikirannya ia ingin sekali menendang selangkangan si pemuda berambut merah yang sudah mengopi jawabannya seenak jidat itu.


Agama Katholik adalah salah satu kelas yang selesai paling akhir pada hari Senin sore itu. Kelas itu bukanlah kelas yang populer karena memang bukan mata pelajaran wajib dan tidak begitu berpengaruh pada nilai rapot. Murid-murid yang mengikutinya biasanya murid-murid yang kelewat rajin dan tentunya sangat religius. Selain itu, fakta bahwa Sakura Haruno, salah satu trend-setter akademis di Konoha, tidak mengambil mata pelajaran itu membuat Agama Katholik semakin tidak populer.

Kecuali untuk anak seculun Hinata Hyuuga.

Ya, Hinata Hyuuga adalah salah satu dari total delapan orang di angkatan mereka yang mengikuti kelas Agama Katholik pada hari Senin sore itu.

Bahkan Tenten dan Ino terkejut saat mengetahui bahwa teman mereka Hinata merupakan salah satu dari delapan orang yang dijuluki 'Misionaris Konoha' yang mengikuti kelas tersebut. Padahal Ino pulang sekolah hari itu Ino berencana mengunjungi dojo milik keluarga Tenten yang menurut gadis itu anggotanya terdiri dari cowok-cowok lucu dan ganteng dari SMU tetangga. Ino merasa matanya butuh sedikit hiburan setelah kepalanya dibuat pusing oleh Sasuke yang terus-terusan merecokinya hari itu.

Namun karena Hinata harus berkumpul dengan kelompok misionaris-nya (begitulah sebutan Tenten untuk kelas Agama Katholik), rencana ke dojo Tenten pun dibatalkan.

Sebelum pulang Ino berpesan, "Jangan lupa datang ke rumah Gaara nanti malam ya! Ingat, itu bajuku yang ada di rumahnya," ujarnya bercanda. "Kalau kamu butuh bantuan untuk berdandan, jangan ragu telpon aku." Ino mengedipkan sebelah matanya.

"Aku juga, aku juga!" seru Tenten tak mau kalah. "Yah walaupun gak bisa dandan tapi aku bisa kasih support moral ke kamu kan?" ujarnya sambil nyengir.

Saat itu Hinata yakin bahwa dua gadis tersebut adalah jawaban Tuhan atas doa-doanya yang panjang di malam hari. Ia masih tak menyangka kalau dia bukan lagi makhluk soliter di Konoha Gakuen yang kehidupannya sekeras hutan rimba ini. Ia punya teman sekarang. Dua orang teman yang cantik dan baik hati.

Hinata meyakinkan mereka kalau ia akan baik-baik saja dan berhubung ponselnya masih tertinggal di rumah Gaara, ia akan menelepon mereka lewat Skype nanti malam kalau-kalau ia butuh bantuan.

Ia tersenyum saat mendengar bunyi langkah kakinya yang menggema di koridor sekolah yang sepi. Saat itu sudah jam lima lewat. Semua kelas dan kegiatan klub sudah selesai. Satu-satunya tanda-tanda kehidupan di dalam Gedung SMA Konoha Gakuen hanya berasal dari para petugas kebersihan serta beberapa murid yang baru selesai kelas Agama Katholik.

Alih-alih berjalan menuju pintu keluar, Hinata malah berbelok menuju area loker tujuh tempat lokernya berada. Masih ada beberapa barang yang perlu diambilnya, yaitu beberapa buku teks untuk dipelajari di rumah nanti serta paper bag berisi pakaian Gaara.

Saat tiba di area lokernya, lampu-lampu ternyata sudah dinyalakan, yang berarti sebentar lagi gedung SMA akan ditutup. Hinata lega saat melihat pintu lokernya masih bersih dari coret-coretan seperti tadi pagi. Beberapa hari ini sama sekali tak ada tanda-tanda orang menjahatinya, kecuali sindiran Sasuke yang biasa. Hinata sangat menghargai hari-hari yang damai ini, namun pada saat yang sama juga takut. Takut ia akan terbuai dengan kenyamanannya hingga pertahanannya menurun dan ia akan syok bila mendadak mereka mulai mengerjainya lagi.

Namun ini sudah hampir empat hari! Biasanya dalam dua hari saja sudah ada yang akan menjahili barang-barang miliknya.

Mungkinkah orang-orang sudah mulai bosan dengannya dan mencari target ba...

Hinata membuka pintu lokernya.

...ru?

Darah pun seketika meninggalkan wajahnya.

Ia mundur selangkah, dua langkah. Kedua tangannya menutupi mulutnya yang ternganga tak percaya sebelum ia menjerit sekencang mungkin. Jeritannya panjang dan histeris. Air mata mengalir deras di pipinya saat ia jatuh terduduk, masih tetap menjerit.

Sesore itu tidak ada lagi orang lain selain dirinya di area loker tujuh. Seluruh petugas kebersihan sedang membereskan kelas, sehingga tak ada yang mendengar jeritan horor si gadis Hyuuga.

Disana, di lokernya, terdapat sebuah bangkai ayam berbulu cokelat dengan leher patah. Darah segar yang menetes dari leher ayam tersebut menggenang di sekitarnya, mengotori semua isi loker Hinata, termasuk paper bag berisi pakaian Gaara. Tak hanya itu, bersandar pada tubuh si ayam yang malang terdapat sebuah boneka voodoo. Boneka voodoo tersebut berbentuk seorang wanita, dengan rambut panjang yang terbuat dari benang wol indigo, dan mata terbuat dari sepasang manik-manik berwarna perak.

Sudah lama sekali Hinata tak menangis sehisteris itu. Terakhir kali ia menangis seperti itu dua tahun yang lalu saat perceraian ibu dan ayahnya. Ia menangis menjerit-jerit di luar rumah meminta supaya ibunya tak meninggalkan Jepang.

Bukannya mereda, tangisan Hinata makin lama malah makin mengencang seakan-akan semua emosinya dari masa lalu tercampur menjadi satu dan tumpah melalui tangisan tersebut.

Apa lagi salahnya kali ini?

Kenapa mereka begitu kejam padanya?

Hinata terus menangis di tempatnya hingga bau amis dari bangkai ayam menusuk hidungnya dan membuatnya muntah.


Mungkin ini yang namanya karma.

Begitulah pikir Gaara saat ia menekan pedal gasnya dalam-dalam, membawa Range Rover-nya ke kecepatan tinggi. Hal itu bukanlah hal yang bijak mengingat saat ini ia bukan di jalan tol alih-alih jalan boulevard biasa.

Sejak meninggalkan Hinata di kelas tadi, ia mendadak jadi sial. Blazernya yang ia sangkutkan asal-asalan di cabang terendah salah satu pohon di lapangan belakang hilang tanpa jejak. Kebohongan yang diucapkannya pada Miss Anko pun menjadi kenyataan.

Kemudian setelah pulang sekolah ia, Sasuke, Naruto, serta beberapa teman mereka yang lain mendatangi apartemen si keparat Suigetsu berdasarkan alamat yang ditemukan Sasori. Tapi bajingan itu tak ada di rumahnya, karena saat mereka mendobrak masuk lewat jendelanya, dia sudah kabur. Tikus jalanan itu sudah kabur dengan kejunya.

Nampaknya tak ada tetangga yang mendengar aksi mereka. Namun mereka tetap tak bisa mengambil resiko berada disana karena bisa-bisa disangka maling. Berurusan dengan polisi adalah hal terakhir yang diinginkan Gaara saat itu. Maka mereka pun kembali berkendara tanpa membawa hasil apa-apa menuju rumah keluarga Uchiha, tempat Gaara biasanya menghabiskan waktu bersama teman-temannya bila ia tidak sibuk dengan game-nya di rumah.

Begitu sampai, Sasori langsung sibuk menelepon banyak orang. Gaara tidak tahu berapa banyak kenalan yang dimiliki lelaki itu, tapi Gaara percaya ia akan membawa mereka ke Suigetsu cepat atau lambat. Lebih baik cepat, karena kalau Suigetsu tetap berhasil lolos, Sasori-lah yang akan kena getahnya.

Saat pria itu sibuk dengan teleponnya, Naruto sibuk merangkai kesimpulannya sendiri.

"Pasti pacarnya! Dia pasti kabur setelah dikasih tau pacarnya kalau kita akan datang setelah Sasori keluar dari penjara. Bajingan tengik, aku bersumpah kalau aku melihat muka busuknya akan kupastikan dia dan pacarnya tak akan bisa punya anak selamanya." Gaara berjengit mendengar kekasaran temannya. Naruto seperti memiliki kepribadian ganda. Di depan teman-temannya ia bersikap layaknya gangster, namun begitu Sakura disodorkan di hadapannya, sikapnya langsung berubah menggemaskan seperti anak anjing. "Pengecut itu gak akan bisa kabur kemana-mana begitu aku selesai dengannya."

Gaara hanya mengambil sebotol bir dan membiarkan Naruto terus bercuap-cuap. Berbicara tanpa henti seperti itu adalah salah satu cara Naruto untuk melepaskan kemarahannya. Gaara kemudian menyalakan rokok, menghisapnya dalam-dalam sebelum menjatuhkan dirinya ke sofa.

"Lupa beritahu kau tadi," Sasori telah selesai dengan teleponnya, ia juga menjatuhkan dirinya di sebelah Gaara. "Deal kita yang baru akan terlambat seminggu."

Gaara merengut padanya. "Seminggu? Apa yang terjadi? Ada yang ngeganggu kita?"

"Masih dipaketin." Dia meregangkan lehernya, diikuti kedua lengannya, "Anak baru ini rada penakut, tapi dia terpercaya. Dia cuman lambat gara-gara takut sama yang berwenang, kau mengerti 'kan? Dia sudah pernah tertangkap lebih banyak dari kau."

"Persetan sama yang berwenang." Gaara menjentikkan debu rokoknya ke arah Sasori, lelaki itu mengernyit sambil menepuk-nepuk debunya menjauh. "Kuharap anak itu gak kayak Suigetsu, atau kau yang akan bernasib sama kayak Deidara."

Sasori sangat tahu apa yang terjadi pada Deidara. Ia dulu berteman cukup dekat pria berambut pirang keturunan Amerika itu. Tapi lelaki itu malah nekat menipu Gaara dan mencoba menyeret Sasori ke dalam masalahnya. Sasori, yang memang lebih memilih persahabatannya dengan Gaara daripada Deidara, kemudian menjebak Deidara atas perintah Gaara. Keesokan paginya, Deidara terbangun di pinggir jalan antar-provinsi yang antah berantah dan jarang dilewati orang. Pria itu harus menyeret dirinya puluhan mil sebelum bertemu seorang pengemudi truk yang menemukannya dalam kondisi setengah hidup.

Sejak saat itu Sasori bersumpah pada dirinya ia tak akan pernah mengkhianati Gaara.

"Terserah kau, Gaara." Sasori nyengir ke Gaara.

Naruto melempar kaleng bir kosong ke arahnya, ia tak terlihat senang. "Dia mencoba menghancurkan kau Gaara." Bila mereka mengalami musibah semacam ini, Naruto selalu saja menyalahkan Sasori. "Dari awal kalau dia ga bawa Suigetsu ke kita masalah ini gak akan terjadi."

Sasuke tiba-tiba muncul di ruangan, baru selesai menelepon kakaknya untuk meyakinkan bahwa dia adalah anak baik di rumah. "Tapi kau juga yang nikmatin barang dari Suigetsu, 'kan? Bohong kalau kau bilang kau tak suka barangnya."

Kalau Naruto berubah menggemaskan di depan Sakura, maka Sasuke berubah menggemaskan di depan kakaknya. Di hadapan kakaknya nada suara Sasuke langsung berubah menjadi semanis getah pohon kamper di musim panas. Tapi dia harus mengakui kalau di antara mereka semua, Sasuke lah yang paling bebas. Karena pekerjaan, kakaknya hanya pulang ke rumah seminggu sekali. Lain dengan Gaara yang bila tak ada kakaknya, akan ada seorang baby sitter kepo yang menjaga rumahnya, atau Naruto yang ibunya sangat galak dan Sasori yang neneknya juga tak kalah galaknya. Oleh karena itulah rumah Sasuke selalu dijadikan markas mereka.

"Kecuali yang terakhir." Naruto mendengus.

Sasuke mengambil bir sebelum berbaring pada sofa di seberang Gaara dan Sasori. "Iya. Makanya itu kita harus cari dia secepat mungkin, ya kan Sasori?" Ia mengerling ke arah Sasori.

Tampaknya bukan hanya Gaara dan Naruto yang sudah siap membunuh Suigetsu.

"Keparat itu harus tahu kalau dia cari masalah dengan orang yang salah," ujar Gaara sebelum berdiri dari tempatnya. "Aku mau pulang."

"Eh? Kok...?" Sasori melemparkan pandangan bingung.

"Tumben cepet?" tanya Sasuke, sebelah alisnya terangkat.

"Ini masih jam tujuh," kata Naruto setelah melirik jam antik raksasa di seberang ruangan.

Gaara meraih ponselnya yang tadi ia letakkan di atas meja. "Ada orang yang handphone-nya ketinggalan di rumahku."

"Terus?" Sasuke memasang tampang seolah-olah alasan Gaara adalah alasan tertolol di dunia, "Emangnya gak ada orang di rumahmu yang bisa ngembaliin?"

Sasuke tampaknya menyentuh poin yang tepat karena gerakan Gaara terhenti.

"Aku harus kembalikan sendiri," jawabnya setelah beberapa saat, kemudian langsung berbalik pergi sebelum Sasuke makin mencecarnya.

"Hati-hati, ya!" seru Sasori saat Gaara beranjak pergi.

"Palingan juga cewek. Tapi dia gak mau bilang ke kita." Naruto mengangkat bahu kemudian memutuskan mengecek dapur untuk melihat apa ada sesuatu yang bisa dijadikannya camilan.

Sasuke tak berkomentar terhadap dugaan Naruto. Firasatnya mengatakan ia tahu siapa orang yang handphone-nya tertinggal itu. Tanpa sengaja sebelum menuju kelas pagi tadi ia melihat si tolol Hyuuga menghampiri Gaara dan menyodorkan sebuah kantongan yang ditolak pria itu. Apapun yang membuat Gaara pulang lebih awal hari ini pastilah sesuatu yang berhubungan dengan kantongan yang kemudian ditinggalkan si Hyuuga di lokernya itu.

Perlahan-lahan sebuah seringai licik muncul di bibir Sasuke. Bahkan Sasori yang tak tahu apa-apa pun merinding melihat seringai tersebut.

"Sebentar lagi dia pasti balik," ujar si Uchiha dengan nada yakin. "Orang yang ditunggunya gak bakalan datang."


Kata-kata Sasuke tadi sebetulnya benar, hanya saja Gaara terlalu malu untuk mengatakan kalau ia merasa karma akan semakin bersikap congkak padanya bila ia tak mengembalikan handphone-nya si Hinata Hyuuga secara langsung.

Setelah dipikir lagi, Gaara merasa kalau ia juga tak cukup berterima kasih atas bantuan gadis itu di matematika tadi. Pasti perempuan itu menyumpahinya dalam hati. Makanya dari tadi dia terus-terusan kena sial.

Ia sudah menyuruh gadis itu datang ke rumahnya malam ini, dan kalau sampai ia tak muncul di pintu depan menyambut gadis itu, sumpahan gadis itu pasti akan bertambah banyak dan ia akan makin sial.

Gaara bukanlah orang yang terlalu religius, tapi ia percaya bahwa ada suatu kekuatan di luar sana yang menggerakkan karma. Temari dulu pernah bilang, bila masalah terus-menerus mendatangimu seperti penyakit gatal, maka kau pasti pernah melakukan suatu kesalahan di masa lalu.

Nasihat bijak dari Temari tersebut entah mengapa selalu menempel di otaknya, dan suara melengking kakaknya itulah yang pertama kali terngiang di telinganya saat usahanya menangkap Suigetsu tadi gagal.

Suatu kesalahan itu pasti berhubungan dengan Hinata Hyuuga.

Lalu lintas jalan pada Senin malam itu begitu padat. Gaara tak bisa membawa mobilnya lebih cepat dari tiga puluh kalau ia tak mau menabrak Volkswaagen di depannya yang jalannya seperti keong. Ia beberapa kali menyalakan lampu jauhnya untuk memberi kode pada si Volkswaagen merah supaya berjalan lebih cepat atau membiarkannya menyalip. Tapi seperti pria tua keras kepala, Volkswaagen itu tetap berjalan dengan kecepatan awalnya.

Lima belas menit kemudian, Gaara akhirnya berhasil melewati daerah yang terkenal dengan jalannya yang konon merupakan jalan terpadat di dunia, Shibuya. Ia akhirnya memasuki kawasan yang lebih lengang, Konoha Street, kemudian memotong jalan lewat depan sekolahnya sebelum berbelok ke Daishi-shistreet.

Dai shi-shi street merupakan jalanan yang ramai di siang hari karena terkenal dengan restoran-restoran cepat sajinya. Namun begitu matahari terbenam, restoran-restoran yang berjejer dari Manhwa Square sampai Ketekesu tersebut tutup, sehingga orang-orang menyerbu Kanagawa street yang merupakan pusat jajanan, restoran, serta bistro malam hari. Karena itulah tak heran bila Dai shi-shi street di malam hari sama sepinya seperti komplek pemakaman.

Di mulut sebuah gang yang merupakan daerah bayang-bayang gedung yang tak tertimpa cahaya lampu jalan, Gaara melihat beberapa orang pria berdiri mengerumuni sesuatu. Tidak perlu seorang jenius untuk menebak apa yang dilakukan pria-pria tersebut.

Sesuatu yang berhubungan dengan tindakan kriminal pastinya.

Namun itu bukan urusannya, dan Gaara sama sekali tak berniat menjadikan urusannya. Sampai ketika mobilnya melewati kerumunan pria tersebut, dari kaca spion Gaara menangkap sesosok gadis dengan rok yang terlihat begitu familiar.

Kaki kiri Gaara secara otomatis menginjak pedal rem. Badannya terlempar ke depan akibat rem mendadak tersebut. Ia membuka kaca dan menengok ke belakang, ke arah kumpulan pria mencurigakan tersebut.

Benar dugaannya.

Yang sedang dikerumuni bangsat-bangsat itu adalah seorang perempuan berseragam Konoha Gakuen.

Dan bukan sembarang perempuan.

Gaara turun dari mobil tanpa mematikan mesinnya.

Perempuan itu adalah Hinata Hyuuga.

Gaara bisa mengenalinya dari manapun karena hanya cewek itulah satu-satunya gadis di Konoha yang memakai seragam seculun itu.

Begitu mendekat, Gaara menyadari bahwa mereka terdiri dari tiga orang, salah satunya mencekal kedua tangan si Hyuuga dari belakang, juga membekap mulut gadis itu. Kaki-kaki gadis itu menendang-nendang tanpa arti saat seorang pria lain merobek seragamnya. Sementara sisanya yang satu tampaknya bersenang-senang dengan menggores leher gadis itu menggunakan ujung pisau. Ketiganya tertawa-tawa mesum sambil mengeluarkan komentar-komentar jorok tentang tubuh gadis itu.

Gaara tak membuang dan langsung mencengkeram bahu bajingan yang merobek seragam Hinata dan menendang kepalanya. Pria itu mengeluarkan sederetan sumpah serapah.

"Lepaskan gadis itu, monyet."

Gaara menghantamkan tendangannya sekali lagi pada pria itu dan sukses membuatnya jatuh terkapar di tanah. Dua orang lainnya kaget dengan serangan Gaara yang tiba-tiba. Melihat temannya yang terkapar di tanah, si bajingan berpisau langsung menerjang ke arah Gaara, ujung pisaunya diarahkan tepat ke mata kiri si rambut merah.

"Mmmph!" Hinata yang mulutnya masih dibekap berteriak memperingati Gaara. Wajahnya bersimbah air mata saat usahanya untuk melepaskan diri dari cengkeraman pria di belakangnya sia-sia akibat tenaga pria itu yang lebih kuat darinya. Kakinya yang mengenakan converse menginjak-injak kaki penangkapnya tanpa daya.

Hasil perkelahian bertahun-tahun sejak sekolah dasar membuat Gaara dengan mudah menghindari pisau tersebut. Ia menangkap tangan penyerangnya, kemudian memelintirnya ke belakang hingga terdengar bunyi 'krak' mengerikan. Si penyerang menjerit histeris akibat sambungan tulangnya baru saja bergeser. Gaara tak memberinya ampun dan menggebuk wajah pria itu dengan dengkulnya hingga yakin tulang hidung pria itu patah.

Gaara menoleh pada bajingan terakhir yang masih nekat menahan Hinata.

"J-Jangan bergerak," Si penangkap mundur selangkah, menyeret Hinata dengannya. Ketakutan terdengar jelas dari suaranya. Siapa yang tidak takut melihat remaja yang melumpuhkan dua pria yang bertubuh lebih besar darinya hanya dalam waktu dua menit? "A-Atau kupatahkan leher perempuan ini," ancamnya.

Setiap langkah mundur yang dia ambil membuat Gaara melangkah maju.

"JANGAN BERGERAK KEPARAT!" Pria itu berteriak histeris saat Gaara semakin mendekat.

"Lepaskan dia." Gaara, masih tetap melangkah maju, berkata dengan tenang.

Pria itu masih bersikeras menolak melepaskan Hinata meskipun Gaara telah memungut pisau yang tadi dijatuhkan temannya. Ia masih tak bisa menerima kenyataan bahwa yang menghajar mereka babak-belur adalah seorang bocah SMA.

Dalam sekejap Gaara tiba-tiba sudah berada di depan Hinata, dengan lihai ia menancapkan pisau di tangannya pada leher pria tersebut. Jeritannya terputus saat ia kehilangan kesadaran dan jatuh ke tanah. Darah berwarna merah pekat menetes-netes dari lehernya.

Begitu belenggunya terlepas, Hinata langsung jatuh ke pelukan Gaara. Kedua lengannya memeluk erat tubuh lelaki itu seakan-akan itu adalah hal terakhir yang bisa dilakukannya di dunia ini. Gaara menghembuskan napas saat merasakan air mata gadis itu merembes melalui kemejanya dan membasahi kulitnya.

Dengan canggung dia melingkarkan lengannya di punggung gadis itu, kemudian menepuk-nepuk kepalanya. Entah mengapa gerakan Gaara tersebut membuat isakannya makin keras dan pelukannya makin kencang.

"K-K-K-Ka-Kalau k-k-kamu ga datang... a-a-aku..." Ia mencoba bicara disela-sela isakannya.

Gaara mengangkat Hinata, lalu membopong gadis itu di lengannya. "Sebaiknya kita pergi dari sini," katanya sambil berbalik. Dari ekor matanya ia melihat tas kulit milik Hinata yang tergeletak di pinggir trotoar. Ia membungkuk untuk mengambil tas tersebut dengan Hinata tetap berada di lengannya sebelum berjalan kembali ke mobilnya yang terparkir beberapa meter dari tempat tersebut.


Hinata berbaring menyamping di atas tempat tidur Gaara. Matanya memandang kosong pada sebuah titik di lantai. Lagi-lagi ia mengenakan salah satu kaus milik pria itu yang terlalu kebesaran untuknya. Kipas angin yang menempel di langit-langit berputar pelan menciptakan dengungan lembut serta angin yang menenangkan.

Di seberang ruangan, Gaara duduk di depan komputer, jari-jarinya mengklik mouse dengan lincah saat matanya terfokus pada game di hadapannya.

Hinata sebenarnya masih ingin menangis, tapi ia merasa hari itu air matanya sudah terkuras habis. Ia bahkan tidak memprotes apa-apa saat terbangun dan menemukan dirinya sedang dimandikan oleh seorang gadis pelayan yang tak ia kenal di sebuah jacuzzi yang ia tahu berada di dalam kamar mandi pribadi Gaara Sabaku. Ia juga tak berkomentar apa-apa saat pelayan Gaara membantunya memakai salah satu kaus milik pria itu. Ia, masih tetap tak berkata apa-apa, kemudian berbaring di tempat tidur Gaara seakan-akan itu tempat tidurnya, dan seperti wanita jalang tak tahu terima kasih mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pria itu padanya.

Gaara, menyerah pada kebisuan gadis itu, akhirnya memutuskan untuk membiarkannya merenung. Kemudian menghibur dirinya sendiri dengan game online favoritnya.

Ia tak tahu apa yang harus dilakukan oleh seorang pria saat menghadapi seorang wanita yang hampir diperkosa. Wanita itu seharusnya berkata sesuatu, memaki, menyumpah, menangis, merajuk, apapun. Tapi si Hyuuga ini malah sediam batu.

"Kau mau makan?" tanya Gaara untuk yang kesekian kalinya, pandangannya tak berpindah dari layar.

"Mm." Akhirnya Hinata menggumamkan sesuatu. Suaranya terdengar serak.

"Mau kuambilkan air?" Gaara menoleh padanya. Hinata tersenyum kecil, lalu mengangguk.

Gaara pun meninggalkan komputernya, berjalan ke kamar mandi dan mengisi sebuah gelas kristal dengan air keran. Ia kembali ke tempat tidur dan memberikannya pada Hinata.

Gadis itu duduk di pinggir tempat tidur saat menghabiskan airnya dengan rakus. "Thanks," Ia berbisik pelan sebelum mengembalikan gelasnya pada Gaara.

Gaara meletakkan gelas tersebut di atas meja samping tempat tidur, lalu duduk di samping Hinata. Gadis itu beringsut ke tengah tempat tidur sebelum merebahkan dirinya di sana. Gaara melakukan hal yang sama. Selama beberapa saat mereka berdua hanya berbaring diam di sana, menonton kipas yang berputar pelan dengan gerakan monoton.

Bagi orang biasa hal itu pasti terasa canggung. Namun entah mengapa bagi Gaara saat itu terasa sangat damai dan menenangkan. Sudah lama sejak terakhir kali ia merasa sedamai itu.

"S-Sepanjang ingatanku..." Hinata tiba-tiba berkata, memecahkan keheningan di antara mereka "...d-dia selalu membenciku." Gaara tidak menjawab, namun tetap mendengarkan. Hinata pun melanjutkan, "S-Sudah ratusan kali aku memikirkan... apa kesalahan yang pernah kuperbuat hingga d-dia sebenci itu p-padaku."

Gadis ini pasti berbicara tentang Sasuke, pikir Gaara.

"D-Dulu kupikir... d-dia cuma membenci kakak sepupuku, Neji-nii-san. T-Tapi bahkan setelah N-Neji-nii-san pindah, d-dia tetap menyiksaku."

Nama itu terdengar familiar di telinga Gaara. Neji, Neji, Neji... dimana ia pernah mendengarnya?

"T-Tidak hanya d-dia seorang... t-tapi dia juga membuat orang lain membenciku." Ia menarik napas, kemudian menghembuskannya perlahan. "S-setiap malam... aku b-berdoa bahwa semua ini hanyalah mimpi... dan begitu aku terbangun, akan a-ada beberapa orang yang bisa kupanggil t-teman di sampingku. H-Hanya itu yang b-bisa kulakukan."

Gaara melirik sekilas ke arah Hinata dan melihat gadis itu tersenyum getir.

"K-Kurasa Tuhan mendengar doaku, k-karena Dia m-memberiku Ino dan Tenten." Senyumannya melembut. "K-kupikir aku akan l-lebih kuat d-dengan mereka di s-sisiku..." Senyumannya perlahan memudar. "Tapi Sasuke ..." Ia tak menyelesaikan kalimatnya saat suaranya pecah menjadi tangisan.

Ia berbalik menghadap Gaara kemudian membenamkan wajahnya di lengan lelaki itu. "A-A-Aku takut Gaara... A-Aku t-takut sekali s-sama d-d-dia..." Isakannya makin kencang. "B-Ba-Bangkai ayam...d-dan b-boneka itu..." Ia tak menyelesaikan kalimatnya karena menangis.

Gaara terbelalak mendengarnya. Ayam mati? Boneka? Apa gadis ini membicarakan apa yang Gaara pikir dia bicarakan?

"Tunggu." Gaara berbalik menyamping menghadap Hinata, tangannya menangkup pipi gadis itu agar ia dapat melihat wajahnya. "Apa maksudnya bangkai ayam?"

Dia masih menangis seperti anak kecil, wajahnya merah, pipinya basah, namun ia tetap berusaha menjawab, "B-Boneka v-v-voodoo. B-B-Bentuknya aku."

Bangkai ayam dan boneka voodoo...

Gaara merengut saat mengerti situasinya.

Dia sudah keterlaluan, pikir Gaara dongkol. Pantas saja cewek ini histeris.

Gaara menghapus air mata Hinata dengan jari-jarinya, kemudian menepuk-nepuk bahu gadis itu. "Sudah, sudah..." katanya mencoba menenangkan. "Itu bohongan. Jangan dipikirkan."

"Itu beneran!" Dia tiba-tiba mencengkeram bahu Gaara. "A-Aku merasa k-kutukannya m-mendekat. S-Setelah menemukan b-boneka itu d-di lokerku, t-tiba-tiba sekolah j-jadi gelap. A-Aku l-lari k-keluar, a-aku y-yakin s-seseorang m-mengikutiku." Ia menindih Gaara sekarang, matanya melebar penuh ketakutan, suaranya panik mencoba meyakinkan pria itu. "W-Waktu di jalan, t-tiba-tiba ada o-orang ini, m-m-mereka mulai menahanku, m-merobeki bajuku, i-i-ini gara-gara v-voodoo itu!" Ia histeris sekarang.

Gaara bangkit duduk kemudian mendekap kepala Hinata di dadanya sambil mengelus punggung gadis itu. "Itu cuman bohongan. Aku yakin itu cuman bohongan." Gaara menjauhkan tubuh mereka sesaat untuk menatap mata gadis itu. "Dengar baik-baik," Hinata masih terus menangis. "Oi, berhenti menangis!" Gaara menegaskan suaranya, mengguncang-guncang bahu gadis itu. "Dengar, kita akan membakar boneka itu kemudian aku akan menghajar dukun yang membuat bonekanya, mengerti?"

Gaara mengulangi kalimatnya berkali-kali hingga akhirnya tangisan Hinata mereda dan ia pun mengangguk mengerti.

Baru kali ini Gaara secara tulus mengasihani seorang gadis karena apa yang terjadi padanya memang patut dikasihani. Tahun-tahun yang dilaluinya akibat ditindas Sasuke menciptakan teror luar biasa dalam pikirannya. Rasa takutnya pada Sasuke serta voodoo palsu itu pasti membuatnya berhalusinasi. Belum lagi bajingan-bajingan pemerkosa yang makin memperparah keadaan itu.

Gaara merebahkan dirinya di kasur, tangannya menarik Hinata agar kepala gadis itu rebahan di dadanya.

Setelah perempuan ini tertidur, Gaara perlu menelepon seseorang.

Ia tahu siapa orang suruhan Sasuke di balik semua ini.


Nah loh saya ga bohong waktu saya bilang panjang kan?

Capek ga bacanya? Ini chapter terpanjang yang pernah saya tulis loh. Ehehehe.

Sedikit penjelasan mengenai chapter ini. Bangkai ayam biasanya digunakan orang-orang Afrika untuk mengirimkan kesialan pada orang yang mereka benci. Sementara boneka voodoo, yah kalian pasti tahu, digunakan untuk mengutuk orang yang dibenci.

Karena itulah Hinata histeris banged waktu nemuin dua barang itu di lokernya. (Siapa yang ga freaked out ya kalo nemu bangkai di lokernya?)

Terima kasih sebanyak-banyaknya buat para readers yang dengan baik hati mereview serta memfavorite cerita ini! Beberapa bahkan ada yang memfavorite saya sebagai author. Saya sangat terharu hikshikshiks

Review yang saya dapat di chapter sebelumnya menurun drastis ya dibandingkan chapter" lain? Ada apa temen-temen? Lawless udah ga gitu seru lagi ya? :(

Oke deh semoga chapter kali ini lebih menghibur dibandingkan chapter sebelumnya. Bila ada pertanyaan, komentar, kritik, atau saran jangan ragu untuk mengklik tombol review, ok? Seperti kata orang bijak, reviews are what keeping the story alives #opoziii ahahaha.

Sekian dulu author's note dari shiorinsan.

Sampai jumpa di chapter berikutnya!

xoxo

shiorinsan