Aloha semuaaa...gimana kabarnya? Baik-baik sajakah? Ada yang kangen sama Tabita ga' nie? *Ngarep* V^^ Tabita mohon maaf sama reader semua karena ga' bisa update cepet, kilat, petir, guntur, atau apalah itu namanya terserah. Tapi semoga chap ini hasilnya tidak mengecewakan ya...Okelah kalau begitu ini dia chapter 10 JENG...JENG...!

Second Wedding

By

Tabita Pinkybunny

Disclaimer :

Sejak pertama kali diciptakan hingga kini,

Naruto masih tetap punya

Masashi Kishimoto

Pairing :

SasuSaku dan ItaSaku

Warning :

Cerita GaJe, typo, ancur dan berantakan.

Humor garing dan ga' lucu.

Don't like, don't read !

No flame !

Summary :

Apa jadinya jika Sakura yang istri Sasuke

tiba-tiba mengalami amnesia dan

justru menganggap Itachi sebagai suaminya ?

Chapter 10

"Sa...Sakura...aku..."

"Kenapa kau lakukan ini padaku, Sasuke-kun? Kenapa kau jahat padaku? Aku ini benar-benar takut sekali kehilanganmu. Bukankah dulu aku pernah bilang padamu, aku akan memilih mati saja jika sampai kau pergi meninggalkanku. Karena hidupku tak akan pernah ada artinya lagi jika kau tak ada disisiku. Ingatkah kau, Sasuke-kun?"

"Ka…..Kata-kata itu…..Sakura, kau….."

"Ya, Sasuke-kun. Aku…..Aku sudah ingat semuanya."

Dengan susah payah Sasuke mencoba bangkit dari posisi berbaringnya. Ia gunakan besi penyangga disisi kanan dan kiri ranjang rumah sakit sebagai tumpuannya. Dan Sakura dapat melihat jelas jika suaminya nampak begitu kesulitan. Namun wanita pink itu hanya menatap Sasuke begitu saja tanpa berusaha membantunya. Ini bukan karena Sakura merasa marah ataupun sakit hati pada Sasuke yang telah tega membohonginya, sehingga dia tak mau membantu pria raven itu. Bukan, bukan itu yang menjadi penyebabnya. Sakura memang sengaja melakukan ini, karena Sakura tahu Sasuke pasti bisa melakukannya sendiri tanpa bantuannya. Sakura tahu bagaimana suaminya. Bagaimana Sasukenya.

Dengan keringat yang menetes dipelipisnya, Sasuke berhasil menegakkan tubuhnya dan berusaha keras mengatur nafasnya yang tadi sempat tak beraturan.

"Sakura...a...aku...aku...bisa jelaskan semuanya padamu. Aku..."

Sakura berjalan mendekati ranjang Sasuke dan duduk dikursi yang letaknya tepat berada disamping kiri ranjang.

"Jujur, aku memang marah padamu, Sasuke-kun. Aku benar-benar kecewa. Tapi...aku yakin kau pasti punya alasan sendiri kenapa kau melakukan ini padaku. Iya kan, Sasuke-kun?" Sakura tersenyum ke arah Sasuke yang kini justru menundukkan keapala karena merasa bersalah.

"Kau tahu, mengetahui kau membohongiku rasanya begitu menyakitkan. Apalagi kebohonganmu kali membuat diriku harus mengakui pria lain sebagai suamiku dan membuatku mesti merasakan cemburu. Ini rasanya seperti aku tak berarti apa-apa untukmu, Sasuke-kun. Rasanya seperti...seperti kau mencampakkanku." Kini giliran Sakura yang menundukkan kepala dan nampak begitu sedih.

"Bukan begitu!" bantah Sasuke tiba-tiba yang membuat Sakura beralih menatapnya.

"Bukan begitu maksudku, Sakura. Aku tak pernah sedikit pun mempunyai niat melakukan itu. Bahkan memikirkannya sekali pun aku tak pernah. Aku berani bersumpah."

"..."

"Apa kau kira aku tak merasakan sakit saat kau bercumbu dengan pria lain? Aku sakit, Sakura. Aku juga sangat cemburu. Bahkan walaupun pria yang mencumbumu itu adalah Itachi, kakakku sendiri. Rasanya akan tetap sama saja, Sakura. Tetap akan sakit."

"Lalu, kenapa kau melakukan ini? Apa alasanmu?"

"Karena aku mencintaimu." jawab Sasuke yang langsung membuat hati dan perasaan Sakura bergetar.

Sasuke memang bukanlah pria yang romantis seperti Itachi, yang akan memanjakan Sakura dengan kata-kata puitis, rayuan gombal, dan memberinya sebuket bunga mawar merah seminggu sekali. Sasuke tipe pria dingin dan berkesan cuek tak peduli. Bahkan apapun yang dikatakan, dilakukan, dan dikenakan Sakura, dia tak pernah memberi komentar banyak selain kata 'hn' andalannya.

Tapi meskipun demikian, Sakura tahu bahwa Sasuke sangat mencintainya. Sasuke benar-benar peduli padanya. Seperti sekarang ini, meski Sasuke hanya mengucapkan tiga kata singkat sebagai alasannya, namun itu sudah cukup membuat Sakura bahagia dan merasa bahwa Sasuke melakukan ini semata-mata untuk Sakura. Karena Sasuke mencintainya.

"Saat aku tahu kau mengalami amnesia dan kau melupakanku sebagai suamimu, rasanya hatiku benar-benar hancur. Hidupku seakan berhenti seketika saat itu. Aku putus asa, Sakura."

Air mata tiba-tiba saja menetes dari mata emerald Sakura tanpa dia sadari. Tapi dengan cepat Sakura langsung menghapusnya agar tak diketahui oleh Sasuke. Dia tak mau meneteskan kembali air mata dihadapan Sasuke dan terlihat begitu rapuh.

Karena Sakura tahu bahwa Sasuke benci melihatnya menjadi wanita yang lemah. Sasuke tidak suka melihat Sakura terlihat menyedihkan.

"La...Lalu kenapa kau tak mau mengatakan semua kebenarannya dari awal? Ke...Kenapa kau bungkam, Sasuke-kun? Jika memang kau mencintaiku dan merasa sakit saat aku bersama pria lain, kenapa kau hanya diam? Kenapa, Sasuke-kun? Hiks..."

"Sebenarnya aku juga tak mau seperti ini. Kalau aku bisa, aku ingin mengatakan semua kebenarannya padamu dari awal. Aku ingin meneriakan semuanya!"

"..."

"Aku ingin meneriakan bahwa kau adalah istriku!"

"..."

"Aku ingin meneriakan bahwa kau adalah milikku!"

"..."

"Aku ingin meneriakan bahwa aku mencintaimu! Aku ingin sekali melakukannya. Tapi..."

"..." Sakura menatap Sasuke menunggu jawaban selanjutnya.

"Tapi aku tak bisa. Lebih tepatnya aku tak mampu untuk melakukannya."

"Kenapa tak bisa? Apa yang membuatmu tak bisa untuk melakukannya?"

"Kau...saat kau sadar dari pingsan, Itachi lah yang kau akui sebagai suamimu. Kau begitu percaya kalau dialah yang selama setahun ini mendampingi hidupmu. Dan..."

"..."

"Kau nampak begitu bahagia ketika bersamanya."

"Kau na'if, Sasuke-kun. Kenapa kau bisa-bisanya berpikiran seperti itu? Itu sungguh tak masuk akal."

"Aku bisa melihatnya, Sakura. Aku bisa melihat dengan jelas kebahagiaanmu saat kau bersama Itachi."

"Dasar bodoh!" kata Sakura yang membuat Sasuke cukup tersentak.

Ini adalah pertama kalinya Sakura mengatai Sasuke dengan bodoh. Dan dari nada bicaranya, Sasuke tahu ada sedikit rasa marah yang terselip dalam perkataan wanita cherry blossom itu. Dan tentunya...ada juga sedikit rasa kecewa didalamnya. Sasuke dapat merasakan jika kali ini Sakura benar-benar kecewa dengan tindakan Sasuke yang mudah putus asa dan tak berusaha keras untuk mempertahankan ikatan cinta mereka.

"Sakura, aku..."

"Bagaimana mungkin kau bisa menilai dan mencap aku bahagia dengan Itachi-nii hanya dengan cara melihatnya saja? Itu adalah suatu hal yang tidak mungkin."

"..."

"Aku bahagia atau tidak, hatiku lah yang bisa merasakannya. Dan aku...aku hanya bahagia bila bersamamu, Sasuke-kun. Kaulah cinta sejatiku."

Sakura mengarahkan tangannya kearah wajah Sasuke dan mengusap pipi kirinya. Sasuke merespon dengan memegang tangan Sakura yang tengah mengusap pipinya dan kemudian digenggamnya tangan itu dengan sesekali menciumnya.

Sasuke benar-benar merindukan saat seperti ini. Saat Sakura menyentunya dengan penuh cinta dan begitu memanjanya. Sasuke sangat rindu ketika Sakura selalu berada disampingnya seperti sekarang ini. Dan hanya ada Sasuke dihatinya. Hanya Sasuke yang menjadi pemilik hatinya.

"Maafkan aku, Sasuke-kun. Maafkan aku karena aku selalu saja membuat hatimu sakit. Mafkan aku...hiks...maaf..."

Sasuke menarik Sakura kedalam pelukannya yang membuat wanita pink itu semakin menangis sejadi-jadinya hingga meninggalkan bekas basah dipakaian pasien yang dikenakan Sasuke. Sasuke mengecup pucuk kepala Sakura dan mengusapnya perlahan.

"Tak ada yang perlu dimaafkan. Aku rela merasakan sakit hanya untukmu, Sakura. Karena itulah caraku mencintaimu."

Sasuke memegang dagu Sakura dan menariknya untuk mendekat ke wajahnya. Dan tak menunggu lama, sebuah ciuman pun mendarat di bibir ranum Sakura dan dilumatnya bibir yang menggoda itu.

Sakura pun tanpa ragu dan malu membalas lumatan bibir Sasuke dan semakin memperdalam ciumannya. Saliva dengan saliva bercampur menjadi satu yang dapat dirasakan sangat nyata oleh kedua insan itu. Seperti menjadi cara untuk melampiaskan hasrat cinta yang telah terpisah oleh keadaan.

Keadaan yang membuat mereka harus menjauh meski kenyataannya sangat dekat. Keadaan yang memaksa mereka harus berpisah meski mereka sendiri tak menginginkannya. Rasa sakit, cemburu, dan penderitaan seakan menjadi harga mahal yang wajib mereka tanggung demi mencapai indahnya sebuah percintaan.

Dan jika kalian ingin tahu bagaimana rasa tak enaknya dipermainkan oleh takdir, maka bertanyalah kalian pada sepasang suami-istri Uchiha itu. Karena mereka telah tahu benar bagaimana rasanya. Dan mereka lebih rela menyerahkan seluruh harta yang mereka miliki dan memilih jatuh miskin, daripada harus kembali merasakan permainan takdir untuk yang kedua kalinya.

Karena Sasuke dan Sakura hanya manusia biasa yang butuh pasokan oksigen, maka mau tak mau mereka berdua pun terpaksa melepaskan ciuman yang sudah hampir tiga menit mereka lakukan. Dengan masih mencoba mengatur nafas dan menstabilkan kembali kerja jantung yang tadi sempat tak beraturan, kini Sasuke dan Sakura saling menatap satu sama lain. Onyx bertemu emerald dalam keadaan yang intens. Benar-benar saat-saat yang paling dirindukan keduanya. Begitu nyaman, hangat, dan penuh cinta.

Sasuke mengarahkan tangannya ke bibir Sakura dan mengusap lembut bekas ciumannya. "Rasa ciumanmu masih sama seperti dulu." kata Sasuke dengan sebuah seringai nakal menghiasi bibirnya, yang langsung membuat Sakura blushing seketika.

"Sasuke-kun, mesum!" Sakura menutupi wajahnya karena malu, namun Sasuke justru membuka kembali tangan Sakura dan memperlihatkan kembali wajah Sakura yang memerah.

"Kenapa kau malu? Biarkan saja aku melihat wajah cantikmu yang memerah itu." kata Sasuke yang bukannya meredakan rasa malu Sakura, tetapi justru membuat wanita pink itu semakin malu.

"Sasuke-kun, sudah. Jangan membuatku semakin malu. Lihatlah, mukaku sudah semerah tomat kesukaanmu."

"Hn, bukankah itu bagus? Aku jadi bertambah semangat untuk 'memakanmu'." kata Sasuke sambil memperlihatkan tampang innocentnya, yang entah kenapa menurut Sakura sangat menggemaskan dan sangat menggoda (?).

Sasuke mencoba mendekatkan bibirnya ke leher jenjang Sakura dan berniat memberikan beberapa 'tanda' disana. Namun sebelum pria pemilik hak paten atas kata 'hn' itu berhasil, Sakura menahan dada bidang Sasuke yang menghimpit tubuh kecilnya.

"Ehm, Sa...Sasuke-kun, bukankah kau tadi terlihat kesakitan?" tanya Sakura dengan polosnya.

"Hn, tapi aku rasa aku sudah sembuh sekarang. Bahkan cukup sembuh untuk memberikan 'sesuatu' padamu." jawab Sasuke dengan memberikan penekanan di kata 'sesuatu'. (Demam Syahrini euy...^^)

"Jadi kau menipuku ya? Aku itu tadi sangat cemas tahu. Dasar!" kata Sakura sambil mengerucutkan bibirnya kesal.

"Hn, berarti aku harus mendapatkan hukuman darimu. Benar kan, Sakura?"

"Eh, hu...hukuman? Hukuman apa?"

"Hukuman karena aku sudah menipumu dan membuatmu khawatir. Sekarang, apa hukumanku?"

"Ehm, apa ya kira-kira?" Sakura seperti tengah mencoba memikirkan suatu cara untuk menghukum sang pangeran tomat, Uchiha Sasuke, yang telah menipunya. Dan untuk penipuan yang sudah dilakukan 2 kali, tentunya harus dihukum yang berat bukan?

1 detik...

2 detik...

3 detik...

Sakura masih saja sibuk memikirkan hukuman untuk Sasuke. Dan hingga detik ke 8, wanita pemilik jidat lebar bak lapangan terbang itu masih belum juga menemukan hukuman yang pas untuk suami tercinta. Dan seperti kebanyakan Uchiha lainnya, Sasuke sudah mulai jenuh dan bosan untuk menunggu. Bahkan saking bosannya menunggu, kini kita bisa melihat dengan jelas ada beberapa tanda 'warning' disekitar Sasuke, yang menandakan bahwa saat ini Sasuke berada dalam keadaan berbahaya, yang memungkinkan bisa saja melakukan hal-hal yang tidak diinginkan terhadap orang yang ada dihadapannya. Dan kita semua pastilah sudah tahu siapa yang akan menjadi korbannya.

"Bagaimana? Apa hukumanku?" tanya Sasuke sedikit malas karena efek dari menunggu lama.

"Ehm, apa ya? Aku bingung mau menghukum Sasuke-kun apa. Aku sudah memikirkan banyak hukuman yang pas untukmu, tapi menurutku itu terlalu berat dan aku tak tega memberikannya. Jadi karena itulah ak-"

Cup! Sebelum Sakura berhasil menyelesaikan ocehan panjang lebarnya, Sasuke sudah terlebih dahulu membungkam mulut Sakura dengan sebuah ciuman, yang membuat Sakura bukan hanya langsung berhenti mengoceh, tetapi juga kembali merona.

"Oops, maaf. Tak tahu kenapa, tiba-tiba saja bibirku melakukan itu. Anggap saja itu hukumanku karena sudah menipumu. Berarti kita impas kan?" tanya Sasuke dengan entengnya.

"Sasuke-kun, ini sih namanya bukan hukuman. Kau benar-benar curang, mau enaknya saja." protes Sakura.

"Hn, begitu ya. Baiklah kalau begitu, aku ambil lagi saja."

Cup! Sebuah ciuman kembali mendarat di bibir ranum Sakura. Bahkan kali ini jauh lebih lama dan jauh lebih agresif dari sebelumnya. Dan asal kalian tahu saja, ini adalah salah satu trik jitu dari seorang Uchiha Sasuke jika dia ingin 'menambah' ciuman, dan malangnya Sakura tak tahu akan hal itu.

"Sudah aku ambil lagi ciumanku. Jadi jangan sebut aku curang lagi."

"Kyaaa...! Sasuke mesum!" teriak Sakura dengan tidak etisnya yang membuat Sasuke langsung menutup kedua lubang telinganya agar tidak terserang tuli di usia muda akibat ulah istrinya yang memiliki suara sekeras toa.

'Hn, dasar Sakura. Sifatnya masih sama saja seperti dulu. Heboh dan juga sedikit cerewet. Tapi tak apa, yang penting dia hanya mencintaiku. Dan yang terpenting, selama ini ciumannya hanya untukku saja.' kata Sasuke dalam hati sambil tersenyum menatap Sakura yang masih saja berteriak-teriak GaJe.

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

Tap...tap...tap...! Suara keras sepatu beradu dengan lantai rumah sakit terdengar dengan sangat jelas, menimbulkan sedikit rasa tidak nyaman untuk indera pendengaran orang yang mendengarnya. Uchiha Itachi semakin mempercepat langkah kakinya dan terlihat begitu tergesa-gesa, hingga membuat sang kekasih, Konan yang mengekor dibelakangnya sedari tadi terus mendengus kesal karena sudah cukup kelelahan untuk mengimbangi langkah pria berkuncir itu.

"Itachi, apa tidak bisa kau sedikit memperlambat langkahmu? Aku benar-benar lelah mencoba mengimbangi langkahmu itu." protes Konan yang hanya ditanggapi Itachi dengan diam seribu bahasa dan masih terus berjalan tanpa menghiraukannya sama sekali. Menyebalkan!

Merasa tak digubris, Konan mencoba melancarkan kembali protesnya yang tadi tak berhasil, tanpa sedikit pun peduli akan Itachi yang masih terus dihantui kecemasan mengenai kondisi adik lelaki satu-satunya yang dikabarkan kini tengah dalam keadaan kritis akibat mengalami sebuah kecelakaan kerja.

"Itachi, kau dengar aku kan! Aku bilang untuk memperlambat sedikit langkahmu. Aku itu sud-"

"Jika kau ingin berjalan dengan penuh estetika, sebaiknya kembali saja kau di atas catwalk! Aku datang kemari hanya untuk melihat keadaan Sasuke dan bukannya untuk berlatih berjalan seperti model. Jadi berhentilah mengomel padaku, kau mengerti!" kata Itachi yang langsung membungkam mulut Konan dan membuat nyalinya untuk kembali protes menciut, hingga akhirnya dia kembali mengikuti langkah Itachi dalam diam (Wkwkwk...bisa takut juga nih orang ^^)

Setelah berjalan selama kurang lebih 3 menit dengan langkah yang bisa dibilang cukup menguras tenaga, kini pasangan kekasih yang baru saja kembali menjalin hubungan ini sampai juga di tempat tujuan, ruang ICU rumah sakit Konoha. Dan disana sudah ada Naruto dan Shikamaru, yang langsung berdiri dari duduknya begitu mengetahui siapa yang datang.

"Itachi-nii, akhirnya kau datang." Naruto sedikit terkejut dengan sosok Konan yang berdiri dibelakang Itachi. Dia tak pernah sekali pun membayangkan bahwa dirinya bisa bertemu langsung dengan wanita berambut biru itu, yang selama ini hanya dia dengar ceritanya dari Sasuke dan dia lihat sosoknya dari majalah ataupun televisi saja.

"Ehm, bukankah nona ini..."

"Bagaimana keadaan Sasuke?" tanya Itachi mencoba mengalihkan hal yang ingin ditanyakan Naruto, yang dia sudah ketahui pastilah tentang Konan.

"Sa...Sasuke baik-baik saja. Kata dokter dia sudah melewati masa kritisnya."

"Hn, syukurlah jika begitu. Tapi bagaimana mungkin bisa terjadi hal seperti ini? Setahuku Sasuke bukanlah tipe otang yang ceroboh. Jadi kecil kemungkinan dia bisa mengalami kecelakaan kerja."

"Akhir-akhir ini Sasuke memang sedikit berbeda dari biasanya. Dia mudah sekali emosi dan tak terlalu fokus dengan pekerjaannya. Bahkan sebelum kejadian ini pun, aku perhatikan dia sering sekali melamun. Aku tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Tapi...aku benar-benar mengkhawatirkan keadaan Sasuke."

"Sebelum kejadian ini aku dan Sasuke sempat bertengkar hebat." kata Itachi yang cukup membuat Naruto terkejut, karena selama ini tak pernah sekali pun Itachi dan Sasuke bertengkar secara serius. Bahkan hubungan mereka jika Naruto lihat baik-baik saja bahkan jauh lebih akrab. Jadi wajar jika hal ini terkesan sedikit aneh untuk Naruto yang memang sudah sangat kenal dengan hubungan kakak-adik Uchiha itu.

"Bertengkar karena apa? Ehm, bukan maksudku ingin ikut campur, tapi..."

"Karena masalah Sakura. Sasuke ingin menceraikan Sakura." tambah Itachi yang lagi-lagi membuat pria berambut durian itu kembali tersentak kaget mendengarnya.

Cerai? Sasuke ingin menceraikan Sakura? Ini benar-benar hal yang mustahil dan sangat sulit diterima oleh akal sehat Naruto. Bagaimana mungkin seorang Uchiha Sasuke yang begitu mencintai, memuja, bahkan bisa dikatakan rela melakukan apa saja, walau mati sekali pun untuk Sakura berniat menceraikan wanita cherryblossom itu. Tapi jika melihat ekspresi wajah Itachi yang nampak begitu serius, sepertinya hal ini bukanlah sebuah bualan atau omong kosong belaka. Sepertinya memang ada sebuah masalah besar yang sedang dihadapi oleh keluarga terkaya di Konoha itu. Dan apapun masalahnya, Naruto tak akan bertanya lebih jauh lagi. Karena walaupun dia sudah sangat dekat dengan keluarga Uchiha, dia tetap tak mempunyai hak apapun untuk mencampuri urusan rumah tangga Sasuke. Itu bukanlah ruang lingkupnya.

"Aku tak tahu masalah apa yang sedang keluarga kalian hadapi. Tapi semoga saja masalah itu dapat diselesaikan dengan baik, dan hubungan Sasuke dan Sakura akan baik-baik saja." kata Naruto saat sebelumnya dia sempat melirik ke arah Konan yang kini tengah melipat tangannya di depan dada dan terlihat sangat bosan.

Cekleeek! Suara pintu ruang ICU terbuka, membuat delapan pasang mata mengalihkan pandangan mereka sejenak ke arah pintu yang kini terbuka dengan sempurna dan menampilkan sosok wanita pink yang tadi sempat menjadi pembicaraan.

Sakura menatap ke arah Itachi yang kini juga tengah balik menatapnya. Emerald itu seperti tengah mengisyaratkan suatu ancaman pada onyx yang kini masih terus menatapnya tanpa sedikit pun ada rasa gentar atau takut. Itachi tahu jika saat ini Sakura tengah marah padanya. Meski wanita pink itu tak mengungkapkannya atau lebih tepatnya belum mengungkapkannya, namun Itachi sudah cukup jeli merasakannya. Dan tanpa harus bertanya, Itachi sudah tahu jika kemarahan Sakura pastilah ada hubungannya dengan dirinya.

Sakura berjalan perlahan ke arah Itachi yang masih setia berada diposisinya semula. Dia tak menghiraukan sama sekali keberadaan yang lain yang ada di tempat itu. Bahkan keberadaan Konan pun sepertinya tak cukup menarik untuk Sakura saat ini. Tujuannya hanya satu, yaitu Uchiha Itachi. Pria itulah yang mengusiknya.

PLAAAK! Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi Itachi, membuat sulung Uchiha itu bahkan yang lainnya terkejut tak percaya.

"APA YANG KAU LAK-"

"Diam, Konan! Ini adalah urusanku dengan Sakura. Kau jangan ikut campur." kata Itachi memotong ucapan Konan yang membuat model cantik itu menatapnya tak mengerti.

"Kita bicara di tempat lain. Ikutlah denganku." ajak Itachi pada Sakura yang langsung disetujui olehnya meski Sakura tak mengatakannya.

Itachi POV.

Dia masih saja diam tanpa mau mengatakan apapun dari hampir 15 menit yang lalu. Bahkan menatapku pun dia sepertinya enggan. Mata emeraldnya nan indah justru dia persembahkan untuk pemandangan kota Konoha yang bisa dibilang kacau dan membuat pusing.

Jujur saja aku takut bertanya padanya alasan kenapa tiba-tiba Sakura ku yang biasanya lembut dan kadang rapuh, menjadi bisa menakutkan seperti ini. Tapi jika aku tak menanyakan padanya, ini akan semakin menyiksa batinku. Aku akan semakin merasa kalau aku ini adalah seorang pria pengecut yang hanya bisa 'cuci tangan' dan tak peduli dengan masalah yang aku ciptakan sendiri.

"Ak-"

"Kau tak tanya kenapa aku menamparmu?" Sakura akhirnya angkat suara dan memotong ucapanku sebelum aku memulainya.

Aku diam sejenak setelah mendengar pertanyaannya untuk mengambil nafas kemudian tersenyum kearahnya, yang membuat Sakura menatapku heran.

"Aku tak suka dengan hal yang terlalu berbelit. Aku lebih suka langsung sampai ke intinya. Itu juga yang selama ini menjadi prinsip seorang Uchiha." jawabku yang ditanggapi Sakura dengan sebuah senyuman. Senyuman mengejek lebih tepatnya.

"Dari dulu kau tak pernah berubah..." Sakura menggantung perkataannya.

"..."

"Itachi-nii." lanjutnya yang langsung membuatku cukup terkejut.

Itachi-nii...dan bukannya Itachi-kun lagi, dia sudah ingat semuanya rupanya. Tapi sejak kapan? Kenapa aku tak menyadarinya? Mungkinkah saat kejadian kecelakaan Sasuke ingatannya kembali pulih? Ternyata memang benar istilah 'cinta mengalahkan segalanya'. Terbukti sekarang, bahwa cinta Sakura yang besar pada Sasuke bisa menyembuhkannya. Sasuke benar-benar beruntung.

"Kenapa? Kau terkejut karena aku menyebutmu dengan surfiks 'nii' dan bukannya 'kun' lagi?" tanya Sakura yang entah kenapa membuatku sedikit sakit mendengarnya.

"Wajahku tidak bisa menyembunyikannya darimu rupanya. Apa ingatanmu kembali saat Sasuke mengalami kecelakaan?"

Dia tak menjawab dan hanya mengangguk sebagai bukti bahwa tebakanku tadi benar. Apa-apaan ini? Aku lagi-lagi merasakan rasa sakit dan sedikit kecewa. Aku sudah mulai tak waras kelihatannya. Sial!

Sakura beranjak dari duduknya dan berjalan perlahan menuju palang pembatas atap rumah sakit. Dia membelakangiku yang kini hanya mampu menatap punggungnya. Pandangan mata emeraldnya menatap lurus kedepan, dan sejenak tadi aku bisa mendengar dia sempat mengambil nafas panjang dan menghembuskannya kembali.

"Kota Konoha jika diperhatikan dari atas sini sangat rumit ya? Jalan rayanya pun terasa semakin sempit. Lalu, menurutmu sendiri bagaimana? Apa kau juga sependapat denganku?"

"Aku..."

"Hidupku juga sama rumitnya dengan kota ini. Bahkan jauh lebih rumit." kata Sakura lagi yang membuatku semakin merasa bersalah.

Bagaimana tidak? Akulah yang membuat hidup wanita bermata emerald itu menjadi rumit seperti ini. Meski awalnya aku hanya berniat membantu Sasuke, tapi akhirnya pada kenyataannya aku jugalah yang menyakiti Sakura. Dan niatku untuk membantu hanyalah sebuah kesia-siaan belaka. Aku justru menyakiti orang-orang yang berharga dalam hidupku, Sasuke dan Sakura. Bahkan menyakiti diriku sendiri.

"Sakura, aku sungguh tak bermaksud untuk membuat hidupmu jadi kacau begini. Semula, aku hanya ingin membantu kau dan Sasuke saja. Aku tak pernah sedikit pun ingin menyakitimu. Sungguh..."

"Lalu, bagaimana sekarang? Menurutmu berhasilkah caramu itu, Itachi-nii?"

"Maaf. Maafkan aku, Sakura. Jika aku bisa memutar kembali waktu, aku ingin sekali memperbaikinya. Aku sungguh tak ingin menyakitimu seperti ini." Aku menundukkan kepalaku menyesal dan sedikit menjambak rambutku kesal. Dan bisa aku dengar kini secara perlahan langkah kaki Sakura mendekatiku kembali. Dia berada tepat dihadapanku.

"Itachi-nii..." panggilnya yang membuatku menengadahkan kepalaku untuk menatapnya.

Sempat terlintas dalam benakku, bahwa Sakura kali ini benar-benar marah padaku. Dia pasti sudah sangat benci pada kakak iparnya ini. Yang bukannya membantu menjaga dan melindunginya, tetapi justru seperti tengah memanfaatkan hilang ingatannya. Apalagi jika aku ingat kejadian saat di kamar tidur waktu itu. Tapi ternyata, dugaanku salah. Kini yang terlihat dalam penglihatan mata onyx ku sungguh berbeda dari apa yang aku bayangkan sebelumnya. Aku lihat sebuah senyum mengembang dan menghiasi sudut bibir Sakura. Sakura tersenyum padaku. Dan ini nyata. Tapi kenapa? Kenapa dia justru tersenyum dan bukannya marah? Aku benar-benar tak mengerti dengan sikapnya ini.

"Sama seperti yang aku katakan pada Sasuke, sebenarnya aku juga marah dan kecewa padamu, Itachi-nii. Kebohongan yang kau dan Sasuke buat benar-benar menyakitiku. Tapi...entah kenapa aku tak bisa membencimu. Aku tak bisa untuk melakukannya."

"..."

"Aku merasa bahwa apa yang kau lakukan ini adalah wujud kasih sayangmu padaku. Kau adalah seorang kakak laki-laki yang baik, yang selama ini selalu menjaga dan juga melindungiku. Kau adalah salah satu orang yang berharga dalam hidupku."

"..."

"Selain itu, dengan kejadian ini aku bisa tahu satu hal. Sasuke...dia...dia benar-benar mencintaiku dengan tulus. Meskipun selama ini dia tidak pernah memperlihatkannya secara langsung padaku, tapi aku tahu bahwa didalam hatinya hanya ada aku seorang. Hanya aku yang dia cintai."

"Sasuke sungguh beruntung mendapatkanmu, Sakura. Kau memang wanita hebat yang pantas dicintai."

"Bukan Sasuke yang beruntung mendapatkanku. Tapi akulah yang beruntung mendapatkannya." katanya menanggapi ucapanku dengan sebuah senyum manis yang kembali menghiasi sudut bibirnya. Senyum yang sangat manis.

"Kalian berdua sama-sama beruntung." Aku mencoba berkomentar.

"Aku yakin kau juga pasti bisa memperoleh keberuntungan itu, Itachi-nii."

"Maksudmu?" tanyaku tak mengerti dengan maksud perkataan Sakura.

"Pasti akan ada wanita yang mencintaimu dengan tulus dan rela melakukan apapun untukmu. Kau pasti bisa menemukannya jika kau yakin bahwa yang namanya cinta sejati itu ada. Seperti aku yang percaya bahwa Sasuke lah cinta sejatiku."

"Hn, aku harap aku memang punya cinta sejati. Karena terus terang, aku tak ingin lagi merasakan rasa sakit dan kecewa untuk yang kedua kalinya."

"Percayalah, Itachi-nii. Karena itu adalah kuncinya. Baiklah, aku akan lihat keadaan Sasuke-kun dulu. Mungkin saja dia membutuhkan sesuatu. Kau mau ikut?"

"Kau duluan saja, nanti aku menyusul. Aku masih ingin menikmati pemandangan disini." kataku yang ditanggapi Sakura dengan anggukan, sebagai tanda dia mengerti. Dan kemudian melangkahkan kaki pergi meninggalkanku untuk kembali ke ruang ICU menjaga Sasuke. Menjaga cinta sejatinya.

Normal POV.

"Ternyata, tak selamanya kau bisa menjadi seorang pahlawan. Buktinya, kini yang ingin kau bantu justru berbalik memojokkanmu." kata Konan yang tiba-tiba sosoknya muncul entah dari mana.

"Aku tak sedikit pun menyesalinya. Bagiku, asalkan mereka berdua bahagia aku juga bahagia."

"Tapi yang aku lihat sepertinya tidak begitu. Kau terlihat menyesal Sakura telah kembali kepelukan Sasuke. Kau begitu nampak kehilangannya. Apakah itu berarti kau menyimpan rasa cinta pada Sak-"

"Jangan bicara omong kosong. Aku sama sekali tak punya perasaan apapun padanya dari sekedar rasa sayang pada seorang adik. Selamanya, Sakura tetaplah milik Sasuke. Aku harap kau ingat baik-baik perkataanku ini."

"Ya, baiklah. Akan aku ingat baik-baik. Tapi...itu berarti kau hanya milikku kan, Itachi?" tanya Konan sambil menggelayut manja pada Itachi.

"Hn, aku..."

"Ya."

1 detik...

2 detik...

3 detik...

"Akan aku pikirkan lagi."

GUBRAAAK!

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

Sakura POV.

Aku kembali terpukau untuk kedua kalinya menatap sosokku sendiri di depan cermin. Sebuah gaun putih panjang tanpa lengan nan cantik kini melekat dengan sempurnanya ditubuhku. Dulu gaun cantik pemberian ibu Sasuke ini, pernah aku kenakan juga saat pesta pernikahanku dengan Sasuke yang dilangsungkan saat musim semi. Sekarang gaun ini kembali aku kenakan untuk acara yang sama namun di waktu yang berbeda.

Untuk acara yang sama? Mungkin pertanyaan ini tiba-tiba saja muncul dalam benak kalian. Dan mungkin juga kebingungan mulai muncul dalam pikiran kalian. Tapi itulah kenyataannya, aku sekarang memang mengenakan gaun cantik ini untuk acara pernikahanku dengan Sasuke. Pernikahanku dengan Sasuke untuk yang kedua kalinya.

Sebenarnya memang aneh kedengarannya jika pasangan suami-istri yang sudah menikah dan belum bercerai, kembali mengikat janji suci dalam sebuah pernikahan yang baru. Tapi itulah yang sekarang aku dan Sasuke lakukan. Kami kembali menikah dan kembali mendaftarkan pernikahan kami di negara untuk yang kedua kalinya.

Jika orang biasa yang melakukannya pastilah akan sangat sulit. Tapi berbeda jika seorang Uchiha Sasuke yang melakukannya. Asalkan dengan segepok uang dan iming-iming naik jabatan, Sasuke bisa membuat semua staf dan pegawai urusan pernikahan menuruti semua keinginannya dan melancarkan semua rencananya. Hebat bukan? Dan aku sangat beruntung, karena akulah istri si Uchiha Sasuke itu. Bahkan menjadi istrinya sampai dua kali v^^

Tok...tok...tok...! Ku dengar pintu kamar diketuk oleh seseorang. Dan tanpa harus mempunyai indera keenam sekali pun, aku bisa langsung mengetahui jika yang mengetuk pintu itu adalah dia. Uchiha Sasuke, suamiku. Suamiku yang sangat aku cintai.

"Kenapa kau lama sekali? Aku dan yang lainnya sudah terlalu lama menunggu." kata Sasuke sesaat setelah dia memasuki kamar kami.

"Maaf, Sasuke-kun. Aku hanya takut."

"Takut? Takut kenapa?"

"Aku takut jika penampilanku ini belum sempurna di mata kalian. Aku takut masih ada yang kurang." jawabku sedikit malu-malu.

Sasuke menatap diriku dengan seksama. Mata onyx nya kini mulai menelusuri secara rinci tubuhku yang berada tepat dihadapannya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Dan terus terang, diperhatikan oleh Sasuke seperti itu membuatku gugup dan benar-benar salah tingkah.

"Menurutku tak ada yang kurang dari dirimu. Kau selalu sempurna di mataku, Sakura. Dan aku yakin, yang lainnya juga sependapat denganku."

"Sa...Sasuke-kun..." mukaku akhirnya memerah juga dibuatnya.

"Ayo, keluar. Setengah jam lagi acaranya akan dimulai. Lagipula, jika terlalu lama, aku kasihan pada Itachi. Konan bisa mencakar-cakarnya karena tak sabar menunggu acara pernikahan kita yang belum dimulai juga. Kau tahu kan, orang hamil itu kadang mudah sekali emosi." kata Sasuke dan mulai menggandeng tanganku untuk bersama-sama menuju ke taman tempat acara pernikahan kami diadakan.(Ceritanya Konan lagi hamil anaknya Itachi tapi belum nikah. Soal buatnya tuh anak kapan? Au ah...gelap *KABUUUR*)

"Ehm, Sasuke-kun..." panggilku sebelum kami benar-benar keluar dari kamar.

"Hn."

"Kenapa kau mau melakukan ini lagi? Maksudku, kenapa kita harus mengulang kembali pernikahan kita? Memangnya kau tidak bosan?" tanyaku yang justru ditanggapi Sasuke dengan sebuah senyuman.

"Aku tidak akan pernah bosan. Jangankan dua kali, sampai 100 kali pun aku tak akan pernah bosan jika aku harus menikahimu, Sakura. Karena bagiku, hanya kau saja yang pantas dan layak mendampingiku. Tidak akan pernah ada wanita lain yang bisa menggantikan posisimu dihatiku. Selamanya..."

Sasuke mendekatkan bibirnya ke bibirku dan langsung melumatnya. Tangannya merayap kebelakang kepalaku dan kemudian menekan kepalaku, agar kami dapat lebih memperdalam lagi ciuman kami.

Meskipun kami sudah cukup sering melakukan ini, tapi kali ini entah mengapa aku merasa ciuman ini terasa jauh lebih nikmat dari yang sebelumnya. Aku semakin bisa merasakan getaran cinta Sasuke melalui ciuman ini. Dan hanya dengan cara ini saja aku bisa tahu, bahwa Sasuke tidak berbohong. Sasuke benar-benar serius dan tulus mencintaiku. Bahkan untuk selamanya.

Dan aku juga berjanji bahwa seumur hidupku, selama nafasku masih berhembus dan jantungku masih berdetak, aku hanya akan mencintai satu pria saja di dunia ini. Aku hanya akan mencintai seorang Uchiha Sasuke. Dan hanya padanya lah semua yang aku miliki pada diriku akan aku persembahkan. Hanya untuknya...

Normal POV.

"Hah...Sas...Sasuke-kun, aku..." kata Sakura sedikit terbata sesaat setelah keduanya melepaskan ciuman.

Sasuke mengusap lembut pipi Sakura dan menatapnya penuh keseriusan. Setelah dirasa cukup puas, dia kemudian berlutut dihadapan Sakura dan memegang tangan kanan wanita pink itu.

"Uchiha Sakura, maukah kau menikah denganku untuk yang kedua kalinya?"

Sakura diam sejenak setelah mendengar lamaran Sasuke. Dipandanginya wajah tampan pria dihadapannya itu yang masih dalam posisi berlututnya, dan kemudian tersenyum.

"Ya, Sasuke-kun. Aku mau. Meskipun kau melamarku untuk menjadi istrimu sampai 100 kali pun, aku akan selalu menerimanya. Karena hanya kau...hanya kau saja yang aku cintai. Bahkan untuk selamanya..."

FIN

Balasan Review :

4ntk4-ch4n : Udah lanjut lagi nih. Untuk terakhir kalinya, bolehkah Tabita minta reviewnya, Anka-chan?

Parapluei De Fleurs : Ga apa2 cuma silent reader, yang penting kamu udah sudi baca fic aku yang GaJe ini ^^

Ayhank-chan UchihArlinz : Udah update nih, tapi maaf lagi2 ga bisa cepet.

Kazuki Namikaze : Nasib Itachi kini ditangan Konan *PLAAAK!*

Vans Watson PGPN : Thankz a lot buat sarannya, bermanfaat banget buatku. Di chap ini masih ada yang perlu diperbaikikah? ^^

Lin Narum Rutherford : Thankz udah mau review. Sekali lagi, minta reviewnya ya...

Novia ChanMutz SasuSaku 4ever : Thankz buat reviewnya. Tapi jangan panggil senpai donk, aku belum sehebat itu. He3...

Eunike Yuen : Aku ga marah kok, sumpah deh! Mungkin aku yang salah dalam penyampaiannya kali ya...^^

RisuSASU-kun : Ini dia kelanjutannya, sekaligus chap terakhir.

cha the princess from the dark : Udah update, tapi maaf ga bisa cepet.

SasuSaku 4ever : Makasih banget udah bilang fic ini ceritanya seru. Tapi maaf ga bisa dipenuhi tambahan flashbacknya ^^

valentina14 : Baca chap ini membuat kamu bingungkah? Thankz buat reviewnya ya...

Haza ShiRaifu : Udah update, meskipun udah chap terakhir tapi review lagi ya...^^

uchihaiykha : Udah aku buatin adegan SasuSakunya nih. Tapi maaf kalau garing dan ga romantis.

eet gitu : Mau...mau...yuk nyari bareng. Ho3...

Laura Pyordova : Udah dilanjut nih Laura-san, review lagi ya...

Putri Luna : Salam bulan juga, Putri-san. Iya nih, Sakura udah inget lagi. Dan Sasuke ga kehilangan Sakura nya lagi ^^

Miki Hyuga : Boleh minta Bombay nya ga? *PLAAK!*

Fumiko Hime-chan : Udah update nih dan thankz udah difav ^^

HarunoVerUchiha : Chap ini adalah chap terakhir. Review lagi ya, please...^^

Sweet KireIcha : Thankz udah bersedia review. Boleh minta lagi? ^^

hany chan DHA : Udah aku update nih, hany-chan. Maaf ya telat ^^

Setelah sekian lama fic ini terbengkalai, akhirnya dapat juga terselesaikan dan aku bebas dari hutang untuk update ^^ Meskipun mungkin hasilnya kurang begitu memuaskan, tapi aku harap semua reader tidak kecewa dengan ending fic ini yang mungkin saja garing, ga nyambung, atau ancur.

Terakhir, Tabita ucapkan banyak-banyak terima kasih untuk para reader, para reviewer, dan juga para silent reader yang udah bersedia mampir dan membaca fic yang GaJe ini. Tanpa kalian, fic ini sama sekali tak ada artinya apa-apa. Sekali lagi, terima kasih semuanyaaa...aaa...^^