Chapter 1 : Naruto-Kun

Yosh...!

ini Fic pertama Ena-Chan,mohon bantuanya yah?(bungkuk-bungkuk)

Sebelumnya Ena-chan mau ngucapin banyak-banyak terima kasih buat 'Aojiru no Sekai' yang udah mendukung serta mau membantu dan ngejelasin cara-cara Publish..

buat Nimarmine juga. Terus buat semuanyayang udah pada ngedukung Ena-Chan. Terima kasih banyak (bungkuk-bungkuk).

Juga buat my Ouji-Koi terima kasih atas dukungannya baik moril ataupun materil..hehehe (loh Koq jadi kaya orang yang habis nerima penghargaan yah?)

Ena-Chan : "my Koi terima kasih atas dukungannya"

Ouji-Koi : "iya sama-sama" (nepuk-nepuk pelan puncak kepala Ena-Chan)

Ena-Chan : (blushing dan malu-malu macan)

okeh...! lupakan ke Gajean di atas..

Kalau ada persamaan baik judul atau cerita dengan senpai-senpai sebelumnya Ena-Chan mohon maaf yang sebesar-besar,tapi ini ASLI lahir dari otak Eror yang Ena-Chan punya.

yaahhh.. anggap saja persamaan kita ini mungkin karena kita jodoh..-Plaaakk...!-

Summary: Namikaze Naruto seorang penggila Ramen yang hidup serba berkecukupan.

mendadak harus bekerja di restaurant Ramen dan menghadapi kepala pelayan yang galak tapi Cantik.

Disclaimer : "Sebenarnya Naruto itu punyanya Ena-Chan yang di akui oleh Masashi Kishimoto. Dasar tukang Ngaku-Ngaku.!"

"bletaakk...!"

(dilempar sendal bakiak sama Masashi Kishimoto)

Pairing : My lovely Pairing 'NaruHina'

Rate : 'T' aja, nggak mau macem-macem dulu.

Warning : AU, OOc (maybe), ada OC juga, Gaje, Ancur plus abal, Typo, Ide Pasaran, EYD dipertanyakan.

Membaca ini dapat menyebabkan ganguan pencernaan dan pusing kepala Akut..!

Don't Like yasud Don't Read aja donk...^^

.

.

.

Daku Menyajikan...

Ramen Lover in Love

.

.

Sinar mentari di pertengahan musim panas memang sungguh menyiksa ,walaupun hari masih terbilang pagi namun sinar mentari sudah menunjukan kekuatannya dengan menyengat lapisan kulit ari dengan tidak berperikekulitan (?). Pengaruh Global Warming juga ikut andil dalam masalah semakin panasnya bumi ini, lapisan Ozon yang berperan menyerap radiasi sinar matahari semakin tipis, sehingga mahluk hidup bisa merasakan langsung panasnya sengatan sinar matahari yang membakar kulit.

Di sebuah rumah sederhana bergaya jepang. Dengan papan nama 'Hyuuga' di samping pagar rumah yang sederhana itu. Seorang gadis cantik berambut indigo panjang sepunggung sedang bersenandung riang sembari menyiapkan sarapan untuk keluarganya.

Tak lama muncul seorang wanita paruh baya yang sangat mirip dengan gadis indigo, wanita yang bernama Hikari itu berjalan mendekati gadis indigo dengan perlahan. Tekadang dia memegangi dadanya yang sakit ketika ia terbatuk-batuk.

Gadis indigo menghentikan aktifasnya ketika mendengar suara ibunya yang terbatuk-batuk, ia menghampiri ibunya dan memberi segelas air putih untuk diminum ibunya yang masih terbatuk-batuk sambil sesekali menepuk pelan punggung ibunya. Gadis indigo itu pun menuntun ibunya untuk duduk di kursi yang ada di meja makan.

"Terima kasih Hinata." kata Hikari kepada gadis indigo yang bernama Hinata yang hanya di jawab anggukan dan senyuman manis yang tulus.

Sang ibu hanya melihat anak Gadisnya yang kembali menyiapkan sarapan untuk keluarga.

Hinata menyusun meja makan dengan sarapan yang telah dibuat olehnya yaitu sop miso, tamagoyaki (telur dadar yang digulung), acar tsukemono dan tak lupa nasi putih. Sedangkan untuk bekalnya dan kakak serta adiknya dia sudah membuat onigiri dengan nori yang berisi umeboshi dan di tambah dengan tamagoyaki.

Setelah semuanya sudah siap Hinata kembali ke kamarnya untuk menganti kaos ungu dan rok selutut berwarna hitam dengan seragam sailor berwarna putih lengan pedek dan dasi berwarna biru tua juga rok kotak lipit 5 centi di atas lutut berwarna senada dengan dasinya, memakai kaos kaki putih model longgar (loose socks) selutut dan sepatu penny loafer tanpa hak berwarna hitam. Seragam sekolah musim panasnya.

Saat dia kembali ke meja makan, keluarganya sudah duduk di kursi masing-masing. Ayahnya yang berada di kursi utama meja makan sedang membaca koran paginya, sedangkan ibunya sedang meletakan secangkir kopi di depan ayahnya dan duduk di samping kanan ayahnya, disebelah kiri ayahnya bersebrangan dengan tempat duduk ibunya ada pemuda berambut coklat panjang yang adalah kembarannya sedang membaca berkas-berkas mungkin laporan kegiatan OSISnya, dan adik perempuannya yang berada disamping Kakaknya sedang sibuk dengan buku pelajaranya sepertinya akan ada ulangan.

Kadang ia sering berfiqir adiknya lebih pantas menjadi kembaran kakaknya dibandingkan dia. Karena kakak dan adiknya itu bisa dibilang sangat mirip. Hinata pun duduk di samping yang berada di meja makan menghentikan aktifitasnya saat mengetahui Hinata sudah duduk di kursinya dan memulai acara sarapan mereka. Setelah berdoa, mereka pun makan dalam diam.

"Bukankah hari ini Jadwal Kaa-san untuk cek up ke dokter?" tanya gadis berusia sekitar 13 tahun berambut coklat panjang setelah menghabiskan sarapanya. Tiga pasang mata remaja berwarna lavender itu memandang ibu mereka.

"Hn.. Biar nanti Otou-San saja yang mengantar ke rumah sakit." suara datar dan berwibawa yang menjawabnya, mengalihkan pandangan ketiga remaja itu ke arah asal suara tersebut yaitu ayah mereka.

"Sudah saatnya kalian untuk berangkat, nanti kalian bisa terlambat." Suara lembut sang ibu membuat ketiga remaja itu berdiri dari kursi mereka masing-masing dan mencium ibu mereka.

"ittekimasu…" pamit ketiga remaja itu serempak.

"itterashai.." jawab ibu mereka dengan tersenyum lembut memandang ketiga anaknya.

'lagi-lagi aku tak pernah di cium,susahnya harus menjadi kepala rumah tangga yang berwibawa' batin sang kepala keluarga Hyuuga a.k.a Hiashi Hyuuga itu merana.

- Ramen Lover in Love-

Sedangkan di sebuah rumah Besar dan mewah begaya Eropa di Konoha,terlihat para penghuninya sudah melakukan kegiatan mereka masing-masing di pagi yang cerah ini.

Seorang wanita Cantik berambut merah panjang selutut sedang berjalan menaiki tangga rumahnya, sesekali dia tersenyum ramah ketika para maid yang bekerja di rumahnya itu menyapa dirinya. Wanita itu berhenti di sebuah pintu berwarna Coklat tua yang berukiran sebuah pusaran.

Di pegangnya knop pintu dan dibukanya secara perlahan-lahan. Pemandangan pertama yang diihat oleh iris mata berwarna violetnya adalah sebuah kamar, dan kalimat pertama yang terlintas dalam otaknya adalah 'kapal pecah'.

Yaah.. Sebuah Kamar Cerah bercat warna Orange yang seperti kapal pecah, dengan video game dan komik yang berserakan di depan televesi yang terletak di sebelah kiri ranjang berukuran king size itu, selimut yang seharusnya digunakan untuk menyelimuti tubuh tergeletak tak berdaya di lantai dan bungkus-bungkus cup ramen instan yang tak terhitung dengan jari bertebaran memenuhi setiap sudut kamar. Hanya satu tempat yang masih terlihat rapi, yaitu meja belajar. Sepertinya ini akan menjadi pekerjaan yang berat bagi para maidnya.

Dengan langkah anggun wanita Cantik yang bernama Kushina itu berjalan memasuki kamar itu menuju jendela yang berada di sisi kanan ranjang, dibukanya tirai jendela berwarna kuning lembut agar sinar mentari yag hangat bisa masuk kedalam kamar.

"Kriiiiinng...!"

Tepat saat sinar matahari masuk melalui jendela kamar, alarm yang berada di meja kecil di samping kamar berbunyi nyaring untuk membangunkan pemuda berambut pirang yang masih tertidur, tidak ada reaksi yang menunjukan tanda-tanda bahwa pemuda itu akan segera bangun dari tidurnya. Pemuda itu berbalik memposisikan tidur tengkurap untuk menghalau sinar matahari yang menyilaukan matanya yang masih terpejam, tangan kanannya bergerak-gerak mencari bantal dan menutupi kepalanya atau lebih tepatnya menutupi kedua teliganya guna meredam suara berisik dari alarmnya.

Kushina geram melihat reaksi dari anak bugsunya. Di dekatinya ranjang anaknya dengan langkah menghentak seperti prajurit perang. Sesampainya di sisi ranjang Kushina mencengkram kedua kaki anaknya dengan kedua tangannya, dengan sekali tarikan Kushina menjatuhkan pemuda itu dari tempat tidur membuat bunyi bedebum ketika ada sebuah 'benda' yang jatuh dan suara rintihan kesakitan dari pemuda pirang itu.

Pemuda pirang itu menatap nanar Kushina yang berdiri dan berakacak pinggang di hadapanya, kedua telapak tangannya digunakan untuk mengelus-ngelus hidung mancungnya yang sebelumnya telah 'mencium' lantai.

"Mau sampai kapan kau tidur Naruto? Apa kau tidak lihat sekarang jam berapa, heh?" ucap Kushina kepada pemuda yang bernama Naruto yang masih memandanginya seolah meminta penjelasan atas apa yang telah dilakukan oleh Kushina.

Naruto masih menatap ibunya kemudian dia melihat jam alarmnya yang tadi berbunyi. Jarum pendek jam itu menunjuk ke arah antara angka 7 dan angka 8, sedangkan jarum panjang berada di angka 9, Naruto kembali melihat ibunya kemudian melihat jamnya lagi. Hening sesaat, sepertinya butuh waktu beberapa detik bagi otaknya untuk mencerna keadaan, sebelum..

"Arrrrrggghh...! Naru terlambat ke sekolah..!" teriak histeris Naruto memecah keheningan yang berlangsung selama beberapa detik, dengan cepat Naruto berlari menuju kamar mandi yang terletak disisi kiri kamarnya.

Kushina mendengus kesal melihat reaksi anaknya, wanita yang masih terlihat cantik walaupun sudah mempunyai dua orang anak itu keluar dari kamar Naruto dan pergi menuju ruang makan.

Sesampainya diruang makan sudah ada seorang pria berambut pirang yang duduk di kursi utama meja yang mirip dengan Naruto sedang serius membaca sebuah kertas yang berada ditangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang cangkir yang berisi kopi yang sedang diminum olehnya, Kushina mendekati Pria itu.

Pria pirang itu meletakan gelas kopinya dan menurunkan kertas yang sedari tadi di bacanya untuk menyapa Kushina yang sudah duduk dikursi samping sebelah kanannya dengan senyuman lembutnya yang mampu melelehkan setiap wanita yang melihatnya.

"Apa yang sedang kau baca itu Minato-kun?" tanya Kushina kepada suaminya sembari mengambil roti panggang dan mengolesinya dengan selai jeruk, kemudian di serahkannya roti tadi kepada Suaminya.

"Hanya tagihan kartu kredit Naruto yang selalu meledak setiap bulannya dan itu hanya di gunakan Naruto untuk membeli ramen, komik dan Video game" jawab Minato sambil memakan roti selai yang diberi oleh Kushina tadi.

"Sepertinya kita harus memberi pelajaran kepada Naruto tentang susahnya mencari uang, agar dia tidak menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak berguna" kata Kushina yang kini mengoleskan selai coklat di atas roti panggangnya.

Minato menghentikan acara makan rotinya,ditatapnya lekat-lekat perempuan yang sudah menemaninya selama 21 tahun sebagai istrinya itu.
"Apa kau sudah mempunyai rencana kushi-Chan?" tanya Minato

"yaahh.. Kita hanya perlu memblokir sementara kartu kreditnya dan mencabut semua Fasilitasnya, saat Naruto mendapatkan gaji pertamanya barulah kita mengembalikan semuanya. Sekedar pembelajaran untuknya saja." kata Kushina santai sambil memakan roti panggangnya.

Minato terlihat berfikir sejenak sampai akhirnya dia tersenyum kepada istrinya.

"Nanti akan ku hubungi Kakashi-Kun." katanya yang mendapat anggukan dan seringai dari Kushina. Minato pun melanjutkan sarapannya.

Dengan langkah tergesa-gesa Naruto turun dari tangga rumahnya menuju meja makan. Dia mencium sekilas pipi kanan ibunya sebelum meminum habis segelas susu putihnya.

"Naru berangkat. Jaa.. " pamitnya lalu mencium lagi pipi Kushina dan mengambil satu Roti tawar dan berlari keluar rumah. Tak lama kemudian terdengar deruman suara motor yang semakin menjauh dari rumah besar itu.

'Kenapa aku tidak di cium seperti Kushi-Chan?' batin Minato sedih.

-Ramen Lover in Love-

Suasana sekolah unggulan seperti Konoha Senior High School atau yang biasa di kenal dengan KSHS. Sudah mulai menunjukan aktifitasnya, dengan kedatangan para siswa yang bersama teman-temannya ataupun datang sendirian. Suara tawa ataupun sapaan selamat pagi meramaikan suasana. Sepuluh menit lagi Bell tanda masuk sudah akan berbunyi, Hinata dan saudara kembarnya memasuki gerbang sekolah dan menuju tempat parkir sepeda.

Mereka turun dari masing-masing sepeda mereka. Sebuah sapaan dari gadis dengan gaya rambut yang dicepol dua mengalihkan perhatian mereka ke arah gadis manis itu yang dibalas Hinata disertai senyuman lembut dan hanya anggukan kecil dari Kakak kembar Hinata.

"Neji-Kun nanti sore akan ada Rapat OSIS untuk Pagelaran Budaya tahunan."Kata gadis bercepol dua kepada pemuda berambut coklat panjang, Neji.

"Hn.. Terima kasih Tenten" Ucap Neji kepada Gadis bercepol dua yang bernama Tenten. Kata-kata dari Neji sukses membuat semburat merah tipis di pipi putih Tenten. Hinata yang melihat semburat merah itu hanya tersenyum kecil. Dia sudah lama tahu kalau sebenarnya Tenten itu menyukai Kakaknya.

"Hinata mungkin setelah Rapat nanti Nii-san akan langsung ke perpustakaan, ada buku baru yang datang hari ini. Tidak apa-apa 'kan kalau kau menjemput Hanabi sendirian?." Kata Neji kepada Hinata

"Ha'i..Tidak apa-apa Nii-San. Setelah mengantar Hanabi-Chan pulang aku juga akan langsung berangkat ke Restaurant." Jawab Hinata

"Haaaahhhh.. Kalian selalu bekerja mencari Uang, tidak seperti anak-anak kaya yang selalu menghambur-hamburkan uang itu." sela Tenten sembari menujuk gerbang sekolah KSHS dengan dagunya. Hinata dan Neji mengikuti arah yang di tunjukan oleh Tenten.

Dari Gerbang KSHS muncul Mobil Ferari type Fxx Evolution berwarna biru gelap dan dibelakangnya menyusul mobil Lamborghini Gallardo type LP560-4 Spyder berwarna Merah. Kemunculan dua mobil mewah itu membuat keributan di KSHS. Para siswi berteriak-teriak histeris menyambut kedatangan para 'Pangeran' sekolah mereka. Kedua mobil itu berjalan pelan menuju tempat parkir mobil yang dekat dengan tempat parkir sepeda.

Tak lama terdengar suara deruman motor yang mendekat, walaupun kendaraan motor mempunyai tempat parkir sendiri tapi motor berwarna hijau itu berhenti di tengah-tengah mobil biru dan mobil merah yang sudah parkir.

Lamborghini merah itu membuka atap mobilnya menampilkan pemuda berambut merah di kursi pengemudi dan pemuda berambut coklat berantakan di kursi penumpang disebelahnya. Pemuda bermbut coklat dengan tato segitiga terbalik di masing-masing pipinya sedang mengelus-elus tas atau lebih tepatnya anjing kecil berwarna putih di dalam tas yang berada di pangkuannya.

"Apa Temari Nee sudah kau antarkan Shika?" dengan suara yang datar pemuda berambut merah dengan tato 'ai' di kening sebelah kirinya bertanya kepada pemuda diatas motor Ducati type 848 Evo yang sedang membuka helm hijaunya.

"Sudah.. Haaahh… Merepotkan" jawab pemuda dengan rambut hitam diikat seperti nanas yang di panggil Shika atau bernama lengkap Nara Shikamaru itu dengan malas.

Lamborghini kembali menutup atapnya sedangkan penumpang dari mobil Ferari turun menampilkan 2 pemuda dengan mata onix bekulit pucat, salah satu pemuda berambut biru gelap dengan raut muka datar tanpa ekspresi menyalakan Alarm mobilnya, dan pemuda berambut hitam lurus yang sedang tersenyum palsu kepada para sahabatnya, mereka berdua menuju tempat Shikamaru.

Para penumpang dari Lamborghi pun turun dan berkumpul di dekat motor Ducaty berwarna Hijau milik Shika, sehingga menampilkan 5 pemuda tampan dan mempesona.

Saat mereka berlima hendak keluar tempat parkir sebuah motor Ducaty yang sama persis dengan punya Shika menuju mereka berlima dengan ugal-ugalan dan suara klakson yang tak berhenti berbunyi. Membuat kelima pemuda itu menepi, tidak ingin mati muda tertabrak motor berwarna orange itu.

Dengan Rem Cakram motor itu berhenti dengan bagian belakang motor yang terangkat sedikit serta debu dan asap yang menerpa wajah ke lima pemuda membuat mereka kesal dengan kelakuan salah satu sahabat mereka.

Sang pengendara motor Orange membuka helm orangenya menampilkan pemuda berambut pirang jabrik bermata shapire dan berkulit tan yang sedang tertawa terbahak-bahak melihat kelima sahabatnya yang sedang mengibas-ngibaskan telapak tangan mereka di depan wajah mereka dari asap knalpot dan debu yang di timbulkan oleh motornya.

Kelima pemuda itu memberikan deathglare terbaik mereka kepada pemuda berambut pirang yang langsung menghentikan aksi tertawanya dan di ganti dengan cengiran lebar yang membuat tanda lahir tiga garis tipis di masing-masing pipinya semakin terlihat.

"ayo, kita masuk ke kelas. Sebentar lagi bel berbunyi." Ajak pemuda berambut pirang itu santai tak memperdulikan tatapan kesal dari para sahabatnya.

"Hn.. Dasar Dobe.." Gerutu pemuda berambut Raven.

Pemuda berambut Kuning jabrik tak memperdulikan gerutuan sahabat karibnya dia berjalan di tengah, dengan pemuda berambut Emo di sebelah kirinya dan pemuda berambut merah di sebelah kanannya. Sedangkan di belakangnya pemuda berambut coklat yang berada di tengah sedang memeluk tas miliknya didepan dadanya sedang melihat kearah parkir sepeda.

"Kau sedang lihat apa Kiba-Kun?" tanya pemuda berkulit pucat seperti mayat dengan tersenyum palsu kepada pemuda berambut coklat yang bernama Kiba.

Kiba hanya menggeleng pelan sebagai jawaban untuk pertanyaan pemuda yang berada di samping kirinya dan kembali menatap kedepan melihat punggung pemuda pirang. Dia menghela napas pelan.

"Haaahh.. Merepotkan." Keluh Shikamaru yang berada di sebelah kanan Kiba, setelah mengetahui apa yang tadi dilihat oleh kiba. Mereka berjalan menuju kelas XI-1 kelas mereka berenam. Suara siswi yang berteriak histeris menjadi backsound saat mereka berenam berjalan di koridor sekolah.

"Na.. Naruto-Kun.." gumaman lirih seorang gadis yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri dengan wajah yang sudah memerah di tempat parkir sepeda. Sebelum akhirnya dia mengikuti kedua orang yang berada disampingnya untuk masuk ke kelas mereka yang kebetulan satu kelas dengan ke enam pemuda tadi.

T.B C

Gimana?

Saia tahu chapter pertama udah panjang (2245 kata) dan deskripsinya juga bertele-tele.

Jadi perlu lanjut apa di remove aja fic abal ini?

sebenernya sengaja Ena-Chan Publish pas tanggal dan bulan ini karna ini hari kelahiran Ena-Chan (gak ada yang nanya).

Jadi Pliiiiiiiisssss di Riview yah sebagai Kado buat Ena-Chan...(maksa)

Riview yaahh...^^

39 (SanKyu)

Jaa Matta...