.

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning : Ooc (walaupun masih berusaha untuk IC), typo yang gak bisa dihindari, dan kesalahan lainnya.

Kalau ada persamaan baik judul atau cerita dengan Author-author sebelumnya Na mohon maaf yang sebesar-besar,tapi ini ASLI lahir dari hasil kerja otak yang Na punya.
Yaahhh.. anggap saja persamaan kita ini mungkin karena kita jodoh..-Plaaakk...!-

~Ramen Lover in Love~

Hinata mengayuh sepedanya secepat yang dia bisa, dia mengalami sedikit kesulitan karena baju seragam Ichiraku yang masih melekat di badannya. Pagi ini Hinata tidak bertemu dengan Naruto di sekolah karena Naruto tidak masuk tanpa keterangan. Dia tidak terlalu terkejut saat tak bertemu lagi dengan Naruto di restoran, karena dia sudah tahu jika kemarin adalah hari terakhir Naruto bekerja di Ichiraku. Maka dari itu dia meminta ijin karena dia tidak ingin melihat Naruto memberi salam perpisahan kepada karyawan Ichiraku yang lainnya termasuk juga dirinya. Itu akan membuatnya sedih, walaupun dia masih bisa bertemu dengan Naruto di sekolah. Tapi tetap saja satu bulan bisa dekat dengan Naruto itu adalah hal yang sangat berharga baginya.

Namun saat mendengar Sakura yang berkata, "Sasuke-kun bilang, sore ini dia dan yang lain akan ikut mengantar Naruto ke Bandara."

Sebuah pemikiran Naruto akan pergi keluar negeri dan selama bertahun membuatnya tersentak, sehingga dengan panik dan suara yang tercekat menahan tangis dia meminta ijin lagi pada Kakashi yang untungnya kembali mengijinkannya untuk tidak bekerja lagi hari ini. Hinata mengayuh sepeda ungunya menuju kediaman Namikaze. Semoga saja Naruto belum berangkat ke Bandara, pikirnya sekaligus harapannya. Jika memang Naruto akan pergi lama etidaknya dia ingin bertemu dengan Naruto untuk terakhir kalinya dan mengungkapkan perasaannya, biarlah urusan Naruto mau membalas perasaannya atau tidak itu urusan belakangan.

Hinata berhenti di depan gerbang besaer milik kediaman Namikaze. Menyangga sepedannya kemudian Hinata bertanya kepada dua penjaga gerbang yang ada di sana.

"Ko-konichiwa," sapa Hinata ragu.

"Konichiwa mo, Ada yang bisa kami bantu, nona?" Izumo menjawab sekaligus bertanya kembali kepada Hinata dari balik terali gerbang yang dicat warna hitam.

"Ano, Apa Naruto-kun ada?" Izumo dan Kotetsu saling memandang sebentar.

"Ah... tuan muda Naruto sudah berangkat ke Bandara," jawaban Kotetsu membuat Hinata terduduk lemas. Dadanya terasa sesak dan sakit bersamaan. Tanpa sadar setetes air mata meluncur dari iris lavendernya yang kemudian disusul dengan air mata yang tak bisa Hinata tahan lagi membuat Kotetsu dan Izumo terheran.

Apa yang harus Hinata lakukan sekarang? Apa dia harus ke Bandara? Dengan apa? Dengan sepeda?. Hinata menatap sepedanya sejenak. Menggeleng kepalanya pelan, membuat helai indigonya berayun. Jarak dari rumah Naruto sampai Bandara itu lebih dari 50 kilometer. Kalau pakai mobil yang kecepatan rata-ratanya 50 Km bisa sampai Bandara satu jam. Nah, kalau pakai sepeda sampai Bandara berapa jam? Dan sesampainya Hinata di sana belum tentu Naruto masih ada di Bandara bukan? Memangnya pesawat mau menunggu sampai Hinata datang?

"Tiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnn..." suara klakson itu mengagetkan Hinata dari semua lamunannya dan membuat Izumo menutupkan kembali mulutnya untuk bertannya kepada gadis malang tersebut. Ketiga kepala itu melihat keasal suara mobil dan ketiga iris beda warna itu mendapatkan sebuah mobil sport orange dengan garis-garis seperti api berwarna merah yang Hinata kenali sebagai mobil milik kakaknya Naruto. Hinata mengelap kasar jejak air mata yang membekas di pipinya menggunakan lengan bajunya dan langsung berdiri walaupun kakinya masih terasa lemas.

"Ooi, Izumo, Kotetsu. Kenapa kalian tidak buka pintu gerbangnya? Aku mau keluar," seru seseorang dengan suara serak yang menyeramkan. Kepalanya sedikit dikeluarkan dari kaca mobil samping yang diturunkan.

"Ah, Maaf tuan muda Kyuubi," Izumo dan Kotetsu langsung membuka gerbang. Kyuubi yang melihat Hinata berdiri di depan gerbang menghentikan kembali mobilnya.

"Ikut aku," ajak Kyuubi dari dalam mobil.

"Haah?"

"Kau mau ke Bandara 'kan?" Hinata mengangguk lesu.

"Kalau begitu. Ayo, cepat naik." Hinata menatap Kyuubi kemudian sepeda ungu miliknya, ada rasa tidak rela meninggalkan sepeda tercinta dipinggir jalan. Nanti kalau ada yang mencuri gimana?.

"Izumo, Kotetsu, bawa masuk sepeda butut itu," perintah Kyuubi yang sepertinya tahu apa yang ada dipikiran Hinata dan membuat Hinata terbengong heran sekaligus dongkol karena sepeda kesayangannya dibilang butut.

"Kenapa malah bengong? Ayo, cepat naik," ajak Kyuubi lagi mulai tidak sabar. Hinata berputar ke pintu penumpang dan langsung duduk dengan perasaan caggung.

Hinata merasakan perutnya seperti dibolak-balik. Kini dia sudah sampai di Bandara dalam waktu tidak sampai 15 menit. Kyuubi mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, membuat Hinata ngeri dan mual. Kyuubi langsung menyeret Hinata masuk ke dalam Bandara tak memberi kesempatan bagi Hinata untuk mengeluarkan isi perutnya, Kyubi melangkahkan kakinya menuju tempat keluarganya berkumpul. Langkah Kyuubi ikut terhenti ketika lengan orang yang diseretnya berhenti.

"Naruto-kun," gumam Hinata pelan melihat pemuda berambut kuning jabrik yang sedang bergurau dengan keluarga dan sahabatnya. Namun entah sebuah kebetulan atau apa memang suara Hinata yang kecil masih bisa didengar oleh Naruto di tengah ramainya Bandara siang ini. Si pemuda berambut pirang jabrik itu berbalik melihat ke arah Kyuubi dan Hinata membuat keluarga dan sahabatnya ikut berbalik. Hinata menatap Kyuubi sebentar dan mendapat anggukan dari Kyuubi. Hinata berjalan mendekat ke arah Naruto.

"Naruto-kun," gumam Hinata lagi setelah di dekat Naruto.

'Greep…' Hinata menahan napasnya saat merasa seseorang memeluknya dengan erat.

"Gyaaaa... kau semakin imut saja," Kushina menjerit. Hinata yang merasa telinganya berdenging karena mendengar seseorang menjerit di dekatnya mulai mendongakkan kepalannya. Sedikit terkejut dan kecewa karena yang memeluknya ternyata Kushina bukan Naruto.

"Eh?" heran Hinata belum hilang tapi Kushina sudah mencubit pipi chubby Hinata dengan gemas dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya masih setia melingkar di punggung mungil Hinata.

"Kushina, sudah lepaskan dia. Kasihan 'kan dia?" Minato mencoba menarik Kushina agar tidak memeluk Hinata terlalu erat. Namun naas Kushina malah semakin mengeratkan pelukannya dengan kedua lengannya.

"Okaa-san, lepaskan Hinata-chan," Naruto juga berusaha melepaskan Hinata dari pelukkan maut ibunya dengan cara menarik bahu Hinata.

"Diamlah kalian berdua," gertak Kushina yang dan semakin mengeratkan pelukannya kepada Hinata membuat Hinata sesak napas.

"Lepaskan dia, Okaa-san," Kyuubi menggenggam tangan kiri Kushina, ikut membujuk ibunya. Namun Kushina menggeleng dengan tegas.

"Otou-san," panggil Kyuubi pada Minato yang sedang menggenggam tangan kanan Kushina, Minato mengangguk.

Kyuubi menatap Naruto yang untungnya langsung mengerti Naruto yang juga langsung mengangguk, dia semakin mengeratkan kedua tangannya di bahu Hinata. Naruto dan Minato menunggu aba-aba dari Kyuubi dengan jantung yang berdebar-debar. Kyuubi menarik napas dalam-dalam dengan dramatis membuat Naruto dan Minato semakin tegang dan meneguk ludah mereka secara bersamaan. Sedangkan Hinata sudah merasa semakin sesak di pelukan Kushina, oksigen di paru-parunya semakin menipis.

"Sekarang…!" seru Kyuubi.

Dengan serentak Kyuubi dan Minato menarik tangan Kushina agar melepaskan pelukannya. Setelah itu Naruto langsung menarik Hinata keluar dari pelukan ibunya. Hinata merasa lega saat terlepas dari pelukkan Kushina. Namun dia kembali menahan napasnya saat punggungnya menubruk dada bidang Naruto. Ditambah lengan kanan Naruto yang memeluk perut rampingnya. Seketika wajahnya langsung merona, Hinata tidak sanggup mengangkat wajahnya.

"Tiiidaaaakkk," jerit Kushina histeris membuat yang melihat perebutan keluarga itu sweetdrope.

"Dia tidak pernah berubah," Tsunade memijit pelipisnya yang terasa pusing melihat tingkah menantunya.

"Wajar saja, mungkin Kushina terlalu lama menjadi wanita paling cantik di antara Minato, Kyuubi dan Naruto," Jiraiya meremas pelan bahu istrinya, "Bukankah dulu kau juga seperti itu?" ledek Jiraiya membuat Tsunade menatapnya dengan tajam.

Kushina masih meronta dari genggaman Minato dan Kyuubi, sedangkan Hinata berusaha agar tidak pingsan dalam pelukan Naruto.

"Cepat pergi, baka otouto," seru Kyuubi yang mulai kepayahan menghadapi rontaan ibunya.

"Kau tidak apa-apa?" Naruto bertanya khawatir dan semakin mengeratkan pelukannya saat Hinata hampir limbung. Hinata tidak menjawab dia hanya mengerjapkan matanya berkali-kali agar tidak kehilangan kesadarannya.

"Kyuu Nii," seru Naruto. Kyuubi yang paham langsung merogoh saku celananya dan melempar kunci mobilnya dan ditangkap dengan baik oleh Naruto.

"Jaga baik-baik mobilku," seru balik Kyuubi yang masih berusaha menjaga ibunya.

"Kau bisa berjalan?" Naruto bertanya lagi yang kembali tidak digubris oleh Hinata yang wajahnya makin memerah.

"Baiklah. Ojii-san, hati-hati diperjalanan nanti. Semuanya aku duluan," Naruto kembali berseru.

'Eh? Kakek?' batin Hinata sebelum dia merasa tubuhnya melayang. Hinata membuka matanya dan menatap Naruto yang tersenyum kepadanya.

"Pegangan yang kuat yah. Aku yakin Tou-san dan Kyuu Nii tidak akan bisa bertahan lama menjaga Okaa-san," ucap Naruto. Saat itu Hinata langsung tahu bahwa Naruto menggendongnya di depan atau bridal style di Bandara. Membayangkan itu membuat wajah Hinata lebih dari merah. Napasnya semakin terasa sesak saat hembusan nafas Naruto menyentuh dahinya. Pandangannya mulai menggelap.

"Eh? Aduh, pasti gara-gara Okaa-san memeluknya terlalu erat, Hinata-chan jadi pingsan," gumam Naruto sebelum berlari meninggalkan ayah dan kakaknya yang masih menjaga ibunya yang kini menjerit melihat Naruto membawa Hinata menjauh darinya. Sahabat-sahabat Naruto hanya menyeringai melihat apa yang Naruto lakukan. Sedangkan kakek dan neneknya hanya menggeleng melihat kelakuan anak dan cucunya.

.

.

.

Naruto menghentikan mobil Kyuubi di sebuah tebing dengan hamparan air laut di bawahnya. Dia memandangi gadis yang tertidur di sebelahnya, melihat wajahnya yang tenang saat pingsan. Naruto mendekatkan dirinya ke Hinata. Jari telunjuknya menyentuh pelan dahi putih Hinata dengan poni yang kini tersampir ke samping, kemudian turun dengan perlahan ke hidung mungil namun mancung milik Hinata. Jari telunjuk Naruto semakin turun dan berhenti di bibir mungil semerah cerry milik Hinata yang basah dan terbuka sedikit. Wajah Naruto bersemu entah karena apa, Naruto semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata. Sedikit lagi dia akan merasakan lembutnya bibir Hinata.

"Eenghh..." erang Hinata membuat Naruto menjauh dan kembali ketempatnya semula. Jantung Naruto berdetak kencang. Wajahnya semakin memerah. Hampir saja dia melakukan sesuatu yang lancang dengan mencium seorang gadis tanpa izin dan juga hampir ketahuan.

"Naruto-kun," Hinata bergumam pelan membuat Naruto terkejut, ia menoleh dan menatap Hinata yang berusaha membuka kelopak matanya.

"Kau sudah bangun, Hinata-chan?" Naruto bertanya sedikit gugup. Sedikit lama untuk Hinata merespon suara Naruto sebelum dia membuka matanya lebar dan dengan cepat menoleh ke arah Naruto.

"Naruto-kun?" serunya tidak percaya.

"Iya, ini aku," Naruto memiringkan kepalanya heran.

"Kau, tidak jadi pergi?" Hinata bertanya dengan gagap.

"Pergi? Kemana?" Naruto balik bertanya membuat Hinata bingung.

"Bukankah kau ke bandara karena ingin pergi ke luar negeri?" Hinata masih bertanya dengan gagap.

"Oh, itu? Itu aku hanya mengantar kakekku yang ingin kembali berkeliling dunia untuk mencari inspirasi," jawab Naruto dengan tersenyum lembut membuat Hinata menundukan wajahnya yang memerah.

"Ayo, kita keluar," ajak Naruto seraya mengusap pelan mahkota indigo Hinata. Hinata masih memandangi Naruto yang keluar dari mobil sebelum akhirnya diapun turut keluar dari mobil. Hinata berdecak kagum saat melihat apa yang terhampar di depan mata peraknya.

"Lihat, sebentar lagi mataharinya akan terbenam," Naruto menunjuk kearah lingkaran besar berwarna jingga yang jika dilihat sepertinya sedikit lagi akan bersentuhan dengan air laut. Hinata berjalan mendekati Naruto, angin laut langsung menerbangkan rambut indigo miliknya. Hinata mencoba menetralisir jantungnya yang terus-terusan berdetak keras. Mengikuti arah pandang Naruto yang menatap lurus matahari yang akan terbenam. Deru ombak yang bertemu dengan karang di bawah sana memecah keheningan diantara mereka.

"Kau tahu? Sebulan yang lalu aku adalah anak yang manja dan suka menghambur-hamburkan uang orang tuaku. Sampai akhirnya kedua orang tuaku meminta bantuan Kakashi-san untuk mengajariku susahnya mencari uang," kata Naruto panjang lebar menceritakan kisahnya. Hinata hanya mengangguk karena dia sudah mengetahuinya.

"Aku juga tidak menyangka jika pembimbingku adalah gadis yang dulu aku kira adalah gadis yang sombong," Naruto terkikik geli saat melihat Hinata yang memandangnya dengan pandangan tak percaya.

"Hey, itu karena kau selalu menghindariku dan tak menyapa atau membalas sapaanku," bela Naruto. Hinata kembali menudukan wajahnya, malu.

"Itu karena aku malu jika bertemu dengan Naruto-kun," jawab Hinata pelan dan gugup.

"Oh... jadi begitu," Naruto manggut-manggut.

"Awalnya aku kesal menjalani kehidupanku yang tiba-tiba saja berubah. Tapi akhirnya aku bersyukur karena berkat ide gila orang tuaku aku bisa bertemu denganmu," dan secara tidak langsung mengenal kehidupanmu, "hal itu membuatku tau bahwa..." hidup kadang tidak seperti apa yang kita ingingkan. Dan aku harus lebih bersyukur karena aku termasuk orang yang beruntung, "...mencari uang itu memanglah susah," kelakar Naruto, Hinata tersenyum menanggapinya.

"Terkadang aku pikir ini seperti drama sinetron. Dimana seorang pecinta ramen jatuh cinta pada pembimbingnya di tempatnya bekerja di restoran ramen," Naruto kembali terkikik, di tatapnya Hinata yang kini mengerutkan dahinya bingung mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Naruto. Naruto melangkah memperpendek jaraknya dengan Hinata. Matahari sudah menyentuh permukaan air laut.

"Awalnya aku tidak tahu kenapa bayanganmu yang dulu menyebalkan bagiku malah hampir membuatku gila jika terus memikirkanmu," Naruto berhenti melangkah saat jaraknya hanya satu langkah lagi dengan Hinata. Hinata menundukan wajahnya yang memerah, dadanya berdebar hebat menyadari jaraknya dengan Naruto sangat dekat.

"Salah satu dalam diriku memintaku untuk berhenti memikirkanmu. Namun pikiran dan hatiku menolaknya dengan tegas. Terkadang aku ingin marah padamu dan menyuruhmu berhenti melayang di pikiranku, tapi itu adalah hal terkonyol yang akan kulakukan." Perlahan matahari mulai terbenam seolah tersedot oleh air laut.

"Sampai akhirnya aku sadar bahwa aku... mencintaimu, Hinata." Tubuh Hinata tersentak mendengar penuturan Naruto. Bukankah awalnya dia yang akan mengungkapkan perasaannya? Hinata memberanikan dirinya menatap pemuda yang selama ini dicintainya yang kini tersenyum kepadanya dengan tulus.

"Aku… aku juga mencintaimu, Naruto-kun," kata Hinata pelan dan tergagap. Naruto tersenyum lebar dan langsung memeluk Hinata. Hinata ingin pingsan lagi namun sekuat mungkin ia menahannya karena tak ingin kehilangan momen yang berharga ini, mencoba merilekskan diri Hinata menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Naruto. Menghirup dalam-dalam wangi pemuda yang dulu pernah ia pikir tidak akan mungkin bisa sedekat ini berada di dekatnya.

"Tanpa kau jawabpun, aku sudah tahu itu"

"Eh?" Hinata mendongak menatap Naruto yang nyengir dengan jahil ke arahnya. Hinata merasa wajahnya benar-benar terbakar.

Naruto mengalihkan pandangannya menatap matahari yang sebentar lagi akan tenggelam sempurna, Hinatapun ikut memandanginya. Dirasakannya Naruto yang semakin mengeratkan pelukannya.

"Aku mencintaimu," bisik Naruto ditengah deru angin namun Hinata masih bisa mendengarnya dengan jelas. Sebuah senyuman manis tersungging di bibirnya. Matahari terbenam sepenuhnya.

Omake

"Hi-Hinata, aku menyukaimu. Aah.. tidak, tapi aku mencintaimu," ungkapan Kiba langsung membuat Naruto dan Hinata terkejut.

Hinata kembali menundukan wajahnya yang semakin memerah, sedangkan Naruto hanya mampu memandang Kiba dan Hinata secara bergantian. Ada rasa sakit bagai ribuan jarum yang menusuk hatinya, terasa nyeri.

"A-aah, maaf sepertinya aku harus kembali ke kelas duluan," Naruto berusaha bicara senormal mungkin walaupun nada getir masih bisa terasa.

"Na-Naruto-kun..!" seru Hinata saat melihat Naruto yang berlari meninggalkan Hinata dan Kiba berdua.

Hinata akan melangkahkan kakinya untuk mengejar Naruto namun sesuatu menahan lengannya. Hinata menatap Kiba yang memandangnya dengan perasaan terluka.

"Kiba-san," ucap Hinata dengan nada memohon, matanya bergantian memandang Kiba dan punggung Naruto yang semakin menjauh.

"Aku tahu, dari dulu hanya Naruto yang ada di hatimu," Hinata mencelos saat mendengar apa yang diucapkan Kiba. Ditatapnya pemuda berambut coklat itu.

Hinata tersentak saat tangan Kiba yang tadi menggenggamnya kini beralih memeluknya dengan erat. Hinata mencoba melepaskan pelukan Kiba dari tubuhnya.

"Aku mohon, biarkan seperti ini sebentar saja," lirih Kiba membuat Hinata berhenti meronta "Biarkan seperti ini sekali saja, setelah itu aku akan berusaha melupakan perasaanku kepadamu. Biarkan seperti ini, untuk yang pertama dan mungkin untuk yang terakhir kalinya. Aku mohon, setelah ini aku akan mencoba untuk melupakanmu" gumam Kiba lagi membuat hati Hinata terenyuh. Dengan perlahan diangkatnya kedua lengan mungilnya membalas pelukan Kiba.

"Maaf," lirih Hinata sebelum merasakan tubuh pemuda yang memeluknya bergetar.

Tamat

Ya, ampun.. Rasanya kayak pecah telor. Akhirnya salah satu fic MC Na selesai juga. Jangan anggap Na terburu-buru mau namatin ini Fic, sebenernya Na mau namatin dari chap kemarin tapi kayaknya kepanjangan ditambah Na masih bingung dengan endingnya yang seperti apa.

Maaf, jika endingnya terkesan maksa banget, Na udah melalui segalanya sampe terkena WB. Tapi Cuma ini yang bisa Na persembahkan, terima kasih buat yang sudah nyempetin rivie, ngalert bahkan menjadikan fic ini sebagai fic favorit.^^

Maaf Na enggak bisa bales riview kalian. Akhir kata mohon maaf jika ada kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. Dan sekali lagi terima kasih banyak, tanpa kalian semua Na enggak mungkin bisa sejauh ini.

Sekali lagi, terima kasih banyak. Kalau ada waktu insyaalah Na akan membalas review kalian. Sekarang mah Na lagi sibuk nih, sibuk liburan ke Jogja bareng temen-temen. Hahaha

We are NHL, We are Family, Keep Stay Cool, guys…!

March 24, 2012

Na Fourthok'og.