My Delution brother chapter 4

a Saint Seiya fanfic...

Disclaimer : Masami Kurumada

Warning : tidak ada keteraturan alur dan EYD

Please Review...

Hope u like it! Minna-san!


.

.

.

.

Skizofrenia

.

Hari ini adalah hari genap 3 tahun aku sudah berada di rumah sakit ini, aku tidak tau mengapa aku begitu peduli tentang menghitung hari dari awal masuk ke rumah sakit ini sampai sekarang, aku berspekulasi bahwa mungkin memang tidak ada hal yang benar-benar bisa dilakukan selain 'aktivitas'ku disini, tetapi meskipun begitu aku senang dengan minimalnya kegiatan disini, paling tidak aku tidak akan berbuat macam-macam seperti yang pernah kulakukan dulu, yah... mungkin memang terdapat kecelakaan 'kecil' selama aku berada disini, tapi itu semua bukan salahku dan bukan aku yang memulai!, semua gara-gara 'dia'...

"huffftt... mengapa kau itu selalu berspekulasi buruk padaku, shaka?" tanyanya, dengan wajah mengkerut tetapi perlahan tersenyum seakan dia tidak punya salah sama sekali kepadaku.

". . . . . . . ."

Hening.

Dari awal kedatangan 'dia' terdapat banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul di benakku, hanya saja aku tidak mau mengatakannya, entah kenapa sejak 'kedatangannya', ada sesuatu yang... yang timbul dalam benakku sehingga aku merasa aku tidak ingin mengatakan atau bertanya apapun kepadanya... yah... pertanyaan-pertanyaan, seperti bagaimana dia tau apa yang ada dalam pikiranku?, isi hatiku..., darimana dia datang? Darimana dia berasal? Mengapa dia selalu muncul ketika aku sedang berbicara pada hatiku sendiri? Apa tujuannya mendekatiku?, dan. . . . . . siapa dia?

Skizofrenia

.

"wah kak shaka, kau sudah bangun?"

Aku mengangkat sebelah alis ku heran ketika gadis kecil itu menyapaku, memang aku telah terbangun dari tidur dan ini mungkin sudah pagi, tapi darimana gadis kecil berambut ungu itu tahu bahwa aku sudah bangun?, sedangkan mataku tertutup oleh sebuah alat dan dengan posisi tidurku yang mungkin malah membuat orang-orang mengira bahwa aku sedang duduk berdoa dengan khusyuk, tanganku sudah tidak terikat lagi sejak 2 hari yang lalu, aku tidak tau apa alasan mereka melepas tanganku, tetapi aku merasa sedikit lega karena dengan tanganku bebas, aku dapat melakukan 'aktivitas' ku lagi

"kak shaka, ayo kita keluar, sekarang sudah musim semi, di halaman belakang pasti sudah banyak tumbuhan hijau yang indah!"

Huh, anak kecil yang polos, aku mau saja keluar seperti apa yang kau minta, karena aku pun juga menyukai sinar matahari yang hangat yang pernah kurasakan beberapa hari yang lalu, tetapi dia mungkin tidak tau –atau tidak peduli- dengan kondisiku sekarang, bagaimana aku bisa keluar?, jika kamarku terkunci, sedangkan mustahilkan aku membukanya secara paksa? Apa gadis itu bisa membukanya sendiri? sementara gagang pintu kamarku saja mungkin lebih tinggi dari tubuh gadis itu meskipun dia sudah merentangkan tangannya keatas untuk meraih gagang pintu...

"ah nona saori, sedang apa nona disini?"

"ah! Kak perawat! Tolong aku, aku ingin mengajak temanku keluar dan bermain bersama, tapi pintunya terkunci! Kakak, tolong bukakan dong kak!"

"teman ya. . . . . . baiklah akan kakak bukakan, tunggu disini, kakak akan ambil kuncinya..."

. . . . . . .

Yang benar saja...

.

Teman katanya...

.

Omong kosong...

.

Skizofrenia

.

"hmmm matahari tahun ini cerah dan hangat!"

". . . . . . . . ."

"hei, hei kak shaka... jangan hanya melakukan 'itu' terus, ayo.. bukalah matamu... bunga-bunga disini sedang mekar2nya loh!"

Kau tau gadis kecil, tidak perlu sampai membuka mataku pun aku bisa merasakan semua hal yang ada disekelilingku.

"sejak kemarin aku penasaran dengan mata kakak, pasti indah ya. . . . . "

Kau tidak tau apa-apa soal mata ku gadis kecil

"hmmm biar kutebak, warna mata kakak... euuhhmm... pasti... biru bukan?"

Tepat sekali.

"jika benar, maka kakak pasti akan terlihat sangat cantik ya?"

"aku laki-laki", aku kesal jika ada yang menganggapku perempuan jika dilihat dari wajahku

"hahaha. . . . ., akhirnya kakak bicara juga ya.."

Aku kesal, aku tidak suka dipaksa walau itu secara halus atau dengan kekerasan, sudah cukup itu terjadi pada masa itu, aku tidak mau mengalaminya lagi, apalagi oleh seorang gadis kecil ini?

". . . . . ."

Hening.

Aku melihat gadis itu sedang duduk disampingku kembali, pandangannya terlihat menuju kedepan dengan mata hijaunya yang sendu itu, entah kenapa aku merasa nyaman sejak gadis kecil ini muncul, dan entah jika aku dekat dengannya aku jadi teringat dia. . . .

Lupakan.

.

Skizofrenia

.

Entah kenapa sejak kembali dari taman, aku tidak bisa konsentrasi untuk bermeditas lagi, pikiranku terasa tidak ada di kepalaku, melayang. . . . . .

"xixixixi apa aku bilang, kau teringat padanya"

Baiklah, aku menyerah, aku memang teringat padanya

"jika begitu, shaka, apa kau ingin bertemu dengannya?"

Bertemu dengannya?

.

.

.

Skizofrenia...

.

"kau tau shaka, tidak semua orang harus berperilaku baik, terkadang kita harus menunjukkan wajah asli kita"

"tapi itu semua sangat bertolak belakang pada ajaranku, kau tahu"

"shaka, menurutku itu semua hanya teori, manusia dituntut untuk jauh dari teori yang ada, walau manusia tau jika mereka mengikuti teori yang ada mereka pasti akan lebih baik, tapi nyatanya manusia selalu melenceng jauh dari teori, semua manusia, tidak terkecuali kau shaka"

"aku tidak akan berbuat seperti itu"

"mungkin shaka, kau akan menyadarinya sendiri"

". . . . . .Lia"

"ya?"

"terima kasih"

.

.

.

.

Brengsek!

.

Brzzzztt!...

Argh!

.

.

.

TBC