Jauh-jauh dari pemuda tampan menyeramkan Uchiha Sasuke adalah urutan pertama dalam daftar yang harus dilakukan Hinata Hyuuga. Namun siapa sangka, semakin gadis itu berusaha menjauh, semakin banyak masalah muncul yang menjeratnya dengan pemuda menyeramkan penuh pesona. Dan petualangan Hyuuga pemalupun dimulai.

Hyugaa Hinata

Uchiha Sasuke

Rating : T

Genre : Romance & Hurt/comfort

Desclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : AU, OCC, Gaje, Typo (s), Abal and hope you like this.

-Romeo From The Hell-

Hinata membuka kedua matanya akibat terpaan sinar mentari pagi yang langsung mengenai kelopak mata miliknya. Dengan perlahan gadis itu menggeliat pelan, berusaha meregangkan otot-ototnya yang kaku. Hinata mengamati selembar kain yang menyelimuti tubuhnya.

'Inikan baju Sasuke-kun' batinnya. kedua matanya mengamati tempatnya saat ini. seketika wajah Hinata memerah, mengingat sekarang dia masih berada di dalam mobil milik pemuda raven itu. Ngomong-ngomong, dimana Si Pemilik mobil ini? Hinata mencoba memandang keluar, dan seketika itu juga Hinata menyadari kalau mobil yang ditumpanginya itu tengah terparkir di jalanan yang bersebrangan dengan laut.

Pantainya tidak terlalu luas, kebanyakan batu-batu besar di tepinya. Antara jalanan dan pantai, dibatasi tembok besar. Hinata menangkap sosok tegap tengah berdiri menghadap pantai, tidak jauh dari mobil hitam itu terparkir. Pemuda itu, Uchiha Sasuke hanya mengenakan kaus berwarna putih saja sebagai penutup bagian atasannya.

Hinata menelan ludahnya, dan dengan ragu gadis itu membuka pintu mobil. Langkahnya terlihat hati-hati ketika mendekati pemuda itu. Setelah berada lebih dekat dengan pemuda itu, Hinata terhenti dan tertegun, melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Uchiha Sasuke terlihat bersinar. Terpaan cahaya mentari pagi membuat wajahnya seperi mentega kuning bercahaya. Hinata mengerjapkan kelopak matanya, tanpa sadar Hinata memiringkan kepalanya, mengamati pemuda itu.

Setelah tersadar dengan kelakuannya, Hinata menggelengkan kepalanya cepat. Setelah menghembuskan nafasnya pelan, gadis itu mendekat.

"I-ini," katanya menyodorkan kemeja hitam milik Sasuke, "A-arigatou," katanya lagi. Sasuke belum meraih kemeja itu, cukup lama, sehingga membuat Hinata menarik kembali uluran tangannya. Lagi-lagi, pemuda Uchiha itu dengan santainya mengacuhkan orang lain. Hinata menunduk, berpikir keras, apakah dia melakukan sesuatu yang membuat pemuda di hadapannya kembali merengut.

"Kau boleh percaya padaku," Sasuke memecah keheningan diantara mereka, membuat Hinata menatap ke arah pemuda itu dengan cepat. "Kau hanya perlu menunggu," Hinata masih terdiam, "Setelah semua urusan ini selesai, semuanya akan berakhir," Sasuke belum menatap ke arah gadis itu, "Tinggal kau dan aku."

Hinata mematung, wajahnya kembali merona setelah mencerna perkataan Sasuke. "Kau," gadis itu menelan ludah.

"Eto..." entah kenapa jantung gadis itu berdetak lebih cepat dan tidak karuan. Sasuke memalingkan wajahnya ke arah Hinata, salah satu sudut bibirnya terangkat.

"Hilangkan semua perasaanmu terhadap laki-laki lain. Fokuskan semuanya untukku!'

"E-Eh?"

"Dan kau akan menjawab 'iya'," kata pemuda itu seenaknya memutuskan. Hinata lagi-lagi membatu dengan pernyataan Sasuke.

"Ta-tapi-," Hinata menelan ludah,"Ta-tapi, mana bisa begitu... "

"Kau menolak?" tanya Sasuke menatap Hinata, gadis itu semakin gelisah dalam geraknya, kepalanya menunduk. Tanpa disadari oleh Hinata, Sasuke tersenyum tipis, lalu dengan cepat dia meraih tangan kanan Hinata, membuat gadis itu mendongak.

Gadis itu dapat merasakan genggaman tangan yang besar dan hangat itu. Sasuke menatap jauh pada hamparan laut yang berada di hadapan mereka. Hinata menatap Sasuke, muncul senyum manis di wajahnya, tangannya yang mungil itu kini bergerak, berbalik membalas genggaman tangan Sasuke. Untuk sesaat, Hinata dan Sasuke lupa pada dunia.

...

Hinata memandang kosong lapangan basket yang sedang diisi dengan pertandingan antar kelas. Tampaknya tidak ada niat bagi gadis itu untuk beranjak dari duduknya sama sekali. Dari raut wajahnya, tampak gadis itu sedang berpikir keras. Wajahnya tampak suram dan di tekuk. Setelah kejadian di tepi pantai dengan Sasuke, Hinata terus saja menghindar dari pemuda itu. Entah kenapa setiap bertemu dengan pemuda itu, jantungnya bergerak tidak normal, perutnya juga melilit tak karuan. Seakan ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan tidak tentu arah di dalam sana.

"Kenapa wajahmu jelek begitu?"

Suara itu sukses memecah konsentrasi Hinata. Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah samping dan mendapati sahabatnya tengah menatap aneh ke arahnya.

"Kiba-kun," katanya pelan, seraya tersenyum tipis. Kiba mengambil inisyatif untuk duduk di samping gadis itu, "Katakan, ada apa?" tanyanya. Hinata sedikit menyerngitkan dahinya, tidak mengerti.

"Akhir-akhir ini kau tampak aneh, dan itu membuatku khawatir. Ceritakan padaku ada apa?" tanya pemuda itu lagi. Pertanyaan Kiba sukses menimbulkan senyuman kecil dari Hinata, "Arigatou sudah mengkhawatirkanku Kiba-kun. Tapi aku baik-baik saja," katanya pelan.

Kiba tersenyum, lalu tangan kanannya terangkat mengusap puncak kepala Hinata, "Nee Hinata, kau harus ingat satu hal," katanya, "Kapanpun kau butuh, temanmu yang paling tampan ini akan selalu siap sedia," Kiba menepuk-nepuk dadanya bangga. Hinata terkekeh kecil, lalu mengangguk, "Aye kapten," katanya.

Sementara itu,

"Teme... bolanya!" seruan Naruto memalingkan wajah Sasuke yang tadinya memandang tajam ke jendela gedung lanti dua. Dengan refleks, Sasuke berbalik dan menangkap bola orange itu, melemparnya kuat ke arah ring.

"Wow, three point!" seru para penonton kagum, terutama kaum hawa. Sementara Naruto mendekat, menyerngitkan dahinya melihat wajah Sasuke yang ditekuk. "Kau kenapa, apa sih yang kau lihat dari tadi?" tanya Naruto. Sasuke memandang angkuh sahabatnya tu, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku olahraganya, "Berisik kau Dobe," katanya datar lalu pergi begitu saja, meninggalkan lapangan.

Ctik

Mau tak mau, urat kemarahan Naruto muncul juga, "Kenapa kau sangat menyebalkan!" katanya berteriak-teriak, tanpa dipedulikan oleh Sasuke. merasa tidak ada gunanya marah-marah, Naruto berhenti dan menghela nafanya. Pemuda itu mengalihkan pandangan ke arah pusat pandangan Sasuke tadi.

"Itukan kelas Hinata," gumamnya, "Eh? Bukannya itu Kiba dan Hinata?" tanyanya entah pada siapa, ketika kedua bola mata birunya menangkap bayangan Hinata dan Kiba sedang duduk di dekat jendela, di lantai dua.

...

Ino melangkah pelan di sepanjang koridor sekolah. Langkahnya terhenti ketika melihat kerumunan siswa di depan mading sekolah. Penasaran, Ino melangkah mendekat dan berusaha menelusup diantara kerumunan siswa.

Kunjungan Donatur Sekolah

Setelah selesai membaca pengumuman itu, Ino bergerak cepat keluar dari kerumunan itu. Kunjungan donatur sekolah itu diadakan setiap setahun sekali. Acara dimana para donatur sekolah yang memiliki dompet tebal diundang untuk melihat para siswa-siswi yang berprestasi. Dengan kata lain, pada kesempatan itulah para siswi-siswa 'menawarkan' kecerdasannya dan mendapatkan beasiswa yang menjanjikan dari para donatur.

"Sakura," katanya ketika memasuki kelas dan berjalan ke bangku Sakura. Gadis pink itu menoleh dan mendapati sahabatnya tengah duduk di depannya, "Kau tahu tidak pengumuman yang baru saja di tempel?" tanyanya.

Sakura terlihat menghentikan kegiatannya menulis -yang Ino tidak tahu apa yang sedang ditulis- , gadis itu menatap Ino, "Tidak, memangnya ada apa Ino-pig?"

"Dua minggu lagi akan ada kunjungan donatur. Kalau tidak salah ayahmu donatur sekolah ini juga kan?" Sakura mengangguk, "Kalau begitu kemungkinan ayahmu juga akan datang," lanjut Ino.

"Aku rasa begitu," Sakura mulai berdiri dari duduknya, "Naa... aku mau ke perpustakaan, kau mau ikut?" tanya Sakura pada Ino. Yang ditanya hanya mengangkat kedua bahunya, "Kau saja," katanya seraya duduk di kursinya. Sakura berlalu, Ino memandang lapangan dari duduknya yang berada di samping jendela.

...

From : Sasuke

Tunggu aku di gerbang sekolah

Hinata mendesah, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas sekolahnya. Jam sekolah akan berakhir sekitar tiga menit lagi. Gadis itu kembali melihat ke arah depan, dimana Anko-sensei berdiri, menutup pelajaran hari ini.

Drrt drrt

Ponsel Hinata bergetar lagi, dengan cepat gadis itu meraih ponsel putih itu. Dengan cepat, gadis itu memencet salah satu tombol ponselnya, membuka email itu.

From : Sasuke

Pastikan teman anehmu itu tidak mengekor padamu.

Hinata mendesah lagi. Lalu melihat ke arah samping, tempat duduk Kiba.

Drrt drrt

From : Sasuke

Ingat, aku tidak suka menunggu

Kali ini Hinata benar-benar kesal, bahkan jam sekolah belum berakhir, dan pemuda raven itu sedah mengiriminya email berkali-kali. Dengan cepat, Hinata menggerakkan jari-jarinya menari di atas tombol ponselnya.

To : Sasuke-kun

Aku tahu Sasuke-kun. Bahkan jam sekolah belum berakhir.

Drrt drrt

Ponsel Hinata kembali bergetar. Dengan cepat Hinata membuka email yang masuk.

From : Sasuke

Kau menggerutu?

Hinata menggigit bibir bawahnya, apa benar dia terlihat seperti menggerutu?

Drrt drrt

Ponselnya kembali bergetar. Hinata menarik nafas lalu dengan cepat dia memencet tombol ponselnya, membuka email yang masuk.

From : 0108xxx

Kau suka kejutan? Aku berharap kau suka, karena aku akan memberikannya padamu.

Kedua mata Hinata menyipit. Apa maksud email ini? siapa pengirimnya?

"Hinata-chan, ayo!"

Panggilan itu membuat Hinata tersentak, lalu mendongakkan kepalanya. Di depannya kini berdiri sosok pemuda yang tengah menatapnya heran. "Halo... Bumi pada Hinata. Apa kau masih di sana?" kata Kiba lagi, menggoyang-goyangkan telapak tangannya di hadapan wajah Hinata yang masih menatapnya, Hinata tersadar, "Ki-Kiba-kun... " katanya, lalu dengan cepat memasukkan ponselnya ke dalam tas hitam milik gadis itu.

"Baiklah, sekarang katakan padaku ada apa? Tingkahmu sangat aneh," kata Kiba dengan pandangan menyelidik. Hinata menggeleng cepat, "Tidak ada apa-apa... "

Kiba menyipitkan kedua matanya, lalu mencondongkan badannya ke arah Hinata, "Hum... baiklah, aku akan menunggu sampai kau mau bercerita," kata pemuda itu pada akhirnya, "Ayo!"

"Ano... " Hinata belum beranjak dari duduknya. Kedua jari telunjukkan saling beradu, "Ha-hari ini aku tidak bi-bisa pergi... "

"He? Apa maksudmu?"

Hinata masih belum menjawab pertanyaan Kiba. Rasa bersalah menghantui gadis itu. Sudah merupakan jadwal tetap, dirinya dan Kiba berkunjung ke perpustakaan umum setiap awal bulan. Namun, tidak memungkinkan bagi Hinata untuk hari ini pergi ke tempat itu.

"Aku tidak mau dengar. Kita sudah jarang sekali pergi berdua Hinata. Kali ini kau tidak boleh menolak," kata Kiba seraya berbalik dan mulai melangkah. Hinata sontak berdiri dari duduknya, "Ki-Kiba-kun... " panggilnya.

"Apa?" tanya Kiba malas, membalikkan badannya ke arah Hinata. Seketika pemuda itu tertegun. Di hadapanya, Hinata kini memainkan kedua telunjuknya, tumit kaki kanannya ditekuk ke belakang, menghantuk-hantukkan lantai, wajahnya merona dan memelas.

"Ki-kita bisa pergi lusa. Wak-waktunya akan lebih banyak," kata Hinata pelan. Kiba mendesah panjang, kepalanya menunduk, bahunya terkulai.

"Berhenti memasang wajah seperti itu. Kita pergi lusa."

Hinata tersenyum tipis, lalu membungkukkan badannya, "Arigatou Kiba-kun."

...

Hinata berhenti sekitar satu meter dari gerbang sekolah. Sekitar sekolah sudah sepi, dan di depannya kini Hinata melihat sosok Sasuke yang tengah melipat tangannya di depan dada, tubuhnya disandarkan pada dinding gerbang sekolah. Wajah pemuda itu terlihat... masam? Hinata menyerngitkan dahinya. Akhir-akhir ini sifat Sasuke begitu sulit dimengerti.

"Sa-Sasuke-kun... " sapa Hinata pelan, sembari melangkah mendekati pemuda itu. Orang yang dipanggil langsung melihat ke arah Hinata, "Kau terlambat," katanya dingin.

"Gomen, tadi aku dan Kiba-kun-"

"Aku tidak mau dengar ceritamu dengan pemuda itu," potong Sasuke, wajahnya semakin ditekuk. Hinata menunduk, lagi-lagi Uchiha Sasuke bersikap aneh.

"Sasuke-kun bersikap seperti orang yang sedang cemburu," gumam Hinata berbisik, yang gadis itu yakini tak seorang pun dapat mendengarnya kecuali dirinya sendiri. Namun beberapa saat kemudian, Hinata tersentak dengan apa yang barusan dia katakan.

Cemburu?

Dengan cepat dia menegakkan kepalanya, mengamati wajah ditekuk milik Uchiha Sasuke.

Gezz

Hinata menelan ludahnya, wajahnya benar-benar memerah sekarang. Benarkah Uchiha Sasuke sedang cemburu?

"Ada apa?" tanya Sasuke datar. Hinata masih menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah, "Ti-tidak ada apa-apa," katanya gadis itu terbata.

"Aku tidak suka dibohongi," desis Sasuke lagi, Hinata menggeleng cepat, "Aku tidak berbohong!"

"Kalau begitu, tegakkan kepalamu!"

"Eh?"

"Tegakkan kepalamu," Sasuke memerintah lagi. Hinata menelan ludahnya, lalu menegakkan kepalanya.

Chu

Hinata mematung. Gadis itu terpaku ketika dengan seenaknya Sasuke menempelkan bibirnya dengan bibir gadis itu. Hinata membelalakkan matanya.

"Berapa kali kukatakan," kata Sasuke ketika mengakhiri ciumannya, "Kau itu adalah milikku!"

Hinata menatap pemuda itu, wajahnya kali ini benar-benar tidak karuan. Benar-benar memerah. Jantungnya berdetak cepat.

"Me-mesum... " gumam Hinata terbata, membuat Sasuke yang tadinya sudah melangkah menuju mobilnya berbalik.

"Satu hal lagi," katanya santai, "Hanya aku yang bisa berbuat mesum padamu," pemuda itu menyeringai, "Ikut aku," perintahnya.

Hah! Dasar Uchiha.

...

Konoha High School terlihat berbeda dari biasanya. Terlihat jelas, deretan mobil mewah berjejer di parkiran sekolah mewah itu. Hari ini, tepat para donatur sekolah berkunjung. Semuanya berkumpul dalam gedung pertemuan. Banyak diantara mereka terlihat sedang berbincang-bincang. Baik dengan rekan kerja, maupun dengan para siswa-siswi sekolah itu.

Hari ini merupakan hari penting bagi para junior yang akan menamatkan sekolahnya tahun ini.

"Apa ayahmu akan datang?" tanya Ino pada Sakura. Keduanya duduk di kursi yang berada di sudut ruangan itu. "Katanya dia akan telat," kata Sakura menanggapi.

"Kau sih enak, tanpa menarik perhatian mereka dengan kecerdasanmu pun, masa depanmu sudah terjamin," gumam Ino dengan menatap orang-orang di hadapannya, "Kau memiliki segalanya."

Sakura menyerngitkan alisnya heran, "Apa maksudmu dengan segalanya?" tanyanya, "Jangan bodoh Ino-pig."

"Hei-"

"Dengar ya... " potong Sakura, "Aku hanya akan berdiri dengan kekuatanku sendiri, tanpa bayang-bayang ayahku," katanya. Sakura mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan, "Aku tidak mau seperti orang-orang yang menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk pekerjaannya," kata gadis itu, Ino tertegun.

"Hah," Ino menghembuskan nafasnya kasar, "Kalau berbicara begitu, kau seperti nenek-nenek jidat," katanya mencairkan suasana.

"Sepertinya setiap hal yang baik selalu saja kau anggap kuno, ckckck... " Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. Ino berdecak kesal, "Iya gadis jenius," katanya.

...

Hinata melangkahkan kakinya di sepanjang koridor menuju gedung pertemuan, sehabis dari toilet. Tak jauh dari tempat gadis itu, terdapat pria paruh baya yang sedang melangkah ke arahnya. Hinata memiringkan kepelanya, pria itu terlihat sedang mencari sesuatu.

"Ano.. ada yang bisa kubantu?" tanya Hinata sopan ketika tiba di hadapan pria yang masih menunduk itu. Pandangan pria itu masih terpaku ke arah lantai.

"Ah, iya. Tolong bantu aku mencari botol kecil berwarna hitam. Aku rasa terjatuh di sini," kata orang itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, Hinata ikut berjongkok, turut mencari benda yang disebutkan pria itu. Hinata tersenyum tipis ketika melihat benda itu tergeletak dekat tiang besar penyangga gedung. Dengan cepat dia beranjak dari tempatnya, mendekat pada tiang penyangga itu, lalu meraih benda kecil itu.

"Aku rasa aku mendapatkannya," gumam Hinata, "Inikah Tuan?"

Pria itu melihat benda yang terulur ke arahnya, "Kau benar," kata suara berat itu, bangkit dari posisinya, "Kau- "

Perkataan pria itu terputus ketika melihat wajah gadis yang telah membantunya. Hinata tersenyum sopan, pria setengah baya itu terpaku. Wajah itu, mata putih itu, bagaimana bisa begitu mirip? Apa jangan-jangan...

"Percobaanmu gagal Danzou!"

"Tenanglah Fugaku. Tidak ada yang tahu selain kau dan aku."

"Tapi bagaimana dengan wanita itu?"

"Palsukan saja catatan medisnya. Katakan kondisinya melemah setelah habis melahirkan. Sebagain dokter yang menangani wanita itu, aku yakin kau bisa mengatasinya."

"Tapi-"

"Riwayatmu dan riwayatku ada di tanganmu Fugaku."

" ...man, Paman?" tanya Hinata sedikit khawatir, ketika mendapati pria di hadapannya belum bereaksi, "Paman baik-baik saja?" tanyanya lagi. Pria itu mengerjapkan matanya sekali, lalu mengamati Hinata lamat-lamat. "Siapa namamu?" tanyanya dengan suara berat miliknya.

"Hyuuga Hinata," gumam Hinata pelan, masih bingung dengan perubahan sikap orang itu. Pria itu menatap Hinata dengan penuh wibawa, "Terimakasih Hyuuga Hinata," katanya lalu berlalu begitu saja.

"Ha'i," Hinata membungkukkan badannya dengan gugup, memberi hormat pada pria itu. Hinata masih menatap kepergian pria itu. Setelah pria tengah baya itu menghilang dibelokan koridor, Hinata mulai melangkahkan kakinya kembali. Akan tetapi sebuah suara mengejutkannya, dan membuatnya berhenti.

"Apa kau sudah membaca pesanku?"

Hinata tersentak. Dengan cepat Hinata mengalihkan pandangannya ke belakang, dan mendapati sosok yang dikenalnya tengah berdiri tak jauh darinya, "Kau... "

"Senang bisa bertemu denganmu Hinata-chan," pemuda pirang itu menegakkan badannya, "Apa aku dapat memanggilmu begitu?"

"Rec! Kau... se-sedang apa kau di sini?" tanya gadis itu, tidak dapat menyembunyikan kekagetannya, "Ka-kau yang mengirimiku pesan?"

Pemuda itu terkekeh, "Sebelum kita berbicara lebih jauh, biar kuperkenalkan diriku dulu," gumamnya, "Namaku Deidara."

Hinata terdiam, Deidara mendesah, "Baiklah, sepertinya kau tidak ingin beramah-tamah dulu," Deidara mendekat, "Ikut denganku."

"Ap-apa maksudmu?" kata Hinata pelan, sembari mundur menjauhi Deidara perlahan. Pemuda itu tersenyum, "Jangan melangkah lagi Hinata-chan," katanya, "Ayo ikut denganku," pemuda itu tersenyum, mendekat dengan cepat ke arah Hinata.

Sementara itu,

Sasuke bangkit dari posisi tidurannya. Pemuda itu meregangkan otot-otot lehernya. Keputusan yang buruk menerima ajakan Naruto untuk mengikuti acara membosankan seperti ini. Pada akhirnya Sasuke memilih untuk tiduran di atas gedung sekolah. Memuakkan melihat orang-orang itu memandang Sasuke dengan tatapan menjijikkan bagi Sasuke. Sasuke bosan mendengar bisikan orang-orang mengenai 'Uchiha Terakhir'. Pada kenyataannya pemuda itu sama sekali tidak peduli dengan para donetur sekolah yang sebenarnya benyak mengincar dirinya, untuk diberikan beasiswa. Berniat kelak, dapat menikmati potensi yang dimiliki oleh pemuda jenius itu.

Pergerakan Sasuke berhenti ketika melihat sosok yang begitu dikenalnya sedang bebicara dengan sesosok pemuda berambut pirang. Sasuke menyipitkan kedua matanya, lalu dengan cepat meraih ponselnya.

"Siapa itu?" tanya Sasuke ketika penggilan dari ponselnya tersambung, mata elangnya masih mengamati pergerakan Hinata dari atas sana.

"Sa-Sasuke-kun... "

"Jawab aku."

"Aku... "

Tidak ada kelanjutan dari perkataan Hinata, bahkan kini gadis itu mulai melangkah beriringan dengan pemuda pirang itu.

"Berhenti disitu sekarang juga," kata Sasuke pada akhirnya, "Aku bilang berhenti Hinata," katanya lagi ketika melihat Hinata masih melangkah.

Tut tut

Sambungan terputus, Sasuke menggeram. Ada yang tidak beres, Sasuke berlari begitu cepat menuruni anak tangga.

...

"Dari pacarmu?" kata Deidara, namun belum mendapat jawaban dari Hinata. Deidara mengangkat kedua bahunya tidak mau tahu. "Kenapa kau langsung menurut ketika kubilang Ex ingin bicara?" tanya Deidara lagi. Hinata menghentikan langkahnya tepat di samping mobil hitam yang akan membawanya pada Ex.

"Ka-karena akupun i-ingin berbicara padanya," kata Hinata mencoba tegas. Ya, Hinata harus berbicara dan menanyakan beberapa hal pada Ex. Hinata tidak akan membiarkan Sasuke dan Ex saling memburu satu sama lain. Setidaknya, Hinata ingin mengetahui kenapa Ex melakukan hal-hal seperti saat ini, yang bahkan Sasuke tidak mengetahuinya.

"Behenti di situ!" teriak Sasuke, berdiri beberapa meter dari Hinata dan Deidara. Deidara yang tadinya menghadap Hinata, membuat Sasuke tidak dapat melihat wajahnya.

"Cepat masuk Hinata-chan," desis Deidara, membukakan pintu untuk gadis itu.

"Demi apapun, aku bilang berhenti Hyuuga Hinata!" geram Sasuke, berniat melangkah mendekati keduanya.

"Waktumu tidak banyak nona," kata Deidara lagi. Hinata menelan ludahnya, membuang arah pandangnya dari Sasuke, lalu dengan cepat memasuki mobil itu. Hanya dalam hitungan detik, mobil itu melaju dengan cepat, membuat Sasuke yang tengah berlari, gagal untuk meraihnya.

"Sial!" geram Sasuke, lalu berlari dan terus berlari, berharap masih menemukan jejak Hinata. Namun, langkahnya terhenti pada belokan di persimpangan jalanan yang sepi. Matanya onyxnya menatap tajam ke arah seseorang yang tengah berdiri di depan Sasuke, menyeringai iblis.

"Kau... "

"Lama tidak berjumpa Sasuke-kun," kata orang itu dengan kekehan ringan.

"Menyingkir dari jalanku," desis Sasuke penuh penekanan, "Aku tidak ada waktu berurusan dengan orang tidak berguna seperti kau."

Orang itu, Hidan tetap menyeringai, tidak tampak gentar sedikitpun, "Jangan begitu Sasuke-kun," katanya. "Coba tebak," Hidan menyeringai, Sasuke mendecih, "Gadismu sedang bersama Ex sekarang," katanya.

Sasuke mengepalkan tangannya kuat, "Diam kau!"

Sasuke berlari menerjang Hidan. Kepalan tangannya yang besar bergerak begitu cepat meninju sudut bibir pemuda itu. Hidan mengerang dan sedikit terhuyung ke belakang.

"Brengsek! Katakan," nada suara Sasuke terdengar sangat dingin, "Kemana. Dia. Membawa. Hinata!" katanya penuh penekanan. Hidan tersenyum misterius.

"Apa aku harus menjawab?" ejek Hidan, darah segar keluar dari sudut bibir Hidan. "Apa aku harus menjawab brengsek!" katanya lalu berlari menerjang Sasuke.

Bukk

Satu pukulan telak mengenai pelipis Sasuke. "Hanya begitu saja kemampuanmu hah?" teriak Hidan lagi, lalu kembali melayangkan pukulannya. Sasuke bergerak cepat, menahan pukulan Hidan.

"Jika kau masih ingin hidup, cepat jawab aku," desis Sasuke.

...

Hinata menatap pemuda di hadapannya. Pemuda itu tampak datar tanpa ekspresi, sangat sulit untuk ditebak. Hinata melihat sekeliling ruangan itu. Ruangan kosong yang luas, mau tidak mau, Hinata sedikit gentar. Namun dia sudah melangkah sejauh ini, tidak mungkin dia mundur begitu saja. hanya dia dan Ex, berdua.

"Ka-kau," Hinata menarik nafasnya, "Uchiha Itachi." Suara Hinata sedikit bergema di dalam ruangan kosong dan besar itu. Dengan ragu, Hinata mengangkat kepalanya, "A-apa yang kau inginkan?" tanyanya.

Itachi melangkah mendekat, Hinata mundur beberapa langkah. "Ke-kenapa kau dan Sasuke-kun... " Hinata menggigit bibir bawahnya, "Dia adikmu, kenapa kau seolah-olah tidak mengenalnya? Kenapa-"

Bukk

Hinata terdiam ketika mendapati Itachi melemparkan sesuatu ke arahnya. "Apa ini?" tanya Hinata ragu, namun belum mendapatkan jawaban dari pria itu. Perlahan Hinata meraih benda itu. "Koran?" gumamnya pelan. Hinata membolak-balikkan benda itu, dan seketika dahi gadis itu berkerut heran. Tanggalnya berkisar dua bulan dari tanggal koran yang ditemukan Hinata di ruang kerja ayahnya.

'Sensasi Penemuan Haruno'

Hinata menyerngitkan alisnya ketika selesai membaca artikel itu. "A-aku tidak mengerti maksudmu," gumam Hinata pelan.

...

"Sial!" geram Hidan. Sasuke menyerangnya bertubi-tubi. Kini, Uchiha muda itu seperti orang kehilangan akal. lebih tepatnya, seperti monster mengamuk yang tidak dapat dikendalikan. Hidan terpojok, dan kini Sasuke menyerangnya membabi buta.

"Katakan, dimana Hinata!" teriak Sasuke, melayangkan pukulannya. Hidan menghindar, hingga dinding di belakang Hidan menjadi sasaran pukulan kuat Sasuke. Buku-buku tangan Sasuke mengeluarkan darah, namun Sasuke terlihat tidak merasakan dan menyadarinya. Bahkan sekarang, pemuda itu kembali bergerak menerjang Hidan.

Buuk

Satu tendangan telak, membuat tubuh Hidan terhempas dan terseret beberapa meter ke arah belakang. Sasuke menghampiri pria itu, menarik kerah baju Hidan paksa, "Dimana Hinata?" tanyanya lagi. Tidak mendapat jawaban dari pria itu, Sasuke kembali melayangkan tinju tepat pada wajah Hidan, bertubi-tubi.

"Katakan dimana Hinata!"

Hidan terkekeh kecil. Wajahnya kini benar-benar luka parah. Darah dimana-mana. Pria itu dapat merasakan kedua matanya membengkak, hingga penglihatannya buram. Darah mengalir terus-menerus dari mulut dan hidungnya. Bahkan untuk menggerakkan bibirnyapun, pria itu merasakan sakit dan perih.

"Kau tahu," katanya terengah, "Aku selalu mendambakan tubuh Hinata berada dalam dekapanku, dimanjakan dan kumanjakan. Pasti sangat nikmat mencicipi tubuhnya yang mungil itu."

"Tutup mulutmu!"

Buuk

Lagi-lagi Sasuke melayangkan tinjunya ke arah wajah Hidan.

"Bukankah kau juga menginginkannya hmm?" Hidan tetap bersuara, 'Tapi sepertinya Ex yang mendapatkan kesempatan emas itu," pandangan matanya terlihat merendahkan Sasuke, "Setelah itu, booom... gadismu akan meledak tidak bersisa," Hidan mengakhiri perkataannya dengan kekehan melecehkan.

Kepalan tangan Sasuke bergetar hebat, kepalanya menunduk, "Brengsek... brengsek!" katanya lalu kembali melayangkan tinjunya yang bertubi-tubi pada wajah Hidan. Kini, pria itu tidak menunjukkan pergerakan lagi, namun Sasuke terlihat tidak peduli. Pemuda itu terus melayangkan tinjunya.

Nafas Sasuke terengah, lalu menggeram frustasi. Dengan cepat, pemuda itu merogoh kantung jas pria yang tidak sadarkan diri di hadapannya. Dengan cepat, Sasuke meraih ponsel milik Hidan, lalu mulai membuka semua pesan atau agenda yang tertulis di dalamnya, berharap menemukan informasi yang dapat menuntunnya pada Hinata.

Gedung bekas industri kaca

Sasuke mendecih, lalu dengan cepat membanting ponsel hitam itu. Sasuke memasuki mobil Hidan yang terpakir tidak jauh dari mereka. Melajukannya dengan sangat cepat. Meninggalkan Hidan dan ponselnya yang menampilkan pesan antara Hidan dan seseorang bernama Rec, pesan yang membantu Sasuke menemukan tempat Hinata.

...

"Kuberi tahu kau satu hal," Itachi bersuara, menimbulkan gema dalam ruangan itu, "Tidak selamanya yang terlihat baik adalah baik."

"A-Apa maksudmu?" tanya Hinata.

"Kalau aku jadi kau, aku akan mencari tahu."

Itachi menatap gadis itu. Sesaat keheningan menyelimuti keduanya. "Aku tidak tahu apa maksudmu sebenarnya," gumam Hinata, gadis itu menarik nafas dalam. Itachi membalikkan tubuhnya, "Waktumu setengah jam lagi. Ada yang ingin kau sampaikan?" katanya. Hinata masih terdiam, membuat Itachi melanjutkan perkataannya, "Aku memasang bom di bawah tempat dudukmu, jika kau benar-benar bijak mempergunakan waktu yang kau miliki saat ini, maka kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan."

"Kenapa kau mengincar nyawa Sakura?" tanya Hinata tegas. Itachi menatapnya datar, "Karena aku ingin," kata pria itu singkat.

"Tapi kenapa?" desak Hinata. Itachi membalikkan badannya, "Kau mengajukan pertanyaan yang salah," katanya, lalu kembali berbalik ke arah Hinata, "Kau tidak secerdas yang kupikirkan."

Hinata tidak bisa lebih bingung dari ini, kepalanya menggeleng lemah, "Jangan berbelit U-Uchiha-san," katanya dengan memberikan penekanan pada kata 'Uchiha'. "A-apa yang ingin ka-kau katakan padaku?"

"Tujuh tahun yang lalu seorang ilmuwan jepang membuat suatu penemuan. Menguji-cobakannya terhadap wanita, salah satu pasien Rumah sakit Konoha," kata Itachi, "Namun sebelum efek dari obat itu terlihat, kondisi wanita itu melemah akibat kesalahan dalam persalinan."

"I-itu adalah berita di koran ini," kata Hinata cepat.

"Kenyataannya jauh dari pemberitaan yang beredar di media. Wanita itu mati, dikarenakan percobaan yang gagal. Namun semua itu ditutupi oleh dokter yang merawat wanita itu, juga ilmuwan itu tentunya," kata Itachi, membuat Hinata kembali tercekat.

"Mak-maksudmu, Haruno-"

Buk

Lagi-lagi Itachi melemparkan sebuah benda ke arah Hinata. Sebuah gulungan kain merah.

"Buka!" perintah pria itu. Dengan cepat, Hinata bergerak mendekati benda itu, lalu membukanya. 'Kalung?' batin gadis itu. Hinata mengamati kalung itu lekat-lekat. Liontin berbentuk bandul dengan rongga berbentuk bulan sabit di tengahnya. Dahi gadis itu menyerngit, kenpaa benda ini terasa tidak asing? "Ini... "

"Milik wanita itu," potong Itachi.

"Ka-kenapa kau memberikan ini padaku?" tanya Hinata, menatap ke arah pria itu.

"Waktumu habis. Sekarang tinggal kau sendiri menentukan jalanmu ke arah mana," potong Itachi, "Jika kau sudah menemukan kembali arah jalanmu yang sebenarnya, Deidara akan menuntunmu," katanya datar. Tangan kanannya terangkat, menampilkan senjata hitam yang digenggamnya.

Dor

Prang

Kaca jendela di hadapan Itachi pecah begitu saja, "Kau akan menjadiakan ini rahasia," kata Itachi memerintah lalu dengan cepat Pemuda itu melompat.

"Tunggu!" pekik Hinata. Gadis itu masih tidak mengerti, apa maksud dari perkataan Itachi barusan. Hinata menggeram, akan tetapi gadis itu kembali tersentak ketika mengingat nomor digital yang terus bergerak sejak tadi. Dengan cepat Hinata melihat timer bom yang kini menunjukkan butuh waktu tiga menit lagi untuknya.

Gadis itu berlari menghampiri pintu dibelakangnya, lalu memutar kenopnya.

"Oh tidak," gumam Hinata, matanya terbelalak. Pintu itu terkunci.

...

"Kenapa kau meninggalkannya begitu saja? kalau dia meledak bersama bom itu bagaimana?" tanya Deidara yang kini duduk di samping bangku kemudi yang diduduki oleh Itachi.

"Dia akan selamat," kata Itachi, "Dia bukan gadis biasa."

"Apa kau yakin ini akan berhasil?" tanya Deidara lagi. Terdengar nada ragu dalam suaranya, "Apa kau yakin dia akan mencari tahu?"

"Berikan sedikit waktu pada gadis itu. Setelah dia mengetahui segalanya, dia akan datang pada kita," balas Itachi, "Dia sendiri yang akan menyerahkan apa yang kita mau dengan tangannya."

"Kau benar, gadis Haruno itu akan dengan mudah datang kepada kita lewat Hinata," gumam Deidara.

"Ah, baiklah!" kata Deidara lagi, "Menurutmu apa yang sedang dilakukan adikmu sekarang?"

Deidara sedikit berjengit mendapat tatapan dingin Itachi, "Baiklah, baiklah! Maksudku, Sasuke. Kelihatannya dia sangat marah ketika aku membawa Hinata tadi," katanya, "Kelihannya adik- maksudku Sasuke mencintainya," gumam Deidara.

Itachi masih terdiam, pemuda itu melirik Deidara dengan ekor matanya, "Apa yang kau lakukan?" tanyanya ketika Deidara memencet tombol pada ponselnya. Deidara menyeringai, "Aku ingin sedikit bermain-main dengan Sasuke," katanya, "Aku sudah dapat nomor ponselnya dengan susah payah, sayang kalau tidak digunakan."

...

Sasuke bergerak cepat menelusuri anak tangga menuju lantai atas gedung itu.

"Hinata!" teriaknya, langkahnya semakin cepat ketika tidak mendapat jawaban. Satu persatu pintu dalam gedung itu ditendangnya kasar hingga membuka. Namun pemuda itu hanya mendapati ruangan kosong.

Lagi, dengan nafas terengah Sasuke berlari menelusuri lorong gedung itu.

...

Hinata memejamkan kedua matanya. Perlahan dihirupnya udara dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Mencoba menenangkan diri. Diliriknya timer bom yang terus bergerak mundur. Waktu yang dimilikinya tinggal satu menit lagi. Kembali gadis itu mendongakkan kepalanya, "Aku tidak bolah mati. Aku tidak ingin mati."

Hinata melirik ke arah bawah melalui jendela bekas Itachi keluar tadi. Tidak ada pilihan lain. Pintu keluar ruangan itu terkunci. Kelihatannya pemuda pirang yang membawanya tadi yang menguncinya semenjak Hinata tiba di dalam ruangan ini.

Hinata menghirup udara di sekitarnya, lalu menghembuskannya kasar. Kakinya melangkah, menaiki jendela besar itu.

...

Drrt drrt drr-

Dengan cepat Sasuke meraih ponselnya.

"Apa yang kau lakukan di sana Sasuke-kun?"

"Siapa ini?" tanya Sasuke terengah.

"Ah... kau tidak perlu tahu siapa aku. Satu hal yang perlu kau ketahui, gadismu itu akan meledak dalam hitungan... "

Mata Sasuke membelalak.

"Tiga... "

"Katakan siapa kau? Dimana Hinata?" geram Sasuke, semakin cepat memeriksa tempat itu. Kakinya bergerak cepat menuju lantai tiga gedung.

"Dua... "

"Brengsek!" geram Sasuke menendang dengan kuat semua pintu yang berada di lantai tiga.

"Satu!"

Boom

Terdengar ledakan dahsyat dari gedung kosong tepat di depan gedung dimana Sasuke berada sekarang.

Brak

Ponsel yang berada dalam genggaman Sasuke terlepas begitu saja. kedua matanya terbelalak, menyaksikan kobaran api yang dihasilkan ledakan itu.

"Ucapkan selamat tinggal pada Hyuuga-chan... "

Terdengar suara seseorang melalui ponsel Sasuke yang kini sudah tergeletak di atas lantai.

"Tidak... " gumam Sasuke, "Tidak... " katanya lagi.

Dengan cepat Sasuke menuruni tangga lalu keluar dari gedung itu, kakinya terhantam besi tua ketika akan menuruni anak tangga kelima, membuat tubuh pemuda itu terguling ke bawah. Di depannya kini api tengah berkobar melalap gedung tua itu.

Matanya tidak berkedip sama sekali.

"Hinata mati... " gumamnya. Digerakkannya bola matanya ke arah atas, menatap kobaran api yang melahap gedung itu. Pikirannya melayang lagi pada kejadian tujuh tahun yang lalu, dimana dia kehilangan semuanya, dalam keadaan yang hampir sama. Di hadapannya sendiri, kobaran api melahap orang-orang penting baginya.

Perlahan Sasuke bangkit dari posisinya. Tubuh tegap itu sedikit terhuyung kebelakang, ketika mencoba untuk berdiri, "Dia sudah mati," katanya lagi.

'Kau boleh percaya padaku'

Perkataannya pada waktu lalu kembali terngiang dalam kepala Sasuke, membuat pemuda itu tersentak. Wajahnya kembali mengeras, "Hinata belum mati! Tidak akan kubiarkan dia mati!" katanya cepat, lalu mendongakkan kepalanya yang tadinya tertunduk dalam, bermaksud akan memasuki gedung yang dilalap api itu. Akan tetapi langkahnya terhenti ketika mendapati sosok mungil itu tengah berdiri di depannya. Wajah Hinata tampak pucat, rambutnya acak-acakan. Keringat yang membasahi seluruh tubuhnya membuat beberapa helaian kecil rambutnya menempel pada wajahnya yang lengket akibat keringat tersebut. Abu pembakaran yang berwarna hitam juga menodai wajah pucat dan pakaian Hinata.

Seluruh tubuhnya juga dihisasi lecet. Resiko yang sangat besar memang ketika Hinata melompat dari lantai dua gedung itu melalui jendela. Akan tetapi, tumpukan plastik sampah sedikit mengurangi sakit yang dirasakan Hinata.

Tubuh gadis itu bergetar. Dia takut, sangat takut.

Perlahan Sasuke melangkahkan kakinya menuju gadis itu. Pandangan matanya tajam, menatap hanya pada satu titik, Hinata. Terlihat jelas, Sasuke menyeret kaki kanannya, terluka akibat tendangan Hidan yang tidak dibilang pelan mengenai tulang keringnya, ditambah dengan hantaman besi tua pada tangga yang dituruninya barusan. Disekitar pelipis pemuda juga terdapat darah yang sudah mengering. Hinata menundukkan kepalanya ketika Sasuke tiba di hadapannya.

"Kau," desis Sasuke, "Kau pikir apa yang kau lakukan hah?" bentaknya. Jelas, kini pemuda itu tidak main-main. Sasuke benar-benar marah. Tubuhnya bergetar menahan emosi. "Apa kau tidak mengerti apa yang kukatakan tadi?"

Nafas Hinata kembali tercekat, terasa sesak. Tubuhnya bergetar, kerongkongannya terasa sakit menahan tangis.

"Apa kau tidak mengerti dengan kata-kataku tadi? Apa kau tidak paham arti dari 'berhenti?" belum ada jawaban dari Hinata.

"Tegakkan kepalamu dan jawab aku!" bentak Sasuke, memegang dagu Hinata, memaksa gadis itu mendongakkan kepalanya. Terdengar isakan tertahan dari gadis itu.

"Jangan menangis. Itu membuatku muak!" Sasuke berteriak lagi. Hinata semakin menundukkan kepalanya. Tubuhnya bergetar hebat, ketakutan. Gadis itu berusaha menahan dan meredam isakannya.

"Kenapa kau bertindak semaumu hah? Apa kau merasa hebat?" Teriakan Sasuke semakin keras, namun matanya kini mengeluarkan cairan bening, "Jawab aku!"

"Kau membuatku gila Hinata Hyuuga!"

"Go-gomenne," suara Hinata putus-putus. Terlihat dengan jelas, betapa gadis itu berusaha tidak terisak. Sebagai gantinya, kedua tangannya terkepal teramat sangat kuat, menahan tangisnya.

Greb

Satu tarikan kuat dari Sasuke, membuat Hinata tertarik ke dalam pelukan pemuda di hadapannya itu. Sasuke meraih dan mendekap kuat-kuat Hinata. "Sekali lagi, jika sekali lagi saja kau membuat aku begini," kata Sasuke, "Kupastikan kau-" Sasuke berhenti berbicara, pemuda itu mengeratkan pelukannya, "Jangan bertindak bodoh lagi," kata Sasuke pada akhirnya.

Hinata hanya dapat terisak dalam dekapan Sasuke. kepalanya mengangguk kecil, "Gomen... " katanya lagi di sela-sela isakan tangisnya.

...

Ino mengamati berkas yang baru saja diterimanya dari Kotetsu. Kotetsu, Sang bartender klub malam tempa Ino bekerja sebagai DJ, tidak diragukan lagi keahliannya dalam mencari informasi. Memang benar, pada malam itu Shikamaru memintanya untuk berhenti. Tapi bukan Ino namanya jika hanya karena kata-kata itu, dia akan menyerah dan berhenti tanpa menyelesaikannya. "Jadi, seminggu sebelum kematian Chouji, dia datang ke klub ini bersama seseorang?" tanya Ino pada Kotetsu yang duduk di seberang meja.

"Tepatnya dua orang," koreksi Kotetsu," Aku sudah bertanya pada orang-orang yang bekerja di sini, dan seperti yang kau ketahui, Chouji memang datang seorang diri. Memesan ruangan VIP. Anehnya pelayan tidak di ijinkan satupun datang membawakan minuman atau pelayanan lainnya."

"Lalu dari mana kau tahu dia bertemu dengan dua orang itu?" dahi Ino sedikit mengkerut, Kotetsu terkekeh ringan.

"Kau lupa berbicara dengan siapa?" tantang Kotetsu, "Aku membongkar semua file rekaman CCTV, dan aku menemukannya sayang."

Ino mengamati lagi kaset yang berada di tangannya, "Ini maksudmu?" tanya Ino, Kotetsu mengangguk. Ino menghela nafas, lalu bangkit dari duduknya. Memasukkan kaset berwarna hitam kotak itu ke dalam tasnya.

"Thanks Ko," katanya, "Aku pergi," katanya melambaikan tangannya. Ino melangkahkan kakinya keluar dari club malam itu. Tangan kanannya terangkat, memudahkan kedua bola matanya menangkap letak jarum pada jam tangannya. Jam sembilan malam, dan jam segini Deidara pasti belum pulang.

Semenjak Ayah dan Ibu Ino memutuskan untuk tinggal di Swiss lima tahun yang lalu, kedua kakak-beradik ini benar-benar mengalami masalah dalam komunikasi. Perbedaan paham seringkali membuat mereka berdebat.

Ino menggelengkan kepalanya, menghapus bayangan Sang kakak dari benaknya. Dengan cepat dia berjalan ke arah trotoar, menghentikan taksi yang akan membawanya pulang.

...

Kepulan asap putih melayang di udara sekitar orang itu. Gelas yang kini hanya terisi setengahnya dengan wine merah itu masih setia digenggam oleh pria paruh baya itu.

"Haruno-sama, sudah waktunya meminum obat," kata seseorang dengan tubuh membungkuk hormat. Orang iru, Haruno Danzo masih tetap memandang ke arah luar melalui kaca jendea mewahnya, "Tinggalkan saja disitu," katanya dengan suara berat.

"Ha'i," kata orang tersebut, meletakkan nampan berisi obat dan segelas air putih di atas meja kerja tuannya. Danzou meneguk cairan merah itu dengan nikmat, lalu berbalik dan melangkah mendekat ke arah nampan itu. Tangannya yang mulai keriput meraih botolan kecil berisi tablet berwarna hitam itu. Dipandanginya lekat-lekat benda itu

"Hinata Hyuuga," gumamnya pelan.

Tbc

Nyaha!

Makin gaje aja ni cerita!

Oke, cuap-cuap dulu buat reader tercinta.

Special thanks, hug and kiss to:

ulva-chan, sasuhina always in my heart, Recca, Eun Jin Tsubaki-san, Ma Simba, Ichaa Hatake Youichi, Girl's 'love' blue, Keira Miyako, Yumi michiyo, Merai alixya Kudo, Ika chan, Uzumaki Panda, Suzunida, Narcissus, Hazena, nhie-chan, Ai HinataLawliet, Tata, harunaru chan muach, Ara-chan, shichan hallyu, Felixs Lucifer, Rikurohiyuki03, Mizukichan Aino Yuki, Ekha, Kino lolly, Hana Arny, papillonz, Ichsana-hyuuga, Nyx Quartz, hirartsuhyugga, Rasni, Inuzuka Sandhianie, tsukiyomi, Nanairo zoacha males login, Norikonori-chan, nohiru hikari, Nearly lan, Uwii, Hyouma Schieffer, AyameHyuga, cendi hoseki, Sheila, Love sh, Cagalli yula Attha, kapten Byakuya, Hinata-chan, giovanni, ao-kazamasa, yamanaka emo, Dae Uchiha, hina-chan, Soft purple, , Desy Cassiotaku, azalea, Ai HinataLawliet, Uchihyuu nagisa, Miya-hime Nakashinki, dan buat semua yang sudah pernah review, yang sudah baca fic ini juga termasuk silent reader.

Sekedar pemberitahuan, Akang Gaara mulai chapter depan akan berperan penting. Fanfic ini dipastikan gak bakal panjang-panjang amat kok.

Semakin pusing baca fic ini? salahkan Sasu-chan! –nah lo?-

Oh iya, buat yang minta alamat fb, maaf... author ga bisa ngasi tau, karena pada kenyataannya AUTHOR GA PUNYA FB –pundung-. Mungkin belum minat ngaktifin akun lagi setelah beberapa malasah yang timbul akibat fb.. nyahahaha!

Nah, seperti biasa! Review, saran dan kritik yang membangun diterima.

Monggo...

Peace

Ryu