Arsip lama dari HPI. Disimpan di FFn supaya lebih mudah mencarinya. Enjoy!


Judul : I LOVE U, PROFESSOR!

Disclaimer : JK Rowling

Chara : Severus Snape

Warning : OC-centric

Summary : "Aku belum pernah bertemu dengan orang yang lebih aneh dari pada sahabatku. Ketertarikannya pada Ramuan bukanlah pada subjeknya, melainkan… aku tak tega menyebutkannya."


Aku belum pernah bertemu dengan orang yang lebih aneh dari pada Emily Dunn. Dia sahabatku di sekolah sihir Hogwarts, kami sama-sama di Ravenclaw kelas enam. Emily sangat pintar tentu saja—karena dia anak Ravenclaw—terutama di pelajaran Ramuan. Dia mendapatkan OWL Outstanding untuk Ramuan, dan karena bantuannya juga aku mendapat nilai yang sama untuk OWL Ramuanku. Tapi bukannya kami saling contek saat ujian—mana mungkin!

Yeah, sebenarnya ketertarikannya pada pelajaran Ramuan bukan pada subjeknya, melainkan sahabatku yang satu itu tergila-gila pada gurunya. Yang tak lain dan tak bukan adalah Profesor Severus Snape! Apa dia sudah GILA?

Memang sih setiap orang bebas menyukai siapa pun. Tapi apa sih yang dia lihat dari Snape—maksudku professor Snape? Maaf saja ya, tapi bagiku dia tak lebih dari kelelawar raksasa, guru paling killer, raja tega. Bagaimana bisa sobatku itu masih betah berlama-lama dengan Snape sementara aku, pasti sudah ingin cepat-cepat kabur.

"Kenapa sih kau ambil NEWT Ramuan, Em?" tanyaku suatu hari, saat kami sedang belajar bersama di ruang rekreasi Ravenclaw. "Maksudku, kau kan bilang ingin melanjutkan bisnis dagang orang tuamu di Diagon Alley. Jadi tidak perlu belajar Ramuan lagi kan?"

"Terserah aku dong. Bisa saja nanti aku berubah jalur dari berdagang alat-alat tulis menjadi berdagang ramuan, dan—" dia mengangkat wajah dari buku yang tengah dibacanya dan tersenyum nakal padaku, "supaya aku bisa punya alasan untuk bertemu professor Snape-ku tersayang."

Aku benar-benar tercengang bin melongo mendengar jawabannya. Buku yang kupegang sampai terlepas dari tanganku. "Astaga Emily! Kalau aku jadi kau, aku akan melepas Ramuan setelah OWL. Bagaimana kau bisa tahan dengan cemoohannya sih?"

"Masa bodoh," sahutnya enteng, kemudian mengernyit. "Kau sendiri kenapa ambil Ramuan? Katanya kau tak suka."

"Aku butuh subjek itu. Kau kan tahu aku kepingin sekali jadi penyembuh. Dan Ramuan adalah salah satu syaratnya," jawabku.

"Nah, kalau begitu tidak usah diributkan lagi. Kita sama-sama butuh subjek itu kan?" ujarnya, kembali menekuni bukunya.

Aku mengambil bukuku dari karpet dan membacanya lagi. Lima menit kemudian serombongan anak kelas tiga masuk dengan berisik ke ruang rekreasi, membuat konsentrasiku buyar sama sekali. Parahnya lagi mereka menempatkan diri tak jauh dari tempatku dan Emily belajar dan mulai mengobrol dengan suara keras.

Kemana sih prefek? Kenapa mereka tidak ada saat dibutuhkan? Gerutuku dalam hati. Dan ini dia, satu pengacau lagi datang..

Keneth Stephenson, cowok kelas tujuh yang naksir berat pada Emily, baru saja muncul dari lubang lukisan. Dia tersenyum lebar sekali ketika melihat kami dan segera saja mendatangi kami. "Halo cewek-cewek! Lagi ngapain nih?" sapanya seraya duduk di samping Emily setelah menyingkirkan setumpuk buku.

Tak seorang pun dari kami membalas sapaannya, tapi tampaknya Keneth tidak peduli karena cowok itu berkata pada Emily yang berpura-pura membaca—matanya sama sekai tidak bergerak, "Em, akhir pekan Hogsmeade nanti mau tidak pergi kencan denganku?"

"Aku sudah ada kencan," jawab Emily singkat tanpa mengangkat wajah dari bukunya.

"Dengan siapa?" tanya Keneth cepat.

"Rahasia,"

"Oh, ayolah Emily, ngaku saja. Aku tahu kau tak punya kencan. Kau bilang begitu hanya untuk menolakku. Benar kan, Arlene?"

"Eh? Mana kutahu," kataku sambil mengangkat bahu.

Emily membanting bukunya dengan tak sabar, "Sok tahu banget sih jadi orang!" tukasnya, mendelik pada Keneth.

"Tahu dong. Apa sih yang aku tidak tahu?" kata Keneth menyombong. "Lagipula kau kan tak pernah kelihatan jalan dengan cowok. Kemana-mana selalu dengan Arlene," dia menunjukku dengan ibu jarinya. "Berani taruhan akhir pekan ini kau pergi dengan Arlene lagi."

Wajah Emily merah padam saking kesalnya sementara Keneth cengar-cengir puas.

"Ayolah, kau harus kencan denganku kali ini. Akhir pekan nanti kan Valentine."

"Kau tak pernah melihatku jalan dengan cowok bukan berarti aku tidak punya kencan!" sembur Emily marah. "Masa bodoh dengan valentine-mu. Sekarang kau pergi saja sana! Jangan menganggu orang yang lagi belajar!" Dia mendorong Keneth menjauh.

"Galak banget sih. Aku bersumpah, pokoknya kelak kau akan kencan denganku," Keneth berkata penuh tekad. Emily menjulurkan lidah mengejek padanya.

"Kenapa tidak kau terima saja ajakannya?" tanyaku pada Emily setelah Keneth pergi. "Ken kan lumayan tampan. Banyak lho gadis yang suka padanya."

"Dia itu menyebalkan," jawabnya singkat.

"Tapi menurutku mending dia daripada Snape."

"Jangan samakan dengan Snape-ku dong. Mereka beda sekali, seperti langit dan bumi," Emily membelalak padaku.

"Yeah, Keneth langitnya dan Snape buminya," kataku.

"Terbalik!" sembur Emily marah. Seperti biasa setiap aku bicara yang tidak baik tentang Snape dia pasti langsung sewot.

"Iya iya…" kataku tak sabar. "Tak usah pakai marah begitu dong."

.

.

"Potong sepuluh angka dari Ravenclaw," Snape berkata lewat hidung bengkoknya yang besar pada Emily di salah satu sesi pelajaran Ramuan kami sehari sebelum akhir pekan Hogsmeade. "Aku akan memberimu detensi kalau sekali lagi kau tidak berkonsentrasi di kelasku, Miss Dunn. Mengherankan sekali bagaimana kau bisa mendapatkan nilai OWL Outstanding dengan kinerja menyedihkan seperti ini," cemoohnya.

"Maaf, Professor. Saya janji lain kali akan berkonsentrasi," ujar Emily sambil dengan berani menatap mata Snape.

"Aku tak butuh janjimu," Snape berkata dingin. Dia melambaikan tongkat sihirnya dan ramuan di kuali Emily langsung lenyap.

"Kau sengaja ya, Em?" desisku setelah Snape pergi untuk mengomentari pekerjaan anak lain.

"Apa?" Emily balas mendesis, nyengir lebar. Mengherankan sekali dia masih bisa tersenyum padahal baru saja diomeli dan bisa dipastikan kali ini dia akan mendapat nilai nol. Entah bagaimana, dia telah membuat heboh kelas bawah tanah dengan membuat ramuannya menguarkan asap hitam pekat yang baunya busuk bukan main, seperti bau wc yang bertahun-tahun tidak dibersihkan.

"Menggagalkan ramuanmu," desisku jengkel sambil memutar-mutar bola mataku. Aku tadi hampir saja muntah ke kualiku saking tidak tahannya dengan bau ramuan Emily.

Emily tidak menjawab, hanya meletakkan telunjuknya di bibir, menyuruhku diam. Sementara matanya terus mengikuti Snape berlalu lalang di antara kuali anak-anak, melontarkan komentar menyengat hampir ke semua anak.

"Masukkan contoh ramuan kalian ke dalam botol kecil dan kumpulkan di mejaku!" perintah Snape dua puluh menit kemudian. Aku dan anak-anak lain bergegas memasukkan contoh ramuan kami ke botol kecil, menyumbatnya dan bergerak ke meja Snape. Hanya Emily saja yang tidak bergerak di mejanya, sedang menatap Snape dengan pandangan penuh damba.

"Itu satu-satunya cara untuk mengalihkan perhatian professor Snape padaku," kata Emily enteng dua jam kemudian, saat kami sedang di Aula Besar untuk makan malam.

"Astaga, Emily!" desisku tak percaya. "Kau ini kenapa sih! Bagaimana kalau nanti dia tidak meluluskanmu?"

Sahabatku itu tertawa kecil, "Dia tidak mungkin tidak meluluskan murid NEWT terbaiknya, Arlene," ujarnya menyombong. "Lagipula, Snape tidak akan memperhatikanku kalau aku tidak melakukannya kan? Maksudku, dengan sengaja menggagalkan ramuanku dan—"

"Sedikit membuat kekacauan dengan asap bau itu?" selaku dingin seraya mengiris daging panggangku. Emily memang anak yang paling pandai di kelas Ramuan kami. Dia selalu bisa membuat Ramuan dengan sempurna. Dan karena Snape tidak pernah sekali pun bemberi pujian pada anak selain anak Slytherin, maka dia tidak pernah mengomentari Ramuan Emily. Baru beberapa minggu ini saja Emily mengacaukan ramuannya dengan sengaja hanya untuk menarik perhatian Snape.

"Gara-gara ulahmu, Ravenclaw bisa kehilangan angka lebih banyak lagi," gerutuku sebal. "Kenapa sih kau tidak menyukai cowok normal saja? Bill Weasley, misalnya. Dia kan cakep, ketua murid lagi. Atau Keneth…"

"Jangan ngomong tentang Ken lagi deh," kata Emily marah. Rupanya dia masih kesal dengan cowok itu. Dia menusuk-nusuk kentang panggangnya dengan sengit.

"Apa sih yang kau lihat dari Snape?" tanyaku penasaran.

"Yeah, dia itu sangat berkharisma. Siapa sih guru lain yang bisa membuat murid-muridnya menyimak tanpa menyuruh mereka?"

"McGonagall," gumamku pelan.

"Dan dia juga masih muda," lanjut Emily seolah tidak ada interupsi, matanya menerawang. "sangat pintar, berwibawa dan tampan—"

"APA! TAMPAN?" aku menjatuhkan pisau dan garpu yang kupegang, membuat suara dentang keras di piringku. Aku banar-benar tidak mempercayai telingaku. Ekspresi wajah dingin, rambut gondrong berminyak, hidung besar bengkok dibilang tampan? Aku tak bisa membayangkan bagaimana yang jeleknya. Menakutkan adalah kata yang lebih tepat daripada tampan. "Tampan dilihat dari mana sih, Em?" kataku lemas.

"Masa kau tidak lihat kalau dia sangat tampan?" Emily berkata seraya menoleh dan menjulurkan leher ke meja guru.

"Yeah, dilihat dari menara astronomi pakai teropong rusak," sahutku pelan. "Atau matamu yang sudah rabun. Perlu kupinjamkan kacamata Myrtle Merana, Em? Atau kau lebih suka kacamata professor Trelawney?"

Tapi tampaknya Emily tidak mendengarkan kata-kataku, dia masih asyik meperhatikan Snape yang sedang makan di meja guru dan sepertinya tidak memperhatikan apa-apa lagi selain Snape, termasuk apa yang dia makan karena dia sudah memasukkan kentang rebus bulat-bulat ke mulutnya. Hebatnya lagi, dia sama sekali tidak tersedak!

"Hei, Arlene, besok kan Valentine. Kurasa aku ingin memberikan sesuatu untuk professor Snape. Bagaimana menurutmu?" tanya Emily setelah dia berhasil menelan kentangnya dengan susah payah.

"Bagus," gumamku dingin.

"Kalau kau jadi aku, kau mau memberi apa?"

"Kerumunan kecoak kedengarannya romantis."

"Kerumunan kecoak?" Emily mengernyit, "Seleramu buruk sekali sih, Arlene?"

Kan sama buruknya dengan seleramu mengenai cowok, Emily, gerutuku dalam hati.

.

.

Keesokan harinya adalah akhir pekan Hogsmeade. Dan karena bertepatan dengan Valentine, anak-anak tampak lebih antusias dari biasanya. Di mana-mana anak-anak perempuan, kecuali Emily—dia benci warna pink—mengenakan asesori yang berwarna pink, mulai dari jepit rambut, bando, pita, ikat pinggang, jam tangan, sweter, sampai kaus kaki, dan berceloteh ramai tentang hadiah apa yang akan diberikan pada siapa. Dan anak laki-laki mendadak menjadi begitu menarik perhatian. Anak-anak perempuan mengikik setiap ada anak laki-laki yang lewat di depan mereka.

Setelah sarapan, aku dan Emily bergabung dengan antrian anak-anak yang akan pergi ke Hogsmeade. Emily langsung menarikku ngumpet di belakang anak laki-laki Hufflepuff berbadan besar ketika Keneth melewati kami.

"Kenapa kita pakai sembunyi segala sih?" tanyaku keheranan.

"Dia bisa meledekku habis-habisan kalau ketahuan tidak punya kencan," bisiknya.

"Salah sendiri berbohong," kataku menyeringai. Emily langsung cemberut.

Sesampainya di Hogsmeade, kami langsung menuju ke Honeydukes karena Emily berkeras ingin membeli cokelat untuk Snape. Toko permen itu benar-benar penuh sesak dengan anak-anak, terutama anak perempuan. Untuk mencapai rak yang memajang aneka cokelat, kami harus susah payah berdesakkan dengan anak-anak lain. Rupanya mereka menjual permen khusus edisi valentine: permen berbentuk hati berwarna merah jambu bening, cokelat-cokelat yang sudah dimantrai yang akan mengeluarkan puisi-puisi cinta—kau bisa memasukkan sendiri puisimu!—, cokelat yang sudah diberi ramuan cinta, cokelat kuali aneka rasa, permen rindu, nogat asmara, manisan romantis dan masih banyak lagi permen-permen aneh lainnya.

Setelah berdebat beberapa lama tentang apakah Emily sebaiknya membeli cokelat mantra untuk Snape atau tidak, kami akhirnya membeli sekotak cokelat kuali rasa stroberi tanpa mantra dan tanpa ramuan cinta. Aku berpendapat bisa berabe kalau Emily memberi Snape sesuatu yang sudah diberi macam-macam—dia pasti akan bisa mengenali ramuan cinta, dia kan ahli ramuan—bisa-bisa kami mendapat masalah besar yang lebih gawat dari sekedar pengurangan angka atau detensi. Aku sendiri membeli kacang segala rasa dan cokelat kodok favoritku.

Udara semakin dingin, kami memutuskan untuk ke the Three Broomsticks untuk menghangatkan diri. Rumah minum itu juga penuh dengan anak-anak, hampir semua bangku terisi. Kami menemukan bangku kosong di salah satu pojok, agak tersembunyi oleh serombongan besar cowok kelas lima yang sedang mengobrol seru. Emily menempati bangku kosong itu sementara aku memesan dua cangkir Butterbeer panas berbuih untuk kami berdua.

"Nah," kataku seraya menaruh dua cangkir yang baru kubawa dari konter ke meja kami. "Bagaimana kau memberi cokelat itu pada Snape?"

"Aku juga sedang memikirkannya, Arlene. Bagaimana ya caranya?" ujarnya merenung.

Aku menghirup minumanku sedikit, membiarkan Emily memikirkannya sendiri. Aku terlalu ngeri memikirkan reaksi Snape ketika menerima cokelat itu.

"Bagaimana kalau aku memberikannya secara langsung?" kata Emily. Aku langsung tersedak.

"Jangan! Kau bisa dianggap lancang kalau memberikan secara langsung," sengalku. "Lagipula kapan sih Snape pernah mengucapkan terimakasih pada murid? Bisa-bisa dia menghukummu seberat-beratnya sebagai ucapan terimakasih."

"Begitu ya?" kata Emily lambat-lambat. Syukurlah, setidaknya dia masih mendengarkan aku soal ini.

"Mungkin akan lebih aman kalau aku menaruhnya diam-diam di kantornya," ujar Emily setelah beberapa lama.

"Yeah, sama amannya kalau kau menyodorkan ramuan cinta ke depan hidungnya," sahutku. Aku benar-benar mengkhawatirkan sahabatku yang satu ini.

"Lalu bagaimana? Kasih saran dong. Jangan bisanya komentar saja!" tukasnya.

"Suruh saja peri rumah untuk menaruhnya di kantor Snape kalau dia tidak ada," kataku tanpa berpikir.

"Oh, yeah. Kau benar sekali. Ide brilian," seru Emily senang.

"Trims," kataku agak ge-er. "Oh, dan jangan cantumkan namamu, Em."

"Kenapa? Bagaimana dia bisa tahu itu dariku kalau aku tidak mencantumkan namaku?" Emily mengernyit.

"Jauh lebih baik kalau kau tidak mencantumkan namamu. Percaya deh," kataku meyakinkan.

"Baiklah," katanya pada akhirnya. Aku lega sekali.

Kami kambali menikmati butterbeer kami sambil mengobrol tentang banyak hal. Semuannya berjalan sangat menyenangkan sampai…

"Arlene, lihat!" Emily menunjuk jendela di dekat tempat kami duduk. Aku menoleh ke arah yang ditunjuknya.

Di luar tampak Keneth sedang berjalan melewati rumah minum. Tapi dia tidak sendirian. Tangannya merangkul bahu seorang gadis berambut pirang cantik. Dari seragamnya, sepertinya dia anak Gryffindor.

"Wow," kataku, menoleh lagi pada Emily. Aku agak terkejut melihat ekspresi sahabatku. Dia masih memandang jendela. Ekspresinya keras dan aku bisa melihat kemarahan di matanya.

"Em, kau baik-baik saja?" tanyaku cemas seraya mengguncang bahunya.

"Eh?" Emily tersentak, dia berpaling lagi padaku. "Oh, aku tak apa-apa."

Tapi aku tidak yakin dia tidak apa-apa karena sejak itu suasana hatinya berubah seraratus delapan puluh derajat. Dia jadi uring-uringan dan gampang marah. Sepanjang hari kerjanya hanya menggerutu dan memberengut. Dia bahkan melupakan rencananya untuk Snape!

"Dasar cowok!" gerutunya untuk kesekian kalinya sambil menggebrak meja ketika kami sudah di Aula Besar untuk makan malam. Keneth baru saja menyebrang ke meja Gryffindor untuk menghampiri si gadis pirang.

"Kau cemburu ya?" godaku. Kali ini aku tidak tahan untuk tidak nyengir.

"Siapa yang cemburu!" semburnya marah. "Cowok hidung belang seperti itu ngapain dicemburui!"

"Oooh…" Aku perhatikan Emily terus saja mendelik ke punggung Keneth. Mengherankan sekali, mengingat selama ini Emily selalu menolak pemuda itu. Sekarang kenapa dia harus marah kalau Ken jalan dengan cewek lain. Kecuali kalau Emily juga menyukai Ken. Ken tampak mesra dengan gadis Gryffindor itu. Dia beberapa kali membelai punggung si gadis.

"Em, bagaimana dengan cokelat untuk Snape?" aku mengingatkan. "Atau kau mau memberikannya pada Ken?" aku menambahkan pelan.

Emily mengalihkan pandangannya dari meja Gryffindor, matanya melebar. "Oh, aku lupa! Untung kau ingatkan." Sepertinya dia tidak mendengar kata-kataku yang terakhir. Sedetik kemudian, Emily sudah melakukan hobinya yang biasa saat makan malam, melongok ke meja guru. Tapi rupanya professor Snape sudah selesai makan, dia beranjak dari tempat duduknya dan pergi.

"Yah, professor jangan pergi dulu dong," keluh Emily. Aku mendengus ke piringku.

"Balik ke asrama yuk," ajak Emily beberapa saat kemudian.

"Aku belum selesai makan," protesku.

"Snape-ku sudah pergi," ujarnya cemberut.

"Aku tidak pernah tahu kalau tidak ada Snape berarti aku harus kelaparan," sahutku dingin. Tapi tampaknya Emily tidak peduli, dia tetap menarik-narik lengan jubahku seperti anak kecil yang berusaha membujuk ibunya untuk membelikannya permen. "Iya iya! Setidaknya biarkan aku minum dulu," aku meletakkan garpuku ke meja dengan jengkel dan menyambar piala jus labu, menegak isinya sampai habis.

Aku mengikuti Emily berjalan meninggalkan Aula Besar. Keneth melambai pada kami ketika kami melewati meja Gryffindor. Aku membalas tersenyum, namun Emily dengan sengaja membuang muka dan terus saja lewat seolah dia tidak melihat apa-apa.

"Dimana kita bisa menemukan peri rumah?" tanya Emily ketika kami sudah berada di koridor menuju menara Ravenclaw.

"Mana kutahu," jawabku mengangkat bahu.

"Bagaimana sih kau ini," omelnya. "Kasih saran untuk menyuruh peri rumah tapi tidak tahu bagaimana menemukan mereka."

"Salahmu sendiri menerima saranku begitu saja," kataku sebal.

"Pikirkan bagaimana caranya menemukan mereka," ujarnya.

"Aku lapar, tidak bisa mikir," sindirku.

Emily mengerucutkan bibirnya, kemudian berkata, "Iya deh, sori."

Lama-lama aku kasihan juga pada sahabatku itu. dia sedang uring-uringan, jadi wajar saja kalau dia bersikap seperti itu, biasanya Emily cukup manis. "Lebih baik kita tunggu saja di asrama. Mereka biasanya muncul saat semua sudah tidur. Aku pernah melihat peri rumah membereskan ruang rekreasi kita tengah malam."

"Berarti malam ini kita tidak tidur?" keluh Emily.

"Sepertinya begitu. Tenang saja, aku akan menemanimu. Sekalian aku mau menyelesaikan PR Transfigurasiku. Tapi kita harus sembunyi, soalnya peri rumah tidak akan muncul kalau masih ada orang," kataku.

"Tidak masalah," katanya cerah.

Rencana kami berjalan lancar. Sesuai perkiraanku, peri rumah muncul di ruang rekrasi kami saat suasana sudah senyap. Emily memberikan kotak cokelatnya dan meminta mereka mengantarkannya ke kantor professor Snape. Sahabatku itu tampak sangat senang, untunglah.

.

.

"Kira-kira cokelatnya sudah sampai belum ya?" Emily bertanya keesokan harinya. Kami sedang duduk-duduk di sebelah perapian ruang rekreasi Ravenclaw.

"Pasti sudah," jawabku.

"Aku ingin tahu bagaimana reaksinya. Mudah-mudahan dia suka," ujar Emily berharap. Matanya berbinar-binar.

"Hmph…" gerutuku.

Keneth muncul tak lama kemudian dari kamar anak laki-laki. Emily langsung pasang tampang cemberut.

"Hai," sapanya riang.

"Halo," balasku. Emily pura-pura sibuk dengan kukunya.

"Hei, Emily, sepertinya aku benar soal kemarin. Kau tidak punya kencan. Aku melihatmu dengan Arlene lagi," kata Ken dengan senyum jahil.

Emily mencibir.

"Dia kenapa sih?" Ken menanyaiku keheranan.

"Biasa, sedang uring-uringan."

"Ada yang mengganggumu, Emily, sayang?" tanya Ken sok perhatian.

Emily begidik dipanggil seperti itu. "Bukan urusanmu!" bentaknya.

"Kalau ada cowok bego yang mengganggumu, itu jadi urusanku," kata Ken sungguh-sungguh.

"Kalau begitu kau harus mengurusi dirimu sendiri. Dan tak perlu sok perhatian seperti itu deh. Aku tak perlu perhatian dari hidung belang macam kau!"

"Hidung belang?" Ken dengan bego memegangi hidungnya. "Maksudnya apa sih?"

"Maksudnya kau suka berganti-ganti cewek," jelasku.

"Aku tahu artinya itu!" kata Ken tak sabar. "Kenapa dia menyebutku hidung belang?" tuntutnya.

"Dia melihatmu jalan dengan cewek kemarin."

Ken tampak bingung selama beberapa waktu. Namun perlahan senyum kemenangan merekah di wajahnya. "Ah, kau cemburu ya?" serunya senang.

"Enak saja bicara!" tukas Emily, wajahnya memerah. "Seperti aku kurang kerjaan saja mencemburuimu."

"Emily cemburu, Emily cemburu…" Ken bernyanyi.

"Sinting," gerutu Emily sebal sementara aku tertawa geli melihat tingkah kekanakan Ken.

"Tapi kau tak boleh cemburu pada Claudine, Em," kata Ken setelah puas bernyanyi. "Karena dia adikku, bukan cewekku."

Baik Emily maupun aku terkejut mendengar berita ini. ADIK?

"Aku tak pernah tahu kau punya adik di Gryffindor," kataku tak percaya.

"Aku kan tidak harus membuat pengumuman ke seluruh dunia," sahutnya enteng.

"Lalu kenapa kau mesra-mesraan dengannya?" tanya Emily, mengernyit.

"Mesra-mesraan apanya? Adikku itu baru saja putus dengan cowoknya. Aku hanya pergi menghiburnya. Tidak ada larangan untuk jalan bareng adik sendiri kan?"

Entah aku salah lihat atau tidak, tapi Emily seperti menahan senyum. Dia memalingkan wajahnya ke arah jendela besar di salah satu sisi ruangan. "Langitnya cerah ya," ujarnya.

"Yeah, cukup cerah," timpal Ken. "Jadi, apa kau mau keluar denganku di kunjungan Hogsmeade berikutnya?"

"Wah, bagaimana ya?" kata Emily seraya menoleh memandang Ken. Wajahnya sudah kembali dingin seperti semula. "Baiklah, aku akan mempertimbangkannya."

Cengiran di wajah Ken semakin lebar, "Yes! Yes!" serunya. "Nah, aku harus pergi menemui adikku. Sampai jumpa saat makan siang nanti, Sweetheart." Ken berjalan ke lubang lukisan dengan langkah ringan.

"Eew… Masa aku dipanggil Sweetheart sih!" gerutu Emily begidik setelah Ken menghilang.

"Kau serius menerima ajakannya?" Aku masih belum mempercayai telingaku.

"Yeah, ternyata dia lumayan juga kok…"

Sepertinya aku harus ke Hogsmeade sendirian setelah ini… Atau aku sebaiknya menerima ajakan Matthew Hoberman saja?

"Lumayan untuk gandengan sementara aku menunggu professor Snape-ku tersayang," lanjut Emily, menyeringai.

HAH? Aku mau pingsan…