Sahabat adalah salah satu anugerah yang paling indah dalam kehidupan. Sahabat selalu bersama dalam keadaan apapun. Susah maupun senang. Sedih maupun tertawa. Suka maupun duka.

Sahabat sejati tidak akan pernah meninggalkanmu. Sahabat sejati selalu menerimamu apa adanya. Sahabat sejati tidak segan-segan menegurmu untuk kesalahanmu. Sahabat sejati memelukmu di setiap badai permasalahanmu.

Sahabat adalah hal terbaik yang bisa kau miliki.

.

Dedicated for my special bestfriend.

.

Disclaimer © Masashi Kishimoto.

Hak milik saya hanyalah ide cerita ini.

Rated : T

Summary : Sakura dan Sasuke adalah sahabat yang tidak terpisahkan. Tidak pernah terpikirkan dalam benak mereka jika suatu saat mereka harus berpisah. Harapan mereka adalah supaya mereka bisa terus bersama selamanya.

Love Between Me and You

By: Felicia Rena

.

.

Dont like don't read

Happy reading!

.

#2: Sakura dan Sasuke

.

Pagi itu sangat cerah di Konoha. Secerah hati Sakura. Bagaimana tidak? Tadi pagi Gaara menjemputnya di rumah Sakura dan mengajaknya untuk berangkat bersama. Gaara juga mengantar Sakura sampai ke Aula—tempat dimana para murid baru harus berkumpul untuk pembagian kelas.

"Terima kasih sudah mengantarku ya, Gaara-kun," kata Sakura sambil sedikit tersipu.

"Sama-sama, Sakura. Aku juga senang bisa mengantarmu," ujar Gaara.

"Eh, aku masuk dulu ya. Sepertinya sebentar lagi pembagian kelas sudah akan dimulai," kata Sakura.

"Ya. Tentu saja. Aku juga harus kembali ke kelas setelah ini," Gaara menepuk pelan puncak kepala Sakura. "Bye."

"Bye, Gaara-kun." Sakura melambaikan tangannya ketika Gaara berjalan pergi.

Sakura terus tersenyum sambil memandang punggung Gaara yang semakin menjauh. Kemudian dengan riang, dia memasuki Aula dan mencari teman-temannya.

"Pagi, Hinata!" Sakura langsung menyergap Hinata dari belakang.

"Waaa—Sakura! Kau mau membuatku jatuh ya?" ujar Hinata.

"Hehehe...Maaf, Hinata," kata Sakura cengengesan.

"Sepertinya kau sedang senang sekali, Sakura?

"Oh—ternyata kau tahu juga ya, Sasuke?" Tanya Sakura.

"Hn," jawab Sasuke singkat sambil memalingkan wajahnya.

"Huuhhh—Sasuke jahat!" Gerutu Sakura dengan sebal.

"Berisik kau, pinky!" Kata Sasuke.

"Aaaahhh! Sasukeee!" Sakura menarik ujung rambut Sasuke dan sedikit menjambaknya.

"Adduuuhhh! Hei, pinky! Lepaskan! Sakit tahu!" Jerit Sasuke.

"Biariinn! Sasuke jahat sama aku! Nih, rasain!" Geram Sakura.

"Sakiitt, pinnky!"

"Waaa, Sakura! Apa yang kau lakukan pada Teme?" Naruto yang baru datang langsung histeris melihat Sakura dan Sasuke. Sementara itu Hinata hanya bisa menunduk malu karena beberapa murid baru lainnya sudah mulai menatap mereka karena keributan yang dibuat oleh Sasuke dan Sakura.

"Rasain!" Sakura menjulurkan lidahnya pada Sasuke yang masih meringis kesakitan sambil mengelus-elus rambut ravennya.

"Awas kau nanti, pinky!" Geram Sasuke.

"Nggak takut! Weeeekkkk!"

"Aduuuhh, sudah dong, Teme, Sakura. Malu tuh dilihatin sama anak-anak lain," ujar Naruto.

"Sasuke duluan tuh!"

"Apa katamu? Kau duluan yang menyerang secara fisik!" Balas Sasuke tidak mau kalah.

"Tapi kan kau yang mulai duluan!"

"Kau—"

"Sudah! Cukup kalian semua!" Kali ini Hinata yang ambil suara. Dan jika Hinata sudah bersuara, secara otomatis, Sasuke dan Sakura akan menghentikan apapun perdebatan mereka.

Sakura mengerucutkan bibirnya sambil melirik sebal pada Sasuke. Tingkahnya benar-benar seperti anak kecil. Sementara itu Sasuke hanya membuang muka.

"Sekarang kalian diam! Lihat tuh, sebentar lagi bakal ada pembagian kelas," kata Hinata.

.

.

Sakura memasuki kelas barunya dengan sedikit gontai. Semangatnya tadi pagi meredup ketika menerima pembagian kelas. Dia sama sekali tidak sekelas dengan Hinata, Sasuke maupun Naruto. Sakura masuk dikelas X-1, Hinata dikelas X-3, sedangkan Sasuke dan Naruto bersama dikelas X-4.

Sakura merasa sedikit kecewa karena lagi-lagi dia tidak berhasil sekelas dengan sahabat-sahabatnya itu. Sakura hanya pernah sekelas dengan Hinata, Sasuke dan Naruto pada saat mereka kelas 1 SMP dulu. Dan itulah yang membuat mereka mulai dekat. Tapi setelah mereka naik ke kelas 2 SMP, mereka berpisah kelas. Hanya Sasuke dan Naruto yang terus sekelas sampai sekarang.

"Huuhh," Sakura menghempaskan diri ke bangkunya sambil menggerutu.

'Kenapa Sasuke dan Naruto seberuntung itu sih bisa satu kelas terus? Aku kan juga mau satu kelas dengan Hinata,' batin Sakura.

"Sakura?"

Sakura menoleh mendengar suara yang memanggil namanya. Sakura melihat seorang gadis berambut pirang panjang dan sedikit gemuk.

"Ino pig!" Seru Sakura kaget.

"Forehead!"

Sakura melompat berdiri dari kursinya dan merangkul gadis piraang yang bernama Ino itu. Ino pun balas merangkul Sakura.

"Kau sudah kembali dari Paris?" Tanya Sakura.

"Tentu saja, forehead. Kalau tidak ya mana mungkin aku berada disini sekarang?" Canda Ino.

"Dan kau berada dikelas ini? Tanya Sakura lagi.

"Jangan menanyakan hal yang sudah pasti, bodoh. Kalau tidak, untuk apa aku ada dikelas ini? Lebih baik kan aku cuci mata dikelasku. Siapa tahu ada cowok cakep. Hehehe," gurau Ino.

"Huuhh, kau tidak berubah, pig. Cowok terus yang ada dalam pikiranmu," ujar Sakura.

"Hahaha. Itu yang asyik untuk dipikirkan, Sakura," bela Ino. "Jangan sia-siakan masa SMA-mu."

"Tapi aku tidak tertarik untuk mencari cowok sekarang, pig," ujar Sakura.

"Kenapa? Kau masih normal kan, Saku? Kau tidak—astaga! Kau tidak lesbi kan?" Pekik Ino sambil berjalan mundur dua langkah dari Sakura.

"Enak saja kau, pig! Aku masih normal tahu! Aku juga sudah punya pacar!" Sergah Sakura.

"APA? Kau sudah punya pacar? Tapi dadamu kan rata!" Seru Ino kaget.

"Hei! Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dadaku, Ino! Dan maaf saja jika dadaku rata!" Balas Sakura dengan wajah memerah karena suara keras Ino tadi.

"Oke. Aku hanya kaget saja, ternyata ada juga cowok yang menyukai dada rata sepertimu. Kupikir cowok-cowok suka dengan yang berdada besar," kata Ino.

"Jangan anggap pacarku sama dengan cowok-cowok kebanyakan, Ino," geram Sakura.

"Jadi? Siapa cowok tidak normal itu?" Potong Ino.

"Cowokku normal tahu! Dia sekolah disini juga kok," kata Sakura.

"Oh—aku tahu! Pemuda berambut raven yang tadi mengantarmu ke kelas ini kan?" Tebak Ino.

"Bukaaann! Itu Sasuke. Aku dan dia hanya bersahabat. Pacarku sudah kelas 3 SMA tahu!" Tukas Sakura.

"Lho? Bukan ya? Kupikir dia orangnya. Habis kau kelihatannya akrab sekali dengan pemuda raven itu," kata Ino.

Akrab? Seingat Sakura, sepanjang perjalanannya bersama Sasuke dari Aula sampai ke kelas ini tadi dipenuhi dengan saling cekcok dan perang kata-kata. Apa itu yang dimaksud akrab oleh Ino?

"Lalu? Yang mana pacarmu, forehead? Aku penasaran!"

"Nanti kau juga akan tahu sendiri, Ino," jawab Sakura.

"Siapa namanya?"

"Gaara. Sabaku no Gaara."

.

.

"Yaahh, sayang ya, Hinata, kita pisah kelas," keluh Sakura saat jam istirahat. Saat itu Sakura, Hinata, Naruto dan Sasuke sedang menikmati makan siang di atas atap sekolah. Tadinya Sakura mau mengajak Ino untuk mengenalkannya pada sahabat-sahabat Sakura, tapi Ino lebih memilih makan siang di kantin sekolah. Katanya sih supaya bisa tebar pesona pada kakak-kakak kelas.

Gaara? Pemuda itu juga sedang bersama teman-temannya. Jadi Sakura juga memilih menghabiskan waktu istirahat bersama teman-temannya juga.

"Iya, Sakura. Padahal aku berharap kalau kita sekelas. Aku tidak kenal siapapun dikelas baruku," ucap Hinata. Gadis indigo itu memang pada dasarnya pemalu, jadi tidak heran jika dia sedikit kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.

"Nanti juga lama-lama kau akan mengenal mereka semua, Hinata," hibur Naruto.

"Kau sih enak, Naruto. Dari SMP sampai sekarang juga sekelas terus sama Sasuke. Sedangkan aku dan Hinata tidak pernah sekelas lagi sejak kelas 1 SMP dulu," gerutu Sakura.

"Memangnya kau pikir aku mengharapkan sekelas terus sama Naruto?" Kata Sasuke dingin.

"Aaahh, kau jahat, Teme!" Seru Naruto.

"Apa? Memang kau pikir aku senang sekelas terus denganmu?" Tanya Sasuke lengkap dengan deathglare-nya.

"Pokoknya kau jahat sekali, Teme!"

"Jangan berisik, Dobe!"

"Sudah...Sudah!" Lerai Sakura sebelum Naruto membalas Sasuke. Naruto langsung mengerucutkan bibirnya dengan gaya sok ngambek.

"Eh iya, Sasuke, nanti aku pulang dengan Gaara lagi ya," kata Sakura pada Sasuke.

"Hn."

"Mau mampir ya, Saku?" Tebak Naruto.

"Ahahahaha...Kau tau saja sih, Naruto," ujar Sakura.

"Seperti biasa jika kau pulang dengan Gaara kan?" Timpal Hinata.

"Aku kan ingin kencan dengan menggunakan seragam sekolah. Seragam SMA ini membuat kita kelihatan lebih dewasa tahu!" Elak Sakura.

"Iya. Iya. Tapi kedewasaan tidak dilihat dari pakaian kita lho, Sakura," kata Hinata bijak.

"Hehehe...Iya, Hina. Aku tahu kok. Tapi, biasalah, kata orang cinta itu bisa membuat kita lebih dewasa," kata Sakura.

"Haaahh, aku iri deh, Saku. Enaknya kalau punya pacar ya," keluh Naruto.

"Makanya cepat cari pacar, Naru," ujar Sakura sambil melirik Hinata yang memerah malu.

"Huh, lihat saja nanti, Saku. Aku juga pasti bisa punya pacar," kata Naruto.

"Yayaya, kutunggu, Naru," jawab Sakura sambil nyengir. "Loh, mana sosisku?"

Sakura memandang bingung bekal makanannya. Sosis yang tadinya ada di atas nasi itu lenyap. Padahal Sakura belum memakannya.

"Tidak mungkin kabur terbawa angin kan?" Kata Sakura sambil menatap Sasuke yang sedang memasukkan sosis ke dalam mulutnya. "Aaaaahhh! Sasuke jeleeekk! Itu sosisku!"

Terlambat! Sosis itu sudah masuk ke tempat peristirahatannya di dalam perut Sasuke. Sakura menggeram dan menjambak rambut Sasuke.

"Sakit, bodoh!"

"Itu sosisku, jelek!" Geram Sakura.

"Aku masih lapar," kata Sasuke.

"Bilang dong kalau mau minta! Asal ambil saja. Aku kan juga mau," kata Sakura.

"Memangnya kalau kuminta kau akan memberikannya?"

"Jelas tidak!"

"Tuh kan? Aku tahu kalau kau sangat suka sosis."

"Tapi bukan berarti kau bisa mengambilnya begitu saja, Sasuke. Itu namanya mencuri," ujar Sakura tidak mau kalah.

"Daripada kau! Kalau kuminta, kau pasti tidak akan memberikannya kan? Itu namanya pelit, Sakura," balas Sasuke.

"Pencuri sosis!"

"Pinky pelit!"

"Pencuri jelek!"

"Kalau pencurinya tampan, bisa-bisa kau jatuh hati, bodoh!"

"Tentu tidak! Kan aku sudah punya Gaara yang tampan!" Bantah Sakura.

"Oh—jadi Gaara itu pencuri?" Tanya Sasuke dengan innocent.

"Bukan begitu! Dasar jelek!"

"Kalau aku tampan, kau pasti jatuh cinta padaku, pinky!" Tukas Sasuke.

"Tidak akan pernah!"

"Aku juga tidak!"

"Ya sudah!"

"Ya sudah!"

Naruto dan Hinata hanya bisa melongo mendengarkan kedua sahabat mereka itu beradu. Seperti biasa, jika Sasuke dan Sakura sudah mulai bertengkar, Naruto akan mengkeret dan semakin mendekat pada Hinata untuk mencari perlindungan. Siapa tahu tiba-tiba ada Harry Potter , eh, sapu terbang lewat. Atau mungkin ufo, eh, piring terbang melayang.

Biasanya Hinata-lah yang bisa meredam suasana panas dari Sasuke dan Sakura. Tapi sepertinya untuk kali ini, Hinata sedang malas memotong argumen panjang dari Sasuke dan Sakura. Lagipula, Hinata merasa sayang pada bekalnya. Jadi dia lebih memilih untuk memanfaatkan sisa jam istirahat dengan melanjutkan memakan bekalnya, daripada membuang waktu dengan melerai Sasuke dan Sakura.

KRIIIIIINGG!

Bel panjang berbunyi menandakan jam istirahat sudah selesai. Naruto dan Hinata membereskan kotak bekal mereka yang isinya sudah berpindah dengan aman kedalam perut masing-masing. Sementara itu, Sasuke dan Sakura sama-sama saling mendelik ke arah yang lain.

"Lihat itu, Sasuke! Gara-gara kau, aku jadi tidak sempat melanjutkan makan siangku!" Seru Sakura.

"Apaan sih! Ini kan salahmu! Cuma gara-gara sosis saja sampai dipermasalahkan. Lihat akibatnya!" Sasuke tetap tidak mau disalahkan.

"Tapi kan aku paling suka sosis!"

"Makanya lain kali bawa lebih banyak!"

"Makanya lain kali bawa sendiri!"

"Aaaahh, sudah, Teme! Kita masuk kelas!" Dengan keberanian terakhirnya, Naruto menyeret Sasuke untuk kembali ke kelas.

.

.

"Kita mau kemana, Sakura?" Tanya Gaara.

"Kemana saja, Gaara-kun," jawab Sakura.

"Bagaimana kalau kita makan dulu? Kau mau apa?"

"Mmm, terserah Gaara-kun saja," kata Sakura.

"Baiklah. Kau mau burger?" Ajak Gaara.

"Ya. Aku mau," ujar Sakura.

Gaara meraih tangan Sakura dan menggandengnya menuju restourant burger yang ada di seberang jalan. Sakura bisa merasakan wajahnya memanas, tapi hatinya sangat berbunga-bunga.

"Kau mau pesan apa, Sakura?" Tanya Gaara.

"Ehmm, cheese burger."

"Cheese burger dua," kata Gaara pada pelayan disana.

"Minumnya?" Tanya pelayan itu.

"Lemon tea," jawab Sakura.

Gaara menatap Sakura sejenak, kemudian berkata pada pelayan itu, "Dua."

"Baik. Mohon tunggu sebentar," kata pelayan itu sebelum beranjak pergi.

"Kau suka lemon tea? Sepertinya kau selalu memesannya setiap kali kita pergi makan?" Tanya Gaara.

"Eh? Ehm—aku tidak suka soda. Dan dari dulu juga aku terbiasa minum lemon tea, jadi ya kebiasaan saja. Tapi aku lebih suka air putih," kata Sakura.

"Sepertinya masih banyak hal yang tidak kuketahui tentangmu ya, Sakura?" Ucap Gaara dengan senyum samar.

"Apa?—Yah, nanti lama-lama juga kita akan saling mengenal luar dalam kan?"

"Ya. Tentu saja, Sakura," kata Gaara lembut. "Aku ingin sekali bisa lebih mengenalmu, jadi sering-seringlah bercerita tentang dirimu, Sakura."

"Aku juga ingin mengenal Gaara-kun lebih jauh lagi," ujar Sakura.

"Kalau begitu, kita memang harus lebih sering bertukar cerita ya," kata Gaara sambil tersenyum.

"Tentu saja," jawab Sakura dengan riang.

Siang itu dilewati oleh Sakura dan Gaara dengan berbagai macam cerita yang bisa mengenalkan diri mereka lebih jauh pada pasangan mereka. Tapi tanpa mereka sadari, selalu ada bagian-bagian yang mereka coba untuk sembunyikan. Bagian-bagian buruk mereka. Sempurna—itu predikat yang ingin mereka dapatkan dari pasangan mereka. Dengan menutupi ketidaksempurnaan mereka.

.

To be continue...

-Felicia Rena-

.


A/N: Maafkan keterlambatan yang amat sangat untuk chapter 2 ini. Untuk chapter berikutnya diusahakan untuk tidak selama ini. Bagaimana chapter ini menurut kalian? Sepertinya masih kurang bisa ditangkap ya seperti apa hubungan Sasuke dan Sakura? Aku menerima kritik dan saran kalian asalkan membangun...:)

Revieww yaaa...^^