Head note:

Yurei: Roh orang mati yang gentayangan karena dendam atau terikat pada suatu tempat, benda, atau seseorang. Biasanya roh wanita.

Susanoo Omikami: Dewa Laut dan Badai. Juga dianggap sebagai penguasa yomi (dunia orang mati dan para youkai). Bersama Amateratsu Omikami dan Tsukiyomi no Mikoto (Tsukuyomi no Kami), merupakan salah satu dari tiga bersaudara anak Izanagi dan Izanami.

Youkai: Roh gentayangan, siluman, setan dan makhluk-makhluk spiritual yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah. Makhluk halus selain Kami (Dewa-dewa).

Kekkai: sejenis perisai spiritual yang dibuat pada suatu area dan berfungsi untuk melindungi/mengisolasi area tersebut atau sesuatu yang ada di dalammya.

Kuji-in: 9 matra dan mudra (gerakan tangan) yang digunakan pada prosesi penyucian Shinto dan Budha-Jepang. Dikenal sebagai mantra onmyodo (berdasarkan taoisme) yang berasal dari klan Hata (saingan klan Seimei pada masa Heian). Disebut juga sebagai matra Hata-no-Doman.

Shikoku: pendeta Shinto (pria)

Miko: pendeta Shinto (wanita)

Shirahime: secara bahasa berarti Puteri Putih. Diartikan sebagai wanita salju. Diceritakan sebagai yokai wanita cantik yang suka menipu dan membunuh pria yang tersesat dalam badai salju.

ikiryo: bagian dari roh orang yang masih hidup. Terlepas dari tubuh pemiliknya karena rasa amarah dan dendam yang luar biasa.

kotodama: jiwa/roh (dari) kata, dipercaya bahwa setiap kata memiliki jiwa dan kekuatan. Jika digunakan sesuai dengan makna sejatinya, dapat mempengaruhi objek yang mendengar kata tersebut.

seiza: duduk secara formal. Kedua kaki dilipat dan dirapatkan, tubuh duduk tegak diatas tumit, punggung kaki menempel ke bawah.

Amagami no Ou: secara bahasa berarti penguasa Amagami.

Disclaimer: I don't own Skip Beat!

Gerbang Surga

Bagian 05: Pertemuan

Kyoko tak bisa menjerit. Ia mengayunkan kakinya. Berusaha membebaskan diri dari makhluk menjijikan yang menyerupai gumpalan daging busuk di kakinya. Dengan sia-sia, ia malah terjungkal ke belakang.

Setelah beberapa kali kegagalan yang membuat seringai makhluk itu semakin lebar, Kyoko menginjakkan tumit kakinya yang bebas ke salah satu 'mata' makhluk itu. Serangan itu berhasil melepaskan cengkraman makhluk itu. Kyoko segera berlari keluar ruangannya.

Peri jahat, pikir Kyoko. Ia ingat Sei-san dan Yui-san pernah memperingatkannya tentang bahaya peri jahat. Sambil berlari di sepanjang koridor, ia berusaha mengingat apa yang mereka katakan untuk mengatasi kondisi semacam ini.

Belum lagi ia berhasil mengingatnya, ia menyadari bahwa koridor yang dilaluinya terasa semakin sepi. Sepi yang tidak masuk akal. Karena seharusnya, masih ada banyak staf Gate of Heaven yang mondar mandir di sepanjang koridor—syuting hari itu belum selesai.

Lalu ia merasakan angin hangat menerpa pipinya. Sesuatu berwarna jingga melaluinya dengan cepat. Ia mendengar geraman yang mengucapkan sebuah kata. Kata yang diikuti dengan geram kesakitan peri jahat itu. Kyoko menoleh dan melihat peri jahat itu berkelit dari semburan api. Di antara mereka, Kyoko melihat sosok yang telah lama tak ia lihat. Sosok itu tak berubah, tak berbeda dari yang ia ingat. Tapi saat itu, sikap tubuhnya menunjukkan kemarahan murni, bukan perhatian dan kelembutan.

"Beraninya yurei rendahan sepertimu mengincarnya?" Sosok itu kembali menyerang si Peri Jahat. Peri itu meraung dan membalas serangannya. Mereka saling melemparkan serangan dan berkelit dari serangan lawan.

Kyoko terpaku di tempatnya berdiri. "Yui...?" bisiknya lemah. Ia tak pernah melihat Yui semarah itu. Dan setelah sekian tahun tak melihatnya. Ini terlalu mengguncangkan.

"Yui! Kemarahanmu membuang-buang waktu!" teriak seseorang dari belakang Kyoko. Yui mengumpat lirih. Kyoko menoleh saat Yui balas berteriak, "Ini yurei suruhan Susanoo Omikami-sama!"

Kasuga berlari ke arah mereka. Matanya sekilas melirik ke arah Kyoko lalu ia berhenti di sampingnya. Ia menarik Kyoko ke belakangnya, menjauh dari pertempuran, sebelum memperhatikan musuh mereka. Membaca, meneliti, menimbang setiap gerakan dan serangan lawan. Matanya berkilat dengan pemahaman. Bibirnya tertarik membentuk garis tipis. Walaupun yurei itu kehilangan bentuk sehingga menyerupai yurei rendahan, kekuatan yurei itu memang sekelas abdi Susanoo Omikami.

"Dia bukan suruhan Susanoo lagi. Yurei itu dinodai terlalu banyak elemen negatif dari dunia manusia," gumamnya. Ia melirik ke gadis mungil yang tanpa sadar menggenggam erat lengannya. Mata gadis itu terserap ke pertarungan di depan mereka. Lalu gadis itu mendongkak menatapnya. Aktris sampai ke tulang, Kyoko menuntutnya menolong Yui hanya dengan tatapannya.

"Selain menerobos kekkai yang dibangun yurei itu. Aku masih harus mempertahankan kekkai itu agar tidak bisa dimasuki manusia biasa atau ditembus yurei lain. Bagaimana kalau kau saja yang mengucapkan Kuji-in? Yui sudah mengajarimu kan?" Tsukasa mengabaikan tuntutannya, ia hanya punya cukup energi pikiran untuk menangani kekkai. Di tepi kesadarannya, ia merasakan desakan yurei-yurei kecil berusaha membuat lubang.

Mata Kyoko membulat. Ia ingat sekarang. Mantra yang diajarkan Sei dan Yui padanya disebut Kuji-in, terdiri dari sembilan kata yang didukung sembilan mudra, gerakan tangan... Tapi ia hanya ingat enam kata dan mudra pertama. Tidak ada gunanya jika ia hanya mengucapkan sebagian saja. Bahkan mungkin ia justru akan memanggil bencana. Tapi jika ia menggunakannya kata per kata sesuai dengan maknanya...

"...yomi no shinshoku...!" Gumpalan yurei hitam itu berhasil melepaskan diri dari Yui. Ia meluncur langsung menuju mereka. Pemuda itu menoleh sambil menarik Kyoko ke dalam pelukannya. Tak ada waktu lagi. Kyoko melipat jemarinya di depan dada.

"Rin (Kekuatan Tubuh dan Pikiran), Pyo (Arah dari Energi), Tou (Harmoni Alam Semesta), Sha (Kesembuhan)." Kyoko mengubah tautan jemarinya untuk setiap kata. Ia memfokuskan pikirannya pada sosok yang ia percaya bisa membantunya saat itu.

Seperti saat ia pertama kali mempraktikannya di tepi sungai di Kyoto, setiap kata membuat tangan Kyoko bersinar. Sinar itu terakumulasi kemudian terlepas dari genggamannya saat ia mengucapkan kata terakhir.

"Kou (kemenangan)!" Sinar itu melesat dan masuk ke tubuh Yui. Sesuai harapannya, Yui bergerak lebih cepat dan kuat. Ia melesat dengan ringan dan memaku yurei itu ke lantai, tepat beberapa senti dari mereka.

Yui mengangkat lengannya untuk mengeluarkan serangan terakhir, 'kou' juga berarti 'menghancurkan', untuk menghancurkan yurei itu. Pada saat yang bersamaan, Yurei itu mengulurkan tangannya. Kyoko melihat sesuatu, semacam air mata mengalir di mata yurei itu. " ...tsuk...yo... no shinkok...," yurei itu bergumam dengan suaranya yang serak. Sesaat, hanya seperdetik, Kyoko merasakan tubuh Kasuga membeku, matanya mengeras, kemudian semua itu tenggelam dalam kekosongan.

"Hentikan." Suara Kasuga begitu dalam dan berat. Memenuhi dan menggantung di udara. Membekukan Yui tepat saat ia meluncurkan tangannya. Kyoko merasa puluhan kilogram besi menekan tubuhnya. Tidak masuk akal, tapi ia juga tak dapat bergerak. Kyoko dapat mendengar suara-suara manusia dari ujung koridor. Padahal hingga sesaat lalu ia tak mendengarnya sama sekali.

Di depan matanya, yurei itu terlepas dan segera melompat ke arah mereka. Kasuga menempatkan diri diantara Kyoko dan yurei itu.

Kasuga mengulurkan kedua tangannya ke arah yurei itu. Yang membuat mata Kyoko terbelalak adalah ketulusan di wajah Kasuga sementara tangannya melingkari yurei itu dengan penuh ketenangan—jelas berkebalikan dengan keliaran gerakan yurei itu. Seakan mereka—Kasuga dan yurei itu—tidak berhadapan di dunia yang sama.

"Retsu (Penguasaan Ruang dan Waktu)." Kasuga mengucapkan kata ke tujuh dari Kuji-in. Tapi, bukannya membuat mudra 'retsu' dengan tangannya, Kasuga menarik yurei itu dengan lembut ke dalam dekapannya. Gerakan yurei itu melambat, masuk langsung seakan tertarik ke dalam dekapan Kasuga.

Kasuga membisikkan satu kata lagi. Perlahan, yurei itu menjadi lebih tenang. Rambut acak-acakan yurei itu menjadi lebih rapi dan halus. Tangan-tangan yang seperti cakar berubah menjadi tangan semampai. Yurei itu menunduk, mendekatkan wajahnya pada wajah Kasuga. Kasuga mendongkak, membiarkan bibir yang mengerikan itu menyapu bibirnya sementara ia membisikkan satu kata lainnya.

Yurei yang tadinya berupa gumpalan hitam mengerikan itu mulai menampakan bentuk aslinya. Kasuga terus membisikkan kata-kata ke dalam mulut yurei itu hingga yurei itu menampakkan wujud aslinya. Rambut sehitam gagak terllihat kontras dengan kulit mulus seputih salju. Bulu mata rapat dan panjang di ujung kelopak mata, dilingkupi alis serupa semut beriring. Yurei itu terus memanggut bibir Kasuga, seakan mereguk nafasnya hingga ia mendongkak saat mengeluarkan sinar hitam yang indah.

Kyoko terpana melihatnya. Itu adalah yurei yang sangat cantik dan memesona. Mengingatkannya pada lukisan hitam-putih Shirahime. Tapi bukannya kesan dingin, yurei itu memancarkan aura hangat. Yurei itu melayang menjauh sementara menunduk, menatap Kasuga kemudian mencium pipinya dan menghilang. Kasuga menatap kepergian yurei itu.

"Apa kau baik-baik saja?" Pertanyaan Yui menarik kesadaran Kyoko dari pemandangan itu. Yokai itu sudah berdiri di sampingnya dengan sikap melindungi. Kyoko mengangguk, terlalu syok untuk menjawab. Yui memeluk Kyoko, melepaskan semua ketegangan dan menghela nafas dengan lega.

"Kau membiarkan manusia-manusia itu masuk," Yui mengalihkan pernyataannya pada Kasuga. Benar saja, Kyoko mendengar derap langkah beberapa orang menuju mereka. Kasuga menoleh, mengangkat bahunya. "Yurei itu sudah pergi," balasnya tak acuh.

Kyoko dapat melihat kedut kesal di rahang Yui. Ia membuka mulut untuk mendebat saat seseorang berbelok ke koridor mereka.

"Mogami-san, kau belum pulang?" Itu Tsuruga-san. Rasa lega langsung memenuhi Kyoko. Ia menoleh untuk melihat aktor bertubuh tinggi itu. Wajahnya terlihat khawatir. Kyoko tak bisa menahan diri untuk menghampirinya. "Kasuga-san,..." Tatapan Tsuruga beralih ke pemuda itu. Kyoko berhenti di tengah jalan. "...ada masalah apa? Kau meninggalkan kami di tengah diskusi." Tsuruga menghampiri mereka dan berhenti di samping Kyoko. Pertanyaan itu membuat Kyoko menoleh dengan penasaran ke arah Kasuga.

"Apa syutingnya sudah selesai?" Bukannya menjawab pertanyaan, penulis itu malah balik bertanya. Tsuruga menatapnya dengan sikap menyelidik. Kemudian, tiba-tiba terlalu santai, ia menjawab bahwa syuting memang sudah selesai. Hal itu terbukti dengan kemunculan Yashiro, tak lama kemudian dari balik koridor.

"Kyoko-chan? Kau masih di sini?" Kali itu, Yashirolah yang melontarkan pertanyaan. Kyoko meringis, terutama saat ia tahu bahwa hari telah lewat tengah malam. Sementara Kyoko ditahan dan diinterograsi oleh Tsuruga dan Yashiro, Kasuga meminta diri untuk pulang terlebih dahulu. Kyoko mendelik ke arahnya, Pengkhianat! Kasuga hanya tersenyum santai membalas tuduhan itu.

Akhirnya, Kyoko harus menerima tawaran—atau lebih tepatnya perintah—Tsuruga untuk diantar pulang dengan mobilnya. Lihat sisi positifnya. Setidaknya aku bisa berbicara dan meminta maaf kepada Tsuruga-san sebelum ia pulang. Sesuai dengan tujuanku menunggunya. Hiks.

-0-0-0-

BLAM!

Tsukiyo mendongkak dari surat yang ia baca. Suara pintu yang ditutup dengan kasar itu diikuti suara keras derap kaki menaiki tangga. Melipat surat itu, Tsukiyo bangkit dan menghampiri Si Pembuat Keributan. Sungguh, terkadang ia berharap pemuda itu bisa sedikit menahan diri dari sikap dramatis.

Pintu ke kamar pemuda itu terbuka lebar. Tsukiyo berdiri di ambang pintu, mengamati punggung pemuda yang mengepalkan tangannya dengan erat. "Kenapa kau tak bilang bahwa setelah Hikari meninggal, ia menjadi abdi Susanoo?" Tanpa berbalik, pemuda itu melontarkan pertanyaannya. Nada bicaranya tajam menuduh.

"Meninggal berarti masuk ke yomi, dunia orang mati. Apakah aneh jika Susanoo Omikami-sama mengangkatnya sebagai abdi saat menemukannya di daerah kekuasaannya?" Ketenangan dalam suara Tsukiyo, ketidak-acuhannya membakar kemarahan Tsukasa. Ia berbalik dengan ganas dan memaku Tsukiyo ke dinding.

Mata abu gadis itu berkilau perak, tetap tenang, tak bergeming. Jauh, tertutup, tak terjangkau. Jemarinya mencengkram leher kecil gadis itu. Ia ingin mengacaukan ketenangan itu, menimbulkan riak, bukan, ombak besar di mata gadis itu. Ia ingin gadis itu melihat juga merasakan sakit dan kekacauan di hatinya. Kekacauan karena keegoisan gadis itu. Ketidak-pedulian gadis itu.

Gadis itu meringis, hanya meringis saat paru-parunya terbakar, kekurangan udara. Tak sedetik pun tangannya berusaha melepas cengkraman Tsukasa. Tangannya tetap tergantung di kedua sisi tubuhnya. Penerimaan di mata gadis itu membuatnya frustrasi, gila. Sekaligus sadar. Ia benci kepasrahan di mata gadis itu, benci penerimaannya yang tanpa batas atas setiap kejadian apapun sebagai kewajaran. Seakan ia tak pernah memiliki emosi maupun harapan. Bahkan harapan pada janji mereka. Dan Tsukasa, betapapun gadis itu melukainya, tak pernah bisa melihat gadis itu tersakiti.

Akal sehat mulai menyusup ke otaknya yang mendidih karena amarah. Tsukiyo benar, seharusnya ia bisa memperkirakan Hikari akan menjadi abdi Susanoo. Perlahan, Tsukasa melonggarkan cengkramannya. Tsukiyo menarik nafas dengan tajam dan dalam. Suara tarikan nafasnya yang tercekik membuat Tsukasa meringis.

Ia menahan lidahnya dari meminta maaf. Amarahnya masih ada, dan itu mendorongnya untuk mengabaikan kesejahteraan gadis itu. Hikari. Hikari-nya adalah gadis pertama yang menyatakan cinta padanya. Temannya yang paling berharga. Korban tak bersalah yang pertama, yang jatuh ke bawah kotodamanya, secara tak sengaja terjebak dalam aksi balas dendamnya kepada klan Amagami.

Walaupun kotodamanya berasal dari Tsukiyo, balas dendam kepada klan Amagami adalah keinginannya, bukan keinginan gadis itu. Tapi ..., seandainya Tsukiyo memperingatkannya... seandainya Tsukiyo mengasumsikan rencana lain...

"Yurei yang diberikan Saena-sama kepada Fukuyama adalah Hikari." Tsukasa memulai penjelasannya. Tangannya meluncur meninggalkan Tsukiyo. Pemuda itu menelan ludah.

Ini adalah rencananya. Membocorkan tentang Himiko kepada Fukuyama, memaksa Saena-sama mengambil kembali kekuatannya. Hingga Saena-sama akan menawarkan salah satu yureinya kepada Fukuyama untuk menyerang Kyoko. Mereka tahu, yurei yang akan ditawarkannya pasti salah satu pengikut Susanoo Omikami, bukan pengikut Amateratsu Omikami. Himiko tak mungkin melakukan hal itu kepada dewanya sendiri. Lalu Tsukasa akan membereskan kekacauan itu sehingga mendapat pengakuan dari kuil Susanoo. Tapi ia tak pernah menyangka yurei yang akan ditawarkan itu adalah Hikari.

"Saena-sama memperkirakan rencana kita. Berpura-pura terjebak didalamnya. Karena itulah dia..." Kepala tertunduk dalam, Tsukasa memalingkan wajahnya. Merasa bersalah dan rendah. Himiko adalah ratu yang kejam dan licik bagi musuhnya. Saat memutuskan untuk mengembalikan Kyoko ke klan Amagami, seharusnya ia siap menghadapi kekejamannya.

"Yui hampir memusnahkannya. Dia menatapku. Aku mengenali matanya. Aku... aku tak bisa... aku..."

"Kau menghentikan Yui." Tsukiyo menangkup wajah Tsukasa. Membimbingnya untuk menatapnya. Mendapatkan persetujuan dari matanya yang sebiru laut.

"Aku mengembalikannya ke yomi. Kali ini, ia tak akan pernah kembali ke sini. Ia bahkan tak akan bisa bereinkarnasi. Padahal ia berjanji untuk menemuiku di kehidupan selanjutnya. Tapi, tanpa menghormati keinginannya, aku..." Dengan pahit, dengan keras kepala, Tsukasa melontarkan kata-kata itu. Menyakiti hatinya sendiri.

"Kau tak punya pilihan lain. Setidaknya ia masih memiliki jiwa dan bisa tinggal di yomi." Tsukiyo membiarkan kebenaran itu tercermin di matanya. Tsukasa terdiam. Ia mencari-cari ke dalam mata gadis itu. Lama, dan ia menerima pernyataan gadis itu.

"Aku telah melakukan yang terbaik." Luka masih terlihat segar di mata pemuda itu. Tapi Tsukiyo melihat ia mencoba menguatkan diri.

Tsukiyo membiarkan insting menuntun jemarinya untuk menyusuri punggung tangan kiri pemuda itu. Di sana, sebuah batu merah tertanam dibalik epidermisnya. Batu yang muncul setiap pemuda itu mengaktifkan kotodamanya. Tanda yang akan semakin terlihat jelas seiring peningkatan kekuatan kotodama pemuda itu. Bukti perjuangan pemuda itu untuk mengendalikan kekuatan kotodamanya. Bukti semakin kuatnya ikatan kontrak antara mereka.

Membentangkan jemarinya yang lain di atas jantung Tsukasa, Tsukiyo merebahkan kepalanya di dada pemuda itu. Ia harus segera menyelesaikan pembuatan segelnya. "Aku tahu kau melakukannya," jawabnya menenangkan. Sebelum semuanya terlambat.

-0-0-0-

Setelah Tsuruga mengantarnya pulang, Yui kembali muncul di kamar Kyoko. Yokai itu muncul begitu saja di depan jendelanya. Malam itu, mereka berbagi cerita. Yui menceritakan bahwa sekarang ia dan Sei 'terikat' dengan keluarga jauh klan Amagami—karena itulah ia mengenal Kasuga. Yui menceritakan bahwa ia melihat Kyoko di Kuil Ise dan memutuskan untuk mengikuti dan menjaganya.

Untuk alasannya, Yui hanya berkata, "Bagaimana aku bisa membiarkanmu? Kau bahkan tak bisa mengingat matra semudah Kuji-in."

"Tapi kenapa sekarang? Sebelumnya, tak pernah ada peri jahat menyerangku. Selama aku ada di Tokyo, aku bahkan tak pernah melihat peri." Kyoko teringat peringatan Reino. Ia tak ingin percaya, tapi 'ikatan' antara Amagami dengan Sei dan Yui, juga sikap Kasuga yang seakan terbiasa menghadapi masalah dengan peri membuatnya sedikit mencurigai Amagami. Tak ada salahnya bertanya kan?

"Umm, apakah ini ada hubungannya dengan Amagami?" Yui menatapnya dengan tatapan aneh sebelum bertanya alasan Kyoko menanyakan hal itu. Dengan enggan, Kyoko menceritakan tentang Reino dan peringatannya yang mencurigakan. Ia tak mau Yui tahu kejadian memalukan terkait 'ikiryo'-nya dan Vain-day. Diluar dugaan, Yui malah bertanya bagaimana mereka saling mengenal.

Awalnya, Kyoko tak mau menjawab. Setelah dipaksa, Kyoko menceritakan semuanya—termasuk pengkhianatan Shotaro—semua cerita saling terhubung sehingga Kyoko terpaksa harus menceritakan tentang aib terbesar dalam hidupnya itu.

"Lalu?"

"Huh?" Kyoko tak bisa membaca ekspresi Yui selama ia bercerita, jadi ia tak menduga reaksi Yui.

"Umm, Yui-san, kau tak akan membakarnya, menghajarnya atau semacammya seperti yang kau lakukan pada peri jahat itu?" Menimbang sikap Yui yang meledak-ledak saat menemukannya diserang peri jahat, ia yakin Yui akan melumatkan Shotaro. Dan ia tak menginginkan hal itu sebelum ia sendiri berhasil membalas dendam.

"Jadi bocah itu menipumu dan kau ingin balas dendam kepadanya. Ini hanya masalah antara sesama manusia. Tak ada urusannya denganku kan?" Pertanyaan itu seharusnya tak mengagetkan Kyoko. Walaupun ia senang karena bisa mengatasi sendiri balas dendammya, walaupun ia tahu Yui tak pernah tertarik dengan urusan manusia, ia sedikit berharap Yui tidak akan bersikap sedingin itu. Yui adalah temannya kan? Dia bilang dia akan menjaganya kan?

"Jadi, apakah kau juga berpikir kalau sebaiknya aku mundur dari film ini?" Sebenarnya, Kyoko tak ingin melepas film itu. Bagaimanapun juga, ia tak ingin melakukannya. Tapi jika Reino benar, sementara Sei dan Yui 'terikat' kepada keluarga Amagami. Prospek menghadapi hal semacam tadi sendirian sedikit membuatnya takut.

Yui malah menjawab pertanyaan Kyoko dengan menanyakan alasannya untuk bertahan di film itu. Awalnya dengan ragu, Kyoko menjawab pertanyaan itu. Sedikit-demi sedikit topik tentang Gate of Heaven, Kaneda Himeko, kesempatan pertama berhadapan dengan Tsuruga dalam peran besar, Haruka-san, para pemain lain, para kru film, bahkan tentang Kasuga, membuat Kyoko bersemangat.

"Kalau kau begitu menyukainya, kau tidak boleh mundur. Aku bisa terus bersamamu jika kau mengikat kontrak denganku. Lagipula, yang benar-benar terikat dengan orang itu hanyalah Seiryuu."

"Huh? Benarkah? Ta-tapi bukankah orang yang terikat dengan Sei-san tinggal di Ise? Kau pernah bilang akan selalu bersama Sei-san..."

"Tidak, ikatan antara Seiryuu dengan orang itu bukan kontrak yang mengharuskannya terus bersama dengannya. Bahkan tak pernah ada kontrak diantara mereka. Aku tinggal di Ise, orang itu tinggal di Edo sementara Seiryuu tinggal di Kyoto. Aku memang akan selalu berteman dengan Seiryuu, tapi bukan berarti aku tidak akan mengikat kontrak dengan orang yang berbeda dengannya.

"Nah, sebelum kita mengikat kontrak, aku tak ingin kau terlalu rentan terhadap serangan yokai semacam tadi. Kemarilah, aku akan mengajarimu Kuji-in lagi." Yui mengulurkan tangannya seperti saat Kyoko masih kecil dulu. Kyoko merasa terbawa kembali ke masa lalu. Saat ia bersama Sei dan Yui mempelajari Kuji-in sebagai permainan baru. Saat dunianya masih sesederhana dunia anak-anak.

Kini, Kyoko bukan lagi anak-anak dan Kuji-in bukan lagi sekedar permaianan. Tapi, ia tetap duduk di hadapan Yui dan mengikuti instruksinya dengan perasaan tenang dan terlindungi. Selama beberapa minggu, Kyoko berlatih mantra dan mudra Kuji-in saat ia tidak sedang kerja sambilan, mengerjakan PR, menghafalkan naskah, atau berakting. Orang-orang disekitarnya mengira bahwa ia mempelajari itu untuk mendukung perannya sebagai Himeko dan membiarkannya. Sementara Kyoko berhati-hati untuk tidak memasukkan kekuatan spiritualnnya ke dalam Kuji-in-nya tanpa pengawasan Yui.

Seperti saat ini, ia sedang menunggu kedatangan Moko di sebuah kafe di Shibuya. Bisa dibilang, ini janji 'kencan' pertama mereka. Kyoko sangat senang. Apalagi, setelah event V-day, ini adalah pertama kalinya Moko memanggilnya lagi untuk bertemu di luar. Ia terlalu bersemangat sehingga ia hanya membaca makna setiap bunyi Kuji-in dari catatannya tanpa melatih mudranya. Ia tak ingin secara tidak sengaja memasukkan kekuatan spiritual ke dalam Kuji-in-nya dan menarik perhatian yang tidak diperlukan.

-0-0-0-

Saena memasuki ruang minum teh dengan tenang lalu duduk di tempat tamu. Di hadapannya, ayahnya menuangkan air mendidih ke dalam gelas keramik yang akan mereka gunakan sore itu—sebuah prosesi penting untuk menghilangkan bau keramik dalam upacara minum teh.

Saena mengikuti dan menghayati makna setiap detail prosesi upacara dengan terlatih. Ia menunggu dengan sabar sampai gilirannya meminum teh yang disuguhkan oleh ayahnya. Ia memperhatikan pria paruh baya di hadapannya itu.

Waktu telah mengikis kemudaan pria itu, menyebarkan uban putih di kepalanya dan kerut halus di wajah tampannya. Tapi waktu tak bisa menyentuh kekuatan maupun kekuasaan pria itu. Semua itu masih terlihat dari sikap seiza-nya yang tegap. Bahkan, jika mungkin, waktu justru memperkaya kekuatannya dengan pengalaman.

Terkadang Saena bertanya-tanya, apakah pria di hadapannya itu adalah seorang manusia? Apakah mungkin ada manusia dengan kekuasaan sebesar pria itu? Tak adakah dewa yang berani menyentuh pria itu? Dulu, semua itu membuatnya bangga dan menghormati pria itu. Pria itu adalah ayahnya.

Tapi semua itu adalah dulu, sebelum ayahnya, Sang Amagami no Ou membunuh Kyoshi. Meninggalkannya tanpa pilihan selain berpisah dari anak mereka, Kyoko. Membuatnya hidup bagai buronan, dikejar dan harus selalu bersembunyi. Menyeretnya pulang—mempermalukannya dengan melucuti kekuatan spiritualnya dihadapan seluruh anggota klan—lalu selama bertahun-tahun dengan kejam mengurungnya di tempat yang paling mengerikan. Tempat itu.

Sekarang, kedudukannya tak beda dengan anggota biasa. Tapi bukan itu yang membuatnya kehilangan rasa hormat pada pria itu. Pengkhianatan Amagami no Ou kepada dirinya dan Kyoshi-lah yang tak pernah bisa ia maafkan. Jika pria itu adalah orang lain. Jika pria itu bukanlah ayah kandungnya sendiri, ia mungkin bisa mengobati atau menyingkirkan rasa sakit yang ia alami akibat pengkhianatan itu. Sayangnya, pria itu memang ayah kandungnya.

"Kau selalu menjadi yang terbaik." Suara Amagami no Ou yang lambat-lambat menarik perhatian Saena. Amagami no Ou menyingkirkan gelas keramiknya. Caranya mengucapkan pujian itu membuatnya terkesan sebagai kalimat lampau.

Sekejap, Saena menegang. Ia menyadari jari tangannya sedikit berkedut di atas pangkuannya. Amagami no Ou tidak sedang membicarakan penampilannya dalam upacara minum teh sore itu. Sudah pasti Tsukasa menceritakan rencananya kepada Amagami no Ou. Tapi sebanyak apa? Ataukah ini tentang Fukuyama? Tentang kekuatannya yang kembali? Beberapa kemungkinan lain melintas dipikirannya. Tapi ada juga kemungkinan ayahnya belum tahu tentang hal-hal yang krusial. Ia tak bisa mengambil risiko membuat ayahnya mencurigainya.

"Saya hanya melakukan yang seharusnya." Berlainan dengan suasana hatinya, Saena berhasil menjawab dengan topeng tenang. Amagami no Ou menatapnya dengan menyelidik tanpa mengatakan apapun. Jika ia berniat mengintimidasinya dengan sikap diam, Saena bersumpah ia tak akan tunduk. Saena terus menatap ayahnya dengan tenang dan percaya diri.

"Ku dengar kau telah menerima jawaban dari bocah half itu." Ruang upacara minum teh seharusnya terpisah dari permasalahan duniawi. Kekuasaan, politik, uang, permusuhan, cinta, pedang, darah. Tak satu pun dari hal itu boleh masuk ke dalam ruang yang sakral itu. Tapi Amagami no Ou telah berkata, Saena hanya bisa menjawabnya.

"Tsukasa bersedia mengatur masalah itu." Lebih tepatnya, Saena mendatangi rumah bocah itu setelah ia mengirimkan surat kepada Tsukiyo bahwa ia akan berkunjung. Pada kunjungan itu, ia menceritakan permintaan seorang politisi Toyama yang telah disetujui Amagami no Ou. Tiga hari kemudian, ia mengunjungi rumah pemuda itu lagi untuk mendapat jawaban.

"Semakin hari, sikap bocah itu semakin mirip dengan sikap seorang Amagami." Seringai ironi menyungging di bibir Amagami no Ou. Percakapan antara dirinya dengan Tsukiyo pada hari itu berkelebat dalam pikiran Saena.

"Saena, kau tahu seberapa penting Hikari baginya. Perlukah kau melakukan hal itu?"

"Apa...dia memintamu melindunginya dariku? Dia mendapat pengakuan Susanoo Omikami-sama. Setelah apa yang dia rencanakan untukku dan Kyoko, bukankah itu lebih dari cukup?"

"Aku hanya memperingatkanmu. Dia berbeda, Saena. Ia bisa mengabulkan permohonanku. Aku bisa merasakannya. Aku sudah mencarinya hampir sepanjang hidupku. Dan aku tak akan membiarkanmu mengacaukan semuanya."

"Dengarlah dirimu sendiri, Tsukiyo. Kaulah yang mengikat kontrak dengannya. Menyeretnya ke dalam dunia kita. Selama ia hidup di dunia kita, cepat atau lambat, ia akan mengalami hal yang lebih kejam dari apa yang ku lakukan. Bukankah agak terlambat bagimu untuk bermain sebagai ibu yang protektif baginya?"

"Benar." Saena menatap ayahnya. Dalam dua kunjungan itu, tak sekalipun Tsukasa menemuinya. Apakah pemuda itu terlalu terluka untuk bertemu langsung dengannya? Terlalu marah untuk berbicara dengannya? Apakah ia sudah melakukan hal yang benar? Ataukah semua yang telah ia lakukan untuk menjauhkan Kyoko dari Amagami adalah kesalahan?

"Saya tak bisa lebih setuju lagi tentang hal itu." Tak ada sedikit pun kebohongan saat Saena mengucapkan hal itu. Karena ia yakin, seperti yang telah dikatakan oleh Tsukiyo, tepat saat ia menghadiri upacara minum teh hari itu, Tsukasa tengah dalam perjalanan ke Toyama.

Pemuda itu akan mengatur siasat agar sebuah keluarga yakuza di Toyama, klan Kazama akan melakukan pekerjaan kotor bagi mereka. Dengan kemampuan sekelas Tsukasa, klan Kazama akan membunuh politisi saingan sang klien tanpa menyeret nama sang klien. Bahkan, klan itu tak akan menyadari bahwa mereka melakukannya demi klan Amagami.

Tsukasa akan melakukan semua itu tanpa memedulikan apakah perbuatan itu benar atau salah. Dengan mengesampingkan perasaannya dan mengabaikan nuraninya sendiri. Semuanya dilakukan hanya karena itu diperlukan untuk mencapai tujuan. Semua keluarga Amagami memiliki kemampuan bertindak seperti itu.

Dan Kyoko, Kyoko akan terpisah dari Amagami selama Saena masih hidup. Akhir-akhir ini ia bertanya-tanya, apakah Kyoshi memintanya menjauhkan Kyoko dari Amagami agar anak itu tidak pernah memiliki kemampuan semacam itu?

Akhir dari Bagian 05


AN:/ Finally,... I'm baaaaaack! Aku minta maaf sebesar-besarnya sama yang nungguin update cerita ini (Aku mengalami long-term off-track). Basically, cerita ini terdiri atas setidaknya 5 cerita independen yang saling berkaitan dan tumpang tindih (Aku sudah menyelesaikan setidaknya 3 cerita, hanya saja belum dimasukkan ke dalam cerita ini).

Buat yang nunggu versi bahasa Inggris, umh,,,aku ga bisa banyak janji (aku mengalami sejenis peningkatan tuntutan kerja di dunia nyata *curhat mode on*). I'm really really sorry. Please be patient and read Indonesian version for a while (if you would).

Ryu: Yup, Haruka has a secret. Tapi, rahasia itu tidak berhubungan dengan sifat polosnya (nanti akan terungkap sejalan dengan perjalanan cerita). Maaf, di chapter ini ga ada RenKyo fluff . Sementara ini, aku ingin memberi gambaran dasar konflik romance antara Saena-Kasuga Kyoshiro-Tsukiyo-Tsukasa-Haruka (ini akan sangat mempengaruhi plot dan hubungan RenKyo). Ah, sedikit spoiler, Yui ga akan jadi saingan Ren kok. Kasihan, dia masih harus menghadapi Shotaro dan Reino dari canon, selain harus menghadapi seluruh klan Amagami.

Next chapter: Kendali

Question: Apa aku harus menulis semua arti setiap istilah di headnote setiap chapter atau hanya untuk setiap ada istilah baru?

Sincerely,

E.C.