Assalamu'alaykum sahabat, akhirnya kesempetan juga buat update ini cerita, mudah-mudahan kalian semua suka, dan maaf kalau kurang memuaskan ya! Karena kelihatannya paragraf pendeskripsiannya sangat kurang, (payah banget ini yang bikin cerita) Oke, kita langsung ke ceritanya aja!

.

.

~Love Musical~

.

.

Kamichama Karin © Koge Donbo Sensei

~Love Musical~ © Invea (Karin Edcoustic)

Genre : Romance ; Hurt/Comfort

Rated : T

Pairing : Karin X Kazune

Chara : Karin Hanazono ; Kazune Kujo ; Michiru Nishikiori

Warning : Gaje ; OOC ; AU ; Miss typo, Dll

.

.

Kicau burung yang merdu membangunkan Karin dari mimpinya. Sinar matahari menyilaukan matanya. Karin lalu pergi keluar kamarnya untuk mencari udara segar, melamun di tengah segarnya suasana pagi hari.

Waktu masih menunjukkan pukul setengah enam ketika Karin hendak pergi ke sekolah. 'Kepagian' Mungkin itulah kata yang tepat untuk menunjukkan Karin yang berangkat sekolah hari itu. Bel pertama masuk sekolah akan berbunyi 2 jam lagi tapi, Karin sudah tiba di sekolah tepat pukul 6.

Tak satupun orang yang Karin jumpai di sekolah. Dia lalu pergi ke ruang musik sebelum bel masuk berbunyi. 'Memainkan piano' hanya itulah yang saat ini terpikir dalam benaknya. Perlahan-lahan ia memainkan piano di ruang musik. Merdu dan lembut suaranya. Jemari kecil Karin tampak menari-nari dengan indah. Memainkan sebuah lagu istimewa.

Kazune yang baru saja tiba terkejut karena mendengar suara seseorang yang bermain piano. 'Suara yang lembut. Nada-nadanya ia mainkan dengan indah, tapi, terdengar rasa kesedihan dari musik ini. Siapa yang memainkannya?' tanya Kazune dalam hati.

Dia lalu mencari tahu asal suara piano itu. Terkejutlah ia mendapati Karin yang ternyata memainkan piano itu. Dia hanya memperhatikan Karin dari balik jendela. Walaupun dia –mengakunya sih- benci musik, tapi baru kali ini ia mendengarkan musik yang sangat menyentuh perasaan hatinya. Dia jadi tergiur untuk kembali bermain musik. Tapi, perasaan sedih kehilangan orang tuanya karena musik membuat dia mengurungkan niat untuk kembali bermain musik.

Menyadari ada seseorang yang memperhatikannya, Karin pun menghentikan permainan musiknya. Ia lalu menengok ke belakang. Betapa terkejutnya ia melihat Kazune yang sudah ada di depan pintu ruang musik. Raut muka Kazune berubah menjadi jutek kembali saat mengetahui bahwa Karin telah menyadari keberadaannya.

"Ka.. Kazune.. Sedang apa di sini?"

"Aku hanya mau menyuruhmu untuk menghentikan permainanmu.. Berisik tahu!" bentak Kazune kepada Karin.

"Oh, begitu. Aku mengganggu ya? Maaf kalau begitu" jawab Karin sinis.

Karin lalu pergi dari ruang musik. Sejujurnya, dia tak ingin bersikap kasar seperti itu pada Kazune tapi sikap emosionalnya tidak mudah hilang begitu saja.

.

.

Jam pelajaran pertama hari ini adalah seni musik. Salah satu pelajaran –atau tepatnya satu-satunya pelajaran- yang disukai Karin. Miwa sensei lalu masuk ke kelas.

"Ohayou mina…"

"Ohayou sensei.."

"Minggu depan akan ada tes musik secara berpasangan"

Kelas menjadi ribut. Tes seperti inilah yang mereka tunggu-tunggu. Biasanya, saat ada tes seperti ini, anak-anak perempuan berharap berpasangan dengan Yuki yang pintar bermain musik. Sedangkan anak laki-laki berharap berpasangan dengan Karin yang juga lumayan ahli soal musik.

"Seperti biasa, sensei akan mengadakan undian untuk menentukan pasangannya."

Semua murid menjadi tegang kecuali Karin, Kazune, dan Micchi. Micchi tampak tersenyum-senyum sendiri, Karin tampak tenang walaupun wajahnya tampak menyiratkan penyesalan telah berbuat kasar terhadap Kazune. Sedangkan kazune sendiri tampak bertampang tak peduli.

"Hanazono akan berpasangan dengan Kujo"

"Hah? Aku dengan Kazune?" tanya Karin dengan suara agak keras saking terkejutnya.

"Iya.. Makanya kalau sensei sedang berbicara di perhatikan"

"Ma.. Maaf sensei"

'Bagaimana ini? Aku berpasangan dengan Kazune? Ini benar-benar di luar dugaan ataupun khayalanku' seru Karin dalam hati. Wajahnya kini tampak merona kemerahan. Sepertinya dia benar-benar sudah jatuh cinta kepada Kazune.

Kazune hanya melirik kepada Karin. Sebenarnya dia merasa senang bisa berpasangan dengan cinta pertamanya itu tapi ia kesal karena hal itu terjadi dalam pelajaran seni musik yang –menurutnya- menyebabkan orang tuanya meninggal dunia.

.

.

Jam istirahat…

"Ng.. Anu Kazune.. mengenai tes musik.. aku…"

"Aku akan bermain biola. Kau yang menyanyi dan bermain piano" jawab Kazune dengan dingin.

"Ba.. baiklah. Kapan kita latihan?"

"Hari ini pulang sekolah"

"Sampai nanti kalau begitu…"

Kazune lalu meneruskan membaca buku. Dingin atau lebih tepatnya sangat dingin. Begitulah sikap Kazune kepada Karin saat ini. Walaupun dia menyukai Karin, ia malah sering membuat Karin kesal.

Pulang sekolah, mereka latihan di ruang musik. Wajah Karin tampak bersemu kemerahan sedangkan Kazune tampak cool seperti biasa tak lupa dengan sikap juteknya yang Karin rasa itu adalah kepribadian Kazune.

Kazune lalu mengambil sebuah biola. Dia kemudian memainkan biola itu. Tapi, Karin menghentikan permainan biolanya.

"Stop! Suaranya sumbang!"

Kazune lalu kembali mengulang. Kali ini suara permainannya terdengar sangat merdu tapi, bagi Karin suaranya itu sangat sumbang. Walau permainan biola Kazune terdengar sangat ahli dan professional, Karin mendengar nada ketidaksukaan bermain musik dari nada-nada permainan biola Kazune. Biola tersebut tampak menjerit-jerit di telinga Karin. Tiba-tiba Karin menangis.

"Hentikan.. Hentikan permainan biolamu.." seru Karin sambil terisak-isak.

"Kenapa?" tanya Kazune.

"Cukup! Kalau kau benar-benar benci musik, jangan paksa untuk bermain musik!" jerit Karin.

"Apa maksudmu?"

"Nadanya.. nadanya benar-benar menyakitkan untuk didengarkan"

"Jadi kau ingin bilang kalau permainan ku buruk, begitu?"

"Bukan begitu… hanya saja… permainanmu…"

"Apa? Hah? Jelek? Begitu kan maksudmu? Lagi pula sejak awal aku tidak berniat memainkannya! Hanya membuang waktuku saja" Kazune lalu pergi meninggalkan Karin.

Karin tampak terdiam dan menangis sambil menunduk. Dia benar-benar sedih melihat Kazune seperti itu. Bukan maksudnya untuk membuat Kazune tersinggung. Dia hanya ingin mencoba untuk memahami Kazune. Tapi, yang dia lakukan malah menyakiti Kazune.

'Ayah, ibu.. katakan.. apa yang harus aku lakukan?' tanya Karin pada dirinya sendiri.

.

.

Di tempat pertemuan pertama kali Kazune dan Karin saat mereka masih berusia 7 tahun, tampak Kazune yang sedang memukul-mukul pohon.

"Bodoh! Kenapa aku berkata seperti itu? Kenapa aku tidak bisa bermain musik seperti dulu lagi? Kenapa aku berbuat kasar seperti itu kepada Karin!" sesal Kazune.

Tampaknya dia benar-benar menyesal telah berbuat kasar seperti tadi.

"Sekarang apa yang mesti ku lakukan?" ujar Kazune "Apa yang sebaiknya aku lakukan? Apa yang sebaiknya aku katakan pada Karin besok?" serunya kemudian.

.

.

Esok harinya di sekolah, mereka berdua tampak berdiam-diaman. Sebenarnya, dalam hati mereka, mereka ingin berbaikan tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan.

"Karin.." sapa Micchi sambil memeluk Karin dari belakang.

"Kya.. Micchi.. lepaskan.."

"Hehehe.. Karin sedang ada masalah ya? Mukanya cemberut begitu" tebak Micchi.

"Huh! Kata siapa?"

"Kata aku."

"Ikh, dasar Micchi" kata Karin sambil tertawa.

"Nah, gitu.. senyum donk.. kamu tampak cantik kalau tersenyum seperti itu…"

Deg! Jantung Karin berdebar kencang. Itu kan kata-kata yang pernah dikatakan oleh cowok yang Karin temui 6 tahun yang lalu.

'Apa jangan-jangan Micchi adalah cowok itu? Tapi, cowok yang waktu itu mirip banget sama Kazune. Wa.. bagaimana ini?' seru Karin dalam hati. Sepertinya ia benar-benar panik.

Kazune tampak cemburu melihat keakraban Karin dengan Micchi. Sebenarnya ia ingin bisa dekat dengan Karin seperti Micchi. Tapi entah kenapa, hal itu benar-benar sulit baginya.

Karena penasaran, Karin akhirnya bertanya kepada Micchi.

"Micchi, kamu tahu kalung ini nggak?" tanya Karin sambil memperlihatkan kalung yang diberikan oleh cowok yang ia temui 6 tahun yang lalu.

"Wah, motifnya lucu, pilihan Karin memang hebat." Puji Micchi.

'Ternyata orangnya bukan Micchi' seru Karin dalam hati.

"Oh, iya Micchi, kamu kan udah kenal dekat sama Kazune, pasti tahu donk cara minta maaf kepada Kazune"

"Hah? Cara minta maaf kepada Kazune?"

"Iya. Micchi tahu nggak?"

"Hm.. Aku nggak tahu. Tapi menurutku jika ingin minta maaf, kita katakana maaf dengan tulus dan menjelaskan kesalahan kita serta alasan kita melakukan hal tersebut. Dan juga berjanji kepadanya untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut untuk yang kedua kalinya"

"Wow. Aku nggak nyangka Micchi bisa sebijak itu"

"Apa maksudmu?"

"Eh, nggak kok. Makasih sarannya ya"

"Jangan-jangan Karin sedang ada masalah dengan Kazune ya?"

"Eng.. nggak juga kok"

"Jangan bohong. Bohong itu dosa lo!"

"Nggak kok. Beneran"

"Hm.. Ya sudah kalau begitu"

Micchi lalu meninggalkan Karin yang masih terbengong-bengong.

.

.

Pada saat jam istirahat…

"Kazune, ada yang ingin kubicarakan."

"Apa?"

"Jangan di sini. Sebaiknya kita bicarakan di taman belakang."

"Apakah hal yang penting? Kalau tidak penting aku tidak mau sebab aku tidak mau membuang-buang waktu"

"Ikuti aku saja"

Mau tak mau pada akhirnya Kazune pun mengikuti Micchi. Karin yang mendengar pembicaraan mereka menjadi sangat penasaran sehingga dia pun membuntuti mereka. Karin tahu hal itu tidak baik dan bahkan bisa membuat ia dibenci oleh mereka berdua tapi mau bagaimana lagi, sifat penasaran anak ini selalu muncul kapan saja dan di mana saja ia berada.

"Kau ada masalah dengan Karin?" tanya Micchi di taman.

"Kau hanya memanggilku untuk urusan yang tidak penting seperti ini?" Kazune berbalik tanya. "Jika hanya itu yang ingin kau ketahui, aku akan ke kelas saja" lanjut Kazune sambil berbalik hendak pergi. Namun Micchi dengan sigap memegang lengan Kazune.

"Anak perempuan yang pernah kau ceritakan padaku adalah Karin kan?"

"Apa maksudmu?"

"Jangan mengelak lagi! Pada saat pertama kali kita bertemu, kau bercerita kepadaku bahwa kau tak ingin pindah ke London karena ada seorang anak perempuan kan? Kau berkata kepadaku bahwa kau takut dia kembali menangis? Kau bilang bahwa kau takut dia kembali murung? Kau berkata padaku bahwa kau menyukainya? Dia itu Karin kan? Lalu kenapa kini kau malah membuat dia murung? Bukankah kau selalu berkata kepadaku bahwa kau ingin selalu ada di dekatnya, menghiburnya saat ia sedih? Tapi kenapa sekarang kau malah membuatnya menderita? Kenapa?"

"I.. Itu bukan urusanmu.."

"Ada apa denganmu Kazune? Kau bukanlah Kazune yang aku kenal dulu!"

"Apa maksudmu? Memangnya kenapa kalau aku bukanlah aku yang dulu? Memangnya kenapa kalau aku berubah?"

"I.. itu.. itu…"

"Fuh. Tak ada hubungannya denganmu kan?"

Karin tampak geram. Lama-lama dia gerah juga menyaksikan mereka bertengkar seperti itu. Akhirnya, dengan mengeluarkan semua keberanian yang ia miliki, ia pun memberanikan diri untuk keluar dari semak-semak tempat ia bersembunyi.

"STOP! Berhenti! Jangan bertengkar lagi!" teriak Karin.

"Ka.. Karin.." ujar Micchi kaget.

"Kazune, apa yang dikatakan Micchi benar. Kau kini sudah berubah drastis. Kau bukanlah orang yang ku kenal 6 tahun yang lalu." Seru Karin.

"Kau sendiri tahu kan, Micchi, Karin? Kenapa aku berubah seperti ini? Jelas sangat percuma jika aku harus menjelaskannya kepada kalian berdua" jawab Kazune.

"Aku tahu.. Aku juga tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua. Aku tahu bagaimana sedihnya. Aku tahu bagaimana pedihnya." Ujar Karin.

"Nah, kau sendiri sudah merasakan bagaimana terpukulnya dirimu? Kau pun berubah menjadi pemurung setelah itu kan? Kalau kau bisa berubah, lalu apa hak kalian menolak perubahanku? Apakah kalian mempunyai hak itu? Adakah hak kalian melarangku untuk berubah? Adakah?" tanya Kazune

"Ada. Tentu saja ada." Jawab Karin

"Apa? Coba katakan apa?" tantang Kazune

"Karena kau yang telah membuatku tersenyum kembali. Karena kau yang telah menghiburku. Karena kau yang telah membuatku kembali ceria. Karena kau yang menyebabkan aku tidak berubah menjadi orang yang pemurung. Karena aku mengkhawatirkanmu. Karena aku menyukaimu. Aku menyukaimu" jawab Karin sambil menangis.

Kazune lalu terdiam. Dia lalu hendak kembali ke kelas.

"Hei, Kazune! Kau mau ke mana?" tanya Micchi

Kazune tak menjawab pertanyaan Micchi. Dia tetap berjalan kembali ke kelas.

"Hei, lihatlah Karin dulu. Lihat apa yang telah kau perbuat padanya!" lanjut Micchi.

"Sudahlah Micchi, aku tidak apa-apa kok" kata Karin. Dia lalu berdiri dan pergi berlari. Dia lalu pergi ke tempat di mana ia pertama kali bertemu dengan Kazune.

Di sana ia lalu menangis sendirian. Tiba-tiba, terdengar suara nada musik yang lembut. Nada musik yang selalu ia rindukan. Nada musik yang membuatnya kembali ceria. Karin lalu menengok ke belakang. Ia melihat sesosok cowok yang ia suka. Ya, Kazune berdiri di sana sambil memainkan biolanya. Lembut sekali. Sepertinya ia benar-benar memainkan biola itu dengan hatinya. Air mata pun makin menderas keluar dari mata Karin. Terharu dan rindu bercampur aduk dalam perasaannya.

"Huwa.. Kazune…"

Karin langsung memeluk tubuh Kazune.

"Maaf.. aku tak bisa ada saat kau membutuhkanku.. aku tak bisa menghiburmu saat kau terluka.. padahal kau ada saat aku membutuhkanmu.. kau ada untuk menghiburku.. kau selalu ada untuk membuatku tersenyum…"

Kazune lalu mengusap-usap kepala Karin.

"Kau tidak salah Karin.. Akulah yang salah… Akulah yang harusnya minta maaf.. aku telah berbuat kasar kepadamu.. padahal dari dulu, aku sudah sangat menantikan waktu di mana bisa kembali bertemu denganmu… dari dulu, sejak pertama kali aku bertemu denganmu, aku telah menyukaimu…"

Karin lalu menatap dalam-dalam Kazune. Memastikan bahwa kata-kata itu benar-benar keluar dari lubuk hati Kazune.

"Be.. Benarkah?"

"Tentu saja…"

"Aku juga menyukaimu…"

~The End~

Huwa, beres juga, senangnya, XD

Oh ya, nanti vea akan masukkan cerita baru, judulnya Music Of Dream, jangan lupa di baca ya?

Terakhir, vea mau minta kritik dan sarannya, lewat review juga silahkan, dengan senang hati saya nantikan

:D