Hoooooooi Author gak jelas balik laaagiii XDXD

Ini ... fanfic pertamaku di fandom Spiral maksudnya di akun yang ini :P

Sebenarnya ini adalah Fanfic yang memperjelas 'Bloody Iris' yang merupakan Fanfic yang aku buat bersama Yuri Oohara :D

Fanfic ini bercerita (memperjelas) tentang masa lalu Iris Weisheit / Antouniousse.

silahkan dicicipi para readers tercinta :D


Disclaimer : Bukan punya saya lho yaaa punya Eita Mizuno sama Kyo Shirodaira.

Warning : OC, OOC, typo dan teman-teman mereka lainnya.


The Past.


Summary : Saat itu semuanya gelap, hanya hujan yang menemani kesedihan dan kesendirianku, tetesan hujan yang deras itu, mereka seakan setia menemaniku dikala semuanya terjadi. Tuhan ... kenapa semuanya terjadi padaku ? Manusia yang disebut Blade Children itu merenggut mereka yang sangat aku sayangi sampai dua kali, apakah ini adil ?

.

.

Pagi itu, suasana cerah seperti biasanya, seorang gadis kecil baru saja selesai membereskan dirinya, anak itu dikuncir dua dengan rambut merah muda yang membuatnya kelihatan manis. Gadis kecil itu berlari kearah taman di belakang mansion-nya yang sangat luas, di taman itu tersebar warna-warni bunga Iris yang cantik. Gadis itu menoleh kesana kemari memperhatikan bunga Iris kesayangannya, wajahnya tersenyum lebar melihat keindahan bunga-bunga itu.

Seorang maid menghampirinya dengan senyuman, lalu berkata "Iris-sama, tuan dan nyonya sudah menunggu anda di taman utama"

Gadis kecil yang bernama Iris itu menoleh kearah maid yang berada disebelahnya, "Terima kasih, Aku akan kesana !" sahutnya.

Iris pun berlari meninggalkan maid itu dengan riang, betapa tidak, sebentar lagi ia menginjak usia 10 tahun, dan ia satu-satunya penerus keluarga Weisheit yang mempunyai peran besar di kota Berlin, Jerman. Ketika keturunan keluarga Weisheit menginjak umur 10 tahun, maka ia akan dinobatkan sebagai penerus keluarga tersebut dan akan menjalani pendidikan menjadi seorang tuan besar, meskipun ia seorang wanita.

Keluarga yang dikenal keras dan terhormat di Berlin itu, sangat disiplin dan tidak diragukan lagi kehebatannya. Mereka mempunyai pekerjaan 'belakang'. Namun, Ayah dan Ibu Iris berniat akan mengubah pandangan itu. Dan merahasiakan pekerjaan 'belakang' yang diwariskan secara turun temurun pada keluarganya kepada Iris, demi keselamatan Iris nantinya.

"Guten Morgen !" teriak Iris riang.

"Iris, berapa kali bunda ingatkan agar tidak berlebihan ketika menyebutkan salam !" tegur Rose yang merupakan Ibunda Iris yang sangat menyayanginya meskipun ia sangat disiplin dan keras, mendengar hal itu, Iris mengkerut dan menunduk.

"Sudahlah bunda, kasihan Iris ditekan seperti itu..!" larang Will dengan lembut, "lagi pula hari ini kita akan bersenang-senang untuk Iris."

"Tapi, meskipun begitu ia harus menunjukkan sifatnya sebagai Lady yang terhormat di Berlin, jangan sampai nama keluarga kita tercoreng karena sifatnya" sahut Rose ketus.

"Bunda , bukankah bunda ingin mengubah pandangan terhadap keluarga ini ?" tanya Will sekali lagi.

"Tapi, yah ! Iris harus tetap menunjukkan pribadinya yang sopan meskipun terhadap orang terdekatnya !" jawab Rose yang mulai emosi.

Iris tidak menyukai ketika Ayah dan Bunda-nya bertengkar soal aturan-aturan yang sudah dibuat secara turun-temurun, bahkan Iris tidak mempunyai teman, ia tidak diperkenankan bersekolah di luar rumah, maka dari itu ia mengeyam pendidikan secara home schooling.

"Entschuldigung ... Bunda ... Ayah"

"Tidak apa-apa Iris, tapi jangan kau ulangi hal itu dalam acara resmi, apalagi di acara ulang tahunmu minggu depan, ya ?" pinta Will dengan penuh kasih pada anak semata wayangnya itu.

Iris hanya mengangguk dan memandangi Bundanya yang sedikit kecewa pada Iris, namun Bundanya memeluknya dan meminta maaf pada Iris kalau-kalau ia sering mengekang Iris sebegitunya. Bahkan Iris susah berinteraksi layaknya anak-anak seumurannya. Orang tua Iris sibuk untuk mempersiapkan Iris sebagai penerus keluarga Weisheit.

"Maafkan bunda ya Iris ... Bunda tahu bunda salah" kata Rose mengakui, dan Iris hanya mengangguk senang.

"Maaf Tuan besar, Nyonya ... tamu anda sudah datang, mereka menunggu di ruang utama." kata seorang Butler yang menghampiri mereka.

"Terimakasih, oh iya ... tolong umumkan pada yang lain agar meninggalkan mansion ini siang nanti, kalian boleh berlibur," sahut Will dengan memberikan selembar kertas kecil.

"Tuan akan menyelesaikan 'tugas' tuan ?" tanya sang Butler.

"tentu saja, terima kasih kalian sudah melayani keluarga ini." Jawab Will dengan senyuman.

Sang Butler pun meninggalkan mereka bertiga, sementara itu, Iris di tuntun oleh sang Ayah dan Bunda kearah ruangan utama yang tak jauh dari taman itu. Will membuka ruangan yang sangat besar itu, dan terlihat lima orang telah menunggu kedatangan mereka bertiga. Iris tertegun karena baru kali ini ada anak yang seumurannya mengunjungi mansion-nya di Berlin.

"Long time no see Tn. Hilbert !" sapa Will yang segera berjabat tangan dengan kepala keluarga Hibert dari London.

"Suatu kehormatan aku bisa bertemu denganmu, sahabatku "balas Tn. Hilbert dengan ramah.

"Sudah lama tidak bertemu, nyonya Evangeline " Kini Rose menyapa seorang wanita yang sedang memangku gadis kecil yang manis.

"Hi nyonya Rose, maafkan kami, membawa ketiga anak kami kesini, kasihan mereka kalau kami tinggalkan di London sendirian" sahut Evangeline dengan sopan. "Dan kenalkan anak-anakku, yang tertua namanya Kanon, lalu Eyes dan yang perempuan ini adalah Hanon"

"Tidak apa-apa, kami sangat senang, apalagi Iris, mungkin ia dapat menemani mereka" kata Rose lembut, "Iris, berkenalanlah dengan mereka dan ajak mereka main ya !" ointa Rose pada Iris yang sedari tadi mengumpat dibalik tubuhnya.

"I-Iya ..." kata Iris gugup, ia memperhatikan Kanon, Eyes dan Hanon yang sedari tadi memperhatikannya, ia malu, karena baru pertama kali bertemu anak kecil yang seumuran dengan mereka.

.

.

"Kawaii !" teriak Hanon senang, ia menuntun Eyes yang ikut berlari kesana-kemari bersamanya di taman bunga Iris itu

"Hanon ! Hati-hati !" larang Kanon yang mencoba menahan Hanon dan Eyes yang sedari tadi berlari, "Maafkan atas kelakuan adikku ya .. emm nona Weisheit" pinta Kanon yang merasa tak enak hati pada Iris yang sedari tadi keheranan melihat sikap mereka bertiga yang kelihatan sangat senang.

"Ti-Tidak apa-apa tuan Hilbert, a-anggap ru-rumah sendiri ehehe" sahut Iris dengan sangat gugup.

"mmm ... jangan begitu, panggil aku Kanon saja nona." sahut Kanon dengan tulus.

"ka-kalau begitu panggil aku Iris" kata Iris tak mau kalah.

"Oke, Iris-chan !" sahut Kanon lagi.

"Nee ! Iris-nee-chan !" sapa Hanon yang menghapiri Iris yang sedang duduk di bangku taman, "Ayo pindah dari sini, aku ingin main ke kamar Iris-nee-chan !" pinta Hanon dengan senyuman khas-nya.

"Hanon kau tidak boleh begitu, tidak sopan tahu !" kata Kanon melarangnya, ia memukul adiknya dengan pelan "Maafkan adikku ini, Iris-chan !"

"Buuuu ! Aniki jahaat ! Onii-chan ! Aniki jahat !" kata Hanon manja.

"Tapi, Kanon benar Hanon-chan" sahut Eyes dengan sedikit senyuman pada Hanon.

"Buuuu !" Hanon mengembungkan pipinya yang bertanda bahwa ia kesal pada Aniki dan Onii-chan-nya. Lagi-lagi Iris merasa tertegun dengan sikap kakak-berakdik itu, pasalnya ia adalah anak tunggal yang tidak mempunyai teman, dan sudah dikurung dalam mansion itu bertahun-tahun.

"ti-Tidak apa-apa kok" sangkal Iris mencoba mendekatkan diri pada Hilbert bersaudara, "Ayo semuanya kita main dikamarku" ajak Iris dengan senyumannya.

"Hontou ni ?" tanya Hanon dan ia segera menarik lengan Iris agar mengajaknya kesana.

"O-Oi ! Hanon-chan ! kamu tidak boleh begitu !" larang Kanon lagi, namun Eyes yang berada disampingnya berjalan dengan santai.

Mereka berjalan dikoridor mansion sambil bertukar cerita mengenai Berlin dan London. Iris sangat senang karena mereka bertiga adalah teman pertamanya yang berkunjung di mansion itu. Iris pun membuka pintu kamarnya dan mengajak mereka bertiga masuk, lagi-lagi Hanon berlari dengan sangat riang memasuki kamar Iris yang terdapat lukisan blue Iris didalamnya.

"Sugoi ! Kamar Iris-nee-chan sugoi !" puji Hanon yang dengan spontan tidur diatas kasur Iris yang empuk.

"Hanon-chan !" seru Kanon.

"Sudah tidak apa-apa , anggap saja kamar sendiri" Kata Iris yang sudah mulai terbiasa berinteraksi dengan mereka bertiga.

"Dengar tuh Kanon, Iris saja tidak melarang kami, iya 'kan Hanon-chan ?" kata Eyes dengan tampang khasnya.

"IYA ! Onii-chan !" seru Hanon gembira, Kanon hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Eyes dan Hanon yang seenaknya seperti itu.

"Punya adik dan kakak itu enak ya ..." gumam Iris.

"tapi kadang akan menyusahkan lho !" sahut Kanon yang ternyata mendengar perkataan Iris.

"tidak apa-apa, tapi menyenangkan 'kan ?"

.

.

Mereka berempat menghabiskan waktu dikamar Iris, semuanya sangat akrab dan Iris sangat senang. Sebentar lagi jam makan malam, dan mereka bergegas menuju ruang makan utama yang agak jauh dari kamar Iris. Sebelum mereka keluar, Hanon membawa boneka kelinci kesayangan Iris, meskin dilarang oleh Kanon dan Eyes, Hanon tetap tidak mengerti, Sebenarnya Iris ingin melarangnya namun hatinya tidak enak pada Hanon, Ia takut melukai perasaan Hanon, dan membiarkannya saja.

Diruang makan, terjadi perbincangan hangat antara kedua keluarga, sementara itu Eyes asyik mengajak Hanon bermain bersama boneka Kelinci Iris. dan Iris mengobrol dengan Kanon dengan akrabnya. Namun, suasana berubah ketika Hanon tak sengaja membuat telinga boneka kesayangan Iris putus. Iris menggebrak meja karena sudah hilang kendali.

"APA YANG KAU LAKUKAN PADA BONEKA-KU ?"

"IRIS ! jaga sopan santunmu !" seru Rose yang geram.

"Tapi ! bunda ! Dia ... !"

"Bersikap sopan pada tamu Iris !" timpal Will.

"TAPI YAH ! DIA .. MEROBEK BONEKA KESAYANGANKU !"

"Boneka seperti itu dapat dibeli kapan saja Iris !"

"Aku tidak mau ! aku tidak ingin yang lain ! tidak ingin "

"Iris !"

"Tidak ingin ! Tidak ing-"

PLAK ! tangan Rose melayang kearah wajah Iris.

"MASUK KEKAMARMU ! KAU DILARANG IKUT MAKAN MALAM !"

Iris hanya menunduk, ia tidak tahu ia salah, tapi bonekanya adalah benda kesayangannya, tanpa menolak, Iris kembali kekamarnya. Ia tidak menangis namun matanya memancarkan perasaan benci, ia rasa tidak adil kalau ayah dan bundanya lebih membela tamu dari pada anaknya sendiri.

Aku benci keluarga Hilbert ! kata Iris dalam hati.

Kemudian dia melangkah meninggalkan ruang makan, Kanon memandanginya kasihan , Hanon dan Eyes merasa sangat bersalah karena itu. Segera Iris berlari meskipun ia tahu ia tidak boleh berlari seperti itu, karena dadanya akan terasa sakit. Ketika Iris menghilang dari pandangan mereka, Will berdiri dan menatap semua yang ada disana.

"Maaf atas keributan tadi ..." kata Will sopan.

"Tidak apa-apa, kami maklum" sahut Tn. Hilbert.

"Dan maaf hari ini adalah hari terakhir kalian, Blade children !" sahut Rose yang melemparkan pisau kedepan Kanon.

"Kalian !"

"Fufufufu sudah kami tunggu saat ini..." kata Rose lagi.

"Setelah ini, tugas kami telah selesai.." timpal Will.

"Sudah kuduga ..." gumam Tn. Hilbert, "Kanon !"

"Ya Ayah !"

.

.

Iris menutupi wajahnya dengan bantal, sementara nafasnya terengah-engah dan ia merasakan sakit yang amat sangat didadanya, ia memiliki penyakit yang berbahaya dan kambuh apabila ia merasa kelelahan. Pandangannya kosong namun ia tetap terjaga, ia menatapi bunga Iris yang beradai didepannya, Ia mencoba menggapainya namun saat ia akan meraihnya, vase yang dihiasi Iris merah muda itu terjatuh PRANG ! seketika firasat Iris menjadi buruk.

Iris menatap keluar ruangan, perlahan hitam menyelimuti langit yang biasanya dihinggapi bintang dan bulan, lalu langit pun menangis membuat perasaannya menjadi khawatir akan sesuatu, hujan dan angin menyapu hamparan bunga-bunga Iris yang berwarna-warni diluar, angin yang sangat kencang itu mematahkan tangkai-tangkai Iris yang rapuh begitu saja, terdengar dari kejauhan suara tembakkan beberapa kali, Iris terkejut mendengarnya.

DOR ! DOR ! DOR !

Ia menatapi semua yang ada dikamarnya, seakan ada yang memburu keselamatannya. Ketika itu, ia teringat kembali orang tuanya di ruang makan, Ia segera berlari kesana memastikan keadaan mereka. Meski dadanya terasa sakit Iris tetap berlari ke ruang makan utama yang lumayan jauh dari kamar pribadinya. Saat sampai disana tercium aroma darah segar dan terlihat darah yang tercecer dimana-mana, Iris melihat Evangeline memeluk Hanon dan menutupi matanya dengan erat, sementara Tn. Hilbert melindungi Eyes, Lalu Kanon ...

Mata Iris terbelalak ketika melihat kedua orang tuanya terkapar kaku dibawah seorang anak laki-laki yang memegang pistol yang masih berasap karena sebelumnya menembakkan peluru berkali-kali, anak laki-laki itu tak lain dan tak bukan adalah Kanon. Wajahnya menatap Iris dengan sikap siaga, di wajahnya pula terdapat cipratan-cipratan darah yang masih segar. Iris menyambarnya dan mencengkram lehr Kanon dengan penuh amarah.

"APA YANG KAU LAKUKAN PADA ORANG TUAKU HAH ?" seru Iris dengan air mata yang mulai mengalir.

Kanon hanya bisa terdiam melihat Iris yang seperti itu, saat itu ia mengangkat tangannya dan berusaha untuk menembak Iris dengan pistolnya. Evangeline memberikan kode agar Kanon tidak melakukan itu.

"Kalian ... ! KALIAN JAHAT ! aku benci ... AKU BENCI KALIAAAAN !" teriak Iris yang kemudian melepaskan cengkramannya, karena berteriak, ia merasakan sakit yang amat sangat pada dadanya, ia terduduk dengan tangan yang memegangi dadanya dan tak sadarkan diri.

Evangeline menghampiri Kanon dengan tetap menggendong Hanon, agar ia tidak melihat mayat-mayat itu.

"Kanon ... Iris tidak mengetahui pekerjaan Ayah dan Ibunya ia juga tidak tahu siapa kau dan Eyes sebenarnya..."

Kanon hanya menatapi Iris yang pingsan di tengah-tengah mayat orang tuanya.

.

.

"Iris ... Kau harus ingat musuhmu adalah Blade Children ! Mereka merupakan sumber masalah terbesar !" kata seseorang yang memegangi pundak Iris.

"Ya ... Mama, Aku berjanji akan membalaskan dendam orang tuaku lalu meneruskan pekerjaan mereka sebagai hunter yang akan melenyapkan sumber masalah itu !" sahut Iris dengan tatapan kebencian.

Setahun telah berlalu, kini Iris tidak tinggal di mansionnya, Ia diangkat sebagai anak keluarga Antouniousse yang tak lain adalah kerabat jauhnya. Ia dididik oleh Lucy yang merupakan adik dari Rose sebagai Hunter dan menanamkan kebencian pada semua sumber masalah. Lucy juga membiayai operasi jantung Iris, namun operasi itu gagal dilakukan meski Iris masih bisa terus hidup.

"Iris bukan Iris yang dulu, aku adalah Iris Antouniousse sekarang ..." gumam Iris yang sedang berjalan dengan Lucy di Department Store yang ada di London.

Lucy sedang menjalankan tugasnya untuk memburu seorang Blade Children di London, Inggris. Ia mengajak Iris untuk melaksanakan tugas itu. Sementara itu, mereka sedang bersantai di salah satu cafe dengan maksud mengawasi Blade Children itu.

"Iris ... kau lihat anak laki-laki yang disana itu ?" tanya Lucy pada Iris yang sedang memakan ice cream strawberry.

"Ya ... Mama ..." sahut Iris singkat.

"Dia itu Blade Children ..." kaya Lucy yang membuat Iris terkejut.

"Bukankah ia sama sepertiku, Ma ?" tanya Iris yang tak percaya.

Lalu Lucy memberikan jawaban yang selama ini Iris cari. Dan Iris pun mengerti. Saatnya Lucy sebagai hunter beraksi untuk melenyapkan Blade Children itu.

"Kau tunggu disini, bila aku sudah memberikan aba-aba kau bantu aku melenyapkannya" perintah Lucy yang kemudian pergi meninggalkan Iris disana sendirian.

Anak laki-laki yang mereka amati sepertinya sadar akan bahaya yang mengancamnya. Ia menatap Iris yang kembali menyantap ice cream di salah satu cafe, pemuda itu terkejut melihat keberadaan Iris di London.

"I... Iris ... Weisheit ..." kata anak laki-laki itu.

Lucy telah berada di dekat anak laki-laki itu dan memperingatkannya dengan sebuah lemparan pisau yang menancap tepat didepan anak laki-laki itu berdiri, anak laki-laki itu terkejut dan menoleh kearahnya.

"Jadi kamu ya ... Kanon Hilbert ..." kata Lucy yang mengeluarkan pisau lempar dari sakunya.

"Tepat dengan perkiraanku ... Nona Hunter" sahut Kanon yang bersiaga untuk melindungi dirinya sendiri.

Sementara Iris menatap mereka dari kejauhan. Mereka yang diperhatikan Iris pergi jauh dari pandangannya, sehingga Iris harus mengikuti mereka.

"Mati kau !" seru Lucy yang lempar pisau kearah Kanon dan menancap di kaki Kanon.

"Ugh !" keluh Kanon.

"Tamat Riwayatmu KANON HILBERT !"

JLEB !

Iris berhasil mengikuti langkah mereka dan matanya terbelalak ketika Lucy terjatuh dengan pisau yang menancap tepat didaerah uluh , Lucy masih merintih kesakitan itu berarti ia masih hidup.

"MAMAAAAAA !" teriak Iris yang kemudian berlari kearah Lucy namun Kanon melempar pisau lempar yang menancap di kakinya kearah Iris, namun Iris menghindar dengan gesit.

Kanon menatap Iris dingin, ia mengambil pisau lempar yang ada dibawahnya, dan bersiap untuk mengarah Iris. Namun, Lucy mencoba menembaknya dari belakang namun dengan gesit Kanon menyayat tubuh Lucy berkali-kali dan membuatnya benar-benar mati. Sementara itu Iris kembali menyaksikan orang yang ia sayangi mati ditangan Blade Children yang sama. Tubuhnya bergetar melihat darah yang mengalir banyak dari tubuh Lucy sementara Kanon dengan kejamnya menjatuhkan pisau yang ia gunakan untuk menyayat-nyayat tubuh Lucy tepat di leher Lucy.

"Tidak ... tidak ... TIDAAAAAAK !" Teriak Iris yang kembali menyambar Kanon dengan kasar. Iris mencoba memukul kanon namun ia dengan licahnya menghidar,

"Kau takkan bisa mengalahkanku sekarang, Iris.." kata Kanon sambil terus menghindari pukulan Iris.

"Aku benci kau ! aku benci kau ! SAMPAI KAPAN KAU MERENGGUT NYAWA ORANG-ORANG YANG AKU SAYANGI HAH ?" teriak Iris dengan pukulan yang sangat kuat sekali.

Lalu Kanon menangkap tangannya dan memelintintir tangan Iris sehingga patah, Ia pun menjatuhkan tubuh Iris dan mematikan gerakan Iris.

"ARGGGGH !" teriak Iris yang menahan rasa sakit.

"Urunkan niatmu untuk memasuki dunia hunter, bila kau masih bersi keras, aku akan membunuhmu !" ancam Kanon.

"Benci ! BENCI ! AKU BENCI KAU KANON HILBERT !"

Kanon membenturkan kepala Iris dengan kasar ke tanah sehingga Iris tak sadarkan diri. Dengan sigap Kanon meninggalkan tempat itu.

.

.

Iris berhasil diselamatkan oleh seseorang yang merupakan seorang detektif yang berasal dari Jepang, ia sedang melakukan perjalanan dengan rekan kerjanya. Iris dilarikan ke rumah sakit dan diberikan penyembuhan.

"bagaimana keadaanmu, Iris ?" tanya Pria yang masuk keruang perawatan Iris.

"Sudah tidak apa-apa, Tn. Narumi." jawab Iris dengan balutan perban dikepala dan tangannya pada Pria yang ternyata adalah Kiyotaka Narumi.

"Bagaimana dengan tawaran kami ?" tanya seorang lagi yang baru memasuki ruangan itu, Pria itu diikuti seorang anak laki dengan rambut berwarna mirip daun mint.

"Yaiba ... jangan terlalu memaksakannya" timpal Kiyotaka yang melarang Yaiba Mizushiro menanyakan jawaban dari tawaran mereka.

Kedua pria itu terlibat dalam pembicaraan yang sangat serius, sementara itu anak laki-laki yang mengikuti Yaiba menghampiri Iris dan tersenyum.

"nee~ Irisan bawang~ sepertinya kau sudah sedikit sehat~" kata anak laki-laki itu.

"Jangan memanggilku dengan sebutan Irisan bawang lagi ! Hizumi !" sahut Iris dengan wajah bete.

"ufufufufu" Hizumi hanya tertawa, "Irisan bawang kalau kau menerima tawaran kami, kau bisa membunuh Kanon Hilbert lho~" ucap Hizumi lagi.

"benarkah ... ?" tanya Iris pelan, dan Hizumi pun mengangguk.

"Iris, kau boleh menjawabnya nanti setelah kau pulih..." kata Kiyotaka tiba-tiba.

"Kami akan menunggu jawabanmu dan kami berharap padamu, Iris" timpal Yaiba.

Mereka bertiga pun hendak meninggalkan ruangan itu, Iris sejenak menundukkan kepalanya, dan menganggkatnya lagi ketika ia telah menentukan pilihannya saat itu.

"Tunggu !" larang Iris pada mereka yang hendak membuka pintu, Kiyotaka, Yaiba dan Hizumi menoleh kearah Iris. "Aku ... akan membantu kalian ... asalkan aku bisa membunuh orang itu !"

Sejenak Kiyotaka dan Yaiba terdiam dan mereka saling bertatapan, sementara Hizumi berlari kearah Iris lagi dan memeluknya.

"Arigatou Irisan bawang !" kata Hizumi.

"Kalau begitu, ayo ikut kami !" ajak Yaiba.

"Tapi ... Kemana ?" tanya Iris.

"Ke Jepang ..." jawab Kiyotaka dengan senyuman.

~TBC~


Yeeey ! Selesai juga deeeeeh XDXD

Kira-kira apa yang dilakukan Iris di Jepang yaaaaa ?

Mau tau ? tunggu chapter II nya ! :D

Kanon : perasaan aku kejam amatnya =.=)

Ryoko : memang kamu kejaaaam~

Kanon : Tapi aku keren 'kan ?

Ryoko : Iih~ Kanon OOC =.=)

Hizumi : wah ... peranku dikit banget disini ...

Ryoko : aaaah~ nanti juga di chapter II banyak~

Hizumi : benarkah ?

Ryoko : iiyaaa

Reviewnya yaaaa XDXD