perkenalkan sebelumnya... ini adalah fict collab pertama dari V3Yagami dan Sukie 'Suu' Foxie, dimana penulisan POV nya adalah..

Taichi's POV Sukie 'Suu' Foxie yang menulisnya.

Yamato's POV V3Yagami yang menulisnya.

hhmmm, gitu aja yah, ahahhahahaa (g pandai memperkenalkan diri)

selamat membaca...

Painful Hidden

Disclaimer : Digimon Milik Akiyoshi Hongo – Toei Animatio

Taichi, Yamato, Sora kelas 2 SMA.

Mimi kelas 1 SMA.

Takeru, Hikari kelas 2 SMP.

Izumi kelas 3 SD.

WARNING : NO YAOI INSIDE AND STRAIGHT PAIRING, NO YAOI.

~Taichi's PoV~

Musim semi. Sakura bermekaran. Pemandangan yang indah. Udara yang hangat. Awal ajaran baru. Penerimaan murid baru.

Cukup sudah deskripsi yang bisa terpikirkan olehku –Yagami Taichi- mengenai musim semi.

Ah, tapi siapa yang peduli sekarang sedang musim apa? Selama aku tetap bisa makan dan bermain bola kesukaanku, musim apapun tidak akan menjadi masalah.

Dan satu hal lagi…

"Taichi!" panggil seorang gadis berambut kemerahan sambil tersenyum manis ke arahku. Seragam sailor-nya yang berwarna hijau tampak berkibar sedikit saat ia berjalan dalam langkah cepat ke arahku. "Kau sudah lihat anak-anak baru itu?"

"Hah?" tanyaku terlihat bosan.

"Untuk apa melihat anak-anak baru kalau ada kau di hadapanku?" ujarku dalam hati.

Ehem.

Yah… Satu hal lagi…

Selama aku bisa melihat sosok gadis ini, musim apapun tidak menjadi masalah untukku.

Gadis ini.

Takenouchi Sora.

Sahabat baik yang kukenal sejak aku masuk SMP. Seorang gadis yang cukup tomboy dan menggemari sepak bola. Dia sahabatku di sekolah, di lapangan, dan di kehidupanku sehari-hari.

Entah sejak kapan, ia terlihat lebih feminin di mataku. Ia juga jarang bermain sepak bola dan lebih memilih tenis sebagai olahraganya. Tapi itu tidak mengurangi daya tariknya. Setidaknya, itu lah yang terpantul di bola mataku yang berwarna kecoklatan.

"Ada satu yang cantik dan menonjol lho!" ujar Sora lagi sambil mengangkat jari telunjuk tangan kanannya. Setelah itu, ia berbalik untuk meletakkan tasnya sebelum kembali menghadap ke arahku.

Aku menahan keinginanku untuk memotong ucapannya dan berkata bahwa secantik apapun anak baru itu, pasti dia tidak bisa mengalahkan kecantikan gadis yang tengah berdiri di hadapanku ini.

"Rambutnya, err –," Sora menghentikan kata-katanya sejenak, "dicat pink!"

"Pink?" ujarku sambil mengerutkan alisku. Aku seketika langsung terduduk tegak, bahkan condong menempel meja, setelah sebelumnya aku duduk menyender pada kursi sambil meletakkan kedua tanganku di belakang kepala. "Orang aneh macam apa itu?"

Sora mengangkat bahunya sambil tersenyum. "Yang jelas dia cantik!"

Aku menyeringai jahil. "Oh, ayolah, Sora! Kenapa kau seolah sedang mempromosikan gadis itu padaku?"

Sora tertawa kecil menanggapi kelakarku. Ia kemudian duduk menyandar pada meja yang ada di sebelah mejaku. Kedua tangannya menempel pada sisi-sisi meja dan tampak menggenggamnya dengan erat.

"Aku kan cuma mencemaskan sahabat baikku yang belum juga menemukan wanita pujaan hatinya!"

Aku terdiam dan seketika itu langsung menghilangkan senyuman dari wajahku.

Ah! Seandainya aku tidak tahu kalau gadis di hadapanku ini menyukai pemuda lain, aku pasti akan langsung menembaknya saat ini juga. Tambahan, seandainya aku tidak tahu kalau pemuda yang disukai gadis ini adalah sahabat baikku yang lain. Sahabatku sejak SD, sebelum aku bertemu Sora.

"Ck! Ya, ya! Aku tahu! Cewek yang sedang jatuh cinta ini sedang mengejekku rupanya!" balasku sambil tersenyum terpaksa.

Kulihat kedua pipi gadis itu merona.

"Oh, Taichi..."

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, aku yang sudah menangkap sosok seorang pemuda berambut keemasan masuk ke dalam kelas, langsung bangkit dari kursiku.

"Lihat siapa yang datang!" ujarku sambil menepuk bahu gadis itu dengan sebelah tangan, sementara tanganku yang lain kumasukkan ke saku celana.

Sora membalikkan wajahnya dan mukanya semakin merah padam.

"Yo, Yamato!" sapaku riang sambil mengangkat sebelah tangan yang tadi kugunakan untuk menepuk pundak Sora.

"Hei, Taichi! Ohayou, Sora!" balas pemuda berambut keemasan itu, Ishida Yamato.

"O-ohayou, Yamato-kun!" sapa Sora sambil memamerkan senyuman terbaiknya. Yah, bagaimanapun, Yamato-lah, sahabat baikku sejak kecil, pemuda yang menjadi tambatan hati Sora saat ini.

Sial! Kenapa harus Yamato sih?

"Kau mau ke mana?" tanya Yamato tanpa ekspresi.

Oh? Kulihat mood-nya tampak tidak begitu baik. Bertambah satu alasan bagiku untuk segera menyingkir dari tempat ini. Ng, jangan tanya bagaimana aku bisa mengenalinya dari ekspresi datar yang ia perlihatkan. Kami sudah berteman selama bertahun-tahun, oke?

"Mencari anak baru yang bisa kujadikan pujaan hatiku!" ujarku sambil menyeringai dan melirik ke arah Sora.

Yamato hanya menggelengkan kepalanya sembari meletakkan tasnya di meja. Ia kemudian menoleh ke arah Sora.

"Kau juga mau ikut dia?"

"Eh?"

Aku sudah tidak mendengar jawaban Sora kala itu karena aku sendiri sudah berada di luar kelas tanpa banyak basa-basi lagi. Kumasukkan kedua tanganku ke dalam saku celana seragam berwarna kelabu dan kemudian aku berjalan di sepanjang lorong, tanpa tujuan.

Alasan mencari anak baru itu tentu saja cuma omong kosong belaka.

Aku cuma malas, terlalu malas, untuk melihat tatapan penuh cinta yang selalu ditunjukkan Sora tiap kali Yamato ada di dekatnya.

"Sial!" ujarku sambil menendang sebuah tempat sampah yang ada di dekat kakiku.

"Kyaa?"

Ng?

Jeritan perempuan?

"Hampir saja!" ujar suara itu lagi. "Untung tidak kena sepatu baruku!"

Aku perlahan mengangkat wajahku dan –…

Pink?

Rambutnya benar-benar berwarna pink?

"Hei! Kenapa kau menendang tempat sampah itu?"

Aku sempat termangu sesaat. Kuabaikan pertanyaan yang diarahkan untukku itu. Sebagai gantinya, aku malah menunjuk rambutnya sembari berkata, "Rambutmu.. asli?"

Dia tampak membelalakkan matanya dan kemudian menyentuh ke rambut pink-nya yang panjang sebahu dan agak ikal, "Oh? Ini?"

Aku mengangguk saja seperti orang bodoh.

Dia kemudian tertawa kecil.

"Tentu saja bukan dong! Aku mengecatnya! Untuk menyambut musim semi!" jawabnya riang. Kurasa ia pun sudah melupakan permasalahan tempat sampah yang kutendang dan hampir menganai kakinya tadi.

Aku tersenyum kecil saat mendengar jawabannya.

"Mau menyaingi bunga Sakura, eh?"

Dia tertawa lagi.

Aku jadi teringat kata-kata Sora tadi. Soal murid baru yang cantik dan menonjol. Rambutnya… dicat pink.

"Kau anak baru kan?" tanyaku langsung, tanpa basa basi lagi.

"Ah! Iya!" jawabnya sambil mengangguk. "Aku Tachikawa Mimi!" sambungnya sambil mengulurkan tangannya padaku. "Yoroshiku ne!"

Aku menyambut tangannya.

Lembut dan hangat.

Ya, seperti itu lah gambaran sentuhan tangannya.

"Taichi. Yagami Taichi," ujarku yang kemudian balik memperkenalkan diri.

"Ne, Taichi-kun!" ujar gadis itu, yang tahu-tahu saja sudah memanggil nama kecilku tanpa canggung sedikitpun. "Mau menemaniku keliling-keliling sekolah ini?"

Aku menaikkan sebelah alisku.

"Atau kau sudah hafal denah sekolah ini?" tanyanya saat melihat keragu-raguanku.

"Kalau sudah bersekolah di sini selama satu tahun, mau tidak mau aku akan ingat kan?" jawabku santai sambil memamerkan cengiranku.

Kulihat ia mengerjab-ngerjabkan mata coklatnya sebelum ia menunjukku dengan tatapan sedikit horor.

"A-ah? Jadi kau anak kelas 2?"

"Yep! Kelas 2-1!" jawabku sambil menunjuk ke arah belakang, arah kelasku, dengan menggunakan jempolku.

Kulihat ia tampak panik sebelum kemudian ia membungkuk, "Maafkan kelancanganku, Yagami-Senpai! Kukira kau juga murid baru sepertiku!"

"Hei, hei! Tidak usah berlebihan seperti itu! Santai saja!" ujarku lagi sambil tertawa kecil. "Dan, kalau kau mau memanggilku 'Taichi' juga tidak masalah kok!"

Ia mengangkat wajahnya. Sesaat kemudian, senyum kembali merekah di wajahnya.

"Baiklah kalau begitu!" ucapnya dengan riang.

Baiklah.

Ternyata Sora tidak bohong.

Gadis ini memang cantik.

Kuakui itu.

"Jadi, Taichi-kun," ujarnya sambil menyelipkan sedikit rambut ke belakang telinganya. "Tawaranku tadi, kau mau tidak?"

"Ng?"

"Menemaniku berkeliling?"

Aku berpikir sejenak. Toh aku juga sedang tidak ada pekerjaan. Dan hari pertama tahun ajaran baru di sekolah kami memang biasa dipakai untuk temu kangen dengan teman-teman, tidak ada pelajaran yang akan diberikan hari ini.

"Yah," ujarku sambil mengangkat bahu, "kenapa tidak?"

Selanjutnya, kami pun berjalan berdampingan.

Lupa total akan nasib tempat sampah yang terjatuh dengan isinya yang sudah berserakan.

o-o-o-o-o

"Tadaima!" ujarku sesaat setelah sampai di rumah.

Hari yang tidak buruk.

Setidaknya sampai aku melihat… adik kecilku yang tampak berdiri dan memegang gagang telepon. Wajahnya terlihat berseri-seri dan ia bahkan tidak menyadari kehadiranku!

"TADAIMA!" ujarku yang kemudian mengeraskan volume suaraku.

Adikku – Hikari- menjauhkan telinganya dari telepon dan menutup bagian bawah telepon yang digunakan untuk menyampaikan suara pada lawan bicara. Ia kemudian tersenyum ke arahku, "Okaeri, Onii-chan!"

"Siapa itu?"

Hikari mengangkat sebelah tangannya, seolah menyuruhku unruk berhenti bicara. Ia kemudian kembali melanjutkan pembicaraannya dengan seseorang melalui telepon.

Cih! Tanpa ia beritahukan pun, aku sudah bisa menebaknya!

Ia pasti sedang menelepon pemuda itu.

Ya, siapa lagi kalau bukan Ishida Takeru?

Familiar dengan namanya? Tentu saja! Dia adik dari sahabat baikku, Ishida Yamato. Dan ini yang membuatku semakin tidak suka dengan si blonde yang lebih muda itu. Karena dia berniat merebut Hikari dariku! Tidak cukupkah kakaknya yang sudah merebut Sora dariku?

HAAAAHHH!

Aku benar-benar kesal rasanya!

Dengan langkah berat, aku mendekat ke arah Hikari dan segera saja aku menekan tombol untuk menghentikan pembicaraan.

Mata Hikari tampak terbelalak.

"Tagihan telepon bisa membengkak kalau kau terlalu sering menelepon!"

Sekali ini, alis adikku mengernyit. "Tapi tadi Takeru yang menelepon!" tukasnya dengan ekspresi wajah yang menunjukkan kalau ia sedikit kesal dengan ulahku.

"Kalau begitu, pikirkan tagihan rumahnya!"

Hikari menggerutu sesaat sebelum ia berkata dengan agak ketus padaku, "Sudahlah! Kalau Onii-chan lagi tidak ada kerjaan, lebih baik Onii-chan keluar dan bermain sepak bola sana!"

Oh, lihat, Ishida? Apa yang sudah kau perbuat pada adikku? Adikku yang lembut dan manis ini! Sekarang ia bisa jadi berbicara seketus itu padaku? Aku –kakaknya!

Tanpa memandangku lebih lanjut, Hikari tampak memencet-mencet tombol di badan telepon sebelum ia berkata, "Moshi-moshi? Takeru-kun…"

Tuuuut!

Sekali lagi kutekan tombol untuk menghentikan sambungan itu.

Hikari mendelik galak padaku.

"Kaa-chaaaannn! Onii-chan menggangguku!" adunya pada ibuku yang sedang berada entah di mana. Dugaanku sih, di dapur, seperti biasa.

"Eh? Taichi sudah pulang?"

"Yeah," jawabku malas sambil beranjak menjauh dari Hikari.

"Kebetulan, Taichi! Tolong bantu aku!" ujar ibuku yang menengok dari arah dapur –sesuai dugaanku- sambil membawa pisau di tangan kanannya. "Tolong belikan garam dan kecap dari mini market yah? Aku lupa membelinya dan persediaannya sudah habis!"

Aku memasang wajah tidak niat. Sampai… ibu menodongkan pisau padaku.

"Kau-mau-kan-Taichi?" ujarnya dengan penekanan di tiap kata yang membuatku bergidik.

"Whoa! Iya, iya! Hati-hati dengan pisau itu, Kaa-chan!" ujarku sambil mengangkat kedua tanganku dan berjalan mundur.

Ibuku kemudian tersenyum. Ia merogoh kantong celemeknya dan menyerahkan sejumlah uang padaku.

"Kalau begitu tolong, ya?" ujarnya riang sambil kembali berbalik ke arah dapur.

Aku menghela napas. Tanpa melepaskan jas hijau seragam sekolahku, aku pun meluncur kembali keluar rumah. Baru sampai sudah diusir lagi.

Ternyata hari ini tidak sebaik yang kupikirkan.

Atau tidak?

Lihat siapa yang kutemui di mini market!

"Taichi!" sapa seorang gadis yang siapa lagi kalau bukan – Sora.

"Hai, Sora! Kau baru pulang?"

Pertanyaan itu kuajukan bukan tanpa alasan. Biasanya, kami selalu pulang bersama, tepatnya, aku mengantarnya pulang. Kecuali kalau ada hal-hal tertentu. Dan hari ini adalah hari tertentu itu. Saat aku mengajaknya dan Yamato pulang, Yamato menolak dengan alasan bahwa ia ada latihan dengan grup band-nya, sementara Sora menyuruhku pulang duluan karena katanya dia ada tugas di OSIS. Ya, Sora memang aktif di OSIS, sebagai bendahara.

"Ya! Tadi aku melihat Yamato latihan dengan grup band-nya dulu sih!" jawabnya sambil tersenyum dan tersipu.

Ternyata memang hari yang buruk.

Tapi aku mencoba menenangkan diriku. Aku bahkan memaksakan sebuah senyum terpaksa yang entah kenapa tidak pernah bisa Sora sadari. Padahal kalau ia sedang memaksakan sebuah senyum, aku pasti langsung menyadarinya.

Yah. Tapi bukan aku tidak tahu alasannya.

Itu… karena di matanya ia hanya memandang Yamato. Bukan aku.

"Lho? Katanya ada tugas OSIS?" ujarku mengkonfrontasi alasannya menolak ajakan pulangku tadi. "Ternyata.."

Wajahnya kembali memerah.

Ck!

Menambah buruk hariku yang sudah buruk.

"Hahaha! Sudahlah, aku mengerti!" jawabku sambil menggerak-gerakkan tangan. "Lalu? Kenapa kau di sini sekarang?"

"Ah, ya…" jawabnya lembut, "belum sampai di rumah, ibuku telepon dan memintaku untuk membelikan nori!"

Aku mengangguk.

"Kita dapat misi yang sama ya? Bedanya, aku sudah sampai rumah dan langsung diusir lagi!" jelasku sambil tertawa getir, teringat ancaman todongan pisau dari ibuku.

"Kau mau membeli nori juga?"

"Tidak," sanggahku cepat, "garam dan kecap!"

Kami berdua kemudian memasuki mini market dan langsung mengambil barang sesuai pesanan ibu kami masing-masing. Setelahnya, kami membayar belanjaan kami dan kembali terdiam di depan mini market itu untuk sekedar berbicara.

"Oh ya!" ujarku seolah teringat sesuatu. "Aku sudah berkenalan dengan gadis cantik dan mencolok yang berambut pink itu!"

Sora tampak kaget awalnya sebelum sebuah senyum jahil terpampang di wajahnya.

"Benarkah? Bagaimana ceritanya?"

"Ceritanya ya?" Aku menggaruk-garuk ujung hidungku. "Aku tidak sengaja menendang tempat sampah sampai hampir mengenai kaki – sepatu barunya."

Sora tergelak sesaat. "Taichi, Taichi. Kenapa pula kau menendang-nendang tempat sampah? Harusnya yang kau tendang itu bola, tahu?"

Aku terkekeh. "Ya, harusnya!"

"Tapi, Taichi," ujarnya sambil berbalik dan mulai berjalan. Arah yang sama dengan arah pulangku. Kami tinggal berdekatan, hanya beda blok. "Artinya promosiku berhasil yah?"

"Huh?"

"Kau menemukan pujaan hatimu kan?"

Aku sedikit tersentak. Kenapa dia bisa secepat itu mengambil kesimpulan hanya dari fakta bahwa aku sudah berkenalan dengan gadis pink yang mencolok itu? Apa sih yang ada di pikirannya?

Oh.

Ya, aku tahu. Yamato. Bodohnya aku. Hanya itulah yang ada di pikirannya. Baginya aku, Taichi, tidak lebih dari sekedar teman bermainnya.

"Dia memang cantik," ujarku tanpa sadar. "Mungkin aku memang menyukainya…"

Apa yang baru saja kukatakan?

"Cinta pada pandangan pertama ya, Taichi? Indahnya!"

Aku menengok ke arahnya. Tersenyum sekilas. Sebelum mendongakkan kepalaku, memandang ke arah pohon Sakura yang berjejer sepanjang perjalanan pulang ke rumah apartemenku.

"Ya, indah!" ujarku mengulang kata-katanya.

"Taichi?" ujarnya dengan nada yang keheranan.

"Maksudku…" ujarku sambil mengangkat kedua tanganku dan meletakkannya di belakang kepala. "Sakura-nya… sedang bermekaran! Indah sekali!"

Aku menengok ke arah Sora dan tersenyum, memamerkan gigi-gigiku. Kulihat Sora tersenyum dan kemudian, ia mendadak berhenti berjalan dan menundukkan kepalanya.

"Eh, Taichi!" ujarnya. Aku berbalik dan memandang ke arahnya. Kakiku pun spontan berhenti melangkah.

"Apa?" tanyaku.

"Aku pikir… Aku akan segera menyatakan perasaanku pada Yamato!"

Aku benar-benar terdiam. Bukan hanya tubuhku. Rasanya, otakku juga berhenti berdenyut dan jantungku berhenti berdetak. Aku tidak bisa berpikir, tidak bisa merasakan apa-apa.

"Bagaimana menurutmu?"

Perlahan, aku memaksa rahangku untuk bergerak.

"Menurutku?" jawabku sambil memaksa ujung bibirku melengkung membentuk senyuman. "Kalian pasti akan menjadi pasangan terbaik!"

Kali ini, aku memaksa tanganku mengangkat dan memberikan satu jempol padanya.

"Taichi," ujarnya sambil tersenyum. Manis. "Arigatou!"

Aku menurunkan tanganku. Menghapuskan senyumku.

"Ya," balasku perlahan.

Inikah… yang benar-benar kuinginkan?

***TBC***


first chapter kami sudah selesaaaiiii... 2 ide menjadi satu... jadilah fict ini... hehheee...

mind to RNR?

thank youuuuuu...~~~~