Sebelumnya saya bikin fanfic persona ama rf, tapi kali ini saya mau bikin fanfic Final Fantasy 7 berhubung saya juga suka, mohon kritik sarannya . Ini adalah cerita yang dibuat dari 2 sudut pandang, chapter ini memberi tahu dari sudut pandang Tifa.

Bar 7th Heaven tetap berjalan seperti biasanya, banyak orang yang datang kemari terutama bapak-bapak, sehingga Tifa sibuk bekerja sendirian.

"Hei nona! Tambah lagi birnya!", teriak seorang bapak-bapak.

"Oh.. ya, tunggu sebentar", jawab Tifa sambil tersenyum manis.

Inilah rutinitas yang dilakukan Tifa, mencampur minuman, mengocoknya, mencampurnya, dan mengocoknya lagi, demi menyajikan sebuah minuman yang terasa beda tetapi enak, makulmlah bar ini merupakan salah satu penopang hidup 'keluarga' Tifa. Yang dimaksud dengan keluarga disini adalah Cloud, Marlene, Denzel, beserta anak yatim piatu lainnya. Sehingga Tifa dan Cloud menjadi papa dan mama mereka, sayangnya mereka berdua bukanlah papa mama sesungguhnya layaknya suami istri. Jangankan suami istri, pacaran saja tidak. Meski mereka memendam perasaan yang sama, tapi mereka berdua sama-sama tidak mau mengakuinya.

Selain 7th Heaven yang diurus oleh Tifa, terdapat juga 'Strife Delivery Service' yang diurus oleh Cloud bersama-sama dengan Tifa, dengan moto 'We made it, We Delivered it' ( yang gak tau, silahkan nonton Advent Children yang versi inggris), pekerjaan yang sederhana tapi toh hasilnya cukup memuaskan. Meski Cloud hanya seorang pengantar barang, tapi kemampuan bertarungnya tidak pernah menurun, sepertinya dia sering latihan di area luar Midgar jika tidak ada 'order', dan jika ada, Tifa tinggal menghubunginya.

Waktu menunjukkan pukul 10 malam, jam biasanya bar sudah tutup, Tifa saat ini sedang sibuk mencuci gelas-gelas sambil bersenandung. Tapi yang menjadi pikiran Tifa, kenapa Cloud masih belum pulang juga? Biasanya jam 7 Cloud sudah pulang tapi kali ini dia malah terlambat.

GRRNGGG...

Tiba-tiba terdengar suara motor dari luar, dan pintu barpun terbuka, ternyata itu Cloud yang baru saja pulang,

"Cloud, kenapa kau baru pulang?", tanya Tifa.

"Maaf Tifa aku pulang terlambat, tadi aku membeli ini", kata Cloud sambil menunjukkan barang yang dibawanya, sebuah buket bunga.

"Bunga? Kau mencari bunga?", tanya Tifa.

"Ya, kau tahu sendiri di Midgar sangat sulit mencari bunga, jadinya aku pulang terlambat untuk mencari ini", kata Cloud.

"Bunga itu untuk siapa Cloud?", tanya Tifa.

"...", Cloud pun terdiam sejenak.

"Cloud?", tanya Tifa terheran.

"Bunga ini untuk Aeris..", jawab Cloud.

"Aeris?", jawab Tifa yang terheran.

"Ya, aku ingin mengunjungi tempat itu lagi, aku ingin berziarah", jawab Cloud dengan suaranya yang agak berat.

"... begitu", jawab Tifa.

"Anak-anak sudah tidur?", tanya Cloud.

"Sudah, barusan aku menidurkan mereka, kapan kau mau pergi ke forgotten city?", tanya Tifa lagi.

"Mungkin besok, aku ingin libur kerja", kata Cloud.

"Oh... Cloud kau mau minum? Biar kubuatkan", tawar Tifa.

"Tidak usah Tifa, aku ingin ke kamarku untuk istirahat dulu", jawab Cloud sambil menaiki tangga.

Cloud memang sudah tidak tinggal di gereja lagi, kali ini dia pindah ke 7th Heaven, kamarnya berada di sebelah kamar Tifa. Alasannya? Cloud bilang dia tidak ingin selalu berada di bawah bayang-bayang Aeris, lagipula gara-gara serangan Kadaj dulu, ladang bunganya hancur dan berganti menjadi sumber air(yang nonton Advent Children pasti ngerti). Selain itu, karena pertarungan antara Tifa dan Loz, tempatnya jadi lebih berantakan, otomatis Cloud tidak tinggal disitu lagi.

Dua jam kemudian, Tifa selesai membereskan pekerjaannya dan kembali ke kamarnya untuk istirahat, saat menuju ke kamarnya, ia sempat memandang pintu kamar Cloud sambil berpikir apakah Cloud sudah istirahat atau belum, apakah dia kembali murung lagi seperti dulu. Tifa ingin sekali masuk, tapi karena takut mengganggu akhirnya Tifa berjalan menuju ke kamarnya. Di dalam kamarnya, Tifa mengambil sebuah buku yang merupakan buku pribadinya, dibukalah buku itu. Di dalamnya, terdapat fotonya bersama Cloud bersama anak-anak yatim piatu lainnya, namun Tifa juga menyimpan foto-foto Cloud sambil menuliskan di bawahnya 'The person that I loved'. Ya, Tifa mencintai Cloud dengan sepenuh hatinya, sejak Cloud mengatakan ingin menjadi SOLDIER 5 tahun lalu, tidak... bahkan sejak bertemu pertama kali dengan Cloud, Tifa sudah mulai tertarik dengannya. Yang membuat Tifa mencintai Cloud bukanlah ketampanan, ataupun tubuh tinggi tegapnya. Yang membuat Tifa mencintai Cloud adalah perjuangannya serta sikap pantang menyerahnya itu.

"Cloud, apakah kau memiliki perasaan yang sama denganku?", tanya Tifa sambil meraba foto Cloud.

Meski Tifa selalu melihat-lihat isi buku itu setiap hari, tetapi Tifa tidak pernah bosan dan terus menatap wajah pria 24 tahun itu(anggep aja umurnya segitu ya hahahaha), tapi ketika ia kira Cloud mulai tertarik padanya, sosok Aeris yang lebih peka muncul. Membuat Tifa semakin menderita krisis pede yang semakin parah untuk mengutarakan perasaannya, cukup tragis rasanya(hahahaha). Tetapi Aeris akhirnya meninggal karena dibunuh oleh Sepiroth, namun perasaan Cloud terhadap Aeris nampaknya masih tersisa. Membuat Tifa semakin kecewa, dan tanpa sadar, Tifa pun tertidur di mejanya. Sambil berharap, sang pujaan hati datang ke mimpinya.

...

...

...fa

...fa

Tifa...

Tifa...

Tiba-tiba terdengar suara, siapakah dia? Suaranya terdengar jauh, Tifa pun pelan-pelan membuka matanya. Saat sadar, tahu-tahu sudah pagi.

"Tifa! Kenapa kau masih tidur?", ternyata itu adalah suara Marlene.

"O... oh, tunggu sebentar", kata Tifa sambil membereskan buku miliknya dan membuka pintu.

"Tifa, kau kenapa? Kau kurang tidur ya?", tanya Marlene.

"Ti.. tidak kok, anak-anak lain sedang apa sekarang?", tanya Tifa sambil ngulet.

"Mereka sedang makan, aku barusan buat sarapan untuk mereka", kata Marlene.

"Aduh.. maaf Marlene, aku jadi merepotkanmu. Cloud sudah bangun ya?", tanya Tifa.

"Sudah.. tadi dia bilang ada sisa pekerjaan yang harus dikerjakan", kata Marlene.

"Oh... iya juga, aku harus bekerja sekarang", kata Tifa sambil merapikan rambutnya.

"Oh ya Tifa, Cloud bilang dia ingin bertemu denganmu", kata Marlene.

"Masa? Dimana? Kapan?", tanya Tifa.

"Kalau tak salah, dia bilang jam 12 siang, Cloud bilang dia akan kesini sendiri, jadi kau tidak perlu menunggu", kata Marlene panjang lebar.

"Begitu ya, baiklah Marlene, terima kasih", jawab Tifa sambil berjalan menuju barnya.

Setelah itu, Tifa kembali menjalankan rutinitasnya kembali,tapi kali ini sambil berpikir, apa yang mau Cloud bicarakan dengan dia? Kok tumben Cloud ingin mengajaknya jalan-jalan? Terus akan diajak kemana ya? Tifa pun memikirkan hal itu terus, sampai diajadi tak begitu konsentrasi bekerja.

"Hei nona! Birnya kepenuhan!", teriak salah seorang pelanggan.

"E... eh? Maaf!", kata Tifa sambil buru-buru mengambil lap.

"Konsentrasi Tifa! Konsentrasi!", pikir Tifa sambil melap minuman yang tumpah.

Setelah bekerja cukup lama,akhirnya jam 12 siangpun tiba, waktu yang dijanjikan Cloud.

"Marlene! Kau bisa kesini sebentar?", teriak Tifa.

"Ya! Tunggu sebentar!", balas Marlene sambil menuruni tangga.

"Marlene, sekarang sudah jam 12 siang, kau bisa kan menjaga bar?", tanya Tifa.

"Ya!", kata Marlene.

Baru saja titip bar, tahu-tahu terdengar suara fenrir dari luar, dan ketika pintu bar terbuka, ternyata benar itu adalah Cloud.

"Tifa, kau sudah siap pergi?", tanya Cloud.

"Oh... iya", jawab Tifa yang sedikit ragu-ragu.

Saat keluar, Tifa melihat seperti ada yang berubah di fenrir milik Cloud. Ternyata saat dilihat lagi, buket bunganya bertambah satu lagi, Tifa sempat penasaran namun pada akhirnya Tifa memilih untuk tidak menanyakannya dan menaiki fenrir itu bersama Cloud.

Di perjalanan, Tifa dan Cloud diam tanpa kata, seperti suasana di sekeliling mereka yang sepi. Namun, Tifa akhirnya memulai pembicaraan,

"Cloud, kita mau ke Forgotten City?", tanya Tifa.

"... ya", jawab Cloud, singkat.

"Kau tadi habis beli bunga lagi?", tanya Tifa lagi.

".. ya", jawab Cloud, yang lagi-lagi singkat.

"Kenapa dengan Cloud ya?", pikir Tifa.

Akhirnya sepanjang perjalanan, Tifa dan Cloud terus diam-diaman dan dipenuhi suasana nggak enak. Dan akhirnya sesampainya di Forgotten Capital, tepatnya di danau tempat Aeris dimakamkan, Cloud memarkirkan fenrirnya dan mengambil salah satu buket bunga itu.

"Selama 4 tahun ini, aku belum pernah berziarah ke makammu. Dan baru sekaranglah aku baru mengunjungimu. Maafkan aku, andaikan aku bisa lebih kuat", kata Cloud, sambil menenggelamkan buket bunga itu.

"Cloud, ternyata kau masih bersedih juga?", tanya Tifa sambil menghampiri Cloud, Cloud hanya terdiam.

"Cloud, itu semua bukanlah salahmu... aku yakin Aeris juga tak menyalahkanmu", kata Tifa sambil memegang pundak Cloud.

"Tifa... kuharap begitu", jawab Cloud.

Lalu, Cloud membalikkan badannya dan mengambil buket bunga yang tersisa di fenrir, ia pun berjalan lagi menghampiri Tifa. Membuat Tifa bingung.

"Cloud, kalau boleh aku tahu, untuk siapa buket bunga ini?", tanya Tifa.

".. Tifa, aku ingin membicarakan sesuatu padamu", kata Cloud.

"Tentang apa?", tanya Tifa lagi.

"Selama ini, apa kau hanya menganggapku sebagai teman masa kecilmu?", tanya Cloud, yang membuat Tifa kaget.

"Selama ini perasaanku bercampur aduk, dan aku juga tak tahu sebenarnya siapa seseorang yang sangat penting bagiku, apakah itu Aeris, kau , Marlene, atau apakah anak-anak lainnya", kata Cloud. Tifa hanya terdiam.

"Aku selalu memikirkan hal itu. Tetapi selagi aku bingung memikirkan itu, ada seseorang yang menarik perhatianku...", kata Cloud.

"Seseorang? Siapa dia?", tanya Tifa.

"... dia seorang perempuan yang baik hati, lembut, dan sangat perhatian. Sejak dulu, aku ingin sekali bisa melindunginya, dan aku juga ingin bisa menikahinya suatu saat nanti, kau tahu? Aku sangat mencintainya... namun, aku tak tahu apakah dia memiliki perasaan yang sama denganku", kata Cloud dengan sedikit murung.

"Cloud... siapa dia?", tanya Tifa.

Suasana pun menjadi hening sesaat, sambil memejamkan matanya sesaat, Cloud pun memberanikan dirinya untuk berbicara ,"Kaulah yang kumaksud Tifa."

"C... Cloud, jadi...", Tifapun kali ini luar biasa kaget.

"Ya Tifa, aku ingin sekali mengatakan ini sejak lama... ", Cloudpun memberikan buket bunga itu di tangan Tifa sambil berkata,"Aku mencintaimu Tifa."

Tifapun kemudian memeluk Cloud dengan eratnya sambil menangis bahagia, dengan sedikit terisak ia menjawab,"Aku juga mencintaimu Cloud, aku juga sangat mencintaimu sejak dulu, aku senang sekali... *sniff*, ternyata perasaanmu sama dengaku."

"Ya Tifa, dan aku juga harus berterima kasih pada Marlene untuk hal ini", kata Cloud sambil membalas pelukan Tifa.

"Marlene?", tanya Tifa yang terheran.

"Ya, mungkin kau tak tahu, tapi aku sengaja menyuruh Marlene memberi tahu kalau aku ingin mengajakmu keluar, karea... aku tak sanggup untuk bicara sendiri", kata Cloud.

"Ya ampun, kau ini... ternyata sifat pemalumu belum berubah ya", kata Tifa sambil menghadapkan wajahnya pada Cloud, Cloud hanya tersenyum ketika mendengarnya.

Wajah merekapun saling bertatapan, dan perlahan-lahan semakin mendekat. Dan akhirnya, merekapun berciuman di samping danau itu dengan erat. Dan diseberang danau itu, terlihatlah Zack dan Aeris yang sedang melihat momen bahagia mereka.

Wew, still continue nih, maaf ya kalau ceritanya urang, mohon kritik sarannya