/

One Hunderd Worlds

A strange collaboration by Magnum-pan


Hyahoooo~ Kuroi-Oneesan disini! Ini adalah fic collab spesial untuk meramaikan event #100membershetacrew di Twitter~ wah hebat juga regu RP ini sudah mencapai 100 member (lebih malah) *lebay*

Sekedar perkenalan, saya di #hetacrew jadi (tante) Hungary dengan uname om_imo, dan partner *disodok Magnum* saya disini adalah Belgium, a.k.a Bubel (maaf bu, saya lupa uname anda—*ditusuk*) padahal, uname acc collab FFn ini sudah jelas menggambarkan kedua negara tersebut—*malahcurcol*

Oke, cukup. Saya disini menulis prolognya, silahkan dinikmati ya! ^^

Disclaimer - Hetacrews bukan punya saya—*plak* Maksud saya, Axis Powers Hetalia bukan punya saya, itu hanya punya Hidekaz Himaruya-sensei.

Genre - Humor, Adventure.

Warning: AWAS BILA KONTEN INI TERLIHAT = OOC, TYPO, GARING, JAYUS DAN NGACO. COUNTRY NAMES USED.


Prolog – Meetings, Beginning, and The Tea Time

Meja besar itu terasa sepi, apalagi hanya diduduki sendiri. Jam tengah menunjukkan pukul 10 tepat waktu Greenwich—karena memang disini di Inggris. Terlihat sosok berwibawa yang tengah duduk membelakangi layar besar di ruangan yang tak kalah besarnya itu; seperti biasa alisnya yang tebal, rambutnya yang pirang, setelan yang rapi, sangatlah perfeksionis. Apalagi, ditambah teh yang sudah menjadi lambangnya—bersama tea set favoritnya tengah berdiri sendirian di pinggir meja besar kosong itu, di pagi cerah nan sepi di pertengahan musim semi yang apik. Walau cuma sendiri, ia meminum teh dengan formalnya seperti di hadapan sebuah pesta dansa.

Hari ini adalah hari besar untuknya.

Ya, hari ini adalah hari dimana rapat dunia, atau yang biasa ia sebut dengan fasihnya sebagai World Meetings itu digelar di atas meja tersebut. Ia tidak ingin membicarakan perang atau gencatan misil dengan negara-negara besar seperti yang tergabung dalam G8—hari itu adalah waktunya sedikit bercengkerama, silaturahim, dan berkenalan lebih dalam dengan 99 orang tamunya. Pertemuan yang sungguh besar bukan? Walaupun (sepertinya) tidak ada yang perlu dibicarakan.

Ya, SEHARUSNYA hari itu ada rapat dunia.

Tetapi, ruangan itu masih kosong!

Hanya ada dia, Rose tea bersama tea set-nya, dan scone yang biasanya selalu dibanding-bandingkan oleh hamburger dari personifikasi negara heroik itu. Bahkan, pria beralis tebal itu sudah berkali-kali mengganti jenis tehnya mulai dari yang berkelas seperti Chamomile Tea favoritnya, yang menenangkan seperti Green Tea khas Jepang, sampai-sampai teh (ekstra) tradisional seperti Teh Poci gula batu yang bisa para-pembaca-tebak-sendiri-dari-negara-mana.

Tetap saja tidak ada yang datang, personifikasi negara yang sebenua dengannya, apalagi personifikasi negara-negara benua Asia yang terkenal jam karetnya sekalipun tak terlihat batang hidungnya! Hanya satu negara yang memohon tidak hadir akibat terkena muntaber (baca: tsunami) parah, yaitu Jepang. Yang lainnya? Mereka bilang bakal hadir kok! Nyatanya? Kata-kata itu memanglah hanya di bibir saja.

Pria itupun mendengus kesal, sesekali ia melihat jam sakunya, sesekali ia meminum tehnya. Perasaan was-was bercampur kesal masih terus melandanya. Seketika ia ingin menelan salah satu scone-nya, mendadak gempa dahsyat terjadi.

BRAK BRAK BRAK GEDUBRAK GEDABRUK PRANG KROMPYANG DUER!

"YA AMPUN! JANGAN BAWA-BAWA FRYPANMU KEMARI! SI ARISTOKRAT KESELEK NOH GARA-GARA KAMU!"

"Lah aku kan ga bawa frypan kemari, Prussia..."

"Itu yang didalem perutnya apaan kalo begitu? Kalo bayi kok ada gagangnya nyembul pusar sih! Ayo keluarin!"

Para pembaca diharapkan untuk mengabaikan tiga SFX dan dialog terakhir, tampaknya itu tidak berasal dari ruang rapat tempat tokoh utama kita berada sekarang.

"Asdfghjkl... uhuk, ohok, huek," tampaknya si personifikasi Inggris itu tersendak scone-nya sendiri "M-masa iya muntabernya (baca: Tsunami) nihon sampai kemari...?"

Ia turun dari singasananya mengecek keluar jendela. Tidak ada apa-apa, bahkan pot yang ada di dekat pintu hanya bergeser 1 cm dari tempatnya semula. Pria beralis tebal itu menghela nafas sejenak sebelum ia dikejutkan oleh satu hal absurd dari segala hal yang absurd. Monitor LCD besar yang ada di ruang rapat itu menampilkan klise seorang tua berambut putih dengan keriput sana-sini akibat lupa memakai krim anti-aging nomor satu di dunia yang menghapuskan tujuh tanda penuaan yang sering iklan di televisi. Singkat kata, itu Holy Roman Empire, wajahnya memang sangat...absurd, bukan?

"Ini gawat, wahai Britainian!" teriaknya di dalam layar.

"A, Ada apa kakek Roman? Gigi palsu kakek hilang?"

"Aku sudah pasang gigi emas, kau lupa ya nak?" orang tua itu memamerkan giginya dilayar kaca. "Ehem, pokoknya ini gawat, nak!"

"Gawat apanya? To the point saja kek, aku sedang galau nih," emosi Inggris masih dalam tahap tinggi, setinggi ia mengangkat alisnya.

"A-Ah ya, waduh lupa saya mau bilang apa..." Inggris menepuk jidatnya. "Oh, ya...! Beberapa anak asuhanku hilang!"

Yang dimaksud kakek Roman ini adalah para Chibi Nation. Setiap weekend seperti ini mereka pasti menghabiskan waktu di panti jompo yang dihuni sang kakek Roman.

"Ampun kakeeeek, mending deh lupa gigi daripada lupa anak orang..." personifikasi Inggris hanya bisa mengernyit dengan kesal bercampur out of character.

"Semua gara-gara gempa bumi itu! Mereka pasti terlempar ke dunia lain—E, eh maksud kakek terlempar ke wilayah dunia lain!" tampaknya si kakek tua ini hobi nonton film horor juga. "Mereka hilang dari peta dunia, coba kamu lihat sendiri nak!"

Sekejap Inggris ingin membuka pilihan peta dunia dari layar LCD tersebut dan memutuskan teleconference dari sang kakek. Tapi, belum-belum personifikasi Inggris itu mengecek atlas, ada sebuah suara masuk ruangan yang (sebenarnya tidak) mengejutkan benaknya.

"Jangan percaya kakek rabun itu, aku yang awesome sudah datang, Igirisu~!"

Tiga orang menjejaki ruang rapat, mereka adalah personifikasi kerajaan Jerman di masa lampau; Prussia, personifikasi negara tempat lahirnya para komposer besar zaman reinasens; Austria dan 'mantan' pasangannya di zaman perang dan aliansi; Hungary.

"Loh? Bukannya kau sudah 'dimakan' Russia...?" Inggris menunjuk arah personifikasi Prussia dengan tatapan percaya-percaya saja.

"Ahahaha, aku ini kan awesome. Jadi aku masih hidup~" ucapnya enteng-enteng saja.

Personifikasi Inggris itu kembali menaikkan alisnya. "Memangnya kau tinggal dimana sekarang?"

"Di-ha-ti-mu~"

KROMPYANG!

"Prussia, jangan terlalu banyak meniru kata-kata puitis-nya (?) Nesia," entah kapan teflon hitam Hungary sudah melayang di atas kepala Prussia, membuat satu benjolan merah muncul di antara sabana putih keperakannya itu.

"Kacang mahaaal, kakek masih disini~" kakek Roman yang sedaritadi diacuhkan mengetuk-ngetuk layar kaca. "Kau tidak dengar tadi aku bilang negara-negara menghilang dari peta dunia?"

"Sebaiknya kita percaya kata-katanya...barang sekali," ucap Austria dengan nada datar. "Dan kakek, yang mahal itu bukan kacang sekarang, tapi cabai merah dan cabai keriting,"

"Leluconmu garing, aristokrat." Prussia meliriknya pilu, bagai ada anjing baru saja meninggal karena tersendak pisang.

"Baiklah kek, ini kuputus dulu ya, dadah." Inggris memutus teleconference dan beralih ke menu peta dunia.

Kata-kata dari kakek Roman itu sulit dipercaya. SANGAT. SULIT. DIPERCAYA.

Setelah melihat hal itu, Inggris bingung harus tersenyum karena Amerika hilang, jingkrak-jingkrak bahagia karena Perancis hilang, atau malah bersimpati pada negara tidak berdosa yang lenyap. Benar, lebih dari separuh negara Eropa hilang, dan yang utuh hanya Asia Tenggara, Afrika, Timur Tengah, Jepang, Korea, Cina, dirinya, Jerman, Austria, Belanda, Hungary dan...Canada? Sisanya hanya remang-remang tergambar diatas peta—mereka tidak tahu kenapa remang-remang.

"Tung—Canada...?" semua yang hadir melongo.

"A-Aku disini!" sosok mirip Amerika sudah berdiri di dekat pot yang tadi diperhatikan Inggris bergeser 1 cm. "Ke, kejam sekali! Padahal aku sudah hadir disini dari jam 8, da yo!" semua terheran-heran.

Setelah beberapa menit berselang, negara yang hadir sudah duduk mengitari meja rapat berikut teh dihadapan mereka. Hanya ada lima orang dari seratus yang hadir, agak menyedihkan tetapi apa boleh buat. Misteri terbesar adalah: kemana sisa 95 orang yang hadir? Itulah yang sekarang mereka usahakan.

"Jadi..." Inggris mengetuk-ngetuk mejanya. "Kira-kira ada yang tahu kenapa mereka semua menghilang? Apa benar kata-kata kakek barusan kalau mereka semua terlempar dan kita harus mencarinya?"

"Jangan percaya kata-kata kakek guanteng (gangguan telinga—red) itu," Prussia bergidik. "Yaaah, tak ada tanda-tanda awesome lain sih, jadi sulit disangkal,"

"Bagaimana kalau kita cek satu persatu? Daerah Asia Tenggara itu utuh kan..." Austria menunjuk peta.

"Ah, ada benarnya juga. Kalau begitu coba kukontak negara Dominion-ku yang ada disana," Inggris kembali mengganti menu di layar LCD jadi menu teleconference. Ia mengetik kata 'Malaysia' di dalam call box.

"Bukannya lebih baik hubungi Australia saja?" usul Hungary.

"...Maaf tante, tante telat koneksi. Ini udah kesambung kesana,"

TUUT, TUUT.

Sejenak di speaker ruangan itu terdengar alunan lagu-lagu etnik Melayu seperti Tobat Maksiat garapan grup band W*** dan Cindai lantunan penyanyi Malaysia berinisial SN.

"Emm...ini bukannya lagu dari tempatnya Nesia ya?" tanya Canada tiba-tiba.

"Eeh? Tahu darimana kamu?" hal itu membuyarkan keseriusan Inggris dalam mendengarkan lagu tersebut.

"Kan Nesia pakai ponsel berry hitam milikku da yo, ada operator telefon yang suka pasang nada sambung pribadi seperti itu. Lagu ini sudah go internasional juga kan, jadi aku sering dengar, da yo. " Canada menjelaskan jujur.

TREK.

Terlihat ruangan besar remang-remang. Tapi yang mengangkat teleconfrence mereka bukanlah sosok wanita berambut hitam digerai yang tingginya semampai dengan kulit sawo matang. Melainkan...'kakak'nya dan beberapa orang yang mestinya diundang ke rapat besar dunia.

"Aah? Oh~ selamat pagi, semuanya!" ucap si kakak dengan ceria tak lupa senyum dua senti ke kiri-dua senti ke kanan. "Kalau cari si Malon, dia lagi mandi tuh."

"Tapi ini sudah siang, ibu Nesia." Inggris mendengus. "Dan kenapa pak Nether dan pak Aussie ada disana juga?"

"Hari ini ada konferensi Asia Tenggara, tapi tampaknya Nesia lupa bilang tidak bisa hadir..." jelas personifikasi yang berjulukan oranje. Belanda, atau kita sebut disini Nether, dengan cangklong yang tetap menempel di bibirnya.

"Anda kan benua Eropa, pak Nether?"

"A-Aku kesini mengecek keadaan Nesia kok, baru-baru ini dia ada masalah dengan perutnya (baca: teror bom)," Nether yang jaim pun merangkul Nesia. "Kupikir dia sudah hamil,"

Sebenarnya, Nesia bisa saja membanting Nether sekarang. Tapi bisa berabe lagi bila ia berantem hebat dengan adiknya akibat perabot rumahnya rusak.

"H-hei, pedofil! Menjauh dari Nesia!" personifikasi salah satu negara Dominion Inggris itu menangkis tangan Belanda. "Aku sudah kesini duluan! Dia milikku!"

"Siapa sih yang pedofil? Bukannya kalau kamu sama Nesia, dia malah kelihatan shota?" Nether terkekeh—kayaknya urat malu dan urat sadarnya sudah putus saking pedofilnya dia.

"Pakai ngomong Nesia udah hamil segala lagi! Memangnya dia sudi kau hamili?" Australia tak mau kalah.

"Kan aku sudah bersamanya 3,5 abad...wajar saja kan?" Nether masih dalam wajah-wajah mesumnya. "Kalau mau dia juga toh, kau masih bisa sama adiknya kan, si Malaysia itu—"

PLETOKK!

Sebuah gayung berwarna khas janda mendarat di kepala Nether, membuatnya langsung lunglai ke tanah. Sang nusantara bingung harus berterimakasih atau tidak pada adiknya itu.

"Aku ini hanya milik Igirisu-sama seorang!" teriaknya dari bilik kamar mandi nun jauh disana. "Dan, kalau kau lebih mau mesra-mesraan dengan KAKAKKU YANG BAU MELATI itu, silahkan keluar dari rumahku!"

"Jangan kurang ajar pada kakakmu bisa nggak sih, Malon!" Nesia menaikkan lengan bajunya. "Ngajak ribut lo? Sini!"

Inggris yang merasa opera ini semakin (terlalu) jauh dari skenario pun mengganggunya. "Eeem, bu Nesia? Bisakah kami kesana memeriksa keadaan...?"

"Silahkan saja pak Igirisu, saya sudah siapkan teh dan kue kalau anda mau datang kok," senyumnya berubah cepat seketika ia sudah mengambil bambu runcing yang entah darimana munculnya. Pemandangan terakhir yang mereka lihat di layar teleconference adalah personifikasi nusantara yang sudah meroket dengan senjata legendarisnya, personifikasi negara sekaligus benua yang sweatdrop serta personifikasi negara kincir angin yang tergeletak bersimbah darah akibat gayung air berwarna janda.

"Baik, sesuai pendapat Hungary, kita akan ke daerah Asia Tenggara. Berarti sudah ada sembilan negara hadir dalam rapat—walau secara tidak langsung." Inggris menyimpulkan.

"Ayo kesana kalau begitu—eeh tapi pakai apa?" Canada batal berdiri.

"Hmhmhm! Aku yang awesome ini punya sesuatu yang bisa dipakai berkendara!" Prussia menunjukkan sebuah kunci. "Kendaraan ini ditugaskan oleh bruder-ku untuk dikirim kembali ke Nesia, lumayan kan, sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui!"

"Memangnya kendaraan apa, obaka-san?" tanya Austria tertarik.

"Tadaaa~ Pesawat Sukhoi!" Prussia berlagak bak tokoh kartun dari negeri Sakura yang punya kantung ajaib.

"Err, bukannya itu punya Russia, da yo?" tanya Canada. "Biarlah, Russia-nya juga ga ada. Ayo kita siap-siap kalau begitu!"

Akankah kelima orang tersebut menemukan 90 anggota rapat lain? Ataukah mereka takkan bisa kembali dan hilang selamanya? Silahkan menunggu di chapter selanjutnya.


Yak, bagaimana? Aneh, absurd, atau hancurkah penggabungan ide saya dan bubel? Saya udah lama ga nulis fic jadi leluconnya kerupuk semua nih =_=' terimakasih atas perhatiannya, dan yaak~ chapter keduanya akan ditulis oleh bubel. Ada sedikit kritik dan saran dari anda pembaca, mungkin? *authordiinjek*