Uye, uye~ kembali dengan saya Kuroi-Oneesan setelah UN dan UP saya berakhir~ maaf bila updatenya lamaaa sekali sampai dicariin *mbahmu* Oya, oya~ chapter ini agak pendek sih karena saya sedang buntu *plak* tapi ada beberapa nation yang akan ditemukan di chapter ini, jadi, jangan khawatir~ XD

Dibanding bubel, pengetahuan saya seputar Hetalia sedikit, jadi menurut bahasa saya aja (?) gapapa kan? Dan...oh ya! Saya kekurangan selera humor jadi maaf kalo humornya sedikit.

Disclaimer: Hetalia Axis Powers punya Himaruya Hidekaz-sensei, tapi saya bisa punya teflon (?)

Warning: AU, OOC, RANDOM, COUNTRY NAMES USED!


Chapter Three - Dance, Pole and Plane

Setelah berbagai diskusi untuk mencapai mufakat, diputuskanlah sebuah tim ekspedisi yang diperlukan untuk mengarungi dunia demi mencari para anggota rapat yang entah hilang, berlibur atau terkena penyakitnya Nesia yaitu malas datang rapat. Setelah itu, para tim ekspedisi berangkat mencari para anggota rapat yang nyasar entah kemana menggunakan radar sumbangan kakak-beradik Germany, transportasi pesawat Sukhoi Russia dan pesawat sumbangan North Italy/Romano dengan Prussia tetap sebagai pilot Sukhoi dan Germany sebagai pilot pesawat satunya yang entah kenapa bertuliskan 'Merpati Airlines'—katanya dimodifikasi Nesia dan dijamin bebas kecelakaan—serta tak lupa alat komunikasi berupa hape yang pulsanya ditanggung Singapore. Kini, lokasi rapat serta headquarter utama akan dipindah ke Indonesia setelah semua personil berkumpul—mengingat kali ini Indonesia ketua ASEAN 2011—sebenarnya fakta itu tidak penting.

Selengkapnya, letak dan daftar anggota tim ekspedisi tergabung dalam rincian sebagai berikut;

Ketua Tim: England (Sukhoi)

Wakil Ketua Tim: America, China. (Sukhoi)

Pilot + Co-Pilot: Prussia (Sukhoi), Germany (Merpati), France (Sukhoi), Luxembourg, NorthItaly (Merpati).

Seksi Telekomunikasi dan Informasi: Singapore, Secheylles, Netherlands. (HQ)

Seksi Medis: Hungary, Belgium, Spain. (Merpati)

Seksi Perpetaan: Austria (Sukhoi), South Italy (Merpati).

Seksi Dokumentasi: Vietnam, Thailand (Sukhoi), Portugal (Merpati).

Seksi Konsumsi: Indonesia, Malaysia, Brunei, Laos, Filiphina, Cambodia, Australia. (HQ)

Pembantu Umum: Canada. (UNKNOWN)

...Untuk apa seksi konsumsi? Karena para nation butuh suplai makanan yang cukup dan mengingat banyak dari mereka yang masakannya payah selain Indonesia yang bisa copas masakan seluruh dunia hanya dengan lihat resep dan adik serta tetangganya yang sukarela membantu. Seksi dokumentasi? Jelas untuk mengabadikan momen absurd ini dan merekamnya. Pembantu Umum? Sayangnya saya juga kurang tahu.

Nah, kembali ke cerita, kita ke Seksi Konsumsi yang tinggal di rumah Indonesia.

"Woi kak, hari ini kita masak apa?" Malaysia sudah siap dengan celemeknya yang lope-lope. "England-sama pasti suka White Dressing daripada Lalapan Dressing andalanmu,"

"Jangan menghina mahakaryaku, Malon." Indonesia mendengus. "Aku akan masakkan mereka Aneka Jengkol. Australia-kun, tolong kau potong bawang dan takar bumbu dapur; Malon, kamu masakin kuah sup; sisanya, bawakan bahan makanan berkualitas! Aku bakal ke kebun ngambilin jengkol,"

"Baiklah~" Australia dengan sigap mengambil pisau.

"Ya, ya, ya..." Malaysia mengambil panci dari kabinet beserta beberapa bumbu seperti Mas*ko, Ajinom*to, tak lupa dengan terasi.

"Apa saja yang harus diambil kak Nesia?" tanya Brunei dengan mengacung tangan.

"Palingan juga pete, selada, timun, beras..." jelas Filiphina.

"Jangan lupa laos dan lengkuas!" pekik Laos pada Brunei, ah, sepertinya kalimat ini ambigu.

"Ayo kerjakan dengan semangat!" personifikasi Cambodia sudah merayap ke arah lumbung BULOG.

"Oh ya, Timor kemana, Malon?" tanya Nesia yang sudah mengambil ember.

"Gatau, dia ke WC ga balik-balik." Malaysia menjawab. "Mungkin dia ikutan nyasar...kali?"

"Oh," jawab Indonesia.

Setelah itu, Indonesia dengan senang hati sudah mengambil ember besar untuk memanen jengkol andalannya, tetapi ia melihat sesuatu yang mengerikan.

...

Separuh lahan jengkol unggulnya sudah terbabat habis dan digantikan oleh bunga-bunga Matahari.

"I-Ini..." Indonesia bergidik, ia mengisi volume paru-parunya sampai penuh dan berteriak, "RUSSIAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Seseorang tinggi besar dengan syal dan jaket—padahal cuaca disana sedang panas—serta wajah ceria menyembul dari balik bunga-bunga. "Aaah~ Indonesia~ Apa yang kau lakukan di kebun pribadiku~?"

"Kebun pribadi mbahmu!" pekik Indonesia. "INI. KEBUNKU. TAU!"

"Aaah~ pantas saja bunga-bunga indahku berubah jadi sesuatu yang tidak bisa dideskripsikan~" ucap Russia enteng-enteng saja.

"Sudah sana masuk, aku mau buatkan makanan," Indonesia menahan amarah. "Sebelum kupaksa makan jengkol."

/

Sementara itu, di udara, tepatnya di awan-awan entah dimana...

Pesawat I (Sukhoi) tengah berusaha memakai radar mereka untuk mencari jejak dan Pesawat II (Merpati) tengah mendarat di rumah Japan untuk mengabsen personifikasi yang sedang sakit tersebut.

"Ada orang yang hilang yang kau cari, France?" tanya Prussia yang mengendalikan kokpit pesawat. "Beruntungnya aku yang awesome ini tidak kehilangan satu apapun! Bruder-ku~ Hungary-ku~ semuanya lengkapp~"

"Aku juga tidak kehilangan satupun simpananku~" ucap France senang, ia membawa sapu tangannya seraya bersendu sedah tidak jelas. "Walaupun Monaco-chan hilang~ uhuhuhu~"

"Umm, France-san? Tangisan buayamu itu membuatku ingin muntah," keluh wanita dengan topi petani yang merekam mereka berdua.

Di kokpit pesawat itupun akhirnya Prussia dan France malah bercanda dengan Vietnam yang mengabadikan mereka dalam foto-foto dengan berbagai pose wah—walaupun Singapore sudah ngomel-ngomel agar mereka memeriksa radar.

"Oh bloody hell, radar ini tidak jelas," England mengetuk kaca radar yang ada di kabin tengah pesawat. "Kau bisa menemukan sesuatu, Austria?"

"Tidak, tidak ada," aristokrat itu menaikkan kacamatanya. "Yang kutemukan hanya celana dalamnya France, itu saja,"

"...Rasanya itu nggak penting, ana." Thailand yang memegang camcorder berkomentar. "Apa tidak bisa di-scan lagi?"

"Aku sebagai hero ini merasakan sesuatu, Iggy!" pekik America yang tengah mengunyah hamburger. "Aku mencium ada bau hamburger ke arah Utara!"

"...Hah?" China menaikkan alisnya. "Enakkan bakpao daripada burger lah, aru."

"Ayo ke arah utara kalau begitu, Prussia, France!" perintah England.

Mendadak layar kaca berganti jadi France yang mengedipkan matanya dengan mawar-mawar disampingnya seraya berkata, "Baiklah, mon cher~"

"HEH! Inglattera, kenapa kau mau percaya saja sama dia?" Austria menginterupsi.

"...Biasanya penciumannya sebenar anjing pudel," komentar England pendek. "Kita coba saja,"

/

Kembali ke rumahnya kakek Holy Roman Empire yang semakin beruban—orangnya, bukan rumahnya. Beberapa anak asuhannya sudah kembali secara ajaib sesuai dengan jumlah nation asli yang berhasil di kumpulkan regu England.

"Kakeeek~ main petak umpet yuk? Siapa tahu nanti yang lainnya ikut ketemu~" Chibi Japan menarik-narik jenggot kakek Roman.

"Kakek capek nih,"

"Banyak utang ya kek?" Chibi Italia bicara dengan polosnya.

"Ya ampun Itaria, bukan karena itu! Utangku sudah terlalu banyak sampai aku tidak memikirkannya~" sang kakek tertawa. "Bagaimana kalo kita ajak anak-anak lain main Poker?"

"Apa kek? Boker?" ulang Chibi Nesia.

"Poker, nesia. Po-Ke-er," eja Chibi Romano dengan aksen 'ini ibu budi'.

"Ayo main kakek~" panggil bocah-bocah lainnya.

"Yaudah deh, yaudah~" sang kakek pun turun dari kursi goyang. "Ayo main perosotan di belakang~ kakek udah kangen nih~"

/

Beralih ke tempat lain, rumah Japan

Kru Pesawat II sudah berada disana—dan ternyata, ada beberapa personifikasi nation yang ada di sana merawat Japan, yaitu kakak-beradik Korea, Hong Kong dan Taiwan. Mereka dari pesawat menjelaskan apa yang terjadi pada rapat dunia kali itu dan alasan mereka ada disini.

"Ya ampun...menyedihkan sekali," komentar Japan diatas futon-nya dengan nada datar.

"Wah, wah, jadi begitu ceritanya, da ze?" South Korea manggut-manggut.

"Pasti ribet," North Korea menambahkan. "Sayangnya kami disini tak bisa ikut kesenangan kalian,"

"Apanya yang senang? Ini namanya sial, bodoh!" ungkap South Italy dengan nada kesal.

"Y, yah, kalian semua berlibur, kami merawat Japan disini." imbuh Hong Kong. "Kebetulan Taiwan main ke rumahku jadi kami tidak kekurangan bantuan untuk mengurus Japan,"

"Ini aku buatkan teh untuk kalian semua~" Taiwan datang dengan nampan penuh teh. "Silahkan dinikmati~"

"Terima kasih, Taiwan~" sambut Belgium ceria. "Kami kesini untuk mengabsen kalian saja sih, habis ini kami akan menyusul Pesawat I yang menuju arah kutub utara,"

"Tunggu, kutub utara? Ngapain?" tanya Hungary di sela-sela seruput tehnya. "Es-es disana masih baik-baik saja kan?"

"Entahlah, mereka sudah nggak waras, mungkin?" Luxemburg menimpali. "Mana ada orang ke kutub utara di era ekstrim begini?"

"Mungkin saja banyak orang tersesat disana, vee~" ucap North Italy. "Doitsu, doitsu~ ada telepon dari HQ nih~"

Germany mengambil satu-satunya alat komunikasi dari tasnya dan mulai berbicara, "Halo? Pesawat II disini..."

"Ooh, halo Germany, ini aku, Nether." Suara seberang telepon itu tampak seperti sedang bisnis. "Radar kami merasakan beberapa orang ada di Kutub Selatan,"

"Kutub Selatan...? Kok jauh amat dari perkiraan Pesawat I?" Germany memperjelas pernyataannya.

"Ya sudah, bilang saja ke Pesawat I kita ada di Kutub Selatan," usul Belgium. "Yang penting orangnya ketemu kan?"

"Sip. Oi, tomato-bastard! Ayo kita mengepak lagi dan pergi!" ucap South Italy pada personifikasi negara yang daritadi memegang tomat sambil minum teh.

"Eh? Baiklah~" Spain berdiri dari duduknya, diikuti kru pesawat yang lain.

Setelah mengucapkan selamat tinggal pada penghuni rumah Japan dan dibekali dengan satu pack teh Sariw*ngi siap saji, Pesawat II menuju target di kutub selatan.

/

Sementara itu, kutub Utara tempat America merasakan hawa-hawa burger,

Yak, benar, ditengah sebuah gletser antah berantah yang terapung ditengah-tengah lautan serpihan-serpihan es lain ada lingkaran orang yang mengitari tungku buatan disebelah sebuah eskimo yang tampak seperti hotel—yah, bayangkan saja sendiri.

"Hamburger buatan Liechtenstein ini enak ya, Egypt?" personifikasi wanita berambut pirang yang mirip dengan England—sebut saja, Ireland—tengah menikmati daging panggang dengan seorang personifikasi yang memakai tundung putih diatas kulitnya yang hitam.

"..."

"Belarus juga hebat, dia bisa membunuh banyak Polar Bear untuk dijadikan makanan,"

"..."

"Lalu, lalu...Denmark juga hebat bisa menenggak bir yang kita temukan di sebuah eskimo ini dengan cepat,"

"..."

"Dan Norway-kun juga jago membuat eskimo untuk kita semua!"

"..."

"Aduuh, setidaknya jawab dikit dong, Egypt!"

"Sudahlah, Ireland-san. Jangan paksa dia," Liechtenstein menghampiri mereka—adik dari Switzterland itu tersenyum sambil menyodorkan daging berikutnya. "Kalian mau tambah? Belarus-chan bilang dia sudah kenyang dan ingin melanjutkan kerjaanya,"

"Wahaha~ dia pasti sedang memahat 'Kakak, nikah yuk' lagi ya~?" ucap Denmark yang memegang botol Vodka yang entah dari mana asalnya.

"Atau...dia cuma membaca buku-buku gaib milik Greece yang baru kupinjam kemarin?" tanya Norway dengan datar.

"Aku tidak mengerti Belarus-chan," Liechtenstein merajuk. "Mungkin karena ia tidak bisa menemui kakaknya..."

"Semoga saja ada yang datang kesini menyelamatkan kita..." Ireland ikutan sedih.

"..."

Akankah mereka berhasil menemukan orang-orang yang perlu dikasihani tersebut? Akankah Pesawat Merpati menemukan orang-orang yang ada di Kutub Selatan?

/

To be continued.

/

Oke~ sekali lagi saya minta maaf bila kurang~ ehe~ REVIEW SILAHKAN PENCET TOMBOL DIBAWAH DAN KIRIMKAN REVIEW DAN MASUKAN KEMARIIII APAPUN DITERIMAAAAAA~ XD *ditoesoek*

Salam Frypan~