Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

MET HFNH, KAWAN NHL! *ledakin confetti* semoga NH menjadi nyata dengan happy ending yang begitu fluffy! ^_^

Another AR fic from Light. Mudah-mudahan pembaca nggak keburu lari karena bosen sama fic Light yang begitu-begitu aja.T_T

Dozo, Minna-sama!

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: Alternate Reality, TWT, typo(s), a little bit OOCness.

Terinspirasi dari salah satu ending song anime Naruto, yaitu Jitensha.

.

Have a nice read! ^_^

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Suatu hari di musim semi, pagi yang cerah menyegarkan memulai hari.

Di tengah hutan dalam desa Konoha, di pinggir sungai, sebuah sepeda melaju pelan dan santai di atas jalan setapak lebar yang tak tertutupi rerumputan hijau.

Seorang gadis dengan dress putih berenda selutut, memakai celana legging hitam dan topi putih lebar, mengenderai sepeda itu. Keranjang anyaman bambu di depan stang sepeda itu berhiaskan bunga aneka rupa dan tas tangan. Sesekali bel sepeda disentuhnya, menimbulkan bunyi nyaring menyenangkan tatkala bergema mengisi kesunyian di hutan terpencil itu.

Alangkah nyamannya mengayuh sepeda dan merasakan hembusan angin menari menyelimutimu, menikmati pemandangan musim semi yang merekah indah, dan mendengarkan cicitan merdu burung yang bersahut-sahutan.

Dan sayangnya, suasana tentram itu tidak bertahan selama yang ia pikirkan.

.

#~**~#

Special fic for NaruHina's Fluffy Day (NHFD),

.

Suatu Hari, Bersamamu

.

By: Light of Leviathan

#~**~#

.

Naruto Uzumaki menggerutu sejak meninggalkan kantor Hokage hingga masuk melintas hutan terpencil di dalam desa Konoha. Ia merutuki Godaime Hokage dan murid kesayangannya—yang sekaligus teman setimnya, karena menyuruhnya dengan seenak jidat untuk mengumpulkan bunga.

Tak hanya itu, ia juga disuruh membawa bunga-bunga indah di musim semi ini dan menyerahkannya pada Ino Yamanaka—yang hari ini sedang menjaga toko bunganya. Berhubung toko Ino sedang kebanjiran order rangkaian bunga, jadilah ia diminta untuk sekalian mengantarkan pada Ino.

Dalam rangka kedatangan tamu—entah darimana ia tidak peduli—dari desa lain, Tsunade meminta beberapa ninja untuk menyiapkan penyambutan dengan sebaik-baiknya.

Sialnya, Naruto ketiban jatah mencari bunga. Berhubung bunga itu indah untuk hiasan—kata Tsunade beberapa waktu yang lalu.

Protes tiada berguna, perintah dikeluarkan di bawah ancaman kepalan maut Tsunade yang mampu mengguncang seisi Konoha. Naruto sampai enggan protes karenanya.

Terima nasib sajalah, daripada sekujur tubuhnya babak-belur dan justru menikmati musim semi yang indah ini di rumah sakit—bayangan yang sungguh menyedihkan.

Naruto tidak tahu di mana tempat persisnya bunga-bunga mulai bermekaran. Ia hanya berjalan tanpa henti menembus hutan, pandangannya beredar mencari bunga-bunga yang menurutnya cantik—namun ia belum menemukannya.

Pemuda yang mengenakan jubah merah darah beraksen hitam itu mendengar gemericik suara air sungai, pikiran polosnya—jika terlalu halus disebut bodoh—mengatakan bahwa di tepi sungai pasti akan banyak bunga bermekaran. Mengapa ia bisa berpikiran demikian? Tentu saja karena tumbuhan apa pun membutuhkan air, jadi, pasti di sungai yang tentunya dialiri air itu banyak bunga!

Dengan secuil semangat baru yang mengobarkan semangatnya, ia memacu langkahnya keluar dari semak belukar yang memagari sepanjang tepi jalan setapak yang kelewat lebar itu.

Kring

"—a-awas!"

Naruto menoleh dengan lambat ke arah sebuah sepeda yang meluncur ke arahnya. Berhubung waktu tak berhenti bergulir, tak ada waktu untuk Naruto menghindar begitu saja dari sepeda yang berjarak lima pasang kepalan tangan orang dewasa dengannya.

Ckiiit!

Naruto menarik napas lega, sepeda itu terantuk batu di tengah jalan.

Baru menarik napas, Tuhan tidak mengizinkannya menghela napas lega.

Sepeda itu terjungkal, melemparkan pengendaranya melayang dengan sepekik keterkejutan khas suara seorang gadis.

Naruto terbelalalak. Oh, tidak—

Topi putih yang lebar itu terbang terbawa sepoi angin yang mendayu-dayu. Membuka identitas pemakainya seutuhnya.

Gedubrak!

—Naruto dapat merasakan pedihnya rasa sakit di punggung tegapnya yang berciuman manis dengan tanah, juga berat badannya yang bertambah berat.

"Ittei-tei-tei!" Naruto mengaduh merasakan sepasang siku menekan dada bidangnya. Ia bergerak gusar, berusaha melepaskan diri dan berteriak marah, "menyingkir dariku! Serangan macam apa ini? Kalau mau menyerang, bilang-bilang dulu kenapa?"

Semua daya upaya melepaskan diri itu justru membuat 'penyerang' yang terjatuh di atasnya kehilangan keseimbangan dan jatuh kembali menimpanya. Naruto mengerang menderita. Hamburan helai rambut panjang indigo itu teruntai lembut menggelitik wajahnya tannya.

Naruto membuka matanya, pandangannya sedikit terhalau oleh helai-helai lembut sehalus benang sutra berwarna indigo. Sepasang pupil dari iris biru cemerlang miliknya melebar, bersitatap dengan sepasang mata sewarna lavender dan seraut wajah manis yang merah padam—malu sekaligus ketakutan.

Biar kata rambut panjang indigo itu lembut, bahkan jauh lebih lembut dari kemoceng bulu ayam, sehingga ketika terjatuh di atas hidung Naruto, terasa menggelitik dan menimbulkan rangsangan untuk—

"Ha… Huaa… HUACCHIIIMM!"

—bersin dengan dahsyatnya.

Seluruh rambut indigo berterbangan seakan dikipasi badai, sementara wajah yang cantik tapi airmukanya keruh akan ketakutan dan malu itu disembur virus-virus laknat penyakit dari makhluk paling sehat sedunia karena kuat yaitu Naruto Uzumaki. (Sekedar info tambahan, bersin itu membawa jutaan bakteri terhempas keluar dari saluran pernapasan)

Sayang sekali, jika diibaratkan wajah manis itu seindah taman yang ditumbuhi bunga mawar yang sewarna merahnya dengan ronanya, maka serbuan bersin Naruto yang jelas-jelas tidak steril itu persis banjir bandang yang memporak-porandakan taman mawar merah.

Bercak-bercak air liur menodai wajah putih mulus tak bercela itu. Refleks kelopak mata itu menutupi iris lavender ketika disembur bersin.

Naruto yang baru saja lega karena hasrat bersinnya tersalurkan dengan baik; benar-benar bersin sekencangnya, tersadar dengan situasi, kondisi dan posisi yang sedang terjadi saat ini, Naruto merutuki dirinya sendiri dalam hati. Setitik bulir air sebesar biji jagung menuruni pelipisnya, mata birunya kembali melebar, jantungnya berdebar, tubuhnya bergetar.

Suara-suara tabuhan manis genderang mulainya peperangan berkumandang lantang di telinganya.

Ya Tuhan… harus ditaruh di mana mukanya jika ada yang tahu ia bersin tepat di wajah manis perempuan ini? (Penulis merasa pembaca yang budiman sedang nyengir-nyengir senang membaca kalimat nista yang dimaki Naruto ini)

Dikemanakan harga dirinya ini?

Astaga, reputasinya dapat tercoreng seketika! (Cuekkan saja sebuah suara di sudut hati Naruto. "Reputasi mana yang kau maksud, Naruto?")

Oke, Naruto menyiapkan hati untuk satu—setidaknya satu saja—tamparan panas di pipinya yang memiliki tiga garis sebagai tanda kelahiran.

Naruto menunggu detik-detik yang terlewat, bagai menunggu ia dipacung mati.

"U-ukh…" terdengar suara pelan gadis itu.

"Ma-maaf, bisakah tolong menyingkir dariku?" tanya Naruto sesopan mungkin. Bagaimanapun juga, reputasi baiknya sebagai genin terhebat akan benar-benar musnah jika ada yang melihatnya dengan posisi seintim ini dengan seorang gadis.

Tanpa jawaban verbal, gadis itu bangkit menjauh sedikit, Naruto perlahan mendudukkan diri dengan gadis itu di pangkuannya. Telapak tangan kanan mulus itu mengusap bergantian sepasang mata beriris lavender, sementara lengan kirinya bertumpu di dada bidang Naruto.

Harusnya gadis itu mengelap membersihkan mukanya karena masih berlumur air liur hasil bersin Naruto. Eeew…

"Ma-ma-maafkan a-ak-aku," gadis itu seakan mencicit ketakutan.

"Tak apa. Aku juga salah. Jadi kita impas," kata Naruto, lega karena sepertinya tidak ada tamparan sepelan apa pun yang akan mendarat di pipinya. Naruto memiringkan kepalanya, heran karena gadis itu menundukkan kepala dan mengusap-usap matanya tidak henti. "Oi, oi, kau baik-baik saja?"

"Ma-mataku perih…" jawabnya. "…ku-kurasa kelilipan."

'Oh yeah, pasti kelilipan bersinku,' batin Naruto. Tangan kanannya yang bebas mendarat di dagu gadis itu, mengangkatnya hingga wajah yang baru saja disembur bersin itu berhadapan dengannya. "Buka matamu."

Ketika keduanya bertemu pandang, keduanya sama-sama terperanjat kaget di keheningan yang menggantung.

"Hi… Hinata," ucap Naruto terkejut.

Sejak tadi Hinata Hyuuga sudah tahu siapa pemuda di hadapannya. Tapi, lidahnya terlalu kelu untuk mengucapkan sesuatu. Rasanya kerja otaknya mendadak macet seketika. Sebersit kekhawatiran menghantuinya, kira-kira apakah Naruto bisa mendengar degup jantungnya yang berpacu luar biasa ini?

Serius, nyawa seorang Naruto Uzumaki kini benar-benar dalam bahaya!

Seakan sesuatu yang tajam menikam hatinya, seterkejut itulah Naruto dibuatnya. Entah kenapa, terbayang di benaknya hujatan dan sayatan maut dari klan Hyuuga andaikan mereka mengetahui sang Heiress 'dinodai' olehnya.

'Ya Tuhan… apa dosaku pada- Mu? Apakah karena aku lupa tidak menjawab pernyataan cinta gadis ini maka kau tega menghukumku sesadis ini?' tangis Naruto komikal dalam hati.

Mungkinkah ketika bermata tanpa pupil itu akan membakarnya hingga ia menjadi Naruto (*) bakar? Atau memenggal kepalanya dan mempersembahkannya pada paus kelaparan nun jauh di laut? Atau… mungkin saja—

Segala asumsi ngawur itu sungguh mengerikan. Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya cepat-cepat, dengan niatan mengusir segala bayangan-bayangan pertumpahan darah di satu pihak itu dari benaknya.

Berusaha mencairkan ketegangan, Naruto berdeham pelan. Sehingga keduanya saling buang pandang sesaat.

Naruto melirik Hinata, menemukan sesuatu yang mengganjal, ia berkata, "Matamu merah sekali."

Hinata berjengit pelan—Naruto dapat merasakan tubuh gadis itu yang menegang panik. "Ti-tidak apa-apa."

Hinata benar-benar berharap ia bisa pingsan ketika kedua tangan Naruto yang lebar menangkup setiap sisi wajahnya, lalu Naruto meniup lembut bergantian kedua matanya yang memerah. Hinata menunduk kaget, tapi tangan kanan Naruto meraih dagunya dan memandunya untuk kembali mendongak lalu menyangga wajahnya agar tidak lagi menunduk.

Matanya terpaku pada Naruto yang begitu lembut meniup sepasang bola mata lavender miliknya, terpesona akan ketelatenannya yang tidak sesuai dengan karakter cerah-ceria pemuda itu sendiri.

Diam-diam Hinata selalu berlatih untuk tidak pingsan berdekatan dengan Naruto. Mungkin sekarang latihan yang dirahasiakan itu efektif dan manjur adanya.

Kendati mereka sedekat ini sekarang dan Hinata tidak pingsan, entah mengapa ia justru ingin pingsan.

Demi dewa apa pun yang bermukim di kahyangan di atas desa Konoha, ia ingin pingsan!

Fufufu, keinginan tidak semudah itu dapat terealisasikan sempurna, Tuan Putri. Ada kalanya keinginan yang bertolak dengan kenyataan itu sesungguhnya membahagiakan, hanya saja kau tidak terbiasa dengan kedatangannya yang jarang hadir padamu.

Oh, sungguh ironis.

Perlu diingat, Pembaca-yang-Budiman, baik itu Hinata maupun Naruto, tidak satu pun dari keduanya menyadari posisi mereka yang melewati batas zona 'aman' dan 'kewajaran' di mana sepasang muda-mudi terlalu dekat.

Lambat laun tubuhnya rileks berdekatan dengan Naruto—melupakan jantungnya yang masih seakan ingin melompat keluar dari rongganya, matanya juga tidak lagi seperih tadi, karenanya Hinata berkata pelan, "su-sudah lebih baik, Na-Naruto kun. Terima kasih."

Naruto mengangguk, merasa sedikit lebih lega karena akhirnya bisa mengembuskan napas dengan tenang—ia baru sadar kalau dari tadi ia menahan napas. Naruto menepuk lembut puncak kepala Hinata dengan telapak tangan kanannya, lalu mengelus mahkota indigo sehalus sutra itu, dalam rangka niat baik membuat gadis itu tidak ketakutan karenanya atau melakukan hal yang lebih buruk lagi; pingsan.

Naruto tersentak kaget atas tindakan yang dilakukannya, Hinata terperangah.

Mendadak keduanya menjadi kaku bak patung dengan latar petir menggelegar gagah.

Sepasang muda-mudi itu baru saja menyadari fakta mengerikan (baca: menggelikan) bahwa mereka keterlaluan dekatnya.

Wajah Hinata semerah kepiting rebus, mungkin jika ini komik akan terlihat kepulan asap menguar darinya. Sementara Naruto salah tingkah dan merasakan denyar aneh menyerang ulu hatinya.

"Ma-maaf. Bisakah kau menyingkir dariku?" tanya Naruto sekali lagi.

"A-aku yang seharusnya minta maaf, Naruto kun!" Hinata lekas terlonjak berdiri. Membuat Naruto terkesiap kaget akan kecepatan gadis itu.

Naruto ikut berdiri, berusaha menormalkan irama napasnya kembali. Ia merasa sedikit longgar dari perasaan sesak yang menghimpitnya barusan. Jangan tanya perasaan macam apa yang dimaksud Naruto. Ia sendiri tidak memahaminya.

Tidak tahu harus berkata apa, Naruto celingak-celinguk memandang daerah di sekeliling mereka. Tidak banyak yang berubah. Hanya sebuah sepeda yang terguling menimpa semak-semak lebat di pinggir jalan, pasca menabrak pohon yang sebelumnya terjungkal karena terantuk batu.

Bukankah itu sepeda Hinata?

"Hieee!" seru Naruto kaget, pemuda yang bercita-cita menjadi Hokage itu lekas berlari menuju sepeda, mengambilnya lalu memberdirikannya. Membersihkan dari debu dan dedaunan yang menempel. Naruto menuntun sepeda itu, berhenti sebentar untuk memungut sebuah topi berwarna putih dan membawanya pada Hinata yang terpaku di tempatnya.

"Ini sepeda dan topi punyamu, 'kan?" tanya Naruto memastikan.

Hinata hanya mengangguk—tak tahu harus berkata apa, mengucapkan 'terima kasih' saja lidahnya terasa berat. Hinata menundukkan kepala.

Naruto paling tidak bisa menghadapi seseorang seperti Hinata—selalu diam seakan segan, lebih mudah ia meladeni seseorang yang bicara apa adanya dan terbuka seperti Sakura, atau irit bicara tapi kalau sudah bicara pasti nyelekit seperti Sasuke. Sudah begitu, ia tidak bisa membaca bahasa tubuh remaja putri yang ada di hadapannya. Tidak peka terhadap perasaannya. Tidak dapat menerka apa yang dipikirkannya.

Sempurna, Naruto tidak bisa menghadapi seseorang seperti Hinata.

Silakan katakan ia bodoh, tidak peka dan sebagainya. Pada kenyataannya ia memang begitu; ia tidak peka terhadap sesuatu yang menyangkut dirinya sendiri. Sementara Hinata selalu merujuk pada Naruto. Jelas saja Naruto tidak mempunyai kemampuan untuk menebak Hinata barang secuil saja.

"Hei, ikut denganku." Tidak menunggu jawaban Hinata, Naruto membawa sepedanya dan meletakkan topinya di keranjang, ia menuntun Hinata dan barang-barangnya menuju aliran sungai.

Naruto memarkirkan sepeda, memberdirikan penyangganya dan menaruhnya di dekat sebatang pohon yang paling dekat dengan tepian sungai. Setelah itu ia menyandarkan tubuhnya di batang pohon yang kokoh, menjadikan kedua lengannya sebagai bantalan untuk kepala, kaki kanannya tertekuk ke dalam, sementara kaki kirinya lurus menopang badan. Naruto menunggu.

Hinata memiringkan kepalanya, ia bingung, tak mengerti tapi tak mampu bertanya. Dan Naruto yang mengerti ketidakmengertian Hinata, nyengir lebar.

"Wajahmu kotor…" karena bersinku tadi, lanjut Naruto dalam hati. "…bersihkan saja dulu di sungai ini. Airnya bersih, kok!" katanya ramah.

Hinata buru-buru memalingkan wajah, daripada ia benar-benar pingsan. Dan lagi bisa repot jadinya jika Naruto mengurusi dirinya yang pingsan.

Sang pewaris Hyuuga berjalan ke tepian air, berlutut dan menyelupkan tangannya ke dalam air yang mengalir. Air di hilir sungai itu mengalir deras melewati telapak tangannya, dingin namun menyegarkan. Disatukannya kedua telapak tangannya, diraupnya air itu dan dibasuhnya wajahnya. Ia mengulang kegiatan kecil itu berulang-ulang dan menikmatinya.

Naruto tersenyum kecil memandangi Hinata yang menjadi pusat ruang pandangnya. Tak biasanya sepupu Neji itu tidak memakai baju 'dinas'-nya. Biasanya ia mengenakan pakaian formal. Apa mungkin karena sedang tidak mendapatkan misi lantas ia bersantai sejenak?

Naruto tersadar dari lamunannya saat melihat Hinata sudah berdiri, dan sibuk meraba-raba semua kantung yang ada di pakaian yang dikenakannya. Seperti sedang mencari sesuatu.

'Saputanganku tertinggal.' Sedikit kepanikan melanda Hinata.

Naruto merogoh saku jubahnya, lalu mengulurkan selembar saputangan pada Hinata. "Pakai punyaku saja."

Hinata segera menoleh, tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya karena Naruto mampu mengetahui yang dibutuhkannya. Ia memandang ragu pada tangan berkulit tan yang masih memegang saputangan.

Naruto terkekeh kecil. "Tidak usah sungkan, Hinata. Yah… kecuali kau rela kedinginan."

Benar saja, angin bertiup, Hinata bergidik kedinginan, dan Naruto tertawa mengasurkan saputangannya pada Hinata.

"Kau ini… tidak percaya amat padaku," ucap Naruto geli.

Sebenarnya Naruto sedang memandangi wajah Hinata lekat-lekat, dibasahi buliran air yang mengalir setapak demi setapak turun melintas dagunya hingga jenjang lehernya, tertimpa sinar mentari yang mulai terik hingga wajah putri Hiashi Hyuuga itu nampak berkilau.

Hinata menerima saputangan pemberiannya, dengan tangan bergetar mengeringkan wajahnya dengan saputangan pinjaman Naruto. Di setiap inci sulaman saputangannya, tercium aroma maskulin khas pemuda yang diyakininya pasti menjadi Hokage itu.

Takut-takut Hinata mengintip di sela jemarinya dan saputangan, memandang pada si pemilik saputangan yang memejamkan mata dan rileks menikmati sepoi angin musim semi dengan kembali ke posisinya semula saat menunggu Hinata.

Kakkoi

Blush.

"Sudah selesai?" Naruto menoleh padanya dengan senyum kecil.

"Su-sudah. Terima kasih su-sudah me-menunggu, Naruto kun," jawab Hinata pelan dan menatap saputangan dalam genggamannya—tidak berani bertatapan dengan Naruto. "Sa-saputanganmu ja-jadi basah dan kotor…"

"Tidak apa-apa. Cuma saputangan ini dan tidak kotor, kok," kilah Naruto sambil mengibas-ngibaskan tangan.

"Bolehkah kubersihkan baru aku kembalikan?" tanya Hinata dengan nada berharap.

Naruto berpikir sejenak. Lalu ia mengangguk.

Hinata mendongakkan kepala, tersenyum lega. "Terima kasih, Naruto kun," katanya lega.

Naruto hanya nyengir lebar. Ia mengambil sepeda Hinata, memberikan topi pada Hinata, dan menuntun sepeda seraya bersiul riang.

Hinata memakai topi, terpaku di tempat dengan senyum memudar. Oh, rasanya ia bisa terkena serangan jantung permanen setiap berdekatan dengan—

"Hinataaa! Ayo kita jalan! Kau mau kutinggal sendiri?"

—Naruto Uzumaki.

Hinata mengejar Naruto yang menunggunya untuk menyejajarkan langkah bersama. Hinata berada di sisi kanan, jaga jarak dengan Naruto.

Namun setelah mereka berjalan bersama, Hinata selalu memelankan langkahnya dan berjalan di belakang Naruto, acapkali Naruto terdiam menunggunya Hinata akan menyamakan langkah mereka. Tapi, ketika mereka berjalan lagi, ia akan kembali berada di belakang Naruto.

"Aaarrgghh…" Naruto mengerang kesal. "Hinata… memang aku semenyeramkan itu sampai kau tidak mau sekedar berjalan bersamaku, ya?"

Hinata menggeleng cepat-cepat. "Ti-tidak, aku ti-tidak bermaksud—"

"—ya sudahlah, ayo kita jalan lagi," potong Naruto tak sabaran.

Naruto iseng mengetes Hinata. Ia berjalan sebentar lalu berhenti, berjalan lagi lalu berhenti lagi. Dan Hinata mengikuti semua yang dilakukannya. Mau tidak mau, Naruto tak kuat lagi menahan tawanya. Ia tertawa terbahak-bahak dan bersandar pada sepeda Hinata, sementara Hinata yang tersadar dirinya dipermainkan Naruto ikut terkikik geli.

"Ki—hahahaha—kita… konyol!" seru Naruto di sela tawanya.

'Kita'?

Sejak kapan 'aku' dan 'kau' telah melebur hingga akhirnya mencakup 'kita'?

Naruto berjuang menghentikan tawanya sekut tenaga. Masih terselip tawa saat ia berkata pada Hinata, "aku tidak akan jahat padamu, Hinata. Hmmpffh… jadi, tidak usah menjauh dariku begitu."

Apakah itu permintaan?

Hinata tak berani menerka macam-macam. Jika ia berharap terlalu tinggi, harapan itu akan mengempis ketika kenyataan terjadi sebaliknya.

Hinata mengangguk kecil. Ia tidak lagi berjalan maju di belakang, melainkan di samping Naruto yang menuntun sepedanya.

"A-ano, Naruto kun," panggil Hinata ragu.

"Apa?"

"Se-sepedaku—"

"—biar kubawakan. Boleh, 'kan?" potong Naruto seenaknya, "toh kalau kau tak mengizinkan, aku tetap melakukannya." Cengirnya senang.

Hinata ingin mengatakan sesuatu, namun lirikan maut Naruto menahannya. Hinata takluk oleh senyuman itu. Pasrah, perempuan beradik satu itu mengangguk lemah.

Keduanya berjalan dalam diam. Di sekeliling mereka, napas kehidupan ekosistem hutan mulai merekah, seperti bunga-bunga Sakura yang mulai berkuncup.

"Hinata, darimana kau dapat bunga-bunga ini?" tanya Naruto tanpa basa-basi, memecah keheningan yang sempat singgah. Tangan kanannya menyentuh permukaan setiap kelopak bunga yang menghias cantik keranjang sepeda Hinata.

"Da-dari hulu sungai…" jawab Hinata.

"Dekat dari sini, tidak?"

"Uhm… lumayan ja-jauh."

Naruto berpikir sejenak. Langkahnya terhenti begitu pula dengan Hinata yang memiringkan kepalanya, sedikit bingung dengan tingkah Naruto yang ganjil.

"Naruto kun?" panggil Hinata ragu, sontak Naruto menoleh. "Ada sesuatu yang mengganggumu?"

"Eh, iya begitulah…" Naruto menggaruk pipinya dengan salah satu telunjuknya. "Sebenarnya aku diminta untuk mengumpulkan bunga entah-untuk-apa-aku-lupa, tapi yang kuingat ini perintah Nenek Tsunade."

Hinata mendekati keranjang sepedanya, mengambil bunga-bunga itu dan menyerahkannya pada Naruto. "U-untuk Naruto kun saja."

Naruto terkesiap, sebelum akhirnya ia menggeleng. "Terima kasih, tapi… sepertinya butuh lebih banyak dari itu. Kalaupun aku mengumpulkan bunga dibantu olehmu, pasti tetap akan terlambat untuk mengirimnya pada Ino."

Hinata menaruh kembali bunga-bunganya di keranjang sepeda. Terpikir suatu ide di benaknya yang ia yakin Naruto sangat mampu melakukannya. "Ke-kenapa ti-tidak menggunakan kagebunshin, Naruto kun?"

Sudut-sudut bibir Naruto terangkat, pemuda maniak ramen itu tertawa dan kedua tangannya terangkat, mendarat di bahu Hinata, mengguncang-guncang tubuh gadis itu. "Ide bagus, Hinata! Kenapa tidak terpikirkan olehku, ya?"

Yeah, bumi berguncang—Hinata dapat merasakannya, dan suhu di bumi meningkat. Hinata nyaris tak kuasa berpijak pada bumi.

Naruto melepaskan Hinata, lalu kedua tangannya memperagakan beberapa gerakan dan Naruto berseru, "Kagebunshin no jutsu!"

Puluhan Naruto bermunculan di balik kepulan asap, Hinata terpukau akan banyaknya kagebunshin itu. Wah, kalau dia dikelilingi Naruto dan 'Naruto-Naruto' itu setiap hari, mungkin Hinata akan jadi putri tidur terus-menerus—karena sering kali jatuh pingsan, atau justru ia akan terbiasa dengan keberadaan Naruto?

"…Laksanakan!" perintah Naruto dengan suara lantang—membuyarkan lamunan Hinata, puluhan kagebunshin serupa Naruto itu mengacungkan kepalan tinjunya pada udara seraya berseru, "Osh—ttebayo!"

Mereka—kagebunshin Naruto—bubar dengan langkah berderap menggetarkan bumi menembus hutan lebih dalam lagi searah dengan aliran sungai. Naruto nyengir puas melihat kinerja bunshin-nya yang menurutnya sangat baik.

"Naruto kun… apa kau sudah memberitahu mereka tempat di mana bunga-bunga—"

"—sudah, kok. Tenang saja. Oi, boleh aku pinjam sepedamu?"

"Te-tentu."

Naruto menaiki sepeda Hinata, tapi tidak mengendarainya. Ia menunggu. Hinata hanya memandanginya, tidak tahu harus berkata atau melakukan apa.

Naruto menengok ke belakang, Hinata masih berdiri di tempatnya dengan pandangan sedikit menyiratkan kebingungan. "Apalagi yang kau tunggu, Hinata? Ayo naik! Ini sepedamu juga, 'kan?" tanyanya tak sabar.

"Tapi—"

"—naik saja," lagi-lagi Naruto memotong perkataan Hinata, tak sabar.

Tak bisa menolak, Hinata beranjak mendekati Naruto dan sepedanya. Gadis yang identik dengan warna ungu dan biru indigo itu membiarkan dirinya dibonceng Naruto. Pemuda itu cukup puas melihat Hinata duduk manis di belakangnya.

"Pegangan, ya. Perjalanan kita akan singkat karena cepat," kata Naruto yang mengambil topi Hinata dan meletakkannya di ranjang—takut diterbangkan angin saat mereka bersepeda. "Kita harus buru-buru ke toko Ino. Soal bunga—biar bunshin-ku estafet membawakan bunga sampai ke toko Ino."

Pegangan?

Harus dimanakah Hinata berpegangan?

Naruto tidak peduli Hinata berpegangan pada apa dan di mana—tidak kepikiran pula hal seperti itu, ia terburu-buru dan berharap sedikit bahwa Hinata baik-baik saja selama perjalanan mereka—tidak mual atau lebih buruknya muntah—karena Naruto bersiap menyetir sepeda itu ugal-ugalan—jika memang diperlukan.

Naruto mengayuh sepeda, roda sepeda mulai menggelinding maju, semakin cepat…

"Tu-tunggu, Naruto—kyaaa!" Hinata terkejut karena sepeda melaju lebih cepat daripada yang diperkirakannya, refleks ia melingkarkan lengannya hingga mencapai bagian depan resleting baju setelan oranye-hitam yang biasa dikenakan Naruto, dicengkeramnya bersamaan jubah merah beraksen hitam milik Naruto.

Naruto dapat merasakan tubuh Hinata menabrak lalu menempel erat pada punggungnya, dan kedua lengan yang memeluknya kuat-kuat. Naruto menelan ludahnya, memeluk gadis sih dia sering—apalagi jika sedang misi, tapi dipeluk seperti ini…

Naruto menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Tidak, tidak. Imajinasinya mulai berkembang pesat—menjurus pada hal aneh-aneh.

Tolong hentikan! Hentikan imajinasi gila ini mulai menguasai pikirannya—

"Na-Naruto kun! Kita akan menabrak pohon—"

—sekalian juga ia harus menghentikan sepeda jika masih sayang nyawa.

CKIIT!

Rem pakem sepeda berfungsi dengan baik, sepeda langsung berhenti sampai-sampai pengemudi dan penumpangnya terlonjak ke depan.

"Wow, nyaris saja—" Naruto memecahkan keheningan setelah ketegangan yang sudah lewat, "—kupikir kita akan benar-benar tabrakan dengan pohon."

"Aku tahu kita terburu-buru. Ta-tapi, tetap utamakan keselamatan, ya, Naruto kun?" pinta Hinata di belakangnya.

Suara lembut itu menenangkannya, mengembangkan senyum di sudut bibir Naruto. Terdengar Naruto terkekeh senang.

Sepeda yang dikendarai seorang pemuda yang bercita-cita menjadi Hokage itu dan ditumpangi pemiliknya, kembali berjalan bersamaan seruan semangat sang pengendara.

Kring! Kring!

"Serahkan saja padaku, Hinata!"

.

#~**~#

.

To be continued

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

(*) Naruto itu sebenarnya kue ikan.

Fic ini juga saya dedikasikan untuk keluarga virtual saya tercinta; Shuamarillys SV-03 Family. Setelah saya pikir-pikir, fic ini bisa dihitung sebagai permintamaafan karena telah menjadi ponakan-anak-adik paling rusuh dan narsis di 'rumah'.#nyengirwatados

Trims untuk Grita Chan yang rela nunggu fic saya sampe larut malam kemarin. Maaf ya, Grita Chan. Berhubung saya sakit, jadi baru bisa publishHope you like it, Imouto chan!

Fic ini akan update secara berkala—sebenarnya sih sudah selesai, tapi saya menanti apresiasi pembaca mengenai fic saya yang satu ini—yang sebenarnya pasti gatal banget nagih update-an fic. Tenang aja, fic-fic MC saya kecuali yang ini gak akan update sampe UN yang dimulai tanggal 25 April itu lewat!#BLETAKS (Pembacamu kabur semua, LoL!)

Kawan NHL, HFNH akan berakhir bersamaan dengan minggu ini berakhir! Ayo kita turut berpartisipasi memeriahkan HFNH! ^_~

Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Kritik dan saran yang membangun selalu ditunggu kehadirannya. ^_^

.

Sweet smile,

Light of Leviathan (LoL)