Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

MET HFNH, KAWAN NHL! *ledakin confetti* semoga NH menjadi nyata dengan happy ending yang begitu fluffy!

Tehehe. Biarpun HFNH telah lama lewat, gak tahan rasanya nulis sederet kalimat di atas.

Dozo, Minna-sama!

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: Alternate Reality, TWT, typo(s), a little bit OOCness, slight pairing: NaruHina, SaiIno.

Terinspirasi dari salah satu ending song anime Naruto, yaitu Jitensha.

.

Have a nice read! ^_^

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Suatu hari, bersamamu… menyeruakkan ketidakpuasan yang bergemeruh menyelimutiku kala aku menyadari aku masih ingin—dan ingin selalu—bersama denganmu.

Suatu hari, bersamamu… membuatku gamang dan tak rela dengan fakta di depan mata bahwa suatu saat nanti 'sesuatu'—entah apa itu, bisa saja kematian—mungkin saja akan memisahkanku denganmu.

Suatu hari, bersamamu…

.

#~**~#

Special fic for NaruHina's Fluffy Day (NHFD),

.

Suatu Hari, Bersamamu

.

By: Light of Leviathan

#~**~#

.

Matahari berkilau di ufuk Barat. Gemerisik dedaunan yang menari ditiup angin mengisi kesunyian yang menggantung di antara Naruto dan Hinata.

"Ma-maaf merepotkanmu, Naruto kun," kata Hinata, memecah keheningan yang sempat singgah. Ia membungkukkan badan, menyembunyikan wajahnya yang merona, perasaannya campur-aduk; sulit diterjemahkan ke dalam kata-kata, namun tentu pembaca mampu menerkanya, bukan?

"Oi, tidak perlu begitu segala padaku, Hinata!" pinta Naruto, tak menyangka Hinata kembali ke sosok formalnya kembali. "Bangun dan tatap aku!"

Gadis yang memiliki wangi lavender itu menegakkan badannya kembali, sekilas ia menciut di bawah tatapan lembut Naruto. Sepasang iris sewarna lavender dan kedua mata biru cemerlang itu bertemu pandang.

"Besok kau ada misi, tidak?" tanya Naruto.

Diam-diam Hinata menghela napas lega—jantungnya berdebar kencang saat bertatapan dengan Naruto, Naruto tidak akan menanyainya atau mengatakan sesuatu hal yang bisa membuat dirinya meleleh lagi, 'kan?

"Ti-tidak. A-aku hanya perlu ke kantor Godaime Sama untuk menyerahkan laporan misi yang sudah diperbaiki Shino kun," jawab Hinata gugup. Ia memainkan kedua telunjuknya—menghindari tatapan Naruto.

Naruto mengenal perilaku Hinata yang satu itu, pertanda gadis itu benar-benar gugup dan berusaha mengalihkan perhatian agar tetap bisa fokus. Ia menggeleng-gelengkan kepala dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Sendiri saja? Jalan kaki atau naik sepeda?" tanya Naruto lagi.

"Se-sendiri. Ku-kurasa naik se-sepeda." Hinata menunduk memandang jemarinya yang saling memainkan satu sama lain.

Senyap sesaat.

"Hinata."

Panggilan yang tak lazim itu tak urung membuat Hinata mengangkat kepalanya, bersitatap dengan Naruto yang menatapnya dalam-dalam seakan ingin menyelami Hinata lewat pandangan mata.

"Terima kasih untuk uhm—tumpangan sepedanya, terima kasih juga karena sudah menemaniku seharian ini," kata Naruto dengan mimik serius. Ia menatap lekat-lekat Hinata—yang walau samar Naruto tahu wajahnya menyemburat seindah senja—di hadapannya. "…hari ini sangat menyenangkan," perkataan Naruto diakhiri senyuman.

Mau tak mau, kendati malu-malu, Hinata tetap tersenyum. "A-aku ju-juga merasakan hal y-yang sama sepertimu, Naruto kun. Terima kasih kembali…" lirihnya lembut.

Tatkala hanya Hinata yang tersenyum dinaungi senja mengalihkan dunianya yang monoton, Naruto menyadari bahwa sesering apa pun dia tak menghiraukan Hinata, tetap saja gadis itu yang mampu memenuhi ruang lingkup dirinya yang tak terjamah siapa pun selain gadis itu sendiri.

Naruto sudah membuat keputusan dalam hatinya, ia tidak akan membiarkan kebersamaan mereka terputus dalam waktu satu hari saja.

Yeah, ia akan beraksi mulai detik ini juga!

Detik tatkala ia menemukan Iruka keluar dari gedung Akademi Ninja, sembari mengendarai sepeda ontel.

.

#~**~#

.

Keesokan paginya, Hinata sangat kecewa menemukan sepedanya sudah jadi rongsokan besi tiada guna. Anggota klan Hyuuga yang lain tidak tahu siapa pelakunya, sementara Hiashi menyarankan Hinata agar membeli sepeda baru hari ini juga.

Neji tahu kalau Hanabi yang diam saja dan cengar-cengir tidak jelas pasti mengetahui sesuatu. Ketika ia bertanya, Hanabi menjawab ringan, "tentu saja aku tahu siapa pelakunya." Belum pertanyaan 'siapa?' terlontar dari Neji, Hanabi cepat-cepat menambahkan, "tapi aku tidak mau memberitahu."

Hinata berangkat dengan lesu. Sepanjang jalan menuju kantor Hokage ia terlihat lemas sekali. Beruntung saja ia tidak harus berjalan jauh dengan kondisi seperti itu, karena—

Kring! Kring!

"Oooii! Hinata!"

Ckiit

—ada Naruto Uzumaki. Pemuda itu menghentikan laju sepedanya di sebelah Hinata.

"Mau ke kantor Hokage, 'kan?" tanya Naruto memastikan, tidak menunggu respon Hinata, ia menepuk kursi belakang sepedanya. "Bareng saja denganku! Aku juga ingin minta misi pada Nenek Tsunade!"

Berbanding terbalik dengan Hinata, Naruto terlihat amat cerita. Remaja yang hampir menjejaki usia tujuh belas tahun itu jadi merasa bersalah juga, menemui Hinata yang memucat dan kelihatan lesu sekali pagi itu.

"A-aku—"

Hinata tidak pernah bisa menyelesaikan perkataannya ketika ia selalu hendak menolak ajakan Naruto, karena pemuda itu terlebih dahulu memotong perkataannya. Wah, berani memotong perkataan Hinata sekali lagi, penulis berani menjamin Naruto bakal mendapatkan hadiah piring cantik.

"—sudah, naik saja!" kata Naruto ringan.

Ekspresi enggan Hinata pudar ketika tangan Naruto terulur padanya, membantunya menaiki sepeda—lagi-lagi ia dibonceng Naruto. Perasaannya sedikit lebih baik. Tidak hanya karena ia tetap menaiki sepeda pagi ini, tapi juga karena ia bersama Naruto lagi…

Indahnya dunia ketika cinta bersemi.

"Oi, kemarin katamu, mau pergi naik sepeda, eh? Kenapa malah jadi jalan kaki?" Naruto memulai konversasi.

Seharusnya Naruto tidak bertanya, penyebab Hinata pagi ini tidak bisa pergi ke kantor Hokage naik sepeda karena dirinya sendiri, 'kan?

"Se-sepedaku dirusak," jawab Hinata, terlampau pelan namun—entah mengapa—Naruto dapat mendengarnya.

Naruto nyengir tertahan. "Sayang sekali. Padahal sepeda itu pasti memiliki banyak jasa," kata Naruto dalam makna konotasi.

Hinata mengangguk lemah di belakangnya. "…dan juga memiliki banyak kenangan tak terlupakan."

Pemuda yang mengendarai sepeda itu manggut-manggut menyetujui perkataan Hinata. Ah, tapi memang sudah saatnya sepeda tua itu pensiun, pikir Naruto.

"Kau bisa membeli sepeda yang lain, Hinata. Dan menciptakan banyak kenangan baru yang jauh lebih indah, 'kan?" hibur Naruto, dengan cengiran lebar ia melirik Hinata.

Tiada respon. Hinata terdiam, matanya menatap kosong pada jalan yang mereka lewati dengan berkendara di atas sepeda ontel yang dulunya milik Guru Iruka.

"Em~ kalau kau mau, dengan sepeda ini juga boleh!" tawar Naruto ceria. "Misalnya seperti sekarang, kita membuat kenangan di mana naik sepeda bersama setelah sepedamu ehm—hancur."

Tak menghiraukan perkataan Naruto yang jauh lebih masuk akal daripada kata-katanya sendiri, perlahan senyumnya merekah, senyum manis yang membuat hati Naruto menghangat ketika melihatnya terpeta di wajah Hinata. "Iya, kenangan indah yang tak terlupakan…"

Naruto yang aktif dalam mengajak Hinata berbicara, membuat gadis itu sejenak melupakan sepedanya yang malang; sepeda yang telah menjadi onggokan besi tak berfungsi.

Ketika mereka sampai di kantor Hokage, seorang guru yang kenal baik keduanya itumengangguk-angguk mengerti. Lantas ia tersenyum hangat mendapati keceriaan akhirnya mewarnai Naruto. Oh, hebatnya Hinata bisa mengembalikan keriangan Naruto yang sempat hilang, pikirnya kagum.

Ah! Terpana sesaat, akhirnya Iruka mengerti mengapa Naruto malam kemarin, dengan amat memelas serta penuh daya upaya merayunya, meminta sepeda ontel tuanya untuk dipergunakan oleh pemuda yang setahunya jarang bermain sepeda.

Untuk bersama Hinata, ya? Ah, tunggu sampai ia menceritakan ini pada tim tujuh!

Persiapkan dirimu untuk diolok-olok, hei, Naruto. Habislah kau~

.

#~**~#

.

"Naruto kun, sampai kapan kau ingin melamun terus?"

Suara lembut itu membuyarkan lamunan Naruto. Pria itu menoleh pada sang istri yang berdiri di sampingnya, telah selesai menata isi keranjang sepeda mereka yang dipenuhi berbagai macam makanan yang menguarkan aroma lezat menggoda serta saputangan pemberiannya tujuh tahun yang lalu, kemudian wanita yang paling jelita baginya itu duduk di kursi belakang, siap dibonceng.

"Sampai kau sudah siap untuk berangkat dengan cara duduk manis dan memelukku seperti ini—" Naruto melingkarkan kedua lengan istrinya di sekeliling pinggangnya. "—Istriku-yang-Paling-Cantik, Nyonya Hinata Uzumaki."

Tak usah menoleh, Naruto tahu pasti semburat merah itu menodai wajah pualam istrinya. Ia terkekeh senang ketika merasakan pukulan pelan Hinata di lengannya.

"Pegangan yang kencang, Hinata—" Sepeda tua itu mulai melaju menyusuri jalan setapak di dalam hutan ketika musim semi tengah meraja.

"—pelan-pelan saja, Naruto kun," Hinata mengingatkan.

"Hum, sepertinya ide itu patut dicoba—"

"—Naruto kun!"

Naruto tertawa, ia memelankan laju sepedanya yang semula meluncur kencang.

Hinata menyandarkan dirinya pada suaminya, dan memeluk pria yang dicintainya itu erat-erat. Hinata tahu persis hal sederhana tersebut adalah trik jitu membuat Naruto mengendarai sepeda dengan lebih santai dan rileks.

Cinta itu masih sama seperti pertama bermula; di atas dan melaju bersama sepeda.

"Hinata, masih ingat peristiwa konyol tujuh tahun yang lalu di hutan ini?" tanya Naruto tenang, emosinya jauh lebih terkontrol semenjak ia beranjak dewasa.

"Kupikir kau sudah lupa," jawab Hinata jujur. Ia terkikik geli mendengar dengusan dan balasan kata-kata ketus Naruto—yang jelas pura-pura itu.

"Mana mungkin bisa lupa? Gah! Yang benar saja… kau ini terlalu dekat dengan Sakura dan Ino sehingga cara bicaramu lama-lama mirip mereka!"

"—aku tidak bisa lupa mereka yang mendadak menggila lalu mengejarmu ketika aku membayar hutang cerita tentang kita pada mereka," kata Hinata, mengenang masa lalu yang tak kalah membahagiakan dengan masa kini.

"Ya ampun, aku masih ingat jelas detil-detil ketika mereka memburuku—" Naruto bergidik ngeri. "—dan juga terror Neji, Kiba, Akamaru serta Shino!"

"Seingatku Naruto kun masih berani menghadapi Ayah, Kak Neji, Kiba kun, Shino kun, Akamaru sekaligus… tapi panik ketika mengetahui bahwa aku sudah tahu tindak kejahatanmu merusak sepedaku."

Naruto meringis. "Tolong jangan ingatkan kejadian itu, Hinata!"

Hinata mengulum senyum. Ya, tiga tahun setelah hari itu, ketika mereka berusia dua puluh tahun, Sakura dan Ino tak sengaja menceritakan pada putri sulung Hiashi Hyuuga, bahwa untuk berdekatan dengannya, Naruto sampai hati merusakkan—tepatnya menghancurkan—sepeda Hinata hingga berkeping-keping.

Hinata sempat menghindari Naruto—daripada harus marah pada pemuda yang sudah sangat dekat dengannya itu. Ia masih ingat dengan jelas, Naruto yang berani menghadapi ayah dan ketiga pemuda yang amat disayanginya serta anjing terhebat sedunia yang selalu melindunginya, sungguh berbanding terbalik dengan Naruto yang menemuinya, dan dengan gentle—sekaligus memelas—meminta maaf padanya.

Itu baru namanya cowok sejati. Setelah dipikir-pikir dan dibujuk oleh teman-temannya—yang sebenarnya juga diancam Naruto, begitu cepatnya Hinata luluh. Naruto melakukannya untuk dirinya sendiri. Kendati caranya salah, namun alasannya itu…

…berhasil mengulaskan senyum pada Hinata.

"Kupikir kau sudah lupa—"

"—bagaimana mungkin bisa lupa?"

"Habis kau tidak pernah menyinggungnya, Naruto kun."

"Untuk apa kukenang lagi, kalau aku tahu setiap waktu selalu bersamamu dan menciptakan banyak kenangan indah yang kuyakin aku—mungkin saja—takkan mampu mengingat semuanya sekaligus?"

Hinata terdiam mendengar perkataan Naruto. Tak mampu membalasnya.

"Suatu hari di masa lalu, aku bersamamu… satu hari yang mengubah seluruh hidupku.

"Ketika hari itu berakhir, aku tahu aku takkan rela jika hanya melewatkan satu hari bersamamu. Karena di kemudian hari, aku menyadarinya; aku yang mencintaimu ingin selalu bersamamu."

Hinata sangat mengetahui bahwa kejujuran Naruto itu tidak usah diragukan, tidak peduli walau terdengar begitu gombal—tapi itu murni kejujurannya.

Baik itu Naruto maupun Hinata, jarang sekali keduanya mengatakan 'cinta' secara eksplisit. Hei, tindakan mereka saja sudah mencerminkan cinta. Untuk apa pula harus dikatakan?

Karena jarang dikatakan itulah, efek magisnya selalu terasa dan selalu menyebabkan kebahagiaan lain menyelimuti Hinata, yang dibaginya bersama Naruto.

Naruto tidak keberatan balasan kata cinta terdengar lirih nan lembut disuarakan Hinata. Ya, karena di lain waktu yang telah lama berlalu, Hinata pernah mengatakannya jauh lebih lantang ketika gadis itu dihadapkan antara hidup dan mati ketika menyelamatkannya saat invasi senior seperguruannya—Pain, Nagato dan Yahiko—beberapa tahun silam.

Di atas sepeda tua yang melaju santai menjejaki jalan setapak—menyusuri musim semi, sepasang penumpangnya pun memercikkan kehangatan yang tersirat dari cinta pada ekosistem yang merekahkan kehidupan.

Naruto tertawa gembira dan Hinata tersenyum lembut. Mereka bahagia meski hari ini mungkin saja menjadi penghujung hari kebersamaan mereka—karena tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi. Setidaknya, biarkan mereka menutup hari ini dengan memori yang akan selalu terkenang indah.

Indah untuk diceritakan.

Tak akan mati kendati tak dikisahkan.

Suatu hari, bersamamu… membuatku menyadari tidak cukup satu hari untuk menjalani waktu bersamamu.

.

#~**~#

.

TAMAT

.

Omake (nista)

Flashback tujuh tahun yang lalu

.

TRANG

Eh, bunyi apakah itu?

Hanabi mengucek matanya, menggeliat sebentar, kemudian bangun dari ranjangnya seraya menggerutu kesal mendengar suara bising yang berasal dari taman di samping kamarnya. Ia siap melabrak siapa pun itu yang menyebabkannya meninggalkan buaian sang mimpi.

KRAK

Siap-siap saja orang yang seenak jidat membuat Hanabi terpaksa meninggalkan mimpi indahnya, bisa saja makian akan tertumpah padanya disertai—minimal—satu cap telapak tangan di pipinya.

GUBRAK

Aduh, semakin gaduh saja kebisingannya.

Hanabi menyibakkan gorden, batal berteriak marah tatkala menyadari pemandangan macam apa yang didapatkannya. Seorang penyusup di rumahnya, bukan maling—tentu saja, hanya seseorang yang menghancurkan sepeda milik kakak perempuannya, yang semula terparkir menepi pada kolam ikan.

PRANG

Gadis kecil itu menimbang sesaat, perlukah ia memberitahukan pada kakak perempuannya atau sekalian saja membangunkan seisi kompleks klan Hyuuga?

He?

Tunggu!

Rambut pirang itu… jubah merah beraksen kehitaman yang kiwar-kiwir itu…

Hanabi segera membuat semacam kekkai di taman samping kamarnya itu agar tidak ada klan Hyuuga yang menyadari kebisingan aksi penghancuran sepeda milik kakaknya itu.

Hanabi menarik kembali gorden menutup, tapi matanya tetap terpicing pada si penyusup yang menghancurkan dengan ganas sepeda ontel warisan ibunya.

Setelah selesai; hancurnya sepeda menjadi tumpukan besi tiada arti, penyusup tanpa penyamaran itu mengibas-ngibaskan jubahnya. Lalu membungkuk hormat pada rongsokan besi—nyaris tidak dikenali bahwa onggokan batangan besi itu mulanya adalah sepeda, dan berkata, "maafkan aku. Padahal kau yang sudah berjasa banyak, Sepeda. Tapi aku tidak menemukan cara lain untuk bersama Hinata."

Itu, sih, kau saja yang terlalu bodoh untuk mencari jalan lain, Kak Naruto…

Hanabi berusaha sekuat tenaga meredam tawanya yang nyaris meletus menonton aksi binal serta nekat Naruto menghancurkan sepeda, dan mendengar perkataan calon kuat Hokage berikutnya sesudah Danzou itu.

Naruto melompat menuju atap, tanpa menyadari bahwa ia dengan mudah menembus kekkai buatan Hanabi lalu keluar dari kompleks klan Hyuuga dan mengendarai sepeda yang dipintanya dari Guru Iruka.

Hanabi yang membuntutinya kini mengerti motif Naruto menghancurkan sepeda kakaknya.

Pasti besok pagi pemuda hiperaktif itu—dengan inosen—akan mengajak kakaknya pergi bersama, dan hari-hari berikutnya akan terjadi hal serupa. Wah, ada acara pendekatan, nih… sip, kalau begitu!

Pajak jadian menantiku~ Hanabi terkikik pelan atas pemikirannya sendiri. Menghilangkan kekkai yang dibuatnya, lalu kembali ke kamar tidurnya. Setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci, Hanabi merangkak lalu merebahkan diri di ranjangnya.

Rasa kantuk seketika menyergap Hanabi ketika kepalanya bertemu dengan bantal empuk. Sebelum tidur ia sempat berpikir sesuatu.

Alangkah beruntungnya Kak Hinata, ada cowok yang senekat tanpa peduli resiko yang menanti—bodoh yang diperhalus—itu untuknya…

Hanabi tertidur dengan harapan ingin mendapatkan hal serupa kakaknya; seorang lelaki yang berjuang dengan menempuh berbagai jalan untuk memperjuangkannya.

Gadis kecil itu tidak tahu, di lain waktu, suatu hari kelak cucu Sandaime Hokage—Konohamaru Sarutobi—sekaligus murid asuhan langsung Naruto itu akan melakukan hal serupa yang dilakukannya gurunya—Naruto Uzumaki, untuk mendapatkan wanita yang dicintainya. Hanya caranya saja yang berbeda. Nekat dan bodohnya, sih, sama saja dengan gurunya—Naruto Uzumaki.

Ya ampun… Mengapa para generasi muda calon kuat pewaris tahta Hokage itu pada tertawan cinta cewek-cewek dari Hyuuga, sih?

Oke, lupakan.

Lagi pula, cinta itu memang patut diperjuangkan, bukan?

.

#~~#

.

(Kali ini beneran)

TAMAT

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

YAY! TAMAT! *joget* trims untuk semua yang sudah RnR sampai di sini! :'D

Oh yah, bagian flashback KonoXHana itu cuma iseng Light aja, lho. Jadi, janngan nagih sekuel, ya. Mending pada mampir ke fic-fic lain yang nampang deket fic ini ;D #promositerselubung

.

Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Kritik dan saran yang membangun selalu ditunggu kehadirannya. ^_^

.

Sweet smile,

Light of Leviathan a.k.a LoL