Yeah! Met HFNH semuanya! XD

Inilah hasil karya dari Author yang tingkat keabalannya mencapai batas (?).

Semoga menghibur! ^^

Happy reading minna-san and here we go!

.

Disclaimer:

Masashi Kishimotonya lagi pergi ke Hawaii. Jadi Narutonya saya pinjem bentar, hehe..

Summary:

Phantom Magician, seorang pesulap misterius yang selalu muncul untuk menghibur orang-orang yang kesepian. Tetapi.. bagaimana jika sang Phantom Magician itu sendiri yang justru mendapat hiburan?

Warning:

AU, ooc dikitlah, lebay, gaje, garing, typo berpesta pora, special fic for HFNH/NHFD, dwwl (dan warning-warning lainnya)

.

Phantom Magician

By: Yui Hoshina

Chapter 1: Phantom Magician?

.

Phantom Magician..

Selalu datang dan pergi begitu saja

Ia datang hanya pada orang-orang yang membutuhkannya

Tidak ada yang tau seperti apa sosoknya kecuali postur tubuhnya yang terlihat masih berumur 16-17 tahun.

Memakai jubah dan tuxedo berwarna hitam. Tidak lupa pula dengan topi bundar hitam dan sebuah topeng yang menutup sebagian wajahnya.

Datang untuk menghibur orang-orang dengan pertunjukkan sulapnya dan pergi secepat kilat seperti hantu.

Dan kali ini.. bagaimana jika Phantom Magician itu sendiri yang mendapat hiburan?


"Phantom Magician muncul lagi! Ia beraksi lagi!" teriakan tukang koran di pagi hari langsung memecah kesunyian pagi itu. Orang-orang yang masih terlelap dalam tidurnya langsung terbangun begitu mendengar teriakan tukang koran yang menyerukan sebuah nama... Phantom Magician.

"Hei, sudah dengar berita pagi ini? Phantom Magician muncul lagi. Katanya dia muncul di Rumah Sakit Konoha untuk menghibur anak-anak yang dirawat di sana. Wah~ hebat sekali! Aku ingin sekali bertemu dengannya," komentar segelintir orang-orang yang sedang maraknya membicarakan Phantom Magician, sosok hitam misterius yang selalu menghibur orang-orang kesepian.

Sosoknya yang selalu tertutup dan mencurigakan membuat para polisi mengejarnya. Bukan karena dicurigai sebagai tersangka atau pencuri, melainkan meminta bantuan keahliannya yang terdengar sangat hebat.

Ditengah-tengah orang yang sedang membicarakan Phantom Magician, sesosok gadis berambut indigo masih terlelap dalam buaian mimpinya. Jika wekernya tidak berbunyi, mungkin gadis itu akan lebih terlelap lagi.

KRIIIIIIING!

Bunyi jam weker yang terdengar seperti suara bel sepeda membuat gadis itu terbangun dan mematikan wekernya.

"Haaahh.." gadis itu mendesah pelan dan mulai menatap keluar jendela.

Sang matahari sudah mulai meninggi, kicauan burung terdengar dari balik jendelanya atau lebih tepatnya bingkai jendela. Sang gadis tersenyum melihatnya.

Tok! Tok! Tok!

Terdengar suara pintu diketuk. Gadis itu tidak menjawab hingga suara dari balik itu terdengar.

"Hinata-sama, saya membawa sarapan untuk anda," kata suara dibalik pintu itu.

Sang gadis bernama Hinata pun menjawab, "Masuklah," ucapnya pelan.

Mengerti sudah mendapat izin, pintu itu terbuka dan menampilkan seseorang mengenakan baju maid dan membawakan nampan berisi makanan.

"Hinata-sama, ini sarapan pagi anda," ucap maid itu sambil memberikan nampan berisi makanan pada Hinata.

"Arigatou," ucap Hinata lembut.

"Ne, apa Hinata-sama akan ke taman bunga lagi?" tanya maid itu. Taman bunga yang dimaksud adalah halaman rumah yang ditumbuhi banyak bunga-bunga dan ditengah-tengahnya ada sebuah pondok kecil tanpa dinding.

"Ya. Tolong ambilkan kursi rodaku," pinta Hinata lembut.

"Baik, Hinata-sama," ucap maid itu seraya mengambilkan kursi roda yang berada di dekat jendela.

Hinata menatap ke dua kakinya yang tidak bergerak sama sekali dengan pandangan lirih.

"Haahh..." Hinata menghela nafas pasrah. Inilah takdirnya. Hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apa-apa. Kejadian setahun yang lalu telah melumpuhkan sebagian saraf gerak kakinya. Walaupun Dokter sudah mengatakan bahwa Hinata masih bisa berjalan lagi jika melakukan terapi jalan, tapi Hinata tidak bisa melakukannya. Setiap kali ia mencoba menggerakkan kakinya, trauma masa lalu saat kecelakaan yang telah merenggut saraf gerak kakinya dan juga Ibunya terus menghantuinya hingga Hinata tidak berani melakukan terapi lagi.

"Hinata-sama, ini kursi rodanya," kata maid itu. Hinata mengangguk. Ia pun mencoba berpindah dari tempat tidurnya ke kursi roda dengan dibantu oleh maidnya.

.


.

"Ada berita apa lagi sekarang, Jiraiya-san?" tanya Hinata pada kepala pelayan, Jiraiya. Saat ini Hinata sedang menikmati teh hangatnya di meja makan ditemani kepala pelayan yang mesum dan mempunyai kerja sampingan menulis novel itu.

"Seperti biasa, Ojou-sama. Phantom Magician muncul lagi dan sekarang ia muncul di Rumah Sakit Konoha," ucap Jiraiya tenang.

Hinata meminum tehnya dan berkata, "Begitu ya? Dia selalu datang ke tempat-tempat yang terlihat suram dan menyedihkan. Datang dan membuat tempat itu menjadi ramai dan menyenangkan. Menarik sekali," ucap Hinata.

Jiraiya yang mendengar perkataan nona kecilnya, mulai terlintas ide untuk menjahili nonanya. Jiraiya berdehem sebentar untuk memecah suasana.

"Ehem! Apa.. Ojou-sama ingin Phantom Magician muncul dihadapan anda?" tanya Jiraiya to the point.

"Ukh.. uhuk! Uhuk!" Hinata tersedak oleh tehnya. "A-apa maksud Jiraiya-san?" tanya Hinata panik.

Jiraiya tersenyum jahil, "Sepertinya dugaan saya tepat. Ojuo-sama ingin bertemu Phantom Magician kan?" tanya Jiraiya lagi.

Hinata langsung memalingkan wajahnya yang merona. Tidak mau menjawab pertanyaan dari Jiraiya.

"Wah~ wajah anda memerah. Apa Oujo-sama sakit?" tanya Jiraiya dengan nada jahil.

"He-hentikan, Jiraiya-san! Kau selalu saja suka menggodaku. Berhentilah mengatakan yang tidak-tidak," protes Hinata malu.

"Aih~ Nona kecilku sudah dewasa. Suatu hari nanti, pasti Phantom Magician akan mengunjungi anda, Ojou-sama. Tinggal menunggu waktu saja," kata Jiraiya.

Hinata hanya tersenyum manis dengan rona merah diwajahnya mendengar kata-kata Jiraiya.

"Aku juga berharap demikian," ucap Hinata. Jiraiya tersenyum usil mendengarnya.

"Berarti anda benar-benar mengharapkannya datang?" tanya Jiraiya lagi dengan pandangan menggoda.

BLUSH!

Sepertinya Hinata baru saja terjebak oleh ucapannya sendiri.

.


.

Phantom Magician's POV

Aku melompat dari atap rumah ke atap lainnya menuju rumahku ketika pekerjaanku sebagai Phantom Magician selesai.

Pekerjaanku sebagai seorang Phantom Magician akhirnya selesai juga. Sepertinya aku terlalu bersemangat menghibur anak-anak itu sampai akhirnya pulang terlalu malam.

Rasanya menyenangkan sekali membuat anak-anak itu tertawa riang. Aku tersenyum sendiri membayangkannya, hehehe..

Syuuuut~!

"Uwaaaaa!" teriakku reflek ketika aku sedikit tergelincir di atap rumah orang lain. Tanganku berpegangan pada salah satu jendela dan membuatku tidak terlalu tergelincir hingga jatuh ke bawah.

Huft.. hampir saja aku terjatuh. Aku benar-benar ceroboh sekali. Bisa-bisanya aku tergelincir. Saat aku berusaha untuk bangkit, aku mencoba memperhatikan sekelilingku dan..

Eh? Tu-tunggu dulu! Se-sejak kapan aku melompat ke atap rumah yang berbentuk seperti...

"ISTANA!" teriakku kaget. Ups.. sepertinya aku harus mengontrol suaraku agar penghuni rumah ini tidak terbangun. Tapi.. berhubung rumah ini besar, pasti tidak akan ada yang mendengar suaraku.

"Siapa?" aku tersentak kaget begitu mendengar suara manis dari seseorang.

Hum.. sepertinya aku harus meralat perkataanku. Ternyata... ADA YANG MENDENGARKU!

Oh, shit! Padahal aku tidak mau ketahuan. Tapi... suara manis itu membuatku penasaran. Akupun mencoba sedikit mengintip dari jendela dan.. kutemukan seorang gadis manis berambut indigo tengah terduduk di tempat tidurnya.

Ia terlihat bingung dan ketakutan. Kulihat dia berusaha mengambil sesuatu di samping tempat tidurnya dengan susah payah.

Aneh, apa yang ingin diambilnya. Jika ingin mengecek keadaan, ia seharusnya langsung berjalan saja.

Hmm.. tapi ini kesempatanku untuk kabur. Jika lebih lama lagi, bisa-bisa identitasku ketahuan. Ya, aku harus pergi secepatnya.

BRAAAAK!

'Eh, suara apa itu?"

End's POV

"ISTANA!"

Teriakan nyaring seseorang membuat Hinata yang sedang tidur tersentak kaget dan terbangun dari tidurnya.

"Siapa?" tanya Hinata memastikan.

Tidak ada yang menjawab. Hinata jadi takut paranoid sendiri. Apakah ada pencuri yang masuk ke kamarnya? Tidak mungkin! Hinata berusaha mengambil kursi rodanya yang ada di samping tempat tidurnya. Ia berusaha membuka lipatan kursi roda itu dan mencoba duduk di sana dan...

BRAAAAK!

"AKH!"

Hinata terjatuh dari tempat tidurnya karena kursi rodanya tidak kuat untuk menahan posisi tubuhnya yang terlalu jauh dari posisi duduknya.

"Itai.." ringis Hinata. Hinata berusaha bangun dari jatuhnya tapi sebuah tangan yang dilapisi sarung tangan hitam terulur didepan wajahnya.

"Perlu bantuan?" terdengar suara laki-laki yang sedikit berat dan menggetarkan jiwa Hinata. Hinata mengadahkan wajahnya, melihat sosok misterius yang ada menawarkan bantuan.

Mata Hinata terbelalak melihat sosok hitam misterius itu. Wajahnya merona seketika dan bibirnya terlihat bergetar saat menyebutkan nama sosok misterius itu.

"P-Phantom.. M-Magician.."

Sosok yang dipanggil Phantom Magician itu tersentak kaget.

"G-gawat! Apa yang kulakukan? Kenapa aku malah muncul seperti ini? Apa aku harus kabur begitu saja? Tidak! Seorang pria tidak boleh pergi begitu saja apalagi di depan seorang gadis. Terpaksa. Aku harus ambil resiko ini walaupun sebentar lagi pasti aku dikejar-kejar oleh penjaga di sini," batin Phantom Magician itu galau.

Hinata masih terpaku melihat sosok Phantom Magician itu. Baru kali ini dia melihat sosok Phantom Magician yang asli bahkan dalam jarak yang dekat. Walaupun wajahnya ditutupi topeng, tapi warna rambut kuningnya terlihat lembut bagi Hinata membuat sosok Phantom Magician terlihat sangat tampan di mata Hinata.

"Nona manis, anda tidak apa-apa?" tanya Phantom Magician itu sopan dan juga sedikit menggombal. Wajah Hinata semakin merah padam begitu Phantom Magician itu memanggilnya 'Nona manis'.

Sedangkan dalam hati sang Phantom Magician, ia merutuki dirinya sendiri kenapa kalimat 'rayuan gombal' seperti itu muncul dari mulutnya.

"I-iya.." jawab Hinata gugup.

"Kau bisa berdiri, gadis manis?" tanya Phantom Magician dan lagi-lagi membuat 'rayuan gombal' yang entah darimana ia dapat.

Hinata menunduk malu, "A-aku.. aku.. tid-.. eh!" Hinata merasa tangannya di tarik.

"Kubantu kau berdiri," ucap Phantom Magician itu sambil menarik tangan Hinata mencoba membantu sang gadis itu berdiri.

Hinata yang entah kenapa sedang terlena dengan genggaman sang Phantom Magician atau terpesona oleh ketampanannya, tidak ada yang tau kecuali Hinata sendiri. Karena ia tanpa sadar perlahan-lahan berdiri tetapi.. dari awal Hinata tidak bisa menggerakkan kakinya, maka dari itu, mustahil baginya bisa berdiri dengan sempurna.

"Huaaaaaaaaaa~! Bruuk!" Hinata yang tidak bisa berdiri, malah jatuh ke dalam pelukan Phantom Magician. Membuatnya merasakan harum tubuh sang pria pujaan dan Phantom Magician sendiri mencium harum rambut indigo Hinata. Sepertinya Hinata baru selesai mencuci rambutnya.

Mereka terdiam seakan-akan detak jantung mereka menyatu membuat suatu ritme yang menggetarkan jiwa. Keheningan tercipta, dan mereka terlena dalam pikiran mereka masing-masing.

"Ha-hangat.." batin Hinata ketika Phantom Magician mendekapnya.

"Harum sekali. Apa seperti ini wangi rambut anak perempuan? Beda sekali dengan wangi rambut Kaa-san maupun aku," batin Phantom Magician yang merasa dadanya berdebar-debar.

Hening sesaat sampai Hinata membuka suaranya.

"Go-gomenasai. A-aku tidak bisa berdiri. Ka-kakiku tidak bisa digerakkan," kata Hinata terbata-bata.

Sang Phantom Magician tersentak kaget.

"Tidak bisa digerakkan? Maksudmu lumpuh?" tanya Phantom Magician tidak percaya yang masih dalam posisi memeluk Hinata atau lebih tepatnya menopang tubuh Hinata agar tidak jatuh.

"Se-sebenarnya tidak sepenuhnya lumpuh. Hanya perlu terapi jalan tapi... aku.. masih takut untuk menggerakkan kakiku," kata Hinata lirih.

Sang Phantom Magician mengangguk, mengerti maksud Hinata.

"Begitu ya. Baiklah. Sepertinya sudah waktunya sang putri untuk tidur kembali. Sudah larut malam dan waktunya istirahat," kata Phantom Magician sambil menggendong Hinata ala bridal style.

"Kyaaaaaaa!" pekik Hinata kaget.

"Sssst.. jangan berisik. Aku tidak mau ketahuan oleh orang-orang di sini," desis Phantom Magician itu memberi isyarat untuk diam.

Hinata membungkam mulutnya sendiri dengan tangannya dan mengangguk pelan, "Go-gomenasai. Aku hanya terkejut," ucapnya sambil menunduk malu.

Sang Phantom Magician tersenyum dan mulai berjalan menuju tempat tidur Hinata dan meletakkan Hinata di tempat tidur tersebut.

"Oya, aku belum tau namamu. Siapa namamu?"

"Hi-Hinata, desu~.." ucap Hinata terbata-bata.

"Salam kenal ya, Hinata."

POFF!

Phantom Magician itu mengeluarkan setangkai mawar putih dari tangannya dan memberikan bunga itu pada Hinata. Hinata menerimanya dengan malu-malu.

"A-arigatou.."

"Baiklah. Sudah waktunya aku pergi. Sampai bertemu lagi, Hinata," kata Phantom Magician sambil sedikit membungkuk dan menaruh tangan kanannya di depan dadanya layaknya pria Inggris memberi salam.

Dan saat itu juga, Phantom Magician menghilang seiring hembusan angin.

Hinata tersenyum lembut dan mencium bunga mawar putih itu. Wajahnya tersenyum dan merona menambah kesan manis diwajahnya.

"Akhirnya.. aku bisa bertemu Phantom Magician."

.


.

Aula kediaman Namikaze

"Kau telat dari jam pulangmu, Phantom Magician. Ah, tidak, maksudku.. Namikaze Naruto-sama," ucap pria berambut perak memakai masker.

Sang Phantom Magician membuka topi, jubah dan topengnya, menampakkan wajah tampannya dengan goresan seperti kumis kucing. Ia tersenyum menatap pria bermasker itu.

"Gomen, Kakashi. Aku baru saja menemukan hal yang menarik barusan," kata Phantom Magician atau lebih tepatnya dipanggil Naruto.

"Hal menarik? Apa itu?" tanya Kakashi penasaran.

"Seorang gadis yang sangat manis," ucap Naruto tersenyum lembut seraya memasuki kamarnya meninggalkan Kakashi yang bengong.

"Seorang.. gadis?"

Dan.. mulailah perjalanan sang Phantom Magician dalam mendapatkan pasangannya.

.

.

To be continue

Huft.. nambah lagi fic multichap. Tapi aku perkirakan ini fic gak akan panjang lagi. Yah.. mungkin sekitar 2-3 chapter lah.

Nah, para reader, apakah ini sudah cukup fluffy? Atau kurang? Gomen ne kalau kurang. Inilah hasil peres otak dari author abal ini. mana sekarang lagi ujian lagi. =_='

gomen kalo nih fic gak bisa complete tepat HFNH. tapi nanti dilanjutin kok. saya ngerjainnya pas menjelang ujian! huaaahh.. daku belum siap! DX *plak*

Mind to review? RnR? CnC? ^^

MET HARI FLUFFY NARUHINA, MINNA! XD

a/n: Gomen telat apdet di hari HFNH. Kemarin FFN error lagi sih. T_T

.

Cute smile

Yui Hoshina ^^v