Disclaimer:

Please, Om Masashi. Serahkan Naruto padaku. Kalau tidak, aku laporin sama istri anda bahwa anda seorang Fudanshi. (?) *ngancem*

Masashi Kishimoto: "Laporin aja. Lha wong istriku juga malah seorang Fujoshi."

Me: "WHAT THE HECK?" OAO'

*rumor internet*

Summary:

Phantom Magician, seorang pesulap misterius yang selalu muncul untuk menghibur orang-orang yang kesepian. Tetapi.. bagaimana jika sang Phantom Magician itu sendiri yang justru mendapat hiburan?

Warning:

AU, ooc dikitlah, lebay, gaje, garing, typo's everywhere, special fic for HFNH/NHFD, dwwl (dan warning-warning lainnya).

.

Phantom Magician

By: Yui Hoshina

Chapter 3: Plan

Sang Phantom Magician pun berlutut dengan salah satu kakinya sebagai tumpuan dan mengulurkan tangan kepada Hinata sambil tersenyum lembut.

"Kau harus berdansa denganku."

.

Bruuk!

Naruto langsung menghantamkan kepalanya di atas meja. Ia baru saja datang memasuki kelasnya tapi moodnya langsung menghantarkan ia untuk mengistirahatkan kepalanya di hamparan mejanya.

"Kau kenapa, Dobe?" tanya Sasuke yang merasa heran dengan tingkah laku sahabatnya. Tidak biasanya sahabat pirangnya itu terlihat tidak bersemangat di pagi hari yang cerah ini. Padahal sahabatnya itu adalah makhluk paling berisik di kelas dan akan terasa aneh jika makhluk paling berisik itu menjadi tiba-tiba pendiam.

Sasuke meletakkan tasnya di samping meja karena ia juga baru datang dan menduduki bangkunya yang berada di samping kanan Naruto. Ia mengambil Novel Sherlock Holmes dari tasnya untuk mengisi waktu sebelum pelajaran dimulai.

"Tidak ada apa-apa, Teme. Aku hanya sedikit lemas saja, hehehe~," jawab Naruto. Ia kini melipat kedua lengannya di atas meja dan menenggelamkan kepalanya di sana.

"Dasar aneh," ucap Sasuke. Walaupun bingung dengan sikap Naruto yang tidak biasanya, ia tidak ingin memaksa sahabatnya itu untuk bercerita lebih lanjut lagi.

Keheningan tercipta. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Sasuke terlihat tidak peduli dengan suasana sekitarnya dan kembali menekuni Novel Sherlock Holmes-nya yang sudah ia baca beberapa kali tanpa bosan.

Suasana sepi memang identik dengan Sasuke, tapi, suasana tersebut justru membuat pemuda rambut pirang itu gusar hingga...

"GAAAAHH! Sasuke! Aku tidak tahan lagi!" teriak Naruto gusar sambil mengacak-ngacak rambut pirangnya. Walaupun rambut pirangnya itu juga sudah acak-acakan dari dulu. =.='

"Apanya yang tidak tahan? Kalau mau pergi ke toilet, pergi saja sendiri. Jangan ajak-ajak aku," kata Sasuke cuek tanpa mengalihkan pandangannya dari buku favoritnya.

"Gezz… dasar baka Teme. Siapa yang mau mengajakmu ke toilet? Aku hanya bingung. Apa yang sudah kulakukan ini sudah benar? Aku ragu," ujar Naruto tertunduk lesu.

"Hn?" Sasuke melirik Naruto yang terlihat lesu. Ia menutup bukunya dan menatap sahabatnya dengan pandangan heran. "Apa yang sebenarnya sedang kau bicarakan, Naruto?"

Naruto memperbaiki cara duduknya dan menghadap Sasuke yang ada di sebelahnya.

"Ini... berhubungan dengan pekerjaan sebagai... 'Phantom Magician'," kata Naruto sedikit mengecilkan suaranya pada bagian 'Phantom Magician'. Sasuke langsung berwajah serius mendengar kata 'Phantom Magician'.

"Lalu? Apa yang membuatmu risau? Bukankah selama ini pekerjaanmu lancar-lancar saja?" ujar Sasuke heran.

"Memang. Selama ini pekerjaanku lancar-lancar saja. Tapi, ada sedikit masalah," ujar Naruto tertunduk lesu.

"Masalah? Masalah apa?" tanya Sasuke heran.

Naruto terlihat bingung. Apakah ia harus menceritakan masalahnya atau tidak. Tapi, ia juga membutuhkan saran yang tepat dari sahabat jeniusnya ini.

"Tapi, kau harus janji jangan mengumbar masalahku ini dan jangan menertawakanku maupun berteriak. Kau janji?" pinta Naruto.

"Haahh... apa kau masih meragukanku? Bukankah kita ini sahabat? Untuk apa aku mengumbar masalahmu dan menertawakanmu," ujar Sasuke heran.

"Tapi... masalah ini berbeda. Ini... tentang seorang... gadis," ucap Naruto pelan dengan wajah yang sedikit merona.

"EEH? APA?" teriak Sasuke kaget. Ini pertama kalinya Naruto bercerita tentang perempuan kepadanya. Orang-orang yang ada di kelas langsung menoleh pada Sasuke dan Naruto. Melihat reaksi orang-orang di kelas, Naruto jadi kalap.

"Sssstt! Jangan keras-keras! Sudah kubilangkan, jangan berteriak. Kau mau membuatku malu, hah?" desis Naruto kalap.

"Ah, maaf. Aku hanya terkejut saja. Jadi, benar tentang seorang gadis?" tanya Sasuke dengan nada berbisik. Naruto mengangguk.

"Ceritanya panjang. Nanti saja kuceritakan saat jam istirahat," ujar Naruto.

"Hn. Baiklah," ucap Sasuke menyetujui.

.

.

Saat istirahat pun tiba. Mereka berduapun pergi ke tempat yang biasa mereka kunjungi yaitu atap sekolah. Naruto pun langsung menceritakan semuanya pada Sasuke tentang Hinata, bagaimana ia bertemu, menolongnya saat gadis itu diganggu oleh preman sekolah, identitasnya yang hampir ketahuan, dan terakhir, persyaratan aneh dan tidak masuk akal yang ia ajukan pada Hinata. Sasuke mendengarnya dengan seksama.

"Lalu... apa yang harus aku lakukan?" tanya Naruto bingung.

"Hanya satu yang bisa kukatakan. Kau itu... GILA!" kata Sasuke tidak habis pikir.

"Aaarrgh... Teme! Jangan teriak. Aku tau aku gila mengajukan persyaratan aneh itu tapi... entah apa yang kupikirkan saat itu. Aku... hanya ingin menolongnya saja," kata Naruto tertunduk lemah.

"Haaahh... kau tau, Dobe. Kau orang paling bodoh yang pernah kutemui. Kau bilang sendirikan kalau gadis itu lumpuh. Kau juga tau bahwa tidak semudah itu membuat gadis yang takut dengan terapi jalan bisa berjalan kembali apalagi berdansa. Kau benar-benar telah mengajukan persyaratan yang sangat konyol dan mustahil bagi gadis itu," omel Sasuke yang terkesan seperti sedang mengomel pada anaknya (?) saja.

"Kau seperti Kaa-sanku saja, Teme. Lalu, apa yang harus kulakukan? Pantang bagiku menarik ucapan yang telah kukeluarkan sebagai sosok Phantom Magician. Aku tidak bisa menarik apa yang telah kuucapkan karena itu… jalan ninjaku," kata Naruto meniru salah satu tokoh utama dalam sebuah komik 'Naruto' (?).

"Che, jangan sok ikut-ikutan komik 'Naruto' (?), Dobe. Ini di dunia modern, bukan dunia ninja," gerutu Sasuke. Seorang Sasuke baca komik? WHAT THE HELL?

"Jiaaahh… Sasuke. hal kecil seperti itu diributkan. Pikirkan saja bagaimana caranya aku tidak melanggar persyaratan yang kubuat. Aku tidak ingin menjadi orang yang lari dari tanggung jawab," rengek Naruto dengan puppy eyes no jutsu yang sukses membuat Uchiha Sasuke bergidik ngeri.

"Ugh… please, Dobe. Jangan keluarkan jutsu aneh itu. Itu membuatku ingin mu**ah," kata Sasuke sadis.

"Hueeee… Teme jahat! Aku kan hanya minta saran. Lagipula, apa-apaan kata-kata 'jutsu' itu? Itu sama saja bahwa kau juga ikut-ikutan komik 'Naruto' (?) juga," protes Naruto.

"Itu beda! Kau mengikuti trademark tokoh utama itu dan aku hanya mengambil sedikit nama jurus aneh (?) yang biasa dikeluarkan dalam komik itu," ujar Sasuke tidak mau kalah.

"Itu sama saja! Tidak ada bedanya!" kata Naruto tidak mau kalah.

"Itu beda, Dobe!"

"Sama!"

"Beda!"

"SAMA!"

"BEDA!"

"SAMAAA!"

"BEDAAA!"

"SAMAAAA!"

Okelah kita skip perdebatan gak guna dari Sasuke-teme dan Naruto-dobe soal komik yang gak ada hubungannya dalam cerita ini karena author tiba-tiba error saat ngetik nih fic. Kita lanjutin aja nih cerita. Back to story! (English mode)

"Lalu, ada ide?" tanya Naruto setelah perdebatan gaje tadi.

"Hmm… kalau boleh usul, sebaiknya kau mempelajari cara membuat orang yang lumpuh agar berjalan kembali. Yah, mempelajari langkah-langkah cara melakukan terapi jalan pada orang yang tidak bisa berjalan," ujar Sasuke panjang kali lebar.

"Itu juga boleh tapi… pada siapa aku mempelajarinya? Mana mungkin kan aku terang-terangan langsung ke rumah sakit dan meminta para suster atau dokter untuk mengajariku? Apalagi ocehan mereka saat menjelaskan pasti sangat panjang dan membuatku bosan. Aku hanya membutuhkan poin-poinnya saja," ujar Naruto.

"Hmm... coba kuingat. Sepertinya ada salah satu teman sekelas kita yang mempunyai bidang keahlian dalam medis. Yamanaka Ino? Tidak. Dia termasuk dalam mengurus tanaman. Tenten? Sepertinya lebih cocok dalam bidang olahraga. Dan… oh ya, Haruno Sakura! Aku baru ingat, bibinya adalah salah satu dokter di sebuah Rumah Sakit Konoha," ujar Sasuke agak bersemangat.

"Teme, cara bicaramu seperti seorang playboy yang sedang mengabsen para pacarnya saja," kata Naruto sweatdrop.

"Berisik kau, Dobe. Kau mau tidak?" tawar Sasuke agak kesal.

"Baiklah. Ayo kita temui Sakura-chan!" kata Naruto mulai beranjak pergi.

"Hoi, Dobe! Kenapa harus kita? Kau bisa sendiri kan?" gerutu Sasuke.

"Jiaah, Teme. Kau tau sendirikan Sakura-chan itu selalu ingin tau urusan orang. Kalau aku sendirian, bisa-bisa aku diinterogasinya dan identitasku bisa saja ketahuan," ujar Naruto.

"Aku tau itu, tapi… kenapa harus aku?" tanya Sasuke.

"Ck, ck, ck, baka Teme. Bukankah kau naksir Sakura-chan? Sekalian saja kau pe-de-ka-te secara langsung, shishishi~," ledek Naruto sambil menekankan kata 'pedekate'.

"APA? KAU TAU DARIMANA?" teriak Sasuke tidak percaya disertai rona merah menghiasi wajahnya.

"Huh, jangan remehkan jaringan informasi yang kudapatkan sebagai Phantom Magician, Sasuke. Kalau soal ini saja, masalah kecil buatku," kata Naruto sombong.

"Cih, kau pintar memanfaatkan kelemahan orang, Dobe. Walaupun kau pintar mencari informasi, tapi kau payah kalo soal cara mendapatkannya. Baiklah, aku akan membantumu," kata Sasuke mengalah.

"Gitu dong dari tadi," kata Naruto mengancungkan jempol. Sedangkan Sasuke hanya bisa menghela nafas pasrah.

.

.

Sang Phantom Magician pun berlutut dengan salah satu kakinya sebagai tumpuan dan mengulurkan tangan kepada Hinata sambil tersenyum lembut.

"Kau harus berdansa denganku."

Kalimat 'Kau harus berdansa denganku.' terus terngiang-ngiang di pikiran Hinata. Bagaimana mungkin dirinya yang (mungkin) lumpuh bisa berdansa? Kenapa sang Phantom Magician mengajukan syarat konyol yang rasanya mustahil dicapai bagi dirinya?

Hinata tidak habis pikir, bagaimana mungkin ia bisa berdansa jika berdiri saja ia sama sekali tidak mampu?

"Ojou-sama, anda tidak apa-apa?" suara Jiraiya mengagetkan lamunan Hinata.

"Eh? A-aku tidak apa-apa, Jiraiya-san," jawab Hinata sedikit kaget.

"Anda sedang memikirkan apa, Ojou-sama?" tanya Jiraiya khawatir.

"Bu-bukan apa-apa. Jiraiya-san, aku ingin kembali ke kamarku," pinta Hinata.

"Baik, Ojou-sama," Jiraiya pun mendorong kursi roda Hinata dari taman bunga milik gadis Hyuuga itu ke kamarnya. Yah, taman bunga itu memang selalu menjadi tempat Hinata memikirkan segala hal.

.

.

"Jadi, kau ingin tau langkah-langkah penyembuhan dalam terapi orang yang tidak bisa berjalan?" tanya Sakura memastikan. Ya, kini dia sedang ditanyai oleh pemuda berambut pirang itu dan ditemani oleh si jenius Uchiha.

"Iya. Tolong bantu aku karena ini sangat penting!" mohon Naruto.

"Hmm… memangnya kau mau apa dengan metode penyembuhan itu?" Sakura menatap Naruto dengan pandangan curiga.

"Errr… i-itu… rahasia," ucap Naruto gugup takut rahasianya ketahuan.

"Kau tahu, Naruto. Di dunia ini tidak ada yang gratis. Informasiku soal pengobatan itu sangat mahal jadi kau harus membayarnya," kata Sakura sedikit sinis.

Glek! Matilah kau Naruto. Haruno Sakura termasuk siswi jeli dan pintar dalam mengungkapkan rahasia orang, walaupun dia belum tau siapa identitas asli Phantom Magician yang sebenarnya sih.

"Be-berapa yang harus kubayar?" sebenarnya Naruto sudah mengetahui apa yang harus dibayarnya. Bukan uang yang diincar Sakura, tetapi informasi yang dimiliki Naruto.

"Bayarannya murah kok. Berikan aku informasi soal Phantom Magician," kata Sakura menyeringai.

"NANI! Jangan bercanda!" teriak Naruto kaget. Sakura hanya bisa sweatdrop mendengar teriakan Naruto.

"Ck, aku hanya bercanda, bodoh. Mana mungkin aku bertanya hal itu padamu yang sepertinya malas mencari informasi," kata Sakura.

"O-ooh… begitu," Naruto bernafas lega karena identitasnya sebagai Phantom Magician masih aman. "Lalu, aku harus membayar dengan apa?"

"Mudah saja. Err… Naruto," tiba-tiba Sakura bersikap sedikit malu-malu kucing.

"Apa?" tanya Naruto heran.

"Ano… apa Sasuke-kun sudah punya pacar? Atau kalau belum, apa ada gadis yang disukainya?" bisik Sakura, takut kedengaran dari bocah Uchiha itu.

Naruto menyeringai kecil tapi tidak terlihat oleh Sakura karena tatapan Sakura mengarah pada Sasuke.

"Memangnya kenapa, Sakura-chan? Kau menyukainya?" tanya Naruto menyeringai kecil.

"Ugh… pelankan suaramu, baka! Aku tidak mau Sasuke-kun mengetahuinya," desis Sakura malu.

"Tenang saja, Sakura-chan. Sasuke masih belum punya pacar kok," Sakura menghembuskan nafas lega karena incarannya belum dimiliki seseorang. Tapi kata-kata Naruto selanjutnya membuatnya shock setengah mati (?).

"Tapi aku tidak bisa menjamin bahwa dia sepertinya sedang tertarik pada seorang gadis," Naruto hampir tertawa melihat reaksi Sakura yang seperti patah hati jika dia tidak menahan sekuat tenaga agar tidak tertawa.

"Sasuke sudah menyukai gadis lain? Kesempatanku… sudah musnah," Sakura pundung di pojokan.

"Hei, bagaimana dengan informasi yang kuminta?" tanya Naruto tanpa tahu situasi.

"Baik, baik. Tunggu, aku akan mengambil buku catatanku," kata Sakura lemas seraya kembali ke dalam kelas untuk mengambil buku catatan khusus yang diberikan oleh Bibinya, Tsunade, untuk mempelajari pengobatan.

"Hei, Naruto! Kau apakan Sakura sampai dia lesu begitu?" tanya Sasuke agak err… marah.

"Bukan apa-apa. Dia hanya shock dengan 'bayaran' yang kuberikan, hehehehe…" kata Naruto tersenyum usil.

"Kalau Sakura kenapa-kenapa, aku akan membunuhmu, Naruto!" kata Sasuke disertai hawa kegelapan.

"Hiiii~ a-aku cuma bercanda, Teme. Cepat singkirkan aura pembunuhmu itu," pinta Naruto merinding. Bersamaan dengan itu, aura iblis (?) Sasuke pun lenyap.

"Sebenarnya… informasi apa yang kau berikan pada Sakura?" tanya Sasuke sinis.

"Hehehe… itu rahasia! Oh ya, Teme! Kau masih membawa tiket film bioskop yang kau tawarkan padaku?" tanya Naruto.

"Hm. Masih. Aku takut meninggalkannya di rumah karena bisa saja Aniki mengambil diam-diam lagi tiket film ini. Jadi kubawa terus-menerus," jawab Sasuke.

"Bagus. Serahkan satu tiket itu padaku sekarang," pinta Naruto menyeringai.

"Eh? Kenapa? Bukankah kau tidak ma-…"

"Aku punya rencana. Jadi, serahkan saja tiketnya padaku."

"Haahh~ baiklah," Sasuke pun menyerahkan tiket itu pada Naruto. " Aku pergi dulu. Ada buku yang ingin kupinjam di perpustakaan."

"Terima kasih, Sasuke," ucap Naruto tersenyum lebar.

"Filmnya akan diputar hari minggu jam 10 pagi. Aku harap kau tidak terlambat," ucap Sasuke seraya pergi dan melambaikan tangannya tanpa menoleh pada Naruto.

"Roger, Taichou!" hormat Naruto terkikik geli. Yang dipanggil Taichou hanya bisa menghembuskan nafas pasrah.

"Naruto, ini informasi yang kau minta," kata Sakura sambil memberikan selembar kertas pada Naruto. "Aku sudah meringkaskannya untukmu. Itu adalah langkah-langkah yang perlu kau ikuti. Aku sudah meringkasnya semudah mungkin agar kau mengerti."

Naruto pun menerima kertas itu dan tersenyum lima jari.

"Arigatou, Sakura-chan. Jika tidak ada kau, matilah aku, hahaha~," canda Naruto.

"Ya, ya, terserahlah," jawab Sakura lesu sambil memasuki kelasnya. Masih shock soal informasi yang diberikan Naruto tadi.

"Hei! Apakah ini sesuai dengan info yang kudapatkan, hanya dengan 'bayaran'ku tadi?" tanya Naruto.

"Sebenarnya tidak. Tapi, ya sudahlah. Kau juga tidak punya informasi yang kubutuhkan lagi," kata Sakura lemas.

"Hmm… Bagaimana kalau kuberikan tiket menonton film bioskop bersama Sasuke?" tawar Naruto menyeringai.

"Eh? Tiket?" ucap Sakura heran langsung menoleh ke arah Naruto.

Naruto pun menunjukkan tiket yang barusan diberikan oleh Sasuke tadi pada Sakura.

"Sasuke baru saja memberikan tiket ini padaku tapi karena aku tidak suka filmnya, bagaimana kalau kau saja yang menggantikanku pergi. Kau mau?" tawar Naruto.

"EH? BENARKAH? KAU SERIUS?" tanya Sakura semangat.

"Tentu saja. Kau mau tidak?" tanya Naruto menyeringai.

Sakura langsung merebut tiket yang berada di tangan Naruto secepat kilat. Naruto sweatdrop dengan tindakan Sakura yang begitu cepat.

"Tanpa ditawar dua kalipun aku sudah pasti mau. Ini lebih dari yang kubayangkan. Arigatou, Naruto," ucap Sakura senang.

"Douitteshimashita. Baiklah, aku pergi menyusul Sasuke dulu. Sankyu, Sakura-chan," kata Naruto sambil mengibas-ibaskan kertas tadi.

"Arigatou, Naruto!" balas Sakura riang.

"Ah, hampir lupa. Filmnya akan diputar hari minggu jam 10 pagi. Jangan lupa," kata Naruto mengingatkan. Sakura mengangguk senang.

.

.

Malam pun kembali datang. Hinata tidak bisa tidur karena sejak tadi jantungnya terus berdebar-debar. Sudah dua malam berturut-turut Phantom Magician mendatangi kamarnya tiap tengah malam dan ia masih tidak percaya dengan kejadian-kejadian saat sang Phantom Magician datang kekamarnya.

Ia jadi mengingat game NDS yang pernah ia mainkan dulu. Kalau tidak salah judulnya Harvest Moon DS Cute di mana image Phantom Magician mirip dengan Phantom Skye. Eh? Phantom? Namanya saja mirip. Jangan-jangan Phantom Magician itu penggemar karakter Skye jadi meniru gaya bicaranya yang agak gombal gitu.

Pencuri tampan yang mempesona. Aih~ membayangkannya saja bisa membuat cewek Hyuuga ini blushing tidak karuan.

'Kyaaa~! Tidak! Tidak! Tidak! Kenapa aku malah membayangkan Phantom-san itu mirip karakter Skye sih? Membayangkannya saja membuatku panas tidak karuan,' batin Hinata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya agak kuat berharap pikiran nyasar (?) itu segera menghilang.

'Huft… jantungku terus berdebar-debar tidak karuan sejak tadi. Apa ini berarti… Phantom Magician akan kembali lagi?' wajah Hinata langsung memerah dan menggeleng-gelengkan kepalanya sekuat tenaga (lagi).

"Hahaha… itu pasti tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin," Hinata tertawa kecil dengan pikiran nyasar (?) nya.

"Apanya yang tidak mungkin?"

'DOKI!'

Jantung Hinata berdetak cepat begitu mendengar suara yang sangat familiar memasuki indra pendengarannya. Ia pun menoleh takut-takut ke arah jendelanya.

'PHANTOM-SAN!' jerit Hinata dalam hati disertai rona merah di pipinya.

Phantom Magician kini tengah duduk dengan santainya di bingkai jendela.

"Bu-bukan apa-apa," jawab Hinata gugup sambil mengalihkan wajahnya yang memerah.

"Hup!" Phantom Magician pun turun dari jendela tersebut dan berjalan santai mendekati Hinata. "Hinata."

Mendengar namanya dipanggil, Hinata reflek menoleh.

"Iy-," belum sempat Hinata melanjutkan jawabannya, wajahnya langsung merah padam. Bagaimana tidak? Kini wajah Phantom Magician tepat beberapa inci di depan wajahnya.

Perlahan, Phantom Magician menjauhkan wajahnya dari Hinata.

"Syukurlah. Aku kira kau kenapa-kenapa? Ternyata masih hidup toh, hehehe…" Phantom Magician tertawa kecil.

"Hidup?" ucap Hinata dengan tampang polosnya.

"Hmp… hahaha~ wajahmu lucu sekali. Jangan memasang tampang polos seperti itu, hahahaha~," Phantom Magician tertawa terbahak-bahak namun masih dalam artian cukup sopan (?).

"M-mou~ ja-jangan tertawa, Phantom-san," protes Hinata malu.

"Hahaha~ gomen~ gomen~ aku tidak sengaja, shishishi~," kali ini Phantom Magician hanya tertawa kecil berusaha untuk tidak tertawa lebih keras lagi.

Hinata hanya bisa menggembungkan pipinya tanda cemberut. Ia jadi sedikit kesal dengan sikap Phantom Magician barusan. Ternyata sifat Phantom Magician yang asli sungguh menyebalkan.

"Sudah, sudah. Jangan cemberut lagi, hehehe~," Phantom Magician sedikit mencubit pipi chubby Hinata dan tertawa kecil.

"Eh?" sontak wajah Hinata merona ketika menyadari bahwa jarak antara ia dan Phantom Magician kembali dekat. Sang Phantom Magician juga baru menyadari bahwa jarak antara mereka terlalu dekat.

Jarak wajah yang dekat. Hembusan nafas yang tercekat. Keheningan tercipta dan hanya ada suara detak jarum jam.

Kamar yang sedikit gelap dan hanya disinari oleh sinar bulan menambah kesan ketegangan dan nuansa romantis diantara mereka berdua.

Tanpa sang Phantom Magician sadari, ia mulai mendekatkan wajahnya ke perempuan Hyuuga tersebut.

Hinata tersentak kaget dan sedikit menundukkan wajahnya. Gerakan sang Phantom Magician tidak terhenti sampai di situ, ia mulai menyentuh dagu Hinata dan menaikkannya sedikit untuk menghadap wajahnya.

Tik! Tik! Tik!

Hanya terdengar suara detak jarum jam. Bahkan sepertinya Hinata juga mendengar suara detak jantungnya sendiri. Entah samar-samar atau tidak, Hinata seperti mendengar suara gumaman Phantom Magician.

"Hei, Hinata. Mau jadi pacarku?"

Entah angin apa tiba-tiba Phantom Magician menembaknya dan oh~ tapi dengan berat hati harus author katakan, itu hanyalah ilusi semata dari pikiran Hinata yang tidak bisa terbendung saking berdebarnya. Aslinya, sang Phantom Magician tidak mengucapkan apa-apa. Dan maafkan sang author telah menghancurkan imajinasi para reader. *plak*

'A-apa yang ingin dilakukan Phantom-san? Menciumku? Tu-tunggu! A-aku belum siap! Ka-kami-sama, tolong datangkan bala bantuan,' batin Hinata bergejolak. Ia berharap ada sesuatu yang menghentikan tindakan yang membuatnya hampir serangan jantung jika terus-terusan dalam posisi tersebut.

"Meong~ meong, meong, meong, meong, meong~," nyanyian kucing ala Gary siput dari kartun Sponge Bob membahana.

GUBRAK! GEDEBUK!

Yah~ karena nyanyian gaje barusan membuat dua insan ini langsung bergubrak ria. Bedanya, Hinata gubrak rianya di tempat tidur, sedangkan Phantom Magician harus rela mendarat di lantai yang keras.

"Itai~," keluh Phantom Magician meringis kesakitan. Sedangkan Hinata justru berusaha meredakan debaran jantungnya yang mungkin hampir overdosis (?).

Tanpa sadar, mereka saling berpandangan kembali dan…

"Humph… hahaha~," Hinata dan Phantom Magician saling tertawa.

"Ya ampun~ aku tidak menyangka ada kucing yang bisa menyanyikan lagu ala Gary dari Sponge Bob itu, hahaha~," kata Phantom Magician tertawa geli.

"Aku juga, hahaha~," ucap Hinata ikutan tertawa.

Mereka tertawa terus menerus dan akhirnya sang Phantom Magician membuka pembicaraan.

"Gomen. Tadi aku tidak sengaja. Sebenarnya tadi aku ingin membicarakan sesuatu padamu tapi entah kenapa aku lupa," kata Phantom Magician sambil menggaruk-garuk pipinya dengan jari telunjuk karena malu.

"Umph… ti-tidak apa-apa. A-ano… membicarakan apa?" tanya Hinata gugup.

"Ng… soal persyaratan yang kuajukan tadi malam."

DEG!

Jantung Hinata berdetak cepat. Syarat? Syarat untuk berdansa maksudnya?

"Sebenarnya… soal persyaratan tadi malam, aku akan-…"

"JANGAN BATALKAN!"

Phantom Magician tersentak kaget dengan ucapan yang keluar dari Hinata.

"Hinata…"

"Kumohon… jangan batalkan. A-aku akan berusaha untuk terapi jalan tapi kumohon… jangan batalkan persyaratannya," mohon Hinata. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengetahui identitas asli Phantom Magician. Ia akan lakukan apa saja untuk mengetahuinya karena ia juga ingin memastikan sosok pemuda yang menyelamatkannya.

Mendengar hal itu, Phantom Magician malah tersenyum.

"Aku tidak menyangka kau bisa serius menanggapi syaratku, Hinata. Dan perlu kau ketahui, sebenarnya aku tidak akan membatalkan syarat yang kubuat," ujar Phantom Magician.

"Eh? Ja-jadi… barusan?" wajah Hinata merona. Tanpa sadar ia malah menjawab tantangan syarat barusan. Phantom Magician tersenyum lembut.

"Aku yang membuat, berarti aku juga yang harus bertanggung jawab," kata Phantom Magician.

"Eh? Ma-maksudnya?" tanya Hinata tidak mengerti.

Phantom Magician berjalan ke arah jendela di mana sinar bulan terlihat terang memasuki ruang kamar tersebut. Ia pun berbalik menghadap Hinata.

"Mau kuberikan sebuah puisi, Hinata?" tawar Phantom Magician.

"Eh? Puisi?" tanya Hinata bingung. Phantom Magician tersenyum.

"Wahai penguasa bulan, kau yang menyinariku dari atas, aku berdoa padamu. Ubahlah tubuhku menjadi bintang dan biarkan aku terbang serta melebur di dalam cahayamu," wajah Hinata merona mendengarnya. Baru kali ini ia mendengar puisi seperti itu.

"Wahai sang putri yang bersinar bagaikan sinar bulan purnama, izinkanlah aku berada di sisimu, membantumu, dan melindungimu sebagai serpihan bintang yang telah melebur di dalam cahayamu."

Hinata tidak bisa berkomentar apa-apa. Puisi itu, kalimat itu, entah kini ia seperti tidak bisa mendengar detak jantungnya lagi saking terpesonanya. Nada-nada dan ucapan yang sangat indah yang belum pernah didengarnya.

"My little princess, bersiaplah. Aku akan memberikan sebuah les privat agar kau bisa bebas menggerakkan kakimu lagi. My take lesson will begin midnight tommorow. Kau siap?" tanya Phantom Magician.

Hinata tidak percaya dengan tawaran Phantom Magician. Berarti mulai besok malam dan seterusnya ia akan mendapat les khusus dari Phantom Magician sendiri. Inilah penentuannya. Apa ia siap atau tidak untuk menjalankan terapi yang ditakutinya.

"Aku siap!" jawab Hinata tegas.

Inilah langkah yang diambilnya dan ia juga harus menanggung resikonya.

"Good. Waktuku sudah hampir habis, jadi aku harus pergi sekarang," kata Phantom Magician.

"Terima kasih atas kebaikanmu, Phantom-san," wajah Hinata terlihat tenang dan melembut. Itu membuat sang Phantom Magician tertunduk malu.

"Kau tau, Hinata. Puisi yang barusan itu adalah puisi do'a untuk putri bulan. Jadi… matta ashita, Tsuki hime-sama," ucap Phantom Magician seraya keluar dari jendela Hinata dan menghilang dari pandangan Hinata. Hinata hanya terpaku mendengarnya namun beberapa detik kemudian ia tersenyum lembut.

"Matta ashita, Ouji-sama."

To be continue

Auh~ aku tidak sanggup lagi. Chapter ini hampir bikin aku pengen headbang. Cukup romantiskah? Aih~ aduh~ aku malu sendiri nulis puisi seperti itu. Bagian awalnya aja nyontek dari manga (Sakurahime kudan, zaman heian) tapi pas bagian 'wahai sang putri…' bikin aku pengen teriak. Kyaaa~ malu-maluin banget nulis beginian, auh~ (/) *blushing akut*

Maaf lama. Biasa, masalah dunia nyata yang hampir bikin aku pengen ngebunuh (?) dosenku sendiri. *dibantai dosen duluan*

Jawab review dulu deh. NaruHina-chan, SasuSaku-chan, tolong ya? ^w~v *wink eyes no jutsu*

BellNicXie:

Naruto: "Sialan tuh, baka authoress. Seenaknya aja. Eh? Perkataanku seperti seorang lelaki yang lagi ngerayu kekasihnya? Ugh… makasih. Sebenarnya aku malu tapi udah tuntutan naskah. Hinata terapi jalan? So pasti. Aku yang bakal ngajarin lho." *nyengir bangga*

Sasuke: "Cerita baka authoress tambah bagus? Ini mah namanya penistaan (?)!" *pengen ngamuk karena karakternya dibikin agak OOC*

Mizukaze-hime:

Hinata: "Hmm… gitu ya. Makasih udah ngasih tau soal penulisan kalimat angka. Tuh kadang baka authoress malas merhatiin. Bagi-bagi ilmu? Semoga ilmu yang di dapat bermanfaat. ^^"

Author: "Hina-chan, kenapa ikut-ikutan manggil gue baka authoress juga sih?" TT_TT *tears*

Sakura: "Udah takdir, baka authoress."

Tsuki Ai Mizuki:

Naruto: "Hohoho, Selvia. Aku datang! Mau lihat sulapku? Nih!" POOF *keluarin ular dari dalam topi* *Selvia fainted*

Na Fourthok'og:

Sasuke: "O-oi! Parah! Kalo tau gini jadinya, gue ogah pake baju agak terbuka kayak gini. Yang 'mus' itu mungkin maksudnya 'mustahil' atau bisa saja Cuma typo nyasar yang seharusnya gak ada. Yup! Ini udah di update!" *nutupin badan pake selimut*

Asuna Risuka:

Hinata: "Walaupun gombal tapi aku tetap suka." *blush*

NaHi's Lover:

Sakura: "Siput apdet, yeah! Kau telat banget, baka authoress."

Author: "Gomenasai~" *pundung*

Ghifia Kuraudo:

Author: "Makasih, makasih!" *bahagia*

Naruto: "Oi, baka authoress! Itu gue yang dipuji, bukan elo!" *narik author ke belakang panggung* T^T

The Portal Transmission-19:

Author: "Baru tau ya, Pi? Eh, ratenya dinaikin jadi MT? haduh~ yang T (baca: Telat) aja banyak yang protes, Papi. Apalagi yang MT (baca: Makin Telat). Bisa jadi buronan para reader nih, Mami." *sok imut*

NaruHinaSasuSaku: (dalam hati: 'Baka authoress mengerikan. Nadanya aja yang sok imut, tapi di belakang punggungnya udah tersedia benda-benda tajam yang siap mutilasi (?) orang.') *pucat*

OraRi HinaRa:

Sakura: "Hohoho~ tenang. Aku udah kasih catatan metode buat Naruto jadi mulai chapter depan mungkin bakalan ada les khusus dari dia."

Matsumoto Rika:

Hinata: "A-ano… chapter ini gimana? Jujur. Baka authoressnya pengen banget headbang ngebayangin kalimat romantis yang ditulisnya."

Blue DaFFodil:

Naruto: "Mau kugombalin? Blue-chan, wajahmu merah? Kau sakit atau karena aku terlalu keren di matamu?" *gaya ala Phantom Magician*

Sasuke: "Baka dobe. Itu mah bukan ngegombalin cewek, tapi gombalan narsis diri sendiri."

Shirotabi:

Author: "Keigo? Aku dapat dari Anime Tsubasa Reservoir Chronicle (TRC) episode satu! XD"

Sakura TRC: "Jadi maksudnya dari aku ya?" *blushing karena waktu ngomongin kata 'Keigo' lagi asyik meluk Syaoran*

Ipjinchuuriki Junibi NHF:

Sasuke: "Si baka Naruto itu Cuma gak mau identitasnya ketahuan aja. Habis warna rambutnya mencolok banget jadi gampang dikenali. Apalagi si Hyuuga itu udah tau struktur wajah Naruto yang ada kumis kucingnya. Kan jarang yang punya tanda kayak gitu."

Grita-chan loves NaruHina:

Naruto: "Oi! Jangan salahin gue yang agak error. Salahin authornya yang buat cerita."

Author: "Grita-chan, kita smsan lagi ya? Jarang banget nih. Nomorku masih nomor lama lho. Masih awet~!"

D'Steph Miyuki:

Hinata: "Eto… si baka authoress dapat inspirasinya dari Anime D.N. Angel dicampur bumbu-bumbu dari manga Almighty X 10 dan voila, jadilah fic gila ini."

All: "Hinata, ini fic, bukan acara memasak." *sweatdrop*

NHL-chan:

Naruto: "Typo ya? Kayaknya ada tuh dikit nyempil." *tunjuk kata 'mus'*

x-friend Forever:

author: "Cuma bisa apdet siput. Nih dah di update!"

HiroMiu-chan:

Naruto: "Makasih, makasih!" *bangga*

Author: "Naru, itu kan pujian buatku juga." T_T

Light of Leviathan:

Sasuke: "Belum, nona Light. Identitas Naruto ketahuan pas chapter akhir. Semoga gak berlanjut ke konflik lainnya."

Naruto: "S-Sas, se-sejak kapan kau manggil orang dengan sebutan nona?"

Sasuke: "Sejak gue baca kertas yang barusan aja baka authoress kasih." *santai*

Kim D. Meiko:

Author: "Thanks sarannya. "

Anywong:

Sakura: "yup! Ini dah update!"

Dark LawLight:

Naruto: "Yosh! Ini udah apdet siput (?)!"

Naomi arai:

Hinata: "Tenang. Aku gak sepenuhnya cacat kok. Nanti juga bisa jalan lagi dengan bantuan trik sulap (?) Phantom Magician. By the way, Phantom Magician itu Penyihir Bayangan atau bisa disebut Penyihir Hantu karena munculnya hampir tengah malam terus."

Risdadadada:

Auhtor: "Ugh… maafkan aku. Untuk adegan kissu aku gak mau cepet-cepet. Entah kenapa akhir-akhir ini kurang sreg sama adegan itu. Dan rencananya malah di fic ini gak ada adegan kissu, yah kalo melenceng mungkin ada. Tapi masih rencana lho, belum sepenuhnya terjadi, fufufu~" *tipe orang yang suka berubah pikiran*

Uzumaki Nami-chan:

Hinata: "Eh? Mau sampai chapter 6 or 8? Tapi mungkin fic ini bisa selesai 5 or 6 chapter. Semoga…" *ingat author yang suka manjang-manjangin cerita kalo dapat ide nyempil*

Sheila:

Naruto: "Aih~ bener banget. Waktu Hina-chan manggil aku sebutan Phantom-san imut banget. Gregetan banget pengen meluk dia."

Hinata: *fainted*

Tantand:

Sasuke: "Nih, udah di update."

YamanakaemO:

Naruto: "Yup! Emang sengaja. Tapi kalau langsung kasih tau identitas kan gak seru. Jadi pake syarat dulu biar Hinata punya semangat untuk bisa berjalan lagi."

Kitami-minagawa:

Hinata: *bangun dari pingsan* "Ini udah update."

Park rriikaze:

Naruto: "Sabar, sabar. Ini udah di update kok.

.

Thanks buat para reader maupun reviewer yang sudah sempat-sempatin datang ke fic gila (?) ini. saya selaku authoress (baka) berterima kasih. Nggak nyangka lho bisa dapetin review sebanyak ini. terima kasih! XD

Oh ya, aku mau nanya, Naruto itu lebih cocok disebut Sunset or Sunrise ya? Jujur. Keduanya cocok buat image Naruto. Ada project yang berkaitan dengan kedua hal tersebut dan aku masih bingung milihnya. _

Terima kritik, saran, pujian (geer lu), flame asal masuk akal. Semoga chapter ini cukup menghibur. ^^

Akhir kata…. PLEASE REVIEW! XD

Ehem! Narsis dikit boleh kan? *ikut-ikutan Rhy-chan*

WE ARE NHL! WE ARE FAMILY! KEEP STAY COOL, FRIEND! And Innocent face. ^^ *dibantai warga FFN*

Gak terima? Bakar sate aja. Lumayan nih, author lagi laper. *diinjak*

.

Cute smile

Yui Hoshina ^^v