Rating: Teen/ PG-15

Genre: Friendship/Romance, Humor

Fandom/Disclaimer: Axis Power Hetalia (c) Himaruya Hidekaz-sensei; Plot (c) saya

Warning(s): AU, OOC, Gender-bender, country names used.

A/N: Wah, wah...ini fic hetalia ketiga ane. Kayaknya bakal ancur deh, mengingat genrenya sudah hancur dan tampaknya akan banyak adegan menjurus kemana-mana di fic ini. Fic ini terinspirasi kegiatan saya sekarang ini, UN *loh* maksud saya, saya asyik shipping fanart fem!Prussia sama fem!Austria jadi...begitulah. Ingat, SEMUA CHARA DI GENDERBEND, bila tidak suka, silahkan pencet tombol back dan tinggalkan ane sendiri *ngaco*

Maaf kalo genre humor tapi ga kerasa~ Baik, let the story begin!

Btw, 2 hari lagi saya UN—jangan ditiru kegiatan ini.


Reverse Exponent

/

Part I – Brand New Class


Sinar mentari pagi nan cerah seperti biasa merayap kedalam ruangan asrama megah yang berada di sekolah besar yang tak kalah megahnya. Sekolah dan asrama itu dibagi dalam dua bagian, wanita dan pria. Itu semua dikarenakan jumlah pelajar wanita yang cukup absurd di sekolah tersebut—sesuai nama sekolahnya, World Academy W(anita). Tolong abaikan kata-kata terakhir. Kelasnya juga dibedakan, wanita ya wanita, pria ya pria. Semua peraturan itu menjaga keselarasan dalam sekolah—yang tidak dibedakan mungkin hanya klub ekstrakulikuler dan kantin yang terletak di tengah-tengah percabangan antara gedung A dan B.

Hari itu tak lewat hari yang biasa bagi seorang pelajar laki-laki yang menduduki kamar bernomor 314 sendirian—sebenarnya, ada teman sekamarnya, tetapi ia sudah berangkat lebih pagi karena berbagai hal. Sudah dua tahun ia bersekolah disana, berpisah dari kampung halamannya bersama yang lain. Setelah sarapan sederhana, ia menuju ruang kelasnya.

Kelas 2-5, Gedung B

Tiap pagi, kelas itu sudah diramaikan para penghuninya. Cowok yang menjabat ketua kelas itu dengan agak ngantuk mengucapkan selamat pagi seraya membuka pintu.

"Hoahm...pagiii~!" ucapnya.

"Ah, selamat pagi, Hungary-kun!" Cowok yang terlihat pendek, berambut coklat pucat dengan paras manis menyapanya. Dihadapannya duduk personifikasi cowok berambut coklat jabrik yang membawa tas berbentuk ikan. Selain mereka, ada empat orang lain di kelas tersebut—cowok berkulit sawo matang dengan seragam yang dikeluarkan, cowok berambut hitam yang tampil rapi, cowok berambut pirang acak-acakan yang tak kalah semangat serta satu-satunya cowok berkacamata di sekolah tersebut.

"Yo, Liech-kun, Seychelles~" Hungary nyengir lebar, ia melempar senyumnya ke arah 4 orang yang barusan disebutkan. "Wah, wah...para asiatis hari ini datang pagi ya? Terutama kau, Nesia."

"Maaf ketua kelas, apakah itu ejekan atau pujian?" cowok berjulukan Nusantara itu menaikkan alisnya, beberapa orang di sekeliling cowok berkulit sawo matang itu terkikik. "Hei, Vietnam! Jangan ikut tertawa! Kau juga, Monaco, Belgium dan Taiwan!"

"Biasanya kan kamu yang paling telat, bodoh!" ejek Belgium seraya mengacak-acak rambut Indonesia yang ikal.

"Oh ya, Nesia-kun...kemana Malaysia? Biasanya dia datang pagi..." tanya Seychelles penasaran.

"Bodo amat gua mah sama Malon," dengusnya dengan nada Jakmania-nya (?). "Paling-paling dia ke gedung A buat cari-cari si Ukko,"

"Tumben hari ini ga dikejar-kejar Nethere-chan, eh?" pertanyaan terus membombardir personifikasi Nusantara yang biasanya paling jam karet, kali ini dari cowok berkacamata yang warna benderanya sama dengan Nesia, Monaco.

"Makanya gua dateng pagi! Biasanya dia udah di lobi asrama tiap jam 6.30, jadi gua muter arah."

"Ketua kelas, si Belarus kemana—"

Pertanyaan dari Taiwan terpotong karena wali kelas mereka sudah memasuki ruangan. Wali kelas mereka adalah nenek tua yang mengajar pelajaran PKK—juga merupakan kepala sekolah dan guru besar se-akademi—yaitu Holy Roman Empire. Panggilan akrabnya oleh anak-anak kelas cowok tersebut adalah 'nenek Roman' atau 'obaasan'—sebenarnya sang nenek sendiri minta dipanggil Madame, tetapi rasanya kurang cocok dengan umurnya yang mungkin sudah kepala lima, plus keriput.

Penghuni kelas yang tadinya riuh ngepurikin Nesia kini duduk ditempatnya masing-masing.

"Baik, class. Hari ini ada beberapa murid wanita yang akan dipindah ke kelas ini!"

Beberapa murid yang terduduk lesu jadi melongo, ada juga beberapa murid—seperti Malaysia (yang entah darimana sudah datang), Indonesia dan Vietnam—sampai bermimik 'sumpeh lo nek?' dengan slow motion. Hungary sendiri masih stay cool dengan berpangku tangan diatas mejanya.

"Kenapa ada cewek ke kelas ini, nek?" tanya Belgium, sedikit ganyante.

"Madame untukmu, Belgium." Nenek tersebut dengan perfeksionis mengoreksi. "Laporan keseharian mereka agak buruk, jadi untuk sementara mereka akan disini sampai sekolah memberikan penilaian baik untuk mereka,"

"Interupsi! Ada berapa orang nek?" Vietnam mengangkat tangannya.

"Sekali lagi, tolong panggil aku Madame," nenek itu masih saja mengoreksi padahal tak ada gunanya. "Kurang lebih, umm... 3 orang di kelas ini dan 3 orang di kelas Bu France,"

"Ohh,"

"Nah, silahkan masuk dan perkenalkan diri kalian!" Nenek Roman menepuk tangannya tiga kali.

Karena pemisahan gedung, jarang sekali murid cowok melihat murid cewek atau sebaliknya—terkecuali bagi beberapa orang yang iseng atau memang...yah, pacaran. Harapan cewek cantik datang ke kelas tersebut kandas akibat pintu kelas dibuka secara senonoh—digeser menggunakan kaki. Hungary yang diam malah tertawa terbahak-bahak—ia tahu siapa yang akan masuk.

Teman kecilnya yang paling sering ia isengi saat kecil hingga akhirnya ia harus pergi dan bersekolah disini.

Kenapa ia ada disini...?

"Prussia! Sudah berapa kali kubilang bukalah pintu dengan feminim seperti Austria!" teriak nenek Roman.

"Kan terserah aku, nenek tua~" ucapnya dengan nada riang. "Lagipula, Austria-chan juga sekelas denganku disini, jadi dia sama sepertiku, kan?"

"Ini salahmu aku ada disini juga, Obaka-chan!" pekik suara lain—masih diluar kelas. "Sudah sekamar asrama, satu kelas, satu komplek! Kurang apa penderitaanku!"

"Araa? Bukannya kamu senang bersama teman seperjuanganmu yang awesome ini sejak sekolah dasar, Austria-chan?"

"Kalian akrab amat sih," suara lain diluar kelas itu membuat bulu kuduk Nesia berdiri.

"Kaliaaan, cepat masuk!" nenek Roman mengeluarkan amunisi berlabel penghapus papan tulis ke arah Prussia.

TOKK, kena telak.

"Aww, ba, baik neeek~"

Dengan gontai, tiga gadis memasuki ruangan kelas. Nenek Roman tengah menuliskan nama mereka di papan tulis, mereka bertiga berdiri berjajar di depan podium tempat nenek berdiri. Cewek albino berambut panjang putih dengan bekas luka di pipi dikenali sebagai Prussia, disampingnya ada gadis berambut hitam bergelombang dengan warna mata kelabu—yang disimpulkan sebagai Austria; serta ada gadis berambut pirang panjang dengan syal bergaris-garis yang langsung dikenali oleh kakak-beradik Malaka sebagai Netherlands alias Belanda. Kedua wanita pertama tidak menyadari bahwa Hungary—teman kecil mereka berdua ada disana, mengingat posisi duduk sang cowok di pojok kelas—berbeda dengan Nether yang sudah menargetkan tempat duduk kosong di sebelah cowok personifikasi Nusantara yang sudah berkeringat dingin tersebut.

"Silahkan perkenalkan diri kalian, ladies."

"Namaku Prussia, asal kelas 2-3. Dipindahkan kesini karena banyak kasus, selesai." Dengan pedenya gadis albino itu membanggakan diri.

"A-Aku Austria, asal kelas 2-3." Gadis yang tengah agak malu-malu. "Dipindahkan kesini karena...Obaka-chan,"

"Namaku Netherlands, panggil saja aku Nether—asal kelas 2-1." Ia menjaga jarak bicaranya. "Aku dipindah kesini karena...begitulah,"

Ketiga gadis dengan alasan misterius itupun selesai memperkenalkan diri masing-masing.

"Nah, Prussia, kau duduk di sebelah Nesia; Nether, kau di depan kanan, sebelah Liechtenstein dan Austria kau duduk di depan Hungary."

Indonesia menghela nafas kelegaan mendengar pembagian tempat duduk tersebut. Tetapi, mendengar nama familiar, Austria dan Prussia ternganga. "H-Hungary...?"

"Hm? Ada apa dengannya? Ia adalah ketua kelas ini, kalian tidak pernah tahu?" nenek Roman tersenyum pada mereka.

"Yoo, Austria-chan, Prussia-chan~ aku disini!" Hungary melambai ke arah mereka berdua, ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kedua gadis yang terbengang-bengong itu. "Selamat datang di kelas 2-5," senyumnya.

"W-Wuah, Hu-Hungary-kun!" Austria sampai memakai kacamata yang daritadi ia taruh ditasnya—seakan tak percaya.

"Serius! Beneran ini kamu, Hunga?" cewek albino tadi sampai menarik-narik pipi sang ketua kelas.

"Senangnya bisa bertemu teman-teman lama yah...kuharap kakakku juga ada di kelas ini..." ucap Liechtenstein melihat pemandangan reuni mereka bertiga.

"Kau mau seperti Nether dan Nesia, Liech-kun?" tanya Vietnam seraya melirik gadis tegap berambut pirang yang tak bisa melepas matanya dari cowok berkulit sawo matang tersebut—yang kini mencari perlindungan ke adik-sekaligus-rivalnya dari tatapan 'nesia-sini-dong'-nya Nether.

"Kurasa tidak sampai seperti itu," Liechtenstein tersenyum kecil.

"Oke, class. Homeroom sudah selesai, persiapkan untuk pelajaran berikutnya ya!" dan nenek Roman pun pergi dari kelas.

/

Jam istirahat, kelas 2-5 Gedung B

"Wah, wah...kalian berdua banyak berubah ya~" Hungary merapat untuk mengobrol di meja Austria, sementara Prussia berdiri—ia tidak suka duduk, bisulan, mungkin?

"Yaaah, tak kusangka juga bisa bertemu lagi denganmu, Hunga!" Prussia menyilangkan tangannya seraya tersenyum puas.

"Kupikir kita tak akan bertemu lagi sampai nanti, ternyata baru SMU ketemu lagi, hehe." Austria tetap dengan paras elegannya, tanpa memakai kacamata.

"Aku ingat kau selalu mengigau nama Hunga saat kau tidur, Austria-chan~" ejek Prussia.

"Bohong kau, Obaka-chan!" Wajah Austria merona merah, ia menarik rambut albino gadis teman kecilnya itu.

"Aa—Hei, sakit!"

"Ah, hahahaha! Kalian memang selalu akrab, yah!" Hungary nyengir.

"APANYA!" ucap keduanya bersamaan—yang kini malah jadi jambak-jambakan.

Pertemuan hari itu membangkitkan memori dan suasana senang antara ketiganya, entah sampai kapan hubungan mereka terus berlanjut, sebagai teman atau sebagai lebih dari teman, bahkan menjadi musuh. Tidak ada yang tahu soal hal itu. Kita tunggu saja hari ini, esok atau hari berikutnya.

/

Bersambung.


Sampai jumpa di chapter berikutnya~ saya lagi ngestuck orz :D
Oh ya, ada review atau kritik? 8D