Author's note : Kusarankan untuk membaca "A PIECE OF MEMORIES " By Yuuto Tamano terlebih dahulu untuk mengerti jalan cerita fic ini.


Unforget Memories

by Razux

Sequel from "A piece of memories" by Yuuto Tamano

Dedicated to Yuuto Tamano, karena sudah memberiku izin.

.

.

.

Disclaimer : Gakuen alice belong to Higuchi Tachibana.


Natsume POV

Aku berbaring di atas sebuah ranjang king size dan aku bisa mencium bau bunga sakura dari sampingku. Saat aku membuka mataku, aku melihat seorang gadis kecil tertidur dengan tenang di sampingku. Gadis kecil ini sangat cantik. Tidak. Bukan sangat, tapi luar biasa cantik, seperti seorang malaikat.

Aku mengangkat tanganku untuk meyentuh rambut coklatnya, aku bisa merasakan betapa halus dan lembut rambutnya. Aku menatap wajahnya, hidungnya yang mancung, pipinya yang merona kemerahan, bibirnya yang berwarna pink dan seulas senyum bahagia yang terlukis di wajahnya membuatku tidak bisa menghentikan tanganku yang kini telah bergerak untuk menyentuh wajahnya.

Dia membuka matanya dengan pelan saat tanganku menyentuh wajahnya. Aku bisa melihat dengan jelas bola matanya yang besar dan berwarna coklat madu. Matanya begitu indah dan jernih, membuatku sama sekali tidak bisa memalingkan kedua mataku darinya. Hanya menatapnya aku bisa merasakan betapa polos dan lugu dirinya. Hanya menatapnya aku bisa merasakan betapa hangat dan bahagianya hatiku.

Dia tertawa dan dengan suaranya yang lembut dan jernih dia memanggilku "Onii-chan…."

"Onii-chan... Natsume Onii-chan, bangun!"

Aku membuka mataku dan aku bisa melihat dengan jelas Yoichi, adikku berdiri di samping tempat tidurku.

"Lima menit lagi…."

"Cepat bangun, Natsume-nii. Sebelum Rei-nii masuk ke dalam kamarmu ini."

Mendengar ucapan Yoichi, aku hanya bisa menggerutu dan bangkit dari tempat tidurku. Aku sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Rei-nii jika dia masuk ke kamarku ini untuk membangunkanku

"Sarapan sudah siap karena itu jangan tidur lagi." Ujar Yoichi sambil berjalan keluar dari kamarku.

Aku hanya menghela napas dan kembali menghempaskan badanku ke atas tempat tidur. Aku teringat lagi dengan mimpiku barusan. Siapa gadis kecil itu? Mengapa gadis itu selalu berada di dalam mimpiku? Dan mengapa aku selalu merasa sangat senang dan bahagia setiap kali aku mengingatnya? Apakah aku mengenalnya? Gadis kecil itu memanggilku Onii-chan, tapi aku sama sekali tidak memiliki adik perempuan.

"Natsume Yukihira. Sebelum aku masuk ke dalam kamarmu, segera siapkan dirimu dan makan sarapanmu."

Sial. Itu suara Rei-nii. Aku akan mati jika aku masih berada di atas tempat tidur saat dia masuk ke dalam kamarku. Aku masih ingat dengan jelas kejadian dua bulan yang lalu saat dia menemukan aku masih berada di atas tempat tidur walau sudah dibangunkan Yoichi. Dia memukulku tanpa belas kasihan dan aku sama sekali tidak mau merasakan pukulannya itu lagi.

Aku berlari keluar dari kamarku menuju kamar mandi dan menggosok gigiku. Aku bisa melihat dengan jelas wajahku yang terpantul di dalam cermin. Rambut berwarna hitam, hidung yang mancung, alis mata yang pendek dan bola mata yang berwarna merah.

Setelah aku mengganti piyamaku dengan baju seragam Senior high school Alice academy dan memakai kacamataku, aku berjalan menuju ruang makan dengan pelan. Aku bisa melihat dengan jelas Rei-nii dan Yoichi yang duduk di atas kursi menyantap makanan mereka.

"Aku akan membuang semua sarapanmu jika kau terlambat bangun lagi, Natsume." Ujar Rei-nii tanpa menatapku.

Aku sama sekali tidak menjawab pertanyaan Rei-nii. Aku duduk di samping Yoichi dan mulai menyantap sarapanku. Tidak ada yang bersuara sedikitpun saat menyantap makanan. Ya. Inilah suasana sarapan pagi di keluarga Yukihira yang hanya terdiri dari tiga orang cowok.

Kakakku, Rei Yuihira yang lebih tua delapan tahun dariku berkerja sebagai seorang guru di sekolahku, Alice academy. Dia adalah kakak yang sadis dan tidak kenal belas kasihan jika aku melanggar perintahnya atau melakukan suatu kesalahan. Dia memiliki rambut berwarna hitam dengan mata berwarna abu-abu dan dia juga merupakan sorang pecinta warna hitam sejati. Kau bisa melihat dengan jelas pakaiannya yang selalu serba hitam itu.

Yoichi Yukihira, adik yang berjarak dua tahun dari ku dan masih duduk di bangku kelas satu high school Alice academy. Dia memiliki rambut berwarna abu-abu dengan mata berwarna hijau.

Dan terakhir aku, Natsume Yukihira, murid kelas dua High school alice academy.

Penampilan kami sama sekali tidak mirip dan itu membuat semua yang melihat kami pasti akan bertanya, apakah kami benar-benar saudara? Tapi jika mereka mengenal kami, mereka tidak akan meragukan hubungan kami bertiga, sebab sikap kami bertiga luar biasa mirip, sikap yang cuek, dingin, tidak suka bersosialisasi dan mencampuri urusan siapapun.

Ayah dan ibuku, Izumi dan Yuka Yukihira telah meninggal dunia karena kecelakaan tidak lama setelah Yoichi lahir. Aku hanya mengenal wajah mereka dari foto dan perlu aku tambah, mereka juga sama sekali tidak mirip dengan kami. Wajah kami benar-benar berbeda, mungkin inilah yang orang sebut dengan keajaiban DNA.

Aku sama sekali tidak mengingat kedua orang tuaku, Apa karena saat itu aku masih telalu kecil atau aku memang mengingat mereka, hanya saja aku melupakan mereka, aku tidak tahu. Aku mengalami kecelakan dua tahun yang lalu dan koma selama dua minggu. Aku cukup beruntung karena aku berhasil hidup. Namun, saat sadar, aku kehilangan semua memory selama lima belas tahun hidupku. Aku sama sekali tidak bisa mengingat siapa diriku, keluargaku, kehidupanku dan juga sekelilingku. Aku sama sekali tidak mengingat apapun. Namun, dengan bantuan Rei-nii dan Yoichi, aku berhasil mengingat siapa diriku sedikit demi sedikit.

Gadis kecil dalam mimpi. Aku selalu memimpikan gadis kecil itu sejak aku sadar dari kecelakaan itu dan aku juga masih ingat dengan jelas, gadis kecil itu jugalah yang ku mimpikan saat aku sadar dari koma. Rei-nii hanya menggeleng kepala dan mengatakan dia sama sekali tidak mengenal gadis kecil di dalam mimpiku itu saat aku bertanya padanya. Dia mengatakan gadis kecil itu pasti hanyalah khayalanku saja, sebab, kami memang tidak memiliki adik perempuan. Aku tidak pernah bertanya lagi pada Rei-nii mengenai gadis kecil dalam mimp itu, aku merasa apa yang dikatakannya benar, gadis kecil secantik itu tidak mungkin ada di dunia ini, gadis kecil itu pasti hanyalah khayalanku yang tercipta saat aku berada di ambang kematian.

"Bereskan piring dan cangkirnya. Kita berangkat ke sekolah sepuluh menit lagi." Ujar atau lebih tepatnya Rei-nii tiba-tiba.

Aku dan Yoichi sama sekali tidak mengatakan apa-apa, kami berdua bangkit dari kursi dan membereskan piring sarapan pagi kami. Setelah semuanya siap, kami bertiga segera berangkat menuju sekolah Alice academy dengan mobil Rei-nii.

o00o

Alice academy adalah sekolah elit dengan fasilitas yang sangat luar biasa dari elementary school sampai senior high school. Sekolah ini sebenarnya merupakan sekolah khusus anak orang kaya dan terkenal. Alasan aku dan Yoichi bisa belajar di sekolah ini meskipun kami berasal dari keluarga yang sangat sederhana adalah berkat beasiswa yang kami dapatkan dan juga karena Rei-nii adalah guru di sekolah ini sebagai faktor tambahan.

Aku sama sekali tidak menyukai sekolah ini. Pelajaran yang diajarkan sangat mudah untuk ku yang memiliki IQ diatas 180. Karena itu aku lebih memilih untuk membolos daripada mengikuti pelajaran yang sangat membosankan.

Aku sama sekali tidak memiliki teman di sekolah ini. Aku yang berasal dari keluarga miskin tidak mungkin diterima dengan baik oleh para murid sekolah ini. Aku terkenal sebagai seorang kutu buku dan orang aneh di sekolah ini karena aku memakai kacamata tebal dan rambutku yang selalu berantakan. Namun, aku sama sekali tidak peduli. Aku bukan orang yang suka bersosialisasi, para murid yang menghindariku dan menanggab aku ini tidak ada sebenarnya malah membuatku sangat senang.

Di mata guru, aku juga bukan murid kesayangan. Meski nilaiku selalu tertinggi di satu angkatan, para guru sama sekali tidak menyukaiku. Aku jarang mengikuti pelajaran. Namun, aku selalu dengan mudah mendapatkan nilai tertinggi dari mereka semua.

Aku membaringkan diriku pada rumput hijau di bawah sebatang pohon sakura. Tempat aku berada sekarang terletak sangat jauh dari gedung sekolah dan tidak ada yang pernah kemari. Aku sama sekali tidak pernah memberitahu siapapun tempat ini, baik itu kepada Rei-nii maupun Yoichi, Ini adalah tempat rahasiaku.

Aku menatap langit biru dan bunga sakura yang berada di atasku. Wangi bunga sakura dan juga kelopak bunga sakura yang jatuh menimpa diriku membuatku teringat lagi dengan gadis kecil dalam mimpiku itu.

Aku tersenyum. Begitu mengingat senyum dan tawanya, aku selalu tersenyum, aku merasakan kebahagiaan dan kehangatan di dalam hatiku hanya dengan mengingatnya. Aku mengakui, aku sama sekali tidak bisa menghapus gadis kecil itu dari dalam pikiranku.

Di dalam dasar hatiku, aku tahu. Aku terus berharap bahwa gadis kecil dalam mimpi itu bukanlah khayalanku semata. Aku berharap dia benar-benar hidup, tersenyum dan tertawa dengan bahagia seperti di dalam mimpiku.

Gadis kecil di dalam mimpi, siapakah kamu? Mengapa kau selalu hadir di dalam mimpiku? Mengapa kau memanggilku Onii-chan? Padahal kau sama sekali bukan adikku?

o00o

Aku berkerja part-time, begitu juga dengan Yoichi. Gaji Rei-nii sama sekali tidak besar, gajinya hanya cukup untuk membiayai keperluan pokok hidup kami bertiga, karena itu kami berdua selalu berkerja part time untuk uang saku kami masing-masing.

Mungkin sebagian orang akan mengatakan hidup kami sangat berat. Namun, aku sama sekali tidak merasa hidupku ini berat. Aku memiliki Rei-nii dan Yoichi, mereka selalu ada untukku dan itu sudah cukup. Bagiku, hidupku ini sudah cukup bahagia meskipun aku sama sekali tidak mengingat masa laluku. Dan masa lalu bagiku juga, sebenarnya sama sekali tidak penting, masa depanlah yang penting bukan masa lalu.

"Yukihira, antarkan ini ke meja nomor dua." Perintah koki restoran tempatku berkerja part time.

Aku segera mengantarkan pesanan meja nomor dua tanpa mengatakan apapun. Aku melihat dua orang pria kantoran sedang mengobrol sesuatu dengan penuh semangat.

"Hebat sekali ya! Perusahaan Hyuga tercatat sebagai perusahaan terbesar di dunia."

"Kau benar. Aku sama sekali tidak bisa membayangkan betapa kayanya keluarga itu."

Perusahaan Hyuga. Hyuga. Nama yang sama sekali tidak asing bagi ku. Dan siapa yang tidak kenal dengan perusahaan Hyuga? Perusahan raksasa yang memproduksi apapun dari jarum sampai pesawat terbang, perusahaan raksasa yang tersebar ke seluruh dunia.

"Tapi, sesuai kata orang setiap keberuntungan pasti ada kesialan. Keluarga Hyuga kehilangan pewaris mereka dua tahun yang lalu. Putra mereka meninggal dalam kecelakaan lalu lintas."

"Ya. Tapi mereka masih memiliki seorang putri. Siapapun yang kelak memperistri gadis itu pasti akan sangat beruntung, karena putri mereka itulah pewaris dari perusahaan raksasa Hyuga kini."

Aku sama sekali tidak mendengar obrolan kedua orang itu lagi. Aku segera meninggalkan meja itu begitu aku mensajikan makanan yang dipesan. Obrolan kedua pria itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan ku.

o00o

Aku menatap jam tanganku dan menghela napas, jam 21.35. Aku membuka pintu rumahku dengan pelan. Rumah ini tidaklah besar, rumah ini memiliki tiga kamar tidur, ruang tamu dan makan yang digabungkan jadi satu, dapur serta satu kamar mandi.

"Aku pulang." Ujarku sambil berjalan memasuki ruang tamu

"Selamat datang." Balas Rei-nii dan Yoichi dengan wajah tanpa ekspresi.

Rei-nii sedang mengerjakan sesuatu dan kurasa dia sedang mengoreksi hasil ulangan para muridnya, sedangkan Yoichi, dia hanya duduk diam menonton tv.

"Makan malammu ada di atas meja. Panaskan saja sebelum kau makan." Ujar Rei-nii tanpa menatapku, dia masih sibuk dengan perkerjaannya.

Aku menghempaskan tubuhku ke atas sofa di samping Yoichi. Aku baru pulang dari kerja part timeku dan aku merasa sangat capek. Aku sama sekali tidak merasa lapar, aku hanya ingin segera melemparkan diriku di atas tempat tidurku dan tidur.

Yoichi memalingkan wajahnya menatapku "Perlukan aku membantumu menghangatkan makan malammu, Natsume-nii."

"Tidak. Aku tidak lapar, aku hanya perlu tidur sekarang."

"Baikah. Aku akan membereskan semuanya nanti."

Aku menangguk kepala dan berjalan menuju kamarku. Rei-nii sama sekali tidak mengatakan apapun, dia membiarkan aku berjalan memasuki kamarku.

Keluarga kami memang seperti ini, kami memang jarang berkomunikasi seperti layaknya sebuah keluarga. Kami tiga bersaudara memiliki kepribadian yang dingin, kalem dan cuek. Kami bertiga bisa berkumpul di suatu ruangan tanpa mengucapkan sepatahpun selama sehari. Namun, itu tidak berarti kami sama sekali tidak dekat. Setiap keluarga memiliki caranya sendiri untuk memperlihatkan kedekatan mereka dan di rumah keluarga Yukihira ini, inilah caranya. Walau aku tahu, tidak ada seorangpun yang akan mengerti jika melihat kami.

Aku segera menghempaskan diriku ke atas tempat tidurku. Aku membuka kaca mataku dan meletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidur. Aku merasa sangat ngantuk dan lelah, aku perlu tidur sekarang.

Aku menutup kedua kelopak mataku dan aku tahu, aku akan memimpikannya lagi. Gadis kecil dalam mimpi. Mimpi yang sama dan tidak pernah berubah sedikitpun selama dua tahun ini. Namun, aku tidak membenci mimpi itu, aku sangat menyukai mimpi itu, aku sangat menyukai senyum dan tawa gadis kecil itu.

"Gadis kecil dalam mimpi…." Gumamku pelan sambil menutup mata.

o00o

Aku berjalan dengan pelan menuju ruang kelasku. Seperti biasa tidak ada seorangpun yang mempedulikanku. Aku berjalan menuju bangkuku yang terletak di deretan paling belakang. Suasana kelas hari ini agak ramai, para murid-murid kaya itu semua sedang membahas sesuatu dengan penuh semangat.

"Apakah kau sudah mendengar berita itu, mengenai murid baru yang akan masuk ke kelas kita hari ini."

"Iya. Aku hampir tidak percaya."

"Benar aku juga tidak percaya. Pewaris dari perusahaan Nogi akan menjadi teman sekelas kita."

Nogi. Perusahaan besar yang memproduksi alat-alat eletronik itu. Satu lagi anak orang kaya yang akan masuk ke dalam sekolah ini. Tapi, sama sekali tidak ada kaitannya denganku. Siapapun yang masuk ke dalam sekolah ini sama sekali tidak ada kaitannya denganku.

Pintu ruang kelas tiba-tiba terbuka dan Narumi Anjou, guru bahasa jepang yang gay itu berjalan masuk dengan seorang cowok berambut pirang dan bermata biru langit.

"Duduklah kalian semua, murid-muridku yang manis. Hari ini kita mendapatkan teman baru. Silakan memperkenalkan diri mu."

Manis? Guru ini memang gay. Aku sama sekali tidak menyukainya sejak pertama kali melihatnya dan bukan hanya aku, Rei-nii dan Yoichi juga tidak menyukainya. Kurasa masih banyak orang yang tidak menyukainya dan aku juga tidak mengerti karena ada juga sebagian murid yang menyukainya.

"Namaku Ruka Nogi, senang berkenalan dengan kalian semua."

"Nah! Siapakah yang bersedia menjadi partner dari Ruka-kun?"

Aku melihat semua yang ada di kelas ini menunjukkan tangannya. Ya, untuk anak orang kaya yang menilai seseorang dari kekayaan, pewaris perusahaan besar Nogi pasti berada di daftar teratas orang yang harus dijadikan teman.

"Sepertinya semua bersedia menjadi partnermu. karena itu silakan memilih."

Aku memalingkan mataku menatap jendela. Kurasa akan lebih baik jika aku bolos dan tidur di bawah pohon sakura saja. Aku sama sekali tidak memiliki mood untuk mengikuti pelajaran dan jika aku tidur, aku pasti akan memimpikan gadis kecil di dalam mimpi itu lagi.

"Aku memilih cowok berambut hitam dan berkacamata yang duduk di deretan paling belakang, sensei."

Aku lumayan terkejut mendengar pilihan murid baru itu dan aku rasa semua yang ada di kelas ini lebih terkejut lagi. Mengapa seorang tuan muda dari keluarga kaya raya memilih aku yang orang biasa sebagai partnernya.

"Yukihira-kun ya? Baiklah, silakan duduk di sampingnya." Senyum gay itu dan membuatku ingin sekali meninjunya karena menyetujuhinya. Aku tidak mau menjadi partner dari seorang murid baru karena itu akan sangat merepotkan.

Murid baru itu menangguk kepalanya dan berjalan ke arahku. Dia menatapku sambil tersenyum "Senang berkenalan denganmu, Namaku Ruka Nogi."

Aku memalingkan wajahku kembali ke jendela dan mengacuhkan murid baru itu.

"Beraninya kau bersikap seperti itu, Yukihira. Ruka-sama jangan pedulikan dia. Lebih baik anda memilih partner lain saja. Dia ini hanya seorang rakyat jelata yang bisa masuk ke sekolah ini berkat beasiswa." Ujar seorang anak yang duduk di depanku sambil menatap murid baru itu.

Aku sangat setuju dengan anak yang duduk di depanku itu. Gantilah partnermu, jangan memilihku, aku sama sekali tidak mau berurusan dengan tuan muda kaya raya sepertimu.

Namun, anehnya murid baru itu tersenyum dan menjawab "Terima kasih. Tapi, aku tetap memilihnya menjadi partnerku. Siapa namamu?"

Aku sama sekali tidak menjawab pertanyannnya, aku bangkit dari bangku. Sudah cukup, aku ingin keluar dari kelas ini sekarang juga.

"Yukihira-kun, jangan ke mana-mana. Jangan mencoba untuk membolos pelajaranku meskipun kau sudah menguasai semua yang akan aku ajarkan. Jika tidak, aku akan melaporkanmu pada Yukihira-sensei." Senyum gay itu sambil menatap ku "Dan kau sama sekali tidak bisa mundur dari posisi sebagai partner Ruka-chan."

Aku mengutuk gay itu dan kembali duduk, inilah alasan sebenarnya mengapa aku sama sekali tdak menyukai guru ini. Dia serius dengan ucapannya dan aku sama sekali tidak mau menerima hukuman dari Rei-nii lagi.

Murid baru itu tertawa "Mohon bantuanmu."

Aku memalingkan wajah ku menatap jendela lagi. Sial sekali, hari ini benar-benar merupakan hari sialku.

"Siapa namamu?" tanya murid baru itu lagi dan aku tidak mungkin menjawabnya karena aku sama sekali tidak mau menjadi partnernya.

"Namanya Natsume, Ruka-sama. Natsume Yukihira. Lebih baik anda mengubah keputusan anda untuk memilihnya menjadi partner anda." Jawab murid yang duduk di depanku itu lagi dan membuatku ingin sekali memukulnya karena terlalu ikut campur.

"Nat…Natsume.."

Aku sama sekali tidak tahu mengapa. Tapi, murid baru itu kelihatannya sangat terkejut begitu mendengar namaku. Menangnya ada apa dengan namaku? Natsume. Itu nama yang sangat biasa.