Pada para readers..

Yang terhormat

Maafkan saya yg telah berjanji banyak, tapi saya ingkari, Saya ga nemu ide, dan pas nemu ga sempet ngetik karena ketikan tugas saya ga da abisnya,,

Tapi sekarang saya lanjutkan karena ada orang yang sering membuat saya terinspirasi, (tapi jadi agak mesum dikit nih, ga pa pa yah?

Desclaimer: masa.. si...KINOMOTO ?

Warning : ini rated sudah T +++, jadi sebagian ceritanya agak terlarang buat anak-anak dibawah umur! (buat reader, dosa tanggung masing-masing okeh?, efek sampingnya ditanggung pembaca sepenuhnya) Ana nee-chan,, ini ceritamu ku publish! (Author ketawa jahat)

HINATA'S KISS IS A GIFT!

Kata orang, doa saat tiup lilin rahasia, kataku enggak! Makin cepet kamu kasih tau apa isi doa kamu ke orang, makin cepet itu terkabul, ini teori yang sudah kubuktikan, berikut buktinya.

Malam itu Konoha sudah larut malam, hanya ninja-ninja aneh ini yang masih mau-maunya merayakan hari ulang tahun ku di pinggir jalan gang yang sempit, di tengah hujan salju yang dinginnya terasa mencubiti kulit. Hinata sudah tutup mulu dari tadi, mungkin mengantuk atau bisa juga karena menahan tubuhnya agar tidak menggigil.

"ini sudah terlalu malam, kami harus pulang" ucapku akhirnya. Kalau tidak seperti ini kapan mau berhentinya! Lagi pula aku tak tega melihat Hinata dengan bibirnya yg membiru karena udara dari timbunan salju bulan Januari, kalau diperhatikan dia juga terlihat lebih kurus dari sebelumnya, aku agak khawatir dia sakit.

"akhirnya" ucap sasuke singkat dengan ekspresi datar. Lalu berjalan santai menjauh, entah kemana. Secepat itu mereka datang, semudah itu juga mereka pergi berlalu, begitulah kelakuan ninja-ninja abnormal ini.

Aku dan Hinata berjalan berdampingan, aku menggandeng tangannya yang membeku erat-erat. Kami berjalan berdampingan layaknya adik dengan kakak, tak ada satupun dari kami yang mau bersuara untuk mengisi heningnya suasana malam ini. Jalanan makin gelap ke arah kediaman Hyuuga dan rembulanpun enggan menyinari kami karena dia tahu kami tak membutuhkan sinarnya, dengan byakugan, jalan tetap jelas terlihat, bahkan lengkap dengan detil bebatuan yang tertimbun didalam salju.

"nii-san" samar-samar kudengar suara kecil itu mengalun, misterius sekali, bulu kudukku meremang.

"nii-saan" Aku mempercepat langkahku, dan Hinata yang kutuntun jadi setengah berlari mengikutiku. Aku mulai berjalan santai kembali ketika melalui tikungan jalan utama konoha, karena setelah tikungan itu, jalan mulai diterangi dengan lampion-lampion kedai yang buka 24 jam. Namun dengan sangat konyolnya, suara itu kembali mengusik telingaku.

"nii-shan.." kali ini suaranya terdengar mendesah dan agak menggoda, tapi tetap saja menakutkan! Aku membalik tubuhku, Hinata menampakkan wajahnya yang nampak kelelahan, sisanya jalanan kosong dan gelap. Kupandang sosok Hinata lekat-lekat

"Hina-cahan dengar sesuatu tidak?"

Hinata memasang wajah polos dan heran, "suara apa neji-nii?" ucapnya setengah berbisik.

"dari tadi aku mendengar ada yang memanggilku" ucapku seraya mengedarkan pandangan kesekitar.

"emm,, ano,,, itu,, itu aku.." aku masih mengedarkan pandangan tanpa mencerna kata-kata yang diucapkan Hinata, sedangkan Hinata kulihat dari sudut mataku memandangku penuh harap. Butuh waktu beberapa saat sampai aku sadar yang kucari ternyata Hinata dan setelah tersadar akan kebodohan yang kuperbuat aku pelan-pelan memandang wajah kekasihku dengan seyum yang manis menghiasi bibirku

"Sebaiknya kita lekas pulang, sepertinya akan ada badai salju malam ini" ucapku mengelak menutupi kelakuanku yang konyol. Dan kami meneruskan perjalanan pulang seperti sedia kala, jalan santai.

"ano, nii-san"

"hn?"

"boleh aku tahu apa permohonanmu tahun ini?"

Aku melirik Hinata sekilas dan menyunggingkan senyum

"memangnya kenapa Hina-chan?"

"aku penasaraan" ucapnya manja dan genit, jarang aku bisa melihat sisi lain dari Hinta, dia terlalu pemalu didepan orang banyak. Aku juga baru tahu bahwa Hinata gadis yang periang dan manja setelah aku jadi kekasihnya berbulan-bulan, itupun sangat jarang terjadi. Aku curiga, hanya aku yang tahu sifatnya ini.

"kau yakin ingin tahu?" ucapku menggoda sambil tersenyum semanis mungkin padanya. Hinata tampak tersipu malu, semburat merah menghiasi kulit putihnya yang pucat, ia mengangguk cepat, membuat poni rambutnya bergoyang lucu, Hinata jadi tampak imut dan membuatku jadi gemas dengan tingkahnya yang kekanak-kanakan.

"nii-san memohon agaaar ..." aku melirik sekilas, Hinata memandangku makin intens dengan mata yang membulat penuh, wajahnya tampak makin cantik dan menggemaskan.

"bisa mencium bibir Hina-chan lagi" ucapku cepat namun cukup jelas untuk didengar.

Hinata sedikit terkejut, kemudian pipinya makin merona. Ia menundukkan kepalanya dan menatap jalan yang kami tapaki. Aku memandanginya menebak-nebak, tangan Hinata masih kugenggam, tapi Hina-chan makin lama makin mendekatiku. Entah bagaimana sampai ia mengait lenganku dan menyandarkan kepalanya kesisi lenganku, sayangnya tak ada yang bisa mengabadikan momen ini untukku. Dan satu-satunya cara menikmati ini adalah dengan berjalan selambat mungkin, sampai mungkin kura-kura bisa lebih cepat dari langkah kakiku.

Aku ingat terakhir kali kami berciuman adalah awal dari segalanya, saat itu aku tidak tahu bahwa Hinata punya perasaan yang sama denganku. Moment indah itu terjadi berkat Hanabi dengan keusilannya. #baca Fic saya yang satunya (that is really accident, isn't it? Chap 5 ATAU 6 kalo ga salah)#

Sejauh yang ku ketahui sampai saat ini, itulah first kiss Hinata, dan Hinata tidak pernah lagi berciuman dengan siapapun termasuk denganku setelahnya. Aku sering merindukannya, rasa mulutnnya yang sejuk, lembut dan manis, suaranya ketika mendesah menikmati, dan banyak lagi. Bukan berarti aku mencintai Hinata karena hanya ingin menikmati dirinya saja, bukan begitu, aku benar-benar sayang padanya, tapi aku ingin melakukan itu dengannya lagi, bukan sekali-sekali, tapi sering kali. (Author ditimpuk Neji "FITNAH")

Selambat apapun aku berjalan, tujuan kami tetap rumah, dan selama tujuan itu jelas, kami akan tetap sampai, dan itu artinya aku harus bersabar menghadapi kenyataan, sesi mesra-mesaraan kami berakhir sampai dipintu gerbang kediaman keluarga besar Hyuuga.

Kami masuk kedalam rumah dengan berjingkat perlahan, bukan takut ketahuan pulang larut malam, tapi takut Hiashi-sama terganggu tidurnya dan jadi uring-uringan dikemudian hari. sampai lorong dimana kami bisa melihat kolam ikan koi yang permukaannya membeku, Hinata memanggilku, dan inilah momen yang tak pernah terlintas sedikitpun dalam benakku

"nii-san..." ucapnya setengah berbisik, aku berbalik memandanginya dalam cahaya yang remang-remang, lalu jangan tanya aku detilnya, yang jelas aku merasakan bibir Hinata yang dingin dipipiku, di pipi kananku! Dan dia berdiri sangat dekat denganku, bukan dekat lagi, tapi tak ada lagi jarak diantara tubuh kami!

Aku membulatkan mata merasakan lekuk tubuhnya yang menggoda menempel dengan tubuhku dan merasakan ada desiran darah yang cepat turun dari otakku. Bibir Hinata sudah tidak lagi di pipiku, tapi berkat tanganku yang bekerja lebih cepat dari otakku sendiri, masih tak ada jarak yang memisahkan kami berdua, aku memeluknya erat, dan yang tidak terduga adalah, Hinata tidak keberatan dengan sikapku!

Aku memandangi wajah putri Hyuuga yang satu ini, sesaat kemudian ia menunduk dan menempelkan wajahnya kedadaku. Tangan kananku menarik dagunya agar kembali melihatku, perlahan-lahan wajah mungil itu kembali terlihat, aku menundukkan kepala mendekati wajahnya.

"Hina-chan milikku seorang ya?" ucapku berbisik sambil memandang lekat matanya yang indah.

Ia mengangguk kecil dan sesaat kemudian aku menempelkan bibirku pada bibirnya yang mungil, ia kaget dan hendak mengucapkan sesuatu, dan dengan cepat aku memanfaatkan momen itu dengan memasukkan lidakku dalam rongga mulutnya yang hangat, aku menjelajahi area dalam mulutnya, Hinata tampaknya kehilangan kesadaran dan menikmati apa yang kami lakukan sekarang. Kudengar desahannya pelan dan pasrah, aku mulai menjilati bibirnya yang ranum dan terasa manis, sesekali ku hisap bibirnya dan Hinata akan mengerang perlahan. Makin lama dekapanku makin erat, nafas kami memburu dan tubuhku terasa panas diantara suasana dingin bulan Januari. Aku menelusuri leher jenjangnya perlahan, kukecup dibeberapa bagian sampai pada ujung jaketnya. Tanganku bergerak perlahan menarik resleting jaket ungu yang dikenakan Hinata, aku menyesap kuat dibagian atas dadanya yang tidak tertutupi kaus, aku menandai tubuhnya, menandainya bahwa ia hanya milikku seorang.

Entah berapa lama kami berciuman. Saat aku menghentikannya sebentar untuk memandang wajahnya, Hinata mundur perlahan, memberi isyarat padaku untuk melepaskan pelukkanku. Aku melepasnya dengan setengah hati. Hinata tanpa memandangku pergi kekamarnya sedang aku disini terdiam berharap Hinata tidak marah dengan yang kuperbuat.

(Ana-Chan, lain kali jangan bercerita yang macam2 padaku! Pada para reders, karena Ana-chan bercerita sampai disitu, maka saya juga ga bisa menuliskan sesi Horror itu lebih lanjut, kalau masih kurang tanya aja sama Nejinya langsung)

Baiklah,, jangan harap updatenya cepet,,

Apalgi kalau reviewnya sedikit,,

jadi mohon review dan saya mohon maaf atas segala kesalahan pengetikkan, penulisan nama, dan kalau ada yang merasa ratted cerita ini sudah tidak pantas di T lagi. Gommen (bungkuk2)